Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PANCASILA

PANCASILA SEBAGAI
PARADIGMA DALAM
KEHIDUPAN BERBANGSA DAN
BERNEGARA
PENYUSUN

ANITA TRI UTAMI


MUFIDATUL KHASANAH
ERLY RUDIANINGSIH
ARTISTHA SHANDY IDOLA
MELIANITA
PUJI SUSANTI
LATAR BELAKANG
• Perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah pesat, sejalan
dengan kemajuan jaman, begitu pula dengan cara berpikir
masyarakat yang cenderung menyukai hal-hal yang dinamis.
Semakin banyak penemuan-penemuan atau penelitian yang
dilakukan oleh manusia, tidak menutup kemungkinan adanya
kelemahan-kelemahan didalamnya, maka dari itu dari apa
yang telah diciptakan atau diperoleh dari penelitian tersebut
ada baiknya berdasar pada nilai-nilai yang menjadi tolak
ukur kesetaraan dalam bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Yaitu sila pancasila
Dengan berpedoman pada nilai-nilai pancasila, apapun yang
diperoleh manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan
akan sangat bermanfaat untuk mencapai tujuan dalam
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara indonesia guna
melaksanakan pembangunan nasional, reformasi, dan
pendidikan pada khususnya.
Rumusan Masalah

● Peranan Pancasila Sebagai


Paradigma Kehidupan
Batasan Masalah

• Disini akan dibahas tentang


penjabaran paradigma,
Pancasila sebagai paradigma
Pembangunan, Reformasi
A. Pengertian Paradigma
Awalnya istilah Paradigma berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan terutama yang
kaitannya dengan filsafat ilmu pengetahuan. Tokoh yang mengembangkan istilah
tersebut dalam dunia ilmu pengetahuan adalah Thomas S. Khun dalam bukunya yang
berjudul The Structure of Scientific Revolution (1970: 49). Inti sari paradigma adalah
suatu asumsi-asumsi dasar dan asumsi teoritis yang umum dan dijadikan sumber
hukum, metode serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat
menentukan sifat, ciri dan karakter ilmu pengetahuan itu sendiri.
Dengan adanya kajian paradigma ilmu pengetahuan sosial kemudian
dikembangkanlah metode baru yang berdasar pada hakikat dan sifat paradigma ilmu,
yaitu manusia yang disebut metode kualitatif. Kemudian berkembanglah istilah ilmiah
tersebut dalam bidang manusia serta ilmu pengetahuan lain misalnya politik, hukum,
ekonomi, budaya, serta bidang-bidang lainya. Dalam kehidupan sehari hari paradigma
berkembang menjadi terminologi yang mengandung arti sebagai sumber nilai,
kerangka pikir, orientasi dasar, sumber asas, tolak ukur, parameter serta arah dan
tujuan dari suatu perkembangan, perubahan, dan proses dalam bidang tertentu
termasuk bidang pembangunan, reformasi, maupun pendidikan. Dengan demikian
paradigma menempati posisi dan fungsi yang strategis dalam proses kegiatan.
Perencanaan, pelaksanaan dan hasil- hasilnya dapat diukur dengan paradigma
tertentu yang diyakini kebenaranya.
B. Pancasila sebagai Paradigma
Pembangunan
Pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional mengandung suatu
konsekuensi bahwa dalam segala aspek pembangunan nasional kita harus
berdasar pada hakikat nilai sila-sila Pancasila yang didasari oleh ontologis
manusia sebagai subjek pendukung pokok negara. Dan ini terlihat dari
kenyataan obyektif bahwa pancasila dasar negara dan negara adalah
organisasi (persekutuan hidup) manusia. Dalam mewujudkan tujuan negara
melalui pembangunan nasional yang merupakan tujuan seluruh warganya
maka dikembalikanlah pada dasar hakikat manusia “monopluralis” yang
unsurnya meliputi : kodrat manusia yaitu rokhani (jiwa) dan raga, sifat kodrat
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, dan kedudukan kodrat
manusia sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk
TuhanYME. Kedudukan Pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional
harus mmperlihatkan konsep berikut ini :
* Pancasila harus menjadi kerangka kognitif dalam identifikasi diri sebagai
bangsa
* Pancasila sebagai landasan pembangunan nasional
* Pancasila merupakan arah pembangunan nasioanl
* Pancasila merupakan etos pembangunan nasional
* Pancasila merupakan moral pembangunan
Sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia maka
pembangunan nasional harus meliputi aspek jiwa, seperti akal, rasa dan
kehendak, raga (jasmani), pribadi, sosial dan aspek ketuhanan yang
terkristalisasi dalam nilai-nilai pancasila. Selanjutnya dijabarkan dalam
berbagai bidang pembangunan antara lain politik, ekonomi, hukum,
pendidikan, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta bidang
kehidupan agama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hakikatnya Pancasila
sebagai paradigma pembangunan mengandung arti atas segala aspek
pembangunan yang harus mencerminkan nilai-nilai pancasila.
1. Pancasila sebagai Paradigma
Pengembangan Iptek
Pancasila merupakan satu kesatuan dari sila silanya harus merupakan sumber nilai, kerangka
pikir serta asas moralitas bagi pembangunan iptek. Sebagai bangsa yang memiliki pandangan
hidup pancasila, maka tidak berlebihan apabila pengembangan iptek harus didasarkan atas
paradigma pancasila. Apabila kita melihat sila demi sila menunjukkan sistem etika dalam
pembangunan iptek.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, mengkomplementasikan ilmu pengetahuan, mencipta,


