Anda di halaman 1dari 36

REGULASI PENYELENGGARAAN

IBADAH HAJI DAN TAKLIMATUL HAJ


Disampaikan oleh :
Drs. H. Tulus
Staf Ahli Menteri Agama / Dosen UIN Jakarta

KEMENTERIAN AGAMA RI
JAKARTA

I. UNDANG-UNDANG RI TENTANG
PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI
1.

Mengapa Perlu Dilakukan Penyempurnaan UU


No.17/1999
a. Penyelenggaraan ibadah haji kurun waktu tahun 2000 s/d
2005 dinilai masih kurang memenuhi aspirasi reformasi
karena adanya beberapa kendala;
b. Perlunya pemisahan secara tegas antara regulator dan
operator;
c. Perlunya menciptakan sistem penyelenggaraan haji yang
profesional dan adil (kuota, sanksi, pelayanan, dll);
d. Perlunya pengelolaan dana haji yang lebih transparan dan
akuntabel;
e. Perlunya peningkatan citra dan martabat bangsa Indonesia di
mata bangsa lain bagi jemaah haji dan umrah di Tanah Suci;

2.

Pokok-Pokok Penyelenggaraan Ibadah Haji Sesuai


Undang-undang Nomor 13 Tahun 2008
a. Penyelenggaraan ibadah haji sebagai tugas Nasional menjadi tanggaung
jawab Pemerintah, yang dikoordinasikan oleh Menteri Agama (9
Kementerian)
b. Pemerintah sebagai penyelenggara dengan tetap melibatkan masyarakat
disamping sebagai regulator. Sedangkan pengawasan dilakukan oleh
lembaga independen yaitu KPHI
c. Organisasi Penyelenggaraan Ibadah Haji ada 2 sistem:
Permanen Sistem
Non Permanen Sistem
d. Penyelenggaraan Ibadah haji terbagi dalam 3 kegiatan besar: Pembinaan,
Pelayanan dan Perlindungan
e. Asas penyelenggaraan ibadah haji: adil, profesional, akuntabel, dengan
prinsip nirlaba, sistem, manajemen SDM baik.
f. Pengelolalan DAU yang lebih profesional, transparan dan akuntabel.
g. BPIH
Ditetapkan oleh Presiden setelah memperoleh persetujuan DRP RI.

Lanjutan
BPIH di administrasikan sesuai peraturan perundangundangan, diperiksa oleh BPK, dan dilaporkan kepada
Presiden dan DPR RI
Neraca BPIH dilaporkan kepada masyarakat
h. Pengawasan Haji oleh DPR RI, DPD RI, KPK dan KPHI
i. Penetapan Kuota
Kuota berdasarkan MoU antara Menteri Agama RI dengan
Menteri Haji Arab Saudi
Kuota provinsi ditetapkan oleh Menteri Agama, dan Gubernur
dapat membagi kuota provinsi menjadi kuota Kab/Kota
j. Pendaftaran dengan prinsip First Come First Served

Lanjutan
k. Bimbingan haji diarahkan kepada kemandirian jemaah
dan mendahulukan sahnya ibadah
l. Petugas haji harus profesional dan dedikatif yang
direkrut secara terbuka
m. Seluruh jemaah haji memperoleh pemondokan,
transportasi, katering dan pelayanan kesehatan yang
memenuhi standar kelayakan
n. Kewajiban pemerintah dan hak jamaah diatur dalam
Undang-Undang
o. Penyewaan pemondokan sesuai dengan Taklimatul
Hajj Pemerintah Arab Saudi

Lanjutan
p. Transportasi udara sesuai dengan kelaikan dan
spesifikasi Kementerian Perhubungan.
q. Transportasi dari domisili jemaah ke embarkasi PP
menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah.
r. Pelayanan Kesehatan dilaksanakan secara preventif
dan kuratif serta menghindarkan dampak penularan
dari suatu penyakit.
s. Pelaksanaan penyelenggaraan haji sesuai Siklus
perhajian.

