Anda di halaman 1dari 25

BERSAMA:

AHMAD FAUZI MUBAROK


AZIZ RIYANTO
RENI FIKRA JAMILAH
SYAHID AHMADI

"Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya


kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu
bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo'akannya."
(HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

PERANAN KELUARGA
DALAM ISLAM
keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang
pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari
anggota-anggotanya pada masa yang amat penting
dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahuntahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah)
Keluarga mempunyai peranan besar dalam
pembangunan masyarakat. Karena keluarga
merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan
tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan
mempersiapkan personil-personilnya.

ENAM TAHUN PERTAMA


Kasih sayang dari pihak kedua orangtua, terutama ibu
PENTING Agar anak belajar mencintai orang lain
2. Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan
pertama dari awal kehidupannya MISALNYA
membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat
pada waktu-waktu tertentu dan tetap
3. Jadi teladan yang baik bagi anak dari permulaan
kehidupannya.
4. Biasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan
dalam pergaulan MISALNYA berdoa sebelum makan,
tidak menghisap jempol, tidak memakai pakaian atau
celana yang pendek dll
1.

USIA SETELAH
ENAM TAHUN
1.
2.

3.
4.
5.
6.
7.

Kenalkan Allah dengan cara yang sederhana sesuai


dengan tingkat pemikirannya
Jelaskan tentang hukum yang jelas dan tentang halalharam MISALNYA tentang kewajiban menutup aurat,
berwudhu, shalat, mencuri dan melihat kepada yang
diharamkan
Ajarkan dan biasakan membaca Al Qur'an dengan benar
Ajarkan tentang hak2 orang tua
Kenalkan tokoh2 teladan (sahabat dll)
Ajarkan tentang norma2 yang berlaku dalam masyarakat
Kembangkan rasa percaya diri & tanggung jawab dalam
diri anak

MASA REMAJA
1. Perlakukan anak sebagai orang dewasa
2. Ajarkan kepada anak hukum-hukum akil baligh dan

ceritakan kepadanya kisah-kisah yang dapat


mengembangkan dalam dirinya sikap takwa dan
menjauhkan diri dari hal yang haram.
3. Berikan dorongan untuk ikut serta melaksanakan
tugas-tugas rumah tangga, seperti melakukan
pekerjaan yang membuatnya merasa bahwa dia
sudah besar.
4. Mengawasi dan menyibukkan waktunya dengan
kegiatan yang bermanfaat
5. Carikan teman yang baik.

KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK


1. Ucapan pendidik tidak sesuai dengan

perbuatan ( "Hai orang-orang yang beriman


mengapa kamu mengatakan apa yang tidak
kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi
Allah bahwa kamu mengatakan apa yang
tidak kamu kerjakan." (Ash Shaff : 2-3).)
2. Kedua orangtua tidak sepakat atas cara
tertentu dalam pendidikan anak.
3. Membiarkan anak jadi korban televisi
4. Menyerahkan tanggung jawab pendidikan
anak kepada pembantu atau pengasuh

KESALAHAN
DALAM PENGASUHAN ANAK
1. Pendidik menampakkan kelemahannya

dalam mendidik anak.


2. Berlebihan dalam memberi hukuman
dan balasan
3. Berusaha mengekang anak secara
berlebihan
4. Mendidik anak tidak percaya diri dan
merendahkan pribadinya

DEFINISI ANAK MENURUT ISLAM


Kategori Anak Menurut Islam Berdasarkan kedudukan
hukumnya

BALIGH/DEWASA

PRA BALIGH/ANAK-ANAK
sudah mendapatkan taklif
-Datangnya haid pada anak
(pembebanan) hukum syara,
wanita
HARUS mempertanggungjawabkan
- Datangnya mimpi basah
setiap ucapan, sikap, dan tindakan
pada anak laki-laki,
yang mereka lakukan, baik di
hadapan Allah maupun di hadapan
aparat hukum di dunia.

