Anda di halaman 1dari 90

Pengisian SPT

Tahunan
PPh Badan
Tahun Pajak 2013
Formulir 1771 Perusahaan
Dagang

SUBJEK PAJAK DALAM


NEGERI DAN LUAR NEGERI
SUBJEK PAJAK DALAM
NEGERI
SUBJEK
PAJAK

(Pasal 2 ayat (3) UU PPh)

SUBJEK PAJAK LUAR


NEGERI

SUBJEK PAJAK DALAM NEGERI


Orang
Pribadi

SUBJEK
PAJAK
DALAM
NEGERI

Badan

OP yang bertempat tinggal di


Indonesia,
OP yang berada di Indonesia lebih
dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan,
OP yang dalam suatu tahun pajak
berada di Indonesia dan mempunyai
niat untuk bertempat tinggal di
Indonesia
pembentukannya

Didirikan atau
bertempat
kedudukan di
Indonesia,
kecuali unit
tertentu dari
badan
pemerintah
yang
memenuhi
kriteria:

Warisan yang belum terbagi


sebagai satu kesatuan
menggantikan yang berhak

(Pasal 2 ayat (3) UU PPh)

berdasarkan
ketentuan
peraturan
perundangundangan;

pembiayaannya
bersumber dari
APBN dan APBD;
penerimaannya
dimasukkan
dalam anggaran
Pemerintah Pusat
atau Pemerintah
Daerah; dan
pembukuannya
diperiksa oleh
aparat
pengawasan
fungsional negara

SUBJEK PAJAK LUAR NEGERI

SUBJEK
PAJAK LUAR
NEGERI

OP yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, OP


yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari
dalam jangka waktu 12 bulan, badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di
Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan melalui BUT di Indonesia

OP yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, OP


yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari
dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di
Indonesia, yang dapat menerima atau memperoleh
penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di
Indonesia

BUT menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia yang dapat berupa:
tempat kedudukan manajemen, cabang perusahaan, kantor perwakilan, gedung kantor,
pabrik, bengkel, gudang, ruang untuk promosi dan penjualan, pertambangan dan
penggalian sumber alam, wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi, perikanan,
peternakan, pertanian, perkebunan,atau kehutanan, proyek konstruksi, dll

(Pasal 2 ayat (4) dan (5) UU PPh)

KEWAJIBAN PAJAK
SUBJEKTIF
SUBJEK
PAJAK
DALAM
NEGERI

ORANG PRIBADI:
Dimulai pada saat OP tersebut
dilahirkan, berada, atau berniat untuk
bertempat tinggal di Indonesia dan
- Berakhir pada saat meninggal dunia atau
meninggalkan Indonesia untuk selamalamanya
BADAN:
- Dimulai pada saat badan tersebut
didirikan atau bertempat kedudukan di
Indonesia dan
- Berakhir pada saat dibubarkan atau
tidak lagi bertempat kedudukan di
Indonesia
WARISAN YANG BELUM TERBAGI:
- Dimulai pada saat timbulnya warisan
yang belum terbagi tersebut dan
- Berakhir pada saat warisan tersebut
selesai dibagi

(Pasal 2A UU PPh)

SUBJEK
PAJAK LUAR
NEGERI
ORANG PRIBADI DAN BADAN:

Dimulai pada saat OP atau badan


tersebut
menjalankan
usaha
atau
melakukan kegiatan dan;
Berakhir
pada
saat
tidak
lagi
menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan melalui bentuk usaha tetap
-

ORANG PRIBADI DAN BADAN:


- Dimulai pada saat OP atau badan
tersebut menerima atau memperoleh
penghasilan dari Indonesia dan;
- Berakhir pada saat tidak lagi menerima
atau memperoleh penghasilan tersebut

Apabila kewajiban pajak subjektif OP


yang bertempat tinggal atau yang
berada di Indonesia hanya meliputi
sebagian dari tahun pajak, maka
bagian tahun pajak tersebut
menggantikan tahun pajak

YANG TIDAK TERMASUK SUBJEK PAJAK

Kantor perwakilan negara asing

Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat


atau pejabat-pejabat lain
Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut; dan
tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain
memberikan pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota

Organisasi internasional,
166/PMK.11/2012

sesuai

dengan

PMK

No.

