Anda di halaman 1dari 28

Anemia pada

Kehamilan
Anesty Claresta
102011223
E1
FK UKRIDA 2011

Skenario
Ny.TK,

umur 25 tahun datang ke dokter


untuk memeriksakan kehamilannya yang
kedua. Pasien sudah diketahui hamil
empat bulan. Keluhannya adalah sakit
kepala dan lesu. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan semua dalah keadaan
normal kecuali konjungtiva pucat. Pada
pemeriksaan laboratorium didapatkan
kadar Hb 9g/dL.

Adaptasi Sistem Hemodinamik


Kehamilan
Kehamilan

menyebabkan serangkaian
perubahan fisiologik yang sering
mengacaukan diagnosa penyakit
hematologi dan penentuan terapi.

Salah

satu yang paling penting adalah


terjadinya perubahan volume plasma
yang tidak sebanding dengan
perubahan volume darah secara
keseluruhan sehingga menyebabkan
penurunan hemtokrit.

in RBC mass

demand for
iron

in total body
iron stores

in serum
ferritin levels

Anamnesis

Menanyakan identitas ibu (nama pasien, nama suami, alamat,


agama, pendidikan terakhir, pekerjaan, suku bangsa)
Menyakan keluhan utama, sudah berapa lama dirasakan, dan
adakah hubungannya dengan kehamilannya saat ini, apakah pada
kehamilan terdahulu (jika sudah pernah melahirkan sebelumnya)
keluhan ini dirasakan juga.
Sekarang sudah hamil berapa bulan? Sudah kehamilan yang ke
berapa? Adakah komplikasi selama kehamilan terdahulu? Pernah
keguguran atau tidak?
Apakah ada keluhan lain seperti demam, hemoroid, kelelahan,
pusing, cepat lelah, nafsu makan berkurang, dll?
Apakah pernah ada pendarahan sebelumnya?
Apakah memiliki penyakit kronis seperti gagal ginjal kronis, SLE, dll?
Bagaimana kebiasaan makan sehari-hari? Apakah mengonsumsi
makanan dengan gizi seimbang?
Apakah pernah mengonsumsi obat-obatan selama kehamilan? Obat
apa?
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit hemolitik?

Pemeriksaan Fisik
Keadaan

umum pasien, kesadaran dan


tanda-tanda vital.
Mengukur tinggi badan dan berat badan
pasien.
Adakah sklera ikterik, dan konjungtiva
pucat.
Memeriksa bunyi jantung ibu dan janin.
Melakukan palpasi hepar dan limpa
untuk mengetahui adakah perbesaran
organ

Pemeriksaan Penunjang
CBC,

SHDT, MCV, MCH, MCHC


SI, TIBC, Ferritin
Elektroforesis Hb
Hitung aktifitas glucose-6-phosphate
dehydrogenase (G6PD).
One Tube Osmotic Fragility Test (OTOFT)

WD : Anemia pada
Kehamilan
Anemia

adalah kondisi saat


berkurangnya sel darah merah (eritrosit)
dalam sirkulasi darah atau massa
hemoglobin sehingga tidak mampu
memenuhi fungsinya sebagai pembawa
oksigen ke seluruh jaringan.
Indikasi anemia pada kehamilan:

<11 g/dL trimester 1


<10,5 g/ dL trimester 2

Etiologi
Acquired

Anemia defisiensi zat besi


Anemia akibat perdarahan akut
Anemia karena keganasan atau inflamasi
Anemia megaloblastik
Anemia hemolitik yang acquired
Anemia aplastik atau hipoplastik

Thalassemia
Sickle-cell hemoglobinopathies
Hemoglobinopathie lain
Anemia hemolitik herediter

Herediter

Epidemiologi

Terutama dinegara berkembang.


WHO : ibu-ibu hamil yang mengalami
defisiensi besi sekitar 35-75% serta semakin
meningkat seiring dengan pertambah usia
kehamilan. Menurut
WHO : 40% kematian ibu dinegara
berkembang berkaitan dengan anemia
pada kehamilan
SKRT (1995) angka anemia ibu hamil yaitu
51,8% pada trimester I, 58,2% pada trimester II
dan 49,4% pada trimester III.

