Anda di halaman 1dari 48

ABSES SUBMANDIBULA

Affra Cahyo Wibowo


Annisa Soraya Putri
Asti Uki Utari
Citra Puan Maulidza
Fakhrul Gamal Putra
Lola Dwi Syahtira
Sri Wahyuni
Dessy Maharani

dr. Iqbal Sp.THT-KL

Pendahuluan
Abses submandibular merupakan
suatu
peradangan
yang
disertai
pembentukan
pus
pada
daerah
submandibula. Salah satu abses leher
dalam yang banyak disebabkan oleh
infeksi gigi
Penelitian yang dilakukan oleh Huang
dkk tahun 1997-2002 menemukan
kasus infeksi leher dalam sebanyak 185
kasus. Diantaranya adalah :
- Abses parafaring (38,4%)
- Abses submandibula (15,7%)
merupakan kasus terbanyak ke-2
- Angina Ludovici (12,4%)
- Parotis (7%) dan
- Retrofiring (5,9%)

Rentang usia dari umur 1-81 tahun,


laki-laki sebanyak 78% dan perempuan
22% atau 3:2
Lokasi abses lebih dari satu ruang
potensial 29%. Abses submandibula
35%, parafaring 20%, mastikator 13%,
peritonsil 9%, sublingual 7%, parotis
3%, infra hyoid 26%, retrofaring 13%,
ruang karotis 11%.
Angka morbiditas dari komplikasi
yang timbul akibat abses submandibula
masih cukup tinggi sehingga diagnosis
dan penanganan yang cepat dan tepat
sangat dibutuhkan

Tinjauan Kepustakaan

Anatomi
- Fasia servikalis terdiri dari lapisan
jaringan
ikat
fibrous
yang
membungkus organ, otot, saraf dan
pembuluh darah serta membagi leher
menjadi beberapa ruang potensial

- Fasia servikalis terbagi menjadi 2

bagian
yaitu
fasia
superfisialis dan fasia
profunda

servikalis
servikalis

Ruang antara fasia servikalis


superfisialis dan fasia servikalis
profunda berisi kelenjar limfe
superfisial, saraf dan pembuluh darah
termasuk vena jugularis eksterna.

Ruang Submandibula
Ruang submandibula terdiri
dari
ruang
sublingual,
submaksila dan submental.
Ruang submandibula dibatasi
oleh

Lateral : mandibula
Anterior : mandibula
Posterior : os. hioid
Superior : mukosa dasar mulut
&lidah
Inferior : fascia profunda dan
limfoid sampai mandibula

Definisi
Abses submandibular terbentuknya abses pada ruang potensial di
regio submandibular yang disertai dengan rasa nyeri tenggorok,
demam dan terbatasnya gerakan membuka mulut.
Abses leher dalam terbentuk di ruang potensial diantara fasia leher
dalam sebagai akibat penjalaran infeksi dari berbagai sumber, seperti
gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher.

Epidemiologi
Di subbagian laring faring FK Unand/RSUP M
Djamil Padang selama Januari 2009-April 2010,
tercatat kasus abses leher dalam sebanyak 47
kasus, dengan abses submandibula menempati
urutan ke dua dengan 20 kasus dimana abses
peritonsil 22 kasus, abses parafaring 5 kasus dan
abses retrofaring 2 kasus.

Etiologi
Infeksi dapat bersumber dari gigi,
dasar mulut, faring, kelenjer liur atau
kelenjer limfa submandibula.
Sebagian lain dapat merupakan
kelanjutan infeksi ruang leher dalam
lainnya.

Sebagian besar kasus infeksi leher dalam


disebabkan oleh berbagai kuman, baik
aerob maupun anaerob.

Etiologi

Kuman aerob yang paling sering


ditemukan adalah Streptococcus sp,
Staphylococcus sp, Neisseria sp,
Klebsiella sp, Haemophillus sp.

