Anda di halaman 1dari 40

PENGGUNAAN LOPERAMID PADA PENDERITA DIARE

DISUSUN OLEH :
Kelompok 3
Agung Tanian
Endik Siswanto
Meiliana Angeline
Dera yuniarti Putri
Christian Hanjokar

10700149
10700204
10700280
10700304
10700306

PEMBIMBING :
dr. Roostantia Indrawati, M.kes

BAB I

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan


masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena
morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi.
Penyakit diare termasuk dalam 10 penyakit yang sering
menimbulkan kejadian luar biasa. Berdasarkan laporan Surveilans
Terpadu Penyakit bersumber data KLB (STP KLB) tahun 2010, diare
menempati urutan ke 6 frekuensi KLB terbanyak setelah DBD,
Chikungunya, Keracunan makanan, Difteri dan Campak.

Penyebab utama kematian akibat diare adalah tata laksana


yang tidak tepat baik di rumah maupun di sarana kesehatan. Untuk
menurunkan kematian karena diare perlu tata laksana yang cepat
dan tepat.
Penggunaan obat pada penderita diare harus berdasarkan
pertimbangan klinis. Karena apabila obat-obat tersebut diberikan
secara tidak tepat maka akan menyebabkan penyakit diare tidak
bisa sembuh bahkan akan memperparah. Dalam makalah ini
membahas penggunaan obat Loperamid pada penderita Diare .

TUJUAN PENULISAN
Untuk mengetahui sifat farmakologi, farmakodinamik,
farmakokinetik, serta toksisitas Penggunaan obat pada
penderita Diare
Untuk mengetahui mekanisme kerja dan efektivitas Obat
Mempelajari penelitian yang telah dilakukan orang lain sebagai
referensi.

BAB II

FARMASI - FARMAKOLOGI
2.1 SIFAT FISIKO KIMIA DAN RUMUS KIMIA OBAT

Nama Generik : Loperamid


Rumus kimia loperamide adalah C29H34Cl2N2O2

Sifat Fisiko Kimia

Turunan phenylpiperidine dengan struktur kimia


yang mirip dengan agonis reseptor opiat seperti
diphenoxylate dan haloperidol.
Loperamide merupakan substrat untuk P glikoprotein, transporter membran dalam darah otak
dan sangat lipofilik, loperamide secara aktif dikeluarkan
dari CNS.

Bentuk Sediaan
Loperamid Generik
1. Tablet 2 mg, 28 hari @ 2 mg empat kali sehari.( dapat diperoleh
tanpa resep)
2. Kapsul 2 mg, 28 hari @ 2 mg empat kali sehari.
3. Larutan oral 1 mg / 5 ml, 28 hari @ 2 mg empat kali sehari ( dapat
diperoleh tanpa resep)
Imodium (Janssen- Cilag), dapat diperoleh tanpa resep
1. Kaplet (tablet berbentuk kapsul) 2 mg, 28 hari @ 2 mg empat kali
sehari.

2. Tablet kunyah 2 mg, 28 hari @ 2 mg empat kali sehari.


3. Larutan oral 1 mg / 5 ml, 28 hari @ 2 mg empat kali sehari.

Produk kombinasi dengan simethicone Imodium -MultiSymptom Relief (McNeil) : dapat diperoleh tanpa resep

1. Kaplet (tablet berbentuk kapsul) loperamide 2 mg,


simetikon 125 mg, 28 hari @1 empat kali sehari
2. Tablet kunyah, loperamide 2 mg, simetikon 125 mg, 28
hari @ 1 empat kali sehari

Dosis Obat dan Cara penggunaan


Dosis Dewasa ( 12 tahun atau lebih )
a. Dosis Non Resep
1. @ 4 mg setelah diare pertama ( sendiri atau di kombinasikan )
2. @ 2 mg setelah setiap diare
Terapi harus dihentikan setelah diare berhenti. Dosis loperamide
tidak boleh melebihi 8 mg. Loperamide dalam kombinasi dengan
simethicone dapat digunakan untuk mengontrol gejala diare,
kembung, dan kram. Pengobatan sendiri diare akut dengan
loperamide harus dihentikan dan harus konsultasi ke dokter jika
tidak ada perbaikan setelah 48 jam terapi.

b.

