Anda di halaman 1dari 60

Maghfirah Ekasari

C11109403
Liya sari Astuti
C11109767
Nurul Arsita
C111099311
Pupu Ayu Wandira
C11109297
Yusri Asri
C11109327
SUPERVISOR :
Prof.Dr.dr.Muhammad Ilyas,Sp.Rad (K)
PEMBIMBING :
dr. Ferawati

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR 2013

Nama
Jenis kelamin
Umur
RM
Tanggal MRS
Perawatan Bagian

: Ny. N
: Perempuan
: 30 tahun
: 629779
: 3 Oktober 2013
: Palem Atas

Keluhan Utama : Nyeri pinggang sebelah kiri

Anamnesis Terpimpin :
Dialami sejak 3 tahun yll, memberat dalam 1 bulan
terakhir. Nyeri dirasakan hilang timbul. Nyeri pinggang
terlokalisir di pinggang kiri dan tidak menjalar. BAK
keluar sedikit sedikit berwarna keruh dan berpasir
dan pasien merasa tidak puas saat BAK.
Anamnesis sistematis : Demam (-) Nyeri kepala (-)
Kejang (-) Batuk (-) Lendir (-) Sesak (-) Mual (-)
Muntah (-) Nyeri ulu hati (-) Nyeri perut (-) Nyeri
supra pubis (-)

Riwayat Penyakit Sebelumnya:

-Riwayat nyeri pinggang sejak 3 tahun yang lalu


-Riwayat DM disangkal
-Riwayat Hipertensi tidak diketahui
-Riwayat Stroke disangkal
-Riwayat Asma, Alergi disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga : (-)

Keadaan umum
/Compos Mentis

Tanda Vital :
T : 120/80 mmHg
P : 20 x/menit

: Sakit Sedang/Gizi Cukup

N : 80 x/menit
S : 36.5 C

Status Generalis
:
Kepala
: Konjungtiva anemis (-/-),
Sklera ikterik (-/-), DVS R-2 cm H2O
Mulut
: Hiperemis (-), Stomatitis (-),
Lidah
: Hiperemis (-)
Thoraks
: Rh -/-, Wh -/BJ I/II murni reguler
Abdomen
: Peristaltik (+) Kesan Normal
Ekstremitas : Edema Pretibial (-/-)

Status Urologi :
Costovertebra dextra
I : Tampak alignment tulang baik, gibbus (-), hematom (-)
P : Nyeri tekan (-), massa tumor (-), ballotement ginjal (-)
P : Nyeri ketuk (-)

Costovertebra sinistra

I : Tampak alignment tulang baik, gibbus (-), hematom (-)


P : Nyeri tekan (+), massa tumor (-), ballotement ginjal (+)
P : Nyeri ketuk (+)

Suprapubik

I : Bulging (+), hematom (-)


P : Nyeri ketuk (-), massa tumor (-), buli-buli kesan penuh

PEMERIKSAAN

HASIL

NILAI RUJUKAN

Darah Rutin
Leukosit

7.400/mm3

4.000/mm3 10.000/mm3

Eritrosit

5,14 x 106/mm3

4,50 x 106/mm3 6,50 x 106/mm3

Hb

14 g/dL

13,0g/dL 17,0 g/dL

Trombosit

259.000/mm3

150.000/mm3 500.000/mm3

Warna

Kuning Muda

Kuning muda

pH

8,5

4,5 8,0

Bj

1,015

1,005 1,035

Protein

Negatif

Negatif

Eritrosit

Negatif

Negatif

Leukosit

Negatif

Negatif

Sedimen Leukosit

8/Lpb

<5 lpb

Sedimen Eritrosit

2/Lpb

<5 lpb

Sedimen Kristal

Ca Oxalat

Urin Rutin

Hasil USG Abdomen


Hepar
: Tidak membesar, permukaan regular, ujung tajam, echo
parenkim normal, tidak tampak SOL system vascular dan biliaris tidak
dilatasi.
GB
: Dinding tidak menebal, mukosa regular, tidak tampak echo
batu maupun mass.