HAK ANAK DALAM ISLAM


1. Hak untuk hidup
Firman Allah dalam QS Al-Isra ayat 31:

Artinya: " Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut


kemiskinan. Kamilah yang akan memberikan rezeki kepada mereka dan juga
kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.
Demikian

juga untuk menjaga keselamatan janin, Islam telah


mensyariatkan agar pelaksanaan hukuman (had) terhadap wanita hamil
ditangguhkan sampai ia melahirkan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

"Apabila ada seorang di antara wanita membunuh secara sengaja, ia tidak

boleh dijatuhi hukuman mati sampai ia melahirkan anaknya, jika ia memang


sedang hamil. Dan bilamana seorang wanita berzina, ia tidak boleh dirajam
sampai ia melahirkan anaknya jika ia sedang hamil dan sampai ia selesai
merawatnya." (HR Ibnu Majah).
Demi keselamatan janin Islam juga telah memberi keringanan bagi wanita

hamil dalam menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Ia

2. Hak mendapatkan nama yang baik


Sabda Rasulullah saw yang lain: "Baguskanlah namamu, karena dengan

nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti." (HR Abu Dawud
dan Ibnu Hibban)
Nama anak adalah penting, karena nama dapat menunjukkan identitas

keluarga, bangsa, bahkan aqidah. Ngatinem sudah pasti orang Jawa,


Simorangkir jelas dari keluarga Batak, Cecep tentu dari keluarga Sunda
dan Alhabsyi menunjukkan keluarga Arab.
Islam menganjurkan agar orangtua memberikan nama anak yang

menunjukkan identitas Islam, suatu identitas yang melintasi batas-batas


rasial, geografis, etnis, dan kekerabatan.
Selain itu nama juga akan berpengaruh pada konsep diri seseorang.

3. Hak penyusuan dan pengasuhan (hadlonah)


"Para ibu hendaknya menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi
yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS Al Baqoroh 233)
Selama masa penyusuan anak mendapatkan dua hal yang sangat berarti bagi
pertumbuhan fisik dan nalurinya.
Yang pertama: anak mendapatkan makanan berkualitas prima yang tiada

bandingannya. ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan anak untuk
pertumbuhannya, sekaligus mengandung antibodi yang membuat anak tahan
terhadap serangan penyakit.
Yang kedua : anak mendapatkan dekapan kehangatan, kasih sayang dan

ketentraman yang kelak akan mempengaruhi suasana kejiwaannya di masa


mendatang. Perasaan mesra, hangat, dan penuh cinta kasih yang dialami anak
ketika menyusu pada ibunya akan menumbuhkan rasa kasih sayang yang tinggi
kepada ibunya.
Islam pun telah menetapkkan bahwa orang yang lebih berhak terhadap
pengasuhan ini adalah orang yang paling dekat kekerabatannya dan paling
terampil (ahli) dalam pengasuhan.

Fuqoha menetapkan urutan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap


pengasuhan adalah:
1.
Ibu, nenek dari pihak ibu dan seterusnya jalur ke atas (jika masih hidup).

Dalam hal ini didahulukan yang paling dekat hubungannya dengan anak.
2.
Ayah, nenek dari ayah dan seterusnya jalur ke atas (jika masih hidup), kakek,
ibunya kakek dan seterusnya jalur ke atas, kakeknya ayah dan para ibunya.
3.
Saudara perempuan, diutamakan yang seibu seayah, baru seayah, kemudian
anak-anak mereka.
4.
Saudara laki-laki, diutamakan yang seibu seayah, baru seayah, kemudian
anak-anak mereka.
5.
Saudara perempuan ibu (kholah)
6.
Saudara perempuan ayah (ammah)
7.
Saudara laki-laki ayah (paman) yang seibu seayah, dan seayah saja.
8.
Saudara perempuan nenek dari ibu
9.
Saudara perempuan nenek dari ayah
10.
Saudara perempuan kakek dari ayah
Apabila semua pihak dari kalangan ini tidak mampu, maka negara berkewajiban
untuk memberikan pengasuhan anak ini ke pihak lainnya yang mampu dan dapat
di percaya.

