Anda di halaman 1dari 85

Tutor : dr.Frank B.

Buchari, Sp BP

Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
Medan
PEMICU
Tn. S, laki – laki, 35 tahun, sehari – hari bekerja
sebagai salesman antar kota, datang ke praktek
dokter umum dengan keluhan mata merah pada
kedua mata, banyak keluar kotoran mata terutama
pagi hari setelah bangun tidur, mata terasa seperti
berpasir. Disamping itu, penderita merasa
penglihatannya agak kabur. Hal ini dialaminya sejak
seminggu yang lalu, tetapi diabaikan dan hanya
mengobatinya dengan tetes mata yang dibeli bebas
di warung.
Apa yang terjadi pada Tn.S ?
• Visus 6/6 = dalam jarak 6 m, masih
dapat melihat dengan jelas tanpa
berakomodasi.
• Laki- laki 35 tahun, mata merah pada kedua
mata, byk keluar kotoran mata terutama
pagi hari setelah bangun tidur
• Mata terasa seperti berpasir
• Penglihatan agak kabur sejak seminggu yang
lalu
• Diberi tetes mata yang dibeli dari warung
• Konjungtivitis
• Injeksi siliaris
• Skleritis
• koleritis
1. Embriologi, anatomi mata
2. Histologi mata
3. Fisiologi mata
4. konjungtivitis
1. Embriologi, anatomi mata
Embriologi mata
Mata berkembang dari 3 lapis embrional
1. Ektoderm permukaan membtk :
- Lensa mata ( merupakan lap. Ektoderm di
dalam lap. Mesoderm)
- Glandula lakrimalis
- Konjungtiva
2. Ektoderm neural : menghasilkan vesikel
optik dan mangkok optik utk membtk
retina serta N.optikus
3. Mesoderm : membtk otot ekstra okuler
Tahapan perkembangan
• Piala mata dan gelembung lensa
Perkembangan mata mulai tampak pada mudigah 22
hari sebagai sepasang lekukan dangkal pd sisi kanan
dan kiri otak depan. Kmdn lekukan ini akan membtk
kantong – kantong keluar pada otak depan yaitu gel.
Mata.
Gelembung ini selanjutnya menempel pd ektoderm
permukaan dan menginduksi perubahan ektoderm
utk pembtkan lensa. Setelah itu gel. Mata mulai
tumbuh melakukan invaginasi dan membtk piala
mata yang berdinding rangkap. Invaginasi ini juga
akan membtk fisura koroidea yang akan
memungkinkan A.hyaroidea mencapai ruangan
dalam mata.
• Pada minggu ke 7, bibir – bibir fisura koroidea
bersatu dan mulut piala mata kemudian menjadi
lubang bulat yang akan menjadi pupil. Sementara
peristiwa ini berlangsung, sel – sel ektoderm
permukaan, yang semula menempel pada gel.
Mata , mulai memanjang dan membentuk plakoda
lensa yang akan melakukan invaginasi, dan
berkembang menjadi gel. Lensa. Pd minggu ke 5,
gel. Lensa terlepas dr ektoderm permukaan dan
selanjutnya terletak di dalam mulut piala mata
• Embriologi struktur spesifik mata
1. Palpebra dan apparatus lacrimalis
Kuncup palpebra mulai tbtk pada janin 16 mm ( 6
minggu), menyatu pada janin 37 mm ( 8 minggu),
kemudian memisah pada bulan ke 5
2. Sklera dan otot ekstraokuler : selesai pada
janin 5 bula
3. Lensa mata : selesai pada bulan ke 7
4. Retina
- Pada bulan ke 8 makula lbh teal dr bgn
retina yg lain dan tjd percekungan makula
lutea
- Makula berkembang secara anatomis sampai
berumur 6 bulan sesudah lahir
• Palpebra superior
dan inferior
• Bulu mata
• Konjungtiva
• Glandula lakrimalis
orbita
• Atap  os frontalis
• Dinding lateral  os
zigomaticum dan ala
mayor os.
Sphenoidales
• Dasar  os. Maxilla
• Medial os. Maxilla
, os.lacrimalis,
os.ethmoideus, dan
os. Sphenoidales
mata
1. Tunika fibrosa Isi bola mata
( sclera, lamina 1. Aqueus humor
cribosa, kornea) 2. Vitreus humor
2. Tunika vaskulosa 3. lensa
( choroid, corpus
siliaris, iris, pupil)
3. Tunika vaskulosa
( retina , fovea,
diskus optikum)
persarafan
• N.optikus
• N.lakrimalis
• N.Frontalis
• N.trochlearis
• N.occulomotorius
• N.Nasosiliaris
• N.abdusens
OTOT-OTOT DI PALPEBRAE