Para pejabat perwakilan organisasi internasional dengan


syarat: bukan WNI dan tidak menjalankan usaha,
kegiatan,
atau
pekerjaan
lainuntuk
memperoleh
penghasilan dari Indonesia

(Pasal 3 UU PPh)

Wajib Pajak Badan


Sekumpulan
orang
dan/atau
modal
yang
merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha
maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi
Perseroan
Terbatas (PT),
:

Perseroan
Terbatas (PT),
perseroan
komanditer
(CV),
perseroan
komanditer (CV),
perseroan
lainnya,

perseroan
Badan
Usaha lainnya,
Milik Negara (BUMN),
Badan
Usaha
Milik
Negara
(BUMN),
Badan
Usaha Milik
Dearah
(BUMD),

Badan Usaha Milik Dearah (BUMD),


firma,
firma,
kongsi,
kongsi,
koperasi,
koperasi,
dana
pensiun,
dana pensiun,
persekutuan,
persekutuan,
perkumpulan,
perkumpulan,
yayasan,
yayasan,massa,
organisasi
organisasi
massa,
organisasi
sosial
politik, atau organisasi lainnya,

organisasi
sosial
politik,
organisasi lainnya,
lembaga dan bentuk
badanatau
lainnya
lembaga
dan bentuk
badan
lainnya
termasuk
kontrak
investasi
kolektif
dan bentuk usaha tetap (BUT).
termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap (BUT).

(Penjelasan Pasal 2 ayat (1) huruf b UU PPh)

KLASIFIKA
SI
PENGHASIL
AN
OBJEK PAJAK

OBJEK PAJAK
FINAL
(Pasal 4 ayat (2) UU
PPh)

NON OBJEK
PAJAK
(Pasal 4 ayat (3) UU
PPh)

OBJEK PAJAK NON


FINAL
(Pasal 4 ayat (1) UU
PPh)

Objek
Penghasilan

Pajak

Setiap tambahan kemampuan


ekonomis yang diterima atau
diperoleh
WP,
baik
yang
berasal dari Indonesia maupun
dari luar Indonesia, yang dapat
dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan
WP
yang
bersangkutan,
dengan nama dan dalam
bentuk
apapun.
(Pasal 4 ayat (1) UU PPh)

Penghasilan yang merupakan


Objek Pajak
1

Penghasilan dari pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh

Hadiah dari undian pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan

Laba usaha

Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta

penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan


sebagai biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak

bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan


pengembalian utang

Pasal 4 ayat (1) UU PPh)

10

Penghasilan yang merupakan


Objek Pajak
(lanjutan)
7

Dividen

Royalti

Laba usaha

Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan


10
harta
Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala
11
Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai
denga jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan
12
Pemerintah

Pasal 4 ayat (1) UU PPh)

11

Penghasilan yang merupakan


Objek Pajak
(lanjutan)
Keuntungan selisih kurs mata uang asing
13
Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva
14
Premi asuransi
15
Iuran yang diterima/diperoleh perkumpulan dari
anggotanya yang terdiri dari WP yang menjalankan
16
usaha/pekerjaan bebas
Tambahan kekayaan neto yang berasal dari
penghasilan yang belum dikenakan pajak
17

Pasal 4 ayat (1) UU PPh)

Penghasilan yang merupakan


Objek Pajak
(lanjutan)
18

Penghasilan dari usaha


berbasis syariah

19

Imbalan bunga sesuai UU KUP

20

Surplus Bank Indonesia

(Pasal 4 ayat (1) UU PPh)

Karakteristik PPh Final


PPh final (dibayar sendiri atau dipotong pihak lain)
tidak dapat dikreditkan.
Biaya-biaya yang digunakan untuk menghasilkan,
menagih, dan memelihara (3M) penghasilan yang
dikenakan PPh final tidak dapat dikurangkan dalam
memperhitungkan PPh terutang pada akhir tahun
(dalam SPT Tahunan PPh).
Penghasilan yang dikenakan PPh final tidak
digabung dalam penghitungan pajak akhir tahun,
tapi cukup dilaporkan saja.