Kuman anaerob Bacteroides


melaninogenesis, Eubacterium
Peptostreptococcus dan yang jarang
adalah kuman Fusobacterium. Sering
ditemukan pada infeksi gigi.

Patogenesis
Beratnya infeksi tergantung dari virulensi
kuman, daya tahan tubuh dan lokasi
anatomi. Infeksi gigi dapat mengenai
pulpa dan periodontal. Penyebaran
infeksi dapat meluas melalui foramen
apikal gigi ke daerah sekitarnya.

Infeksi dari submandibula dapat meluas


ke ruang mastikor kemudian ke
parafaring.
Perluasan
infeksi
ke
parafaring juga dapat langsung dari ruang
submandibula. Selanjutnya infeksi dapat
menjalar ke daerah potensial lainnya.

Penyebaran abses leher dalam


dapat melalui beberapa jalan
yaitu limfatik, melalui celah
antara ruang leher dalam dan
trauma tembus.

Penyebaran infeksi melalui


gigi

infeksi gigi atau odontogenik merupakan penyebab terbanyak


dari abses leher dalam. Berhubungan dengan ini, ruang
submandibula sering terkena infeksi. Infeksi gigi dapat
mengenai pulpa dan periodontal. Penyebaran infeksi dapat
meluas melalui foramen apikal gigi ke daerah sekitarnya

Gejala Klinis
Menurut Smeltzer dan Bare (2001), Nyeri
Teraba hangat
Pembengkakan
Kemerahan
Demam

Pada abses submandibular didapatkan


pembengkakan dibawah dagu atau dibawah lidah baik
unilateral atau bilateral
demam
nyeri tenggorok
trismus.
Mungkin didapatkan riwayat infeksi atau cabut gigi.
Pembengkakan dapat berfluktuasi atau tidak.

Diagnosis abses leher dalam


ditegakkan berdasarkan :
ANAMNESIS

PEMERIKSAAN FISIK

PEMERIKSAAN PENUNJANG

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada foto polos jaringan
lunak leher
anteroposterior dan
lateral didapatkan
gambaran
pembengkakan jaringan
lunak, cairan di dalam
jaringan lunak, udara di
subkutis dan
pendorongan trakea.

Ultrasonografi (USG)
adalah pemeriksaan
penunjang diagnostik
yang tidak invasif dan
relatif lebih murah
dibandingkan TK, cepat
dan dapat menilai lokasi
dan perluasan abses.

CT-Scan dengan
kontras
Dapat membedakan selulitis
dengan abses, menentukan lokasi
dan perluasan abses.
Gambaran: daerah hipodens yang
berkapsul, dapat disertai udara di
dalamnya, dan edema jaringan
sekitar. CT-Scan dapat menentukan
waktu dan perlu tidaknya operasi.

Pemeriksaan pencitraan
resonansi magnetik
(Magnetic resonance
Imaging/MRI) yang
dapat mengetahui
lokasi abses, perluasan
dan sumber infeksi.

Pada foto polos toraks,


jika sudah terdapat
komplikasi dapat
dijumpai gambaran
pneumotoraks dan juga
dapat ditemukan
gambaran
pneumomediastinum.

Tatalaksana
Penatalaksanaan abses submandibula umumnya adalah dengan
evakuasi abses baik dilakukan dengan anestesi lokal maupun
dengan anestesi umum serta dengan pemberian antibiotik
intravena dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob
diberikan secara parenteral. diberikan antibiotik kombinasi secara
empiris menunggu hasil kultur keluar. Antibiotik yang dapat
diberikan yaitu seftriakson dan metronidazole.

Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi os


hyoid, tergantung letak dan luas abses. Eksplorasi dilakukan
secara tumpul sampai mencapai ruang sublingual, kemudian
dipasang salir.

