Anda di halaman 1dari 47

KEPERAWATAN MEDIKAL

BEDAH
STROKE HEMORAGIK

KELOMPOK 4

Page 1

DEFINISI
Stroke hemoragik adalah
salah satu jenis stroke yang
disebabkan karena
pecahnya pembuluh darah
di otak sehingga darah
tidak dapat mengalir
secara semestinya yang
menyebabkan otak
mengalami hipoksia dan
berakhir dengan
kelumpuhan
Page 2

ETIOLOGI
1. Hipertensi , menyebabkan
peningkatan tekanan
sistemik sehingga dinding
arteri menipis dan mudah
rapuh
2. Aneurisma pembuluh
darah serebral, merupakan
arteri yang melebar atau
menggelembung yang
menyebabkan perdarahan
arteri intrakranium

Page 3

Malformasi arteriovenous, adalah pembuluh darah yang


mempunyai bentuk abnormal, terjadi hubungan
persambungan pembuluh darah arteri, sehingga darah arteri
langsung masuk vena, menyebabkan mudah pecah dan
menimbulkan perdarahan otak.

Page 4

PATOFISIOLOGI

STROKE
HEMORAGIK

Perdarahan intra
cerebral

Perdarahan sub
arachnoid

Page 5

1. Perdarahan intra cerebral


Pecahnya pembuluh darah otak terutama karena hipertensi
mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak,
membentuk massa atau hematom yang menekan jaringan otak
dan menimbulkan oedema di sekitar otak. Peningkatan TIK
yang terjadi dengan cepat dapat mengakibatkan kematian yang
mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intra cerebral
sering dijumpai di daerah putamen, talamus, sub kortikal,
nukleus kaudatus, pon, dan cerebellum. Hipertensi kronis
mengakibatkan perubahan struktur dinding permbuluh darah
berupa lipohyalinosis atau nekrosis fibrinoid.

Page 6

2.

Perdarahan sub arachnoid


Pecahnya pembuluh darah karena aneurisma atau
AVM. Aneurisma paling sering didapat pada
percabangan pembuluh darah besar di sirkulasi willisi.
AVM dapat dijumpai pada jaringan otak di permukaan
piameter dan ventrikel otak, ataupun didalam ventrikel
otak dan ruang subarakhnoid. Pecahnya arteri dan
keluarnya darah ke ruang subarakhnoid mengakibatkan
tarjadinya
peningkatan
TIK
yang
mendadak,
meregangnya struktur peka nyeri, sehinga timbul nyeri
kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan
tanda-tanda
rangsangan
selaput
otak
lainnya.
Peningkatam TIK yang mendadak juga mengakibatkan
perdarahan subhialoid pada retina dan penurunan
kesadaran.

Page 7

Lanjut..
Perdarahan
subarakhnoid
dapat
mengakibatkan
vasospasme pembuluh darah serebral. Vasospasme ini
seringkali terjadi 3-5 hari setelah timbulnya perdarahan,
mencapai puncaknya hari ke 5-9, dan dapat menghilang
setelah minggu ke 2-5. Timbulnya vasospasme diduga
karena interaksi antara bahan-bahan yang berasal dari
darah dan dilepaskan kedalam cairan serebrospinalis
dengan
pembuluh
arteridiruang
subarakhnoid.
Vasospasme ini dapat mengakibatkan disfungsi otak
global (nyeri kepala,penurunan kesadaran) maupun
fokal (hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia dan
lain-lain).
Page 8

Page 9

MANIFESTASI KLINIS

Page 10

Komplikasi
1. Hipoxia serebral
Diminimalkan dengan memberikan oksigen ke darah
yang adekuat ke otak, pemberian oksigen, suplemen
dan mempertahankan hemoglobin dan hematokrit
akan membantu dalam mempertahankan oksigen
jaringan.
2. Embolisme serebral
Dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi
atrium. Embolisme akan menurunkan aliran darah ke
otak dan selanjutnya menurunkan aliran darah
serebral.
3. Dekubitus
Karena penderita mengalami kelumpuhan dan
kehilangan perasaannya. Dekubitus selalu menjadi
ancaman khususnya di daerah bokong, panggul,
pergelangan kaki, tumit bahkan telinga.
Page 11

4.

5.

6.

7.

