Anda di halaman 1dari 36

GEOKIMIA FLUIDA PANAS

BUMI

Teknik Geofisika UPN Veteran Yogyakarta


2011

PENGENALAN EKSPLORASI
GEOKIMIA

Survei geokimia dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi


fisis dan kimia dari tiga unsur utama yaitu air, gas, dan tanah

Survei geokimia bertujuan :


1 memprediksi suhu bawah permukaan
2 memperoleh informasi mengenai asal-usul fluida panas bumi
3 mengetahui arah aliran fluida bawah permukaan
Filosofi dasar penggunaan survei geokimia dalam eksplorasi
adalah konsentrasi komponen fluida panas bumi, unsur terlarut,
dan kandungan gas di dalam uap mencerminkan kondisi bawah
permukaan.

Kandungan unsur terlarut didalam fluida panas bumi


dihasilkan dari interkasi antara fluida dengan batuan selama
perjalanannya menuju ke permukaan ataupun adanya
masukan dari fluida magmatik.

Oki, fluida panas bumi mempunyai variasi komposisi kimia


yang sangat variatif yang mencerminkan tatanan geologinya.
Konsentrasi unsur-unsur terlarut di dalam fluida panas bumi,
berdasarkan hasil dari beberapa studi lapangan dikontrol oleh
kesetimbangan mineral di reservoar.
Kesetimbangan antara fluida dengan mineral sangat
tergantung pada suhu
konsentrasi unsur terlarut akan
berubah dengan adanya perubahan suhu.

Lebih lanjut dalam perjalanan fluida panasbumi


akan
mengalami berbagai macam proses seperti pendidihan
(boilling) ataupun percampuran (mixing) dengan fluida lainnya
yang dapat merubah komposisi kimianya.
PARAMETER PENTING DALAM PENYELIDIKAN GEOKIMIA :

PERKIRAAN BESARNYA SUMBERDAYA


PREDIKSI TEMPERATUR RESERVOAR
PERMEABILITAS FORMASI RESERVOAR
JENIS FLUIDA DIDALAM RESERVOAR
TINGKAT KEASAMAN FLUIDA
JUMLAH KANDUNGAN GAS
POTENSI PENGERAKAN
PREDIKSI DAMPAK PENGEMBANGAN SUMBERDAYA PANASBUMI BAGI
LINGKUNGAN SEKITARNYA

ASAL USUL DAN KOMPOSISI KIMIA


PANAS BUMI

Fluida panasbumi mengandung komponen isotop, gas, dan unsur


terlarut dalam berbagai variasi konsentrasi.
Banyak komponen yang merupakan komponen penyusun utama
fluida panasbumi walaupun mereka bukan penyusun utama
batuan, bahkan mereka hanya dalam jumlah kecil sekali sabagai
unsur penjejak (trace element), seperti klorin (Cl) dan boron (B)
Proses yang sangat penting mempengaruhi komposisi fluida
panasbumi meliputi pelarutan mineral utama batuan.
Selain itu juga dipengaruhi oleh suhu, kandungan gas asal air,
masukan dari magmatik, tipe batuan, kondisi dan durasi interaksi
antara batuan air, serta proses boiling dan mixing.

Pada awalnya magma diyakini sabagai asal panas, air, dan unsur
terlarut di dalam sistem panas bumi. Namun dari hasil penelitian
Craig (1963), menggunakan isotop alam (stabel isotop),
mengungkapkan bahwa asal air sistem panasbumi adalah
dominan berasal dari air meteorik karena mempunyai ciri-ciri
kandungan deuterium (2H) yang sama antara fluida panasbumi
dengan air meteorik lokal (Gb)
Selain itu jenis air yang mungkin menjadi asal air panasbumi
adalah air laut, air formasi (conate water), dan kemungkinan
kontribusi air magmatik dalam jumlah yang kecil.
Sedangkan unsur yang terlarut didalam fluida panasbumi seperti
yang dikemukakan oleh Ellis dan Mahon (1967) berasal dari
pelarutan batuan reservoar.

