Anda di halaman 1dari 82

Instabilitas Postural, Jatuh, Fraktur,

Imobilisasi dan komplikasinya


Faza A
Maringga FR
Santoso F
Sarayar R
Yuneva A

INSTABILITAS POSTURAL

Pentingnya Perhatian pada Instabilitas


Postural Geriatri?
Instabilitas Postural jatuh fraktur
meningkatkan mortalitas pasien
Data Amerika 2006 40% orang usia >65
tahun mengalami jatuh dan 2% harus dirawat1
Data Amerika 2008 33% orang dengan usia
> 65 tahun dan 50% orang dengan usia > 80
tahun pernah jatuh dalam 1 tahun2
1.
2.

Rubenstein LZ. Falls in older people: epidemiology, risk factors and strategies for prevention. Age and Ageing.
2006; 35-S2:ii37ii4.
Berry SD, Miller R. Falls: Epidemiology, Pathophysiology, and Relationship to Fracture. Curr Osteoporos Rep.
2008; 6(4): 149154.

Pentingnya Perhatian pada Instabilitas


Postural Geriatri?
Data Indonesia 2003 Divisi Geriatri RSCM
prevalensi instabilitas postural 23,3%
Data Indonesia 2005 Divisi Geriatri RSCM
prevalensi instabilitas postural 64,9%
Sebuah review jatuh pada geriatric paling
banyak disebabkan oleh instabilitas postural3
1.

2.
3.

Handayani A. Prevalensi dan sebaran faktor-faktor risiko intrinsik sistemik yang mempengaruhi instabilitas
postural pada pasien geriatri di divisi geriatri departemen ilmu penyakit dalam RSUPN Cipto
Mangunkusumo Jakarta. Tesis 2003. Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Erwin. Sebaran faktor-faktor intrinsik lokal serta hubungannya dengan instabilitas postural/jatuh pada usia
lanjut di Divisi Geriatri RSCM. Tesis 2005. Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI
Borah D, Singh U, Wadhwa S, Bhattacharjee M. Postural stability: effect of age. IJPMR. 2007;18(1):7-10

Fisiologi Stabilitas Postural


Keseimbangan
Kontrol postural kontrol posisi tubuh untuk
stabilitas keseimbangan tubuh dapat
dipertahankan dan untuk orientasi agar
hubungan yang tepat antar segmen tubuh
serta antara tubuh dan lingkungan saat
melakukan kegiatan dapat dipertahankan
Beberapa Strategi
Setiati S, Laksmi PW. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam: Sudoyo AW, Setiyodadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ke 5. Jakarta: Interna Publishing;2009. Hlm 812-25.

Beberapa Strategi Kontrol Postural

Source: http://www.rls.mes.musashi tech.ac.jp/robotics/research2010/humanoid.html

Fisiologi Stabilitas Postural


Siklus berjalan

https://www.jaaos.org/content/15/2/107/F1.expansion

Fisiologi Stabilitas Postural


Mobilitas Fungsional
Mobilitas di tempat tidur
Transfer
Ambulasi
Mobilitas dengan kursi roda
Mengemudikan kendaraan

Setiati S, Laksmi PW. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam: Sudoyo AW, Setiyodadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ke 5. Jakarta: Interna Publishing;2009. Hlm 812-25.

Proses Penuaan pada Stabilitas


Postural
Latensi mioelektrik (waktu pramotor)
Keterlambatan waktu bergerak
Gangguan propioseptif

Keterbatasan ruang gerak sendi


Melemahnya kekuatan otot
Penurunan massa otot

Kekurangan vitamin D
Setiati S, Laksmi PW. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam: Sudoyo AW, Setiyodadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ke 5. Jakarta: Interna Publishing;2009. Hlm 812-25.

Instabilitas akibat Penuaan


Merupakan kombinasi dari:
Pengurangan kemampuan sensorik
Kelemahan otot terutama otot quadriceps
femoris
Peningkatan waktu reaksi

Pada intinya, kesalahan otak, organ


keseimbangan, atau otot
Borah D, Singh U, Wadhwa S, Bhattacharjee M. Postural stability: effect of age. IJPMR.
2007;18(1):7-10

Beberapa Tanda Khas Instabilitas


Postural pada Geriatri
Perubahan postur pada orang tua:
Jarak antara kedua kaki pada pijakan yang lebar
Lutut dan panggul sedikit fleksi
Punggung membentuk sudut ke arah depan
Vertebrae lumbal mendatar
Vertebrae torakal kifosis
Kepala maju ke depan

Beberapa Tanda Khas Instabilitas


Postural pada Geriatri
Perubahan cara berjalan:
Orang tua tidak mengangkat kaki terlalu tinggi
mudah terantuk
Peningkatan jumlah langkah dibandingkan jarak
langkah
Laki-laki : kedua kaki lebar dan langkah pendekpendek
Perempuan : kedua kaki menyempit dan gaya jalan
bergoyang-goyang

Strategi kontrol postural yang digunakan


strategi panggul (paling banyak)
Setiati S, Laksmi PW. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam: Sudoyo AW, Setiyodadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ke 5. Jakarta: Interna Publishing;2009. Hlm 812-25.

