Anda di halaman 1dari 47

BEDAH

Ilmu Bedah

: Ilmu kedokteran yang mempergunakan


cara mekanIs dan operativ untuk
penyembuhan penyakit-penyakit dan
kelainan maupun perlukaan.

Mempunyai beberapa Sub Spesialis :


1. Bedah Urologi
: saluran kencing untuk laki-laki
2. Bedah Orthopedi : tulang
3. Bedah Plastik & Rekonstruksi
4. Bedah Digestive
: saluran cerna
5. Bedah Thorax
: jantung dan paru
6. Bedah HNB
7. Bedah Vascular

Kelainan ilmu bedah :

Radang (Inflamasi)
Tumor (neoplasma)
Kelainan Kongenital

Yang sering mengakibatkan


acut biasanya :
Trauma
Radang

Pengertian Acut

Kamus Kedokteran :
Datangnya mendadak atau cepat jalannya/prosesnya (suatu penyakit)
Akut Abdomen ?
Yaitu suatu keadaan dimana diperlukan suatu tindakan segera pada
daerah perut.
Radang/Inflamasi
- Suatu reaksi setempat oleh karena trauma
- Bila disitu ada kuman yang berkembang biak disebut infeksi.
- Bila hanya menempel disebut kontaminasi

Ada 5 tanda radang :


Rubor
Calor
Dolor
Tumor
Fungsiolesa

: merah dilatasi
: panas metabolisme
: Sakit syaraf terangsang
: bengkak
: hilangnya fungsi

Trauma :
Mekanis pukulan/tusukan
Fisis air panas
Chemis Asam kuat, basa kuat

Akibat trauma terjadi :


Luka
Fracture, dll

Luka : terputusnya kontinuitas jaringan lunak


Keadaan terkena radang dan trauma, berakibat acut abdomen (perut)
Radang : seluruh organ dari mulut anus bisa terkena radang

Misalnya :

Radang pada gaster gastritis (kantong nasi)


Radang pada usus kecil : entritis
Radang pada usus besar : colitis
Dll

Paling sering di usus buntu/umbai cacing /appendix


vermiformis appendicitis
Pada vesica velea : - chalecystitis

Beberapa penyakit yang sering ditemui :


1.
2.
3.
4.
5.

Peritonitis umum
Appendicitis acut
Hernia
Ileus
Trauma

1.Peritonitis :
Umum
Local
Peritonitis umum : peradangan pada peritoneum (lapisan paling dalam pada
darah perut/pembungkus usus, dll)
Keadaan ini disebut acut abdomen harus segera di operasi untuk mencari
penyebab (ingat 4 macam kelainan bedah)

- Radang : atasi radangnya, nanah, dll


- Trauma : perdarahan hentikan perdarahannya, dst

2. Appendcitis Acut :

Sebab : sumbatan pada appendix vermivormis, terjadi reaksi


radang (5 tanda radang) darah arteri bisa masuk, vena tak bisa
keluar.
bengkak invasi kuman
radang, berakibat appendix membesar, pecah tindakan operasi segera
Kelainan ini merupakan : peritonitis local (kanan bawah)
3. Hernia
Turunnya/keluarnya organ intra abdomen, baik karena kelainan sejak lahir
atau didapatkan.
Disebut Hernia incarcerata bila disertai gangguan jalannya isi usus disebut
Hernia stangulata bila terjadi gangguan pembuluh darah usus.
dilakukan operasi segera
Alasan : membahayakan phisik pasien karena usus terjepit, jalan isi usus
terhambat Usus membesar sumbatan pembuluh darah dalam usus
pecah/sobek ususnya isi usus keluar radang/peritonitis.
Therapi laparatomi / operasi

4. Ileus : gangguan passage usus atau gangguan jalannya isi usus disebut
ileus abstruksi bila disebabkan mekanik, tumor usus, invaginasi, akibatnya
sama sumbatan pada hernia.
Operasi segera
5. Trauma baik tembus atau tumpul
-

Tembus, robek pada peritoneum operasi, bila hanya kulit, lemak


cukup dijahit.
Tumpul : terjadi kerusakan yang luas/memar usus robek operasi
atau memar pada ginjal, lien berdarah hentikan perdarahan dengan
operasi

6. Hipertropi prostate/HP/BPH pembesaran jaringan prostate


sehingga urine tak bisa keluar
TH : cateterisasi, sistostom
Kapan dioperasi :
- segera setelah diagnosa ditegakkan
- bila lebih lama, akan terjadi penyulit nanah pecah, dll
Penting : penerangan kepada pasien, contoh penerangan (kasus)
Fasilitas : semua tindakan di atas bisa dikerjakan di RSUD Budhi Asih

RADANG DAN INFEKSI


Radang/Inflamasi :
Merupakan reaksi setempat karena adanya trauma
Infeksi :
Bila luka yang kemasukan kuman dan kuman dapat berkembang biak disitu

Pengertian kontaminasi dan masa inkubasi


Kontaminasi :
Bila kuman hanya menempel pada luka dan belum berkembang biak.
Masa inkubasi :
Waktu antara mulainya terjadi kontaminasi sampai terjadinya infeksi.
Hubungan antara mekanisme pertahanan tubuh dan faktor terjadinya
infeksi.
Faktor yang penting untuk terjadinya infeksi adalah berhasilnya kuman
masuk ke dalam tubuh dan dapat menaklukan pertahanan alamiah tubuh,
sehingga berkembang biak dan menyebabkan penyakit