Pankreas
: Bentuk dan ukuran dalam batas normal, tidak tampak SOL.
Ductus panckreaticus tidak dilatasi.
Lien
: Tidak membesar, echo parenkim dalam batas normal, tidak
tampak SOL.
Ginjal kanan : Ukuran dan echo parenkim dalam batas normal, tidak
tampak echo batu maupun SOL Pelvyocalyceal system tidak dilatasi.
Ginjal kiri : Ukuran dalam batas normal, tidak tampak echo batu
maupun SOL, Pelvyocalyceal system dilatasi disertai penipisan kortex.
VU
: Mukosa regular dan tidak menebal, tidak tampak echo batu
maupun mass.

Hasil Pemeriksaan BNO :

Udara usus terdistribusi


sampai ke distal
Tidak tampak dilatasi
loop-loop usus dan
gambaran herring bone
Kedua psoas line dan pre
peritoneal fat line intak
Tampak bayangan opak,
berbatas tegas ukuran
1,5 x 0,7 cm di dalam
rongga pelvis
Tulang-tulang yang
tervisualisasi intak

Hasil Pemeriksaan IVU:

Fungsi ekskresi kedua ginjal baik


PCS: Ujung-ujung calyx minor ginjal kiri clubbing disertai pembesaran
contour ginjal dan penipisan cortex, calyx minor ginjal kanan capping
Ureter: Lintasan ureter ginjal kanan baik, ureter ginjal kiri
tervisualisasi pada menit ke 60 disertai dilatasi dari ureter, Tampak
bayangan batu opak pada distal ureter ginjal kiri.
Buli-buli: Mukosa regular, tidak tampak filling defect dan Additional
shadow
PM: Tampak sedikit sisa kontras di dalam buli-buli

Kesan:
Hydronefrosis grade III-IV disertai Hydroureter sinistra
Ureterolith Sinistra

Hidronefrosis derajat 1.
Calices berbentuk
blunting, tumpul.
Hidronefrosis derajat 2.
Calices berbentuk
flattening, mendatar.
Hidronefrosis derajat 3.
Calices berbentuk
clubbing, menonjol.
Hidronefrosis derajat
4. Calices berbentuk
ballooning,menggemb
ung.

IVFD RL 24 tpm
Ketorolac amp 1 gr/ 8 jam/ IV
Ranitidin amp/ 8 jam/IV
Kalnex 2 gr/ 24 Jam / IV

Rencana : Ureteroscopy + Ekstrakorporeal


Lithotripsy

Hasil Pemeriksaan BNO :

Tampak DJ Stent terpasang


pada lintasan traktus urinarius
kiri dengan ujung proximal
bergelung setinggi
paravertebral CV-L3 dan ujung
distal bergelung dalam rongga
pelvis.
Udara dalam usus terdistribusi
hingga ke distal
Kedua psoas line intak dan
kedua pre peritoneal fat line
tidak tervisualisasi dengan baik.
Tidak tampak bayangan batu
radiopak pada kedua traktur
urinarius
Tulang-tulang intak.

Seorang wanita 60 tahun mengeluh nyeri pinggang sebelah


kiri, dialami sejak 3 tahun yang lalu, memberat dalam 1 bulan
terakhir. Nyeri dirasakan hilang timbul. Nyeri pinggang terlokalisir di
pinggang kiri, tidak menjalar. Pasien juga mengeluh nyeri saat
berkemih sejak 1 bulan terakhir. BAK sedikit-sedikit berwarna keruh
dan berpasir. Pasien juga mengeluh sering tidak tuntas saat BAK,
Pancaran miksi melemah. Demam (-) Nyeri kepala (-) Mual (-)
Muntah (-) Nyeri Ulu Hati (-). Riwayat nyeri pinggang sejak 3 tahun
yang lalu, Riw. DM (-) Riw. HT (-) Riw.Stroke (-) Riw Asma dan Alergi
(-).
Diagnosis
Hasil pemeriksaan BNO IVU
Kesan :
Hydronefrosis grade III-IV disertai Hydroureter sinistra
Ureterolith Sinistra

1.
Sja'bani M. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. II J, editor. Jakarta Pusat: Interna Publishing;
2009.
2.

A.Tanagho E, W.McAninch J. Smith'sgy General Urolo. San Fransisco: Lange; 2003.

3.

Purnomo BB. Dasar-Dasar Urologi. Malang: CV. Infomedika; 2007.