Beberapa Tanda Khas Instabilitas


Postural pada Geriatri
Selain gangguan vestibular dan propioseptif,
gangguan visual instabilitas postural
Terkadang hipotensi ortostatik instabilitas
Penurunan kekuatan otot saat berubah posisi
(misalkan dari berbaring ke posisi duduk)

Setiati S, Laksmi PW. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam: Sudoyo AW, Setiyodadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ke 5. Jakarta: Interna Publishing;2009. Hlm 812-25.

Hal yang Dikaji untuk Instabilitas


Postural

Riwayat penyakit
Ada tidaknya hipotensi postural
Ketajaman penglihatan
Pemeriksaan ekstrimitas
Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan keseimbangan dan mobilitas
fungsional

Setiati S, Laksmi PW. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam: Sudoyo AW, Setiyodadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ke 5. Jakarta: Interna Publishing;2009. Hlm 812-25.

Pemeriksaan Keseimbangan dan


Mobilitas Fungsional
Uji The Timed Up and Go
Digunakan untuk mengukur mobilitas,
keseimbangan dan pergerakan
Berapa detik waktu yg diperlukan untuk bangkit
dari kursi, berjalan sepanjang 3 meter, berbalik
arah ke kursi dan kemudian duduk kembali
Nilai < 10 kemandirian penuh, 10-19 mandiri
untuk berbagai aktivitas mobilitas, 20-29 variasi
dalam mobilitas dan keseimbangan, >30 mobilitas
terganggu
Setiati S, Laksmi PW. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam: Sudoyo AW, Setiyodadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ke 5. Jakarta: Interna Publishing;2009. Hlm 812-25.

Pemeriksaan Keseimbangan dan


Mobilitas Fungsional
Uji Menggapai Fungsional
Mengukur jarak terjauh seseorang berdiri mampu
menggapai atau mencondongkan badannya ke
depan tanpa melangkah
Nilai normal usia 41 69 tahun:
Laki-laki : 14,98 inci 2,21
Perempuan : 13,81 inci 2,2

Nilai normal usia 70 87 tahun


Laki-laki : 13,16 inci 1,55
Perempuan : 10,47 inci 3,5
Setiati S, Laksmi PW. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam: Sudoyo AW, Setiyodadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ke 5. Jakarta: Interna Publishing;2009. Hlm 812-25.

Pemeriksaan Keseimbangan dan


Mobilitas Fungsional
Uji Keseimbangan Berg
Diberikan 14 tugas yaitu: (nilai 0 hingga 4)

Duduk tanpa bantuan


Bangkit dari duduk ke berdiri
Berdiri ke duduk
Transfer
Berdiri tanpa bantuan
Berdiri dengan mata tertutup
Berdiri dengan kedua kaki rapat
Berdiri dengan kedua kaki dalam posisi tandem
Rotasi punggung saat berdiri
Mengambil obyek tertentu dari lantai
Berputar 360 derajat
Melangkahi kursi tanpa sandaran
Menggapai ke arah depam saat berdiri

Setiati S, Laksmi PW. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam: Sudoyo AW, Setiyodadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ke 5. Jakarta: Interna Publishing;2009. Hlm 812-25.

Instabilitas Postural dan Jatuh adalah


lingkaran setan?

Kesimpulan:
Terdapat post-fall syndrome
Setelah pasien jatuh rehabilitasi medic perlu

Tatalaksana dan Preventif Instabilitas


Postural
Mengobati hal yang mendasari terjadinya
instabilitas
Terapi fisik dan penyuluhan berupa latihan
cara berjalan, penguatan otot, alat bantu,
sepatu atau sandal yang sesuai
Mengubah lingkungan agar lebih nyaman
untuk geriatric
Inti : Edukasi pasien dan keluarga
Setiati S, Laksmi PW. Gangguan Keseimbangan, Jatuh, dan Fraktur. Dalam: Sudoyo AW, Setiyodadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ke 5. Jakarta: Interna Publishing;2009. Hlm 812-25.

