Anda di halaman 1dari 14

Nikel laterit adalah produk residual pelapukan

kimia pada batuan ultramafik. Proses ini


berlangsung selama jutaan tahun dimulai ketika
batuan ultramafik tersingkap di permukaan bumi.
Berdasarkan proses pembentukannya endapan
nikel laterit terbagi menjadi beberapa zona dengan
ketebalan dan kadar yang bervariasi.

Perbedaan intensitas inilah yang menyebabkan


ketidakteraturan dari distribusi pengkayaan unsurunsur pada profil laterit, karena pembentukan
endapan laterit sangat tergantung pada faktor-faktor
batuan dasar (source rock), laju pelapukan, struktur
geologi, iklim, topografi, reagen-reagen kimia dan
vegetasi, dan waktu.

Pengaruh
iklim
tropis
di
Indonesia
mengakibatkan proses pelapukan yang intensif, salah
satunya wilayah Sulawesi Tenggara merupakan daerah
dengan sumberdaya bijih nikel yang cukup besar. Selain
itu kondisi ini juga tidak terlepas oleh iklim, reaksi
kimia, struktur, dan topografi Sulawesi yang cocok
terhadap pembentukan nikel laterit.

Lokasi penelitian secara administratif terbentang


di empat desa di Kecamatan Tinanggea, Kabupaten
Konawe Selatan, yang terbagi menjadi 5 (lima) blok,
yaitu Blok A, Blok B, Blok C Barat, Blok C Timur dan
Blok D.
Jaringan jalan yang melintasi Tinanggea adalah
jalur Timur Sulawesi yang terkoneksi sepanjang pantai
timur P. Sulawesi mulai dari Kota Poso di wilayah
Provinsi Sulawesi Tengah ke Ampana - Pagimana Luwuk - Batui - Kolonedale Bungku - Lasolo - Kendari Tinanggea - Kolaka sampai dengan Tarengge di Provinsi
Sulawesi Selatan sepanjang 2.200 km

Sulawesi terletak pada pertemuan tiga Lempeng


besar yaitu yaitu Eurasia, Pasifik,
dan IndoAustralia serta sejumlah lempeng
lebih kecil (Lempeng Filipina) yang menyebabkan
kondisi tektoniknya sangat
kompleks.

1. Lapisan tanah penutup


Lapisan tanah penutup biasanya disebut iron
capping. Material lapisan berukuran lempung,
berwarna coklat kemerahan, biasanya terdapat juga
sisa-sisa tumbuhan. Pengkayaan Fe terjadi pada zona
ini kerena terdiri dari konkresi Feoksida mineral
hematite (Fe2O3) dan chromiferous (FeCr2O4) dengan
kandungan nikel relatif rendah. Tebal lapisan bervariasi
antara 0-2 m. Tekstur batuan asal tidak dapat dikenali
lagi. Kandungan unsur Ni pada zonaini <1% dan
Fe>30%.

2. Zona limonit
Merupakan lapisan berwarna cokelat muda, ukuran butir
lempung sampai pasir, tekstur batuan asal mulai dapat diamati
walupun masih sangat sulit, dengan tebal lapisan berkisar antara
1 10 m. Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal, dan sempat
hilang karena erosi pada zona limonit hampir seluruh unsur yang
mudah larut hilang terlindi, kadar MgO hanya tinggal kurang dari
2% berat dan kadar SiO2 berkisar 2-5% berat. Sebaliknya kadar
hematite menjadi sekitar 60 80% berat kadar Al2O3
maksimum 7% berat. Kandungan Ni pada zona ini berada pada
selang antara 1% sampai 1,4%. Zona ini didominasi oleh mineral
goethite, disamping juga terdapat magnetit, hematit, kromit,
serta kuarsa sekunder. Pada goethite terikat nikel, krom, kobalt,
vanadium, serta aluminium.

3. Zona saprolit
Merupakan lapisan dari batuan dasar yang sudah lapuk,
berupa bongkah-bongkah lunak berwarna coklat kekuningan
sampai kehijauan. Struktur dan tekstur batuan asal masih
terlihat. Perubahan geokimia zona saprolit yang terletak di atas
batuan asal ini tidak banyak, H2O dan nikel bertambah dengan
kadar Ni keseluruhan lapisan antara 2 4 % sedangkan
magnesium dan silikon hanya sedikit yang hilang terlindi. Zona
ini terdiri dari garnierit yang menyerupai bentuk vein, mangan,
serpentin, kuarsa sekunder yang bertekstur boxwork (tekstur
seperti jaring labalaba), krisopras dan beberapa tempat sudah
terbentuk limonit yang mengandung Fehidroksida.

4. Bedrock
Merupakan bagian terbawah dari profil nikel
laterit, berwarna hitam kehijauan, terdiri dari
bongkah-bongkah batuan dasar dengan ukuran >75
cm, dan secara umum sudah tidak mengandung
mineral ekonomis. Kadar mineral mendekati atau
sama dengan batuan asal, yaitu dengan kadar Fe
5% Ni dan Co antara 0,01 0,30%.

Analisis

XRD ( X-ray deffraction )


ditujukan untuk mengidentifikasi namanama mineral yang terdapat pada
endapan nikel laterit. Dari hasil analisi
xrd yang dilakukan terhadap beberapa
sampel yang mewakili bedrock
didapatkan kemunculan kelompok
mineral :

X-Ray Fluorescence (XRF) spektroskopi


merupakan teknik analisis unsur yang
membentuk suatu material dengan menjadikan
interaksi sinar-X dengan material analit sebagai
dasarnya. Berdasarkan hasil analisa XRF terhadap
sampel original bedrock yang dianggap fresh (
alterasi lemah ) pada setiap blok didapatkan
prosentase beberapa kandungan unsur unsur
sebagai berikut :