Anda di halaman 1dari 21

KEGAWATDARURATAN

MEDIS: STATUS
ASMATIKUS
Anesty Claresta
102011223

Skenario

Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun


dibawa ke UGD RS karena sesak nafas sejak
2 jam yang lalu. Pasien memiliki riwayat asma
sejak kecil. Menurut ibunya, sejak 2 minggu
yang lalu pasien memerlukan salbutamol
inhalasi setiap hari, terutama saat
berolahraga. Pasien juga mengalami batuk
yang berulang saat sedang tidur sebanyak 2x
seminggu, sehingga pasien tidak bisa tidur
dengan nyenyak

Triage

Triage adalah usaha pemilahan pasien


sebelum ditangani, berdasarkan tingkat
kegawatdaruratan trauma atau penyakit
dengan mempertimbangkan prioritas
penanganan dan sumber daya yang ada.

Triage

Pada pembagian triage, terdapat 3


golongan
E

(Emergency) : trauma berat, miokard infark,


obstruksi nafas, shock hipovolemik, luka
bakar dengan gangguan pernafasan, dll.
P (Priority) atau Urgent : trauma spinal, fraktur
terbuka, akut appendisitis, trauma kepala
tertutup, dll.
Q (Queue) atau Non Urgent : demam, batuk,
pilek, dll.

Sistem Prioritas
Triage
1)

1) Ancaman
jiwa yang
dapat
mematikan
dalam
hitungan
menit.

2)

2) Dapat
mati dalam
hitungan
jam.

3)

3) Trauma
ringan.

4)

4) Sudah
meninggal.

Initial Treatment

Kesadaran, TTV

Bila pasien mengalami :


Gangguan jalan nafas: tidak sadar, terdapat stridor,
bronkospasme, tertelan benda asing.
Gangguan bernafas: frekuensi nafas <10 atau >28
kali permenit, SpO2 <93%
Gangguan sirkulasi: frekuensi jantung <50 atau >120
kali permenit
Gangguan kesadaran: penurunan kesadaran,
Glasgow Coma Scale (GCS)<12,

maka ia berada dalam kondisi gawat darurat an


memerlukan tindakan medis untuk mengatasinya.

Initial Treatment

Anamnesis
menggali

gejala utama yang pasien rasakan


sebelum dan saat mengalami kondisi gawat
darurat.
Mencari faktor pencetus
Anamnesis tersebut harus dapat menentukan
apakah pasien tersebut termasuk dalam kasus
trauma/non-trauma, kasus bedah/non-bedah,
kasus keracunan obat/toksin

Initial Treatment

Primary Survey
Airway

(A)

Pemeriksaan

jalan nafas harus mengkaji apakah


pasien mengalami obstruksi jalan nafas, gangguan
proteksi jalan nafas, edema mukosa laring akibat
anafilaksis atau aspirasi benda asing
Triple maneuver : (1) chin lift atau mengangkat dagu,
(2) head tilt atau menengadahkan kepala, (3) jaw
thrust atau mendorong rahang ke depan.
Nasopharyngeal airway, Oropharyngeal airway,
Endotracheal Tube

Initial Treatment

Breathing (B)
Pemeriksaan pernafasan harus mengkaji apakah pasien
bernafas normal, jenis pernafasannya, apakah pasien
mengalami peningkatan kerja pernafasan (work of
breathing), hipoksia, ekspirasi memanjang, mengi.
Beri bantuan oksigen

Circulation (C)
Mengkaji apakah sirkulasi normal atau apakah pasien
mengalami pendarahan, syok, sepsis, atau terdapat
gangguan jantung.
Penilaian sirkulasi dapat dilakukan dengan menilai warna
kulit, suhu akral, waktu pengisian kapiler, perabaan nadi,
dan pemeriksaan jantung

Initial Treatment

Pemeriksaan Penunjang
Pulse

oksimetri
Analisis gas darah
Peak Expiratory Flow

Secondary Survey

Anamnesis

Pemeriksaan fisik

digali kembali keluhan utama pasien, onset,


perkembangan gejala, gejala penyerta, dan terapi yang
sudah didapat; riwayat mengalami gejala yang sama
sebelumnya; riwayat pengobatan dan alergi; riwayat
keluarga. P
untuk melihat apakah sudah ada perbaikan dari kondisi
pasien dan mencari kelainan atau penyakit yang diderita
pasien.
tanda-tanda vital yang pertama dilakukan menjadi
parameter beratnya kondisi pasien. Selanjutnya dilakukan
pemeriksaan tanda-tanda vital berkala dan
didokumentasikan.