• Besar-kecil fissura
diatur oleh M. TARSALIS
SUPERIOR & INFERIOR
(otot polos)
• M. ORBICULARIS OCULI :
palpebrae dapat
bergerak menutup
• M. LEVATOR PALPEBRAE
SUPERIOR : mengangkat
palpebrae superior
OTOT-OTOT MATA
• N. III: M. RECTUS SUPERIOR
• N. III: M. RECTUS INFERIOR
• N. III: M. RECTUS MEDIALIS
• N. VI: M. RECTUS LATERALIS
• N. IV: M. OBLIQUUS SUPERIOR
• N. III: M. OBLIQUUS INFERIOR
VASKULARISASI
• Berasal dari ARTERI OPHTHALMICA
• Fungsi :
Suplai darah
Mempertahankan Tekanan Intra Okuler &
tegangan bola mata
• Mempunyai 2 sistem yang berbeda :
ARTERI CILLIARES
ARTERI CENTRALIS RETINA
VASKULARISASI
• Arteri cilliares posterior longus
• Arteri ciliares posterior brevis
• Arteri cilliaris anterior
• Arteri centralis retina
2. Histologi mata
Externa(Aksesoris)

• Konjungtiva
Memiliki epitel berlapis silindris dengan banyak sel goblet
dan lamina proprianya terdiri atas jaringan ikat longgar
• Aparatus Lakrimalis
(kelenjar lakrimal,kanalikuli,sakus lakrimalis,duktus
nasolakrimalis)
Terdiri atas sel berbentuk kolom berjenis serosa,yg mirip
dengan sel asinar parotis.sel-sel ini memperlihatkan
granul sekresi yang terpulas pucat dan suatu lamina basal
yang memisahkan sel dengan jaringan ikatnya.
• Palpebra
Memiliki 3 jenis kelenjar :
1. Kelenjar meibom:kelenjar sebasea panjang dalam
lempeng tarsal dan tidak berhubungan dengan
folikel bulu mata.
2. Kelenjar Zeis : merupakan modifikasi kelenjar
sebasea yang lebih kecil dan berhubungan dengan
folikel bulu mata
3. Kelenjar Moll :merupakan tubulus yang mirip
sinus dan tak bercabang.yang awalnya berupa
pilinan sederhana.
Internal

