Anda di halaman 1dari 74

Dampak Penyakit Sistemik

Terhadap Penyakit Gigi


dan Mulut
Drg. Sindy Sabatina

Penyakit Autoimun

DEFINISI
Gangguan autoimun adalah suatu
kondisi yang terjadi ketika sistem
kekebalan tubuh secara keliru
menyerang dan menghancurkan
jaringan sehat.
Pasien dengan gangguan autoimun,
sistem kekebalannya tidak bisa
membedakan antara jaringan tubuh
yang sehat dan antigen.

MACAM

Sindrom Sjogren
Pemphigoid
Pemphigus
Anemia Pernisiosa
Lichen Planus

Sindrom Sjogren
autoimmune exocrinopathy
Adalah penyakit autoimun sistemik
yg mengenai kelenjar eksokrin
Menyebabkan gangguan fungsional
kelenjar saliva dan lakrimalis
Terjadi pembesaran kelenjar parotis
atau submandibularis, dapat menjadi
limfoma

Sindrom Sjogren

Pemphigoid
penyakit vesikulobulus autoimun
dapat menyerang kulit dan mukosa
mulut
ditandai dengan pembentukan bulla sub
epitalial
Gambaran oral sangat bervariasi
kadang terlihat sebagai daerah-daerah
ulserasi mukosa atau gingivitis
deskuamatif

Pemphigoid

Pemphigus
Merupakan sekumpulan kelainan
vesikulobulous
ditandai oleh serangan pada kulit,
mulut, serta daerah membran
mukosa lainnya
biasannya penyakit orang tua dan
wanita lebih banyak terserang
dibandingkan pria

Pemphigus

Anemia Pernisiosa
biasannya terjadi pada wanita tua dan
setengan baya
Pasien tidak mempunyai keluhan spesifik
pada saluran pencernaan tetapi akan
mengalami simptom-simptom sebagai
akibat kekurangan vitamin B12
Gambaran oral memperlihatkan adanya
glositis, keilitis, angularitis, sindrom rasa
terbakar pada mulut atau ulserasi oral
yang berulang

Anemia Pernisiosa

Lichen Planus
adalah suatu penyakit kulit biasa yang
seringkali mempunyai manifestasi mukosa.
Lesi-lesi kulit dari lichen planus pada
awalnya terdiri atas papula-papula kecil,
puncaknya rata, merah dengan tengahnya
berlekuk.
Papula sedikit demi sedikit mendapat warna
ungu dan licheniikasi permukaan terdiri
atas striae putih kecil.
Lesi lesi oral dari lichenplanus dapat
mempunyai 1 dari 4 gambaran : atrofik,
erosif, menyebar (retikuler) atau mirip plak.

Lichen Planus

DAFTAR PUSTAKA
Sudiono, Janti. 2014. Sistem Kekebalan
Tubuh. EGC: Jakarta.

HIV/AIDS

DEFINISI HIV-AIDS

AIDS adalah singkatan dari Acquired


Immuno Deficiency Syndrome, yang
berarti kumpulan gejala atau
sindroma akibat menurunnya
kekebalan tubuh yang disebabkan
infeksi virus HIV.
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
adalah sejenis virus yang menyerang
sistem kekebalan tubuh manusia dan
dapat menimbulkan AIDS

PATOFISIOLOGI HIV-AIDS

Virus menginfeksi sel tubuh


lainnya
Kekebalan di tingkat sel
akan hilang
Organ target

Manifest
asi oral

Manifesta
si saraf

gastroint
e tinal

respirato
ri

dermat
ologi

senso
ri

Tanda dan gejala HIV


1. Demam tinggi berkepanjangan
2. Penderita akan mengalami nafas pendek, batuk, nyeri dada
dan demam
3. Hilangna nafsu makan, mual da makan
4. Sakit kepala
5.
Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan
Kulit kering dengan bercak-bercak
Kekurangan berat badan hingga 10% di bawah normal
Mengalami tensi darah rendah

Manifestasi HIV
1. infeksi karena jamur
2. Infeksi virus
3. Infeksi bakteri

Tahap Terjadinya AIDS


1. Infeksi HIV akut
2. Infeksi HIV asimtomatik (masa
laten) yang tidak menimbulkan
gejala
3. Limfadenopati (radang kelenjar
getah bening) yang persisten dan
menyeluruh
4. Timbul tanda-tanda penyakit

