Anda di halaman 1dari 31

International Standards for

Tuberculosis Care (ISTC)


3rd Edition
2014
Titi Widya Lestari
I11110015

International Standards for Tuberculosis Care (ISTC)


adalah kumpulan standar penanganan tuberkulosis
yang bersifat internasional.
Tujuan ISTC:

Untuk menggambarkan suatu tingkat penanganan yang


dapat diterima secara luas yang harus dilakukan oleh
seluruh praktisi kesehatan baik pemerintah maupun
swasta dalam penanganan pasien TB atau beresiko
menderita TB.
Untuk mengefektifkan semua penyelenggara pelayanan
kesehatan baik yang berasal dari sektor pemerintah
maupun swasta dalam menangani penderita TB.

Pembagian ISTC

Standar Diagnosis (Standar 1-6)


Standar Pengobatan (Standar 7-13)
Standar Penanganan TB dengan Infeksi HIV dan
Kondisi Komorbid Lainnya (Standar 14-17)
Standar Kesehatan Masyarakat dan Pencegahan
(Standar 18-21)

Standar Diagnosis

Standar 1

Untuk memastikan diagnosis awal, penyelenggara


pelayanan kesehatan harus waspada akan faktor
resiko tuberkulosis baik individu ataupun kelompok,
serta melakukan evaluasi klinik dan pemeriksaan
diagnostik yang tepat untuk orang-orang dengan
gejala dan tanda yang konsisten dengan
tuberkulosis.

Standar 2

Semua pasien, termasuk anak-anak, dengan batuk


yang berlangsung dua minggu atau lebih tanpa
penyebab yang jelas, atau dengan gambaran
rontgen dada yang mengarah pada tuberkulosis
harus dievaluasi sebagai tuberkulosis.

Standar 3

Semua pasien, termasuk anak-anak, yang dicurigai


menderita tuberkulosis paru dan dapat
mengeluarkan sputum, harus menyerahkan
sedikitnya 2 spesimen sputum untuk pemeriksaan
mikroskopik atau 1 spesimen sputum untuk
pemeriksaan Xpert MTB/RIF pada laboratorium yang
terjamin kualitasnya.
Pasien dengan resiko resistensi obat, resiko HIV,
atau yang mengalami penyakit serius, sebaiknya
diperiksa Xpert MTB/RIF sebagai uji diagnostik awal.
Pemeriksaan serologi darah dan uji pelepasan
interferon-gamma sebaiknya tidak digunakan untuk
mendiagnosis tuberkulosis aktif.

Standar 4

Untuk semua pasien, termasuk anak-anak, yang


dicurigai mengalami tuberkulosis ekstra paru, harus
diperoleh spesimen yang tepat dari lokasi yang
dicurigai terlibat untuk pemeriksaan mikrobiologi dan
histologi.
Pemeriksaan Xpert MTB/RIF direkomendasikan
sebagai uji mikrobiologi awal pada suspect
meningitis tuberkulosis karena kebutuhan untuk
diagnosis segera.

Standar 5

Pada pasien yang dicurigai menderita tuberkulosis


paru dimana hasil pemeriksaan sputum negatif,
harus dilakukan uji Xpert MTB/RIF dan/atau kultur
sputum.
Pada pasien yang hasil pemeriksaan sputum dan
Xpert MTB/RIF-nya negatif dengan bukti klinis yang
kuat mengarah ke tuberkulosis, OAT harus dimulai
setelah pengambilan spesimen untuk pemeriksaan
kultur.

Standar 6

Untuk semua anak-anak yang dicurigai menderita


tuberkulosis intratorakal (pulmonal, pleura dan
nodus limfa mediastinal atau hilus), konfirmasi
bakteriologis harus didapatkan melalui pemeriksaan
sekret nafas (sputum yang dikeluarkan, sputum yang
diinduksi, bilas lambung) untuk pemeriksaan
mikroskopik, uji Xpert MTB/RIF, dan/atau kultur.

Standar Pengobatan

Standar 7

Untuk memenuhi tanggung jawab kesehatan


masyarakat dan tanggung jawab pada pasien secara
individu, penyelenggara pelayanan kesehatan harus
meresepkan regimen pengobatan yang tepat,
mengawasi ketaatan pemberian obat dan ketika
diperlukan mencari faktor yang menyebabkan
interupsi atau penghentian pengobatan.
Pemenuhan tanggung jawab ini kemungkinan besar
akan membutuhkan koordinasi dengan layanan
kesehatan masyarakat lokal dan/atau agen lainnya.