3. Penyelenggaraan Ibadah Haji ke Depan


a. Benar-benar menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008
penyelenggaraan ibadah haji dan berpedoman SOP untuk seluruh
jenis pelayanan haji sesuai dengan kaidah yang berlaku, sehingga
kinerja pemerintah dapat diketahui dengan pasti, termasuk untuk
tolok ukur pengawasan dan pengendalian haji.
b. Melakukan pengelolaan dana haji yang lebih profesional,
transparan, dan akuntabel melalui pembentukan badan/lembaga
tersendiri. Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah
(Ditjen PHU) dapat memfokuskan kegiatan pelayanan ibadah haji,
tidak melakukan pengelolaan dana haji.
c. Melakukan penyewaan pemondokan jangka panjang di Makkah.
Penyewaan jangka panjang akan memberikan jaminan dan
kepastian perolehan pemondokan haji yang standar, juga akan
memudahkan pengaturan penempatannya.

Lanjutan
d. Melakukan penguatan organisasi penyelenggaraan haji di
Arab Saudi sesuai beban kerja melalui pembentukan satuan
kerja tersendiri Kantor Misi Haji Indonesia di bawah
koordinasi Konsulat Jenderal RI Jeddah.
e. Pembentukan jemaah haji mandiri, baik kemandirian dalam
manasik/ibadah maupun pengetahuan perjalanan haji,
untuk itu perlu penyempurnaan sistem bimbingan manasik di
tanah air.
f. Pelayanan haji di Arab Saudi membutuhkan petugas haji
yang profesional dan dedikatif, untuk itu perlu perubahan
kebijakan dan sistem rekruitmen dan organisasi petugas haji
(petugas semi permanen yang rekruitmennya bekerjasama
dengan perguruan tinggi Islam.

4. Peraturan Perundangan Tahun 2010


a. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2010 tentang Tata
Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Anggota KPHI.
b. Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2010 tentang Biaya
Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1431H/2010M.
c. Peraturan Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2010 tentang
Prosedur dan Persyaratan Pendaftaran Jemaah Haji.
d. Peraturan Menteri Agama Nomor 8 Tahun 2010 tentang
Pembayaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun
1431H/2010M.

Lanjutan
e. Peraturan Menteri Agama Nomor 9 Tahun 2010 tentang
Biaya Penyelenggaraan Haji Khusus Tahun 1431H/2010M
f. Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2010 tentang
Kriteria Penggunaan Sisa Kuota Haji Nasional
g. Keputusan Menteri Agama Nomor 53 Tahun 2010 tentang
Penetapan Kuota Haji tahun 1431H/2010M (setiap tahun
disesuaikan)
h. Keputusan Menteri Agama Nomor 109 Tahun 2010
Penetapan Tambahan Kuota Jemaah Haji Indonesia Tahun
1431H/2010M (setiap tahun disesuaikan)

PP YANG DIAMANATKAN UU 13 TAHUN 2008


1

Pasal 8 ayat (7)

Kebijakan dan Pelaksanaan dalam Penyelenggaraan


Ibadah haji

Pasal 10 ayat (3)

Kewajiban Penyelenggaraan Ibadah Haji oleh Pemerintah

Pasal 27

Warga Negara di Luar Negeri yang akan menunaikan


Ibadah haji

Pasal 33 ayat (2)

Pelaksanaan Tugas Pelayanan transportasi Jemaah Haji


ke Arab saudi dan Pemulangan

5
6

Pasal 42
Pasal 46

Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus


Sanksi administratif terhadap Penyelenggaraan
Perjalanan Ibadah Umrah

Pasal 54 ayat (2)

Persyaratan anggota dewan pengawas dan dewan


pelaksanaan, hubungan kerja dan mekanisme kerja BPDAU

II. UU PEMERINTAH ARAB SAUDI TENTANG


PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI (TALIMATUL HAJJ)