Hidrosefalus
Menandakan adanya ketidakseimbangan antara
pembentukan dan reabsorbsi dari CSS. Hidrosefalus terjadi
pada 15-20 % pasien dengan hemoragi subaraknoid.
Disritmia
Karena darah dalam CSS yang membasahi batang otak
mengiritasi area tersebut. Batang otak mempengaruhi
frekuensi jantung sehingga adanya iritasi kimia, dapat
mengakibatkan ketidakteraturan ritme jantung.
Kejang atau konvulsi
Serangan ini lebih besar kemungkinannya terjadi bila
korteks serebri sendiri telah terkena dari pada serangan
stroke yang mengenai struktur otak yang lebih dalam.
Vasospasme
Terjadi stroke hemorogic juga sebelum pembedahan.
Pada individu dengan aneurisme biasanya terjadi dari 3-12
hari setelah hemoragi subaraknoid.

Page 12

Penatalaksanaan
1. Menurunkan kerusakan iskemik cerebral
Infark cerebral terdapat kehilangan secara mantap inti
central jaringan otak, sekitar daerah itu mungkin ada
jaringan yang masih bisa diselematkan, tindakan awal
difokuskan untuk menyelematkan sebanyak mungkin
area iskemik dengan memberikan O2, glukosa dan
aliran darah yang adekuat dengan mengontrol /
memperbaiki disritmia (irama dan frekuensi) serta
tekanan darah.

Page 13

2. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK


Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi
dan rotasi kepala yang berlebihan, pemberian
dexamethason.

Page 14

4. Penatalaksanaan Pembedahan
Endarterektomi karotis dilakukan untuk memeperbaiki
peredaran darah otak. Penderita yang menjalani tindakan ini
seringkali juga menderita beberapa penyulit seperti hipertensi,
diabetes dan penyakit kardiovaskular yang luas. Tindakan ini
dilakukan dengan anestesi umum sehingga saluran pernafasan
dan kontrol ventilasi yang baik dapat dipertahankan.

Page 15

pengobatan
1. Manitol
Indikasi

: menurunkan tekanan
intrakranial yang tinggi
karena edema serebral.
Mekanisme kerja : kenaikan tekanan intrakranial
dan edema serebral pada hemoragi dapat terjadi
karena efek gumpalan hematoma, manitol bekerja
untuk meningkatkan osmolaritas plasma darah,
mengakibatkan peningkatan air dari jaringan
termasuk otak dan cairan serebrospinal ke dalam
cairan interstitial dan plasma. Akibatnya edema otak
P. TIK serta volume dan cairan serebrospinal
berkurang.
Page 16

2. Piracetam
Fungsi dari piracetam adalah menstimulasi glikolisis oksidatif,
meningkatkan konsumsi oksigen pada otak, serta
mempengaruhi pengaturan cerebrovaskular dan juga
mempunyai efek antitrombotik
Indikasi
1.Sindrom yang berkaitan dengan penuaan, seperti defisit
memori, astenia, dan gangguan psikomotor
2.Sindrom post taumatik
3.Terapi pada anak-anak dengan dysleksia
4.Kelainan dimana terdapat gangguan peredaran otak
seperti iskemia

Page 17

2. Anti koagulan

3. Obat anti trombotik

4. Diuretika
edema serebral

:Heparin untuk menurunkan


kecederungan perdarahan
pada fase akut.
: Pemberian ini diharapkan
mencegah peristiwa
trombolitik/emobolik.
: untuk menurunkan

Page 18

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Angiografi cerebral
Membantu menentukan
penyebab dari stroke secara
spesifik seperti perdarahan
arteriovena atau adanya ruptur
dan untuk mencari sumber
perdarahan seperti aneurism
atau malformasi vaskular.
2. Lumbal pungsi
Tekanan yang meningkat dan
disertai bercak darah pada
cairan lumbal menunjukkan
adanya hemoragi pada
subarakhnoid atau perdarahan
pada intrakranial.
Page 19

3. CT scan
Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik
letak edema, posisi hematoma, adanya jaringan
otak yang infark atau iskemia dan posisinya
secara pasti.

Hasil CT Scan Stroke hemoragik (Intraserebral)


Page 20

Page 21

4. MRI (Magnetic Imaging Resonance)


Menggunakan gelombang megnetik untuk
menentukan posisi dan bsar terjadinya perdarahan
otak. Hasil yang didapatkan area yang mengalami lesi
dan infark akibat dari hemoragik.

Page 22

5. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat
masalah yang timbul dan dampak dari jaringan yang
infrak sehingga menurunnya impuls listrik dalam
jaringan otak.