Standar 8

Semua pasien yang belum pernah diobati


sebelumnya dan tidak memiliki faktor resiko lain
terhadap resistensi obat harus mendapatkan
regimen terapi lini pertama yang disetujui WHO
dengan menggunakan obat yang terjamin
kualitasnya.

Dua bulan pertama: isoniazid, rifampicin, pirazinamid,


ethambutol
Empat bulan selanjutnya: isoniazid, rifampicin
Obat-obatan kombinasi dosis tetap dapat menyebabkan
masuknya obat dengan lebih mudah.

Standar 9

Pendekatan pengobatan dengan berdasarkan


pasien harus dikembangkan untuk semua pasien
guna memajukan ketaatan, meningkatkan kualitas
hidup, dan mengurangi kesakitan.
Pendekatan ini harus berdasarkan kebutuhan pasien
dan saling menghormati antara pasien dan
penyelenggara pelayanan kesehatan.

Standar 10

Respon pengobatan pada pasien dengan


tuberkulosis paru (termasuk pasien dengan
tuberkulosis yang didiagnosa melalui rapid molecular
test) harus dimonitor dengan tinjauan pemeriksaan
mikroskopik sputum pada saat penyelesaian fase
awal pengobatan (dua bulan).
Jika apusan sputum positif setelah fase awal selesai,
pemeriksaan sputum harus diulangi kembali 3 bulan
kemudian, jika positif, uji cepat sensitivitas obat
molekuler (line probe assay atau Xpert MTB/RIF)
atau kultur dengan uji kerentanan obat harus
dilakukan.
Pada pasien dengan tuberkulosis ekstraparu dan
pada anak-anak, respon pada pengobatan paling
baik dinilai secara klinis.

Standar 11

Penilaian kemungkinan resistensi obat, berdasarkan


riwayat pengobatan sebelumnya, pajanan pada
kasus TB dengan organisme resisten obat, dan
prevalensi komunitas resisten obat (jika diketahui),
harus dikerjakan untuk semua pasien.
Uji kerentanan obat harus dilakukan pada awal
terapi untuk semua pasien yang beresiko resisten
obat.
Pasien resisten obat adalah pasien yang hasilnya
positif pada pemeriksaan sputum pada akhir bulan
ketiga pengobatan, pasien yang pengobatannya
gagal, pasien yang tidak ditinjau kembali, dan pasien
yang kambuh pada satu atau lebih rangkaian
pemberian obat.

Untuk pasien yang resisten obat, sebaiknya


dilakukan pemeriksaan Xpert MDR/XDR.
Jika didapatkan adanya resistensi rifampicin, kultur
dan uji kerentanan terhadap isoniazid,
fluorokuinolon, dan obat injeksi lini kedua harus
dilakukan segera.
Konseling pasien dan edukasi, juga terapi empiris
dengan regimen lini kedua harus diberikan segera
untuk mengurangi kemungkinan transmisi.
Pengendalian infeksi sebaiknya dilakukan.

Standar 12

Pasien dengan tuberkulosis atau kemungkinan


besar menderita tuberkulosis yang disebabkan oleh
organisme yang resisten obat (khususnya
MDR/XDR) harus diobati dengan regimen khusus
yang berisi OAT lini kedua yang terjamin kualitasnya.
Dosis OAT harus sesuai dengan rekomendasi WHO.
Setidaknya 5 obat, yaitu pirazinamid dan 4 obat lain,
termasuk obat injeksi, harus digunakan dalam 6-8
bulan fase intensif, dan setidaknya 3 obat harus
digunakan pada fase lanjutan.
Pengobatan harus diberikan sedikitnya 18-24 bulan
melewati perubahan kultur.

Tindakan penanganan yang berdasarkan pasien,


termasuk observasi dan terapi diperlukan untuk
memastikan kepatuhan pasien.
Sebaiknya dilakukan konsultasi dengan spesialis
yang telah berpengalaman dalam pemberian terapi
pasien dengan TB MDR/XDR.