perimbangan antara rasional dan irasional, antara akal, rasa dan kehendak. Sila ini
menempatkan manusia di alam semesta bukan merupakan pusatnya melainkan sebagai bagian
yang sistematik dari alam yang diolahnya (T. Jacob, 1986), dapat disimpulkan berdasarkan sila
ini iptek selalu mempertimbangkan dari apa yang ditemukan, dibuktikan, dan diciptakan, adakah
kerugian bagi manusia.
Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, menekankan bahwa iptek haruslah bersifat beradab
dan bermoral, sehingga terwujud hakikat tujuan iptek yaitu, demi kesejahteraan umat manusia.
Bukan untuk kesombongan dan keserakahan manusia melainkan harus diabdikan demi
peningkatan harkat dan martabat manusia.
Sila Persatuan Indonesia, memberikan kesadaran kepada bangsa indonesia bahwa rasa
nasionalime bangsa indonesia akibat dari adanya kemajuan iptek, dengan iptek persatuan dan
kesatuan bangsa dapat terwujud dan terpelihara, persaudaraan dan persahabatan antar daerah
diberbagai daerah terjalin karena tidak lepas dari faktor kemajuan iptek.

Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,
mendasari pengembangan iptek secara demokratis. Disini ilmuwan tidak hanya ditempatkan
untuk memiliki kebebasan dalam pengembangan iptek, namun juga harus ada saling
menghormati dan menghargai kebebasan orang lain dan bersikap terbuka untuk menerima
kritikan, atau dikaji ulang dan menerima perbandingan dengan penemuan teori lainya.
Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, iptek didasarkan pada keseimbangan keadilan
dalam kehidupan kemanusiaan, yaitu keseimbangan keadilan dalam hubunganya dengan dirinya
sendiri, manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat
bangsa dan negara, serta manusia dengan alam lingkunganya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sila-sila pancasila harus merupakan sumber nilai, kerangka pikir
serta basis moralitas bagi pengembangan iptek.
2. Pancasila sebagai Paradigma
Pembangunan POLEKSOSBUD HANKAM