Dosis Resep
Di bawah arahan dari dokter, dosis harian loperamide
untuk diare akut tidak boleh melebihi 16 mg. Pengobatan
Loperamide bisa diteruskan di bawah pengawasan dokter
jika diare tidak dapat dikontrol secara memadai dengan
diet atau pengobatan spesifik.

Dosis Anak ( 6 11 tahun )


a. Dosis Non Resep
1. 2 mg setelah diare pertama ( sendiri atau di kombinasikan dengan
simethicone)

2. Diikuti dengan 1 mg setelah setiap diare berikutnya.


Terapi harus dihentikan setelah diare berhenti !
- anak usia 9 -11 tahun (60-95 lb) tidak boleh melebihi 6 mg dalam 24 jam

- anak usia 6 -8 tahun (48-59 lb) tidak boleh melebihi 4 mg dalam 24 jam.
Loperamide tidak boleh digunakan untuk pengobatan sendiri pada anak
usia lebih muda dari 6 tahun. Untuk penggunaan loperamide pada anak
usia 2-5 tahun butuh supervisi dari dokter.

b. Dosis Resep
Di bawah arahan dokter, anak usia 2 sampai 5 tahun
(13-20 kg ) atau (29-44 lb) bisa diresepkan loperamide
pada dosis awal 1 mg, dengan dosis harian keseluruhan
tidak melebihi 3 mg. Penggunaan loperamide pada anak
di bawah usia 2 tahun tidak dianjurkan.

Perhatian !

Loperamide harus digunakan dengan hati-hati pada pasien


dengan gangguan hati karena penurunan metabolisme pertama.
Pasien dengan penurunan fungsi hati harus dipantau secara ketat
untuk tanda-tanda toksisitas sistem saraf pusat saat menerima
loperamide, karena loperamide adalah P - glikoprotein substrat ,
kadar plasma dapat meningkat secara signifikan dengan penggunaan
bersamaan P - glikoprotein inhibitor , seperti quinidine atau ritonavir.

2.3 FARMAKOLOGI UMUM


2.3.1 Khasiat

Loperamide adalah obat anti diare untuk mengendalikan


gejala diare dan tersedia tanpa resep. Loperamide termasuk
zat penekan peristaltik sehingga memberikan lebih banyak
waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus.
Loperamide bekerja dengan sejumlah mekanisme yang
berbeda dari tindakan yang mengurangi peristaltik dan
sekresi cairan.

2.3.2. Kontra Indikasi


Loperamide tidak boleh digunakan pada pasien dengan sensitivitas
terhadap bahan aktif. Loperamide juga merupakan kontraindikasi
untuk digunakan pada pasien dengan nyeri abdomen tanpa adanya
diare dan pada bayi yang lebih muda dari 24 bulan.
Selain itu, loperamide tidak boleh digunakan sebagai terapi utama
pada pasien dengan disentri akut, kolitis ulseratif akut, enterocolitis
bakteri atau kolitis pseudomembran.

2.3.3 Interaksi Obat


Inhibitor CYP3A4 (misalnya, eritromisin, flukonazol,
ketokonazol, quinidine, ritonavir) dapat meningkatkan
konsentrasi plasma loperamide. Inhibitor dari P-glikoprotein
(misalnya,
siklosporin,
klaritromisin,
eritromisin,
intraconazole, ketoconazole, quinidine,ritonavir, verapamil)
berpotensi memungkinkan loperamide untuk lebih melintasi
sawar darah-otak dan menyebabkan efek opioid sentral.