1. Infeksi HIV Akut

Sekitar dua sampai enam minggu setelah


terinfeksi (biasanya dua minggu).
menunjukkan gejala demam, faringitis,
kelainan kulit, diare, sakit kepala, mual dan
muntah, penurunan berat badan, gangguan
jamur di rongga mulut, dan gejala
neurologis (nyeri kepala, nyeri belakang
kepala, depresi).
Setelah dua sampai enam minggu gejala
dapat menghilang disertai serokonversi,
dengan atau tanpa pengobatan.
pemeriksaan serologi antibodi HIV terhadap
pasien menunjukkan hasil negatif,
sementara virus sebenarnya telah ada
dalam tubuh hospes.

2. Infeksi HIV asimtomatik (masa


laten)
tidak terlihat gejala pada pasien.
Jumlah virus di dalam darah dan jaringan
limfoid pasien berada dalam batas rendah.
Jumlah CD4 limfosit masih berada dalam
batas normal.
terjadi selama dua minggu sampai delapan
tahun atau lebih.

3. Limfadenopati persisten yang


menyeluruh
adanya nodus limfe yang berdiameter > 1 Cm
pada dua atau beberapa daerah ekstra inguinal
selama lebih dari tiga bulan.

4. Infeksi HIV simtomatik (AIDS)


terjadi perubahan progresif dalam pengaturan
kekebalan tubuh yang disebabkan oleh limfopenia
sel-T, dan berkurangnya fungsi T-cell helper .
Jumlah CD4 pasien sudah berada pada taraf kritis,
hingga dibawah 200sel/ul darah .
penyakit yang dapat timbul pada pasien seperti
Penyakit Konstitusional , Penyakit Neurologi,
Penyakit Infeksi Sekunder (Infeksi Oportunistik),

Penularan dan
penatalaksanaan serta
rujukan pasien HIVa. Penularan HIV-AIDS
AIDS
-

Jarum suntik
Hubungan seks
Asi
Dari ibu ke anak

b. Penatalaksaan HIV-AIDS
1. Penatalaksanaan Umum
- Istirahat
- Dukungan nutrisi berbasis makro n
mikro nutrian
- Konseling
- Membiasakan gaya hidup sehat

2. Penatalaksanaan khusus
Pengobatan pencegahan kotrimoksasol (PPK).
Terdapat macam pengobatan pencegahan,
yaitu profilaksis primer dan profilasis
sekunder.
a.Profilaksis primer : pemberian pengobatan
pencegahan untuk mencegah suatu infeksi
yang belum perna di derita.
b.Profilaksis sekunder : pemberian pengobatan
pencegahan yang ditujukan untuk mencegah
berulangnya suatu infeksi yang perna
diderita sebelumnya.

PPK dianjurkan bagi :


ODHA yang bergejala (stadium 1,2,3 dan 4)
termasuk perempuan hamil dan menyusui.
ODHA dengan jumlah CD4 dibawah 200
sel/mm(apabila tersedia pemeriksaan dan
hasil CD4).
Pengobatan Antiretroviral (ARV ).
Untuk memulai terapi ARV perlu dilakukan
pemeriksaan jumlah CD4(bila tersedia) dan
penentuan stadium klinis infeksi HIV-nya.

Prinsip dalam ARV, adalah :


1.Paduan obat ARV harus menggunakan 3
jenis obat dan berada dalam dosis
terapeutik.
2.Membantu pasien agar patuh minum
obat ARV.
3.Menjaga kesinambungan ketersediaan
obat ARV.
Terapi ARV pada ODHA
a.Tidak tersedia pemeriksaan CD4
Maka penentuan mulai terapi ARV
didasarkan pada penilaian klinis.

b. Tersedia pemeriksaan CD4


- Mulai terapi ARV pada semua pasien
dengan jumlah CD4 <350 sel/mm tanpa
memamdang stadium klinis.
- Terapi ARV dianjurkan pada semua
pasien dengan TB aktif, ibu hamil dan
koinfeksi hepatitis B tanpa memandang
jumlah CD4
4 kategori ARV :
1.Reverse Transcriptase Inhibitor/RTI
2.Protease Inhibitor/PI

3. Entry Inhibitor/EI
4. Integrase Inhibitor/II
c. Rujukan pasien HIV-AIDS
Puskesmas Rumah sakit ruang
UPIPI (Unit Perawatan Intermediet
dan Penyakit Infeksi)
Nasronudin, 2007.

