Anda di halaman 1dari 54

Metode Bina Marga

SK No. 77 / KPTS / Db / 1990


Metode PCI

Pavement Condition Index (PCI) ini


menggunakan standar perhitungan yang
dikeluarkan oleh FAA (Federal Aviation
Administration). Nilai PCI ini digunakan
sebagai acuan dalam usaha pemeliharaan
lapis perkerasan dan sebagai bahan
pertimbangan untuk evaluasi.

1.
Density
Density adalah persentase luasan dari suatu jenis kerusakan
terhadap luasan satu unit sample yang diukur dalam meter
persegi atau meter panjang. Nilai density dari suatu jenis
kerusakan dibedakan juga atas tingkat kerusakannya (Severity
Level)
Density
= Ad/As x 100% atau
= Ld/As x 100%
Keterangan:
Ad
: Luas total jenis kerusakan untuk tiap Severity Level
(m2)
As
: Luas total unit sample (m2)
Ld
: Panjang total jenis kerusakan untuk tiap Severity
Level (m)

2.
Deduct Value (Nilai Pengurangan)
Deduct value adalah nilai pengurangan untuk
tiap jenis kerusakan, yang diperoleh dari kurva
hubungan antara density-deduct value. Sama
halnya seperti density, deduct value juga
dibedakan atas tingkat kerusakan (Severity
Level) untuk tiap jenis kerusakan
3.
Total Deduct Value (TDV)
Total Deduct Value adalah nilai total dari
individual deduct value untuk tiap jenis
kerusakan dan tiap tingkat kerusakan yang ada
pada suatu unit sample

4.
Corrected Deduct Value (CDV)
Corrected Deduct Value (CDV) diperoleh dari
kurva hubungan antara TDV dan CDV dengan
pemilihan lengkung kurva sesuai dengan jumlah
nilai individual deduct value yang lebih besar
dari 5 (q). Dan jika nilai CDV yang diperoleh
lebih kecil dari nilai individual deduct value yang
tertinggi, maka CDV yang digunakan adalah nilai
dari individual Deduct value yang tertinggi

Jika nilai Corrected Deduct Value telah diketahui,


maka nilai PCI untuk tiap unit sampel adalah:
PCI (s) = 100 CDV
Keterangan:
PCI (s) : Pavement Condition Index untuk tiap unit sample
CDV
: Corrected Deduct Value untuk tiap unit sample
Dan untuk nilai PCI dari perkerasan lentur secara keseluruhan
adalah:
PCI(f) = PCI (s) / N
Keterangan:
PCI (f) : Nilai PCI perkerasan lentur secara keseluruhan
PCI (s) : Nilai PCI untuk tiap unit sample
N
: jumlah sampel

5.
Rating (Klasifikasi Kualitas
Perkerasan)
Dari nilai PCI (0 100) untuk masing-masing
unit sampel maka dapat diketahui kualitas
lapis perkerasan dari unit sampel
berdasarkan klasifikasi tertentu yaitu:
excellent, very good, good, fair, poor, very
poor dan failed

Tingkatan kerusakan yang digunakan dalam


melakukan perhitungan PCI, mengacu pada
Guidelines and Procedures for Maintenance of
Airport Pavement AC: 150/5380-6 dari Federal
Aviation Administration (FAA). Ada 3 (tiga)
tingkatan kerusakan yang digunakan untuk
penelitian ini, yaitu:
1.
Low Severity Level (L)
2.
Medium Severity Level (M)
3.
High Severity Level (H)

1. Alligator Cracking (retak kulit buaya)


a.Low Severity Level (L)
Kondisi perkerasan masih tergolong baik, retak
rambut paralel satu sama lainnya
b.Medium Severity Level (M)
Kondisi retak membentuk suatu jaringan retak
dan berpola. Bagian retak sedikit terbuka dan
kemungkinan partikel ada yang terlepas.
c.High Severity Level (H)
Jaringan retak terbuka dan dalam, sebagian
partikel pada bagian yang retak sudah terlepas.

Grafik Nilai Deduct untuk

2. Block Cracking
a.Low Severity Level (L)
Kondisi retak tertutup tanpa adanya partikel
yang terlepas, dengan lebar retak < inci
b.Medium Severity Level (M)
Kondisi retak sedikit terbuka dengan kehilangan
sedikit partikel pada aerah retak dengan lebar
retak > inci
c.High Severity Level (H)
Bagian permukaan perkerasan hampir terpisah
membentuk blok-blok dan pada jalur retak
kehilangan partikel-partikel.

