Anda di halaman 1dari 20

MANAJEMEN

SHIFT KERJA

Disusun Oleh:
Okta Sulistia Sari ( 172 111 011 )

LATAR BELAKANG
Palmer et
al, 1996

Harrison &
Horne, 2000

Suardi,
2005

Enam puluh persen kecelakaan di Angkatan Udara (AS)


disebabkan oleh kelelahan
Empat kecelakaan terbesar pusat listrik tenaga nuklir
disebabkan oleh faktor manusia pada waktu permulaan shift
pagi. Bahkan diperkirakan 200.000 kecelakaan mobil (di
AS) per tahun juga disebabkan oleh kelelahan dan ganguan
tidur
Pada tahun 2003, terdapat 51523 kasus kecelakaan kerja
yang terdiri dari 45234 kasus cidera kecil, 1049 kasus
kematian, 317 kasus catat total dan 5400 cacat sebagian

Kecelakaan dan kesehatan kerja selalu akan berhubungan dengan


kelelahan, shift dan waktu kerja. Shift dan kerja malam hari adalah
kondisi yang dapat menghambat kemampuan adapatasi pekerja baik
dari aspek biologis maupun sosial. Dari banyaknya akibat negatif dari
shift kerja makalah ini akan merumuskan penyusunan shift kerja yang
mempertimbangkan berbagai aspek kesehatan dan keselamatan kerja.

SHIFT KERJA

Tayari and Smith


(1997)

Oxord Advanced
Learners
Dictionary(2005)

Bhattacharya dan
Mc Glothlin (1996)

shift kerja sebagai periode waktu 24 jam yang satu atau


kelompok orang dijadwalkan atau diatur untuk bekerja di
tempat kerja.

shift kerja sebagai suatu periode waktu yang dikerjakan oleh


sekompok pekerja yang mulai bekerja ketika kelompok
yang lain selesai.

shift kerja yang mendasar adalah waktu dari sehari seorang pekerja
harus berada di tempat kerja. Dengan definisi ini, semua pekerja
yang dijadwalkan berada di tempat kerja secara teratur, termasuk
pekerja siang hari, adalah pekerja shift.

BENTUK
Shift berputar (rotation)
Shift tetap (permanent)
Dalam merancang perputaran shift harus
diperhatikan:
- Kekurangan istirahat harus ditekan sekecil
mungkin untuk meminimumkan kelelahan
- Ketersediaan waktu untuk kehidupan keluarga
dan sosial

SHIFT KERJA YANG


PROFESIONAL
Dalam aspek-aspek penentu kepuasan kerja karyawan, jam kerja merupakan bagian dari kondisi
kerja yang menjadi salah satu indikator dalam mempengaruhi kepuasan kerja karyawan
(Munandar, 2001)

Teknik-teknik pengukuran waktu kerja dapat dibagi 2 :


a.Pengukuran waktu secara langsung, yaitu ; pengukuran yang dilaksanakan ditempat dimana
pekerja yang diukur dilaksanakan
b. Pengukuran secara tidak langsung, yaitu cara pengukuran kerja dengan menggunakan jam henti
(stop watch)

Smith menyimpulkan bahwa pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas dengan:


1.Meningkatnya keterampilan dan kecekatan tiap-tiap pekerja,
2.Menghemat waktu yang terbuang dalam pergantian tugas, dan
3.Menciptakan mesin dan penemuan lain yang dapat menghemat tenaga kerja.

EFEK DARI PEMBAGIAN SHIFT KERJA


YANG KURANG PROPORSIONAL
INTERNATIONAL AGENCY FOR RESEARCH
ON CANCER (IARC)
Divisi kanker dari WHO, menegaskan terjaga di
malam hari memicu sel kanker payudara bagi
perempuan dan kanker prostat bagi pria. Karena
kerja shift malam menjadi faktor karsinogen
pembaguan kerja yang tidak teratur juga bisa

memberi dampak psikologis contohnya stres dan


akan memberi dampak juga terhadap kinerja
karyawan perusahaan itu sendiri

PENGARUH DARI KERJA SHIFT PADA


KINERJA KARYAWAN
1.Secara umum, kinerja kerja shift dipengaruhi oleh kombinasi dari faktor-faktor
berikut:

a. Tipe pekerjaan.
Pekerjaaan yang menuntut secara mental (seperti inspeksi dan kontrol kualitas)
memerlukan kesabaran dan kehati-hatian. Pekerja shift mungkin akan kekurangan
dua hal tersebut.
b. Tipe sistem shift.
Gangguan irama tubuh (circadian rhythms) dapat menimbulkan kerugian terhadap
kemampuan fisik dan mental pekerja shift, khususnya ketika perubahan shift kerja
dan shift malam.
c. Tipe pekerja.
Untuk contoh, pekerja yang telah berusia tua memiliki kemampuan yang minimal
untuk untuk menstabilkan irama tubuh ketika perubahan shift kerja.