Dalam bidang kenegaraan penjabaran


pembangunan dituangkan dalam GBHN yang dirinci
dalam bidang-bidang operasional serta target
pencapainya, bidang tersebut meliputi
POLEKSOSBUD HANKAM. Dalam mewujudkan
tujuan seluruh warga harus kembali berdasar pada
hakikat manusia yaitu monopluralis, yang artinya
meliputi berbagai unsur yaitu rokhani-jasmani,
individu-makhluk sosial, serta manusia sebagai
pribadi-makhluk Tuhan YME. Maka hakikat manusia
merupakan sumber nilai bagi pengembangan
POLEKSOSBUD HANKAM, guna membangun
martabat manusia itu sendiri.
a. Pancasila sebagai
Paradigma Pengembangan
Bidang Politik
Politik sangat berperan penting dalam peningkatan harkat dan martabat
manusia, karena sistem politik negara harus berdasarkan hak dasar
kemanusiaan, atau yang lebih dikenal dengan hak asasi manusia.
Sehingga sistem politik negara pancasila mampu memberikan dasar-
dasar moral, diharapakan supaya para elit politik dan penyelenggaranya
memiliki budi pekerti yang luhur, dan berpegang pada cita-cita moral
rakyat yang luhur. Sebagai warga negara indonesia manusia harus
ditempatkan sebagai subjek atau pelaku politik, bukan sekedar objek
politik yang diharapkan kekuasaan tertinggi ada pada rakyat. Kekuasaan
adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Karena Pancasila
sebagai paradigma dalam berpolitik, maka sistem politik di indonesia
berasaskan demokrasi, bukan otoriter.
Berdasar pada hal diatas, pengembangan politik di indonesia harus
berlandaskan atas moral ketuhanan, moral kemanusiaan, moral
persatuan, moral kerakyatan, dan moral keadilan, apabila pelaku politik
baik warga negara maupun penyelenggaranya berkembang atas dasar
moral tersebut maka akan menghasilkan perilaku politik yang santun dan
bermoral yang baik.
b. Pancasila sebagai
Paradigma Pembangunan
Ekonomi
Sesuai dengan Paradigma Pancasila dalam pembangunan ekonomi, maka
sistem dan pembangunan ekonomi berpijak pada nilai moral daripada
pancasila. Secara khusus, sistem ekonomi harus mandasarkan pada
moralitas ketuhanan, dan kemanusiaan. Hal ini untuk menghindari adanya
pengembangan ekonomi yang cenderung mengarah pada persaingan
bebas, yaitu yang terkuat dialah yang akan menang, seperti yang pernah
terjadi pada abad ke-18, yaitu tumbuhnya perekonomian kapitalis. Dengan
adanya kejadian pada abad ke-18 tersebut, maka eropa pada awal abad
ke-19 bereaksi untuk merubah perkembangan ekonomi tersebut menjadi
sosialisme komunisme, yang berjuang untuk nasib rakyat proletar yang
sebelumnya ditindas oleh kaum kapitalis.
Ekonomi yang humanistik mendasarkan pada tujuan demi
mensejahterakan rakyat luas, sistem ekonomi ini di kembangkan oleh
mubyarto, yang tidak hanya mengejar pertumbuhan saja melainkan demi
kemanusiaan dan kesejahteraan seluruh bangsa. Tujuan ekonomi adalah
memenuhi kebutuhan manusia, agar manusia menjadi lebih sejahtera,
oleh sebab itu kita harus menghindarkan diri dari persaingan bebas,
monopoli dan yang lainnya yang berakibat pada penderitaan manusia dan
penindasan atas manusia satu dengan lainnya.
c. Pancasila sebagai
Paradigma Pengembangan
Sosial Budaya
Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik karena memang Pancasila berdasar
pada hakikat dan kedudukan kodrat manusia itu sendiri. Hal ini sebagaimana tertuang
dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab, yang diharapkan menghasilkan
manusia yang berbudaya dan beradab.
Dalam rangka melakukan reformasi disegala bidang, hendaknya indonesia berdasar
pada sistem nilai yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh bangsa
indonesia itu sendiri yaitu nilai pancasila yang merupakan sumber normatif bagi
peningkatan humanisasi khususnya dalam bidang sosial budaya. Sebagai kerangka
kesadaran pancasila dapat merupakan dorongan untuk ;
1. Universalisasi, yaitu melepaskan simbol-simbol dari keterkaitan struktur
2. Transendentalisasi, yaitu meningkatkan derajat kemerdekaan manusia dan
kebebasan spiritual (koentowijoyo,1986)
Dengan demikian proses humanisasi universal akan dehumanisasi serta aktualisasi
nilai hanya demi kepentingan kelompok sosial tertentu yang diharapkan mampu
menciptakan sistem sosial budaya yang beradab.
Berdasar sila Persatuan Indonesia pembangunan sosial budaya dikembangkan atas
dasar penghargaan terhadap nilai sosial dan budaya-budaya yang beragam di seluruh
wilayah nusantara menuju pada tercapainya rasa persatuan sebagai bangsa.
Pengakuan serta penghargaan terhadap budaya dan kehidupan sosial berbagai
kelompok bangsa sangat diperlukan sehingga mereka merasa dihargai dan diterima
sebagai warga bangsa, dengan demikian pembangunan sosial budaya tidak akan
menciptakan kesenjangan, kecemburuan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial.
d. Pancasila sebagai
Paradigma Hankam
Salah satu tujuan bernegara adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah
darah Indonesia, hal ini mengandung makna bahwa tugas dan tanggung jawab tidak
hanya terletak pada penyelenggara negara semata, akan tetapi juga rakyat Indonesia
secara keseluruhan. Atas dasar tersebut sistem pertahanan dan keamanan adalah
mengikut sertakan seluruh komponen bangsa. Sistem partahanan dan keamanan
Indonesia disebut sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata).