Penghasilan yang dikenai PPh Final

penghasilan
berupa bunga
deposito dan
tabungan
lainnya, bunga
obligasi dan surat
utang negara,
dan bunga
simpanan yang
dibayarkan oleh
koperasi kepada
anggota koperasi
orang pribadi;

penghasilan
berupa hadiah
undian;

(Pasal 4 ayat (2) UU PPh)

penghasilan dari
transaksi
saham dan
sekuritas lainnya, penghasilan dari
transaksi derivatif
transaksi
yang
pengalihan
diperdagangkan
harta berupa
di bursa, dan
tanah dan/atau
transaksi
bangunan, usaha
penjualan saham
jasa konstruksi,
atau pengalihan usaha real estate,
penyertaan modal dan persewaan
pada perusahaan
tanah dan/atau
pasangannya
bangunan; dan
yang diterima
oleh perusahaan
modal ventura;

15

penghasilan
tertentu lainnya.

Penghasilan Yang Dikecualikan


Dari Objek Pajak
Bantuan atau Sumbangan
Harta Hibahan
Warisan
Harta termasuk setoran tunai
Natura dan/atau kenikmatan
Pembayaran dari perusahaan asuransi
kepada OP
dividen atau bagian laba
iuran yang diterima atau diperoleh dana
pensiun

asal 4 ayat (3) UU PPh)

16

Penghasilan Yang Dikecualikan


Dari Objek Pajak (lanjutan)
Penghasilan dari modal yang ditanamkan
oleh dana pensiun;
Bagian laba yang diterima atau diperoleh
anggota dari perseroan komanditer;
Penghasilan yang diterima atau diperoleh
perusahaan modal ventura;
Beasiswa;
Sisa Lebih yang diterima atau diperoleh
badan atau lembaga nirlaba
Bantuan atau santunan

Pasal 4 ayat (3) UU PPh)

Biaya-biaya yang boleh


Dikurangkan dari
Penghasilan Bruto

Biaya yang secara langsung atau tidak


langsung berkaitan dengan kegiatan usaha

Biaya penyusutan fiskal dan/atau amortisasi;


Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya
telah disahkan oleh Menteri Keuangan (untuk
OP);
Kerugian karena penjualan atau pengalihan
harta;
Kerugian dari selisih kurs;
Biaya penelitian dan pengembangan
perusahaan yang dilakukan di Indonesia;
(Pasal 6 UU

Biaya penyusutan fiskal dan/atau amortisasi;


18

Biaya-biaya yang boleh


Dikurangkan dari
Penghasilan Bruto (lanjutan)
Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan (Pasal 6 UU PPh);

Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan memenuhi


syarat tertentu (Pasal 6 UU PPh);

Zakat dan sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib (PP Nomor


60 Tahun 2010);
Pembentukan dan pemupukan cadangan piutang tak tertagih
khusus untuk usaha bank, leasing, cadangan untuk usaha asuransi,
Penjamin LPS, cad. Penanaman kembali hutan, cadangan biaya
reklamasi untuk usaha pertambangan, dan cad. Biaya penutupan
limbah (KMK Nomor : 204/KMK.04/2000);
19

Biaya-biaya yang boleh


Dikurangkan dari
Penghasilan Bruto (lanjutan)
Kompensasi kerugian tahun sebelumnya
(maksimal 5 tahun sebelumnya) (Pasal 6
UU PPh)

Biaya penyusutan fiskal dan/atau


amortisasi;

20

Biaya-biaya yang boleh


Dikurangkan dari
Penghasilan Bruto (lanjutan)
Sumbangan
Sumbangan
Khusus
Khusus untuk
untuk ::