Jatuh
Definisi : Keadaan yang tidak disengaja dimana
seseorang tiba-tiba berada di lantai atau tanah,
bukan karena kehilangan kesadaran, stroke,
kejang, atau dorongan.
Terjadi pada 30%-45% berusia >65 tahun, dan
50% nya jatuh lebih dari satu kali.
Wanita > pria
Lebih sering terjadi di rumah daripada rumah
sakit.
Insiden jatuh meningkat seiring dengan
pertambahan usia

Mekanisme Jatuh
Pergerakan tubuh

Pergeseran titik beban tubuh dari titik beban


semula
Usaha mempertahankan keseimbangan tidak efektif, tidak adekuat,
atau bahkan tidak ada

Slow reaction time


Komorbid

J A T U H

Faktor Risiko Jatuh


Interaksi
berbagai
faktor
Makin banyak faktor
risiko makin tinggi
peluang jatuh
Diperlukan modifikasi
faktor risiko jatuh
(yang dapat diubah)

Penyakit Kronis dan


Perubahan Akibat Penuaan
Keseimbangan (kontrol postural) (1)
Merupakan respon terhadap integrasi input sensorik
keseimbangan
Jatuh diusia tua berhubungan dengan instabilitas
mediolateral
Hilangnya keseimbangan dipengaruhi oleh kecepatan
pergeseran titik beban, gangguan sensoris,
ketidakmampuan otak mengintegrasikan input
sensorik, langkah yang kurang efektif, lambatnya
inisiasi reaksi berpegangan saat akan jatuh

Input sensoris (2)


Dilakukan oleh mata (visual), telinga (vestibular
dan pendengaran), mekanoseptor (proprioseptif)
Mata : penurunan visus, lapang pandang,
kedalaman persepsi penglihatan
Telinga : penurunan pendengaran, penyakit pada
telinga tengah (dapat mengganggu vestibular)
Mekanoseptor (apofisis sendi dan saraf perifer):
diperburuk dengan penyakit sendi degeneratif,
kelainan servikal dan neuropati perifer.
Keseimbangan di tempat gelap dan lantai yang tidak
rata

Central Processing (3)


Pemrosesan dan integrasi input-input sensorik
Dipengaruhi penyakit saraf : parkinson, stroke,
dementia
Dementia mengganggu persepsi dan
interprestasi stimulus sensoris
Depresi menurunkan konsentrasi dan
kesadaran terhadap lingkungan

Musculoskeletal impairment (4)


Kekuatan dan masa otot akan semakin menurun
dengan usia.
Otot ankle dorsiflexor
Otot aduktor dan adduktor panggul (menjaga
keseimbangan saat menghindari jatuh),
Osteoarthritis punggung, panggul, lutut, dan kaki
(nyeri, deformitas, ROM yang terbatas).
Artritis di tubuh bagian atas --> meningkatkan risiko
injuri jika jatuh.
Masalah kaki (kalus, bunions, kuku panjang) -->
mempengaruhi gaya berjalan sbg kompensasi nyeri dan
gangguan input sensoris.

Hipotensi postural
Penurunan TD sistolik >20mmHg saat berdiri ke
duduk dalam 3 menit
Dipengaruhi oleh obat, aging process atau
penyakit tertentu yg mempengaruhi kontrol
otonom tegangan vaskular.

Pengobatan
Peresepan 4 obat atau lebih meningkatkan
risiko terjatuh.
Obat tertentu memengaruhi keseimbangan
cairan elektrolit, tekanan darah, fatigue,
gangguan status mental, somnolen, pusing,
gangguan keseimbangan.

Penyakit Akut dan Hospital Discharge


Penyakit akan menyebabkan orang tua
bertambah lemah, penurunan kondisi, dan
mendapatkan pengobatan
Pneumonia, eksaserbasi CHF

Discharge dari RS meningkatkan risiko jatuh


hingga 4 kali lipat dalam 2 minggu pertama.

Lingkungan Eksternal
Home Safety!

Kesempatan Jatuh

Perilaku senang mengambil risiko


Poor judgement
Keinginan independen
Tidak ada orang lain yang membantu
Rasa takut jatuh saat berjalan dan transfer.

Dampak Jatuh

Fraktur
Laserasi
Injuri jaringan lunak
Trauma kepala
Injuri otak dan medulla
spinalis
Pembiayaan
Rasa takut jatuh
Pembatasan pergerakan
Kematian

Faktor risiko terjadinya


injuri setelah jatuh:
Osteoporosis
BMI dan BB yang rendah
Karakteristik jatuh
mekanisme, ketinggian

Upaya Menurunkan Jatuh dan Dampak Jatuh

Screening Risiko Jatuh


Menanyakan pengalaman jatuh dalam satu
tahun terakhir
Observasi saat bangkit dari duduk, berjalan,
ketidakstabilan, alat bantu

Assessment (1)
Mengetahui riwayat
penyakit dan pengobatan

Fungsi fisik
Mobilitas
Pemakaian alat bantu
ADL
Riwayat jatuh dan fraktur
Masalah kesehatan akut
atau kronik
Dosis dan frekuensi obat