Page 23

PENGKAJIAN
1. Keluhan utama:
Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak
sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat
berkomunikasi.
2. Riwayat penyakit sekarang:
Serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung
sangat mendadak, pada saat klien sedang
melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala,
mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar,
disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau
gangguan fungsi otak yang lain.
Page 24

3. Riwayat penyakit dahulu


Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus,
penyakit jantung, riwayat trauma kepala,
obesitas.
4. Riwayat penyakit keluarga:
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita
hipertensi ataupun diabetes militus.

Page 25

PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum:
mengelami penurunan kesadaran, suara bicara
kadang sukar dimengerti, kadang tidak bisa
bicara/afasia, TD meningkat, nadi bervariasi.
2. Pemeriksaan integument:
a.Kulit: jika klien kekurangan O2 kulit akan
tampak pucat dan jika kekurangan cairan
maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu
perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus
terutama pada daerah yang menonjol karena
klien CVA Bleeding harus bed rest 2-3
minggu.
Page 26

Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger,


cyanosis.
Rambut : umumnya tidak ada kelainan

Page 27

3. Pemeriksaan kepala dan leher


a. Kepala : bentuk normocephalik
b. Wajah : umumnya tidak simetris yaitu
mencong ke salah satu sisi.
c. Leher : kaku kuduk jarang terjadi
4. Pemeriksaan dada : Pada pernafasan kadang
didapatkan suara nafas terdengar ronchi,
wheezing ataupun suara nafas tambahan,
pernafasan tidak teratur akibat penurunan
refleks batuk dan menelan.
5. Pemeriksaan abdomen: Didapatkan penurunan
peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan
kadang terdapat kembung.
Page 28

6. Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus: Kadang


terdapat incontinensia atau retensio urine.
7. Pemeriksaan ekstremitas: Sering didapatkan
kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

Page 29

8. Pemeriksaan neurologis
a. Pemeriksaan GCS
GCS (Glasgow Coma Scale) yaitu
skala yang digunakan untuk menilai
tingkat kesadaran pasien, (apakah
pasien dalam kondisi koma atau tidak)
dengan menilai respon pasien terhadap
rangsangan yang diberikan.

Page 30

Page 31

b. Pemeriksaan

Page 32

DIAGNOSA KEPERAWATAN
DAN
INTERVENSI KEPERAWATAN

Page 33

1. Gangguan perfusi jaringan serebral b.d gangguan


aliran darah sekunder akibat peningkatan TIK
Tujuan
: Setelah dilakukan perawatan intensive, diharapkan
perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal
Kriteria hasil : Klien tidak gelisah, tidak ada keluhan nyeri
kepala, mual dan kejang, pupil isokor, reflek cahaya (+) dan
TTV normal.
Intervensi
:
a) Kaji dan pantau TTV
R/ Mengetahui keadaan umum klien
b) Pantau tingkat kesadaran klien
R/ Mengetahui dan mengontrol perubahan kesadaran klien

Page 34

c) Berikan posisi kepala lebih tinggi 15 30 dengan letak


jantung (beri bantal tipis)
R/ Posisi kepala lebih tinggi memudahkan aliran darah
ke otak
d) Anjurkan klien untuk menghindari batuk dan mengedan
berlebihan
R/ Batuk dan mengedan berlebihan akan meningkatkan
tekanan intra cranial
e) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang
penyebab dan akibat dari peningkatan TIK
R/ Menambah pemahaman keluarga klien dan
menurunkan kecemasan yang dialami keluarga.
Page 35

f) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan batasi


pengunjung
R/ Lingkungan yang nyaman dapat membuat klien
beristrihat dengan nyaman.
g) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat
neuroprotektor.
R/ Obat neoroprotektor

Page 36

2. Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan


neuromuskular
Tujuan
: Setelah dilakukan perawatan intensive,
diharapkan mobilisasi klien mengalami peningkatan dengan
Kriteria hasil : mempertahankan posisi yang optimal,
mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi
bagian tubuh yang mengalami hemiparese.
Intervensi
:
a) Kaji kemampuan secara fungsional dan luasnya kerusakan
awal dengan teratur.
R/ Mengetahui kerusakan yang terjadi pada gangguan
mobilitas.
b) Ubah posisi minimal 2 jam sekali miring kanan - miring kiri
R/ Mencegah dekubitus
Page 37

c) Berikan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua


ekstremitas secara teratur ROM Range Of Motion.
R/ ROM dapat mencegah kontraktur dan kekakuan sendi pada
persendian, serta meningkatkan kekuatan dan kelenturan otot.
d) Berikan posisi yang nyaman, sesekali bantu klien untuk
mengembangkan keseimbangan duduk dengan meninggikan
bagian kepala tempat tidur, bantu untuk duduk disisi tempat
tidur Semi fowler
R/ Posisi meninggikan kepala dapat membantu masalah
kesulitan bernapas dan kardiovaskuler.
e) Kolaborasi pemberian obat relaksan otot, antipasmodik sesuai
indikasi
R/ obat relaksan otot dapat membantu melenturkan otot otot
yang kaku.
Page 38