Pasien dirawat inap sampai 1-2 hari gejala dan


reda.

tanda infeksi

Laporan Kasus

Identitas
Nama : Nn. R

Umur : 25 tahun
Alamat Geulanggang Baroe : Bireuen
Jenis Kelamin : Perempuan

Agama: Islam
Suku: Aceh
No. CM : 1-02-25-48

Tanggal Masuk : 3 Desember 2014


Tanggal Pemeriksaan : 8 Desember 2014

Anamnesis
Keluhan Utama
Nyeri di pipi kanan

Keluhan Tambahan
Sulit membuka mulut, lemas dan demam

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUD ZA atas rujukan RSUD Fauziah
Bireuen dengan keluhan nyeri pada pipi kanan sejak 5 hari yang lalu.
Nyeri pada gigi yang berlubang dirasakan pasien 2 bulan yang lalu
sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien mengaku tersangkut
makanan pada giginya yang berlubang pada pagi hari. Kemudian
pasien berusaha untuk mengeluarkannya dengan cara mencongkel gigi
dengan lidi yang di ambil pasien di pohon kelapa depan rumahnya.
Pada malam harinya pasien merasakan nyeri pada gusi dan gigi kanan
bawah belakang. Keluhan terus dirasakan memberat dan disertai
bengkak pada pipi kanan sehingga pasien tidak dapat membuka mulut
dan sulit memakan makanan. Selain itu pasien juga merasakan lemas.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Pasien menderita gigi yang berlubang sejak 1 tahun yang lalu, yaitu 2 gigi geraham
belakang kanan dan 1 geraham belakang kiri. Pasien menderita sakit ginjal sejak 3 tahun yang
lalu.

Riwayat Pemakaian Obat:


Pasien berobat ke ahli tradisional sebanyak 2 kali sejak keluhan muncul, namun
keluhan tidak berkurang. Kemudian pasien berobat ke puskesmas dan keluhan juga tiak
berkurang, sehingga pasien memutuskan untuk berobat ke RSUD Fauziah Bireuen selama 2
hari dan dirujuk ke RSUDZA.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada keluarga pasien yang mengalami penyakit yang sama dengan pasien.

Riwayat Kebiasaan Sosial


Pasien mempunyai kebiasaan mengorek telinga sejak kecil, sering mandi di laut
sehingga telinganya sering masuk air, suka makan bakso, sering berobat ke puskesmas tetapi
tidak pernah tuntas karna pasien merasa keluhan sudah berkurang.

STATUS LOKALIS
Pemeriksaan

Dextra

Sinistra

Preaurikuler

Tenang

Tenang

Aurikula

Normal

Normal

CAE

Lapang/tenang

Lapang/tenang

Serumen

Minimal

Minimal

Sekret

Tidak ada

Tidak ada

Membran timpani

Intak

Intak

Refleks cahaya

Arah jam 5

Arah jam 7

Retroaurikuler

Fistel (-), Abses (-)

Fistel (-), Abses (-)

Mukosa

Tidak hiperemis

Tidak hiperemis

Sekret

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Negatif

Negatif

Konka Inf.

Dalam batas normal

Septum nasi

Tidak deviasi

Tidak deviasi

Pasase udara

Lancar

Lancar

Tonsil

T1, tenang

T1,tenang

Kripta

Tidak melebar

Tidak melebar

Detritus

Negatif

Negatif

Perlengketan

Negatif

Negatif

Sikatrik

Negatif

Negatif

Mukosa

Tenang

Tenang

Granul

Negatif

Negatif

Bulging

Negatif

Negatif

Reflek muntah

(+)

(+)

Arkus faring

Simetris

Simetris

Tidak simetris

Tidak simetris

Rhinoskopi anterior

Dalam batas normal

Orofaring

Faring

Maksilofasial
Simetri

Maksilofasial
Simetri

Tidak simetris

Tidak simetris

Parese n. Kranialis

Negatif

Negatif

Massa

Negatif

Negatif

Hematoma

Negatif

Negatif

Oedem

Positif

Positif

Upper juguler

Pembesaran

Pembesaran

Mid juguler

Tidak ada pembesaran

Tidak ada pembesaran

Lower juguler

Tidak ada pembesaran

Tidak ada pembesaran

Sub mandibula

Pembesaran

Pembesaran

Sub mental

Pembesaran

Pembesaran

Supra Klavikula

Tidak ada pembesaran

Tidak ada pembesaran

Leher

Vital sign

TD: 120/80 mmHg

N: 90x/menit
RR: 20 x/menit
T : 36,90C

Dorsum nasi

: Dalam batas normal

Palatum

: Tidak hiperemis

Gigi-geligi
kiri)