KANDUNGAN KIMIA FLUIDA PANAS


BUMI
ClHCO3S0
FBrIAs
Si02
HCO3-

Na+
K+
Ca++
Li+
Mg++

Cs+
Mn+
Fe++
A1+++
Rb+

Boron
Ammonia
Non condensible gas

DATA KANDUNGAN KIMIA FLUIDA


PANAS BUMI
Parameter

Temp. oC
pH
SiO2
Ca
Mg
Na
K
Li
HCO3
SO4
C1
F
B

ORKEI KAROKO
(NZ)

CERRO PRIETO
(Mexico)

SPG 22

SPG 664

SPG 49

SPG 54

99
9.2
280
0.8
370
34
3.4
113
185
404
10.8
3.4

64
8.2
150
4.6
0.6
135
10
1.2
201
12
78
2.9
5.4

57
6.5
45
283
20
1350
233
4.4
128
960
2930
-

98
7.4
92
492
38
3700
400
8
42
130
6700
-

Parameter

ORAKEI KARAKO (NZ)


WEEL 2 @ depth

SPG 22

SPG 664

1150

260

99

64

9.2

8.2

SiO2

327

280

150

Ca

<1

0.8

4.6

Mg

0.6

Na

550

370

135

54

34

10

Li

3.1

3.4

1.2

HCO3

290

113

201

SO4

142

185

12

C1

546

404

78

5.7

10.8

2.9

7.7

3.4

5.4

Depth (m)
Temp. oC
pH

KANDUNGAN KIMIA FLUIDA PANAS BUMI DI SATU


TEMPAT DENGAN TEMPAT LAIN BERBEDA.

Kosentrasi ion yang berbeda-beda dapat disebabkan


karena perbedaan
1. Temperatur
2. Kandungan gas
3. Sumber air
4. Jenis batuan
5. Kondisi dan lamanya interaksi air batuan
6. Adanya percampuran antara air dari satu sumber
dengan air dari sumber lainnya.

KOMPONEN REAKTIF DAN KONSERVATIF

Komponen kimia dan isotop di


diklasifikasikan menjadi dua yaitu

dalam

fluida

panasbumi

1. Reaktif
komponen reaktif disebut juga sebagai geoindikator,
cenderung untuk mencapai kesetimbangan dengan
komponen reaktif lainnya dan atau mineral batuan
didalam sistem panasbumi. Komponen reaktif ini berguna
untuk memperoleh informasi kondisi fisika reservoar
panas bumi (suhu reservoar, rasio uap terhadap air)

2. Konservatif
komponen
ini
disebut
juga
dengan
non
reaktif/inert/incompatible atau secara sederhana sebagai
komponen tracers. Komponen ini masuk menjadi
penyusun fluida pansbumi maka mereka akan tetap
tinggal disana. Oki, komponen konservatif menyediakan
informasi
tentang asal-usul air dan juga asal
komponen itu sendiri. Contoh : Cl, B, Br, dan Li.

JENIS-JENIS AIR PANAS BUMI


1.

Air Klorida (Chloride Water)


- Cl tinggi (400-1800 ppm)
- Na dan K tinggi bersama dengan Ca, Mg sebagai Kation
- Si02 cukup tinggi
- pH netral-sedikit asam
- ciri khas : endapan silika sinter
- Umumnya mengandung S04, HCO3- Sejumlah kecil F, As, Li, Rb, Cs, Mg, dan NH 3

2.

Air Asam Sulfat (Acid Sulphate Water)


- S04 tinggi
- HCO3- dan Cl sangat rendah (kadang-kadang nol)
- Mengandung Na, K, Ca, Mg, Fe
- pH rendah (pH <2 3)

3.