Lapisan luar,atau tunika fibrosa


• Sklera
Terdiri dari jaringan ikat padat, yg trutama trdiri dari berkas
kolagen gepeng yang berselang seling namun tetap paralel
dengan permukaan bola mata,substansi dasar dalam jumlah
cukup, dan beberapa fibroblas
• Kornea
Terdiri dari 5 lapisan :
– Epitel
– Membran bowman
– Stroma
– Membran descement
– endotel
Tunica Vasculosa
• Lapisan tengah dari mata
• Terdiri atas:
– Koroid
– Badan siliaris
– Iris
Koroid
• Lapisan yang sangat vaskular, dengan jaringan
ikat longgar di antara pembuluh darahnya
• Terdiri atas 3 lapisan :
– Membran Brunch
– Lapisan Koriokapiler
• Berfungsi penting untuk nutrisi retina
– Lamina suprakoroid
• Suatu lapisan longgar jaringan ikat yang
kaya akan melanosit
• Melanosit yang banyak memberikan ciri warna
hitam yang khas
• Lapisan koroid dipisahkan dengan retina oleh
membran Bruch
Badan Siliaris
• Suatu pelebaran koroid di tingkat lensa:
– Merupakan cincin tebal di permukaan dalam bgn anterior sklera
• Batas Permukaan
– sklera
– Badan vitreous
– Lensa dan kamera okuli posterior
• Terdiri atas jaringan ikat longgar yang kaya serat elastin, pembuluh
darah, dan melanosit
Badan Siliaris
• Di permukaan dalam, hanya terdiri dari 2 lapisan sel:
– Lapisan yang langsung bersebelahan dengan badan siliar
terdiri atas selapis sel silindris dengan banyak melanin
– Lapisan kedua berasal dari lapisan sensorik retina dan
terdiri atas epitel selapis silindris tak berpigmen
• Prosessus Siliaris
– Penjuluran badan siliar yang menyerupai rabung (ridge)
– Dilapisi oleh epitel yang sama dengan badan siliaris
• Sel-sel tak berpigmen di lapisan dalam secara aktif
mentranspor unsur plasma tertentu ke dalam kamera
posterior sehingga terbentuk aqueous humor
– Dari prosessus siliaris muncul serat-serat oksitalan
(serat zonula) yang berinsersi ke dalam kapsula lentis
Iris
 Perluasan koroid yg menutupi sebagian lensa, dan menyisakan lubang
bundar di pusat (pupil)
 Permukaan anterior
◦ Tidak teratur dan kasar
◦ Jaringan ikat dengan sedikit pembuluh darah
◦ Mengandung banyak fibroblas dan melanosit
 Stroma:
◦ Kaya akan pembuluh darah
◦ Jaringan ikat longgar: fibroblas dan melanosit
 Lapisan dalam:
◦ Penuh dengan granul melanin
◦ Otot
 Muskulus dilatator pupil; myoepithelial, dipersarafi oleh saraf simpatis,
dilatasi pupil
Muskulus konstriktor pupil; otot polos, mengubah diameter pupil,
dipersarafi oleh saraf parasimpatis, konstriksi pupil
 Melanosit
◦ Mencegah berkas cahaya yang dapat mengganggu pembentukan bayangan
◦ Menentukan warna mata
Lensa
Merupakan struktur bikonkaf yang sangat elastis
Kapsul lensa
◦ Basal lamina
◦ Type IV collagen + glycoprotein
Epitel subkapsular
◦ Hanya terdapat pada permukaan anterior lensa
◦ Selapis sel epitel kuboid
◦ Sel epitel memiliki banyak interdigitasi dengan serat-
serat lensa
Serat lensa
◦ Sangat panjang
◦ Tampak sebagai struktur tipis dan gepeng
◦ Berisi sekelompok protein yang disebut kristalin
◦ Lensa ditahan pada tempatnya oleh zonula. Penting
untuk proses akomodasi.
Badan Vitrous
• Merupakan gel transparan, menempati daerah
mata di belakang lensa
• Terdiri atas air (99%), sedikit kolagen, dan
molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi
• Kanal Hyaloid
– Kanal sempit tempat arteri hyaloid pada fetus
– Dari lensa posterior sampai ke diskus optik
Retina
• Lapisan dalam bola mata
• Terdiri atas 2 bagian
– Fotosensitif (pars optica): 2/3 posterior
– Non fotosensitif (pars ciliaris and iridica): 1/3 anterior
Ora serrata
• Terdiri atas 2 lapisan (daerah fotosensitif):
– Lapisan pigmen luar
– Lapisan pigmen dalam (9 lapisan)
• Diskus optik
– Terletak di bagian posterior orbita
– Tempat keluarnya nervus optikus
– tidak memiliki sel fotoreseptor→ “blind spot”
Retina
• Makula Lutea (Yellow spot)
– 2.5 mm disamping diskus optik
– Fovea sentralis:
• Ketajaman penglihatan paling tinggi
• Hanya terdiri atas sel kerucut
Sel Epitel Pigmen
• Sel epitel pigmen terdiri atas sel-sel silindris dengan inti di basal
– Basal
• Melekat pada Brunch membran
• Mitokondria
– Lateral
• Blood-retina barrier
– Apikal
• Mikrovili gepeng dan selubung silindris yang menyelubungi ujung-ujung fotoreseptor
• Granul melanin
• Fungsi
– Blood-retina barrier
– Menyerap cahaya
– Fagositosis
– Esterifikasi vitamin A
Sel Batang dan Sel Kerucut
Sel batang Sel Kerucut
◦ Aktif pada intensitas cahaya yang lemah  Aktif pada intensitas cahaya
◦ Sel tipis memanjang
kuat
◦ Terdiri atas segmen luar, segmen dalam,
daerah nukleus, daerah sinaptik  Sel memanjang
 Segmen Dalam  3 tipe sel kerucut;
◦ Dipisahkan dari segmen luar oleh suatu mengandung fotopigmen
penyempitan kerucut yang disebut
◦ Banyak mengandung glikogen dan iodopsin → sensitivitas
mitokondria
merah, hijau, biru
◦ Sejumlah protein yang dihasilkan oleh
segmen dalam bermigrasi ke segmen luar  Strukturnya mirip dengan
sel batang struktur sel batang,
 Segmen Luar perbedaannya: segmen luar,
◦ Protein bergabung membentuk cakram sensitivitas terhadap cahaya
◦ Cakram gepeng di sel batang mengandung dan warna
pigmen yang disebut ungu visual, atau
rhodopsin
Sel- Sel Lain :
Sel bipolar, terdiri atas 2 jenis sel
1.Sel bipolar difus (memiliki sinaps dengan 2 atau lebih
fotoreseptor)
2.Sel bipolar monosinaps (yg berhubungan dengan akson
dari satu fotoeseptor kerucut dan satu sel ganglion)
Sel ganglion
- Ciri khas sel saraf, inti eukromatik besar, dan badan
Nissl yg basofilik
Sel horizontal
- menghubungkan berbagai fotoreseptor
Sel amakrin
- menghubungkan sel-sel ganglion
Sel penyokong
- neuoglia, memiliki sel Muller
Berfungsi menunjang, memberi makan, dan
menyelubungi
neuron dan serat retina
3. Fisiologi mata
No light