Grafik Nilai Deduct untuk

3. Corrugation
a. Low Severity Level (L)
Kondisi corrugation sedikit dan tidak begitu
mempengaruhi kualitas perkerasan
b. Medium Severity Level (M)
Kondisi corrugation sangat nyata dan sedikit
mempengaruhi kualitas perkerasan
c. High Severity Level (H)
Kondisi corrugation sangat menyolok dan sangat
mempengaruhi kualitas perkerasan, terutama
kurang nyamannya ketika melintasi daerah
tersebut (permukaan bergelombang)

Grafik Nilai Deduct untuk

4. Depression
a.Low Severity Level (L)
Kondisi penurunan hampir tidak kelihatan
b.Medium Severity Level (M)
Kondisi penurunan kelihatan dan dapat
diobservasi tetapi tidak begitu berarti
c.High Severity Level (H)
Kondisi penurunan sangat menyolok dan jelas
sekali perbedaan elevasi pada permukaan
perkerasan, dan dapat diukur

Grafik Nilai Deduct untuk

5. Joint Reflection Cracking


a.Low Severity Level (L)
Kondisi retak sedikit mengalami kerontokan
partikel, atau tidak sama sekali. Lebar maksimal
< inci.
b.Medium Severity Level (M)
Kondisi retak sedikit mengalami kehilangan
material (rontok), > inci.
c.High Severity Level (H)
Terjadi kerontokan dan kehilangan partikel
agregat pada jalur retak.

Grafik Nilai Deduct untuk

6. Longitudinal & Transverse Cracking


a.Low Severity Level (L)
Kondisi retak sedikit mengalami kerontokan
tanpa kehilangan partikel.
b.Medium Severity Level (M)
Kondisi retak mengalami kerontokan dengan
sedikit kehilangan material.
c.High Severity Level (H)
Terjadi kerontokan dan kehilangan pertikel
agregat pada jalur retak.

Grafik Nilai Deduct untuk

7. Patching
a.Low Severity Level
Kondisi tambalan baik dengan elevasi yang
hampir sama dengan eksisting lapis perkerasan
(rata).
b.Medium Severity Level (M)
Kondisi tambalan agak memburuk dan
mempengaruhi kualitas perkerasan yang ada
(eksisting).
c.High Severity Level (H)
Kondisi tambalan sangat buruk dan butuh
perbaikan kembali.

Grafik Nilai Deduct untuk

8. Raveling & Weathering


a.Low Severity Level (L)
Bahan pengikat (aspal) pada agregat mulai habis
sebagian kecil, dan jika semua disertai dengan
kehilangan partikel.
b.Medium Severity Level (M)
Bahan pengikat aspal pada agregat telah habis dan
tekstur permukaan telah menjadi kasar, disertai dengan
terlepasnya partikel agregat.
c.High Severity Level (H)
Bahan ikat aspal pada agregat telah habis dan pada
luasan yang cukup besar partikel agregat terlepas dan
hilang. Kondisi permukaan permukaan perkerasan
menjadi sangat kasar dan berlubang.

Grafik Nilai Deduct untuk

9. Rutting
a.Low Severity Level (L)
Jika kedalaman alur antara - inci
b.Medium Severity Level (M)
Jika kedalaman alur antara - 1 inci
c.High Severity Level (H)
Jika kedalaman alur lebih besar daripada
1 inci

Grafik Nilai Deduct untuk

10. Shoving
a.Low Severity Level (L)
Dalam jumlah kecil, shoving terjadi dengan sedikit
pengaruh terhadap kualitas perkerasan, tanpa ada aspal
perkerasan yang pecah.
b.Medium Severity Level (M)
Dalam jumlah sedang, shoving yang terjadi
menyebabkan permukaan perkerasan cukup kasar dan
sedikit patah pada aspal perkerasan.
c.High Severity Level (H)
Dalam jumlah besar, shoving yang terjadi menyebabkan
permukaan perkerasan menjadi sangat kasar dan terjadi
patah pada aspal perkerasan.

Grafik Nilai Deduct untuk

11. Swell
a.Low Severity Level (L)
Swell kecil dan tidak begitu mempengaruhi kualitas
perkerasan.
b.Medium Severity Level (M)
Swell kelihatan nyata dan sedikit mempengaruhi
kualitas perkerasan.
c.High Severity Level (H)
Swell sangat menyolok dan sangat mempengaruhi
kualitas perkerasan, yaitu tidak nyamannya dalam
ketika melewati daerah tersebut, karena permukaan
perkerasan yang bergelombang.

Grafik Nilai Deduct untuk

12. Slippage Cracking (retak bulan sabit)


a.Low Severity Level (L)
Retak rata rata lebar < 3/8 in. (10 mm) .
b.Medium Severity Level (M)
Satu dari kondisi berikut yang terjadi.
1.Retak rata rata 3/8 1,5 in.
(10 38
mm).
2.Area disekitar retakan pecah, kedalaman pecahan
pecahan terikat.
c.High Severity Level (H)
Satu dari kondisi berikut yang terjadi.
1.Retak rata rata > in (38 mm)
2.Area disekitar retakan pecah, kedalaman pecahan
pecahan mudah terbongkar

Grafik Nilai Deduct untuk

13. Railroad Crossing (perlintasan jalan kereta)


a.Low Severity Level (L)
Persilangan jalan rel menyebabkan sedikit gangguan
kenyamanan kendaraan.
b.Medium Severity Level (M)
Persilangan jalan rel menyebabkan cukup gangguan
kenyamanan kendaraan.
c.High Severity Level (H)

Persilangan jalan rel menyebabkan gangguan


besar pada kenyamanan kendaraan

Grafik Nilai Deduct untuk

14. Polished Aggregate (aggregat licin)


Tingkat
Kerusakan

Identifikasi Kerusakan

Pilihan untuk perbaikan

Tidak ada defenisi derajat kerusakan.