Pemeriksaan penunjang
lboratorium HIV/AIDS
1. Uji Imunologi
Uji imunologi untuk menemukan respon antibody
terhadap HIV-1 dan digunakan sebagai test
skrining, meliputi enzyme immunoassays atau
enzyme linked immunosorbent assay(ELISAs)
sebaik tes serologi cepat (rapid test). Uji Western
blot atau indirect immunofluorescence assay(IFA)
digunakan untuk memperkuat hasil reaktif dari test
krining.
Deteksi antibodi HIV

Rapid test
Western blot
Indirect Immunofluorescence Assays (IFA)
Penurunan sistem imun

2. Uji Virologi
Tes virologi untuk diagnosis infeksi HIV1 meliputi kultur virus, tes amplifikasi
asam nukleat / nucleic acid
amplification test(NAATs) , test untuk
menemukan asam nukleat HIV-1
seperti DNA arau RNA HIV-1 dan test
untuk komponen virus (seperti uji untuk
protein kapsid virus (antigen p24)).
Kultur HIV
NAAT HIV-1(Nucleic Acid
Amplification Test)
Uji antigen p24

Cara Pemeriksaan HIV


Berkembangnya teknologi
pemeriksaan saat ini mengijinkan kita
untuk mendeteksi HIV lebih dini.
Beberapa pemeriksaan tersebut
antara lain :
a.
b.
c.
d.

ELISA
Western Blot
IFA
PCR Test

a. ELISA
tes ini mendeteksi antibodi yang
dibuat tubuh terhadap virus HIV.
Antibodi tersebut biasanya diproduksi
mulai minggu ke 2, atau bahkan
setelah minggu ke 12 setelah
terpapar virus HIV. Tes ELISA dapat
dilakukan dengan sampel darah
vena, air liur, atau air kencing.

Ada dua macam cara yaitu menggunakan


sampel darah jari dan air liur.
Hasil positif pada ELISA belum
memastikan bahwa orang yang diperiksa
telah terinfeksi HIV. Masih diperlukan
pemeriksaan lain, yaitu Western Blot atau
IFA, untuk mengkonfirmasi hasil
pemeriksaan ELISA ini.
Walaupun ELISA menunjukkan hasil
positif, masih ada dua kemungkinan,
orang tersebut sebenarnya tidak terinfeksi
HIV atau betul-betul telah terinfeksi HIV.

Western Blot
Sama halnya dengan ELISA, Western Blot
juga mendeteksi antibodi terhadap HIV.
Western blot menjadi tes konfirmasi bagi
ELISA karena pemeriksaan ini lebih
sensitif dan lebih spesifik, sehingga
kasus 'yang tidak dapat disimpulkan'
sangat kecil. Walaupun demikian,
pemeriksaan ini lebih sulit dan butuh
keahlian lebih dalam melakukannya

IFA
IFA atau indirect fluorescent antibody
juga meurupakan pemeriksaan
konfirmasi ELISA positif. Seperti
halnya dua pemeriksaan diatas, IFA
juga mendeteksi antibodi terhadap
HIV. Salah satu kekurangan dari
pemeriksaan ini adalah biayanya
sangat mahal.

PCR Test
PCR atau polymerase chain reaction adalah uji
yang memeriksa langsung keberadaan virus
HIV di dalam darah. Tes ini dapat dilakukan
lebih cepat yaitu sekitar seminggu setelah
terpapar virus HIV. Tes ini sangat mahal dan
memerlukan alat yang canggih. Oleh karena
itu, biasanya hanya dilakukan jika uji antibodi
diatas tidak memberikan hasil yang pasti.
Selain itu, PCR test juga dilakukan secara rutin
untuk uji penapisan (screening test) darah
atau organ yang akan didonorkan.