4. Hak mendapatkan kasih saying


Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk menyangi

keluarga, termasuk anak di dalamnya. Ini berarti Beliau saw


mengajarkan kepada kita untuk memenuhi hak anak terhadap
kasih sayang. Sabda Rasulullah saw:"Orang yang paling baik di
antara kamu adalah yang paling penyayang kepada keluarganya.
Rasulullah mengajarkan untuk mengungkapkan kasih sayang

tidak hanya secara verbal, tetapi juga dengan perbuatan. Pada


suatu hari Umar menemukan beliau saw merangkak di atas
tanah, sementara dua orang anak kecil berada di atas
punggungnya. Umar berkata:"Hai anak, alangkah baiknya rupa
tungganganmu itu." Yang ditunggangi menjawab:"Alangkah
baiknya rupa para penunggangnya". Betapa indah susasana
penuh kasih sayang antara Rasul saw dengan cucu-cucu beliau.

5. Hak mendapatkan perlindungan dan nafkah dalam keluarga


Sebagai

pemimpin dalam keluarga, seorang ayah tentu


bertanggungjawab atas keselamatan anggota keluarganya, termasuk
anaknya. Ia akan melindungi anaknya dari hal-hal yang
membahayakan anaknya baik fisiknya maupun psikisnya. Demikian
juga ia berkewajiban memberi nafkah berupa pangan, sandang, dan
tempat tinggal kepada anaknya.

Apabila kepala keluarga tidak dapat mencukupi nafkah keluarganya,

atau ayah telah meninggal dunia, maka wali dari anak (diantaranya
paman dari ayah, saudara laki-laki, dan kakek) diberi kewajiban
mencukupi nafkah keluarga tersebut. Apabila jalur kerabat tidak ada
yang bisa mencukupi nafkah anak, maka negaralah yang berkewajiban
memberi nafkah kepada anak. Negara menyalurkan zakat atau sumber
keuangan lain yang hak kepada keluarga yang tidak mampu.
Bagaimanapun keadaannya, tidak pernah seorang anak harus
menafkahi dirinya sendiri.

6. Hak pendidikan dalam keluarga


Anak pertama kali mendapatkan hak pendidikannya di keluarga,

sebelum ia mendapatkan pendidikan di sekolah.


Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah,

sehingga diperlukan pasangan yang seaqidah, dan sepemahaman dalam


pendidikan anak. Jika tidak demikian tentunya sulit mencapai tujuan
pendidikan anak dalam keluarga.
Anak pertama kali mendapatkan pengajaran nilai-nilai tauhid dari kedua

orang tuanya, demikian juga mengenai ajaran-ajaran Islam yang lain.


Anak mendapatkan pendidikan yang lebih banyak berupa contoh
(teladan) dari kedua orang tuanya, di samping pendidikan dalam bentuk
lisan, pembiasaan dan pemberian sanksi.

7. Hak mendapatkan kebutuhan pokok sebagai


warga Negara
Sebagai warga negara, anak juga mendapatkan haknya

akan kebutuhan pokok yang disediakan secara massal oleh


negara kepada semua warga negara. Kebutuhan pokok
yang disediakan secara massal oleh negara meliputi:
pendidikan di sekolah, pelayanan kesehatan, dan
keamanan.

Pelayanan massal ini merupakan pelaksanaan kewajiban

negara terhadap penguasa kepada rakyatnya, seperti sabda


Rasulullah saw:
"Seorang imam (pemimpin) adalah bagaikan penggembala,
dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas
gembalaannya."(HR Ahmad, Syaikhan, Tirmidzi, Abu
Dawud, dari Ibnu Umar)

Pandangan Terhadap Anak


Anak sebagai perhiasan dunia
Anak-anak merupakan perhiasan kehidupan dunia yang akan
menyenangkan hati orang tua. Sebagaimana firmanNya:
Artinya:"Harta benda dan anak-anak itu sebagai perhiasan hidup di
dunia" (QS Al Kahfi ayat 46) Dan firmanNya:
Artinya:"Wahai Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami (agar) istri
kami dan anak cucu kami sebagai penyejuk pandangan mata"(QS Al-Furqon
ayat 74)
Orangtua dapat merasakan kepuasan dan kesenangan atas kehadiran anak,

bila pada dirinya masih eksis fitrah insaninya.


Keberadaan

fitrah inisani merupakan modal dasar terjaminnya


perlindungan hak anak oleh keluarga. Eksisnya rasa sayang orangtua
kepada anak dan keberadaan anak yang membawa kesenangan bagi orang
tua akan membuat orang tua rela berkorban apa saja untuk memenuhi
semua hak anak.