Tetapi, derajat kelicinan harus nampak Belum perlu diperbaiki;
signifikan, sebelum dilibatkan dalam

perawatan permukaan;

survey kondisi dan dinilai sebagai

lapisan tambahan

kerusakan

Grafik Nilai Deduct untuk

15. Photoles (lobang)


Kedalaman maks lubang

Diameter lubang rerata ( inc)

(inc)

48

8 18

18 - 30

-1

Low

Low

Medium

1-2

Low

Medium

High

Medium

Medium

High

L : Belum perlu diperbaiki; penambalan parsial atau diseluruh kedalaman


M : Penambalan parsial atau diseluruh kedalaman
H : penambalan diseluruh kedalaman

Grafik Nilai Deduct untuk

16. Edge Cracking (cacat tepi perkerasan)


a.Low Severity Level (L)
Retak sedikit sampai sedang dengan tanpa pecahan
atau butiran lepas.
b.Medium Severity Level (M)
Retak sedang dengan beberapa pecahan dan butiran
lepas.
c.High Severity Level (H)

Banyak pecahan atau butiran lepas disepanjang


tepi perkerasan

Grafik Nilai Deduct untuk

17. Bleeding (kegemukan)


a.Low Severity Level (L)
Kegemukan terjadi hanya pada derajat rendah, dan
nampak hanya beberapa hari dalam setahu. Aspal
tidak melakat pada sepatu atau roda kendaraan.
b.Medium Severity Level (M)
Kegemukan telah mengakibatkan aspal melekat pada
sepatu atau roda kendaraan, paling tidak beberapa
minggu dalam setahun.
c.High Severity Level (H)
Kegemukan telah begitu nyata dan banyak aspal
,melekat pada sepatu atau roda kendaraan, paling tidak
lebih dari beberapa minggu dalam setahun

Grafik Nilai Deduct untuk

tentang pembagian unit sampel (Shahin,1994) dijelaskan bahwa untuk


perkerasan aspal dan jalan tanpa perkerasan kisaran luasan unit sampel
yang diambil 2500 + 1000 sq.ft atau 762 + 305 m2. Untuk itu ukuran
luasan unit sampel yang diambil untuk tinjauan studi kasus ini seperti
berikut :
Data Jalan
Panjang Jalan = 3,00 Km
Lebar Perkerasan
= 4,50 m
Kisaran unit sampel diambil 762 305 m2, jadi :
Misanya diambil setiap panjang sampel 100 m, 100,00 m x 4,50 m =
450,00 m2/ unit sampel ini masih masuk antara 762 305 m2.
Jumlah unit sampel (3,00 Km = 3000,00 m) / 100,00 m = 30 unit
sampel

Pembagian Unit sampel

Untuk menentukan nilai PCI perkerasan, dilakukan


urutan sebagai berikut:
1. Membagi perkerasan yang ada menjadi segmensegmen (feature), dalam hal ini, masing-masing fasilitas
landasan adalah feature, sehingga da 3 (tiga) buah
feature (runway, taxiway dan apron).
2. Kemudian segmen-segmen tersebut dibagi lagi
menjadi unit sample, dengan ukuran masing-masing
mencapai + 5000 ft2 atau 450 m2 (umumnya 50 x 100 ft)
untuk perkerasan lentur (flexible pavement) dan tiap 20
slab untuk perkerasan kaku (rigid pavement).

3. Pengamatan dilakukan pada unit sample terhadap:


a. Jenis kerusakan
b. Tingkat kerusakan (Severity Level)
c. Kepadatan (density), dalam hal ini merupakan
persentase luasan terhadap luasan unit sample

4. Menghitung nilai pengurangan (deduct value) untuk


tiap-tiap jenis kerusakan pada masing-masing unit
sample dengan menggunakan grafik
5. Menghitung nilai total pengurangan (Total Deduct
Value/TDV) dari masing-masing unit sample

6. Menghitung nilai nilai pengurangan (Corrected


Deduct Value/CDV) dari masing-masing unit sample
(lihat lampiran).
7. Menghitung nilai PCI (Pavement Condition Index)
untuk masing-masing unit sample yang diamati dengan
menggunakan rumus:
PCI = 100 - CDV
8. Menghitung nilai rata-rata PCI dari semua unit sample
yang ada.

9. Menentukan kondisi perkerasan permukaan fasilitas


landasan dengan menggunakan nilai PCI, yang diperoleh
dari nilai index permukaan.
Pembagian unit sample pada perkerasan lentur dan perkerasan kaku

Nilai PCI dan


Rating
Perkerasan

Nilai PCI dan Strategi Perawatan

Lampiran

Lampiran

TERIMA
KASIH