1. Hal-hal yang diatur dalam undang-undang/Talimat


Petunjuk pelaksanaan haji yang meliputi : petunjuk
umum, petunjuk jamaah haji di Masyair dan petunjuk
kesehatan.
Waktu kedatangan, pemulangan dan proses pemulangan.
Biaya pelayanan Muassasah dan angkutan.
Delegasi haji resmi.
Kewajiban-kewajiban Muassasah, Naqobah, perusahaan
jasa angkutan.
Peraturan tentang sistem perumahan jamaah haji.Jumlah

2. Organisasi Penyelenggaraan haji di Arab Saudi


a. Pemerintah
Kementerian haji adalah lembaga resmi negara yang
bertanggung jawab dalam bidang perhajian (dengan
perwakilannya di Makkah, Madinah, Jeddah, Riyadh,
Masyair dan pintu-pintu gerbang kedatangan dengan
berbagai panitianya).

b. Swasta
Muassasah penanganan haji swasta (Muassasah Al-Thawwafah AlAhliyah) adalah instansi non pemerintah yang terdiri Muassasah
Thawwafah di Makkah, Muassasah Adilla di Madinah, Maktab
Wukala Muwahhad di Jeddah, dan Maktab Zamazimah Muwahhad
di Makkah. Pada masa operasioanl haji Muassasah membentuk
maktab-maktab pelayanan.
Muassasah Thawwafah di Makkah terdiri : Muassasah jamaah haji
negara-negara Arab, Muassasah jamaah haji negara-negara Asia
Tenggara, Muassasah jamaah haji negara-negara Asia Selatan,
Muassasah jamaah haji Turki, negara Eropa, Amerika dan Australia;
Muassasah jamaah haji negara-negara Afrika non Arab, dan
Muassasah jamaah haji Iran. Kementerian haji adalah lembaga resmi
negara yang bertanggung jawab dalam bidang perhajian (dengan
perwakilannya di Makkah, Madinah, Jeddah, Riyadh, Masyair dan
pintu-pintu gerbang kedatangan dengan berbagai panitianya).

3. Tugas/Kewajiban Muassasah
A. Kewajiban-Kewajiban Muassasah Thawwafah dan
Adilla antara lain :
1. Menyambut kedatangan dan mempersiapkan seorang
petugas (guide) pada setiap bus yang mengangkut
jamaah haji saat kedatangan.
2. Membantu jamaah haji mencari tempat tinggal mereka
yang telah disiapkan.
3. Mengangkut jamaah haji beserta barang-barang mereka
ke pemondokan dengan sarana angkutan yang
disediakan.
4. Mengawasi kenyamanan jamaah haji dan memantau
kondisi jamaah.

5. Mengontrol sistem, pedoman-pedoman dan syarat-syarat


perumahan.
6. Bekerjasama dengan Wukala dan Delegasi-delegasi haji
dalam pengaturan pendistribusian jamaah haji ke Maktabmaktab/Majannah.
7. Melakukan koordinasi dengan Naqabah (asosiasi
transportasi haji) dan perusahaan-perusahaan angkutan
haji untuk mempersiapkan bus-bus yang akan mengangkut
jamaah haji.
8. Memberikan setiap pada jamaah haji kartu tanda pengenal.

9.

Melaporkan ke pihak keamanan jika terjadi hal-hal berikut ini :


Jamaah tersesat belum ditemukan setelah lewat 24 jam.
Jamaah haji terlambat diberangkatkan dari waktu yang
telah ditentukan.
Jamaah haji kehilangan barang.
Jamaah haji mengalami kerampokan atau kecopetan.
Mengontrol sistem, pedoman-pedoman dan syarat-syarat
perumahan.
10. Segera melapor ke poliklinik terdekat jika ada jamaah yang
sakit, terlebih lagi jamaah yang kena penyakit menular, dan
mengantarnya ke rumah sakit untuk dirawat atau
mendatangkan dokter terus memantau kondisinya jika
diperlukan.
11. Membantu mengantar jamaah haji yang sakit ke rumah sakit
atau poliklinik untuk mendapatkan pengobatan yang
diperlukan.

