Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

Pemeriksaan Penunjang pada Penyakit Kulit

Pembimbing :
dr. Fisalma Mansjoer, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2014

Pemeriksaan Bakteriologi

Pemeriksaan bakteriologi dilakukan pada


penyakit infeksi kulit karena bakteri. Misalnya pada
penyakit Pioderma, Kusta, dan TBC kulit.
Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh
Staphylococcus dan Streptococcus atau oleh keduaduanya. Penyakit TBC kulit disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis. Sedangkan kusta
disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat
intraseluler obligat.

Pioderma
Pioderma adalah penyakit kulit yang sering
dijumpai. Terdapat berbagai macam bentuk
pioderma. Seperti impetigo bulosa, impetigo
krustosa, folikulitis, selulitis, erisipelas, abses,
ulkus piogenik, dan ektima. Penyakit tersebut
akan dibahas satu persatu pada tabel berikut.

Nama Penyakit
Impetigo Bulosa

Gejala Klinis

Hasil Laboratorium

Kelainan kulit berupa eritema, bula dan bula hipopion.

Preparat mikroskopik langsung dari cairan

Lepuh tiba-tiba muncul pada kulit sehat, bervariasi mulai miliar

bula untuk mencari stafilokok.

hingga lentikular, dapat bertahan 2-3 hari.


-

Kadang-kadang waktu penderita datang berobat, vesikel/bula


telah memecah sehingga yang tampak hanya koleret dan
dasarnya masih eritematosa

Impetigo Krustosa

Tempat predileksi di muka yakni disekitar lubang hidung dan mulut

Biakan bakteriologis eksudat lesi dan biakan

karena dianggap sumber infeksi dari daerah tersebut.

sekret dalam media agar darah dilanjutkan

KKarena dinding vesikel tipis mudah pecah dan mengeluarkan sekret

dengan tes resistensi. Untuk mencari

seropurulen kuning kecoklatan selanjutnya mengering membentuk

Staphylococcus aureus koagulase positif dan

krusta yang berlapis-lapis.

streptococcus beta hemoliticus

Krusta mudah dilepaskan, dibawah krusta terdapat daerah erosif yang


mengeluarkan sekret, sehingga krusta kembali menebal.

eluhan utama adalah rasa gatal, lesi awal berupa makula eritematosa
berukuran 1-2 mm, segera berubah menjadi vesikel atau bula.

Folikulitis

Rasa gatal dan rasa terbakar pada daerah rambut.

Berupa makula eritematosa disertai papel atau pustula yang (dengan pewarnaan gram) untuk mencari
ditembus oleh rambut.

Pertumbuhan rambut sendiri tidak terganggu.

Kadang-kadang ditimbulkan oleh discharge (sekret) dari luka

Pemeriksaan bakteriologis dari sekret lesi

Staphylococcus aureus.

dan abses.

Selulitis

Lesi bermula sebagai makula eritematosa yang terasa panas,

a.

selanjutnya meluas kearah samping dan kebawah sehingga terbentuk


benjolan berwarna merah dan hitam yang mengeluarkan sekret

Pemeriksaan darah akan didapatkan


leukositosis.

b.

Biakan sekret fistel dan uji resistensi

seropurulen.

Erisipelas

1. Kulit yang terkena terlihat merah cerah, agak menonjol, batas jelas, - Menunjukkan peningkatan jumlah leukosit
nyeri tekan, teraba panas

(leukositosis) - Untuk menentukan


penyebabnya, dilakukan pembiakan

2. Kadang-kadang dijumpai vesikel-vesikel kecil pada tepinya.

3. Dapat juga dijumpai bentuk bulosa.

terhadap contoh darah atau jaringan kulit

yang terinfeksi, pus atau eksudat (kultur).

Abses

Dimulai dengan benjolan kecil yang selanjutnya meluas

a.

kesamping dan kebawah menimbulkan benjolan berisi nanah.

Kultur darah untuk mencari


etiologi dan uji resistensi.

b.

Pemeriksaan darah melihat


leukositosis, gula darah.

Ulkus piogenik

Timbul koreng/ulkus dnegan tanda-tanda radang disekitarnya,

Kultur sekret ulkus dan tes resistensi.

secara lambat mengalami nekrosis dan menyebar secara


serpiginosa.

Ektima

Lesi awal berupa vesikel atau vesikopustulosa diatas kulit yang Mencari etiologi dari sekret/kerokan
eritematosa, membesar dan pecah, terbentuk krusta tebal dan kulit.
kering yang sukar dilepas dari dasarnya. Bila krusta dilepas
terdapat ulkus dangkal.2

Gambaran Impetigo dan Erisepelas

Morfologi kuman

Tuberkulosis Kutis
Tuberculosis kutis adalah tuberkulosis pada
kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis. M. tuberculosis mempunyai sifat
sebagai berikut: berbentuk batang, panjang 24/ dan lebar 0,3-1,5/m, tahan asam, tidak
bergerak, tidak membentuk spora, aerob dan
suhu optimal pertumbuhan 37C.