BAB III

FARMAKODINAMIK
a. Motilitas

Mekanisme utama yang mana loperamide memberikan efek anti


diare adalah penghambatan motilitas usus. Ini terjadi terutama
melalui efek opioid, meningkatkan kontraksi otot usus segmental
sirkuler, memperlambat gerak maju peristaltik dan meningkatkan
waktu transit usus. Tiga jenis reseptor opiat - mu (), delta (), dan
kappa () - diekspresikan dalam mienterik dan pleksus submukosa
yang menyusun system saraf enterik.

b. Sekresi

Selain efek Antimotilitasnya, loperamide menghambat cairan


yang di induksi secretagogue dan sekresi elektrolit di usus kecil dan
besar. Penghambatan ini terlihat pada manusia dan hewan, in vivo
dan in vitro. Kedua mekanisme opiate-dependent dan opiateindependen telah diusulkan. Loperamide menghambat secara
signifikan aktivitas phosphodiesterase yang diinduksi kalmodulin
invitro, menunjukkan bahwa inaktivasi kalmodulin mungkin
menjelaskan sebagian efek anti sekresi dari loperamide.

c. Tonus Sfingter Anal


Loperamide telah diamati meningkatkan tonus sfingter
anal pada manusia dan hewan, yang mungkin
menyebabkan peningkatan kontinensia feses pada pasien
dengan dan tanpa diare.

d. Motilitas Kandung Empedu

Dalam suatu studi dengan dosis 16 mg dan 32 mg


loperamide terbukti menghambat kontraksi kandung
empedu yang disebabkan oleh dosis fisiologis
cholecystokinin.

e. Sekresi Enzim Pankreas


Loperamide telah terbukti menghambat sekresi enzim pankreas
basal yang disebabkan oleh stimulasi listrik vagal pada percobaan
dengan tikus dan infusi asam amino duodenum pada
manusia.Namun demikian, loperamide tidak berpengaruh pada
sekresi yang diinduksi oleh asetil kolin atau yang hormon secretin
dan cholecystokinin endogen,hal ini menunjukkan bahwa loperamide
bekerja pada persarafan pankreas dari pada di sel eksokrin pankreas.

f. Hormon Adrenokortikotropik Sekresi

Loperamide 16 mg menekan hormon adrenokortikotropik (ACTH)


dan sekresi kortisol individu yang tidak memiliki Cushing syndrome.
Karena penekanan ACTH dan cortisol dibalikan dengan pemberian
nalokson, efek dari loperamide ini kemungkinan dimediasi oleh
reseptor opiat. Ketika hormon corticotropin-releasing diberikan,
loperamide tidak menekan rilis ACTH, menunjukkan bahwa
penghambatan sekresi ACTH oleh loperamide tidak terjadi di kelenjar
hipofisis.

BAB IV

FARMAKOKINETIK
4.1 Pola ADME ( Absorbsi, Distribusi, Metabolisme, Ekskresi )

a. Absorbsi
Mengikuti dosis oral pada manusia,loperamide diserap
dengan cepat dengan konsentrasi plasma dalam 4 jam.
Karena metabolisme pertama yang luas loperamid
mempunyai sistem oral dengan biovabilitas hanya 0,3%.

b. Distribusi
Loperamide merupakan substrat yang menembus P-glycoprotein
yang berada dalam blood brain barrier (BBB) dan dinding saluran
gastrointestinal. Batas sistemik interaksi P-glycoprotein dan sistem
saraf pusat terhadap loperamide dengan tambahan P-glycoprotein
menyebabkan pengulangan dalam lumen usus. Sehingga membuat
loperamide tersedia pada pengulangan metabolisme dengan
sitokrom p450 yang ada di dinding usus.
c. Metabolisme
Loperamide secara ekstensif dimetabolisme oleh hati oleh
N-desmethyl loperamide (desmethylloperamide; N-demethylloperamide), metabolit utama yang belum aktif, melalui
N-demethylation.

d. Ekskresi

Loperamide terutama diekskresikan melalui feses tapi obat atau


metabolismenya tidak mengalami perubahan. Setelah dilakukan
pencatatan dosis loperamid pada tikus dan anjing sebelumnya, saat
pemeriksaan tinja ditemukan lebih dari 80% dosis radioaktif dan
10% di urin. Setelah diberikan single dosis oral loperamid 4 mg
kepada orang sehat, 15% sampai 33% dari dosis yang diekskresikan
tidak berubah dalam tinja pada 3 hari pertama .