: Terdapat karies denti (gigi 7, 8 bawah kanan dan gigi 8 bawah

Trimus

: (+)

Nistagmus

: (-)

Laringoskopi indirek

: Tidak dilakukan

Diagnosis Banding
Abses submandibular dekstra
Abses buccal meluas ke mandibula
Angina Ludovici (Ludwigs angina)

Abses parafaring

Kultur Mikroorganisme
Hasil : Tidak ada pertumbuhan mikroorganisme
bakteri maupun jamur

Laboratorium Darah

Pemeriksaan

2-12-2014

5-12-2014

10-12-2014

Hemoglobin

9,5 g/dl

9,4 g/dl

9,7 g/dl

Hematokrit

28 %

28 %

28 %

Eritrosit

3,6 x 106/ ul

3,5 x 106/ ul

3,6 x 106/ ul

Leukosit

19,0 x 10 /ul

Trombosit

149.000/mm

5,7 x 10 /ul

524.000/mm

174.000/mm

LED
E/B/NS/L/M

12,0 x 10 /ul

115 mm/jam
1/0/85/6/8

0/0/88/8/4

1/2/57/26/14

Creatinin

0,80 mg/dl

0,80 mg/dl

Ureum

55

55

Chlorida Darah
Kalium Darah
Natrium Darah
Albumin
Globulin
Protein total
MCV
MCH
MCHC
CT

BT

SGOT
SGPT

Foto thoraks (2 Desember 2014)

Kesimpulan : Cor dan Pulmonal dalam batas normal

CT Scan mandibula tanpa contras


(3 Desember 2014)

Kesimpulan : Suspect soft tissue swelling dengan air bubble di mandibula sampai ke
temporal dekstra ke dalam mengenai oropharyng dekstra

CT Scan mandibula dengan contras (3


Desember 2014)

Kesimpulan: Soft tissue swelling dengan air bubble di dalamnya di mandibula


sampai ke temporal dekstra ke dalam mengenai oropharyng dekstra suspect
abses fase infiltrat.

CT Scan cervical AP/Lat

Kesimpulan : soft tissue massa region submandibula


dekstra dan sinistra.

Diagnosis Kerja

Abses submandibular dekstra

Penatalaksanaan
Medikamentosa:
Terapi THT
IVFD Ringer Laktat 10 tetes per menit
Injeksi Cefotaxim 1 gr per 12 jam

Injeksi Metronidazole 500 mg vial per 8 jam

Non Medimentosa
Operatif : Insisi dan Drainage Evakuasi Abses
Submandibular

Prognosis
Quo ad vitam

: Dubia ad bonam

Quo ad functionam

: Dubia ad bonam

Quo ad Sanactionam

: Dubia ad bonam

Follow UP
4/12/2 S/
014 Bengkak pipi kanan
H1 (+)
Mulut susah di buka

Ass/
Th/
Abses submandibula Terapi THT
dekstra
- IVFD Ringer Laktat
10 tetes per menit
- Injeksi Cefotaxim 1
Kes : Compos mentis
gr per 12 jam (H1)
TD : 120/70 mmHg
- Injeksi
HR : 80x/i
Metronidazole 500
RR : 19x/i
mg ampul per 8 jam
T : 36,5OC
(H1)
Status lokalis:
- Betadine Gurgle
- Wajah : asimetris,
P/
benjolan di pipi
- Operasi insisi +
kanan
drainage abses
- Mulut : trismus 2
submandibula
jari, pus (+)
- Leher : benjolan
(+/+).