Perluasan infeksi
Bila mikroorganisme masuk ke dalam tubuh, maka secara alamiah
mekanisme pertahanan tubuh akan menurun.
Bila kuman menang terjadilah perluasan infeksi, bila seri maka
akan terjadi lokalisasi.
Bila terjadi perluasan dan lekosit mati maka akan mengerluakan
enzyme protiolitik atau yang umum disebut pus/ nanah.
Abses dan proses terjadinya cellulites
Abses adalah tumor yang berisi pus
Ciri-ciri : bila ditekan akan terjadi fluktuasi atau penekanan semua
arah.
Penatalaksanaan :
Insici dan pasang drain agar luka tidak tertutup dan memudahkan
keluarnya nanah.
Cellulitis adalah perluasan dari abses yang jumlahnya banyak dan
batasnya tidak tegas.

Gejala :

Deman
Anoreksia
Pusing
Menggigil s/d muntah
Sakit otot

Penatalaksanaan :
Kompres dingin agar luka terjadi lokalisasi
Bila dilakukan insici sebelum lokalisasi, bahayanya akan
menyebabkan terputusnya pembuluh darah, sehingga basil
masuk ke dalam, timbullah sepsis

Luka terputusnya kontinuitas jaringan lunak.


Pembagian luka : luka terbuka dan tertutup
Causa dan bentuk luka yang ditimbulkannya

Luka sayat (vulnus scissum)


Luka lecet (vulnus excoratinum)
Luka koyak (vulnus laceratum)
Luka tembak (vulnus sclopetrum)
Luka memar (vulnus contosio)
Luka benda runcing (vulnus puctum)
Luka karena pedang (vulnus seccum)

Luka terbuka yang terjadi pada batas 6 8 jam


dapat langsung di jahit / dioperasi.
luka yang melebihi 8 jam, tidak dapat langsung dijahit, karena
sudah infektiosum, maka terlebih dahulu dibuat luka baru, kemudian
dijahit.
Penatalaksanaan atau terapi secara umum pada infeksi sepsis
Kalau ada luka dirawat dengan baik
Luka di exisi dikeluarkan dibersihkan dan di desinfektan
Kalau luka agak lebar Diberi H2O2 untuk membersihkan dari
kuman
Luka di jahit
Kalau luka dalam (mengenai fascia, otot dan tulang)
Tindakan sama dengan yang diatas
Diberi suntikan ATS (Anti Tetanus Serum) sebanyak 1500 unit
Diberi antibiotika
Bagian luka di diistirahatkan
Beri vitamin
Minum banyak pasang infus k/p
Beri antipiretik dan analgesik, untuk mengurangi rasa nyeri / sakit

Jenis luka tindakan bedah (operasi)


Clean bersih ex. Pada Op kepala jantung
Clean contaminated bersih dengan kontaminasi ex.
Pada Op Hernia, APP
Kontaminated pada OP Laparatomi yang
didalamnya terdapat pus
Kotor ex. Tindakan OP yang didalamnya terdapat
pus, kotoran dll.
Pergantian verban (GV) tergantung jenis operasinya
Clean tidak perlu diganti verbannya sampai jahitan
dilepas
Clean contaminated diganti tiap hari
Contaminated diganti tiap 12 jam (2 x/hari)
Kotor (dirty) diganti tiap 8 jam (3 x/hari)

Jahitan boleh dibuka bila sudah terbentuk fibroblasi (5 10 hari)


Ex. Kepala (mata) 5 hari boleh dibuka (karena vascularisasi baik)
Pada kaki / telapak kaki hari ke 10 - 11
Pada kuku hari ke 10 /2 minggu

Vascularisasi kurang baik

Persiapan sebelum operasi


Mempersiapkan mental os
Menangani gangguan yang mempunyai resiko pembedahan
Tanda persetujuan secara tertulis (S.I.O)
Catatan sebelum pembedahan indikasi operasi
Pesan-pesan sebelum Op/Pembedahan:
Cukup area OP
Puasa 8 12 jam sebelum tindakan Op katarak
Pengurasan isi perut tergantung indikasi atau instruksi
Pasang infus
Laboratorium / rontgen
Transfusi darah bila ada indikasi dll

Perawatan setelah OP (Pesan sesudah OP)


Jenis OP ?
Tanda-tanda vital dicatat setiap 15 menit hingga
stabil dari ruang OP sampai ke ruangan.
Aktivitas dan posisi pasien sesuai jenis operasi
Diit bisa diberikan bila fungsi pencernaan sudah
mulai berfungsi ex. Bisa flatus, bising usus (+)
Saluran air kemih ahli bedah diberitahu bila os tidak
B.A.K pada waktu tertentu. Yang paling baik 6 jam
sesudah Op dapat B.A.K.
Intake dan output monitor selama 8 jam s/d 24 jam
sesudah pembedahan.
Pengobatan tergantung instruksi
tindakan tambahan bila kesakitan diberikan
sistim relaxasi
GV sesuai jenis OP

PERSIAPAN PASIEN OPERASI


BERENCANA DI RUANGAN
PERSIAPAN UMUM

Surat ijin operasi / persetujuan dari keluarga dan pasien.