Air Bikarbonat
- Kaya akan C02
- Cl rendah
- pH sekitar 5-6
- dibeberapa tempat tercampur karena adanya
batuan limestone dibawah permukaan, sehingga
muncul endapan travertin

Pengukuran parameter pada contoh


air di lapangan

Temperatur manifestasi dan udara di sekitarnya, dengan


menggunakan thermocouple atau thermometer maksimum
pH air, dengan menggunakan pH meter digital
debit air panas/dingin, dengan cara volumetric (V-nocht
meter)
daya hantar listrik dengan (DHL) air panas/dingin, dengan
konduktivitimeter
koordinat dan ketinggian lokasi pengambilan contoh dengan

GPS Receiver

kandungan CO2, CO, H2S, dan NH3 pada hembusan uap air,
fumarol dan solfatara dengan detector gas
luas manifestasi

PENENTUAN JENIS AIR


BERDASARKAN KANDUNGAN Cl, S04,
HCO3-

TAHAPAN DALAM MENGHITUNG


PROPORSI ION
1.

Jumlahkan konsentrasi klorida (ppm), sulfat (ppm)


dan bikarbonat (ppm)
Konsentrasi = Cl + S04 + HCO3-

2.

Hitung proporsi relatif dari masing-masing


komponen jumlah di atas dalam persen
% Cl = (Cl / Konsentrasi) x 100
% S04 = (S04 / Konsentrasi) x 100
% HCO3- = (HCO3- / Konsentrasi) x 100

3. Plot masing-masing nilai proporsi relatif pada


diagram

SURVAI PENDAHULUAN GEOKIMIA

Survey geokimia dilakukan untuk mendapatkan data dan


informasi fisis dan kimia dari tiga unsur utama (air, udara, gas).
Kegiatan ini terdiri atas studi literatur dan survei lapangan.
Survey lapangan meliputi kegiatan pengamatan pengukuran dan
pengambilan sampel terhadap air, gas, dan tanah.
KEGIATAN LAPANGAN
meliputi : studi literatur, analisa data sekunder, penyiapan
peralatan dan pereaksi, serta penentuan titik ukur. Studi literatur
dan analisis data sekunder merupakan kegiatan pengumpulan
dan analisis data pustaka melalui identifikasi terhadap hasil
penyelidikan terdahulu yang berkaitan dengan geokimia,
berdasarkan informasi geologi regional, peta topografi, foto
udara, citra satelit, dan geografi daerah penyelidikan yang ada
atau pernah dilakukan di daerah yang akan diselidiki.

Persiapan peralatan dan pereaksi dilakukan dengan cara


kalibrasi peralatan dan standarisasi pereaksi yang akan
digunakan. Titik-titik ukur yang telah ditentukan pada lokasi
penyelidikan harus diketahui ketinggian dan koordinatnya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan titik
ukur :
1. penentuan titik ukur harus memperhatikan kondisi geologi
dan keberadaan manifestasi panas bumi, misalnya posisi
lintasan titik ukur memotong arah struktur geologi dengan
mempertimbangkan faktor kesulitan medan (togografi)

2. sebaran titik ukur dapat berbentuk grid atau acak dengan


spasi antara 250-2000m
3. penentun titik ukur dapat dilakukan dengan menggunakan
alat ukur topografi yang dapat memenuhi akurasi ketinggian
maksimal 1 meter dan akurasi koordinat maksimal 5 meter,
seperti Theodolite, GPS
4. sistem koordinat titik ukur harus diproyeksikan ke dalam
sistem geodetic yang umum dipakai di Indonesia, misalnya
UTM.

KEGIATAN LABORATORIUM
kegiatan laboratorium meliputi preparasi conto dan analisis.
Preparasi contoh sebelum dianalisa kandungan unsureunsurnya perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Preparasi contoh
siap analisis ditempuh melalui kegiatan mulai dari penyusunan
contoh agar tidak terjadi kesalahan sistematis penyontohan
dan penyediaan duplikat untuk memantau presisi analisis
kimia. Penyusunan contoh berikut duplikat dilakukan secara
random dalam tempat yang tersedia.
Analisa untuk menentukan, konsentarasi unsure-unsur dalam
contoh air, gas, tanah, dan udara tanah dilaakukan di
laboratorium. Beberapa parameter diukur di lapangan,
terutama pH, temperature, daya hantar listrik dan debit air.

