Anda di halaman 1dari 52

KONSELING KELUARGA

BERENCANA (KB)
LABORATORIUM
KETRAMPILAN KLINIK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA
UTARA
MEDAN
2012

Pendahuluan
Konseling adalah proses pemberian
informasi objektif dan lengkap,
dilakukan secara sistematik dengan
panduan keterampilan berkomunikasi
interpersonal, teknik bimbingan dan
penguasaan pengetahuan klinik, yang
bertujuan untuk membantu seseorang
mengenali kondisinya saat ini, masalah
yang sedang dihadapi dan menentukan
jalan keluarnya atau upaya untuk
mengatasi masalah tersebut.

I.1. Tujuan Konseling


Membantu pasien untuk memahami
peristiwa kehamilan, persalinan, nifas
dan resiko yang mungkin dihadapi
sehingga dapat dilakukan upaya
preventif terhadap hal hal yang tidak
diinginkan.
Membantu pasien dan keluarganya
untuk menentukan kebutuhan asuhan
kehamilan, pertolongan persalinan
yang bersih dan aman atau tindakan
klinik yang mungkin diperlukan.

Membantu pasien atau klien untuk


membuat pilihan salah satu metode
kontrasepsi yang memenuhi kondisi
kesehatan dan sesuai dengan
keinginan mereka.
Membantu pasien untuk mengenali
gejala atau tanda-tanda tentang akan
terjadinya suatu resiko reproduksi dan
fasilitas pelayanan kesehatan yang
sesuai atau mampu untuk
menanggulangi resiko atau komplikasi
yang terjadi.

Jenis Komunikasi
Motivasi
Penyuluhan
Konseling

Ciri ciri konselor yang baik


Mampu menciptakan suasana yang
aman dan nyaman bagi klien.
Menimbulkan rasa saling percaya.
Mampu mengenali hambatan
sosiokultural setempat.
Mampu menyampaikan informasi yang
objektif, lengkap dan jelas (dengan
bahasa yang mudah mengerti).
Mau mendengarkan secara aktif dan
bertanya secara efektif dan sopan.

Mampu menjelaskan berbagai aspek


masalah kesehatan (kesehatan
reproduksi).
Mampu mengenali keinginan klien
dan keterbatasan penolong.
Membuat klien bertanya, berbicara
dan mengeluarkan pendapat.
Menghormati hak klien, membantu
dan memperhatikan.

Berdasarkan tahapan pemberian informasi,


konseling dapat dibagi menjadi :

1. Konseling awal.
2. Konseling khusus atau pemantapan
dan
3. Konseling kunjungan ulang.

Faktor-faktor yang dapat berpengaruh


pada pemilihan pasien meliputi
1.Kecenderungan sosial dan budaya
a.Minat pada metode populer terkini
b.Latar belakang keluarga
c.Gaya hidup
d.Pasangan yang kooperatif dengan
pemakaian kontrasepsi
Agama: Pantangan terhadap
beberapa metode atau seluruhnya

2.Faktor psikologis
a.Perasaan negatif atau positif
terhadap metode tertentu
b.Publikasi yang negatif saat ini
tentang metode tertentu
c.Pengalaman masa lalu yang tidak
menyenangkan tentang metode
tertentu

3.Teknis
a.Kemudahan penggunaan (dapat atau
mungkin tidak dapat menjadi bahan
pertimbangan yang penting)
b.Kemampuan penguasaan teknik meliputi
pengunaan metode tertentu
c.Akses ke pelayanan medis
4.Frekuensi hubungan seksual dan jumlah
pasangan
a.Bila hubungan jarang dilakukan, metode
barier lebih dipilih untuk tetap dilakukan
b.Bila pasien memiliki banyak pasangan,
resiko terkena IMS dan penyakit

radang panggul (PRP) lebih besar


sehingga alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR) bukan pilihan yang ideal, tetepi
metode barier memberikan beberapa
perlindungan.
5.Kemampuan dalam menuntaskan tugas
pada sebuah metode kontrasepsi.
6.Kaji apakah pasien lebih menyukai
penggunaan metode yang berhubungan
dengan koitus atau mengingat kapan
harus minum pil setiap hari.

7.Lama penggunaan yang diantisipasi pada


metode kontrasepsi.
8.Bila pasien memerlukan perlindungan
hanya untuk beberapa bulan, penggunaan
AKDR atau susuk merupakan pilihan
terbaik.
9.Efek samping yang dapat terjadi dan
pertanyaan seputar keamanan metode
yang digunakan
a.Pasien harus memutuskan resiko apa yang
dapat ditanggungnya
b.Baik efek samping negatif maupun positif
harus didiskusikan

10.Keefektifan metode kontrasepsi.