Pemeriksaan fisik
Hipotensi postural
Nadi
Screening visual dan
pendengaran
Pemeriksaan ROM
PF arthritis
Deformitas kaki dan lesi
kaki
Pemeriksaan neurologi
Timed Up and Go Test
Performance Oriented
Mobility Assessment

Assessment (2)
Pemeriksaan Laboratorium:
Complete Blood Count
Glukosa darah
Elektrolit
BUN dan kreatinin
TSH
Kadar obat digoksin, antikonvulsan
Imaging jika ada kecurigaan penyakit tertentu

Tatalaksana Interdisiplin
Latihan untuk meningkatkan defisit
keseimbangan, mobilitas, dan kekuatan
Koreksi defisit sensoris
Evaluasi hipotensi postural
Tatalaksana masalah pada kaki
Modifikasi lingkungan tinggal
Tatalaksana osteoporosis

Pencegahan Jatuh di Rumah Sakit


Identifikasi pasien berisiko dan penilaian risiko
jatuh
Rencana perawatan untuk mencegah jatuh
Evaluasi insiden jatuh
Revisi rencana perawatan setelah adanya
kejadian jatuh

FRAKTUR

Fraktur pada Lansia


1,6 juta kasus fraktur pinggul di dunia setiap
tahunnya
Kasus meningkat secara eksponensial seiring
meningkatnya usia
Usia rata-rata pasien fraktur pinggul adalah 82
tahun
Duque G, Troen BR. Osteoporosis. In: Halter JB,
Ouslander JG Tinetti ME, Studenski S, High KP,
Asthana S. Hazzards Geriatric Medicine and
Gerontology. 6th ed. New York: McGraw Hill Medical;
2009

Osteoporosis
Massa tulang yang
rendah dan perburukan
mikroarsitektur tulang
Osteopenia diperkirakan
diderita oleh 28-47% pria
dan 37-50% wanita.
Osteoporosis
diperkirakan diderita
oleh 3-6% pria dan 1318% wanita
Duque G, Troen BR. Osteoporosis. In: Halter JB, Ouslander JG Tinetti ME, Studenski S, High KP, Asthana
S. Hazzards Geriatric Medicine and Gerontology. 6th ed. New York: McGraw Hill Medical; 2009

Mekanisme Osteoporosis pada Lansia

Duque G, Troen BR. Osteoporosis. In: Halter JB, Ouslander


JG Tinetti ME, Studenski S, High KP, Asthana S. Hazzards
Geriatric Medicine and Gerontology. 6th ed. New York:
McGraw Hill Medical; 2009

Osteoporosis
Sering underdiagnosed dan
undertreated
Silent disease, sering
asimptomatik sampai timbul
fraktur
Osteoporosis dapat disebabkan
penyakit lain atau obat-obatan
yang memiliki efek ke tulang
(osteoporosis sekunder)
Duque G, Troen BR. Osteoporosis. In: Halter JB, Ouslander JG Tinetti ME, Studenski S, High KP, Asthana
S. Hazzards Geriatric Medicine and Gerontology. 6th ed. New York: McGraw Hill Medical; 2009

T-score

Duque G, Troen BR. Osteoporosis. In: Halter JB, Ouslander JG


Tinetti ME, Studenski S, High KP, Asthana S. Hazzards Geriatric
Medicine and Gerontology. 6th ed. New York: McGraw Hill Medical;
2009

Faktor Risiko
Fraktur Osteporotik

Tatalaksana Osteoporosis pada Lansia

Duque G, Troen BR. Osteoporosis. In: Halter JB, Ouslander JG Tinetti ME, Studenski S, High KP, Asthana S. Hazzards Geriatric Medicine and
Gerontology. 6th ed. New York: McGraw Hill Medical; 2009

Gejala

Nyeri
Tampak memendek
Eksorotasi ekstremitas bawah
Kadang pasien sulit menopang
berat pada ekstremitas
Demensia dan delirium adalah
faktor risiko untuk jatuh dan
fraktur

Miller RM, Christmas C, Magaziner J. Hip Fractures. In: Halter JB, Ouslander JG Tinetti ME, Studenski S, High KP, Asthana S. Hazzards Geriatric Medicine
and Gerontology. 6th ed. New York: McGraw Hill Medical; 2009

Perawatan post operatif di rumah sakit


Pasien biasanya dirawat di rumah sakit selama
2-5 hari
Diet normal, kateter urin dilepas, fisioterapi
sejak H+1 post operatif
Pemantauan komplikasi post operatif (emboli
paru, pneumonia) dengan latihan fisik dan
terapi farmakologi untuk menurunkan risiko
thrombosis vena dalam
Miller RM, Christmas C, Magaziner J. Hip Fractures. In: Halter JB, Ouslander JG Tinetti ME, Studenski S, High KP, Asthana S. Hazzards Geriatric Medicine
and Gerontology. 6th ed. New York: McGraw Hill Medical; 2009