4.
Mos C, Holt G, Iuhasz S. The Sensitivity of Transabdominal Ultrasound in the Diagnosis of
Uretherolithiasis. Journal of Medical Ultrasonography. 2010;Vol.12:188-97.
5.
Henry K.Pancoast M, Sidney Lange M. Diagnosis and Management of Acute Ureterolithiasis.
American Roentgen Ray Society Journal. 2000.
6.

Ahuja AT. Case Studies in Medical Imaging. Cambridge: University Press.

7.

Hospital MCs. Hydronephrosis.

8.
Paula Ed. Case Report : Acute onset of Renal Colic from Bilateral Ureterolithiasis Cases Journal.
2009.

Penyakit batu saluran kemih dapat menyerang


penduduk di seluruh dunia dan tidak terkecuali
penduduk di Indonesia. Angka kejadian penyakit
ini tidak sama di berbagai belahan bumi. Di
negara-negara berkembang, banyak dijumpai
pasien batu buli-buli sedangkan di negara maju
lebih banyak dijumpai penyakit batu saluran
kemih bagian atas (cth: ureter). Hal ini karena
adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien
sehari-hari.

Ureterolithiasis merupakan penyumbatan


saluran ureter oleh batu karena pengendapan
garam urat, oksalat, atau kalsium. Batu tersebut
dapat terbentuk pada ginjal yang kemudian batu
yang kecil di pielum dapat turun ke ureter. Bila
batu tidak dapat lolos ke kandung kemih maka
menyumbat ureter dan menimbulkan kolik.
Batu ureter adalah batu yang tidak normal di
dalam saluran kemih yang mengandung
komponen kristal dan matriks organik tepatnya
pada di ureter.

Dapat menyerang penduduk diseluruh dunia.


Angka kejadian penyakit ini tidak sama
diberbagai belahan bumi. Negara-negara
berkembang banyak dijumpai pasien
batubuli-buli. Negara maju lebih banyak
dijumpai penyakit batu saluran kemih bagian
atas pengaruh status gizi dan aktivitas pasien
sehari-hari. AmerikaSerikat 510% diseluruh
dunia rata-rata terdapat112% penderita.

Secara epidemiologi terdapat:


Factor intrinsic, yaitu keadaan yang berasal dari tubuh
seseorang seperti:
Herediter
Umur : paling sering pada usia 30-50 tahun
Jenis kelamin : laki-laki 3 kali lebih banyak daripada wanita

Faktor ekstrinsik
Geografi : daerah yang mengandung banyak kapur akan
mempertinggi insiden terjadinya batu saluran kemih
Iklim dan temperature
Asupan air yang kurang
Diet tinggi Purin (kacang-kacangan), Oksalat, dan Kalsium
Pekerjaan yang banyak duduk dan kurang aktifitas

Jenis BSK terbanyak adalah jenis kalsium oksalat


seperti di Semarang 53,3%, Jakarta 72%. Herring di
Amerika Serikat melaporkan batu kalsium oksalat
72%, Kalsium fosfat 8%, Struvit 9%, Urat 7,6% dan
sisanya batu campuran.
Angka kekambuhan batu saluran kemih dalam satu
tahun 15-17%, 4-5 tahun 50%, 10 tahun 75% dan 95100% dalam 20-25 tahun. Apabila batu saluran kemih
kambuh maka dapat terjadi peningkatan mortalitas
dan peningkatan biaya pengobatan. Manifestasi batu
saluran kemih dapat berbentuk rasa sakit yang
ringan sampai berat dan komplikasi seperti
urosepsis dan gagal ginjal.

Analisis batu dapat dilakukan cara kimiawi yaitu dengan


cara kualitatif, cara kuantitatif dengan metoda
kromatografik, dan autoanalisis, optic (diseksi mikroskop
binokuler dengan petrografik), kristalografi radiology,
spektroskopi infrared, termoanalitik, dan mikroskop
electron. Kristalografi radiografik merupakan cara yang
dianggap paling baik ditinjau dari segi kesederhanaan
dan ketepatannya.
Komposisi batu yang dapat ditemukan adalah dari jenis :

Asam urat
Batu kalsium : kalsium oksalat, kalsium fosfat, atau campuran keduanya
Sistin
Xantin
Magnesium Ammonium Phosfat (MAP)

Batu kalsium merupakan yang paling banyak


ditemui (70-80%) kasus. Terbentuknya batu
kalsium oksalat kebanyakan adalah idiopatik.
Batu campuran kalsium oksalat dan fosfat juga
biasanya idiopatik, namun berkaitan dengan
sindroma alkali atau kelebihan vitamin D. Batu
fosfat dan kalsium kadang disebabkan
hiperkalsiuri. Batu magnesium ammonium
fosfat didapatkan pada infeksi kronik yang
disebabkan bakteri yang menghasilkan urease
sehingga urin menjadi alkali karena pemecahan
ureum.