Pemeriksaan penunjang

pemeriksaan sputum, pemeriksaan darah lengkap, dan


foto thorax.

WD : Status Asmaticus

Status asmatikus adalah suatu kondisi di


mana terjadi obstruksi jalan napas yang berat
dan gejala asma yang bertahan meskipun
telah diberikan pemberian terapi standar asma
akut.

Faktor pencetus

Infeksi virus saluran nafas : Influenza


Pajanan terhadap alergen : tungau, debu
rumah, bulu binatang
Pemajanan terhadap polusi udara : asap
rokok, minyak wangi
Kegiatan jasmani
Lingkungan : pengap, uap zat kimia
dll

Epidemiologi

Asma merupakan masalah kesehatan dunia, di mana


diperkirakan 300 juta orang diduga mengidap asma.
Di Indonesia: prevalensi asma belum diketahui secara
pasti, namun diperkirakan 2 5 % penduduk
Indonesia menderita asma.
Asma merupakan salah satu penyakit utama yang
menyebabkan pasien memerlukan perawatan, baik di
rumah sakit maupun dirumah.
Separuh dari semua kasus asma berkembang sejak
masa kanak-kanak, sedangkan sepertiganya pada
masa dewasa sebelum umur 40 tahun dapat dimulai
pada
segala usia, segala etnis, tidak dipengaruhi gender

Penatalaksanaan

Indikasi rawat di ruang rawat intensif.


Tidak ada respons sama sekali terhadap tata laksana
dan/atau perburukan asma yang cepat.
Adanya kegelisahan, nyeri kepala, dan tanda lain
ancaman henti napas, atau hilangnya kesadaran.
Tidak ada perbaikan dengan pengobatan baku di
ruang rawat inap.
Ancaman henti napas yang ditandai oleh hipoksemia
yang menetap walaupun sudah diberi oksigen (kadar
paO2 <60 mmHg dan/atau paCO2 >45 mmHg,
walaupun begitu gagal napas dapat terjadi pada
kadar paCO2 yang lebih tinggi atau lebih rendah).

Penatalaksanaan

Indikasi pemasangan ventilasi mekanik pada


serangan asma berat
Pulsus paradoksus yang cepat meningkat.
Penurunan pulsus paradoksus pada pasien yang
kelelahan.
Status mental yang memburuk (letargi atau agitasi).
Henti jantung.
Henti napas.
Asidosis laktat yang sulit dikoreksi.
Hipoksemia (paO2 <60 mmHg) yang tidak membaik
dengan pemberian oksigen 100%, paCO2 >60 mmHg
dan meningkat >5 mmHg/jam

Komplikasi

Asma sering dan lama emfisema perubahan


bentuk thorax,

Pada foto rontgen thorax terlihat diafragma letaknya


rendah, gambaran jantung menyempit, corakan hilus
kiri dan kanan bertambah.

Pada asma kronik dan berat dapat terjadi bentuk


dada burung dara (pectus carinatum/pigeon
chest).
Sekret banyak dan kental bronkus tersumbat
Atelektasis
Status asmatikus, bila tidak ditolong semestinya
dapat menyebabkan kematian, kegagalan
pernafasan, dan kegagalan jantung.

Kesimpulan

Status asmatikus adalah salah satu


kedaruratan medis yang sering terjadi pada
praktik sehari-hari. Status asmatikus
merupakan serangan asma yang terusmenerus dan berlangsung beberapa hari serta
berat dan tidak dapat diatasi dengan obatobatan. Gejala yang timbul bersifat akut dan
harus segera ditangani dengan cepat dan
tepat sebelum terjadi komplikasi yang lebih
lanjut.