Concentration cGMP ↑

Na+channels open in outer segmen

Membran depolarization

Spread to the terminal synaptic

Ca2+ channels open

Release neurotransmitter ((inhibitory neurotransmitter)↑

Bipolar cells inhibited

No action potential in ganglion cell

No action potential propagation to visual cortex
Light

Activation o fotopigment (rod and cone)

Activation of transducin (G protein)

cGMP↓

Na+ channel closure

Membran hyperpolarizasion (receptor potential)

Spread to the terminal synaps

Closure ca2+ channels

Release inhibitory neurotrasnmitter↓

Bipolar cell uninhibited

Graded potential change in bipolar cell

Action potential in ganglion cell

Visual cortex in the occipital lobe of the brain
Korpus Genikulatum Lateral Dorsal
• Memilki 6 lapisan inti, lapisan 2, 3, & 5 menerima
isyarat dari bagian temporal retina ipsilateral,
sedangkn lapisan 1,4, 5 dan 6 menerima isyarat
dari retina nasal kontralateral.
• Memancarkn informasi penglihatan ke korteks
penglihatan melalui traktus genikulokarkania.
• Membentengi penjalaran sinyal ke korteks
penglihatan, sumber: serat kontrifugal yg kembali
dari arah balik dari korteks penglihatan ke nukleus
genikulatalateralis, daerah retikular mesensefalon.
• Respon kontras & pergerakn jauh lebih besar.
• Lapisan I & II = lapisan magnoselular,
berisi neuron2 besar, menerima masukan
dari sel ganglion retina tipe Y, dendritnya
menyebar luas diretina, informasi hitam –
putih, kecepatan tinggi, kurang akurat.
• Lapisan III s/d VI = lapisan parvoselular,
berisi neuron2 kecil sampai sedang, sinyal
dari ganglion retina tipe X, informasi
warna & spasial yg akurat, kecepatan
sedang.
Korteks Penglihatan
• Kemampuan sistem penglihatan mengetahui
susunan ruang pandangan penglihatn, bentuk
objek, kecemerlangan, pembuatan bayangn dsb.
• Mendeteksi garis dan batas di berbagai daerah
bayangn retina, mendeteksi orientasi masing2
garis ataupun panjangnya, dicapai dgn eksitasi
neuron sekunder spesifik.
• Analisis warna oleh sel2 spesifik.
• Adanya sel yg mendeteksi daerah2 rata pada
pandangn penglihatn dan tingkt luminositas.
Korteks Penglihatan Primer
• Sinyal2 yg dari makula retina berakhir di dekt
ujung oksipital, sinyal2 dari perifer retina
berakhir di lingkarn konsentrik anterior sudut
sepanjang fisura kalkarina.
• Meluas bersama dgn area kortikal 17 broadman
disbut jg area penglihatn I.
• Sinyal yg dihntarkan dari sel ganglion Y retina
berakhir dilapisan IVcα, dipancarkan scara
vertikal ke permukaan kortikal lebih dalam.
• Sinyal dari sel ganglion X retina berakhir pd
lapisan IVa dan IVcβ
Area Penglihatan Skunder