Batu asam urat disebabkan hiperuricemia


pada arthritis urika pada pasien-pasien
penyakit gout, pasien mieloproliferatif,
pasien yang mendapat kemotherapi dan
yang banyak menggunakan obat urikosurik,
sulfinpirazole, thiazid dan salisilat. Peminum
alcohol dan diet tinggi protein juga
merupakan factor predisposisi yang cukup
besar. Batu urat pada anak terbentuk karena
pH urin yang rendah.

Batu struvit atau batu infeksi terjadi karena


adanya infeksi pada saluran kemih. Kuman
penyebab infeksi ini adalah kuman golongan
pemecah urea yang dapat menghasilkan enzim
urease dan merubah suasana urin menjadi basa
melalui hidrolisis urea menjadi amoniak.
Suasana basa akan memudahkan terjadinya
garam-garam magnesium, ammonium, fosfat
dan karbonat membentuk batu magnesium
ammonium fosfat/MAP. Dan karbonat apatit
atau seting dikenal dengan nama batu tripel
phospat.

Batu idiopatik disebabkan oleh berbagai factor


misalnya pada negara berkembang adalah dehidrasi
dan gastroenteritis kronis. Faktor ini menyebabkan
oligouria dan meningkatnya keasaman urin. Faktor
lain adalah imobilisasi lama pada penderita yang
dirawat dengan posisi berbaring akan menyebabkan
dekalsifikasi tulang dengan peningkatan ekskresi
kalsium sehingga presipitasi kalsium mudah terjadi.
Pada sebagian kecil penderita batu saluran kemih
didapatkan kelainan kausal yang menyebabkan
ekskresi berlebihan bahan dsar batu seperti yang
terjadi pada hiperparatiroidisme, hiperoksalouria, dan
sistinuria.

Batu di ginjal
Terbentuk di tubuli ginjal, kemudian dapat berada di
kaliks, infundibulum. Batu yang mengisi pielum dan
lebih dari 2 kaliks ginjal memberikan gambaran
menyerupai tanduk rusa sehingga disebut batu
staghorn. Umumnya gejala batu saluran kemih
muncul akibat obstruksi aliran kemih sehingga
menimbulkan hidronefrosis dan jika terinfeksi dapat
menyebabkan pyonefrosis (nyeri hebat terusmenerus) atau pielonefritis. Keadaan-keadaan ini
dapat menyebabkan nyeri kolik, nyeri tumpul atau
nyeri ketok pada sudut kostovertebra.

Batu ureter
Pada umunya berasal dari batu ginjal yang turun
ke ureter. Gerakan peristaltis ureter akan
mendorong batu ke distal. Hal ini menimbulkan
kontraksi kuat dan akan terjadi nyeri kolik, yakni
nyeri hebat yang hilang timbul disertai rasa mual
dengan atau tanpa muntah. Nyeri ini dapat
kearah perut bagian depan, perut sebelah
bawah, daerah inguinal dan bahkan sampai
kemaluan.

Batu vesika urinaria


Dapat berasal dari batu yang turun ke vesika urinaria atau
terbentuk di vesika urinaria akibat obstruksi intravesika.
Apabila terbentuk di vesika urinaria, disebabkan karena
benda asing yang berada di buli-buli sebagai inti batu atau
batu endemic. Batu endemic ini banyak terdapat pada
anak-anak. Gejala khas adalah disuria, stranguria,
perasaan tidak enak sewaktu kencing, kencing tiba-tiba
berhenti dan menjadi encer kembali saat perubahan posisi
tubuh. Bila selanjutnya terjadi infeksi sekunder, maka
selain disuria akan didapatkan nyeri supra pubis yang
menetap. Pada anak laki-laki, akan sering menarik penis
dan pada anak wanita akan sering menggosok vulva.

