Anda di halaman 1dari 28

ERITEMA NODOSUM

LEPROSUM

Nurul Fajrina Rahim (C111 11 277)


Hesty Eka Fransiska Hosea (C111 11 267)

Nama
Tgl. Lahir
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Agama
Pekerjaan
Diagnosis

: Tn. H.
: 1-7-1983
: 31 tahun
: laki-laki
: Surokalling, Gowa
: Islam
: Petani/Pekebun
: Reaksi ENL

IDENTITAS PASIEN

Autoanamnesis

Keluhan Utama: Bengkak kemerahan terutama


pada tangan dan kaki dialami sejak satu bulan yang
lalu. Riwayat berobat MDT dipuskesmas beberapa
bulan yang lalu. Mula-mula muncul bengkak
kemerahan berisis nanah.
Demam (+) sejak 1 minggu yang lalu

ANAMNESIS

Kepala
Dada
Abdomen

Anggota Gerak
atas

: Anemis (-), Ikterus(-)


: BP : Vesikuler, Rh (-/-), Wh(-/-)
: Datar, Ikut Gerak Napas
Peristaltik kesan normal
Pustul (+)
: Akral Dingin (+)
Nodul (+) pada ekstremitas
dan bawah
Udem (+) pada jari-jari tangan

PEMERIKSAAN FISIS

Keadaan Umum
Kesadaran
Status Gizi
Higiene
Tanda Vital
:

: Sakit Sedang
: Kompos Mentis
: Baik
: Buruk

Tekanan darah : 120/70


Nadi
: 80x/m
Pernapasan
: 22x/m
Suhu
: 38,2C

STATUS UMUM

KIRI

KANAN

KIRI

KANAN

KIRI

KANAN

Lokasi

: Generalisata
- Regio Ekstremitas Superior
Bilateral
- Regio Ekstremitas Inferior

Bilateral
- Regio Manus Bilateral
Effloresensi : Nodul Eritematous Lentikular

STATUS DERMATOLOGI

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium:
WBC
RBC

: 30,3x103 /l
: 4,41x106 /l

HGB
Plt
GDS
SGOT
SGPT
Total Protein
Albumin
Ureum

: 11,6 gr/dl
: 431x10 /l
: 100 mg/dl
: 26 U/L
: 40 U/L
: 3,3 gr/dl
: 6,1 gr/dl
:19 mg/dl

PEMERIKSAAN PENUNJANG

BTA Leprae :
Cuping kanan

: 4+

Cuping Kiri

: 4+

Lengan Kanan

: 3+

Lengan kiri
Paha kanan

: 3+

Bacterial Index

: 20/6

Morphologi Index

:0%

: 3+

Metilprednisolon per 8 jam 2-0-0

Na Diclofenac 2X50 mg
Ofloxasin 400 mg 1X1
Corovit 1X1
Ceterizine 1X1
Paracetamol 3X500 mg
Vaseline

PENGOBATAN

Eritema nodosum leprosum


(ENL) merupakan reaksi tipe 2
pada penyakit kusta dengan
manifestasi klinis di kulit berupa
nodul kutaneus yang nyeri,
umumnya terdapat di wajah dan
ekstremitas.

DEFINISI

ENL sampai saat ini belum diketahui pasti


penyebabnya, penderita baik yang telah
berobat maupun yang belum. Faktor
pencetus terjadinya ENL adalah infeksi virus,
stress, infeksi tuberkulosis, vaksinasi dan
kehamilan. Akan tetapi beberapa
menyimpulkan dapat disebabkan oleh infeksi
stress dan respon imunologi.

ETIOLOGI

Mekanisme imunopatogenesis ENL masih kurang


jelas. ENL diduga merupakan manifestasi pengendapan
kompleks antigen antibodi yang ada pada pembuluh
darah.
Karena suatu rangsangan, baik yang non spesifik
seperti infeksi virus,stress, kehamilan atau rangsangan
yang lebih spesifik misalnya superinfeksi dengan
penyakit tuberkulosis, terjadi infiltrasi sel T helper (Th2).
Sel Th2 ini menghasilkan berbagai sitokin, antara lain
interleukin 4 (IL 4) yang menginduksi sel B menjadi sel
plasma untuk kemudian memproduksi antibodi.
Terbentuklah ikatan antigen M. Leprae dengan antibodi
tersebut di jaringan, disusul dengan aktivasi komplemen.

PATOGENESIS

MANIFESTASI KLINIS

Nodul kemerahan, nyeri dan dapat berkembang


dalam beberapa jam atau beberapa hari. Kadangkadang lesi membaik dan membentuk plak. Ukuran
lesi bervariasi tetapi biasanya kecil dan jika multipel
distribusi lesi cenderung bilateral dan simetris.
Lesi ENL kadang-kadang lebih mudah dipalpasi, lesi
berbentuk kubah dengan batas yang jelas, lunak
pada perabaan, mengkilat terletak superficial dan
dapat meluas ke dermis yang lebih dalam atau
sampai lemak subkutan
Lesi ENL terasa panas dan pada penekanan terlihat
pucat. Lokalisasi lesi seringkali pada sepanjang
permukaan ekstensor lengan dan tungkai,
punggung, wajah tetapi dapat terjadi dimana saja

MANIFESTASI KLINIS

ENL dinyatakan berat bila disertai demam tinggi,


kelemahan umum, lesi kulit menjadi pustule dan
atau ulserasi, nyeri saraf, nyeri periosteal, miositis,
kehilangan fungsi saraf atau terdapat tanda-tanda
iridosiklitis, orkitis, pembengkakan sendi atau
albuminuria yang menetap
Kerusakan pada saraf biasanya perlahan namun
progresif. Hipostesi atau anastesi biasanya terjadi
pada lengan, kaki, dan telapak tangan. Kelemahan
biasanya terjadi pada bagian distal dimulai dengan
otot-otot intrinsic tangan dan kaki.

