Anda di halaman 1dari 27

GLAUKOMA SEKUNDER

EC. DISLOKASI LENSA


Oleh :
1. PRIZQY RIMADHYANI : 110.2009.223
2. SUCI ASNATASIA RAMADHINI : 110.2009.276

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


RSUD KABUPATEN BEKASI
2014

LENSA

DISLOKASI LENSA
Dislokasi lensa adalah keadaan dimana lensa kristalina
bergeser atau berubah posisinya dari kedudukan normalnya
Akibat rupturnya zonula zinii sebagai pemegangnya.1
Dislokasi lensa dapat terjadi total (luksasi) ataupun sebagian
(subluksasi)
Yang terjadi akibat proses trauma pada mata,
herediter (sindrom marfan, homosistinuria), ataupun
komplikasi dari penyakit lain.

Dislokasi lensa
Dislokasi lensa dapat diklasifasikan berdasarkan
luksasi anterior dan luksasi posterior.
Bila zonula Zinnii putus sebagian maka lensa akan
mengalami subluksasi
Seluruh zonula Zinnii putus maka lensa akan
mengalami luksasi kedepan (luksasi anterior) atau
luksasi ke belakang (luksasi posterior).

Subluksasi lensa
Terjadi akibat putusnya sebagian zonula Zinni sehingga lensa
berpindah tempat.
Subluksasi lensa dapat juga terjadi spontan akibat pasien
menderita kelainan pada zonula Zinni yang rapuh seperti
pada Sindrom Marfan.
Pada subluksasi kadang kadang penderita tidak
memberikan keluhan kecuali keluhan myopia atau astigmat.
Hal ini disebabkan karena zonula Zinni putus sebagian maka
lensa bebas mencembung.
Selain itu dapat pula ditemukan penurunan penglihatan
diplopia, monokular dan iridodonesis (iris tremulans).

Luksasi Anterior
Trauma atau kelainan kongenital yang mengakibatkan
seluruh zonula putus disertai perpindahan letak lensa
ke depan akan memberikan keluhan penurunan tajam
penglihatan yang mendadak

Luksasi Posterior
Pada trauma tumpul yang keras pada mata dapat
terjadi luksasi lensa posterior akibat putusnya zonula
Zinn di seluruh lingkaran ekuator lensa sehingga lensa
jatuh ke dalam badan kaca dan tenggelam di dataran
bawah polus posterior fundus okuli

Etiologi / Faktor- Faktor Penyebab


Herediter : keadaan Sindrom Marfan ataupun pada
homosistinuria
Komplikasi penyakit mata lainnya : diantaranya
katarak hipermatur dan high myopia
Ataupun akibat proses trauma yang terjadi pada mata
: ekspansi dan kompresi bola mata pada trauma
tumpul

Gejala Klinis

Gejala-gejala dislokasi lensa tergantung pada


keparahan dan dapat bervariasi dari ringan sampai
miopia berat, astigmat dan fluktuasi visus.
Selain itu, visus dapat sangat kabur.
Dapat juga terjadi diplopia monocular dan
iridodonesis.
Dislokasi lensa hanya dapat dikonfirmasikan
menggunakan slit lamp setelah dilakukan dilatasi
pupil secara sepenuhnya (midriasis).

Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Visus
Ketajaman visus bervariasi dengan tingkat
malposisi lensa.
2. Pemeriksaan Okular Eksternal
Perhatian terhadap anatomi orbital adalah penting
untuk mengevaluasi kelainan herediter (misalnya,
enophthalmos dengan penampilan miopati wajah
terlihat pada pasien dengan sindrom Marfan). Ukur
diameter kornea (megalokornea dikaitkan dengan
sindrom Marfan).

3. Pemeriksaan senter / slit lamp


4. Retinoskopi dan refraksi

Penatalaksanaan
Ektraksi lensa
Vitrektomi ( jika ada tanda peradangan )

Komplikasi

Dalam setiap kasus dislokasi lensa, kemungkinan kuat


akan terjadi blok pupil dan glaukoma sekunder sudut
tertutup.