Hal ini merupakan prioritas terbesar
jika kehamilan berikutnya tidak
diterima pasien atau pasien tidak
memilih tindakan aborsi sebagai
keputusan yang benar.
11.Biaya setiap metode kontrasepsi

12.Sifat reversibilitas dari metode


kontrasepsi
Beberapa metode memerlukan
masa tunggu yang lama sebelum
kembalinya masa kesuburan.
Sterilisasi kadang kala dapat
dipulihkan melalui pembedahan,
namun harus juga dipertimbangkan
sebagai tindakan yang permanen

I.3. Panduan Konseling


KB
Gallen dan Leitenmaier (1987) memberikan satu
akronim yang dapat dijadikan panduan bagi
petugas klinik KB untuk melakukan konseling.
Akronim tersebut adalah GATHER, yang
merupakan singkatan dari :
G Greet
Memberikan salam, memperkenalkan diri dan membuka
komunikasi.

A Ask atau Aksess


Menanyakan keluhan/ kebutuhan pasien.
Menilai apakah keluhan/ keinginan pasien adalah sesuai
dengan kondisi yang dihadapi.

T Tell
Memberitahukan kepada klien/ pasien bahwa
persoalan utama yang dihadapinya sesuai dengan
apa yang telah disampaikan.
Disampaikan juga kepada klien bahwa persoalan
utama tersebut harus dicari upaya
penyelesaiannya.

H Help
Memberi bantuan pada pasien dalam memahami
masalah utama.
Memberi penjelasan beberapa cara untuk
menyelesaikan masalah tersebut, termasuk
keuntungan dan kerugian berbagai cara tersebut.
Membantu pasien dalam mengambil keputusan
yang terbaik disesuaikan dengan situasi dan
kebutuhan pasien.

E Explain
Menjelaskan bahwa cara terpilih telah
diberikan / dianjurkan dan hasil yang
diharapkan mungkin dapat segera terlihat
atau diobservasi beberapa saat hingga
menampakkan hasil seperti yang diharapkan.
Memberi penjelasan tentang siapa dan
dimana pertolongan lanjutan atau
pertolongan darurat dapat diperoleh.

R Refer atau Return Visit


Melakukan rujukan apabila fasilitas kesehatan
ini tidak dapat memberikan pelayanan sesuai
atau membuat jadwal kunjungan ulang
apabila pelayanan terpilih kembali setelah
diberikan.

KONTRASEPSI
Kontrasepsi adalah Usaha usaha
untuk mencegah terjadinya
kehamilan yang dapat besifat
sementara dan permanen. Usaha
yang bersifat permanen pada wanita
dinamakan tubektomi dan pada pria
dinamakan vasektomi.

Kontrasepsi yang bersifat


sementara,diantaranya adalah :
Kontrasepsi Tanpa Menggunakan Alat/
Obat.
Kontrasepsi Secara Mekanik Untuk Pria.
Kontrasepsi Secara Mekanik Untuk Wanita.
Kontrasepsi Dengan Menggunakan Obat
Spermatisida.
Kontrasepsi Hormonal.
Kontrasepsi dengan Alat Kontrasepsi
Dalam Rahim (AKDR).

Syarat-syarat kontrasepsi ideal adalah :


Dapat dipercaya.
Tidak menimbulkan efek yang mengganggu
kesehatan.
Daya kerjanya dapat diatur sesuai dengan
kebutuhan.
Tidak menimbulkan gangguan sewaktu koitus.
Tidak memerlukan motivasi terus menerus.
Pelaksanaannya mudah.
Harga murah dan terjangkau.
Penggunaannya dapat diterima oleh
pasangannya

Ada 2 faktor lain yang mempengaruhi


pemilihan penggunaan kontrasepsi,
yaitu :
Akseptabilitas
Akseptabilitas suatu cara kontrasepsi
ditentukan oleh beberapa faktor , yaitu :
Dapat dipercaya.
Tidak ada efek samping atau efek
sampingnya ringan.
Tidak mempengaruhi koitus.
Penggunaannya mudah.

Harga murah dan terjangkau

Daya Guna (Efektivitas)


Efektivitas suatu cara kontrasepsi
dapat dinilai pada 2 tingkat, yakni :
daya guna teoritis (theoretical
effectiveness) dan daya guna
pemakaian (use effectiveness).
Daya guna teoritis adalah kemampuan
suatu cara kontrasepsi untuk
mengurangi terjadinya kehamilan yang
tidak diingini, apabila cara ini digunakan
secara terus-menerus dan sesuai
dengan petunjuk yang diberikan dan

Daya guna pemakaian adalah


kemampuan suatu cara kontrasepsi
dalam keadaan sehari-hari, dimana
pemakaiannya dipengaruhi oleh
faktor faktor seperti pemakai
kontrasepsi tidak hati-hati,
pemakaian tidak sesuai dengan
aturan yang diberikan.