12. Meminta bantuan ambulance bagi jamaah haji yang


sangat lemat untuk diangkut ke rumah sakit/poliklinik.
13. Memantau kondisi jamaah haji yang rawat inap di rumah
sakit dan membantu proses keluarnya dari rumah sakit
tersebut jika telah dinyatakan sembuh oleh dokter
bersangkutan, berkoordinasi dengan kantor kesehatan
Makkah/Madinah dan delegasi haji jamaah
bersangkutan.
14. Jika ada jamaah yang wafat, melaporkannya ke cabangcabang Kementerian Haji terkait dan Bait al-Mal (kas
Negara) untuk mencatat nama-nama warga negara, usia,
nomor paspor, dan dokumen perjalanan jamaah haji
yang wafat tersebut.

B.

Kewajiban-Kewajiban Muassasah Thawaafah di Masyair


1. Seluruh Muassasah yang berjumlah 6 (enam) Muassasah
bertanggungjawab mendirikan dan mempersiapkan kemahkemah yang layak sesuai dengan jumlah jamaah haji yang berada
dibawah tanggungjawabnya pada lokasi tanah/lahan dengan
luas yang telah didistribusikan secara resmi oleh Panitia
Distribusi Lahan di Kementerian Haji.
2. Mengangkut jamaah haji ke Arafah atau ke Madinah dan Jeddah,
setiap Muassasah (Maktab) harus mengatur keberangkatan
mereka pada waktu-waktu yang telah ditentukan agar terhindar
dari kemacetan dari lalu lintas.
3. Mendelegasikan petugas khusus untuk memantau kondisi
jamaah haji rawat inap di rumah sakit.
4. Jamaah haji yang wafat dapat diproses pemakamannya
berdasarkan surat pernyataan yang dibuat oleh Muassasah atau
Maktab yang berisikan hal-hal yang berkaitan dengan jamaah
wafat tersebut setelah melalui prosedur yang berlaku.

C. Kewajiban-Kewajiban Maktab Wukala Muwahhad


1. Menyambut dan menerima kedatangan jamaah haji di
pintu-pintu gerbang kedatangan.
2. Mengangkut barang-barang jamaah haji di seluruh pintupintu gerbang kedatangan (udara, laut dan darat) dengan
mengerahkan petugas-petugas pengangkut barang yang
memadai tanpa pungutan biaya karena telah dibayar
melalui cek.
3. Mengatur bus-bus yang ditugaskan mengangkut jamaah
haji ke Makkah dan Madinah dan memberi bantuan yang
dibutuhkan jamaah haji saat keberangkatan mereka,
disesuaikan dengan aturan-aturan yang ada.
4. Menerima dan menyimpan paspor dan dokumen
perjalanan jamaah haji sesuai dengan peraturan (talimat).

5. Memungut biaya pelayanan, sewa kemah dan


transportasi sesuai dengan peraturan yang ada.
6. Menerima jamaah haji yang datang dari Makkah setelah
menyelesaikan rangkaian manasik haji, atau dari Madinah
setelah berziarah.
7. Memantau secara kontinyu kondisi jamaah haji dan
membantu menyelesaikan urusan di instansi-instansi
pemerintahan jika dibutuhkan.
8. Jika ada jamaah haji yang sakit, terutama yang terkena
penyakit menular, harus segera memberitahu poliklinik
terdekat, dan membantu mereka merujuk ke rumah
sakit-rumah sakit/poliklinik-poliklinik.
9. Jika ada jamaah haji yang wafat, hendaknya secepat
mungkin melaporkannya ke cabang-cabang kementerian
haji.

D. Kewajiban-Kewajiban Maktab Zama-Zimah Muwahhad


Memberi dan menyuguhkan air zamzam kepada para
jamaah haji
E. Kewajiban-Kewajiban Naqabah dan PerusahaanPerusahaan Angkutan Haji
Naqabah merupakan Asosiasi Transportasi Haji yang
bertanggung jawab atas peningkatan pleyanan angkutan
jamaah haji dan para penziarah Majid Rasul

4. Petunjuk Pelaksanaan Haji


A.