Pemeriksaaan Mikrobakterium
Sediaan
Mikroskopik

Tes Biokimia

Kultu

Percobaan
Resistensi

Lepra
Pemeriksaan bakterioskopik digunakkan untuk
membantu menegakkan diagnosis. Sediaan
dibuat dari kerokan jaringan kulit atau usapan
dan kerokan mukosa hidung yang diwarnai
dengan pewarnaan terhadap basil tahan asam
antara lain dengan Ziehl-Neelsen.

Index Baktri
Indeks Bakteri
1+ bila 1-10 BTA dalam 100 LP
2+ bila 1-10 BTA dalam 10 LP
3+ bila 1-10 BTA rata-rata dalam 1 LP
4+ bila 11-100 BTA rata-rata dalam 1 LP
5+ bila 101-1000 BTA rata-rata dalam 1 LP
6+ bila > 1000 BTA rata-rata dalam 1 LP

Index Morfologi
Indeks morfologi adalah presentase bentuk
solid dibandingkan dengan jumlah solid dan
non soild. Syarat perhitungan indeks morfologi
adalah:
1. Jumlah minimal kuman tiap lesi 100 BTA
2. IB 1+ tidak perlu dibuat Imnya karena untuk
mendapat 100 BTA harus mencari dalam 1.000 sampai
10.000 lapangan
3. Mulai dari IB 3+ harus dihitung Imnya sebab dengan IB
3+ maksimum harus dicari dalam 100 lapangan

Histopatologi
Staphylococcal Scalded Skin

Lepra

TBC Kulit

Syndrome
-

Terdapat gambaran yang

khas yaitu lepuh

Pada umumnya, gambaran dari TB

akumulasi makrofag.

kutis ini adalah pada epidermisnya

Gambaran histopatologik tipe

tampak adanya hiperkeratosis dan

Terdapat celah di Stratum

tuberkuloid adalah tuberkel,

akantosis.

granulosum.

tidak ada basil atau hanya

intraepidermal.
-

Didapatkan granuloma yaitu

sedikit.

Meskipun ruang lepuh


sering mengandung sel-sel

(subepidermal clear zone)

sisanya tampak utuh tanpa

yaitu suatu daerah langsung di

disertai nekrosis sel

bawah epidermis yang

jaringannya tidak patologik


-

sering dengan gambaran adanya

Pada tipe lepromatosa terdapat

kelim sunyi epidermal

akantolitik, epidermis

Didapati sel virchow (sel


lepra) dengan banyak basil

Pada reaksi radang yang akut,

abses di lapisan ini.


-

Pada dermis tampak adanya


nekrosis kaseosa.

Kerokan Kulit
Dermatofitosis
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tinea kapitis, yaitu dermatofitosis pada kulit rambut dan


kepala
Tinea barbe, dermatofitosis pada dag dan janggut
Tinea kruris, yaitu dermatofitosis pada daerah genitokrural
sampai anus dan bokong kadang-kadang sampai perut
bagian bawah
Tinea pedis et manum, dermatofitosis pada kaki dan
tangan
Tinea unguium, dermatofitosis pada kuku jari dan tangan
Tinea korporis, dermatofitosis pada bagian lain yang tidak
termasuk bentuk 5 tinea di atas

Gmbaran Klinis

Hifa dermatofita

Kandidosis
Kandidosis adalah penyakit jamur yang
bersifat akut atau subakut disebabkan oleh
spesies Candida albicans. Dapat mengenai
mulut, vagina, kulit, kuku, bronkus, bahkan
paru-paru. Dari hasil pemeriksaan kerokan
kulit atau usapan mukokutan atau dengan
pewarnaan gram akan terlihat sel ragi,
blastospora atau hifa semu.

Skabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan
oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes
scabiei var. hominis. Ada 4 tanda kardinal yaitu
gatal pada malam hari, mengenai sekelompok
orang, ditemukan terowongan (kanikulus) pada
tempat predileksi yang berwarna putih atau
keabu-abuan
dan
ditemukannya
tungau.
Ditemukannya tungau merupakan gold standard
pada pemeriksaan penunjang skabies

Cara melakukan kerokan kulit untuk


menemukan tungau skabies :
1. Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada
ujung yang terlihat papul atau vesikel dicongkel
dengan jarum dan diletakkan di atas sebuah
kaca obyek lalu ditutup dengan kaca penutup
dan dilihat dengan mikroskop cahaya
2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan
ditampung di atas selembar kertas putih dan
dilihat dengan kaca pembesar
3. Dengan biopsi eksisional kemudian diperiksa
dengan pewarnaan hematoksilin eosin

Sarcoptes scabiei

Tzanck test
Pemeriksaan Tzanck test biasanya dilakukan
untuk menunjang diagnosis Herpes Zoster,
Herpes Simplex, dan Varicella. Cara melakukan
pemeriksaan ini adalah pertama pecahkan
bula kemudian dikerok kulit luarnya. Setelah
itu, kerokan di fiksasi pada preparat dengan
cara dilewatkan di atas api 3x. Setelah difiksasi
obyek glass direndam di alkohol 96% selama 5
menit kemudian di bilas.

Setelah dibilas obyek glass ditetesi larutan


giemsa (1:10) selama 30 menit. Bilas dengan
air mengalir, lalu keringkan. Setelah itu periksa
di mikroskop dengan 100x perbesaran. Hasil
dikatakan positif jika ditemukan sel datia
berinti banyak.

Pemeriksaan Kultur Gonore


Dua macam media yang dapat digunakan adalah media transpor dan
media pertumbuhan :
Mc Leods chocolate agar
Berisi agar coklat, agar serum, dan agar hidrokel. Selain kuman
gonokok, kuman yang lain juga dapat tumbuh
Media Thayer Martin
Media ini selektif untuk mengisolasi gonokok. Mengandung
vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman positif-gram,
kolestimetat untuk menekan pertumbuhan negatif-gram dan
nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur
Modified Thayer Martin Agar
Isinya ditambah trimetoprim untuk mencegah kuman Proteus spp

Pemeriksaan Duh Tubuh


Vaginosis bakterial
1.

Sekret vagina

Trikomoniasis
1.

Sekret vagina

Kandidiasis
1.

Sekret

Infeksi Clamidia

vagina 1.

keruh, encer, putih

sangat banyak,

menggumpal

abu-abu hingga

kuning

putih kental

kekuningan

kehijauan,

Biasanya

Gonore
1.

asimptomatis

Sekret vagina seperti


pus

berbusa, dan
berbau amis.

1.

Bau busuk

Juga terjadi rasa 1.

Gatal dari

gatal dan iritasi

sedang-berat

yang berwarna

demam serta nyeri pada

semakin

dan

kuning seperti

pelvis

bertambah

rasa terbakar

pus, sering buang

setelah

kemerahan dan

air kecil dan

berhubungan

bengkak di

terdapat

seksual

daerah genital

perdarahan

atau amis,

1.

2. Sekret vagina

vagina yang
abnormal

1.

Sering buang air kecil,

Pemeriksaan T. pallidum dan VDRL


Tes Serologi Sifilis dibagi menjadi 2 berdasarkan
antigennya:
Tes treponemal, karena antigennya ialah
treponema atau ekstraknya
Tes non treponemal contohnya adalah tes fiksasi
komplemen dan tes flokulasi: VDRL (Veneral
Disease Researches Laboratory, Kahn, RPR ( Rapid
Plasma Reagin)

Tes Frei
Tes Frei dilakukan dengan antigen frei. Frei
diperoleh dari pus penderita LGV yang mengalami
abses yang belum memecah kemudian dilarutkan
dalam garam faal dan dilakukan pasteurisasi. Cara
melakukannya seperti pada tes tuberkulin yakni
0,1cc disuntikkan intrakutan pada bagian anterior
lengan bawah dan dibaca setelah 48 jam. Jika
terdapat infiltrat berdiameter 0,5 cm atau lebih
berarti positif. Tes frei tak khas karena penyakit
yang segolongan juga memberi hasil positif

Daftar Pustaka
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Wasitaatmadja SM. Anatomi Kulit. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p. 3-6
Djuanda A. Pioderma. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI; 2009. p. 57-63
Djuanda A. Tuberkulosis Kutis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p. 64-72
Sularsito SA. Histopatologi Kulit. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p. 23-33
Budimulja U. Mikosis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI; 2009. p. 89-105
Nettleman M. Scabies. Available at: http://www.emedicinehealth.com/scabies/article_em.htm. Accessed June,
26th 2014
Wong B. Gonorrhea. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/218059-overview. Last update April,
16th 2014. Accessed June, 26th 2014
Daili SF. Gonore. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2009. p. 369-83
Euerle B. Syphilis. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/229461-overview. Last update January,
6th 2012. Accessed June, 26th 2014
Natahusada EC, Djuanda A. Sifilis. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p. 393-413
Djuanda A. Limfogranuloma Venereum. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. ed.5. Editor: Djuanda A, Hamzah M,
Aisah S. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p. 414-417

Terimakasih