Pandangan Terhadap Anak


Anak sebagai jaminan bagi orangtua di hari kiamat
Orangtua yang telah bersusah payah membesarkan, memelihara dan

mendidik anak-anaknya dengan sabar akan mendapat ganjaran yang


sangat besar dari Allah SWT, yakni surga. Sebagaimana riwayat dari Auf
bin Malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa memiliki tiga
orang anak perempuan yang dinafkahinya dengan baik sampai mereka
menikah atau meninggal dunia, maka anak-anak itu menjadi tabir
baginya dari neraka." (HR Al-Baihaqi)
Juga riwayat dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw

bersabda:"Ada seorang hamba yang ditinggikan derajatnya. Lalu ia


bertanya: Wahai Rabbku, mengapa derajat ini diberikan kepadaku? Allah
berfirman: Sebab permohonan ampun anakmu untukmu sesudah
meninggalmu"(HR Ahmad, Ibnu majah, dan Al-Baihaqi)

Anak sebagai aset masa depan umat


Islam mensyariatkan pernikahan bagi umatnya. Bahkan mencela
orang-orang yang tidak mau menikah (tabattul). Islam juga
menganjurkan agar laki-laki memilih calon istri dari kalangan yang
wanita yang penyayang, subur, dan beragama. Sebab salah satu tujuan
pernikahan adalah lahirnya anak-anak sebagai pewaris orangtuanya,
baik pewaris harta maupun pewaris tanggung jawab dalam
mengemban risalah Islam.
"Rasulullah saw menganjurkan para pemuda untuk kawin dan
melarang keras untuk tabattul. Dan beliau bersabda:Kawinlah kalian
dengan wanita-wanita yang penyayang dan subur. Sesungguhnya dengan
kalian saya ingin memperbanyak ummat di antara para nabi pada hari
kiamat nanti." (HR Imam Ahmad dan Abu Hakim)
Dari hadist dan ayat di atas dapat dipahami bahwa ada tuntutan bagi

kaum muslimin untuk menjamin kelestarian generasi masa depan dan


mewujudkan generasi yang berkualitas baik. Generasi tersebut adalah
generasi yang diridhoi oleh Allah SWT dan mampu memimpin
manusia dengan risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Pihak-pihak Yang Bertanggung Jawab


atas Pemenuhan Hak Anak
Orangtua dan anggota keluarga yang lain
Negara dengan membuat kebijakan-kebijakan dan

peraturan-peraturan yang membuat keluarga


mampu memenuhi hak-hak anak dalam keluarga.
Masyarakat dengan ikut menciptakan lingkungan
yang kondusif bagi pemenuhan hak-hak anak,
bukan malah menjadi pihak yang merampas hakhak anak.

PERSIAPAN ANAK CERDAS


1.
2.
3.
4.
5.

Makanan yang tepat


Lingkungan yang sesuai
Pegalaman Emosional
Stimulasi rasional yang tepat
Aktivitas fisik yang sesuai

Tips Keluarga Qurani


1.

Banyak berdoa mohon kepada Alloh agar anak2 di


bukakan hati & fikirannya menerima Al Quran

2. Mulai dari contoh ortu yg gemar membaca &

menghafal Al Quran

3. Menjadikan waktu-waktu tertentu di rumah setiap

hari untuk berinteraksi dengan Al Quran

4. Tanamkan atau perkenalkan Al Quran sejak dini

dengan memperhatikan tumbuh kembang anak

Tips Keluarga Qurani


Buatkan lingkungan yang mendukung agar anak akrab

dengan Al Quran

Tidak menyebabkan suasana rumah yang menyebabkan

malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah

Tidak menjadikan suasana dalam rumah dengan hal-hal

yang menyebabkan setan masuk dalam rumah, sebab ini


akan memutuskan hubungan dengan Al Quran

Tidak mencampur adukan antara yang haq dengan yang

batil contoh: setelah membaca Quran mendengarkan


musik-musik yang melupakan manusi kepada Alloh Swt

Bersabar atas segala usaha & ikhtiar yang di lakukan

TERIMA KASIH