Prosedur Pemeriksaan dan


Mendeteksi Penderita HIV
a. Unlinked Anomymous
Spesimen darah diambil dari darah yang
telah diambil sebelumnya untuk keperluan
lainnya. Tes dilakukan anomymous artinya
semua data dihilangkan yang
memungkinkan untuk menghubungkan
hasil pemeriksaan darah dengan pemilik
spesimen tes. (unlinked). Kerahasiaan
penderita akan terjaga baik tidak akan
terjadi bias partisipasi,prevalensi. Tak
diperlukan informent consent (persetujuan)
dan pelayanan konseling bagi penderita.

b. Voluntary Anonymous
Seseorang setuju untuk melakukan
tes HIV terhadap dirinya. Sampel
diberi kode atau nomor tertentu dan
semua label yang menyangkut
identitas pribadi dihilangkan. Data
yang boleh ditinggalkan hanya
tanggal pemeriksaannya, jenis
kelamin, umur, dan faktor resiko.

c. Voluntary Confidential
Universitas Sumatera Utara
Seseorang setuju untuk dilakukan tes
HIV terhadap dirinya. Hasil
pemeriksaan hanya diketahui oleh
beberapa orang saja. Bias partisipasi
masih tinggi.

d. Compul Satary
Pemeriksaan merupakan kewajiban
tidak ada kemungkinan seseorang
untuk menolaknya. Hasil pemeriksaan
dapat atau tidak diberikan kepada
yang bersangkutan. Contohnya
adalah pemeriksaan wajib dilembaga
pemasyarakatanyang
direkomendasikan WHO.

e. Mandatory
Tes HIV merupakan persyaratan
untuk mendapatkan sesuatu
manfaat. Tes ini hanya boleh
dilakukan untuk memeriksa donor
darah, donor sperma, organ tubuh,
asuransi dll.Bias partisipasi bisa
timbul.

f. Unlinked Anonymous
Kerahasiaan dijamin penuh
dengan menggunakan kode nomor
yang dapat dikaitkan dengan pemilih
darah. Pemeriksaan VDRL/ TDHA HIV
dilakukan petugas laboratorium yang
berbeda dan diruangan yang
berbeda.

g. Voluntary Anonymous dan


Voluntary Confidential
Kerahasiaan terbuka oleh para
petugas kesehatan, data penderita
diperlukan untuk konseling.

Kaposis Sarcoma

DEFINISI
Kaposis sarcoma adalah tumor yg
disebabkan oleh virus human
herpevirus 8 (HHV8). Sarkoma
kaposis secara luas diketahui sbg
salah satu penyakit yg muncul akibat
dari AIDS.

PENYEBAB
Virus herpes sarkoma kaposi KSHV
atau virus herpes manusia 8 (HH8).
KSHV membawa bahan genetik ke
dlm sel. Mengubah gen
menyebabkan sel memelah terlalu
banyak dan tdk perlu mengarah ke
kanker.

Tanda klinis
makula bewarna merah-keunguan pada
mukosa mulut, tidak sakit, tidak memucat
saat dipalpasi.
Lesi ini berkembang menjadi nodul dan
membingungkan antara kelainan pada
mulut yg berhubungan dgn faskularisasi
lesi ini muncul pada mukosa rongga mulut
terutama pada mukosa palatal dan
gingival. Dalam inveksi HIV lesi ini lebih
sering ditemukan pd pria.

Gambaran klinis

Dampak kekurangan gizi


pada penyakit gigi dan
mulut

Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR)


Keilitis Angularis
Glossitis Defisiensi
Leukoplakia
Xerostomia
Scorbutic Gingivitis

Stomatitis Aftosa Rekuren


(SAR)
radang yang terjadi pada mukosa mulut,
biasanya berupa ulser putih kekuningan.
Defisiensi hematinic (besi, asam folat,
vitamin B1, B2, B6, B12) kemungkinan
dua kali lebih besar terkena SAR
dibandingkan orang yang sehat. Pada
penelitan di Jepang ditemukan adanya
hubungan SAR dengan menurunnya
asupan makanan yang mengandung zat
besi dan vitamin B1.

Keilitis Angularis
suatu keadaan reaksi inflamasi pada sudut mulut
atau komisura labial yang biasanya dimulai dari
mucocutaneous junction dan dapat berlanjut ke kulit
Defisiensi nutrisi seperti defisiensi besi, asam folat,
dan vitamin B (B2, B6, B12) dapat dikaitkan dengan
keilitis angularis
Gambaran Klinis
Pada sudut mulut dapat terjadi secara simetri
berupa eritema, rasa sakit, dan pembentukan fisur
(celah). Yang paling sering sebagai daerah eritema
dan udema yang berbentuk segitiga pada kedua
komisura atau dapat berupa atropi, eritema, ulser,
krusta dan pelepasan kulit sampai terjadi eksudasi
yang berulang


