Anda di halaman 1dari 46

DEMAM TIFOID

Disusun oleh:
Selvia Helena Utami, S.Ked
NPM: 1102010265

PEMBIMBING
dr. H. Budi Risjadi, Sp.A

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD SOREANH
NOVEMBER 2014

Pendahuluan

Infeksi sistemik kuman Salmonella


Bersifat akut
Penyakit endemis di Indonesia
75% kasus berumur > 5 tahun
Gejala klinis anak lebih ringan dari pada
dewasa

Definisi
Demam tipoid ialah suatu penyakit infeksi
sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh
Salmonella typhi. Merupakan infeksi akut
pada usus halus (terutama pada illeocaecal)
dengan gejala demam satu minggu atau lebih
disertai gangguan pada saluran pencernaan
dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran

Etiologi
Salmonella typhi
Gram (-),capsul (-),flagel (+)
Manusia Natural reservoir
Bakteri Salmonella thypi mempunyai 3 macam antigen yaitu :
Antigen O
Antigen H

Antigen Vi

: Somatic
: Flagela
: Kapsul

(badan di dalam kapsul)


(alat gerak)
(bagian terluar setelah badan)

Terjadinya penularan Salmonella typhi sebagian besar melalui minuman/makanan yang


tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa kuman, biasanya
keluar bersama sama dengan tinja (melalui rute fekal - oral)

FOOD

FESES

FLUID

Faktor
Resiko

FLIES

FINGER

Epidemiologi
5 faktor penting penyebaran demam tifoid :
1. Urbanisasi
2. Kepadatan penduduk
3. Sumber air bersih yg tidak memadai
4. Sanitasi yang buruk
5. Standar higiene industri pengolahan makanan yang
masih rendah

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perjalanan


Penyakit Infeksi Salmonela
Barier pejamu
Lokal : pH, motilitas TGI, flora usus
Umum : imunitas humoral & selular
Organisme
Jumlah bakteri
Virulensi (serotipe)
Resistensi terhadap antibiotik

Patogenesis (1)

Lewat esofagus masuk


ke dalam lambung

Bakteriemi I Asimptomatik
(1 - 7 hari)

Sebagian dimusnahkan asam lambung (pH < 2),


Sisanya yg hidup msk ke dlm usus halus
Melalui mulut dari makanan / air yg
tercemar Salmonella typhi
(106 109)
Melekat pd epitel mukosa usus halus,
menginvasi, & menembus epitel mukosa usus
menuju lamina propria

Fagosit oleh makrofag di lamina propia,


Makrofag yg mengandung bakteri menuju ke
plak peyeri ilieum distal KGB mesentrika
Menuju ductus thoracicus

Patogenesis (2)
Bakteriemi II - Simptomatik
(7 hr 6 mgg)

Di organ RES kuman meninggalkan makrofag

Kuman bersarang di RES terutama di Hati,


menuju ke kantung empedu & berkembang biak,
Bersama cairan empedu bakteri
dieksresikan ke dalam lumen usus

Kemudian, dari usus masuk lagi ke


aliran darah, menimbulkan bakteriemi II (simptomatis)
Karena makrofag sudah teraktivasi dan hiperaktif
lalu menyebar ke seluruh tubuh

Gejala klinis
Gejala klinis tidak khas (anak)
Demam 7 hari
Gejala gastrointestinal
muntah,
diare/ obstipasi,
kembung

Delirium, kesadaran menurun


Anak besar menyerupai dewasa
tampak toksik, dehidrasi,
lidah tifoid,
hepatomegali, splenomegali

MANIFESTASI KLINIS
DEMAM > 7 HARI

MANIFESTASI KLINIS

Px
Penunjang

Px Fisik

Anamnesis

DIAGNOSIS

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Mikrobiologi (Koloni Salmonella typhi)


Biakan Empedu / Gall Culture
GOLD STANDARD

2. Serologis (Antibodi Salmonella typhi)


Uji Widal
Uji Tubex
Uji Typhidot
Uji IgM Dipstick
3. Biologi Molekuler (DNA Salmonella typhi)
PCR

Laboratorium
Darah perifer
leukopenia, an-eosinofilia,
limfositosis relatif
Bila Trombosit berat

Peningkatan LED,
Peningkatan enzim transaminase
Uji Serologi IgM & IgG
Biakan Salmonella typhi (media
empedu)

Uji Diagnostik
Uji Widal
Pelacak DNA (DNA probe)

IgG protein membran luar


Immunoblotting (Typhi-dot)

PCR (polymerase chain reaction)

Widal
Mendeteksi anti bodi O & H dgn aglutinasi
Aglutinin 0
Meningkat akhir Minggu I (hr 6-8)
Menghilang 6-12 bulan
Diagnostik : - Titer 1/40
- Titer 1/ 200
- Titer konvalesens > 4X akut

Positif palsu
1. salmonella grup D e.g. Enteritidis
2. Enterobacteriaceae
3. Antigen dari pabrik yg berbeda
4. Silent infection (endemis )
Negatif palsu
1. pem.terlalu dini a.b. Belum terbentuk
2. gizi buruk,imunodefisensi,keganasan
3. Th/ a.b. Dini antibodi tdk terbentuk

Aglutinin H
- Dikaitkan dgn infeksi lalu & imunisasi
- Meningkat hari 10 -12
- Tetap (+) bertahun
Widal(+)interpretasi hati-hati