I.1. Kontrasepsi Tanpa


Menggunakan Alat/ Obat
Koitus Interuptus

Cara ini merupakan cara yang tertua dan cara


yang paling banyak dilakukan sampai sekarang.
Senggama terputus adalah penarikan penis dari
vagina sebelum terjadi ejakulasi.
Keuntungannya adalah tidak memerlukan biaya,
alat tertentu atau persiapan khusus.
Kerugiannya adalah memerlukan pengendalian
diri yang besar dari pihak pria.
Efektifivitas cara ini umumnya dianggap masih
kurang.

Pembilasan pasca senggama (Postcoital


Douche)

Pembilasan vagina dengan air biasa dengan


atau tanpa tambahan larutan obat yang
dilakukan segera setelah koitus, dengan
tujuan untuk mengeluarkan sperma secara
mekanik dari vagina.
Efektifivitas cara ini hanya mengurangi
terjadinya kehamilan dalam batas batas
tertentu, karena sebelum pembilasan
dilakukan, spermatozoa mungkin sudah
masuk serviks uteri dalam jumlah yang besar.

Perpanjangan Masa Menyususi Anak (Prolonged


Lactation)

Perpanjangan masa menyusui anak dengan


syarat atau kondisi tertentu sering dilakukan
untuk mencegah kehamilan. Hal ini dikaitkan
dengan adanya prolaktinemia, dimana kadar
prolaktin yang tinggi di dalam darah dapat
menekan terjadinya ovulasi. Akan tetapi, ovulasi
akan terjadi pada suatu saat setelah
melahirkan, sehingga bila ini terjadi maka dapat
terjadi kehamilan, walaupun wanita tersebut
masih menyusui. Sejalan dengan yang
dikemukakan oleh (Pefez, 1981), bahwa ibu
yang menyusui, kecil kemungkinannya terjadi
ovulasi pada selama 10 minggu pertama
setelah melahirkan.

Pantang Berkala (Rhythm Methode)

Cara ini dikaitkan dengan


penyelidikan bahwa seorang wanita
hanya dapat hamil selama beberapa
hari saja dalam tiap daur hidupnya.
Masa subur fase ovulasi mulai dari
48 jam sebelum ovulasi dan 24 jam
setelah ovulasi.


II.2. Kontrasepsi Secara Mekanik Untuk Pria (Kondom)

Prinsip kerja kondom adalah perisai


dari penis sewaktu melakukan koitus
dan mencegah pengumpulan sperma
dalam vagina. Bentuk kondom
adalah silindris dengan pinggir tebal
pada ujung terbuka, sedangkan
ujung yang buntu berfungsi sebagai
penampung sperma. Diameternya
31 36,5 mm dan panjang 19
mm. Kondom juga dilapisi dengan

II.3. Kontrasepsi Secara Mekanik Untuk Wanita


(Pessarium)

a) Diafragma Vaginal
Pada tahun 1881, Mensinga dari Flensburg
(Belanda) pertama kali telah menciptakan
diafragma vaginal untuk mencegah
kehamilan. Sekarang ini diafragma vaginal,
terdiri atas kantong karet berbentuk mangkuk
dengan per elastic pada pinggrirnya. Per ini
ada yang terbuat dari logam tipis tidak dapat
berkarat ataupun kawat halus tergulung.
Ukuran diameter difragma vaginal 55 100
mm.

Cara pemakaiannya adalah


diafragma dimasukkan ke dalam
vaginal sebelum koitus untuk
menjaga jangan sampai sperma
masuk ke dalam uterus. Untuk
menambah efektivitasnya, obat
spermatisida dimasukkan ke dalam
mangkuk dan dioleskan di
pinggirnya.

b) Cervical Cap
Cervical cap dibuat dari karet atau
plastik, berbentuk mangkuk yang
dalam dan pinggirnya terbuat dari
karet tebal. Ukuran diamaternya 22
33 mm, jadi lebih kecil dari difragma
vaginal.
Cap ini dipasang pada porsio serviks
uteri seperti memasang topi untuk
mencegah sperma masuk ke dalam
vagina. Kini alat ini jarang dipakai
untuk kontrasepsi.