LANJUTAN
2.Kinerja shift malam yang rendah dapat dikaitkan dengan;
a) ritme tubuh yang terganggu
b) adaptasi yang lambat terhadap kerja shift malam
c) pekerja lebih produktif pada shift siang daripada shift malam
d) pekerja membuat sedikit kesalahan dan kecelakaan pada shift siang daripada shift
malam.
e) kehati-hatian pekerja menurun selama kerja shift malam, khususnya ketika pagipagi sekali. Hal ini mungkin penting diperhatikan terutama untuk tugas-tugas yang
memerlukan pengawasan yang terus-menerus (seperti operator mesin)
f) jika pekerja tidak mendapatkan tidur yang cukup untuk shift kerja, kinerja dapat
dipengaruhi secara buruk khususnya pekerjaan yang memerlukan tingkat kehatihatian yang tinggi.

KESELAMATAN DAN KESEHATAN


KERJA, FATIQUE DAN SHIFT KERJA
- Faktor pekerja merupakan faktor yang sangat rentan terhadap kecelakaan
kerja. Beberapa penelitian berhasil mengidentifikasi beberapa faktor

manusia yang menyebabkan kecelakaan kerja yaitu umur, kemampuan,


pengalaman, obat-obatan/alkohol, gender,stres, kelelahan (fatique ), dan
motivasi kerja.
- Banyak perusahaan beroperasi lebih dari 8 jam per hari untuk memenuhi
kebutuhan pasardan karena keterbatasan sumberdaya/fasilitas.
Konsekuensinya, perusahaan harus melakukan shift kerja.

Lanjutan
Shift kerja akan memiliki resiko dan mempengaruhi pekerja pada:
1. Aspek Fisiologis Circadian rhythms

2. Aspek Psikologis
3. Aspek Kinerja
4. Domestik dan social

FAKTOR DAN PENJADUALAN


SHIFT KERJA
Waktu untuk mengembalian kebugaran dari kelelahan akibat kerja menjadi bagian yang penting
dalam penyusunan shift kerjadan berhubungan dengan jadwal dan jam kerja
Tomei dkk
(2006)

ada kecenderungan meningkatnya kecemasan dan agresivitas pada akhir suatu shift.
Aspek demografi seperti umur dan jenis kelamin banyak menyita perhatian peneliti
terutama dalam pengaruhnya pada shift kerja.

Harma
dkk(2006)

membuktikan bahwa walaupun shift berhubungan dengan tidur, mengantuk


subyektif, kinerja dan kehidupan sosisl, tetapi umur hanya berpengaruh pada
perubahan banyaknya tidur, rasa mengantuk subyektif dan kewaspadaan
psikomotorik. Tidak ada hubungan langsung antara perbedaan umur dengan rasa
mengantuk dan kinerja pada shift malam.

Gustafsson
(2002)

menyatakan bahwa berkurangnya kualitas tidur pada pekerja


wanita berpengaruh terhadap stres, mudah terinfeksi, ada
perubahan mood dan somatic disstress

Lanjutan.
(Henning et
al,1998).
Dan(Lack &
Chamonux,2004)

Kostreva et. al
(2002)

Wu dan Wang
(2002) dan
(Dongen, 2006).

Penentuan kecepatan rotasi shift kerja juga berpengaruh terhadap aspek fisik
maupun mental pekerja , karena adanya korelasi antara circadian rhythms dan ritme
waktu tidur

Mengkaji secara numeris circadian rhythms dalam penyusunan shift kerja dan
mendukung hasil czeisler(1992) yang menyatakan bahwa perubahan shift kerja harus
perlahan, dan pola rotasi maju dengan waktu rotasi 2 minggu dengan waktu libur
rata-rata 2 hari/minggu

mengidentifikasi waktu kerja yang optimal berdasarkan beban kerja fisik


(denganVO2, %VO2max, dan RVO2). Shift kerja yang lama (>10 jam) seharusnya
dengan pengerjaan beban kerja yang lebih ringan dari intensitas shift 8 jam. Batas
beban kerja untuk shift kerja 4 jam dapat diberikan VO2max 10% lebih dari yang
disarankan untuk shift kerja 8 jam. Perbedaan inter-individual juga perlu
dipertimbangkan dalam pengaturan shift kerja

MANAJEMEN KERJA SHIFT


Tayari F and
Smith J.L. (1997)
Jika memungkinkan
lamanya kerja shift
malam dikurangi tanpa
mengurangi kompensasi
dan benefit lainnya.

Tiap shift siang atau


malam seharusnya
diikuti dengan paling
sedikit 24 jam libur dan
tiap shift malam dengan
paling sedikit 2 hari
libur, sehingga pekerja
dapat mengatur
kebiasaaan tidur mereka.

Lamanya kerja shift


tidak melebihi 8
jam.

Menyediakan fasilitas
kegiatan olah raga
seperti permainan bola
baskket, khususnya
untuk pekerja shift
malam.