Petunjuk Umum Sistem Pelaksanaan Haji


Setiap jamaah haji memperhatikan petunjuk-petunjuk sebagai berikut ini :
1. Menyerahkan dua helai cek bukti pembayaran pelayanan maktab
dan transportasi, atau membayarnya secara tunai ke perwakilanperwakilan Maktab Wukala di pintu-pintu gerbang kedatangan.
2. Menyerahkan paspor setelah menyelesaikan urusan keimigrasian
dan bea cukai.
3. Selalu membawa kartu pengenal yang diberikan oleh pihak
Muassasah atau Maktab, baik di Makkah maupun Madinah.
4. Tidak melakukan pekerjaan apapun di Arab Saudi dengan gaji
maupun tidak.
5. Mempersiapkan pas photo sebanyak 12 lembar yang sewaktu-waktu
akan diminta oleh pihak-pihak berwenang.
6. Jika terjadi kehilangan barang, hendaknya jamaah haji segera
menghubungi Maktab atau Seksi Barang Tercecer Kementerian Haji
baik di Makkah, Madinah maupun Jeddah.

B. Petunjuk Jamaah Haji di Masyair


1. Hendaklah jamaah haji menggunakan kendaraan-kendaraan
daerah milik perusahaan-perusahaan angkutan haji yang
berada di bawah naungan Naqabah.
2. Mengingat Maktab-maktab yang berada di bawah Muassasah
bertanggung jawab dalam pelayanan jamaah haji yang akan
melaksanakan ibadah haji di Masyair, maka hendaklah
jamaah haji selalu mengadakan kontak dengan Maktab yang
melayani mereka.
3. Bekerjasama dengan pihak Muassasah dalam mensukseskan
pemberangkatan jamaah haji ke Jamarat dengan mengikuti
jadwal yang telah diatur oleh Muassasah.

C. Petunjuk Kesehatan
1. Jamaah haji harus menunjukkan surat vaksinasi meningitis
yang berlaku minimal 10 hari dan maksimal 3 tahun sejak
kedatangannya di Arab Saudi.
2. Jika jamaah haji terkena penyakit, hendaklah segera
menghubungi pihak Maktab atau langsung mendatangani
rumah sakit/poliklinik untuk mendapatkan pengobatan yang
diperlukan, dengan tidak lupa mambawa kartu tanda
pengenal haji. Hendaklah jamaah haji menggunakan
kendaraan-kendaraan daerah milik perusahaan-perusahaan
angkutan haji yang berada di bawah naungan Naqabah.

D. Waktu Kedatangan dan Pemulangan


1. Batas akhir waktu kedatangannya adalah tanggal 4 Dzulhijjah setiap
tahunnya.
2. Batas akhir waktu keberangkatan jamaah haji dari Jeddah ke Madinah
melalui jalur darat adalah tanggal 26 Dzulqadah setiap tahunnya.
3. Batas akhir waktu keberangkatan jamaah haji dari Jeddah ke Madinah
melalui jalur udara adalah tanggal 2 Dzulhijjah setiap tahunnya.
4. Batas akhir waktu keberangkatan jamaah haji dari Madinah ke Makkah
melalui jalur darat (pra-haji) adalah tanggal 5 Dzulhijjah setiap tahunnya.
5. Batas akhir waktu keberangkatan jamaah haji dari Madinah ke Jeddah
melalui jalur udara (pra-haji) adalah tanggal 6 Dzulhijjah setiap
tahunnya.
6. Akhir masa berlakunya visa dan pemulangan haji jalur udara adalah
akhir bulan Dzulhijjah s.d tanggal 15 Muharram tahun berikutnya (tidak
boleh lebih), disesuaikan dengan tanggal keberangkatan yang tertera
pada tiket pesawat jamaah haji. Adapun jamaah haji jalur laut batas
akhir pemulangannya adalah akhir Muharram, dan jamaah haji jalur
darat tidak lebih dari tanggal 5 Muharram. Jamaah haji harus
menunjukkan surat vaksinasi meningitis yang berlaku minimal 10 hari
dan maksimal 3 tahun sejak kedatangannya di Arab Saudi.