Bencana
Nasional,
Penelitian
dan
pengemban
gan
yang
dilakukan di
Indonesia,
Pembangun
an
infrastruktur
sosial,
Fasilitas
pendidikan ,
dan
Pembinaan
olahraga

Untuk biaya
telepon
seluler:
Dibebankan
50%
Keputusan
Direktur
Jenderal
Pajak
Nomor KEP
220/PJ./2002

Untuk
Kendaraan
Dinas
dibebankan
50%
Keputusan
Direktur
Jenderal
Pajak Nomor
KEP 220/PJ./2002

21

Biaya-biaya yang Tidak Boleh


Dikurangkan dari Penghasilan Bruto
Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun
Biaya yang dibebankan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham, sekutu, atau anggota
Pembentukan dan pemupukan dana cadangan
Premi asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, dan
asuransi bea siswa, yang dibayar oleh WP OP
Penggantian/ imbalan pekerjaan/jasa yg diberikan dalam bentuk
natura dan kenikmatan
Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada
pemegang saham atau pihak yang mempunyai hubungan
istimewa

Pasal 9 UU PPh

Biaya-biaya yang Tidak Boleh


Dikurangkan dari Penghasilan Bruto (lanjutan)
Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan
warisan
Pajak penghasilan
Biaya yang dibebankan/dikeluarkan untuk kepentingan
pribadi wp atau orang yang menjadi tanggungan
Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan,
firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak
terbagi atas saham
Sanksi administrasi serta sanksi pidana di bidang
perpajakan

Pasal 9 UU PPh

PENYUSUTAN
Penyusutan atas
pengeluaran:
untuk
pembelian,
pendirian,
penambahan,
perbaikan,
atau
perubahan harta berwujud,
kecuali tanah yang berstatus hak
milik, hak guna bangunan, hak guna
usaha, dan hak pakai,
yang dimiliki dan digunakan untuk
mendapatkan,
menagih,
dan
memelihara
penghasilan
yang
mempunyai masa manfaat lebih
dari 1 (satu) tahun.

(Pasal 11 ayat (1) UU PPh )

24

PENYUSUTAN (lanjutan)
Dilakukan :
dalam
dalam bagian-bagian
bagian-bagian yang
yang sama
sama besar
besar
selama
masa
manfaat
yang
telah
ditentukan
selama masa manfaat yang telah ditentukan
bagi
bagi harta
harta tersebut
tersebut (metode
(metode Garis
Garis Lurus)
Lurus)

ayat
ayat (1)
(1)
dalam
dalam bagian-bagian
bagian-bagian yang
yang menurun
menurun selama
selama
masa
masa manfaat,
manfaat, yang
yang dihitung
dihitung dengan
dengan cara
cara
menerapkan
menerapkan tarif
tarif penyusutan
penyusutan atas
atas nilai
nilai sisa
sisa
buku,
dan
pada
akhir
masa
manfaat
nilai
sisa
buku, dan pada akhir masa manfaat nilai sisa
buku
buku disusutkan
disusutkan sekaligus,
sekaligus, dengan
dengan syarat
syarat
dilakukan
dilakukan secara
secara taat
taat asas
asas (Metode
(Metode Saldo
Saldo
Menurun)
Menurun)
ayat
ayat (2)
(2)

(Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU PPh )

25

PENYUSUTAN (lanjutan)
Masa
Kelompok Harta
Garis
Manfaa
Berwujud
Lurus
t
I. Bukan
bangunan
4 tahun
25%
Kelompok 1 8 tahun 12,5%
Kelompok 2
16
6,25%
Kelompok 3 tahun
5%
Kelompok 4
20
tahun
II. Bangunan
Permanen
20
5%
Daftar
Kelompok
Tidak
tahun Harta
10%
(PMK no.
Permanen
10
(Pasal 9 ayat (6) UU 96/PMK.03.2009
)