- Onset aksi : sekitar 1 jam


- Efek maksimum : 16-24 jam.
- Waktu untuk puncak konsentrasi plasma : 2,5 jam ( larutan oral ) ;
5 jam ( kapsul)
- Plasma paruh : 11 jam
- Durasi kerja : sampai 3 hari
- Waktu Paruh ( t

1
)=
2

- Bioavailabilitas < 2 %

7- 14 jam

BAB V

EFEK SAMPING dan TOKSISITAS

Efek Samping
Efek sampingnya berupa mual, muntah, pusing, mulut
kering, dan eksantem .
Efek samping lain adalah Ileus, impaksi tinja.
Efek CNS dapat terjadi pada anak < 2 tahun yang
menerima dosis berlebihan. Jika perlu, gunakan naloxone
untuk membalikkan efek ini.

Toksisitas
Overdosis loperamide dapat menyebabkan
konstipasi, depresi SSP, dan nausea.

Penanggulangan Toksisitas
1. Activated Charcoal (Norit) yang diberikan segera setelah konsumsi
loperamide dapat mengurangi jumlah obat yang diserap.
2. Jika muntah terjadi secara spontan pada konsumsi loperamide,
100 g harus diberikan secara oral secepat mungkin selama cairan
tubuh dapat dipertahankan.
3. Jika muntah belum terjadi dan depresi SSP timbul, kumbah
lambung harus dilakukan, diikuti dengan pemberian 100 g Activated
Charcoal melalui gastric tube.

BAB VI
PENELITIAN YANG PERNAH DILAKUKAN

Pada penelitian yang dilakukan oleh Johnson, Ericsson, DuPont pada


tahun 1986, didapatkan loperamide lebih cepat mengurangi gejala diare
daripada bismuth subsalisilat. Mereka melakukan penelitian secara
random pada 219 pasien yang terkena travelers diarrhea untuk
membandingkan efek loperamide dengan bismuth subsalisilat. Pasien
yang mendapat loperamide berkurang diarenya 4 jam lebih cepat
daripada yang mendapat bismuth subsalisilat. Dan secara signifikan
loperamide lebih mengurangi gejala diare dan nyeri abdomen daripada
bismuth subsalisilat pada para pasien coba.

Ericsson dan DuPont melakukan penilitian lagi bersama tim


yang baru pada tahun 2007. Kali ini mereka membandingkan
penggunaan Azithromycin dosis tunggal 500 mg dengan kombinasi
Azithromycin 500 mg-Loperamide 16 mg/ hari pada penderita
Travelers Diarrhea di Mexico. Dari pasien yang sembuh total
dalam waktu 72 jam, didapatkan penderita dengan kombinasi
Azithromycin-Loperamide diarenya berhenti lebih cepat (8 jam)
daripada penderita dengan Azithromycin tunggal (16-20 jam).54

Hasil dari penelitian terhadap 310 pasien dengan travellers'


diarrhea akut, 102 pasien menerima rifaximin (200 mg 3 kali
sehari selama 3 hari), 104 pasien menerima loperamide (4 mg
awalnya diikuti oleh 2 mg setelah setiap keluarnya feses tidak
berbentuk [tidak melebihi 8 mg/hari untuk 2 hari]), dan 104 pasien
menerima terapi kombinasi rifaximin-loperamide menunjukkan
pengurangan signifikan waktu median sampai lewatnya feses tidak
berbentuk terakhir dan jumlah mean feses tidak berbentuk yang
berlalu selama sakit pada pasien yang menerima terapi kombinasi
dibandingkan dengan mereka yang menerima salah satunya saja.

Gambar 2. Waktu median dari pemberian of dosis pertama


sampai lewatnya feses tidak berbentuk terakhir (TLUS)
(direproduksi dari DuPont,102 dengan ijin). P=.0019 untuk
perbandingan rifaximin dan rifaximin-loperamide dibandingkan
dengan loperamide. 35

BAB VII
PEMBAHASAN
Loperamide adalah agonis treseptorm-opioid. Meskipun baik
diserap dari saluran pencernaan, loperamide hampir sepenuhnya
diambil dan dimetabolisme oleh sitokrom P450 di hati (terutama
CYP3A4).
Loperamid memperlambat motilitas saluran cerna dengan
mempengaruhi otot sirkular dan longitudinalis usus. Obat ini
berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek
konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor
tersebut.