• Di sebelah lateral, anterior, superior,


dan inferior, terhdp korteks penglhtan
primer.
• Sinyal skunder dihantrkn disini digunakn
untk menganalisis arti penglihatn
Fusi Bayangan Penglihatan
• Bayangn penglihatn mengadakn fusi satu sama lain
pd titik2 yg sesuai dari kedua retina, fusi lateral,
vertika dan torsional (rotasi yg sama pd kedua mata
sekitar aksis optiknya.
• Interaksi antara lapisn2 korpus genikulatum
laterale tempt isyarat dari bayangn kedua mata
saling menutupi, menyebabkn gambarn interferensi
perangsangn pd sel-sel spesifik korteks penglihatn,
berakibt pergerakn mata hingga titik yg tercatat
pada retina sesuai pd kedua mata sehingga fusi
sempurna.
Pergerakan Fiksasi Mata
• Mekanisme fiksasi volunter = menemukan objek
tempat pemusatan penglihtan.
• Mekanisme fiksasi involunter = memprtahnkn mata
menatap dgn kuat suatu objek.
• Pergerak fiksasi volunter diatur oleh lapangn
korteks kecil bilateral daerah premotor lobus
frontalis. Fiksasi involunter diatur daerah mata
korteks oksipitalis.
• Mekanismenya: bila berck cahaya meyimpg sampai
sejauh pinggir povea, timbl gerakn sentakn pd mata
dan mendadk mengemba-likannya pd tegh povea.
Pergerakan mata & pengaturannya
• Diatur 3 pasang otot, M. rektus nedialis & lateralis
berkontraksi timbl balik menggerakkn mata dari sisi ke
sisi. M. rektus superior & inferior berkontraksi
mengerakkn mata ke ats & ke bawh. M.obliquus superior
& inferior memutar bola mata & mempertahnkn lapangn
pndang pd posisi berdiri.
• Penyebarn isyarat dari oksipital ke oksipito-tektalis &
oksipitokolikularis ke area pretekalis & kolikulus superior
btg otak, selain itu trakts frontotektalis berjaln dari
korteks frontalis ke pretekal. Dari area pretekal dan
kolikulus superior isyart pengaturn okulomotor berjaln
ke inti2 n. okulomotorius, isyart kuat dihntarkn oleh
nuklei vestibulares melalui fasikuls longitudinalis
medialis.
4. Konjunctivitis
-Defenisi : peradangan selaput bening yang
menutupi bagian putih mata dan bagian dalam
kelopak mata.
-Klasifikasi berdasarkan onset(akut/kronik) dan
etiologi
-Etiologi :
1.Bakteri
2.Virus
3.Alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang
dsb
4.Giant papillary conjunctivitis (pengguna lensa
kontak)
5.Iritasi oleh angin, debu, asap,zat kimia dan polusi
udara lainnya
PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI
KONJUNGTIVITIS
ALTERED HOST EXTERNAL
DEFENSE CONTAMINATION