Sudah didaftarkan pada administrasi OK untuk penjadwalan
waktu operasi
Sudah menyelesaikan administrasi dan uang muka rumah sakit.
Puasa sebelum jadwal operasi.

Bayi < 11 bulan


Balita < 5 tahun
Anak
Dewasa

: 2 jam
: 4 jam
: 6 jam
: 8 jam

Tidak sedang menstruasi


Dilakukan kebersihan perorangan pada hari operasi
(mandi, gosok gigi)
Mencukur daerah yang akan dioperasi
Pada wanita tidak boleh memakai make up,
perhiasan dan cat kuku.
Pakaian pasien diganti dengan baju operasi dan
dikenakan tutup kepala.
Infuse dipasang untuk operasi besar (seperti :
laparatomi, appendiktomi, dll) dengan menggunakan
kanulasi venvlon terbesar yang dapat dilakukan.
Seluruh keperluan dikamar operasi disertakan
(dokumen, obat-obatan, darah).
Pasien diantar oleh pengawal/bidan dengan segala
kelengkapannya ke OK dan diserah terimakan
kepada petugas jaga OK.
Gigi palsu, kaca mata ditinggal diruangan.

PERSIAPAN PASIEN LAPARATOMI


Berikan garam Inggris 2 x (pagi dan sore) sehari
sebelum hari operasi
Klisma pada malam sebelum operasi dan pagi pada
hari operasi
Pasang kateter urin dan pipa lambung
PERSIAPAN PASIEN TONSILEKTOM
Sikat gigi dan kumur betadin (sore dan pagi)
PERSIAPAN PASIEN HEMOROIDEKTROMI
Pemberian garam Inggris pagi dan sore sehari
sebelum operasi
Klisma malam hari sebelum operasi dan pagi hari
operasi.

PERSIAPAN PASIEN OPERASI KATARAK


Bersihkan muka.
Cukur bulu mata yang akan dioperasi.
2 jam sebelum jadwal operasi pada mata yang akan
dioperasi diteteskan obat Madriasil 1 % dan Eprisel 10%
sebanyak satu tetes dengan selang waktu 5 menit sampai
pupil mata melebar.
Berikan salep mata antibiotik pada mata yang akan
dioperasi.
Kemudian mata ditutup dengan kasa steril
PERSIAPAN PASIEN SECTIO
Cukur daerah OP dari perut sampai pubis
Cuci kembali dengan sabun sampai bersih daerah perut dan
vagina
Dipasang Kateter dan Urine Bag.
PERSIAPAN PASIEN VARISES (STRIPING)
Cukur bulu kaki sampai inguinalis dan pubis pada sisi kaki
yang direncanakan tindakan.
Cuci kembali dengan sabun daerah yang sudah dicukur.

PROSEDUR BAKU PELAYANAN


RAWAT INTENSIF
1.

PROSEDUR MASUK RAWAT :


Indikasi terpenuhi dan fasilitas tersedia
Dikirim oleh dokter ahli / spesialis
Diketahui oleh Kepala / dokter jaga ICU
Pasien telah dilengkapi dengan diagnosa dan instruksi
penatalaksanaan secara lengkap dan tertulis oleh dokter ahli
pengirim
Pasien sudah memenuhi syarat administrasi / keuangan RS
Pasien diantar oleh perawat ke ICU, jika sudah ada
pemberitahuan bahwa ICU telah siap
Pasien masuk ICU lengkap dengan dokumen dan spesimen.

2. TANGGUNG JAWAB:
a. Dokter ahli pengirim :
Bertanggung jawab penuh atas penatalaksanaan dan pemberian terapi
pasiennya
Melakukan pemeriksaan, tindakan medik dan memberikan instruksi harian
secara tertulis
Dapat memberikan instruksi khusus pada keadaan darurat secara lisan
dan selanjutnya disusul dengan tertulis
Bila dianggap perlu dapat melakukan konsultasi tertulis dengan disiplin
lain
Melengkapi dan menyelesaikan rekam medik pasin.
b. Dokter ICU :
Bertanggung jawab atas pelaksanaan pelayanan di ICU
Mengatasi keadaan darurat dengan ancaman kehidupan atau perburukan
keadaan
Memberikan layanan bantuan hidup dasar sampai lanjutan
Mengkoordinasikan hasil konsultasi dari berbagai disiplin yang terkait
Mengawasi pelaksanaan instruksi yang diberikan oleh para dokter ahli
Memantau pelaksanaan Asuhan Keperawatan Khusus Intensif.

3. PROSEDUR PINDAH RAWAT:


Indikasi medis terpenuhi, ditentukan oleh
dokter ahli pengirim dan atau dokter ICU
Rekam Medik telah dilengkapi oleh dokter ahli
pengirim
Administrasi keuangan telah diselesaikan
Pasien dipindahkan setelah ada
pemberitahuan dari ICU bahwa pasien telah
siap
Pasien dipindahkan lengkap dengan dokumen
dan spesimen.

TRAUMATOLOGY
Trauma bisa disebabkan oleh karena sebab-sebab :
a. Mekanis

b. Fisis
c. Chemis

: misalnya terpukul, sinar rontgent,


sinar matahari dll.