Perubahan Fungsi Fisik dan Psikososial


Post Fraktur
Diagnosis fraktur pinggul
Menyebabkan stres psikologis
bagi pasien risiko depresi
post operatif (biasanya selama
rawat dan sampai 6 bulan
setelah fraktur)

Miller RM, Christmas C, Magaziner J. Hip Fractures. In: Halter JB, Ouslander JG Tinetti ME, Studenski S, High KP, Asthana S. Hazzards Geriatric
Medicine and Gerontology. 6th ed. New York: McGraw Hill Medical; 2009

Perubahan Fisiologis Post Fraktur


Rata-rata wanita yang mengalami fraktur
pingggul kehilangan massa otot sebanyak 36% dalam 2 bulan dan peningkatan massa
lemak sebanyak 3-4% setahun post fraktur
Kepadatan tulang menurun

Miller RM, Christmas C, Magaziner J. Hip Fractures. In: Halter JB, Ouslander JG Tinetti ME, Studenski S, High KP, Asthana S. Hazzards Geriatric
Medicine and Gerontology. 6th ed. New York: McGraw Hill Medical; 2009

Tahapan Pemulihan Post Fraktur

Miller RM, Christmas C, Magaziner J. Hip Fractures. In: Halter JB, Ouslander JG Tinetti ME, Studenski S, High KP, Asthana S. Hazzards Geriatric
Medicine and Gerontology. 6th ed. New York: McGraw Hill Medical; 2009

Rehabilitasi Post Fraktur


Discharge planning dipengaruhi oleh
Tingkat fungsional pasien
Kebutuhan obat dan keterampilan perawatan yang
dibutuhkan pasien pasca operasi
Lingkungan rumah
Ketersediaan caregiver
Keterampilan merawat diri sendiri
Setelah pasien kembali ke rumah, fokus monitoring
adalah memastikan pemulihan berjalan sesuai
harapan
Miller RM, Christmas C, Magaziner J. Hip Fractures. In: Halter JB, Ouslander JG Tinetti ME, Studenski S, High KP, Asthana S. Hazzards Geriatric
Medicine and Gerontology. 6th ed. New York: McGraw Hill Medical; 2009

Rehabilitasi

Latihan pernapasan
Dorsal/plantar fleksi, fleksi sendi lutut, latihan pinggul dan
paha, abduksi-aduksi
Latihan ekstremitas atas dan badan juga diperlukan
Harus memperhatikan batasan ROM, khususnya pada pasien
yang menjalani prosthetic replacement, harus menghindari
Fleksi pinggul >70-90,, eksorotasi lutut, aduksi lutut melewati garis
tengah (hal ini harus dilakukan selama 12 minggu)

Mulai hari ketiga, latihan dilakukan dalam posisi duduk


Latihan weight-bearing dilakukan mulai hari ke 6-10 saat
pasien dapat berdiri. Selama 6-12 minggu, pinggul yang
dioperasi hanya boleh menopang 20-50% berat badan
Dionyssiotis Y, Dontas IA, Economopoulos D, Lyrittis GP. Rehabilitation after falls and fractures. J Musculoskelet Neuronal Interact. 2008; 8(3): 24450

Komplikasi Saat
Rehabilitasi
Masalah
kardiopulmoner
Deep vein thrombosis
Nyeri pinggul
Osifikasi heterotopik
Ulkus dekubitus

Program
Rehabilitasi
Jangka Panjang
Modifikasi rumah
penting untuk
menurunkan risiko jatuh
Evaluasi periodik ke
spesialis rehabilitasi
pada akhir bulan ke-1, 3,
6 pasca operasi, dan
kemudian sekali setahun
sampai seumur hidup
pasien

Dionyssiotis Y, Dontas IA, Economopoulos D, Lyrittis GP. Rehabilitation after falls and fractures. J Musculoskelet Neuronal Interact. 2008; 8(3): 24450

IMOBILISASI

Definisi dan Pengertian

Kehilangan gerakan anatomik akibat perubahan


fungsi fisiologis (tidak mampu melakukan
aktivitas mobilitas di tempat tidur, transfer, atau
ambulansi) selama lebih dari 3 hari

Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Imobilisasi dan Komplikasi
Akibat Imobilisasi pada Orang Usia Lanjut. Jakarta: Perhimpuan Gerontologi Medik Indonesia; 2006.