Pada kulit akan muncul nodus


eritema, dan nyeri dengan tempat
predileksi di lengan dan tungkai. Bila
mengenai organ lain dapat
menimbulkan gejala seperti iridosiklitis,
neuritis akut, limfadenitis, artritis,
orkitis, dan nefritis yang akut dengan
adanya proteinuria.

MANIFESTASI KLINIS

Diagnosis reaksi tipe 2 ( ENL ) ditegakkan


berdasarkan atas gambaran klinik, dan dibantu
pemeriksaan fisis yang ditunjang oleh
pemeriksaan laboratorium, histologi dan
pemeriksaan hematologic khusus. Pada
pemeriksaan fisis dapat ditemukan
pembengkakan lunak saraf yang nyeri pada
palpasi. Nyeri tulang biasanya jelas pada tulang
tibia, dan sangat nyeri bila dipalpasi.

DIAGNOSIS

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

Pemeriksaan Histopatologik
Pada pemeriksaan histologi didapatkan lesi ENL
mengandung sejumlah besar polimorf dan
kebanyakan berbentuk fragmen dan granuler, ENL
dapat menunjukkan gambaran vaskulitis.
Pemeriksaan Hematologi
Pada
pemriksaan
ini
didapatkan
leukosit
PMN,trombositosis, peninggian LED, anemia
normositik normokrom, serta peninggian kadar
gammaglobulin (IgG,IgM).

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

Pemeriksaan bakteriologik
Sediaan dibuat dari apusan kulit atau kerokan
mukosa hidung yang diwarnai dengan pewarnaan
basil tahan asam, antara lain dengan Ziehl-Neelsen.
Bakterioskopik negatif pada seorang penderita,
bukan berarti orang tersebut tidak mengandung
basil M. Leprae.
Pemeriksaan Serologik
Pemeriksaan serologik kusta didasarkan atas
terbentuknya antibodi pada tubuh seseorang yang
terinfeksi oleh M.Leprae. Antibodi yang terbentuk
dapat bersifat spesifik terhadap M.Leprae, yaitu
antibodi anti phenolic glycolipid-1 (PGL-1) dan

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Macam-macam pemeriksaan serologik kusta ialah:
Uji ELISA (Enzyme Linked Immuno-Sorbent Assay)
Uji MLPA (Mycobacterium Leprae Particle
Aglutination)
ML dipstick (Mycobacterium Leprae dipstick)

PENGOBATAN
Pasien ENL yang baru penatalaksanaanya dapat
hanya dengan istirahat kemudian memberikan obat
penghilang nyeri seperti analgesik atau NSAID,
untuk meredakan rasa sakit dan peradangan
ASPIRIN

Dosis 400-600 mg 4 kali sehari dan diberikan


bersama makanan. Dosis diturunkan bila tanda dan
gejala sudah terkontrol.
KLOROKUIN
Dosis 3 x 150 mg sehari.

PENGOBATAN
ANTIMON
Dosis yang dianjurkan adalah 2-3 ml/hari IM selama
3-5 hariatau 2-3 ml IM selang sehari dengan dosis
total reaksi kusta tidak melebihi 30 ml.
THALIDOMIDE
Merupakan drug of choice ENL berat dan dapat
digunakan pada ENL yang kronik atau berulang
pada pria dan wanita yang sudah menopause, juga
untuk penderita yang resisten terhadap klofazamin.
Dosis awal diberikan 4 x 100 mg sehari, kemudian
diturunkan secara bertahap 100 mg setiap minggu

PENGOBATAN
KLOFAZIMIN (Lamprene)
Dosis pengobatan 100-300 mg sehari selama ENL,
kemudian diturunkan secara bertahap
KORTIKOSTEROID
Dosis prednison yang dibutuhkan 80-100 mg/hari
dan diturunkan dosis secara bertahap. Dosis
preparat prednisolon untuk reaksi tipe 2 intermitten
adalah 20-30 mg/hari selama satu minggu, dan di
tapper off menjadi 15-5 mg/hari pada minggu ke 23. Pada reaksi kontinu pengobatan prednisolon
diberikan selama 2-3 bulan

Komplikasi yang sering terjadi pada


pasien dengan reaksi kusta adalah cacat.
Infeksi pada saraf perifer adalah bagian penting
dari penyakit kusta, tetapi kerusakan permanen
saraf bukan merupakan suatu hal yang tidak
dapat dihindari yang diakibatkan oleh infeksi
tersebut. Menangani dengan cepat dan tepat
pada saat reaksi kusta dapat mencegah
kerusakan saraf-saraf secara permanen.

KOMPLIKASI

Eritema Nodosum Leprosum


ringan dapat menghilang segera
tetapi ENL berat dapat menetap
selama bertahun-tahun

PROGNOSIS