: misalnya, asam kuat, basa kuat dan


garam
Akibat-akibat terjadinya trauma :
Trauma mekanis : trauma mekanis bisa menyebabkan
kelainan-kelainan seperti:

luka (vulnus)

fracture

luxatio

Luka:
Luka merupakan kelainan pada permukaan badan (biasanya).
Kelainan ini berupa terputusnya kontinuitas jaringan lunak. Oleh karena
pada permukaan badan terdapat bermacam-macam alat, misalnya,
arteria/pembuluh darah, vena, urat syaraf, maka akan terjadi komplikasikomplikasi.
Misalnya jika arteri terputus akan terjadi perdarahan. Perdarahan
sendiri ada bermacam-macam:
perdarahan arterial : alirannya berdenyut, sebentar lemah
sebentar kuat, melemah lagi dan seterusnya.
Perdarahan vena
: alirannya kontinue.
Perdarahan kapiler : tampak titik-titik perdarahan pada
permukaan luka

Jika syaraf yang terkena, maka sukar jika hanya dilihat. Tetapi
dengan mengerjakan test fungsi, maka dapat diketahui syaraf mana
yang terkena. Misalnya dengan menyuruh penderita menggerakkan
bagian badan di sebelah distal dari luka.
Tendonpun dapat terkena juga. Akibatnya fungsi sebagian distal
dapat terganggu, tidak dapat dipergunakan sebagaimana mestinya
Pembagian luka :
Luka dapat dibagi menjadi luka terbuka dan luka tertutup.
Dikatakan terbuka jika : luka itu menyebabkan berier badan
terbuka sama sekali. Sebenarnya hampir semua luka, merupakan
tipe ini. Luka tertutup, misalnya luka oleh karena benda tumpul.
Luka dapat juga dibagi menjadi :
Luka yang dapat dilihat (obvious). Misalnya luka di daerah muka
dll.
Luka yang tidak jelas terlihat atau tersembunyi. Di sebut juga
luka yang concealed. Luka ini tertutup rambut, misalnya

Pembagian yang lain :

Luka Dalam : luka yang mengenai tulang, masuk ruang perut,


ruang dada, dll.
Luka dangkal : luka yang hanya mengenai epidermis saja, misalnya
lecet-lecet dll.

Dengan melihat causa dan bentuk luka yang ditimbulkannya, maka


dikenal:

Luka sayat, (vulnus scissum)


Penyebabnya benda tajam. Bentuk luka bagus, pinggirnya tajam.
Luka lecet, (vulnus exceriativum)
Penyebabnya ada benda-benda yang permukaannya tidak rata
misalnya aspal jalanan. Sifat lukanya dangkal saja. Yang terkena
biasanya lutut, siku, dll. Epidermis hilang, ada perdarahan kapiler.
Luka semacam ini jika tidak ada infeksi, sembuhnya cepat.
Prinsip terjadinya luka semacam ini sering dipergunakan untuk
menghilangkan kelainan, pada bagian badan kita yang terexpose.
Pengerjaan ini disebut dermaberasi. Alatnya disebut dermaberader.
Jika dilakukan dengan steril, maka luka yang terjadi akan sembuh
dengan cepat, dan baik, serta meninggalkan bekas yang bagus

Luka memar (v. contusio = contusi)


Penyebabnya adalah benda tumpul. Contusi merupakan luka tertutup. Oleh
karena barier badan tetap utuh. Yang rusak adalah bagian subcutan, bagian
yang lebih dalam, sesuai dengan kekuatan tumbukan.
Tumbukan ini dapat menyebabkan vasa darah subcutan pecah. Jika hanya
mengenai kapiler saja tidak berbahaya jika yang terkena pembuluh darah
yang besar, akan terjadi penimbunan darah dibawah kulit (hematoma).
Pembuluh limfe juga dapat pecah, sehingga akan menyebabkan terjadinya
oedema. Misalnya pada pertandingan tinju, mukanya akan tampak bengkak
(bengep).
Penting diperhatikan adalah, dengan tertimbunnya darah, timbunan itu
dapat menekan pembuluh darah yang lain. Sehingga akan mengganggu
supply darah ke suatu organ. Akibatnya akan terjadi nekrosis.
Contusio yang hebat dapat membahayakan terutama jika mengenai daerah
thoracoabdominalis. Oleh karena disitu terdapat organ yang penting,
misalnya: hepar, jantung, lien, usus, dll. Bisa menyebabkan
kerusakan/perforasi alat-alat, misalnya vasien urinaria. Lien dapat langsung
pecah.

Luka koyak. (v. laceratum = lecerum)

Penyebabnya adalah gigi yang tajam, misalnya gigi harimau, buaya, dan
gigimu. Dapat menimbulkan kerusakan yang hebat. Pinggiran luka tidak
teratur.
Luka ini merupakan jenis luka yang paling jelek. Mudah terjadi infeksi.
Luka tembakan. (v. slepetrum).
Luka oleh karena peluru dapat kuat sekali, sehingga menembus. Selama
peluru melalui tubuh kita, dapat mengenai pembuluh daerah yang besar,
sehingga dapat langsung mati. Atau jika mengenai syaraf, dapat
menyebabkan kelumpuhan. Bila m engenai tulang, tulang dapat pecah,
sehingga mengakibatkan kelainan seperti halnya jika kena peluru
langsung.
Luka karena peluru dipintu masuk lebih kecil daripada dipintu keluar.
Pada pintu masuk, biasanya sisa mesiu. Ada bagian-bagian yang
terbakar ditepian luka. Sisa-sia peluru yang ikut terbawa masuk berlaku
sebagai corpus alenum.