Penyebab Umum Imobilitas


Muskuloskeletal

Artritis
Osteoporosis
Fraktur
Podiatrik

Neurologikal

Stroke
Parkinson
Neuropati
Hidrosefalus tekanan normal
Demensia

Kardiovaskular
Gagal jantung kongestif
(parah)
Penyakit jantung koroner
Penyakit vaskular perifer

Pulmonal

Sensori
Penurunan penglihatan
Penurunan kinestetik
Penurunan sensasi perifer

Lain-lain

Dekondisi
Malnutrisi
Keganasan sistemik
Efek samping obat

Psikologi
Ketakutan untuk jatuh
Apati/motivasi menurun

Lingkungan
Terpaksa
Kurangnya fasilitas mobilitas
Nyeri kronik dan akut

Kane RL,Ouslander
Abrass IB, Resnick B. Essentials of clinical Geriatrics, 6th Ed. USA: McGraw-Hill Companies; 2009.
PPOK JG,
(parah)

Asesmen Pasien Imobil

Pencarian riwayat harus melingkupi aspek


intrapersonal dan juga masalah lingkungan
yang terkait dengan imobilitas dan yang
mempengaruhi motivasi pasien untuk
kembali beraktivitas

Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. Essentials of clinical Geriatrics, 6th Ed. USA: McGraw-Hill Companies; 2009.

Asesmen Pasien Imobil


Riwayat
Sifat dan durasi disabilitas
penyebab
Kondisi medis penyebab
Nyeri
Obat-obatan
Motivasi dan psikologi
Lingkungan

Pemeriksaan fisik
Kulit
Kardiopulmonal

Defisit neurologis
Kelemahan fokal
Sensori dan persepsi

Tingkat mobilitas
Mobilitas di ranjang
Kemampuan transfer ranjangkursi
Mobilitas kursi roda
Keseimbangan berdiri
Gerakan berjalan
Nyeri saat bergerak

Muskuloskeletal
Tonus dan kekuatan
Gerakan sendi
Deformitas kaki
Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. Essentials of clinical Geriatrics, 6th Ed. USA: McGraw-Hill Companies; 2009.

Manajemen Imobilitas
Perbaikan mobilitas yang kecil sekali pun dapat
menurunkan angka kejadian dan keparahan
komplikasi, meningkatkan kualitas kehidupan, dan
mengurangi biaya perawatan pasien

Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. Essentials of clinical Geriatrics, 6th Ed. USA: McGraw-Hill Companies; 2009.

Manajemen Imobilitas
Tujuan: Optimalisasi fungsi dan mobilitas semaksimal
mungkin

Penyebab dan Komplikasi

Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. Essentials of clinical Geriatrics, 6th Ed. USA: McGraw-Hill Companies; 2009.

Manajemen Imobilitas
Manajemen Penyebab
Artritis
Fraktur pelvis
Penyakit Parkinson
Dan lain-lain

Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. Essentials of clinical Geriatrics, 6th Ed. USA: McGraw-Hill Companies; 2009.

Poin Penting Manajemen


Nonopioid, Imobilisasi
misal antidepresan

Nonacetylated salycilates
trisiklik yang efektif untuk nyeri
(salsalate dan trisalycilate)
persisten, biasanya dapat
memiliki dampak
toksisitas
Manajemen
nyeri
menyebabkan efek samping
antikolinergik seperti mulut
ginjal
dan aktivitas imobilitas,
nyeri
menyebabkan
imobilitas
kering, retensi urin, konstipasi,
antiplatelet
yang
lebih
memperparah nyeri
delirium, takikardi, pandangan
RINGAN daripada NSAID
kabur.

sering underdiagnosed dan undertreated


Nonfarmakologikal

HINDARI: bercerita, suhu dingin Aktivitas fisik, buku, musik,


Propoxyphene
: ataksia,
pusing,
panas, peregangan,
pijat,
ultrasonografi,
akupuntur
tremor, kejang, pakailah NSAID
Meperidine: merusak fungsi ginjal,
mioklonus,
kejangatau
tipetremor,
nyeri:
nosiseptif
Tramadol: jangan digabung dengan
persisten
atau lain,
akutkejang
obat serotonergik

Farmakologikal
Tergantung
Tergantung

neuropatik

Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. Essentials of clinical Geriatrics, 6th Ed. USA: McGraw-Hill Companies; 2009.

Poin Penting Manajemen Imobilisasi


Aktivitas fisik
metode pencegahan imobilitas dan komplikasinya
Meta-analisis: mengurangi progresi DJD
American College of Sports Medicine, Centers for
Disease Control and Prevention, National Institutes
of Health: 30 menit SETIAP hari untuk orang usia
lanjut (aerobik, resistensi, fleksibilitas)
Metode skrining untuk identifikasi jenis latihan
fisik: EASY (Exercising and Screening for You)
Miriam E. Nelson, W. Jack Rejeski, Steven N. Blair, Pamela W. Duncan, James O. Judge, Abby C. King, Carol A. Macera, Carmen Castaneda-Sceppa. Physical
Activity and Public Health in Older Adults: Recommendation From the American College of Sports Medicine and the American Heart Association [Internet].
[cited: 17 Des 2014]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/561352.