Patofisiologi

Anemia defisiensi besi : kurang Fe Heme tidak terbentuk


ggn pembentukan hemoglobin
Anemia akibat peny.kronis : ggl ginjal kronis, SLE, dll ggn
hormon eritropoiesis ginjal.
Anemia def. Folat : ggn pematangan eritrosit
Thalassemia : hilangnya rantai polipeptida atau globin
ggn pembentukan hemoglobin
AIHA : autoimun terhadap sel darah merah
Defisiensi G6PD : umur eritrosit memendek, hemolisis bisa
dicetuskan oleh obat
Anemia aplastik : pembentukan sel darah yang kurang,
kurangnya kemampuan sumsum tulang untuk
memproduksi darah. Anemia ini bisa timbul sendiri saat
kehamilan dan hilang saat kehamilan selesai.

Gejala Klinis

Lemah letih
Palpitasi
Cepat lelah
Lunglai
Sering pusing
Mata berkunang-kunang
Lidah luka
Nafsu makan turun (anoreksia)
Konsentrasi hilang
Nafas pendek (pada anemia parah)
Mual muntah lebih hebat pada hamil muda
Pucat pada mukosa bibir dan faring, telapak tangan dan
dasar kuku, konjungtiva mata.

Anemia Defisiensi Besi

Kejadian yang paling sering


Pada minggu ke 30, absorbsi sekitar 30% asupan zat
besi yang ada ; pada minggu ke 36 , absorbsi sekitar
66% asupan zat besi yang ada ( 9 kali lipat aborbsi
pada minggu ke 16)
Kehamilan adalah situasi dimana kebutuhan zat besi
meningkat dan diperkirakan selama 40 minggu
kehamilan kebutuhan zat besi wanita hamil adalah
750 mg yang terdiri dari :
425 mg untuk ibu
300 mg untuk janin
25 mg untuk plasenta
Bisa disebabkan oleh karena intake kurang, maupun
penyerapan di usus yang berkurang (akibat askariasis,
pendarahan GIT, dll)

Anemia Defisiensi Besi

Penatalaksanaan :

Pemberian preparat besi- fero sulfat, fumarat atau


glukonas yang dapat memberikan 200 mg
elemen besi.
Pengobatan dilanjutkan hingga 3 bulan setelah
koreksi anemia untuk mengembalikan cadangan
besi.
Peningkatan hemoglobin minimal 0,3 g/dl tiap
minggu.
Jika wanita tersebut tidak dapat mentoleransi
preparat besi maka terapi parenteral dapat
diberikan

Anemia Akibat Penyakit Kronis


Perubahan

fungsi retikuloendotel,
metabolisme besi, produksi eritropoietin.
Akibat penyakit : HIV, SLE, Gagal ginjal
kronis, inflamatory bowel disease,
neoplasma ganas, artritis reumatoid
Penatalaksanaan : zat besi adekuat, beri
eritropoietin rekombinan bila Ht
mendekati 20% ES :hipertensi.

Anemia Defisiensi As.Folat

Anemia Megaloblastik
Semakin rendah kadar Hb, semakin besar
kemungkinan menderita anemia megaloblasik.
Dugaan anemia megaloblastik : bila hapusan
darah menunjukkan adanya > 7% neutrofil
memiliki > 5 lobus. Konfirmasi dilakukan dengan
pemeriksaan sumsum tulang.
Defisiensi asam folat lebih sering dibandingkan
defisiensi vitamin B12, karena selama kehamilan
kebutuhan asam folat meningkat dari 50-100
ug/hari menjadi 400 ug/hari

Anemia Defisiensi As.Folat


Asam

folat oral 1-5 mg/hari diberikan


hingga beberapa minggu setelah
melahirkan. diharapkan kadar hematokrit
meningkat 1% setiap harinya dimulai sejak
hari 5-6 pengobatan.
Hitung retikulosit juga menigkat dan
merupakan perubahan morfologi yang
paling awal terlihat.

Thalassemia
Penatalaksanaan

:
Tranfusi packed red cell untuk
mempertahankan kadar hemoglobin > 910 g/dl.
Selain itu juga diberikan terapi kelasi besi
dan pemantauan adanya overload dari
besi yang dapat menimbulkan kerusakan
jantung, hati dan organ endokrin.

Anemia Hemolitik
Defisiensi

G6PD, AIHA, Anemia hemolitik


imbas obat.
Penatalaksanaan :

Hindari penyebab (obat-obatan pencetus


hemolitik, infeksi)
Pada kasus idiopatik atau autoimun
pemberian glukokortikoid seperti prednison
1 mg/kg bb/hari cukup efektif.