Jumlah karyawan shift malam yang


diperlukan seharusnya dikurangi untuk
mengurangi jumlah hari kerja pekerja shift
malam.

Memungkinkan adanya
interaksi sosial dengan
teman kerja.

REGULASI SHIFT KERJA


Pada sidang ke-77 di Jenewa
tanggal 26 Juni 1990 dibahas
mengenai standar Internasional
bagi pekerja malam. The Night
Work Conventionmembahas
mengenai kesehatan dan
keselamatan, transfer kerja siang
hari, perlindungan bagi kaum
wanita, kompensasi dan
pelayanan sosial dst.

Menurut pasal 76 UndangUndang No. 13 tahun 2003,


pekerja perempuan yang
berumur kurang dari 18 (delapan
belas) tahun dan perempuan
hamil yang menurut keterangan
dokter berbahaya bagi kesehatan
dan keselamatan kandungannya
maupun dirinya dilarang
dipekerjakan antara pukul 23.00
sampai dengan pukul 07.00,

Perusahaan memiliki beberapa kewajiban yang harus dipenuhi sesuai


dengan Undang-Undang No.13/2003 yang lebih lanjutnya diatur dalam
Kep.224/Men/2003 tentang Kewajiban Pengusaha yang Mempekerjakan
Pekerja Perempuan antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00.

Lanjutan.
Memberikan makanan dan minuman bergizi

Menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat


kerja

Untuk 6 hari kerja : Waktu Kerja 7 jam/hari (hari ke1-5), 5


jam/hari (hari ke-6) , 40 jam/minggu
Untuk 5 hari kerja : waktu kerja 8 jam/hari, 40 jam/minggu
lebih dari waktu ini dihitung waktu kerja lembur

Pengusaha yang
mempekerjakan
pekerja/buruh perempuan
antara pukul 23.00 sampai
dengan pukul 07.00 wajib :

Waktu kerja normal menurut


keputusan menteri tenaga
kerja dan transmigrasi, no.
Kep. 102/men/vi/2004.

Dalam Pasal 77 UU No.13 2003 ayat (2), mengenai jam


kerja.

Lanjutan.
Pasal 2, ayat (1) huruf b : Periode kerja maksimal 10 (sepuluh)
minggu berturut-turut bekerja, dengan 2 (dua) minggu berturutturut istirahat dan setiap 2 (dua) minggu dalam periode kerja
diberikan 1 (satu) hari istirahat.
Ayat 2, Dalam hal perusahaan menerapkan periode kerja
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b maka waktu kerja
paling lama 12 (dua belas) jam sehari tidak termasuk waktu
istirahat selama 1 (satu) jam.

Terkait dengan jam


kerja, dalam
peraturan Menteri

TUJUAN

Memanfaatkan sumberdaya manusia secara


efektif dan optimal
Dapat menekan resiko terjadinya kecelakaan
kerja
Mengurangi tingkat kejenuhan dalam bekerja
Mengurangi tingkat kelelahan dan stress
dalam bekerja
Meningkatkan motivasi kerja

KESIMPULAN
1.Terdapat dua golongan penyebab kecelakaan
yaitu tindakan/perbuatan manusia dan keadaan
lingkungan. Faktor manusia menempati posisi yang
sangat penting terhadap terjadinya kecelakaan kerja
yaitu antara 80-85% dan kelelahan kerja memberi
kontribusi 50% terhadap terjadinya kecelakaan
kerja.

2.Shift kerja berpengaruh


1)negative terhadap kesehatan fisik, mental
dansosial;
2)mengganggu psychophysiology homeostatis
seperti circadian rhythms ,waktu tidur dan makan;
3)mengurangikemampuan kerja, dan
meningkatnyakesalahan dan kecelakaan;
4)menghambat hubungan sosial dankeluarga; dan
5)adanya faktor resikopada saluran pencernaan,
sistem syaraf, jantung dan pembuluh darah3.

KESIMPULAN
3.Penggantian shift kerja sebaiknya dengan pola rotasi
maju dengan waktu rotasi kurang dari 2 minggu dan
dengan waktu libur rata-rata 2hari/minggu
4.Lama shift kerja sebaiknya tidak lebih dari 8 jam, jika
lebih dari jam tersebut beban kerja sebaiknya dikurangi
5.Pada pekerja dengan shift malam dianjurkan ada waktu
tidur siang sebelumnya dan bila melaksanakan pekerjaan
dengan pertimbangan khusus sebaiknya dilaksanakan
sebelum jam 4 pagi agar kesalahan dapat dikurangi
6.Aspek demografis seperti jenis kelamin dan umur perlu
diperhatikan dalam penyusunan shift kerja
7. Penentuan model penjadwalan kerja shift, perlu
dipertimbangankan tingkat fleksibilitasnya.

SEKIAN
DAN
TERIMAKASIH