E. PEMULANGAN JAMAAH HAJI KE NEGARA


MASING-MASING
Pihak Muassasah Thawwafah akan mengatur
proses keberangkatan jamaah haji udara yang
telah ditentukan waktu kepulangannya di tikettiket pesawat mereka dari Makkah ke Jeddah
sebelum waktu keberangkatan mereka ke tanah
air sekurang-kurangnya 12 jam sebelum take off.

F. Biaya Pelayanan dan Angkutan


Jenis Pelayanan yang Diberikan

Biaya

Pelayanan Muassasah Thawwafah di Makkah,


Muassasah Adilla di Madinah, Maktab Wukala di
Jeddah, Maktab Zamazimah di Makkah sesuai dengan
peraturan yang telah ditetapkan.

SR. 294

Sewa kemah di Arafah dan Mina (termasuk di dalamnya


akomodasi, air, listrik, kebersihan, keamanan, furniture,
kipas angin di Arafah dan AC di Mina)

SR. 300

JUMLAH

SR. 594

NO
1.

PENJELASAN

RUTE

Biaya jasa angkutan jamaah haji yang Jeddah Madinah


tiba melalui Bandara KAIA Jeddah Madinah Makkah
atau Pelabuhan Jeddah dan ingin
Makkah Masyair
berziarah ke Madinah sebelum haji.
Makkah Jeddah
Jumlah

2.

BIAYA
SR. 97,5
SR. 127,5
SR. 180
SR. 30
SR. 435

Biaya jasa angkutan jammah haji yang Jeddah Makkah


SR. 30
tiba melalui Bandara KAIA Jeddah
Makkah Masyair - SR. 97,5
atau Pelabuhan Jeddah dan ingin
Makkah
berziarah ke Madinah sesudah haji.
Makkah Madinah
SR. 127,5
Madinah Jeddah
Jumlah

SR. 180
SR. 435

G. Peraturan-Peraturan dan Beberapa Petunjuk Teknis Sistem


Perumahan Haji
I. PERATURAN PERUMAHAN HAJI
Pasal 1 :
Muassasah Thawwafah di Makkah dan Muassasah Adilla
di Madinah bertindak membantu jamaah haji atau
perwakilan mereka untuk memilih tempat yang sesuai dan
memungkinkan mereka untuk menyewanya.
Pasal 2 :
Para pemilik atau penyewa rumah harus menyampaikan
data-data perumahan yang ingin disewakan pada musim haji
ke pihak Muassasah, dengan mengisi keterangan sebagai
berikut :

a.
b.
c.
d.
e.

Letak rumah dan alamat lengkap;


Jenis bangunan;
Jumlah lantai dan kamar di setiap lantai;
Daftar isi (peralatan-peralatan) rumah;
Melampirkan, photocopy surat izin penyewaan yang
dikeluarkan oleh Panitia Pengawas Perumahan (Lajnah alKasf an al-Munazil) dengan masa berlaku tahun
penyewaan;
f. Melampirkan photocopy surat kontrak antara pihak yang
menyewa dengan pihak yang menyewakan;
g. Melampirkan photocopy surat kuasa (shak wakalah alsyariyyah) jika penyewaan dilakukan dengan cara
perwakilan.

Pasal 3 :
Penyewaan dilakukan oleh pemilik asli
perumahan atau wakil resminya untuk masa
penyewaan setahun penuh.
Pasal 9 :
Harga sewa rumah ditetapkan berdasarkan
kesepakatan antara pihak pemilik/penyewa dengan
pihak jamaah haji perwakilan mereka, disesuaikan
dengan kondisi penawaran dan permintaan yang ada.