Batu prostate
Pada umumnya berasal dari air kemih yang
secara retrograde terdorong kedalam saluran
prostate dan mengendap, yang akhirnya
akan terbentuk batu kecil. Pada umumnya
batu ini tidak memberikan gejala sama sekali
karena tidak menimbulkan gangguan aliran
air kemih.

Batu urethra
Umumnya berasal dari batu ureter atau batu
vesika urinaria yang oleh aliran kemih sewaktu
miksi terbawa ke urethra, dan tersangkut di
tempat yang agak lebar. Tempat urethtra yang
agak lebar adalah di pars prostatika, bagian
permulaan pars bulbosa, dan di fossa navikulare.
Gejala yang ditimbulkan umumnya sewaktu
miksi tiba-tiba berhenti, menjadi menetes dan
nyeri. Penyulitnya dapat berupa diverikel,
abcess, fistel proksimal, dan uremia karena
obstruksi urin.

Ginjal
Ginjal terletak dibagian belakang abdomen atas,
dibelakang peritonium,di depan dua kosta
terakhir dan tiga otot-otot besar transversus
abdominalis,quadratus lumborum dan psoas
mayor. Ginjal dipertahankan dalam posisi
tersebut oleh bantalan lemak yang tebal.
Disebelah posterior dilindungi oleh kosta dan
otot-otot yang meliputi kosta, sedangkan di
anterior dilindungi oleh bantaan usus.

1. Kulit Ginjal (Korteks)


2. Sumsum Ginjal (Medula)
3. Rongga Ginjal (Pelvis Renalis)

Ureter adalah tabung/saluran yang


menghubungkan ginjal dengankandung kemih.
Ureter merupakan lanjutan pelvis renis, menuju
distal & bermuara pada vesica urinaria.
Panjangnya 25 30 cm. Persarafan ureter oleh
plexus hypogastricus inferior T11- L2 melalui
neuron simpatis.Terdiri dari dua bagian : pars
abdominalis dan pars pelvina. Tiga tempat
penyempitan pada ureter : uretero- pelvic
junction , tempat penyilangan ureter dengan
vassa iliaca sama dengan flexura marginalis ,
muara ureter ke dalam vesica urinaria.

a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)


b. Lapisan tengah otot polos. Lapisan sebelah
dalam lapisan mukosaLapisan dinding ureter
menimbulkan gerakan gerakan peristaltik
tiap 5menit sekali yang akan mendorong air
kemih masuk ke dalam kandung
kemih(vesika urinaria).

- Ureter pada pria


Terdapat di dalam visura seminalis atas dan
disilang oleh duktus deferens dan dikelilingi oleh
leksus vesikalis. Selanjutnya ureter berjalan
oblique sepanjang 2 cm di dalam dinding vesika
urinaria pada sudut lateral dari trigonum vesika.
Sewaktu menembus vesika urinaria, dinding
atas dan dinding bawah ureter akan tertutup
dan pada waktu vesika urinaria penuh akan
membentuk katup (valvula) dan mencegah
pengambilan urine dan vesika urinaria.

- Ureter pada wanita


Terdapat di belakang fossa ovarika dan berjalan
ke bagian medial dan ke depan bagian lateral
serviks uteri bagian atas vagina untuk mencapai
fundus vesika urinaria. Dalam perjalanannya,
ureter didampingi oleh arteri iterina sepanjang
2,5 cm dan selanjutnya arteri ini menyilang
ureter dan menuju ke atas di antara lapisan
ligamentum.
Vesika Urinaria (kandung kemih)
Uretra

Proses Filtrasi,terjadi di glomelurus,terjadi karena


permukaan eferent,maka terjadi penyerapan darah,dan
bagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali
protein,cairan yang tersaring di tampung oleh simpai
bowman yang terdiri dari
glukosa,air,sodium,klorida,sulfat,bikarbonat,diteruskan ke
ginjal.
Proses Reabsorpsi, terjadi penyerapan kembali sebagian
besar dari glukosa ,sodium, klorida, fosfat, dan beberapa
ion bikarbonat
Proses Sekresi,sisanya penyerapan kembali yang terjadi
pada tubulus dan diteruskan ke piala ginjal selanjutnya
diteruskan ke luar.