Luka oleh karena benda runcing (v. punctum)


Luka ini misalnya oleh karena tusukan sangkur senapan yang runcing.
Ataupun luka suntikan
Luka karena pedang (v. seccum)

Kecuali pembagian luka seperti diatas, ada pembagian secara klinis


yang penting untuk diketahui oleh dokter
a. Pembagian menurut lamanya terjadinya luka
Luka yang terjadi pada batas-batas 6 8 jam, dapat
dioperasi/dijahit. Pada batas waktu ini, luka baru mengalami
kontaminasi saja, belum ada gejala infeksi.
Luka yang terjadi sudah melebihi 8 jam, tidak dapat dilakukan
operatif. Karena sudah merupakan luka yang infectiosum

b. Luka yang bersih (clean wound)

Biasanya merupakan luka yang sengaja dibuat dikamar operasi. Operasi


ini merupakan tindakan yang sifatnya electif dan direncanakan.
Karena persiapan anepsia diperhatikan benar-benar, maka akan
meninggalkan bekas yang bagus. Luka akan sembuh primer. Oleh
karena, setelah operasi selesai, luka irisan itu kemudian ditutup dengan
dijahit, sehingga pinggirnya akan menyatu dengan baik. Umumnya luka
akan sembuh tanpa mengalami komplikasi infeksi fistula atau abscess.
Luka pada perut, dapat sampai 8 10 hari, jahitan dipertahankan.
Umumnya sampai hari ke VII, jahitan sudah diangkat. Pada muka,
pembukaan jahitan, sekitar 4 5 hari. Jadi lebih cepat. Sebab jika
dipertahankan terlalu lama, akan menimbulkan bekas jahitan yang
kelihatan (suture mark). Kesembuhan luka di daerah muka lebih cepat
oleh karena vascularisasinya lebih banyak.

c. Luka yang contaminated


Misalnya pada luka laceratum. Pinggirnya yang irregular dan
berlubang-lubang harus diperbaiki dahulu, dengan excise. Luka
dibersihkan, disekitarnya di desinfectans. Kemudian ditutup steril.
Bisa disuntik lokal anasthesi, untuk mengurangi rasa sakit

LUKA BAKAR
Pendahuluan
Luka bakar biasanya disebabkan oleh trauma termis, tetapi gambaran seperti
ini dapat pula disebabkan oleh trauma listrik, kimia dan radiasi. Gambaran luka
bakar bergantung pada kedalaman jaringan yang rusak dan dinyatakan dengan
derajat (grade) yang dapat dibagi menjadi :
Derajat I

: yang rusak hanya epidermis, kulit tampak kering, tidak bergelembung,


terasa sakit, karena ujung syaraf terganggu dan akan tampak kulit baru
dalam waktu 5 10 hari.
Derajat II : yang rusak adalah epidermis dan sebagian dermis, tampak
bergelembung, hiperemis bila kulit gelembung mengelupas, atau agak
pucat bila jaringan dermis rusak lebih dalam, kulit terasa sakit karena
ujung syaraf yang tidak mati terangsang. Penyembuhan bergantung
pada papiladermal yang tersisa, bila superficial membutuhkan 10-14
hari dan yang lebih dalam 1 bulan atau lebih.
Derajat III : yang rusak ialah seluruh epidermis dan dermis atau dengan lapisan
yang ada di bawahnya, tidak tampak gelembung. Bila epidermis yang
masih ada dilepas, akan tampak jaringan berwarna putih/pucat, tidak
sakit. Beberapa hari kemudian kulit mati tersebut mongering (Eschar)
dan mulai lepas dari dasarnya pada hari ke-10-14 yang kemudian
meninggalkan jaringan granulasi.

Luas luka bakar dinyatakan dengan persen, yaitu berapa bagian dari
seluruh permukaan tubuh yang terbakar tersebut. Untuk memudahkan
perhitungan digunakan pembagian yang merupakan kelipatan sembilan yang
disebut rule of nines, yaitu : kepala dan leher, lengan dan tangan masing-masing
9%, badan sebelah atas depan belakang, badan sebelah bawah depan
belakang, paha, betis dan kaki masing-masing 18% sisanya 1% untuk genitalia
eksterma.
Untuk memudahkan perhitungan pada bayi dan anak, dipakai rule of fives:

Kepala
Lengan kanan dan kiri
Badan depan dan belakang
Kaki kanan dan kiri

Bayi

Anak

4 x 5%
2 x 5%
4 x 5%
2 x 5%

3 x 5%
2 x 5%
3 x 5%
3 x 5%

Tetapi ada juga yang melakukan penghitungan dengan menggunakan


luas tapak tangan yaitu: luas tapak tangan 1% luas permukaan tubuh; ini
dipakai untuk luka bakar yang tidak luas. Perlu sekali lagi ditekankan bahwa
hal ini merupakan perkiraan, bukan hal yang pasti