ANALISA CONTOH AIR


Pengambilan contoh air dilakukan pada mata air panas, dan
sebagai pembanding dilakukan juga terhadap mata air dingin.
Pengambilan contoh air panas dilakukan pada tempat dimana
temperatur dan debitnya paling tinggi, sehingga kontaminasi
oleh lingkungannya dapat dihindari seminimal mungkin.
Pengambilan contoh air dilakukan untuk dua tujuan, yaitu
untuk analisa unsur dan analisa isotop (18O dan 2H).

a) Peralatan dan preparasi yang digunakan


Botol polyethylene bervolume 500 ml, yang tahan terhadap
asam, panas, korosif
Botol isotop 18O dan 2H bervolume 15 ml terbuat dari gelas
yang berlapis alumunium foil
Syringe plastic tahan panas bervolume minimal 50 ml.
Filter Holder diameter 25 mm.
Kertas filter porositas 0,45 m
GPS Receiver, altimeter

Stop Wacth

pH meter digital, kertas pH, konduktivitimeter


Sarung tangan karet tahan panas
Kamera
Peta kerja
HNO3 1:1

b) Pengukuran parameter pada contoh air di lapangan


Temperatur manifestasi dan udara di sekitarnya, dengan
menggunakan thermocouple atau thermometer maksimum
pH air, dengan menggunakan pH meter digital
debit air panas/dingin, dengan cara volumetric (V-nocht
meter)
daya hantar listrik dengan (DHL) air panas/dingin, dengan
konduktivitimeter
koordinat dan ketinggian lokasi pengambilan contoh dengan

GPS Receiver

kandungan CO2, CO, H2S, dan NH3 pada hembusan uap air,
fumarol dan solfatara dengan detector gas
luas manifestasi

c) Cara pengambilan contoh air untuk analisa sumur


Contoh Air yang akan diambil harus disaring menggunakan
kertas saring (porous fiver) berukuran 0,45 m.
Botol yang akan digunakan untuk menyimpan contoh dibilas
dengan menggunakan contoh air yang sudah disaring.
Contoh air dibagi menjadi dua botol bervolume minimal 500
ml.
Botol pertama langsung dikemas dan diberi kode lokasi
sebagai bahan untuk analisa anion (Cl, HCO3, SO4, F, CO3).
Botol kedua sebelum dikemas diasamkan dengan
penambahan HNO3 1:1 sampai pH 2, sebagai contoh air untuk
analisa kation (Na, K, Li, B, Ca, Fe, Al, As), SiO2 dan NH4.

d) Cara pengambilan contoh air untuk analisa isotop


Harus dihindari kontaminasi oleh udara luar
Botol yang digunakan untuk menyimpan contoh air, botol kecil
bervolume 15 ml
Botol dibilas dengan menggunakan contoh air yang akan
diambil
Botol harus diisi dengan contoh air sampai penuh dan tidak
terbentuk gelembung udara dalam botol, apabila terdapat
gelembung maka pengambilan contohh harus diulang.
Pengisian dan penutupan botol dilakukan di dalam air dan
ditutup rapat serta diisolasi
Botol contoh diberi label sesuai lokasi pengambilan dan nomor
contoh.

e) Analisis Air
Contoh air yang diperoleh dari lapangan dibawa ke
laboratorium untuk dianalisis.
Analisa contoh isotop 18O dan 2H
Contoh isotop 18O dan 2H air yang diperoleh dari lapangan,
dianalisis di laboratorium dengan menggunakan metode mass
spectrophometer. Analisis contoh isotop 18O dan 2H air ini
dapat menggunakan cara Gonviantini (1981).