Tanda dan gejala batu saluran kemih ditentukan oleh letak, besar, morfologinya
dan penyulit yang telah terjadi. Gejala umumnya adalah hematuria.
Pada anamnesis dan pemeriksaan fisik mungkin didapatkan :
Nyeri sudut kostovertebra

Satu atau kedua sisi.


progresif
Kuat sampai kolik
Mungkin menyebar atau bergerak ke pinggul bawah, pelvis, selangkangan genital.

Nausea, vomitus
Urinary frequency/urgency yang meningkat
Hematuria atau warna urin tidak normal
Nyeri perut
Nyeri saat berkemih
Rasa tidak nyaman saat berkemih
Nyeri testis
Demam
Menggigil

Pemeriksaan laboratorium untuk memeriksa :


Sedimen urin : menunjukkan lekosituria, hematuria, dan

dijumpainya kristal pembentuk batu


Kultur urin : untuk menunjukkan adanya kuman pemecah urea

Faal ginjal : untuk mencari kemungkinan terjadinya


penurunan fungsi ginjal dan mempersiapkan pasien
menjalani pemeriksaan IVP.
Foto polos abdomen untuk melihat adanya batu
radioopaque.

Batu kalsium
: Opaque
Batu MAP
: Semi opaque
Batu Urat/ Sistin : Non opaque/ luscent

Intra Venous Pielografi (IVP) untuk menilai :


Keadaan anatomi ginjal
Fungsi ginjal
Batu yang terlihat oleh foto polos abdomen

Pasien disuntikkan kontras radioaktif dan


kemudian difoto roentgen.
Pielografi retrograde
Dilakukan apabila IVP tidak dapat dilakukan
karena ada penurunan fungsi ginjal

USG
Dilakukan pada pasien yang tidak mungkin
menjalani pemeriksaan IVP maupun
pielografi retrograde yaitu keadaan-keadaan
alergi terhadap bahan kontras, wanita hamil.
Penilaian ini dapat melihat adanya batu di
ginjal atau di buli-buli, hidronefrosis,
pionefrosis, atau pengerutan ginjal.

Diferential Diagnosis
Jika dijumpai kolik abdomen, maka harus dipikirkan :
Kolik saluran cerna
Kolik kandung empedu
Appendisitis akut

Jika dijumpai hematuria, khususnya tanpa nyeri :


keganasan
Jika dijumpai hidronefrosis : tumor ginjal
Jika dijumpai retensio urin : Benign Prostate
Hypertrofi

Idiopatik
Gangguan Aliran Urine

Gangguan Metabolik

Fimosis
Striktur meatus
Hipertrofi prostate
Refluks vesikourethral
Uretrocele
Konstriksi hubungan ureteropelvik
Hiperparatiroidisme
Hiperuricemia
Hiperkalsiuri

Infeksi Saluran Kemih ISK/ UTI , oleh mikroorganisme penghasil urease


Dehidrasi
Benda asing
Fragmen kateter, telur sistosoma
Jaringan mati atau jaringan abnormal seperti pada nekrosis papilla di ginjal
Multifaktor

Anak dinegara berkembang


penderita multitrauma

Teori nukleasi
Batu terbentuk didalam urin karena adanya inti batu (nucleus).
Partikel-partikel yang berada dalam larutan yang kelewat jenuh
akan mengendap dalam nucleus itu sehingga akhirnya terbentuk
batu. Inti batu dapat berupa kristal atau benda asing.
Teori matriks
Matriks organik terdiri dari serum/protein urin (albumin, globulin,
dan mukoprotein) sebagai kerangka tempat diendapkannya
kristal-kristal batu.
Penghambat kristalisasi yang kurang
Pada urin orang normal mengandung zat penghambat pembentuk
kristal antara lain : Magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein,
dan beberapa peptide. Jika salah satu atau beberapa zat ini
berkurang maka akan mempermudah terjadinya batu.

Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi


oleh beberapa faktor yang kemudian dijadikan
dalam beberapa teori:
1. Teoti inti (nukleus) : Kristal dan benda asing
merupakan tempat pengendapan kristal pada urine
yang sudah mengalami supersaturasi.
2. Teori matriks : Matriks organik yang bersal dari serum
atau protein-protein urine memberikan kemungkinan
pengendapan kristal sehingga dapat menjadi batu.
Matriks merupakan mikroprotein yang terdiri dari 65
% protein, 10 % hexose, 3-5 hexosamin dan 10 % air.