Pengobatan
Suportif
cairan, diet
elektrolit
asam basa

Pengobatan kausal
medikamentosa (antibiotik, kortikosteroid)
bedah (pengobatan komplikasi)

Pengobatan suportif
Cairan
rumatan, larutan D5 : NaCl 0.9% (3:1)
tambah 12.5% setiap kenaikan suhu 10

Diet
makan lunak
kurangi serat, zat yang merangsang
tidak terlalu ketat

Koreksi asam basa


Koreksi elektrolit

Pengobatan Antibiotik (1)


Kloramfenikol
100mg/kgBB/hari oral, maksimal 2 gram, 10 hr (
tidak diberikan leukosit <2000/Ul)

Kotrimoksazol
6mg/kgBB/hari, 10 hari

Amoksisilin
100 mg/kgBB/hari, 10 hari

Pengobatan Kausal (2)


Seftriakson (sefalosporin generasi III)
80 mg/kgBB/hari
intravena, intramuskular, per-infus
lama pengobatan 5 hari i

Sefiksim (sefalosporin generasi III)


20 mg/kgBB/hari
per-oral,
lama pengobatan 10 hari

Kuinolon
tidak direkomendasikan <14 tahun (binatang percobaan:
artropati tulang rawan), FDA 1997

Evaluasi Pengobatan
Suhu 0C
Antibiotik sensitif
Demam reda
Kesadaran membaik
Tidak ada komplikasi
Nafsu makan membaik

37,5

Hari rawat

Evaluasi Pengobatan
Suhu 0C
Antibiotik

Pengobatan sesuaikan

?
37,5
Demam tetap tinggi
Kesadaran
Tanda komplikasi
Gejala lain

Pemeriksaan
penunjang

Komplikasi
Fokal infeksi lain
Resisten
Dosis tidak optimal
Diagnosis salah
7

Hari rawat

Komplikasi
Di dalam saluran cerna
peritonitis,
perdarahan,
perforasi

Di luar saluran cerna


ensefalitis
pneumonia
meningitis
osteomielitis
hepatitis

Pengobatan Komplikasi
Ensefalopati
dexametason 1-3 mg/ BB/hari,3-5 hari

Peritonitis, perdarahan saluran cerna


puasa, nutrisi parenteral, transfusi darah (atas indikasi)

Perforasi
laparatomi

Suportif
Cairan, koreksi dehidrasi, asidosis, hipoelekrolitemia

Pencegahan

Higiene perorangan
Higiene lingkungan
Membasmi karier
Higiene dalam pengasuhan anak
Penularan di rumah sakit
(nosokomial)
Vaksinasi

Imunisasi Aktif
Capsular Vi polysaccharide
injeksi Typhim Vi, intramuskular
vaksin polisakarida, konjungasi
diberikan pada umur > 2 tahun
ulangan tiap 3 tahun

Ty 21-a
oral, Vivotif : 3 dosis interval selang sehari
diberikan pada umur > 6 tahun

PROGNOSIS
Umumnya baik.
Tergantung cepatnya terapi, usia, keadaan
kesehatan sebelumnya, penyebab tipe
Salmonella, dan adanya penyulit.
Prognosis kurang baik bila terdapat gejala
klinis berat.

Kesimpulan
Demam tifoid anak terutama dijumpai pada anak
> 5 tahun
Klinis lebih ringan daripada dewasa,
Makin muda umur anak, klinis tidak kha
Diperlukan pemeriksaan penunjang yang sensitif,
spesifik, mudah dan murah
Obat pilihan : kloramfenikol
Pencegahan: meningkatkan higiene & vaksin

DAFTAR PUSTAKA

Soedarmo, Sumarmo S., dkk. Demam tifoid. Dalam : Buku ajar infeksi & pediatri tropis. Ed. 2. Jakarta :
Badan Penerbit IDAI ; 2008. h. 338-45.
Rezeki, Sri. Demam tifoid. 2008. Diunduh dari
http://medicastore.com/artikel/238/Demam_Tifoid_pada_Anak_Apa_yang_Perlu_Diketahui.html.
22 Januari 2012.
Pawitro UE, Noorvitry M, Darmowandowo W. Demam Tifoid. Dalam : Soegijanto S, Ed. Ilmu Penyakit
Anak : Diagnosa dan Penatalaksanaan, edisi 1. Jakarta : Salemba Medika, 2002:1-43.
Richard E. Behrman, Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin; edisi bahasa Indonesia: A Samik Wahab;
Ilmu Kesehatan Anak Nelson, ed.15. Jakarta: EGC ; 2000.
Alan R. Tumbelaka. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam Pediatrics Update. Cetakan
pertama; Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta : 2003. h. 2-20.
Prasetyo, Risky V. dan Ismoedijanto. Metode diagnostik demam tifoid pada anak. Surabaya : FK
UNAIR ; 2010. h. 1-10.
Mohamad, Fatmawati. Efektifitas kompres hangat dalam menurunkan demam pada pasien Thypoid
Abdominalis di ruang G1 Lt.2 RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. 2012. Diunduh dari
http://journal.ung.ac.id/filejurnal/JHSVol05No01_08_2012/7_Fatwaty_JHSVol05No01_08_2012.pdf.
22 Januari 2012.

TERIMA KASIH