Pertolongan Pertama dan Transport Penderita Luka Bakar


Pertama-tama penderita harus dijauhkan dari sumber trauma. Penderita
yang terbakar tidak diperbolehkan berdiri atau berlari, karena api akan
bertambah besar. Api dipadamkan dengan jalan:

Menyiram air
Menutup dengan kain basah, selimut, handuk
Penderita digelindingkan perlahan-lahan
Bila penyebab trauma tersebuet bahan kimia, sebaiknya dibilas dengan air
mengalir, jangan diberikan antinya karena memerlukan waktu lebih banyak
dan juga akan timbul reaksi panas yang akan menyebabkan trauma
tambahan. Pada trauma listrik pemutusan arus listrik harus juga diperhatikan
kemungkinan terjadinya trauma pada si penolong. Akibat listrik dapat terjadi:
apnea, fibrilasiventrikel atau asistole. Pada keadaan ini setelah dilakukan
resusitasi kardiopulmoner perlu dilakukan bikarbonas natrikus untuk
mengatasi segera keadaan asidosis yang terjadi karena keadaan di atas.
Bilasan air dingin dapat mengurangi rasa sakit, tetapi hati-hati pada luka
bakar lebih dari 15% karena mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu
sehingga suhu tubuh akan turun dan kemudian dapat terjadi fibrilasi
ventrikel. Untuk mencegah kontaminasi, tubuh segera ditutup kain bersih.

Keracunan CO2 terjadi karena penderita terbakar dalam ruang


tertutup, menunjukkan gejala-gejala sakit kepala, pusing dan muntahmuntah, pemberian O2 murni akan mengobati keadaan ini.
Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menjadi dasar tindakan
selanjutnya:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Luas luka bakar


Kedalaman luka bakar
Umur penderita
Penyebab luka bakar
Fraktur dan akibat trauma lain yang menyertai
Penyakit yang bersamaan seperti diabetes mellitus
Apakah udara panas terhisap masuk jalan napas dan
adanya
keracunan CO2

Setelah penentuan diatas, maka luka bakar dapat dibagi menjadi:


1. Luka bakar berat (kritis):

Luka bakar derajat II lebih dari 25%


Luka bakar derajat III pada muka, tangan dan kaki atau lebih dari 10%
Luka bakar yang disertai trauma jalan napas, trauma luas jaringan lunak
dan fraktur
Luka bakar karena listrik

2. Luka bakar sedang:

Luka bakar derajat II : 15-25%


Luka bakar derajat III kurang dari 10% kecuali lengan, muka dan kaki

3. Luka bakar ringan:

Luka bakar derajat II kurang dari 15%


Luka bakar derajat III kurang dari 2%

Setelah penderita dijauhkan dari sumber trauma maka dapat dilakukan


hal-hal seperti berikut:

1.
2.
3.
4.
5.

6.

Mengurangi rasa sakit


Menjaga jalan napas
Mencegah infeksi
Mencegah shock (renjatan)
Luka bakar yang luas dapat menyebabkan renjatan, penderita
dengan luka bakar stadium II/III, 40% luas permukaan tubuh
dalam waktu 4 jam sesudah kejadian akan jatuh dalam keadaan
renjatan. Dalam keadaan ini pemberian minum akan
memberikan bahaya keracunan air atau cairan sendiri tidak
diserap karena fungsi usus yang tidak baik, menyebabkan perut
kembung dan mengganggu pernapasan.
Pengangkutan penderita

Pertolongan di Rumah Sakit


Pertolongan di unit darurat rumah sakit
Pada saat masuk dilakukan penilaian keadaan penderita, penggolongan
luka bakar menurut beratnya akan diperiksa pula apakah ada penyakit lain
yang menyertai. Penderita yang perlu dirawat ialah :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Luka bakar derajat II lebih dari 15%


Pada muka, tangan dan kaki perineum
Luka bakar derajat III lebih dari 2%
Disertai komplikasi lain
Pada anak derajat II 10% atau setiap derajat III
Karena listrik tegangan tinggi
Dengan trauma inhalasi

Penderita dirawat
Tindakan selanjutnya pada penderita dirawat ialah :
1.
2.

Mengusahakan agar pernapasan berfungsi baik.


Dipasang infus, yang terbaik di daerah lengan, tidak pada
daerah yang terbakar. Cairan yang diberikan menurut salah
satu formula dan hanya merupakan perkiraan. Cairan yang
biasa dipakai di bagian Ilmu Bedah Rumah Sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo ialah formula Baxter. Jumlah cairan Ringer
laktat yang diberikan pada 24 jam pertama sesudah trauma
ialah: % luas luka bakar dikali berat badan dalam kg dikali 4 ml.
Pada 8 jam pertama diberikan setengahnya, sisanya dalam 16
jam berikutnya. Jumlah cairan yang diberikan ditambah atau
dikurangi disesuaikan dengan produksi urin, sirkulasi perifer
dan kesadaran. Urin yang diharapkan ialah 0,5-1 ml/kg/jam.
Pengukuran tekanan vena sentral (CVP) dilakukan sejak
permulaan bila penderita sangat muda, sangat tua atau pernah
mengalami renjatan sebelumnya.