Anemia Aplastik atau


Hipoplastik

Kegagalan sumsung tulang yang menyebabkan


anemia jarang terjadi selama kehamilan.
Kejadian ini dapat berlangsung secara sekunder
akibat bahan-bahan : kloramfenikol, fenilbutazone,
mepheyntoin , kemoterapeutika atau insektisida.
Pada kehamilan biasanya sembuh spontan dan
diperkirakan merupakan reaksi imunologis yang
terjadi selama kehamilan.
Rentan terjadi gangguan kehamilan akibat infeksi
dan pendarahan
Morbiditas ibu tinggi

Anemia Aplastik atau


Hipoplastik
Penatalaksanaan

Infeksi antimikroba sedini mungkin, dan


beri transfusi granulosit
Transfusi SDM untuk mempertahankan
kadar Ht sekitar 20%
Transfusi trombosit untuk mengendalikan
pendarahan
Terminasi kehamilan, jika trombositopenia
berat usahakan lahir pervaginam
Transplantasi sumsum tulang

Komplikasi
Bahaya Pada Trimester I
Pada trimester I, anemia dapat menyebabkan terjadinya
missed abortion, kelainan congenital akibat gangguan
vaskularisasi plasenta.
Bahaya Pada Trimester II
partus premature, perdarahan ante partum, gangguan
pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrapartum
sampai kematian, mudah terkena infeksi, dan
dekompensasi kordis hingga kematian ibu.
Bahaya Saat Persalinan
Pada saat persalinan anemia dapat menyebabkan
gangguan his primer, sekunder, janin lahir dengan anemia,
persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi karena ibu
cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu
tindakan operatif,syok.
Bahaya saat nifas
Subinvolusio uteri sehingga perdarahan post partum, infeksi
puerpuralis, asi berkurang, infeksi mammae, anemia pada
bayi.

Prognosis
Prognosis

anemia dalam kehamilan


umumnya baik bagi ibu dan anak
tergantung dari jenis anemia dan tingkat
keparahannya.
Umumnya, anemia yang tidak terlalu
parah dan dapat diatasi penurunan Hb
nya tidak akan mengganggu kehamilan
dan janin.
Anemia aplastik dan anemia hipoplastik
berat yang tidak diobati mempunyai
prognosis buruk, baik bagi ibu maupun
bagi anak

Pencegahan

Pemeriksaan kadar Hb setiap 3 bulan untuk


mengenal anemia sedini mungkin atau dilakukan
minimal dua kali selama kehamilan yaitu pada
trimester I dan III.
Pemberian suplemen Fe dosis rendah 30 mg pada
trimester ketiga ibu hamil non anemik (Hb
11g/dl), sedangkan untuk ibu hamil dengan
anemia defisiensi besi dapat diberikan suplemen
Fe sulfat 325 mg 60-65 mg, 1-2 kali sehari.
Untuk yang disebabkan oleh defisiensi asam folat
dapat diberikan asam folat 1 mg/hari atau untuk
dosis pencegahan dapat diberikan 0,4 mg/hari.
Dan bisa juga diberi vitamin B12 100-200 mcg/hari.

Pencegahan

Mengkonsumsi makanan yang mengandung


zat besi. Kandungan zat besi dapat
diperoleh sumber besi dapat diperoleh
dari makanan seperti : hati, daging telur,
buah, sayuran yang mengandung
klorofil.Makanan tersebut hendaknya
dimasak tidak terlalu lama, agar kandungan
besi di dalam makanan tidak berkurang.
Menjaga kebersihan lingkungan dan pribadi
Kontrol penyakit infeksi.

Pencegahan
Asupan

zat besi yang dikonsumsi dapat


dijaga agar terserap tubuh sebanyak
mungkin dengan mengkombinasikan
dengan makan vitamin C.
Mengatur jarak kehamilan atau kelahiran
bayi. Makin sering seorang wanita
mengalami kehamilan dan melahirkan,
akan makin banyak kehilangan zat besi
dan menjadi makin anemis.

Kesimpulan

Ibu yang sedang dalam masa kehamilan rentan


sekali menderita anemia.
Hal ini disebabkan karena darah ibu digunakan
untuk metabolisme tubuh ibu sendiri dan juga
untuk perkembangan janin.
Kurangnya intake zat-zat pembentukan darah
pada saat kehamilan juga dapat menyebabkan
anemia.
Penyakit anemia herediter yang sudah ada
sebelumnya juga akan dapat memperparah
anemia pada ibu hamil. Anemia dapat berakibat
buruk bagi proses kehamilan dan juga untuk
perkembangan janin.
Oleh karena itu, dibutuhkan penanganan yang
tepat, sesuai dengan jenis dan keparahan anemia
yang diderita agar ibu dan bayi sehat.