NORMAL FLORA

DISRUPTION EPITHELIAL
LAYER OF CONJUNCTIVA

HEMATOLOGIC
IMMUNE MECHANISM IMMUNOGLOBULIN DAN
LISOZIM PD PERMUKAAN
FAGOSITOSIS OLEH FILM AIR MATA
NEUTROFIL

MEDIATOR INFLAMASI LAKRIMASI

 PERMEABILITAS PELEBARAN
GATAL
VASKULAR VASKULAR

INJEKSI
 EKSUDAT HIPEREMIA KONJUNGTIVAL
Gejala Klinis
• Hiperemia konjungtiva bulbi (injeksi konjungtival)
• Lakrimasi
• Eksudat
• Pseudoptosis
• Kemosis
• Hipertrofi papil
• Folikel
• Membran
• Pseudomembran
• Granulasi
• Flikten
• Seperti ada benda asing pada mata
• Adenopati preaurikular
Diagnosis Banding Tipe Konjungtivitis
Tanda / gejala virus bakteri Fungus dan alergi
parasit
Purulen nonpurulen

Kotoran Sedikit Mengucur Sedikit Sedikit Sedikit

Air mata Mengucur Sedang Sedang Sedikit Sedang

Gatal Sedikit Sedikit - - Hebat

Injeksi Umum Umum Lokal Lokal Umum

Nodul Lazim Jarang Lazim Lazim -


preaurikular
Pewarnaan Monosit, Bakteri, PMN Bakteri, PMN Biasanya Eosinofil
eksudat limfosit negatif
Sakit Sewaktu- jarang - - -
tenggorok dan waktu
panas yg
menyertai
anamnesis
• Mata merah pd kedua mata
• + sekret yang lengket ketika br bangun
tdr
• Mata terasa berpasir
• Penglihatan kabur
• Sudah dialami selama 1 minggu
Pemeriksaan fisik
• Inspeksi
- Melihat apakah ke2 mata simetris atau tdk
- + injeksi konjungtiva
- Kejernihan kornea
- Kelopak mata bengkak
- Pupil normal
• Palpasi
Melihat pembesaran limph node  GO, viral ocular syndrome,
Herpes simpleks
• Pemeriksaan visus
- Utk melihat ketajaman dan kejernihan penglihatan
- Memakai kartu snellen  pinhole  pakai jari  senter
Pemeriksaan slit lamp
• Pembalikan palpebra
+ injeksi konjungtiva / hemorargik  difuse atau segmen
+ folikular  viral / chlamidia
+ papilar  bakteri , alergi
Discharge
Watery  acute viral
Mucoid  chronic allergic conjungtivitis, dry eye
Mukopurulen  acute bacterial, infeksi chlamidia
Purulent  GO
+ kemosis  alergi
Membran
Pseudomembran  GO, strep, pneumococcus
True membran  difteri, basil klebs loefler
• Pemulasan flurescine
Kertas + flurescine  tempelkan di palpebra
inferior  Warna kuning pindah ke
palpebra  diberi cahaya slit lamp yang
diubah warna biru dan filter 
berfluoresensi.
- Normal kornea  warna uniform
- Abnormal kornea  + gumpalan warna
Pemeriksaan penunjang
• Kultur sekret  melihat jenis bakteri
• Sitologi
- Leukosit dan PMN  infeksi bakteri dan chlamidia
- Mononuklear dan limfosit  infeksi virus
- Eosinofil dan basofil  alergi
- Netrofil = limfosit  chlamidia
• Imaging ( MRI, CT scan, Orbital CT scan)
Indikasi utk peny. Penyerta spt sinusitis, sinus
cavernosum fistula, orbital celulitis, orbital abses.
Differential diagnosis
konjungtivitis episkleritis

1. Merah Seluruh permukaan mata dan Merah keunguan


kedua tepi palpebra
2. Visus - -/+

3. Nyeri +, gatal dan spt ada benda +


asing
4. fotofobia - -

5. halo - -

6. Eksudat ++/+++ -

7. Tanda konstitutional - -

8. Pupil N N

9. Tekanan intraokular N N
skleritis keratitis Iritis (uveitis) Glaukoma akut

Merah keunguan berupa Merah lokal dan Mata merah di sekitar Merah pd seluruh
benjolan bts tegas kemerahan di bgn kornea permukaan mata
kornea
+/++ +++ ++ +++