3. Teori inhibitor kristalisasi : Beberapa substansi dalam urine


menghambat terjadinya kristalisasi, konsenterasi yang rendah
atau absens nya substansi ini memungkinkan terjadinya
kristalisasi.
Pada individu normal kalsium dan fosfor hadir dalam jumlah yang
melampaui daya kelarutan, sehingga membutuhkan zat
penghambat pengendapan. Fosfat mukopolisakarida dan fosfat
merupakan penghambat pembentukan kristal. Bila terjadi
kekurangan zat ini maka akan mudah terjadi pengendapan.
4. Teori Epistaxy: Merupakan pembentuk batu oleh beberapa zat
secara bersama-sama. Salah satu jenis batu merupakan inti dari
batu yang lain yang merupakan pembentuk pada lapisan luarnya.
Contoh ekskresi asam urat yang berlebih dalam urin akan
mendukung pembentukan batu kalsium dengan bahan urat
sebagai inti pengendapan kalsium

Medikamentosa
Dianjurkan untuk batu yang ukurannya < 5mm, karena
diharapkan batu dapat keluar spontan. Terapi yang
diberikan adalah :

Penghilang rasa nyeri


Diuretikum untuk memperlancar aliran urin
Minum yang banyak
Pelarutan batu

Bila batu ureter berukuran 4 mm dan terdapat di bagian


1/3 proksimal ureter, maka batu 80% akan keluar spontan,
sedangkan bila di 1/3 distal, kemungkinan keluarnya 90%.
Patokan ini dipakai bila batu tidak menyebabkan
gangguan dan komplikasi

ESWL (Extracorporeal Shockwave


Lithotripsy)
Alat ini dapat memecahkan batu tanpa perlukaan

tubuh sama sekali dan tanpa pembiusan.


Gelombang kejut dialirkan melalui air ketubuh
dan dipusatkan ke batu yang akan dipecahkan.
Batu akan hancur menjadi framen-fragmen kecil
(<2mm) dan keluar bersama urin. Namun apabila
terdapat kelainan saluran kemih seperti stenosis
yang akan menghalangi keluarnya batu yang
telah dipecahkan, tindakan ini tidak akan

Endourologi
Merupakan tindakan invasive minimal untuk
mengeluarkanbatu saluran kemih yang terdiri
dari : memecah batu dan kemudian
mengeluarkannya dari saluran kemih melalui
alat yang dimasukkan langsung ke dalam
saluran kemih.

PNL (Percutaneus Nephro Litholapaxy),


Lithotripsy,
Ureteroskopi atau uretero-renoskopi
Ekstraksi dormia

Bedah laparoskopi
Bedah terbuka
Pielotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu
disaluran ginjal, ureterolitotomi untuk mengambil
batu disaluran ureter, vesikolitotomi untuk
mengambil batu di vesika urinaria,, dan
urethrolitotomi untuk mengambil batu disaluran
urethra).

Ad vitam
Ad functionam
Ad sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

Angka kekambuhan batu saluran kemih ratarata 7% pertahun atau 50 dalam 10 tahun.
Penegahan yang dapat dilakukan dapat
berupa
Menghindari dehidrasi dengan minum cukup

(minimal 8 gelas/ 2 liter sehari) dan diusahakan


produksi urin minimal 1,5 liter perhari. Bila pH air
kemih selalu diatas 6,2 maka tidak akan terbentuk
kristal asam urat.

Mengurangi makanan yang dapat memicu terbentuknya


batu, seperti :
Protein, karena protein dapat memacu terjadinya ekskresi

kalsium urin dan menyebabkan suasana urin menjadi asam.


Oksalat (misalnya terdapat dalam buah belimbing)
Garam, karena natriuresis akan memacu timbulnya
hiperkalsiurie
Purin, terdapat dalam kacang-kacangan
Kalsium (pada pasien dengan hiperparatiroid dan kelebihan
vitamin D)

Aktifitas harian yang cukup


Medikamentosa

Ureterolithiasis adalah penyumbatan saluran


kemih khususnya pada ureter oleh batu.
Ureterolithiasis dapat di diagnosis dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang yang tepat. Untuk
batu yang masih kecil dapat dilakukan terapi
konservatif saja. Namun bila batu besar dan
sudah mengganggu penatalaksanaan dengan
pembedahan perlu dipertimbangkan.