Dasar-dasar kemanusiaan yang beradab merupakan basis moralitas pertahanan dan


keamanan negara. Maka dari itu pertahanan dan keamanan negara harus
mendasarkan pada tujuan demi terjaminya harkat dan martabat manusia, terutama
secara rinci terjaminya hak-hak asasi manusia. Dengan adanya tujuan tersebut maka
pertahanan keamanan negara harus dikembangkan berdasarkan nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila, guna mencapai tujuan yaitu demi tercapainya
kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan YME (sila II), Pancasila juga
harus mendasarkan pada tujuan demi kepentingan warga sebagai warga negara (Sila
III), pertahanan keamanan harus mampu menjamin hak-hak dasar, persamaan derajat
serta kebebasan kemanusiaan (sila IV) dan akhirnya pertahanan keamanan haruslah
diperuntukkan demi terwujudnya keadilan keadilan dalam hidup masyarakat atau
terwujudnya suatu keadilan sosial, dan diharapkan negara benar-benar meletakkan
pada fungsi yang sebenarnya sebagai negara hukum dan bukannya suatu negara yang
berdasarkan atas kekuasaan sehingga mengakibatkan suatu pelanggaran terhadap
hak asasi manusia.
e. Pancasila sebagai
Paradigma Pengembangan
Kehidupan Beragama
Tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia mengalami adanya suatu
kemunduran, yaitu kehidupan beragama yang tidak berkemanusiaan. hal ini dapat kita
lihat adanya suatu kenyataan banyak terjadinya konflik sosial pada masalah-masalah
SARA, terutama pada masalah agama, sebagai contoh tragedi di Ambon, Poso, Medan,
Mataram, Kupang, dan masih banyak lagi daerah yang lain yang terlihat semakin
melemahnya toleransi dalam kehidupan beragama sehingga menyimpang dari asas
kemanusiaan yang adil dan beradab.
Pancasila telah memberikan dasar-dasar nilai yang fundamental bagi umat bangsa
untuk dapat hidup secara damai dalam kehidupan beragama di negara Indonesia
tercinta ini. Sebagai makhluk Tuhan YME manusia wajib untuk beribadah kepada
Tuhan YME dimanapun mereka hidup. Akan tetapi Tuhan menghendaki kehidupan
manusia yang penuh kedamaian dengan hidup berdampingan, saling menghormati,
meskipun Tuhan menciptakan adanya perbedaan, berbangsa-bangsa, bergolong-
golong, berkelompok, baik sosial, politik, budaya maupun etnis tidak lain untuk
kehidupan yang damai berdasar pada kemanusiaan.
Dalam Pokok Pikiran IV, negara menegaskan bahwa, Negara berdasar atas Ketuhanan
Yang Maha Esa, atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, hal ini berarti bahwa
kehidupan dalam negara berdasar pada nilai-nilai ketuhanan, dengan memberikan
kebebasan atas kehidupan beragama atau dengan menjamin atas demokrasi dibidang
