Anda di halaman 1dari 21

TINJAUAN PUSTAKA

POLIP NASI
Kelainan

mukosa
hidung dan sinus
paranasal berupa
massa lunak yang
mengandung banyak
cairan
bulat atau lonjong
bertangkai
putih ke abu- abuan
permukaan licin
terjadi akibat
inflamasi mukosa.

Etiologi
Etiologi

pasti blm
diketahui:
- Peradangan kronik
mukosa hidung
- Gangguan
keseimbangan
vasomotor
- Peningkatan cairan
intersisial mukosa
hidung.

Epidemiologi
Insidensi

laki-laki perempuan, pada


berbagai usia

Patogenesis
Faktor yang diasosiasikan dengan:
1.Inflamasi kronik
2.Disfungsi saraf otonom
3.Predisposisi genetik
Edema mukosa stroma terisi cairan
interseluler sehingga mukosa sembab dan
terbentuk polipoid, dan turun ke hidung
bertangkai.

Teori Bernstein
Mukosa

hidung meradang/ terjadi


turbulensi udara di KOM prolaps
submukosa repitalisasi dan
pembentukan kelenjar baru.

Peningkatan

penyerapan natrium oleh


epitel retensi air terbentuk polip.

Teori

lainnya

Ketidakseimbangan saraf vasomotor


peningkatan permeabilitas kapiler dan
gangguan regulasi vaskular sitokinsitokin dari sel mast edema polip.

Menentukan Stadium (Lund,1995):


1:

Polip dalam MM
2: Polip keluar dari MM
3: Polip memenuhi rongga hidung

Makroskopis
Massa bertangkai dengan permukaan licin
berbentuk bulat atau lonjong, berwarna
putih keabu-abuan, agak lobuler, dapat
tunggal atau multipel dan tidak sensitif
(bila ditekan/ ditusuk tidak terasa sakit.

Mikroskopis
Epitel

sama dengan mukosa hidung (epitel


bertingkat semu bersilia)
Sub mukosa sembab
Terdiri
dari limfosit, eosinofil, netrofil,
makrofag, dan sel goblet
Pembuluh darah sedikit
Tidak ada serabut saraf
Kelenjar sedikit.
Jika terjadi metaplasia epitel transisional,
kubik, gepeng berlapis tanpa keratinisasi

Histopatologi
1.Eosinofil (tipe 1) western
sensitif kortikosteroid, insidensi 14,3
2.Neutrofil (tipe 2) asian polip,
sensitif kortikosteroid, insidensi 76,9

polip,
%
tidak
%

Gambaran Klinis
-

Hidung tersumbat menetap


Terasa massa di rongga hidung
Sukar membuang ingus
Gangguan penciuman
Tanda tanda sinusitis
Pada pemeriksaan terlihat polip

Pemeriksaan Penunjang
- Rontgen sinus paranasal
- CT scan
- Endoskopi lebih dini

Diagnosis Banding
Konka

hipertropi
Tumor jinak hidung, seperti kordoma,
papilloma inverted, neurofibroma.
Meningokel (pada anak)

Polip >< Papilloma

Biopsi
Anjuran

biopsi bila

- Unilateral pada usia lanjut


- Penampakan seperti ganas
- Pada rontgen ada erosi tulang

Tujuan Terapi
Memperbaiki

jalan nafas hidung dengan


mengeliminasi polip
Mencegah rekurensi post operasi

MASSA POLIP HIDUNG


KELUHAN : Sumbatan hidung dengan 1/> gejala:
Rinore purulen, an-/hiposmia, p.n.d, sakit kepala
frontal
Tampak massa dg. Rinoskop/ Naso-endoskop
Tentukan Stadium +
tipe

1
R
U
JAL
Stad 2 & 3
TERAPI
BEDAH

Stad 1 & 2
TERAPI
MEDIK

PERSIAPAN
PRA BEDAH

HDST
CT scan

TERAPI BEDAH
- Polipektomi*
Etmoidektomi**
-BSE**/***

JIKA MUNGKIN : BIOPSI u. tipe


polip (Eosinofilik / Netrofilik)
dan / lakukan
POLIPEKTOMI REDUKSI pada polip
stadium 2&3 memperbaiki airway

2
R
U
JAL

Semua
stadium Tipe
Netrofilik
TERAPI
BEDAH

Semua stadium
Tipe Eosinofilik
TERAPI MEDIK

TERAPI MEDIK :
1. Steroid topikal dan atau
2. POLIPEKTOMI MEDIKAMENTOSA( HDST=High Dose
Short Term oral steroid), dengan cara
Dexamethasone 12m (3hr)8
mg(3hr)4mg(3hr)/
Methylprednisolon 64mg10mg (10 hari)/
Prednison 1mg/kg.BB (10 hari)
Evaluasi 2-3 bulan untuk Stadium 1 dan 2

TERAPI BEDAH
- Polipektomi*
Etmoidektomi**
-BSE**/***

TERAPI MEDIK :
1. Steroid topikal dan atau
2. POLIPEKTOMI MEDIKAMENTOSA( HDST=High Dose
Short Term oral steroid), dengan cara
Dexamethasone 12m (3hr)8
mg(3hr)4mg(3hr)/
Methylprednisolon 64mg10mg (10 hari)/
Prednison 1mg/kg.BB (10 hari)
Evaluasi 2-3 bulan untuk Stadium 1 dan 2

TIDAK ADA
PERBAIKAN
Tetap/membes
ar/ mengecil
sedikit

PERBAIKAN
Mengecil
cukup
banyak

Tindak lanjut dg. Steroid Topical


Pemr. berkala sebaiknya dg.NE

PERBAIKAN
Hilang

SEMBUH

Polip Rekuren Cari faktor ALERGI


Steroid topikal
Steroid Oral (HDST) tidak lebih 3-4x/tahun
Kaustik/kauterisasi/ ekstraksi polip kecil di poli rawat jalan
Operasi ulang