5/12/2 S/
Ass/
Th/
014 Sakit kepala (+),
Post insisi dan Terapi THT
H2
keluar cairan dari
drainage
abses
- IVFD Ringer Laktat
telinga kiri kental dan
submandibular
20 tetes per menit
berbau (+) lengan
dekstra
- Injeksi Cefotaxime
kanan atas terasa
1 gr per 12 jam
kebas
(H2)
- Injeksi Ketorolac
Kes : Compos mentis
3% per 12 jam (H1)
TD : 120/70 mmHg
- Injeksi
HR : 80x/i
Metronidazole 500
RR : 20x/i
mg per 8 jam (H2)
T : 36,5OC
- Betadine Gurgle
SL a/r mandibula:
Luka terpasang drain
dan terbalut verban,
drain mengeluarkan
pus (+), nyeri (+),
berbau (+)

p/ Rawat luka

FOLLOW UP
6/12/2 S/
Ass/
Th/
014 Nyeri luka operasi (+)
Post insisi dan Terapi THT
POD Batuk berdahak
drainage
abses
- IVFD Ringer Laktat
I
submandibular
20 tetes per menit
Kes : Compos mentis
dekstra
- Injeksi Cefotaxime
TD : 95/70 mmHg
1 gr per 12 jam
HR : 74x/i
(H3)
RR : 17x/i
- Injeksi Ketorolac
O
T : 36,5 C
3% per 12 jam (H2)
- Injeksi Gentamisin
SL a/r mandibula:
80 mg per 12 jam
Luka terpasang drain
(H1)
dan terbalut verban,
- Injeksi
drain mengeluarkan
Metronidazole 500
pus (+), nyeri (+),
mg per 8 jam (H3)
berbau (+)
- Betadine gurgle
- Diet MI

7/12/2 S/
Ass/
Th/
014 Nyeri luka operasi (+)
Post insisi dan Terapi THT
POD Batuk berdahak
drainage
abses
- IVFD Ringer Laktat
II
submandibular
20 tetes per menit
Kes : Compos mentis
dekstra
- Injeksi Cefotaxime
TD : 120/60 mmHg
1 gr per 12 jam
HR : 72x/i
(H4)
RR : 19x/i
- Injeksi Gentamisin
O
T : 36,5 C
80 mg per 12 jam
(H2)
SL a/r mandibula:
- Injeksi Ketorolac
Luka terpasang drain
3% per 12 jam (H3)
dan terbalut verban,
- Injeksi
drain mengeluarkan
Metronidazole 500
pus (+), nyeri (+),
mg per 8 jam (H4)
berbau (+)
- Betadine Gurgle
p/

p/
- Rawat Luka

- Buka
draine
(8/12/2014)

FOLLOW UP
8/12/2 S/
Ass/
Th/
014 Nyeri luka operasi (+)
Post insisi dan Terapi THT
POD Batuk berdahak
drainage
abses
- IVFD Ringer Laktat
III
submandibular
20 tetes per menit
Kes : Compos mentis
dekstra
- Injeksi Cefotaxime
TD : 120/60 mmHg
1 gr per 12 jam
HR : 72x/i
(H5)
RR : 19x/i
- Injeksi Gentamisin
T : 36,5OC
80 mg per 12 jam
(H3)
SL a/r mandibula:
- Injeksi Ketorolac
Luka terbalut verban,
3% per 12 jam
pus (+), darah (+)
(H4)
- Injeksi
Metronidazole 500
mg per 8 jam (H5)
- Betadine Gurgle
p/
-