Saldo
Menurun
50%
25%
12,5%
10%

Untuk perusahaan
penanam modal
mekanisme
penyusutan mengacu
pada
PP 52 Tahun
26
2011

AMORTISASI

Amortisasi atas
Pengeluaran:
untuk
untuk memperoleh
memperoleh harta
harta tak
tak berwujud
berwujud (hak
(hak

cipta,
cipta, hak
hak paten,
paten, dan
dan lainnya)
lainnya) dan
dan
pengeluaran
lainnya
termasuk
biaya
pengeluaran
lainnya
termasuk
biaya
perpanjangan
hak
guna
bangunan,
hak
perpanjangan hak guna bangunan, hak guna
guna
usaha,
hak
pakai,
dan
muhibah
(goodwill)
usaha, hak pakai, dan muhibah (goodwill)
yang
yang mempunyai
mempunyai masa
masa manfaat
manfaat lebih
lebih dari
dari 1
1
(satu)
tahun
(satu) tahun
yang
yang dipergunakan
dipergunakan untuk
untuk mendapatkan,
mendapatkan,
menagih,
dan
memelihara
penghasilan
menagih, dan memelihara penghasilan

(Pasal 11A UU PPh )

27

AMORTISASI (lanjutan)

Dilakukan :
dalam bagian-bagian yang menurun
selama masa manfaat, yang dihitung
dengan
cara
menerapkan
tarif
amortisasi atas pengeluaran tersebut
atau atas nilai
nilai sisa
sisa buku dan
dan pada
pada
akhir masa manfaat diamortisasi
sekaligus
sekaligus dengan syarat
syarat dilakukan
dilakukan
secara taat asas. (Saldo Menurun)

(Pasal 11A ayat (1) UU PPh )

28

Pengelompokan dan Tarif


AMORTISASI
Tarif Amortisasi

Kelompok
Harta
Tak
Berwujud

Masa
Manfaat

Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 4

4 tahun
8 tahun
16 tahun
20 tahun

(Pasal 11A ayat (2) UU PPh )

Garis
Lurus

Saldo
Menurun

25%
12,5%
6,25%
5%

50%
25%
12,5%
10%
29

TARIF PPh BADAN


Omzet di atas 50
M (Pasal 17 ayat (1)
huruf b & ayat (2a) UU
PPh)

Tarif PPh
Badan

Omzet s.d. 50 M
(Pasal 31E UU PPh)

Perseroan terbuka
(tbk) (Pasal 17 ayat
(2b) UU PPh)

Tarif sebelum
tahun pajak
2009
Tarif tahun
pajak 2009
Tarif tahun
pajak 2010
s.d. sekarang

Tarif WP Badan
(Omzet diatas 50 M)
Tahun
Sebelum Tahun
2009

Lapisan Penghasilan

Tarif

s.d Rp 50.000.000

10%

Di atas Rp
50.000.000 s.d. Rp
100.000.000

15%

Di atas Rp

30%

100.000.000

Tahun 2009

28 %

Tahun 2010 sekarang

25
%

(Pasal 17 ayat (1) huruf b & ayat (2a) UU PPh)

CONTOH PENERAPAN TARIF


Jumlah Penghasilan Kena Pajak (PKP)

Rp 190.000.000

PPh TERUTANG :
1. Untuk tahun pajak 2008
10% X Rp 50.000.000
= Rp 5.000.000
15% X Rp 50.000.000
= Rp 7.500.000
30% X Rp 90.000.000
= Rp 27.000.000
Jumlah
Rp 39.500.000
2. Untuk tahun pajak 2009 :
28 % X 190.000.000 = Rp 53.200.000
3. Untuk tahun pajak 2010-sekarang:
25% X 190.000.000
= Rp 47.500.000

Tarif WP Badan
(Omzet sampai dengan 50 M)
Mendapatk
an fasilitas
penguranga
n tarif