Pengamatan Manifestasi
Pengamatan manifestasi antara lain dilakukan terhadap :
Jenis manifestasi : tanah panas, tanah panas beruap, kolam
lumpur panas, mata air panas, fumarol dan solfatara.
Keterdapatannya pada suatu daerah penyelidikan dapat
langsung diaamati di lapangan dengan kasat mata.

Jenis endapan pada manifestasi seperti sinter koordinat, sinter


silica, belerang dan oksida besi.

Sifat fisika air yang muncul pada manifestasi dengan


membedakan diantaranya : rasa (tawar, asin, pahit, asam),
bau (bau belerang/H2S) dan warna (jernih, keruh, putih, dll).

Pengukuran Data Manifestasi


Data yang diukur pada manifestasi antara lain :
Temperatur manifestasi dan udara disekitarnya,
pH air,
debit air panas atau dingin,
Daya hantar listrik (DHL) air panas/dingin,
Koordinat dan lokasi pengambilan contoh,
Kandungan CO2, CO, H2S, dan NH3 pada hembusan uap
air, fumarol dan solfatara.
Luas manifestasi.

Penentuan Temperature Reservoir

Penyelidikan geothermal yang digunakan untuk menentukan


temperature reservoir antara lain adalah geothermometer
silika, Na-K-Ca, Na/K dan isotop oksigen sulfat 180 (SO4H2O).

1. Silika Geothermometer
Mohan (1966) menunjukkan bahwa konsentrasi silika pada air
disumur panasbumi di selandia baru dikontrol oleh daya larut
kwarsa. Geothermometer kwarsa (Quarts) bekerja baik pada
mata air panas yang temperatur permukaannya diatas 150OC.
Fournier dan Trusdel (1970), telah menunjukkan bahwa
kwarsa telah bekerja baik pada air panas.

2. Na-K Geothermometer
Metoda Na/K pada umumnya mampu memberikan hasil yang
meyakinkan untuk lingkungan air yang bertemperatur
dibawah 100OC. Kusus air yang bertemperatur rendah yang
kaya akan kalsium memberikan penyimpangan pada hasil
perhitungan dengan metode Na/K. Keuntungan dari metoda
ini adalah sedikit dipengaruhi oleh pemisahan uap dan cairan
daripada geothermometer yang lain serta sedikit Na+ dan K+
yang mengalami dilusi pada air.

3. Na-K-Ca Geothermometer
Geothermometer Na-K-Ca dari Fournier dan Truesdell
dikembangkan secara kusus untuk membagi kadar kalsium
pada kadar air yang memberikan kenormalan perhitungan
temperatur reservoir yang tinggi oleh metoda Na/K. Peubahan
konsentrasi hasil pendidihan dan pencampuran dengan air
dingin akan mempengaruhi geothermometer Na-K-Ca. Akibat
utama dari pendidihan adalah hilangnya CO2 dengan cepat
dan
mengendapnya
CaCO3.
hilangnya
Aquaeous
Ca2+umumnya kan menghasilkan perhitungan temperatur NaK-Ca sangat tinggi.

4 Isotop Geothermometer
Geothermometer
isotop yang biasa digunakan untuk
mengukur temperatur pada reservoir panasbumi yaitu oksigen
sulfat. Komposisi oksigen dan air akan berubah, fraksinasi O16
dan O18 antara air dan uap pada temperatur tergantung pada
kesetimbangan dan akan menuju pada kesetimbangan yang
agak cepat pada temperatur dibawah 100 OC. Keadaan
mendidih akan berbeda komposisinya yang mana semua uap
itu bertemperatur akhir 100 OC (Trusdel, 1979). Meskipun
pendidihan membuat interprestasi lebih komplek, tetapi tidak
mengubah geothermometer O18 (SO4 - H2O).

Mc Kanzel dan Trusdel (1977) telah menunjukkan, bahwa


sulfat /oksigen isotop geothermometer dapat dihitung pada 3
model ahir yaitu :
Penyelidikan konduktive
Kehilangan temperature satu tingkat pada berbagai
temperature tertentu.
Kehilangan uap secara tetap.

Maturnuwun