II.4. Kontrasepsi Dengan Menggunakan Obat


Spermatisida

Obat spermatisida ini terdiri dari 2 komponen,


yaitu zat kimia yang mampu mematikan
spermatozoon dan vehikulum yang non aktif
sehingga obat spermatisida ini bisa dibuat
dalam bentuk tablet atau cream/jelly.
Cara kontrasepsi ini umumnya dikombinasikan
dengan cara lain atau apabila ada
kontraindikasi terhadap cara lain.
Efek samping jarang terjadi, dan umumnya
hanya reaksi alergi.
Kini di pasaran terdapat banyak obat
spermatisida dalam bentuk suppositorium,
jelly atau cream, tablet busa, C-film.

II.5. Kontrasepsi Hormonal


Pil hormonal untuk kontrasepsi yang
sekarang digunakan tidak terbuat dari
estrogen dan progesterone ilmiah melainkan
hormon steroid sintetis. Progesteron sintetis
yang dipakai adalah 19 nor-testosteron dan
17 alfa-asetoksi-progesteron (Belakangan ini
di Amerika Serikat, 17 alfa-asetoksiprogesteron mulai tidak digunakan). Untuk
estrogen sintetik yang dipakai adalah etinil
estradiol dan mestranol

Pil Kombinasi
Merupakan pil kontrasepsi yang
dianggap paling efektif. Selain
mencegah terjadi ovulasi, pil ini juga
mempengaruhi lendir serviks
menjadi kurang dan kental, dan
mempengaruhi motilitas tuba fallopi
dan uterus

Pil Sekuensial
Di Indonesia, pil sekuensial tidak
diedarkan dan tidak seefektif pil
kombinasi. Pada pil sekuensial ini, pil
yang mengandung estrogen saja
diminum 14 16 hari, disusul dengan
pil yang mengandung estrogen dan
progesterone untuk 5 7 hari.

Morning After Pill (Postcoital


Contraception)
Pada tahun 1966, Morris dan Van
Wagenen (AS) menemukan bahwa
pemberian estrogen dalam dosis
tinggi dapat mencegah kehamilan,
jika diberikan segera setelah koitus.
Pil ini mencegah kehamilan dengan
cara menghalangi nidasi blastokista
dalam endometrium.

Suntikan (Depo Provera)


Depo-provera adalah 6-alfamedroksiprogesteron yang digunakan
untuk tujuan kontrasepsi parenteral,
mempunyai efek progestagen yang
kuat dan sangat efektif.
Mekanimse kerja obat ini, adalah :
menghalangi terjadi ovulasi, lendir
serviks bertambah kental,
menghalangi implantasi ovum, dan
mengubah kecepatan transport ovum
saat melewati tuba.

Implant (AKBK)
Implan adalah salah satu pilihan kontrasepsi
yang banyak dipakai sekarang ini. Metode ini
dapat dipakai oleh semua ibu dalam usia
reproduksi, cukup nyaman, dan efektif untuk 5
tahun lamanya. Sama seperti Alat Kontrasepsi
Dalam Rahim (AKDR), pemasangan dan
pencabutan alat ini memerlukan keterampilan.
Impaln aman dipakai pada masa laktasi,
kesuburan ibu akan kembali setelah implan
dicabut, tetapi sering menimbulkan perdarahan
tidak teratur, bercak, dan juga amenore.
Penggunaan alat ini cukup efektif (kegagalan
0,2 1 kehamilan per 100 perempuan).

Jenis implan yang dipakai program KB di Indonesia,


yakni :
Norplant.
Terdiri dari 6 batang slastik lembut berongga dengan
panjang 3,4 cm, dengan diameter 2,4 mm, yang diisi
dengan Levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun.
Implanon.
Terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang
kira-kira 40 mm, dan diameter 2 mm, yang diisi
dengan 68 mg 3-keto-desogestrel dan lama kerjanya
3 tahun.
Jadena dan Indoplant.
Terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg
Levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.

II.6. Kontrasepsi dengan Alat Kontrasepsi Dalam


Rahim (AKDR)

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim


(AKDR) atau yang lebih dikenal
dengan Intra Uterine Devices (IUD),
adalah salah satu jenis alat
kontrasepsi yang biasanya terbuat
dari plastik (poly-ethylene), yang
diinsersikan ke dalam rahim,
bertujuan untuk mencegah
terjadinya konsepsi atau kehamilan.