Omzet sampai dengan 4,8 M


pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif
pasal 17

Sisa omzet yang telah dikurangi


bagian 4,8 M
tetap menggunakan tarif pasal 17

Bagian Omzet

Tahun 2009

Tahun 2010

Bagian omzet s.d. 4,8 M

14 %

12.5%

Bagian omzet 4,8 s.d. 50 M

28 %

25 %

(Pasal 31E UU PPh )

CONTOH PENERAPAN TARIF


PT X tahun 2009
Peredaran Usaha (Omzet)
Rp. 30.000.000.000
Penghasilan Kena Pajak (PKP)
Rp. 5.000.000.000

Uraia
n

Omzet

PKP

Tarif

PPh

800.000.000

14%

112.000.000

28%

1.176.000.00
0

4,8 M
Fasilitas

4,8 M
30 M

5M

Tarif
biasa

4,8 M s.d 30 M
(sisanya)

4.200.000.00
0

Total

30.000.000.000

5.000.000.00
0

Jumlah PPh Terutang

1.288.000.00
0

Tarif WP Badan
(Khusus Perseroan
Terbuka)

Untuk Perseroan Terbuka


(minimal 40% saham dimiliki
publik)
mendapatkan pengurangan
tarif 5%

Tarif pajak 2009


= 23%
Tarif Pajak 2010 s.d. sekarang
(Pasal 17=
ayat20%
(2b) UU PPh)

Penghitungan Penghasilan
Seluruh Wajib Pajak Badan
(tidak memandang omzet)

WAJIB
PEMBUKUAN
36

BAGAIMANA
MENGHITUNG
PAJAK?

JUMLAH SELURUH PENGHASILAN


BRUTO
BIAYA
JUMLAH PENGHASILAN NETO
KOMERSIAL
KOREKSI FISKAL
POSITIF
NEGATIF

PENGHASILAN NETO FISKAL


KOMPENSASI KERUGIAN
PENGHASILAN KENA PAJAK
PPh TERUTANG
KREDIT PAJAK
DIPOTONG/DIPUNGUT PIHAK
KETIGA
TELAH DIBAYAR SENDIRI

XXXX
XXXX
XXXX

XXX
X
XXX
X
XXX
X
XXX
X
(XXX
XXX
)
X
XXX
X
XXX
X
XXX
X

(-)

(+)
(-)

(+)

JUMLAH KREDIT PAJAK

XXXX

KURANG/LEBIH BAYAR

XXXX

(-)

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan


dalam Pengisian SPT
Melampirkan laporan keuangan lengkap seperti: neraca,
laporan rugi laba, daftar penyusutan, dan lain-lain
Yang diisi terlebih dahulu adalah formulir lampiran,
bukan induknya
Di setiap lembar jangan lupa mengisi identitas seperti
nama, npwp dan tahun pajaknya
Jangan lupa membubuhkan tanda tangan, karena jika
tidak spt yang anda laporkan dianggap tidak sah
Jika spt menunjukkan kurang bayar, kekurangan
tersebut harus dibayar paling lambat sebelum spt
dilaporkan
Pembayaran dapat dilakukan di kantor pos atau bank

Lembar Informasi yang dilekatkan pada amplop


SPT Tahunan

LEMBAR INFORMASI AMPLOP SPT TAHUNAN

NPWP

Nama Wajib Pajak

Tahun Pajak

Status SPT *

Nihil

Kurang Bayar

Lebih Bayar

Jenis SPT*

SPT Tahunan

SPT Tahunan Pembetulan Ke- ...