Pada luka bakar kurang dari 20% dan bukan karena listrik, masalah cairan
dan elektrolit dapat diatasi dengan pemberian lewat oral; hanya pada
mereka yang terdapat gangguan lewat oral harus diberi infus.
Pada luka bakar seluas 20-30% pemberian cairan dan elektrolit dapat
diberikan melalui oral maupun infus sendiri-sendiri atau bersama-sama
kecuali luka bakar karena listrik, karena bagian tubuh yang terbakar lebih
luas/banyak daripada yang terlihat pada kulit yang tampak terbakar. Untuk
luka bakar lebih dari 40% pemberian lewat oral biasanya tidak mungkin.
Untuk golongan ini terapi cairan dan elektrolit besar pengaruhnya pada
kemungkinan hidup. Tujuan utama pemberian cairan dan elektrolit ini ialah
untuk mencapai perbaikan curah jantung (cardiac output) dengan
memperbaiki kekurangan cairan pada plasma yang bersirkulasi dan di
tempat ekstravaskular ekstrasel.
3.

4.

5.

Pencegahan tetanus. Pemberian obat toksoid sudah mencukupi untuk


mereka yang sebelumnya memperoleh imunisasi. Pad aluka bakar
berat diberikan juga ATS (anti-tetanus serum).
Analgetik, perlu diberikan. Hati-hati pemberian narkotik intramuscular
pada sirkulasi yang tidak baik karena akan terjadi penimbunan. Bila
diperlukan dapat diberikan morfin intravena, 10 mg untuk dewasa atau
1 mg untuk per tahun umur anak.
Pemberian antibiotik. Pada hari-hari pertama diberikan antibiotik
terhadap gram positif. Antibiotik dengan spektrum luas hanya diberikan
dengan indikasi tegas.

6.
7.

8.
9.
10.

Pipa nasogastrik dipasang untuk mencegah muntah dan aspirasi.


Pemeriksaan laboratorik: Haemoglobin (Hb), Hematokrit (Ht), analisis
urin, Na, K, glukosa, BUN, klorida dan analisis gas darah.
Foto toraks: pada kecurigaan gangguan jalan napas. Bila diperlukan
dipasang pembantu pernapasan.
Perawatan luka: dimulai dengan membuka baju, membersihkan luka,
debridement jaringan lepas. Luka dicuci dengan antiseptic (selanjutnya
lihat : hal-hal yang perlu diperhatikan pada luka bakar).
Nutrisi: kehilangan berat badan merupakan masalah sehingga
pemberian makanan perlu diperhatikan (selanjutnya lihat : Nutrisi).

Pengawasan keadaan penderita


Pengawasan terhadap keadaan klinis dan laboratorik tertentu sangatlah
diperlukan. Kesadaran yang baik, aliran di kapiler perifer yang mencukupi,
denyut nadi dengan pengisian yang baik sebagai tanda pengobatan yang
berhasil baik. Frekuensi denyut nadi tiap menit pada penderita luka bakar
selalu lebih tinggi.

Keadaan yang memerlukan cairan dan elektrolit lebih banyak


Pada keadaan penderita dan luka bakar tertentu, cairan yang diperlukan
untuk resusitasi lebih besar dari pada yang diperkirakan, yaitu pada:

1.
2.
3.
4.

Trauma inhalasi
Trauma listrik dan mekanik
Terapi yang terlambat
Anak di bawah 5 tahun

Hal yang perlu mendapat perhatian


a.

b.

Anak yang kurang dari 2 tahun akan mudah masuk dalam keadaan
asidosis karena kemampuan buffer yang kurang; penderita ini juga
mudah jatuh dalam keadaan hipotermia dan hipoglikemia
Penderita yang sangat tua biasanya menderita aterosklerosis sehingga
aliran darah di miokard sangat berkurang

Pemberian lain dalam cairan infus

Jumlah air yang diberikan sesudah 48 jam pertama adalah untuk mengganti
cairan yang keluar melalui urin, pipa lambung dan penguapan. Besarnya
penguapan = luas permukaan tubuh dalam m2 x (25 + % luka bakar).
Kalium diberikan sesudah 48 jam pertama, 120 mEq/hari, intravena dan tiap
liter cairan maksimum mengandung 40 mEq. Kebutuhan akan magnesium
(Mg) cukup dipenuhi oleh cairan yang mengandung magnesium waktu
pemberian Ringer laktat. Pemberian zinc (Zn) masih diragukan kegunaanya.
Pemberian kalori dalam bentuk 60 gram glukosa ditambah 10 gram asam
amino tiap hari /m2 permukaan tubuh segera sesudah luka bakar akan
menghemat penggunaan nitrogen dan memelihara fungsi hati, jantung dan
ginjal.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada Perawatan Luka Bakar
Perbedaan luka bakar dengan luka lain:
Pada luka bakar terdapat keadaan yang berbeda dari luka lain karena
biasanya:

1.
2.
3.
4.
5.

Ditempati oleh kuman dengan patogenitas tinggi


Mengandung banyak jaringan mati
Mengeluarkan banyak air, serum dan darah
Terbuka untuk waktu lama sehingga lebih memungkinkan terinfeksi
dan memperoleh trauma
Memerlukan jaringan untuk menutupnya.