Glossitis Defisiensi
Etiologi
Kekurangan zat besi, asam foliat, vitamin B12
(jarang vitamin B yang lain) dapat menimbulkan
nyeri lidah yang tampak normal, atau tampak
merah, serta tidak berpapil.
Gambaran Klinis
Lidah tampak normal, terlihat lesi garis atau
bercak merah (terutama pada kekurangan
vitamin B12), tidak memiliki papilla, dengan
eritema (pada kekurangan zat besi, asam foliat,
atau vitamin B), atau pucat (kekurangan zat besi).
Depapilasi lingual dimulai pada ujung dan tepi
dorsum, tetapi nantinya akan mengenai seluruh
bagian dorsum

Leukoplakia
Leukoplakia adalah lesi prekanker yang
berkembang di daerah lidah dan pada
bagian dalam pipi karena adanya iritasi
kronis. Terkadang leukoplakia berkembang
pula pada daerah genitalia eksternal
wanita
Defisiensi vitamin A diperkirakan dapat
mengakibatkan metaplasia dan
keratinisasi dari susunan epitel, terutama
epitel kelenjar dan epitel mukosa
respiratorius

Xerostomia
sensasi subjektif berupa kekeringan mulut
yang sering, namun tidak selalu berhubungan
dengan hipofungsi kelenjar saliva atau
berkurangnya aliran saliva, namun adakalanya
jumlah atau aliran saliva normal tetapi
seseorang tetap mengeluh mulutnya kering
Faktor Etiologi Berdaarkan Defisiensi
Nutrisi
Defisiensi nutrisi, seperti anemia pernisiosa,
anemia defisiensi zat besi, defisiensi vitamin A
dan B dapat menyebabkan xerostomia.

Scorbutic Gingivitis
gingivitis yang terjadi pada pasien yang
mengalami defisiensi vitamin C.
Gambaran Klinis
Distribusi marginalis
Warna merah kebiru-biruan, lunak, dan mudah
tercabik
Permukaan licin dan berkilat
Pendarahan bisa spontan atau dengan iritasi
ringan
Permukaan gingiva sering terjadi nekrosis
disertai pembentukan membran semu

Dampak faktor lingkungan


pada gigi dan mulut

- Lingkungan fisik
Kadar flour air minum. Pada daerah yang
cukup air minum(0,7 ppm sampai 1ppm)
Pendidikan
Jenis pekerjaan
penghasilan

Penyakit gigi dan mulut


yang dapat menyebar ke
orang lain

Gonore
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri
Neisseria Gonorrhoea yang menular melalui
hubungan seksual dari alat kelamin, mulut
atau anus. Gejala yang terdapat dalam
mulut yaitu stomatitis, atropi papila lidah
bagian tengah, terdapat nanah yang keluar
dari gusi dan selain itu juga terjadi atritis
pada sendi rahang.

Sifilis
Menimbulkan lesi/luka yang dapat timbul
dalam rongga mulut pada tiap stadiumnya.
Lesi yang timbul pada stadium awal dapat
sembuh dengan sendirinya dalam waktu 38 minggu.
Pada stadium 2 lesi berupa bercak merah,
bulat atau oval dan timbul papula.
Pada stadium akhir terdapat lesi yang
timbul pada langit-langit rongga mulut dan
lidah mengalami atropi, berfisur juga
sering terdapat lesi/luka.

Penyebab :
Treponema pallidium
Penularan :
Hubungan seksual
Penggunaan barangbarang dari
seseorang yang
tertular
kongenital sifilis

Herpes oral
Virus
herpes
simpleks
yang
menyebabkan penyakit ini dapat
menimbulkan infeksi di beberapa
bagian tubuh dan salah satunya
pada rongga mulut, infeksinya
berupa penyakit gingivostamatitis
yang menyerang gusi. Terdapat
juga infeksi rekuren pada area
wajah dan bibir yang dikenal
dengan herpes labialis atau fever
blister atau cold sore dengan
bentuk berupa vesikel/gelembung
berisi cairan yang berkelompok di
daerah tepi bibir.

Human Papiloma Virus


Selain dalam rongga mulut
lesi/luka yang timbul bisa
terdapat pada tenggorokan,
serviks, vagina, penis dan
anus. Bentuk dari lesi ini
berupa
benjolan-benjolan
kecil
yang
berjumlah
tunggal atau jamak dengan
permukaan yang tidak rata
berwarna abu-abu, merah
muda dan kuning.