Standar 13

Rekam medis yang mudah diakses, terpelihara


secara sistematis dari semua pengobatan yang
diberikan, respon bakterologis, hasil, dan efek
samping harus dipelihara untuk semua pasien.

Standar Penanganan TB dengan


Infeksi HIV dan Kondisi Komorbid
Lainnya

Standar 14

Konseling dan tes HIV harus dilakukan pada semua


pasien yang menderita TB atau dicurigai menderita
TB kecuali dalam dua bulan sebelumnya hasil tes
dikonfirmasi negatif.
Karena TB dan infeksi HIV memiliki hubungan yang
erat, diperlukan pendekatan terintegrasi untuk
pencegahan, diagnosis, dan pengobatan TB dan
HIV pada daerah dengan prevalensi HIV yang tinggi.
Tes HIV merupakakan bagian penting dari
manajemen rutin bagi semua pasien di daerah
dengan prevalensi infeksi HIV yang tinggi dalam
populasi umum, pasien dengan gejala dan/atau
tanda yang berhubungan dengan kondisi HIV, serta
pasien dengan riwayat resiko tinggi terpajan HIV.

Standar 15

Pada orang dengan infeksi HIV dan TB yang


mengalami imunosupresi nyata (hitung CD4 < 50
sel/mm3), ART harus dimulai dalam 2 minggu
pengobatan awal TB kecuali terdapat meningitis
tuberkulosa.
Untuk pasien dengan HIV dan TB, tanpa
memperhitungkan CD4, terapi antiretroviral harus
dimulai dalam 8 minggu pengobatan awal TB.
Selain itu diberikan cotrimoxazole sebagai profilaksis
untuk infeksi lain.

Standar 16

Orang dengan infeksi HIV yang setelah dievaluasi


dengan teliti, tidak menderita TB aktif harus diobati
untuk kecurigaan infeksi TB laten dengan isoniazid
sedikitnya selama 6 bulan.

Standar 17

Semua provider harus melakukan penilaian yang


menyeluruh terhadap kondisi komorbid dan faktor lainnya
yang dapat mempengaruhi respon atau hasil pengobatan
TB dan mengidentifikasi layanan tambahan yang dapat
mendukung hasil yang optimal untuk setiap pasien.
Layanan ini harus disatukan ke dalam rencana
perawatan perorangan yang mencakup penilaian dan
rujukan untuk pengobatan penyakit lainnya.
Perhatian khusus harus diberikan pada penyakit atau
kondisi yang diketahui mempengaruhi hasil pengobatan,
misalnya DM, penyalahgunaan obat dan alkohol, gizi
buruk, dan merokok.
Rujukan ke layanan psikososial atau layanan antenatal
harus disediakan juga.

Standar Kesehatan Masyarakat


dan Pencegahan

Standar 18

Semua penyelenggara pelayanan kesehatan harus


meyakinkan bahwa orang-orang yang berkontak
dekat dengan pasien yang menderita TB infeksius
agar dievaluasi dan dikelola sesuai dengan
rekomendasi internasional. Prioritas tertinggi untuk
evaluasi adalah:

Orang dengan gejala mengarah pada TB


Anak usia < 5 tahun
Kontak dengan keadaan yang diketahui atau dicurigai
immunocompromise, khususnya infeksi HIV
Kontak dengan pasien TB MDR/XDR

Standar 19

Anak yang berusia < 5 tahun dan orang-orang pada


semua umur dengan infeksi HIV yang berkontak
dekat dengan orang terinfeksi TB, dan setelah
evaluasi tidak menderita TB aktif harus diobati untuk
kecurigaan infeksi TB laten dengan isoniazid
sedikitnya selama 6 bulan.

Standar 20

Setiap fasilitas pelayanan kesehatan yang merawat


pasien yang menderita TB atau dicurigai menderita
TB infeksius harus mengembangkan dan
menjalankan rencana pengontrolan infeksi TB yang
tepat untuk meminimalkan kemungkinan penularan
M. tuberculosis ke pasien dan petugas kesehatan.

Standar 21

Semua penyelenggara pelayanan kesehatan harus


melaporkan kasus TB baru dan kasus pengobatan
ulang serta hasil pengobatannya kepada Dinas
Kesehatan setempat, sesuai dengan persyaratan
dan kebijakan legal yang berlaku.

TERIMA KASIH