++ +++ ++, ckp hebat pd +++, nyeri hebar pd


mata dan cbg N.V mata dan slrh N.V
+++ +++ +

- - +

-/+/++ - -

- Nyeri Didahului mual dan


muntah
N N/ konstriksi N/ konstriksi Dilatasi

N N turun meningkat
Komplikasi Konjungtivitis
• Keratitis ulseratif = ulserasi kornea = ulkus kornea
(trdptnya destruksi/kerusakan pd bgn epitel kornea) →
pd konjungtivitis bakteri, viral, alergi
• Perforasi kornea → pd infeksi N gonorrhoeae
• Simblefaron (perlengketan antara konjungtiva
tarsalis/palpebra dgn konjungtiva bulbi) → pd infeksi
bakteri
• Endoftalmitis (peradangan seluruh lapisan mata bgn dlm,
cairan bola mata & bagian putih mata) → pd infeksi N
gonorrhoeae, Pseudomonas
Komplikasi Konjungtivitis...
• Keratoconus (perubahan btk (penipisan) kornea shg btknya menyerupai
kerucut, bukan radang) → pd konjungtivitis alergi
• Punctate keratitis (inflamasi pd kornea dgn hilangnya epitel kornea) → pd
konjungtivitis viral
• Blefarokonjungtivitis (inflamasi pd kelopak mata dan konjungtiva; berupa
gatal pd mata & ada krusta pd tepi kelopak) → pd infeksi Staphilococcus
• Pneumonia → trjd 10-20% pd bayi krn chlamydial conjunctivitis
• Conjunctival scarring → pd chlamydial conjunctivitis pd org dewasa yg tdk
diobati
• Meningitis → pd infeksi N meningitidis
Pengobatan Konjungtivitis akut