9/12/2
014
POD
IV

S/
Nyeri dan berdenyut
luka operasi (+)
Batuk berdahak
berwana putih
kekuningan

Ass/
Th/
Post insisi dan
- IVFD
Ringer
drainage
abses
Laktat 20 tetes per
submandibular
menit
dekstra
- Injeksi Cefotaxime
1 gr per 12 jam
(H6)
Kes : Compos mentis
- Injeksi Gentamisin
TD : 120/60 mmHg
80 mg per 12 jam
HR : 72x/i
(H4)
RR : 19x/i
- Injeksi Ketorolac
T : 36,5OC
3% per 12 jam
- Injeksi
SL a/r mandibula:
Metronidazole 500
Luka terbalut verban,
mg per 8 jam (H6)
pus (+), darah (+),
- Ambroxol 3x1C
nyeri (+)
- Asam mefenamat
3x500 mg
- Betadine Gurgle
p/
- Rawat luka
- Ganti verban 2x
sehari

FOLLOW UP
10/12/
2014
POD
V

S/
Ass/
Th/
Nyeri luka operasi (+)
Post insisi dan
- IVFD
Ringer
drainage
abses
Batuk berdahak
Laktat 20 tetes per
submandibular
berwana putih
menit
dekstra
kekuningan
- Injeksi Cefotaxime
1 gr per 12 jam
Kes : Compos mentis
(H7)
TD : 120/80 mmHg
- Injeksi Gentamisin
HR : 76x/i
80 mg per 12 jam
RR : 26x/i
(H5)
T : 36,5OC
- Injeksi
Metronidazole 500
SL a/r mandibula:
mg per 8 jam (H7)
Luka terbalut verban,
- Ambroxol 3x1C
pus (+), darah (+),
(H2)
nyeri (+)
- Asam mefenamat
3x500 mg (K/P)
- Betadine Gurgle
p/
-

11/12/
2014
POD
VI

S/
Nyeri luka operasi (+)
Batuk berdahak
berwana putih
kekuningan

Ass/
Th/
Post insisi dan drainage
- IVFD
Ringer
abses submandibular
Laktat 20 tetes per
dekstra
menit
- Injeksi Cefotaxime
1 gr per 12 jam
Kes : Compos mentis
(H8)
TD : 120/80 mmHg
- Injeksi Gentamisin
HR : 76x/i
80 mg per 12 jam
RR : 26x/i
(H6)
T : 36,5OC
- Injeksi
Metronidazole 500
SL a/r mandibula:
mg per 8 jam (H8)
Luka terbalut verban,
- Ambroxol 3x1C
pus (+), darah (+),
(H3)
nyeri (+)
- Asam mefenamat
3x500 mg (K/P)
- Betadine Gurgle
p/
-

FOLLOW UP
12/12/ S/
2014 Nyeri luka operasi (-)
POD
VII Kes : Compos mentis
TD : 130/80 mmHg
HR : 83x/i
RR : 19x/i
T : 36,5OC

Ass/
Th/
Post insisi dan drainage
- IVFD
Ringer
abses submandibular
Laktat 20 tetes per
dekstra
menit
- Injeksi Cefotaxime
1 gr per 12 jam
(H9)
- Injeksi Gentamisin
80 mg per 12 jam
SL a/r mandibula:
(H7)
Luka terbalut verban,
- Injeksi
kering.
Metronidazole 500
mg per 8 jam (H9)
- Ambroxol 3x1C
(H2)
- Asam mefenamat
3x500 mg (K/P)
- Betadine Gurgle
p/
-

13/12/ S/
2014 Nyeri luka operasi
POD berkurang
IX
Kes : Compos mentis
TD : 120/80 mmHg
HR : 80x/i
RR : 19x/i
T : 36,6OC