Uveitis posterior
Kebutaan

Prognosis
Tergantung pada derajat dislokasi lensa, usia onset,
dan komplikasi yang terkait sekunder, Pasien yang
memiliki trauma terkait ektopia lentis mungkin
memiliki komplikasi yang lebih mengancam jiwa
lainnya (tergantung pada beratnya trauma).

PRESENTASI KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Suku Bangsa
Agama
Alamat
Pekerjaan
Tgl. Pemeriksaan
Rumah Sakit
Dokter pemeriksa

: Ny. SR
: 38 tahun
: Perempuan
: Jawa
: Islam
: Pasir Gombong , Cikarang
: IRT
: 12 Maret 2014
: RSUD Kabupaten Bekasi
: Dr. M Ilham Zain , Sp.M

ANAMNESIS

( Autoanamnesa )
Keluhan Utama
:
Pegal pada mata kanan sejak 1 minggu sebelum
masuk rumah sakit
Keluhan Tambahan :
Nyeri dan penglihatan menurun pada mata kanan

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke poliklinik mata RSUD Kabupaten Bekasi dengan


keluhan mata kanan terasa pegal sejak 1 minggu SMRS. Pegal pada
mata kanan dirasakan terus menerus sepanjang hari.
Pasien mengatakan penglihatan mata kanan mendadak menurun
sejak 7 bulan yang lalu, kemudian penglihatannya semakin menurun
dan sejak 2 bulan SMRS pasien menyadari mata kanannya tidak bisa
melihat sama sekali. Pasien juga mengeluh pada mata kanan terasa
nyeri, mual dan nyeri kepala sebelah kanan sejak 2 bulan SMRS.
Mata kiri tidak ada keluhan .
Pasien tidak pernah mengalami gangguan penglihatan
sebelumnya, riwayat trauma, penglihatan berkabut, disangkal oleh
pasien. Pasien belum pernah ke dokter untuk mengobati matanya.

PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis
Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan Darah
Nadi
Frek. Napas
Suhu

: Baik
: compos mentis
: - mmHg
: 80 x/menit
: 20 x/menit
: 36,5 C

PEMERIKSAAN FISIK

Kepala
Mata
THT
Leher

: Normochepali
: (lihat status opthalmologi)
: bentuk normal, sekret (-)
: Trakea terletak ditengah, tidak ada
pembesaran KGB
Toraks
: Cor : Bunyi Jantung I,Reguler,
Pulmo
: Vesikuler +/+, Rhonki -/-, wheezing -/Abdomen : Datar, supel, Nyeri tekan (-), Bising usus
(+) normal
Ekstremitas : Akral hangat , Edema (-)

PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
Status Oftalmologi :
Pemeriksaan Subjektif :
VOD : NLP
VOS : 20/20

RESUME
Pasien datang dengan keluhan mata kanan terasa pegal
terus menerus sepanjang hari sejak 1 minggu SMRS. Pasien
mengatakan penglihatannya mendadak menurun sejak 7 bulan
yang lalu, kemudian penglihatannya semakin menurun dan sejak 2
bulan SMRS pasien menyadari mata kanannya tidak bisa melihat
sama sekali. Pasien juga mengeluh pada mata kanan terasa nyeri,
mual dan nyeri kepala sebelah kanan sejak 2 bulan SMRS.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan:
Visus OD : NLP
Pemeriksaan segment anterior OD : COA dangkal , Pupil dan Iris
tidak bisa dinilai, Lensa luksasi anterior dan keruh.
TIO OD keras per palpasi, TIO dengan tonometri schiotz OD :
31,8 mmHg

DIAGNOSIS KERJA
Glaukoma Sekunder et causa Dislokasi
Lensa

PENATALAKSANAAN
Timolol Maleat 0,5%,
Pilokarpin 2%
Operasi ekstraksi Lensa

PROGNOSIS
Quo ad Vitam
Quo ad Functionam
Quo ad sanationam

: Ad malam
: Ad malam
: Ad malam