Anda di halaman 1dari 50

dr.Kulsum,M.Ked(An), Sp.

An
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif
FK Unsyiah /RSUD.dr.Zainoel Abidin

Curriculum Vitae
Nama

: dr.Kulsum, M.Ked (An), SpAn


NIP
: 19791009 200812 2 002
Alamat
: Perumahan RSUD dr Zainoel Abidin No.19
Jl.Kakap Banda Aceh, Telp. 082162755556
Jabatan
: Staf Pengajar Anestesiologi dan Terapi
Intensif FK Unsyiah/ RSUDZA
Suami
: dr.Taufik Suryadi,SpF
Anak-anak : 1.Habibie Arzt Forensa
2.Azizi Bioethic Humaniora

Silent epidemic

Handling trauma patients requires different


mindset

TIME SAVING is LIFE SAVING

Prognosis pasien trauma paling baik pada jam pertama.


Dalam waktu satu jam terapi definitip harus sudah dikerjakan

The Golden Hour


4

A airway

(jalan nafas)

Bebas/ plong

Tidak (obstruksi)

Total
Partial

Bebaskanjalannafas

Tanpa alat

Pertahankan
Jalan nafas
TETAP bebas

Head tilt
Chin lift
Jawtrust

+ suction / dikorek-2 manuil

Dengan alat
Orofaringeal tube
Nasofaringeal
tube
Endotrachealtub
e
LMA
Crycothyroidoto

A-B-C
Life
Support

B - breathing (nafas)

Bernafas

Tidak bernafas
tidak

normal

Beri
bantuan nafas
secara aktif
+ OKSIGEN

hipoventilasi
hiperventilasi
Pertahankan
jalan nafas
tetap bebas
k/p OKSIGEN
masker

Pertahankan jalan nafas


tetap bebas
OKSIGEN masker
SIAP

Mouth to mouth
Mouth to mask
Ambu bag
Jackson Rees
T- piece

PRE-LOAD

CONTRACTILITY

STROKE VOLUME

CARDIAC OUTPUT

AFTER-LOAD

HEART-RATE

TOTAL
PERIPHERAL
RESISTANCE

BLOOD
PRESSURE
7

TREATMENT CONCEPT OF SHOCK


ENHANCING PERFUSION / OXYGEN DELIVERY

DO2 = CO x CaO2
Arterial
O2
content

Cardiac
output

Oxygen delivery/DO2 = HR X SV X Hb X S02 X 1.34 +


PaO2x0.0031
Inotropes

Fluids

Transfus
e

Partially
dependent
on FIO2 and
pulmonary
status

INTUBASI

DEFINISI:

Monitoring adalah segala usaha untuk memperhatikan,


mengawasi dan memeriksa pasien dalam anestesi untuk
mengetahui keadaan dan reaksi fisiologis pasien terhadap
tindakan anestesi,pembedahan,ataupun pada pasien
kritis.
Pasien kritis adalah pasien dengan disfungsi atau gagal
pada satu atau lebih sistem tubuh, tergantung pada
penggunaan peralatan monitoring dan terapi
Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah
sakit yang mandiri (instalasi di bawah direktur
pelayanan), dengan staf yang khusus dan perlengkapan
yang khusus yang ditujukan untuk memonitor.
Transportasi pasien kritis merupakan salah satu bidang
penting di ilmu kedokteran kegawatdaruratan
(emergency medicine)

Pelayanan ICU di Rumah Sakit


Pasien yang dirawat di ICU adalah:
Pasien yang memerlukan intervensi medis
segera
Pasien yang memerlukan pengelolaan fungsi
sistem organ tubuh secara terkoordinasi dan
berkelanjutan
Pasien sakit kritis yang memerlukan
pemantauan kontinyu dan tindakan segera

Pelayanan ICU harus memiliki


kemampuan minimal sebagai berikut:

Resusitasi jantung paru


Pengelolaan jalan napas
Terapi oksigen
Pemantauan EKG
Pemberian nutrisi enteral dan parenteral
Pemeriksaan laboratorium
Pelaksanaan terapi secara titrasi
Kemampuan melaksanakan teknik khusus sesuai
dengan kondisi pasien
Memberikan tunjangan fungsi vital
Kemampuan melakukan fisioterapi dada

Indikasi Masuk ICU


Pasien
Prioritas 1

Pasien sakit kritis, tidak stabil yang


memerlukan terapi intensif dan tertitrasi

Pasien
Prioritas 2

Pasien yang memerlukan pelayanan


pemantauan canggih di ICU,sebab sangat
berisiko bila tidak mendapatkan terapi
intensif segera