Ass/
Post insisi dan drainage
abses submandibular
dekstra

Th/
-

SL a/r mandibula:
Luka terbalut verban,
kering

IVFD
Ringer
Laktat 20 tetes per
menit
Injeksi Cefotaxime
1 gr per 12 jam
(H10)
Injeksi Gentamisin
80 mg per 12 jam
(H8)
Injeksi
Metronidazole 500
mg per 8 jam
(H10)
Ambroxol 3x1C
(H2)
Asam mefenamat
3x500 mg (K/P)
Betadine Gurgle
Injeksi vit C 200
mg per 12 jam
Ranitidin 2x1 tab

p/
-

Rawat luka +
Nebacitin tabor
Ganti verban 2 x
sehari

FOLLOW UP
14/12/
2014
POD
VI

S/
Nyeri luka operasi
berkurang
Kes
TD
HR
RR
T

Ass/
Post insisi dan drainage
abses submandibular
dekstra

Th/
-

: Compos mentis
: 110/70 mmHg
: 76x/i
: 19x/i
: 36,5OC

SL a/r mandibula:
Luka terbalut verban,
kering

IVFD
Ringer
Laktat 20 tetes per
menit
Cefixime 2 x 200
mg tab (H1)
Injeksi Gentamisin
80 mg per 12 jam
(H5)
Injeksi
Metronidazole 500
mg per 8 jam (H7)
Ambroxol
3x1C
(H2)
Asam mefenamat
3x500 mg (K/P)
Betadine Gurgle

p/
-

Rawat luka +
Nebacitin tabor
Ganti verban 2 x
sehari

Analisa Kasus

KASUS

PEMBAHASAN

Pasien datang dengan keluhan nyeri


pada pipi kanan yang dirasakan sejak
5 hari SMRS. Pada malam harinya
pasien merasakan nyeri pada gusi dan
gigi kanan bawah belakang.Keluhan
terus dirasakan memberat dan disertai
bengkak pada pipi kanan sehingga
pasien tidak dapat membuka mulut
dan sulit memakan makanan.

Hal
ini
sesuai
yang
dikemukakan
Smeltzer dan
Bare (2001), gejala abses
tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap suatu
organ, gejala tersebut yaitu:
nyeri, teraba hangat pada lesi,
pembengkakan, kemerahan dan
demam.

KASUS

PEMBAHASAN

Pada pemeriksaan fisik pada regio


submandibula dekstra terdapat udem(+),
eritema (+), kalor (+), nyeri tekan (+),
Fluktuasi (+) dan tidak ada pembesaran
kelenjar getah bening.

Hal ini sesuai dengan teori yang


dikemukanan Smeltzer dan Bare, pada
pemeriksaan
fisik
didapatkan
pembengkakan dibawah rahang baik
unilateral
maupun
bilateral
dan
berfluktuasi. Adanya
pembengkakan
dinding lateral faring hingga menonjol ke
arah media.

KASUS

PEMBAHASAN

pemeriksaan penunjang yang dilakukan ini menunjukkan bahwa terdapat tanda


yaitu pemeriksaan darah lengkap, pada infeksi (leukositosis) pada pasien. Abses
darah ditemukan leukosit 19,0 x 103/ul.
merupakan pus yang terlokalisir akibat
adanya
infeksi
dan
supurasi
jaringan.Abses
merupakan
reaksi
pertahanan yang bertujuan mencegah
agen-agen infeksi menyebar ke bagian
tubuh lainnya.Pus itu sendiri merupakan
suatu kumpulan sel-sel jaringan lokal yang
mati, sel-sel darah putih, organisme
penyebab infeksi atau benda-benda asing
dan racun yang dihasilkan oleh organisme
dan sel-sel darah.

KASUS

PEMBAHASAN

Hasil CT Scan mandibula tanpa kontras


didapatkan Kesimpulan : Suspect soft
tissue swelling dengan air bubble di
mandibula sampai ke temporal dekstra ke
dalam mengenai oropharyng dekstra. CT
Scan mandibula dengan kontras didapati
kesimpulan: Soft tissue swelling dengan
air bubble di dalamnya di mandibula
sampai ke temporal dekstra ke dalam
mengenai oropharyng dekstra suspect
abses fase infiltrat. CT Scan cervical
AP/Lat Kesimpulan : soft tissue massa
region submandibula dekstra dan sinistra.
Ct Scan merupakan gold standar untuk
mengevaluasi infeksi pada leher dalam.
Abses akan tampak sebagai bangunan atau
lesi, air fluid level, dan lokulasi.