Fungsi AKDR adalah menghambat


pergerakan telur dan sperma
sehingga mencegah fertilisasi.
Sebagai kontrasepsi, AKDR tipe T
efektifitasnya sangat tinggi yaitu
berkisar antara 0,6 0,8 kehamilan
per 100 perempuan dalam 1 tahun
pertama (1 kegagalan dalam 125
170 kehamilan). Sedangkan AKDR
dengan progesteron antara 0,5 1
kehamilan per 100 perempuan pada
tahun pertama penggunaan.

Jenis AKDR/IUD :
Berdasarkan bentuknya antara lain :

Copper T
Copper - 7
Multi Load
Lippes Loop

Menurut tambahan obat atau metal


didalamnya, dibagi atas :
Medicated IUD, misanyal CuT-200,
220, 300, 380A; Cu-7, Nova-T, ML-Cu
250,375 ; Progestasert, dan lain-lain.
Unmedicated IUD, misalnya Lippes
Loop, Marguiles, Saf-T Coil, Anti-gon,
dan lain-lain.

II.7. Kontrasepsi Mantap


Tubektomi
Tubektomi ialah tindakan yang
dilakukan pada kedua tuba Falloppii
wanita yang mengakibatkan yang
bersangkutan tidak dapat hamil atau
tidak menyebabkan kehamilan lagi.
Secara resmi, tubektomi tidak
termasuk dalam program nasional
Keluarga Berencana di Indonesia

Vasektomi
Vasektomi adalah tindakan yang
dilakukan pada kedua vas deferens pria
sehingga tidak dapat menyebabkan
kehamilan lagi. Secara resmi,
vasektomi juga tidak termasuk dalam
program nasional Keluarga Berencana
di Indonesia.
Indikasi vasektomi adalah pasangan
suami-isteri yang tidak menghendaki
kehamilan lagi dan pihak suami
bersedia bahwa tindakan kontrasepsi
dilakukan pada dirinya.

Aspek Khusus Dalam Pemilihan Kontrasepsi

Pilihan Kontrasepsi Bagi Remaja :


Kontrasepsi Pil Kombinasi
Kontrasepsi ini memiliki pilihan
terbaik bagi kelompok remaja ini
karena menghasilkan kontrasepsi
efektif, meningkatkan kepadatan
tulang, dan dapat digunakan untuk
mengatasi acne serta mengatur
menstruasi yang tidak teratur.
Kekurangannya adalah keharusan
meminum pil kombinasi setiap hari.

Metode Kontrasepsi Jangka


Panjang (Norplant dan Injeksi
Depo-Provera)
Sistem norplant jelas merupakan
pilihan karena menghasilkan
kontrasepsi selama 5 tahun dan
injeksi Depo-Provera sebagai
kontrasepsi untuk 3 bulan ini.
Norplant juga tidak menyebabkan
pengeroposan tulang, ketika

Pilihan Kontrasepsi Bagi Wanita


Berusia Lebih Dari 35 Tahun
Kontrasepsi Pil Kombinasi
Terutama estrogen dosis rendah, apabila
digunakan oleh wanita yang bukan
perokok, tanpa penyakit sistemik, sangat
efektif, ditoleransi baik, resikonya minimal.
(Beck, 1995 & Speroff dan Sulak, 1995)

Suntikan Depo-Provera
Merupakan kontrasepsi hormonal yang
sangat efektif dan juga dapat digunakan
oleh sebagian wanita, yang atas alasan
medis, tidak dapat menggunakan
kontrasepsi oral kombinasi.

Norplant
Merupakan metode yang sangat efektif, ditoleransi baik,
dan harus dipertimbangkan bagi wanita yang berusia
lebih dari 35 tahun.
Kekurangan adalah kemungkinan efek merugikan
levonorgestrel terhadap toleransi glukosa dan
lipoprotein.

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)


Metode ini merupakan pilihan yang logis bagi wanita
berumur yang keluarganya sudah lengkap dan memiliki
hubungan monogami.
Teknik Sawar dan Obat Spermatisida
Metode ini dapat digunakan untuk kontrasepsi utama
maupun cadangan. Efektifivitas metode ini meningkat
seiring dengan pertambahan usia setelah 40 tahun,
mungkin karena kesuburan juga nyata berkurang
setelah usia 40 tahun.

Pilihan Kontrasepsi Bagi Wanita


Yang Memiliki Suatu Penyakit Medis
Kehamilan pada wanita yang menderita
sakit sering menimbulkan bahaya yang
jauh lebih besar daripada bahaya yang
ditimbulkan oleh sebagian besar metode
kontrasepsi. Tetapi, pemilihan berbagai
metode kontrasepsi yang paling efektif
dan aman sangat tergantung pada
pemahaman dokter tentang
patofiosiologi dasar penyakit yang
diderita seorang wanita.

TERIMA KASIH