Pasien
Prioritas 3

Pasien sakit kritis, yang tidak stabil


kesehatan sebelumnya, penyakit yang
mendasarinya, atau penyakit akutnya,
secara sendirian atau kombinasi

Monitoring Pasien di Intensive


Care Unit (ICU)
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Monitoring Temperatur
Monitoring ECG
Monitoring Catheter Vena Sentral (CVP)
Monitoring Tekanan Darah Arteri
Monitoring Tekanan A. Pulmonal
Monitoring Respirasi

Monitoring Pasien di Intensive


Care Unit (ICU)
Problema medis yang sering dialami pada umumnya

adalah masalah Airway-Breathing and VentilationCirculation-Disability.


Monitoring pasien icu merupakan suatu proses
monitoring fisiologis yang ketat disertai dengan
tindakan intervensi dengan response time yang cepat,
meliputi intervensi farmakologis , support ventilasi,
dan prosedur invasive.

Monitoring Temperatur
Pengukuran suhu sangat penting pada anak terutama
bayi, karena bayi mudah sekali kehilangan panas
secara radiasi,konveksi, evaporasi dan konduksi,
dengan konsekkuensi depresi otot jantung, hipoksia,
asidosis, pulih anestesi lambat dan pada neonatus
dapat terjadi sirkulasi persisten fetal.
Tempat yang lazim digunakan

Aksila (ketiak)
Oral-sublingual

Rektal
Nasofaring, esofageal, berbentuk kateter

Monitoring ECG
Mengetahui secara kontinyu frekuensi nadi, disritmia,

iskemia jantung, gangguan konduksi, abnormalitas


elektrolit, dan fungsi pacemaker.
Dengan alat ini memungkinkan tim ICU untuk meng

acsess frekuensi denyut jantung dan irama jantung


secara tepat, serta mampu mendeteksi secara cepat
adanya disritmia cordis.

Monitoring Central Venous Pressure


CVP
Tekanan darah di sistem

vena pusat yang memiliki


prioritas untuk pengisian
darah ke atrium kanan.
Lokasi pemasangan :
v.jugularis,v.subklavia,v.an
te kubital, v.femoralis dan
v.brakialis.
Nilai normal CVP 8-12
cmH2O

CVP

menunjukkan hubungan antar

kemampuan jantung kanan


dan volume darah yang
diterima, terutama untuk
evaluasi apakah pemberian
cairan infus cukup atau tidak.
Nilai CVP meningkat : kelebihan
cairan. Menurun :kekurangan
cairan.
Kegagalan jantung kanan
(hipovolemia) pasien
mendapatkan cairan 250-500
ml, hal ini mengakibatkan
peningkatan CVP.
Komplikasi :pneumothoraks,
emboli udara, sepsis,disritmia.

CVP
Indikasi Pemasangan CVC:
Pengukuran tekanan vena sentral
(CVP)
Operasi jantung,
Operasi lain yang banyak perdarahan,
Pasien yang mendapatkan obat
vasoaktif per drip (tetesan) dan obat
inotropik,
Trauma mayor,
Pengambilan darah yang sering
Pemberian cairan IV super cepat
Pengukuran oksigenasi vena sentral
Pemberian nutrisi parenteral dan
pemberian cairan hipertonik atau
cairan yang mengiritasi yang perlu
pengenceran segera dalam sistem
sirkulasi
Sebagai jalan masuk vena bila semua
tempat Iv lainnya telah lemah

Kontraindikasi Pemasangan
CVC:
Nyeri dan inflamasi pada area
penusukan
Bekuan darah karena
tertekuknya kateter
Perdarahan: ekimosis atau
perdarahan besar bila jarum
lepas
Tromboplebitis
Microshock
Disritmia jantung
Pembedahan leher
Insersi kawat pacemaker

Tempat meraba
arteria

carotis

Tempat punksi
vena
jugularis
subclavia

basilica

brachialis

radialis

femoralis

vena lengan
lainnya

Monitoring Kardiovaskular

Non Invasif ( tak langsung)


Invasif (langsung)

Nadi

Dengan Kanulasi

Tekanan Darah
Tekanan Vena Sentral (central venous
pressure)

MONITORING TEKANAN DARAH


ARTERI
Dalam kondisi pasien tidak bekerja berat, tekanan

darah normal berkisar 120/80 mmHg. Tekanan darah


tinggi atau hipertensi diukur pada nilai sistolik 140-160
mmHg.
Pengukuran tekanan secara indirek
Dengan menggunakan sphygmomanometer, dan

dilakukan setiap jam

Pengukuran tekanan secara direk


Dengan menggunakan kateter intra-arterial

Monitoring tekanan A.pulmonalis


Arteri Pulmonalis
Panjangnya 4cm setelah
apex ventrikel kanan.
Bercabang bagian kanan
dan kiri masingmasing mengalirkan
darah kebagian paru
kanan dan kiri.
Dindingnya tipis
1/3
tebal dinding Ao, 2 x
tebal dinding v. cava.