Perubahan Data*

Ada

Tidak Ada

Jika ada perubahan data Wajib Pajak, maka tempelkan formulir perubahan data pada amplop SPT Tahunan

No. Telp/HP

Pernyataan

CONTOH
KASUS

Ilustrasi
1. Nama
2. Alamat

PT DPS
Jalan Mega Megah No. 18
Pesanggrahan Jakarta
1270

3. Tahun Buku

Januari s.d. Desember


2013

Metode
4.
Penyusutan

Saldo Menurun (Komersial)


Garis Lurus (Fiskal)

5. Jenis usaha
6. NPWP
7. KLU

Perdagangan Barang
Elektronik
01.234.567.8-013.000
52332

ILUSTRASI
1. Di dalam penjualan selama tahun 2013, termasuk penjualan kepada PEMDA DKI JAKARTA senilai
Rp5.000.000.000
2. Di dalam pembelian terdapat biaya yang tidak dapat dibuktikan (tidak ada daftar nominatif) sebesar
Rp5.000.000
3. Biaya Operasi dan umum:
. Biaya Gaji dan Tunjangan
Rp 1.200.000.000
. Biaya sewa gedung untuk gudang
Rp 250.000.000
. Biaya Perbaikan dan Pemeliharaan kantor
Rp 110.000.000
. Dalam Biaya Promosi, dapat dirinci sebagai berikut:
Presentasi (tidak terdapat bukti)
Rp
50.000.000
Iklan Surat Kabar
Rp
40.000.000
Rp
90.000.000
. Biaya PKB, PBB, dan Bea Meterai
Rp
20.000.000
(dalam biaya tersebut terdapat pembayaran PBB untuk mess karyawan Rp 3.000.000)
. Biaya telepon
Rp
50.000.000
Biaya penyusutan fiskal sebesar
Rp 110.000.000
Dalam biaya sumbangan, bantuan, zakat dengan rincian sebagai berikut:
Sumbangan kepada GN OTA
Rp
5.000.000
Sumbangan HUT DKI
Rp
15.000.000
Rp 20.000.000
. Biaya Natura dan kenikmatan,Beras, Kecap, Gula,
(jika dinilai Harga Pasar)
Rp
25.000.000
.
.

ILUSTRASI (lanjutan)
11.Biaya lain-lain dapat dirinci sbb:
. Biaya Jamuan Makan Relasi/Entertainment Rp 50.000.000
(Tidak Ada Daftar Nominatif)
. Biaya Keperluan Dapur Kantor (ada bukti) Rp 5.000.000
Rp 55.000.000
12. Pajak-pajak:
. PPh Pasal 21 telah dipotong dari penghasilan karyawan
Rp
50.904.000
. PPh Pasal 22 PEMDA DKI (ket: 1)
Rp
75.000.000
. PPh Pasal 23 sewa kendaraan
Rp
800.000
. PPh Pasal 4 ayat (2) atas sewa gedung (final)
Rp
25.000.000
. PPh Pasal 25 yang telah dibayar (masa Jan-Des 2013)
Rp8.625.000.000
. STP PPh Pasal 25 Masa Februari
Rp
159.000.000
(termasuk sanksi bunga Rp9.000.000)

PENGISIAN
PENGISIAN
SPT
SPTTAHUNAN
TAHUNAN
PPh
PPh

Laporan Laba Rugi Tahun


2013

Dalam jutaan
rupiah

Neraca Tahun 2013

PENYUSUTAN

Form 1771-VI

orm 1771-VI Bagian A

Diisi dengan
tahun pajak
bersangkutan

Diisi dengan
identtitas lengkap
WP
bersangkutan

orm 1771-VI Bagian B

orm 1771-VI Bagian C

Form 1771-V

orm 1771-V Bagian A

Diisi
dengan
tahun pajak

Diisi dengan
identtitas lengkap
WP bersangkutan

Diisi dengan nama


dan alamat
pemegang saham
perusahaan

Diisi dengan
jumlah modalmodal yang
disetor dan
presentasenya

Diisi dengan
jumlah dividen

orm 1771-V Bagian B

Form 1771-IV

orm 1771-IV Bagian A

Diisi dengan tahun


pajak
bersangkutan

Diisi dengan
identtitas lengkap
WP bersangkutan

Diisi dengan
PPh final atas
Persewaan
Tanah dan
Bangunan

Diisi dengan
total PPh final

orm 1771-IV Bagian B

Form 1771-III

Form 1771-III

Form 1771-III

Form 1771-II

Form 1771-II

Diisi sesuai dengan laporan


laba rugi perusahaan tahun
bersangkutan

Form 1771-II

Diisi sesuai dengan laporan


laba rugi perusahaan tahun
bersangkutan

Form 1771-I

Diisi dengan tahun


pajak
bersangkutan

orm 1771-I Nomor 1-4

Diisi dengan
identtitas lengkap
WP bersangkutan

Diisi dengan
peredaran usaha
Diisi dengan harga
pokok penjualan
Diisi dengan biaya
usaha lainnya