II. BEBERAPA PETUNJUK TEKNIS SISTEM PERUMAHAN


JAMAAH HAJI

1. Tidak diperbolehkan menempatkan jamaah haji


kecuali di perumahan-perumahan yang memenuhi
standar-standar teknis perumahan, ciri-ciri umum
kelayakan, syarat-syarat keamanan, keselamatan
dan kesehatan.
2. Membentuk panitia pusat baik di Makkah maupun
di Madinah yang dinamai dengan Panitia
Perumahan yang bertugas menangani seluruh
perumahan-perumahan jamaah haji sesuai dengan
wewenang yang ada dan mengacu pada peraturan
tentang perumahan jamaah haji.

SYARAT-SYARAT PERUMAHAN JAMAAH HAJI


1. Luas tempat bagi setiap jamaah haji berukuran paling kurang
3 m2 (tiga meter persegi) di Makkah, dan 4 m2 (empat meter
persegi) di Madinah. Ruang terbuka, ruang dapur dan lorong
koridor rumah tidak dapat dipergunakan sebagai tempat
tinggal jamaah haji.
2. Menyedikan sebuah water cooler elektrik disetiap
perumahan, lengkap dengan gelas plastic/kertas yang
dibutuhkan jika setiap lantai memiliki lebih dari flat, maka
jumlah water cooler harus disesuaikan.
3. Melengkapi setiap kamar dengan alat pendingin (AC,
disesuaikan dengan luas ruangan kamar yang ada).
4. Menyediakan tempat sampah plastik ukuran kecil di setiap
kamar dan ukuran besar tertutup di setiap flat, dilengkapi
dengan kantong-kantong sampah plastik yang dibutuhkan.

5.

Mematuhi ketentuan kapasitas jumlah penghuni dan menuliskan di setiap


kamar jumlah penghuninya disesuaikan dengan izin yang diberikan oleh
Panitia Perumahan.
6. Flat, ruang dapur, toilet, koridor, tangga dan ventilasi rumah. Selama 24 jam
harus selalu dalam keadaan bersih.
7. Setiap flat harus tersedia sebuah alat (tabung) pemadam kebakaran
berukuran berat 5 kg, dan berukuran berat minimal 8 kg di setiap pintu
masuk gedung (perumahan) serta alat-alat keselamatan lainnya
sebagaimana ditetapkan oleh Kantor Pertahanan Sipil.
8. Setiap flat harus tersedia dapur yang di dalamnya terdapat tempat untuk
mencuci dan kipas penyedot udara/asap. Saluran-saluran air di dapur harus
berfungsi dengan baik dan tidak bocor.
9. Jendela-jendela kamar dan toilet harus tertutup dengan kawat penjaring
nyamuk agar serangga tidak masuk.
10. Toilet-toilet harus bersih dan mempunyai ventilasi yang baik dengan alat
siram kloset yang dapat difungsikan. Bagi perumahan-perumahan rakyat
(al-masakin al-syabiyyah) maka harus disesuaikan dengan standar teknis
dan syarat-syarat kelayakan yang berlaku.
11. Tersedianya lampu dan alat penerangan yang cukup di seluruh bagian
gedung.
12. Kabel-kabel listrik dalam gedung harus tertutup dalam pipa khusus.

III. PENUTUP
Undang-undang RI tentang haji mengatur prinsipprinsip dalam penyelenggaraan ibadah haji
Indonesia. Contoh pasal 34 Penunjukan pelaksana
transportasi jamaah haji dilakukan oleh Menteri
dengan memperhatikan aspek keamanan,
keselamatan, kenyamanan dan efesiensi. Ini bukan
berarti penetapan angkutan jamaah haji Indonesia
dari Indonesia ke Arab Saudi tidak boleh dilelang.
Taklimattul Hajj lebih rinci (semacam juklak)
Jakarta,

April 2011