Arteri Pulmonalis

dapat menampung
semua Stroke volume
dari ventrikel kanan

Monitoring Respirasi
Respirasi harus dimonitor dengan teliti, mulai dengan

cara-cara yang sederhana samapai dengan monitor


yang menggunakan alat-alat yang mutakhir.
Pernafasan dinilai dari jenis nafasnya, apakah torakal,
atau abdominal, apakah ada nafas paradoksal, apakah
ada retraksi interkostal atau supraklavikula.

Pulse Oximetri
Dengan alat ini dapat
dinilai secara kontinyu
dan kuantitatif Saturasi
Oxygen Arteri (SaO2 ).
Kerja alat ini dapat
terganggu oleh
malposisi probe,
gerakan jari,
hypothermia,
vasokonstriksi dan
hypotensi

Capnography
Dapat menilai secara
kontinyu dan
kuantitatif konsentrasi
CO2 yang diexpirasikan,
dan selisih atau
gradient antara
pengukuran PaCO2 dan
End Tidal CO2 (ETCO2 )

Rumah sakit

Pra rumah sakit

+
+

Pasien
gawat
darurat

Transportasi

Puskesmas
Praktek
swasta

Ruang
resusitasi
Kamar
bedah
ICU

ACCOMPANYING
EQUIPMENT
Airway management equipment
Medication
Electronic devices
Trolley
Oxygen cylinder

AIRWAY MANAGEMENT
EQUIPMENT
Resuscitations Kit

Oxygen cylinder

Of ample volume to supply for projected needs plue30Mts reserve

Electronic Devices
Infusion pump

ECG Monitor

Pulse Oxymeter

STANDARD RESUSCITATION DRUGS

TROLLEY

perpindahan pasien antara rumah sakit

Langkah-Langkah Transport
Pasien
Decision
Planning
Implementasi

kritis harus mengikuti beberapa


aturan

Profesional
ikut bersama
pasien

Koordinasi
sebelum
transport

Peralatan
untuk
menunjang
pasien

Monitoring
selama
transport

digunakan pada pasien kritis,


yaitu:
Situasi medis pasien yang akan
dipindahkan

Jauhnya jarak pemindahan


Prosedur medis yang diperlukan
selama pemindahan
Ketersediaan staf dan sumber daya

sesuai dengan kebutuhan


pasien
Stabil tanpa
adanya
kemungkinan
perburukan

Stabil dengan
resiko perburukan
rendah

- Stabil dengan
resiko perburukan
sedang

- Stabil dengan
resiko perburukan
tinggi

- Tidak stabil

perpindahan pasien antara rumah sakit

Langkah-Langkah Transport
Pasien
Decision
Planning
Implementasi

kritis harus mengikuti beberapa


aturan

Profesional
ikut bersama
pasien

Koordinasi
sebelum
transport

Peralatan
untuk
menunjang
pasien

Monitoring
selama
transport

digunakan pada pasien kritis,


yaitu:
Situasi medis pasien yang akan
dipindahkan

Jauhnya jarak pemindahan


Prosedur medis yang diperlukan
selama pemindahan
Ketersediaan staf dan sumber daya

Peralatan

alat perlengkapan
yang diperlukan

obat dan tim yang


mengadakan
pemindahan
pasien

Managemen selama transport


Pengawasan keadaan pasien selama masa pemindahan

dengan pencatatan yang periodik


Pengawasan keadaan pasien selama masa pemindahan
dengan pencatatan yang intermiten

Resiko transport
risiko medis
Risiko perjalanan

Kesimpulan
Intensive Care Unit (ICU) merupakan cabang ilmu

kedokteran yang memfokuskan diri dalam bidang life


support atau organ support pada pasien-pasien sakit kritis
yang kerap membutuhkan monitoring intensif.
Memindahkan pasien kritis memerlukan banyak prosedur
diagnostik atau terapeutik
Untuk memindahkan pasien kritis harus dilakukan oleh
individu yang dilatih khusus.
Peralatan dan obat-obatan harus dipersiapkan terlebih
dahulu sebelum melakukan transportasi pasien kritis.
Persiapan sebelum transfer adalah kunci utama untuk
meminimalkan bahaya.

Terima Kasih