3. Gangguan komunikasi verbal b.d kehilangan kontrol


otot oral dan fasial
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam,
diharapkan kerusakan komunikasi verbal dapat teratasi, dengan
Kriteria hasil : menerima pesan pesan melalui metode
alternatif seperti menulis, bahasa isyarat. Meningkatkan
kemampuan untuk mengerti, mampu berbicara dengan jelas.
Intervensi :
a) Kaji tipe disfungsi seperti klien tidak tampak memahami kata
atau sulit berbicara.
R/ Mengetahui sejaih mana klien mengalami gangguan bicara
b) Bedakan antara afasia dan disatria
R/ Afasia adalah Sedangkan disatria adalah
Page 39

c) Mintalah klien untuk mengikuti perintah sederhana seperti


buka mata atau tunjuk pintu dengan kalimat yang sederhana.
R/
d) Mintalah klien untuk mengucapkan suara sederhana seperti
Ah dan Pus.
R/ Melatih klien berbicara agar gangguan bicara klien dapat di
atasi dengan tepat
e) Berikan metode komunikasi alternatif seperti menulis,
berikan petunjuk visual (gerakan tangan)
R/ Komunikasi alternatif dapat mengatasi gangguan bicara
klien sedikit demi sedikit.
f) Konsultasikan dengan ahli terapi bicara
R/ Terapi bicara dapat melatih klien untuk melatih gangguan
bicara yang dialami oleh klien.
Page 40

4. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d penumpukan


sekret atau lendir dijalan napas.

Tujuan
: Setelah dilakukan perawatan intensive ,
diharapkan bersihan jalan napas tidak efektif dapat
teratasi, dengan
Kriteria hasil
: Klien dapat bernapas dengan normal
16 25 x/m, klien tidak sesak napas, tidak ada sekret
atau lendir.
Intervensi :
a) Kaji pola napas klien
R/ Mengetahui pola napas berupa frekuensi
pernapasan, bunyi napas tambahan serta irama
pernapasan

Page 41

b) Berikan posisi yang nyaman Semi fowler


R/ Posisi semi fowler dapat membantu mengatasi
kesulitan bernapas dan membuat klien merasa
nyaman.
c) Berikan terapi O2 sesuai indikasi
R/ Terapi O2 dapat memenuhi kebutuhan oksigen
klien, agar klien tidak sesak napas.

Page 42

5. Hipertermi b.d pecahnya pembuluh darah di otak


Tujuan
: Setelah dilakukan perawatan intensive,
diharapkan klien tidak mengalami hipertermi dengan
Kriteria hasil
: suhu tubuh 36 37,50 C, tubuh
tidak hangat dan tidak berkeringat.
Intervensi :
a) Kaji Tanda tand vital klien
R/ Mengetahui keadaan umum klien
b) Berikan kompres hangat kepada klien
R/ Kompres hangat dapat menurunkan demam klien
Page 43

c) Jika demam tidak turun berikan kompres alkohol


pada lipatan tubuh klien seperti bagian axila klien
R/ Kompres alkohol dapat menurunkan suhu tubuh
klien.
e) Kolaborasi pemberian obat anti piretik
R/ anti piretik dapat menurunkan suhu tubuh klien.

Page 44

6. Kecemasan keluarga b.d koping yang tidak efektif

Tujuan : Setelah dilakukan perawatan intensive, diharapkan


keluarga klien tidak gelisah, tidak cemas, wajah rileks dan
dapat memahami tentang penyakit serta pengobatan yang
dilakukan.
Intervensi :
a) Kaji tingkat kecemasan keluarga.
R/ Mengetahui tingkat kecemasan yang di alami oleh keluarga
terdekat seperti istri dan anak.
b) Beri dorongan kepada keluarga terdekat klien untuk
mengungkapkan secara verbal
R/ Pengungkapan secara verbal dapat membuat keluarga klien
merasa lega, rileks dan ansietas berkurang.
Page 45

c) Berikan penjelasan kepada keluarga klien tentang


pengobatan yang dilakukan.
R/ Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
keluarga klien sehingga ansietas berkurang. Sediakan
pengalihan melalui tv, musik, game

Page 46

Page 47