Diisi dengan
penghasilan
neto
Diisi dengan PPh
final dan tidak
termasuk objek
pajak

orm 1771-I Nomor 5-8

Diisi dengan total


penghasilan neto
fiskal

Form 1771 Induk

orm 1771-Induk halaman 1

Diisi dengan tahun


pajak
bersangkutan

Diisi dengan
identtitas lengkap
WP bersangkutan

Diisi dengan
identtitas lengkap
auditor (jika
diaudit)

Diisi dengan
penghasilan
neto fiskal

Diisi dengan
penghasilan
kena pajak
Diisi dengan
PPh terutang

orm 1771-Induk halaman 1

Diisi dengan
total kredit
pajak

Diisi dengan
jumlah PPh
yang harus
dibayar

Diisi dengan
jumlah STP
PPh pasal 25

Diisi dengan
jumlah PPh
yang kurang
dibayar

Form 1771-Induk
halaman 2

orm 1771-Induk halaman 2

Form 1771-Induk

Tanda tangan
Pengurus/
Kuasa dan Cap
Perusahaan

LAMPIRANLAMPIRANLAMPIRAN
LAMPIRAN

Bulan dan tahun


diperolehnya aset
(Januari 2008)

Metode yang
digunakan
perusahaan
Metode yang
diperbolehkan
oleh UU Pajak
Penyusutan
fiskal sesuai
perhitungan
di awal
(110juta)

Diisi dengan
penyusutan fiskal
(110 juta),
penyusutan
komersial (144,34
juta), dan selisih
keduanya (34,34
juta)
Apabila memiliki harta
tak berwujud, maka
masukkan juga nilai
amortisasinya

Dengan nominal
harga perolehan
aset (2,2M)

Nilai sisa buku dapat


diperoleh dari daftar
penyusutuan yang
telah di buat di awal
(1,76M)

Disetor ke
Bank atau
Kantor Pos
sebelum
melaporkan
SPT

Alur SPT Tahunan


Laporan
Keuangan

Hitung

Baya
r

Kurang Bayar
(KB)
Lebih Bayar
(LB)

Isi
SPT

Nihil (N)

Lapo
r
Langsung ke
KPP/KP2KP
Kantor
Pos/Kurir/Jasa
Pengiriman
88

Jangan lupa
menyimpan
Bukti
Penyampaia
n SPT
Tahunan

Sanksi Tidak Menyampaikan SPT


DENDA &
BUNGA

PIDANA KARENA
ALPA

PIDANA KARENA
SENGAJA

Ps. 7 UU KUP

Ps. 38 UU KUP

Ps. 39 UU KUP

Rp
1.000.00
0 dan 2%
dari
Kurang
Bayar

TIDAK MENYAMPAIKAN SPT


atau
MENYAMPAIKAN SPT:
ISINYA TIDAK BENAR
TIDAK LENGKAP
MELAMPIRKAN KETERANGAN
YANG ISINYA TIDAK BENAR

kurungan paling singkat 3 bln


atau paling lama 1 tahun dan
denda paling sedikit 1 kali dari
pajak yg terhutang atau 2 kali
dari pajak terhutang
89

penjara paling singkat 6 bulan


dan paling lama 6 tahun dan
denda paling sedikit
2 x dari jumlah pajak terutang
dan paling banyak 4 kali dari
jumlah pajak terutang

Isilah SPT Tahunan


Anda dengan

BENAR,
LENGKAP, dan
JELAS