Loperamide juga meningkatkan tonus spingter anal. Kadar


puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 2,5 jam (Larutan oral);
5 jam (kapsul) sesudah minum obat dan durasi kerja sampai 3 hari.
Masa laten yang lama ini disebabkan oleh penghambatan motilitas
saluran cerna dan karena obat mengalami sirkulasi enterohepatik.

Loperamid merupakan antispasmodik, memperpanjang


waktu transit isi saluran cerna,menurunkan volum feses,
meningkatkan viskositas dan kepadatan feses dan menghentikan
kehilangan cairan dan elektrolit

Loperamide juga merupakan kontraindikasi untuk digunakan


pada pasien dengan nyeri abdomen tanpa adanya diare dan pada
bayi yang lebih muda dari 24 bulan.
Selain itu, loperamide tidak boleh digunakan sebagai terapi
utama pada pasien dengan disentri akut, kolitis ulseratif akut,
enterocolitis bakteri yang disebabkan oleh organisme invasif,
termasuk Salmonella, Shigella, dan Campylobacter, atau kolitis
pseudomembran yang berhubungan dengan penggunaan antibiotik
spektrum luas.

BAB VIII

KESIMPULAN
Diare adalah suatu kondisi dimana terjadi perubahan konsistensi
dengan frekuensi buang air besar tiga kali atau lebih perhari yang
menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang bisa
menimbulkan manifestasi klinis seperti asidosis, hipokalemi, hipotensi,
oligouri, syok bahkan bisa sampai koma.
Loperamid menghambat motilitas atau peristaltik usus dengan
mempengaruhi langsung otot sirkular dan longitudinal dinding usus, selain
itu kurangnya efek CNS adalah salah satu alasan mengapa loperamide
menjadi pilihan lini pertama yang populer untuk mengontrol diare.

BAB IX
RINGKASAN
Loperamide adalah obat antidiare untuk mengendalikan gejala diare dan
tersedia tanpa resep, yang bekerja dengan sejumlah mekanisme yang berbeda dari
tindakan yang mengurangi peristaltik dan sekresi cairan. Loperamide juga
memodifikasi transport air dan elektrolit di usus dengan merangsang penyerapan,5
dan dengan tindakan antisekresi dimediasi oleh antagonisme kalmodulin, sesuatu
yang tidak dimiliki oleh opioids yang lain.6,7,8 Loperamide adalah obat long acting
dan, jika digunakan secara teratur, umumnya perlu diberikan hanya b.i.d (2 kali
sehari).
Pengobatan diare dapat dilakukan dengan terapi pengganti cairan,
elektrolit,dan kalori, obat antibakteri atau antiamuba, obat penghambat peristaltik
usus, obat penghambat spasme / kejang dan nyeri. Pengobatan yang dilakukan
terhadap penderita diare bergantung pada penyebab diare tersebut. Diare yang
disebabkan oleh virus tidak memerlukan pengobatan khusus, tetapi daya tahan
tubuh pasien harus dijaga karena virus penyebab diare ini akan mengalami
self limiting.

SUMMARY
Loperamide is an antidiarrheal medication to control the symptoms of diarrhea
and is available without prescription, which works with a number of different
mechanisms of action that reduces peristalsis and secretion. Loperamide also
modifies the intestinal transport of water and electrolytes by stimulating
absorption,5 and by an antisecretory action mediated by calmodulin antagonism, a
property not shared by other opioids.6,7,8 Loperamide is a long acting drug and, if
used regularly, generally should be given only ( 2 times a day).13
Treatment of diarrhea can be done with fluid replacement therapy,
electrolytes, and calories, or antiamuba antibacterial drugs, intestinal peristalsis
inhibitors, inhibitors spasm / cramp and pain. Treatment is performed on patients
with diarrhea depends on the cause of the diarrhea. Diarrhea caused by viruses do
not require special treatment, but the patient's immune system must be maintained
because the virus that causes diarrhea will undergo self limiting.36