agama. Setiap agama memiliki dasar-dasar ajaran yang sesuai dengan keyakinan
masing-masing dengan mendasarkan pergaulan kehidupan dalam beragama atas nilai-
nilai kemanusiaan yang beradab dan berdasar bahwa pemeluk agama adalah bagian
dari umat manusia di dunia. Maka sudah seharusnya negara Indonesia
mengembangkan kehidupan beragama ke arah terciptanya kehidupan bersama yang
penuh toleransi, saling menghargai berdasar pada nilai kemanusiaan yang beradab.
C. Pancasila sebagai
Paradigma Reformasi
Saat ini Indonesia tengah berada pada era reformasi yang telah diperjuangkan sejak tahun
1998. ketika gerakan reformasi melanda Indonesia maka seluruh tatanan kehidupan dan
praktik politik pada era Orde Baru banyak mengalami keruntuhan. Bangsa Indonesia ingin
menata kembali (reform) tatanan kehidupan yang berdaulat, aman, adil, dan sejahtera.
Tatanan kehidupan yang berjalan pada era orde baru dianggap tidak mampu memberi
kedaulatan dan keadilan pada rakyat. Namun dalam mencapai terwujudnya reformasi
bangsa Indonesia harus mangalami berbagia dampak, baik dampak sosial, politik, ekonomi,
terutama kemanusiaan. Berbagai gerakan bermunculan yang disertai dengan akibat tragedi
kemanusiaan, yang banyak menelan korban terlebih rakyat kecil yang tidak berdosa yang
mendambakan adanya kehidupan penuh kedamaian ketentraman serta kesejahteraan.
Namun demikian ada satu yang tersisa dari keterpurukan bangsa Indonseia, yaitu
keyakinan akan nilai yang dimilikinya, yaitu nilai yang berakar dari pandangan hidup
bangsa indonesia yaitu nilai-nilai Pancasila. Jadi reformasi yang dilakukan bangsa
Indonesia adalah menata kehidupan bangsa dan negara dalam suatu sistem negara
dibawah nilai-nilai Pancasila, bukan menghancurkan dan membubarkan bangsa dan negara
Indonesia. Oleh karena itu Pancasila sangat tepat sebagai paradigma, acuan, kerangka dan
tolak ukur gerakan reformasi di Indonesia.

Oleh karena itu bilamana bangsa Indonesia meletakkan sumber nilai, dasar filosofi serta
sumber norma kepada nilai-nilai tersebut bukanlah suatu keputusan yang politisi saja
melainkan keharusan yang bersumber pada kenyataan obyektif pada bangsa indonesia
sendiri. Perubahan yang dilakukan reformasi dalam berbagai bidang sering diteriakkan
dengan jargon reformasi total tidak mungkin melakukan perubahan terhadap sumbernya itu
sendiri. Opleh karena itu reformasi harus memiliki tujuan, dasar, cita-cita serta platform
atau landasan yang jelas dan bagi bangsa Indonesia nilai-nilai Pancasila itulah yang
merupakan Paradigma Reformasi Total tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

WWW.GOOGLE.COM