Sebelum
mengajak
pasien hidup
sehat, ajaklah
diri sendiri.

Miriam E. Nelson, W. Jack Rejeski, Steven N. Blair, Pamela W. Duncan, James O. Judge, Abby C.
King, Carol A. Macera, Carmen Castaneda-Sceppa. Physical Activity and Public Health in Older
Adults: Recommendation From the American College of Sports Medicine and the American
Heart Association [Internet]. [cited: 17 Des 2014]. Available from:
http://www.medscape.com/viewarticle/561352.

Terapi Fisik pada Pasien Imobilitas Usia


Lanjut
Tujuan:
Mengurangi nyeri
Menjaga ROM sendi, kekuatan motorik, koordinasi,
kekuatan dan ketahanan otot, koordinasi, stabilitas,
gaya berjalan
Mengajarkan penggunaan kursi roda

Modalitas tatalaksana:
Aktif
Pasif
Mengajak mengikuti program latihan duduk
Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. Essentials of clinical Geriatrics, 6th Ed. USA: McGraw-Hill Companies; 2009.

Poin Penting Manajemen Imobilisasi


Prinsip Dasar Rehabilitasi
Mengembalikan fungsi, mencegah disabilitas lebih lanjut
Optimalisasi penanganan penyakit penyebab, nutrisi dan
hidrasi, dan situasi psikososial
Optimalisasi lingkungan fisik maupun pelayanan yang
menunjang aktivitas fisik
Mencegah disabilitas sekunder dan komplikasi imobilitas
Menangani disabilitas primernya
Merencanakan target individu yang realistis
Menekankan ketidakbergantungan fungsi
Melakukan pendekatan psikologi untuk memotivasi pasien
maupun pengasuh pasien
Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. Essentials of clinical Geriatrics, 6th Ed. USA: McGraw-Hill Companies; 2009.

KOMPLIKASI IMOBILITAS

1. Tromboemboli Vena
Triad Virchow :
Kerusakan dinding pembuluh darah
Stasis vena
Hiperkoagulasi

Deep Vein Thrombosis (DVT) & Pulmonary


Embolism (PE)
Imobilitas : stasis vena & aktivasi faktor
koagulasi
Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan
Imobilisasi dan Komplikasi Akibat Imobilisasi Pada Orang Usia Lanjut. Jakarta: PERGEMI; 2006.

Pencegahan :
Latihan tungkai dan gerak sendi aktif & pasif
Elevasi kaki 15-20, lutut sedikit fleksi, kepala
mendatar/lebih rendah
Bergerak aktif rutin dalam waktu singkat
Pada pasien dengan varises dan riwayat flebitis,
gunakan stoking elastis antiflebitis

Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Imobilisasi
dan Komplikasi Akibat Imobilisasi Pada Orang Usia Lanjut. Jakarta: PERGEMI; 2006.

2. Hipotensi Ortostatik
Penurunan TDS >20mmHg, TDD >10mmHg
dalam 2-3menit dari posisi berbaring ke posisi
tegak dan dapat disertai pusing dan sinkop.
Dapat terjadi pada imobilitas karena:
Penurunan sirkulasi darah
Penurunan respon saraf otonom
Pooling darah pada ekstremitas bawah

Pencegahan : mobilisasi bertahap secepatnya,


kaki menggantung ke bawah
Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Imobilisasi dan
Komplikasi Akibat Imobilisasi Pada Orang Usia Lanjut. Jakarta: PERGEMI; 2006.
Ham R, Sloane PD, Warshaw GA, Potter JF, Flaherty E. Primary Care Geriatrics. 6th ed. USA: Elsevier; 2014.

3. Kontraktur
Merupakan
pemendekan serabut
otot permanen yang
salah satunya
disebabkan imobilisasi
pada posisi non
fungsional
Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Imobilisasi dan
Komplikasi Akibat Imobilisasi Pada Orang Usia Lanjut. Jakarta: PERGEMI; 2006.
Ma CB, Zieve D. Contracture deformity [internet]. [diperbaharui 8 September 2014; diakses 17 Desember 2014].
Tersedia di: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003185.htm

Pencegahan:
Mobilisasi bertahap
Memposisikan tubuh seperti sedang berdiri
Menggerak-gerakan tungkai

Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Imobilisasi
dan Komplikasi Akibat Imobilisasi Pada Orang Usia Lanjut. Jakarta: PERGEMI; 2006.