Jenis perawatan
Perawatan luka dapat dikerjakan dengan balutan atau secara terbuka.
Balutan diperlukan pada keadaan seperti berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pada bayi dan anak atau pada dewasa yang tidak kooperatif
Luka bakar dalam yang disiapkan untuk skin grafting
Melindungi luka terhadap pengaruh sekitarnya (misal: berobat jalan,
akan dipindahkan)
Mengurangi kontraktur pada sendi.
Menciptakan keadaan yang baik untuk penyembuhan luka
Menghemat keluarnya panas dengan mengurangi penguapan

Balutan tidak dikerjakan pada:

Muka

Leher

Perineum

Penutupan luka selain balutan biasa juga dapat dipakai balutan biologic yang
mempunyai beberapa kelebihan.

Penggunaan pembalut biologic memungkinkan luka bakar dalam lebih


cepat untuk skin grafting (ditempelkan setelah debridement tetapi
masih ada sisa jaringan mati).

Melindungi luka granulsai

Mengurangi jaringan yang luka sesudah eksisi jaringan mati

Mengurangi penguapan dan eksudasi protein

Lebih menyenangkan

Mengurangi sakit
Bahan ini dapat berupa homograft atau heterograft.

Pemakaian obat antibakteri setempat


Segera setelah terjadi trauma, luka bakar masih steril, beberapa jam kemudian
ada koloni gram (+) dipermukaan yang berasal dari folikel rambut, pada hari ke5 koloni terutama kuman gram (-). Kematian jaringan bukan hanya oleh trauma
tetapi oleh kuman yang menginvasi pembuluh darah dan pengeringan luka yang
terbuka, sehingga luka bakar derajat II berubah menjadi derajat III.
Dasar pemakaian:

Obat ini tidak mensterilkan luka, tetapi hanya mengurangi jumlah


kuman sehingga masih dapat diatasi oleh daya tahan tubuh.

Pemakaian ini hanya suatu usaha bantuan untuk waktu terbatas


sehingga bila dalam waktu 28 hari tidak dipergunakan, maka akan
terjadi sepsis.
Obat yang biasa dipakai:

Nitras argenti 0,5%; obat ini mempunyai sifat bakteriostatik untuk


semua kuman, hanya sedikit diabsorpsi, tidak memberikan sensitivitas
dan mengurangi penguapan. Selain ini juga menyebabkan warna
hitam, hipokloremia, penggantian pembalut 2x sehari dan dibasahi tiap
2 jam. Penderita dengan pengobatan nitras argenti memerlukan
tambahan NaCl 30 40 gram, K 40-120 mEq, Ca 4-8 gram tiap hari.

2.

3.

Silver sulfadiazine krem 1% dalam air; obat ini mulai dipakai oleh Fox
(1968) dan mempunyai sifat bakteriostatik terhadap semua spektrum,
tidak mengotori luka ataupun kain-kain, tidak diserap, mempunyai daya
tembus lebih dari nitras argenti, tidak memberikan rasa sakit, dipakai 2
x sehari tanpa pembalut.
Gentamicin, berbentuk salep atau krem 0,1%. Dalam bentuk krem
lebih cepat diserap sehingga jangan dipakai dengan balutan.
Pemakaian lokal obat ini menyebabkan kuman cepat resisten.

Nutrisi
Pemberian makanan dan kehilangan berat badan merupakan masalah pada
penderita luka bakar luas. Untuk mencapai keadaan ekuilibrium sampai hari ke10 pada luka bakar 30-60% diperlukan 2.000-2.200 kalori dan 15 g protein untuk
1 m2 luas tubuh. Menurut Artz (1968) kalori yang dibutuhkan 7.000 kal pada
luka bakar luas. Jumlah kalori yang banyak akan sulit dipenuhi karena penderita
biasanya sulit makan. Melalui tabung dapat diberikan makanan cair 2.500-3.000
kal yang tidak lepas dari kemungkinan menimbulkan diare penderita.
Pemberian makanan Parenteral dikerjakan sebagai tambahan pemberian
makanan lewat mulut. Sebagai sumber kalori dan protein hewani yang relatif
lebih murah dapat berupa telur, 1 telur mengandung 70 kal dan 6 g protein untuk
memenuhi kebutuhan dapat dipergunakan 30 butir telur. Keberatan terhadap
pemakaian telur ialah tingginya kolesterol dan rasa yang tidak enak.

Pengobatan dan tindakan untuk luka bakar ringan (berobat jalan)


Mengurangi rasa sakit dengan analgetik atau mendinginkan
dengan kain basah dingin tetapi bukan air es.
Bersihkan dan cuci dengan desinfektans yang berdetergen.
Bila gelemb ung pecah lakukan debridement, bula ukuran kurang
dari 6 cm dibiarkan, buila lebih besar dilakukan aspirasi atau
debridement, pembalut dibuka 3-5 hari kemudian.
Luka dibalut dengan kain berminyak dan pembalut cukup tebal
untuk memungkinkan menyerap cairan
Kemoterapi setempat tidak diperlukan bila lebih kecil dari 2%
Antibiotik biasanya tidak diperlukan
Anti tetanus.

Anda mungkin juga menyukai