• Konjungtivitis bakteri akut


Pengobatan diberikan kadang – kadang sebelum pemeriksaan
mikrobiologik dengan antibiotik tunggal spt neosporin, basitrasin,
gentamicin, kloramfenikol, tobramisin, eritromisin, dan sulfa. Bila
pengobatan tidak memberikan hasil dalam 3 – 5 hari maka
pengobatan dihentikan dan ditunggu hasil pemeriksaan
mikrobiologik. Bila tidak ditemukan kuman dalam sediaan langsung
maka diberikan antibiotik spektrum luas dalam bentuk tetes mata
tiap jam atau salep mata 4 sampai 5 kali sehari. Apabila tetes
mata maka sebaiknya sblm tidur diberi salep mata ( sulfasetamid
10 – 15 % atau klorampenikol).
• Kojungtivitis gonore
sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi dengan air
bersih (direbus) atau dengan garam fisiologis setiap ¼ jam.
Kmdn diberi salep penisilin stp ¼ jam. Penisilin tetes mata
dalam bentuk larutan penisillin G 10.000 – 20.000 unit/ml
stp 1 menit smapai 30 mnt. Kmdn salep diberikan stp 5 mnt
sampai 30 mnt disusul dengan pemberian salep penisillin stp
1 jam selama 3 hari.
• Oftalmia neonatorum
Konjungtivitis kimia : dengan pembilasan sisa obat
dan bahan penyokong
Konjungtivitis satfilokokkus : antibiotik topikal.
Tobramisin utk pseudomonas.
Konjungtivitis inklusi / klamidia : tetrasiklin atau
eritromisin ( gram +), Tobramisin (gram -)
Konjungtivitis neiseria : lihat Kojungtivitis gonore
Konjungtivitis virus : triflurotimidin
Konjungtivitis jamur : obat antijamur
• Konjungtivitis angular
diberikan tetrasiklin atau basitrasin. Dapt juga
diberikan sulfas zincii yang mencegah proteolisis.
• Konjungtivitis virus akut, demam faringokonjungtiva :
antivirus dan alfa interferon tidak umum kita gunakan
utk adenovirus. Astringens diberikan untuk
mengurangi gejala dan hiperemia. Beri antibiotik utk
mencegah infeksi sekunder. Steroid bila ada tdpt
membran dan infiltrasi subepitel.
• Konjungtivitis herpes simpleks dan varisela zooster :
pengobatan dengan kompres dingin. Saat ini asiklovir 400
mg/hari utk selama 5 hari merupakan pengobatan umum,
walaupun steroid diduga mengurangi penyulit akan tetapi
dapat mengakibatkan penyebaran sistemik. Pada 2 minggu
pertama dpt diberi analgetik utk menghilangkan rasa sakit.
Pada kelainan permukaan dpt diberika salep tetrasiklin.
• Konjungtivitis inklusi : dengan tetrasiklin atau sulfasoksasol
topikal dan sistemik.
• Konjungtivitis New Castle : pengobatan yang khas tidak ada,
dpt diberikan antibiotik utk mencegah infeksi sekunder
disertai obat simptomatik.
• Konjungtivitis hemorargika epidemik akut
Antibiotik spektrum luas, sulfasetamid dpt digunakan utk
mencegah infeksi sekunder.
Konjungtivitis kronik
• Konjungtivitis alergi
Hindari penyebab. Astringens, sodium kromolin,
steroid topikal dosis rendah yang kemudian disusul
dengan kompress dingin utk menghilangkan edema.
Kasus berat  antihistamin dan steroid sistemik.
a. Konjungtivitis vernal  vasokonstriktor, kromolin
dpt mengurangi pemakaian steroid.Nsaid tdk byk
bermamfaat.steroid topikal tetes dan salep dpt
menyembuhkan tp hati- hati penggunaan dlm
jangka pjg. Dpt diberi kompres dingin, na
bikatbonat dan obat vasokonstriktor.
b. Konjungtivitis flikten  diberi steroid topikal. Bila
silau  kacamata hitam. Perhatikan higiene mata dan
diberi antibiotik salep mata wkt tidur. Dan air mata
buatan. Sebaiknya cari penyebabnya.
c. Sindrom steven Jhonson  obat simptomatik dan
pengobatan umum dengan kortikosteroid sistemik dan
infus cairan antibiotik. Pengobatan lokal pada mata
berupa pembersihan sekret yang timbul, steroid
topikal.
• Trakoma  dengan tetrasiklin salep mata , 2 – 4 kali
sehari, 3 – 4 minggu, sulfonamid diberikan bila ada
penyulit.
• Konjungtivitis dry eye  tergantung penyebab dan air
mata buatan.
• Defsisiensi vit A  beri vit A akan memberikan
perbaikan nyata dalam 1 – 2 minggu.dianjurkan bila
diagnosis def vit A dibuat berikan vit A 200.000 IU
peroral dan pada hari kesatu dan kedua. Bila tdk ada
perbaikan berikan pada hari ketiga.
• Hipersensitifitas terhadap obat dan Konjungtivitis
kontak : hentikan penyebab, berikan steroid topikal
atau salep. keadaan berat berikan steroid sistemik atau
oral.
• Keratokonjungtivitis limbus superior
pengobatan yang tepat belum ada krn sebabnya
belum jelas. Simtomatik dengan dekongestan,
zinc sulfat, meril selulosa, polivinil alkohol,
kortikosteroid atau antibiotik. Dpt diberikan
AgNO3 0,5 % yang diusapkan pada tarsus
superior.
• Konjungtivitis membranosa  diobati sebagai
difteria berupa penisilin dan serum antidifteria.
prognosis
• Konjungtivitis bakterial akut hampir selalu
sembuh sendiri
• - diobati  10 – 14 hari, + obati  1 – 3 hari
• Kecuali K.stafilokokkus  dpt berlanjut
menjadi blefarokonjungtivitis dan mjd kronik
• k. bakterial kronik  tdk dpt sembuh sendiri
• Trakoma, dengan kondisi higiene yang baik
( khususnya mencuci muka pd anak ), peny.
Ini dpt sembuh atau bertambah ringan.
prevensi
• Mudah menular shg sblm dan sesudah mengoleskan
obat  cuci tangan
• Tdk menyentuh mata yang sehat sesudah menangani
mata yang sakit
• Jangan menggunakan personal stuff milik penderita
• Gunakan lensa kontak sesuai dgn petunjuk dokter
• Pada bayi baru lahir diberi AgNO3, eritromisin atau
tetrasiklin
• Pada bayi yg ibunya GO  suntikkan antibiotik
seftriakson
• Tuan S mengalami
konjungtivitis
bakterial