Ct Scan merupakan gold standar untuk


mengevaluasi infeksi pada leher dalam.
Abses akan tampak sebagai bangunan atau
lesi, air fluid level, dan lokulasi.

KASUS

PEMBAHASAN

Pasien
juga mengaku
tersangkut
makanan pada giginya yang berlubang
kemudian
pasien
berusaha
untuk
mengeluarkannya
dengan
cara
mencongkel gigi dengan lidi yang di ambil
pasien di pohon kelapa, ini lah yang juga
ikut menjadi faktr terjadinya abses
submandibula yaitu personal hygiene
pasien yang buruk. Pasien menggunakan
alat-a;at yang tidak sesuai standar dan
steril.

Abses submandibula adalah suatu


peradangan yang disertai pembentukan
pus pada daerah submandibula. Abses
mandibula menempati urutan tertinggi dari
seluruh abses leher dalam mencapai 7085% kasus yang disebabkan oleh infeksi
gigi ini merupakan kasus terbanyak
selebihnya disebabkan oleh sialandenitis,
limfadenitis, laserasi dinding mulut atau
fraktur mandibula.Pada pasien ini abses
submandibula diduga kuat disebabkan
oleh dentogenik yaitu infeksi ini terjadi
akibat perjalanan dari infeksi gigi yaitu
karies dentis pada gigi 7, 8 bawah kanan
dan gigi 8 bawah kiri.

KASUS

PEMBAHASAN

Terapi pada pasien ini berupa pemberian


antibiotik seperti : Injeksi Cefotaxim 1 gr
per 12 jam dan Injeksi Metronidazole 500
mg ampul per 8 jam

Cefotaxime
merupakan
golongan
antibiotik golongan sepalosphorin generasi
ke tiga yang efektif terhadap gram positif
dan gram negatif. Kuman aerob memiliki
angka
sensitifitas
tinggi
terhadap
Cefotaxime. Metronidazole memiliki
sensitifitas yang tinggi terutama untuk
kuman anaerob gram negatif.

KASUS

PEMBAHASAN

Pasien dilakukan tindakan operasi insisi + Prinsip


pengelolaan
abses
adalah
drainage abses submandibula
pemberian antibiotik perenteral dosis
tinggi dan evakuasi abses. Evakuasi abses
dapat dilakukan dengan anestesi lokal
untuk abses yang dangkal dan terlokalisasi
atau eksplorasi dalam narkosis bila letak
abses dalam dan luas.Insisi dibuat pada
tempat yang paling berfluktuasi

kesimpulan
Abses submandibular merupakan suatu kondisi dimana terbentuknya
abses pada ruang potensial di regio submandibular yang disertai dengan
rasa nyeri tenggorok, demam dan terbatasnya gerakan membuka mulut.
Abses submandibular merupakan bagian dari abses leher dalam. Pada
abses submandibular didapatkan pembengkakan dibawah dagu atau
dibawah lidah baik unilateral atau bilateral, disertai rasa demam, nyeri
tenggorok dan trismus. Mungkin didapatkan riwayat infeksi atau cabut
gigi. Pembengkakan dapat berfluktuasi atau tidak.

Diagnosis abses leher dalam ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis


yang cermat, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada
beberapa kasus kadang-kadang sulit untuk menentukan lokasi abses
terutama jika melibatkan beberapa daerah leher dalam dan jika pasien
sudah mendapatkan pengobatan sebelumnya. Pemeriksaan penunjang
sangat berperan dalam menegakkan diagnosis. Pada foto polos jaringan
lunak leher anteroposterior dan lateral didapatkan gambaran
pembengkakan jaringan lunak, cairan di dalam jaringan lunak, udara di
subkutis dan pendorongan trakea. Pada foto polos toraks, jika sudah
terdapat komplikasi dapat dijumpai gambaran pneumotoraks dan juga
dapat ditemukan gambaran pneumomediastinum.

Terima Kasih