4. Ulkus Dekubitus
Merupakan luka yang terjadi akibat tekanan terus
menerus dalam periode tertentu pada bagian tubuh
sehingga aliran darah berkurang. Disebut juga pressure
ulcers.
Faktor yang mempengaruhi : tekanan daya regang
gesekan kelembaban
Pada pasien geriatri, risiko menjadi semakin besar
karena:
Lemak subkutan, jaringan kolagen, dan elastik berkurang
Kulit menjadi tipis dan rapuh akibat penurunan fungsi
kolateral kapiler
Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Imobilisasi dan Komplikasi Akibat Imobilisasi
Pada Orang Usia Lanjut. Jakarta: PERGEMI; 2006.
Martono HH, Pranaka K. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri. Edisi ke-5. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2014.

Patofisiologi
Imobilitas tekanan darah kapiler meningkat
hingga 30-45mmHg, sakrum 60-70mmHg (N:
16-33mmHg) daerah menjadi iskemik
nekrosis jaringan
Perubahan tekanan reversibel <2 jam

Martono HH, Pranaka K. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri. Edisi ke-5. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2014.

Tipe ulkus dekubitus


Normal : selisih temperatur <2,5C dibanding
sekitar, kondisi pembuluh darah dan aliran darah
masih baik, durasi perawatan 6 minggu
Ateriosklerotik : selisih temperatur <1C dibanding
sekitar, akibat pembuluh darah yang mengalami
ateriosklerosis, perawatan 16 minggu
Terminal : pada pasien yang akan meninggal, tidak
dapat disembuhkan
Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Imobilisasi dan Komplikasi Akibat Imobilisasi
Pada Orang Usia Lanjut. Jakarta: PERGEMI; 2006.
Martono HH, Pranaka K. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri. Edisi ke-5. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2014.

Lokasi ulkus dekubitus


Pada bagian tubuh yang menonjol dan menempel
pada kasur/kursi
Daerah dengan lapisan lemak dan otot tipis (co
sakrum)
Daerah tubuh yang terpapar alat medis

Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Imobilisasi dan Komplikasi Akibat Imobilisasi Pada Orang Usia
Lanjut. Jakarta: PERGEMI; 2006.
Berman K, Zieve D, Eltz DR, Slon S. Pressure Ulcer [internet]. [diperbaharui 20 November 2012; diakses 17 Desember 2014]. Tersedia di:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/007071.htm
Kirman CN, Geibel J. Pressure Ulcers and Wound Care Clinical Presentation [internet]. [diakses 17 Desember 2014]. Tersedia di:
http://emedicine.medscape.com/article/190115-clinical

Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Imobilisasi dan Komplikasi Akibat Imobilisasi Pada Orang Usia
Lanjut. Jakarta: PERGEMI; 2006.
Berman K, Zieve D, Eltz DR, Slon S. Pressure Ulcer [internet]. [diperbaharui 20 November 2012; diakses 17 Desember 2014]. Tersedia di:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/007071.htm
Kirman CN, Geibel J. Pressure Ulcers and Wound Care Clinical Presentation [internet]. [diakses 17 Desember 2014]. Tersedia di:
http://emedicine.medscape.com/article/190115-clinical

Stadium Ulkus Dekubitus


I : struktur kulit masih utuh,
terjadi eritema yang tidak
memucat bila ditekan, kulit
menjadi hangat, edema
II : hilangnya lapisan kulit
epidermis dan atau dermis
III : kedalaman mencapai
lapisan subkutan
IV : mencapai jaringan otot
dan atau tulang
Unstageable : daerah
tertutup jaringan nekrotik
Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Imobilisasi dan Komplikasi Akibat Imobilisasi Pada Orang Usia
Lanjut. Jakarta: PERGEMI; 2006.
Ham R, Sloane PD, Warshaw GA, Potter JF, Flaherty E. Primary Care Geriatrics. 6th ed. USA: Elsevier; 2014.

Pencegahan
Assessment risiko ulkus dekubitus dengan
skala Norton

Cegah tekanan, gesekan, regangan dengan


memiringkan 30 ke kiri dan kanan 2-4x (risiko
rendah) atau tiap 2-3 jam (risiko tinggi),
hindari kemiringan 90 karena akan menekan
sisi lateral
Sanggah dengan bantal pada bagian tungkai,
punggung, dan lengan

Jaga kulit agar tidak lembab


Dalam bergerak hindari pergeseran/gesekan
Menggunakan kasur air/udara/antidekubitus

Setiati S, Aries W, Laksmi PW, Harimurti K, Govinda A. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Imobilisasi dan Komplikasi Akibat Imobilisasi
Pada Orang Usia Lanjut. Jakarta: PERGEMI; 2006.

Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai