Anda di halaman 1dari 22

UJI KETERCUCIAN

BATUBARA

Keberhasilan Pencucian batubara,


antara lain ditentukan :

Analisis
Distribusi
Ukuran

UKURAN BUTIR
Jumlah Batubara halus
Komposisi berat pada berbagai
ukuran
Neraca material bagi setiap alat
didalam pabrik

Karakteristik ketercucian /Washability

Coal
Washability
Study

Perolehan teoritis fraksi


terendapkan maupun
terapung
Indikasi derajat kesukaran
yang mungkin timbul jika
dilakukan pencucian
Mengetahui berat jenis
cairan pemisah

Pemilihan metode/peralatan pencucian

PENCUCI
AN
BATUBAR
A
: Usaha
yang
dilakukan
untuk
memperb
aiki
kualitas
batubara
agar
memenuhi
syarat
pengunaa
n tertentu

Prinsip dasar pencucian


batubara :

Memisahkan
batubara
bersih dengan batubara kotor
(dapat juga middling) dengan
memanfaatkan
perbedaan
densitas relatif

DILAKUKAN SEBELUM
PENCUCIAN

Batubara yang memliki DR


lebih besar akan tenggelam
didalam fluida, dan yang
memiliki DR lebih kecil akan
terapung

ANALISI
S UJI
ENDAP
APUNG

KARAKTERIS
TIK
KETERCUCIA
N/
WASHABILIT
Y

DR bb
<

DR bb
>

Batuba
ra
bersih

Batubara
kotor

Distribusi densitas relatif :


berapa bagian dari
batubara yang memiliki dr
rendah, menengah atau
tinggi, dan kadar abu dari
setiap fraksinya

UJI KETERCUCIAN
BATUBARA

Coal Washability Study ( Uji endap apung ) :


Suatu pengujian yang dilakukan berdasarkan
prinsip perbedaan density antara batubara
bersih dan batubara kotor, untuk melihat
karakteristik ketercucian batubara yaitu antara
lain berupa berapa bagian dari batubara yang
memiliki dr rendah, menengah atau tinggi, dan
kadar abu dari setiap fraksinya

Tujuan uji endap apung :


mendapatkan gambaran
mengenai kelakuan
berbagai fraksi
batubara apabila
dilakukan pencucian
dengan medim yang
berbeda
mengetahui perolehan
batubara untuk fraksi
tertentu

Tahap-Tahap Coal Washability Study:

Pengambilan conto batubara


Melakukan analisis (test/ uji) ayak
Melakukan uji sink & float
Analisis kandungan abu dan belerang
Melakukan tabulasi data
Menggambarkan hasil washability ke dalam kurva
Interpretasi kurva

PROSEDUR UJI ENDAP APUNG


Pengujian dilakukan di dalam
densitas relatif. Misal 1,3. Maka
batubara yang DR nya lebih besar
dari 1,3 akan tenggelam, dan yang
lebih kecil akan mengapung
Fraksi yang terapung , selanjutnya
diambil, dikeringkan, ditimbang dan
dianalisis kadar abunya.
Fraksi yang tenggelam kemudian
diambil, dikeringkan dengan udara
dan dimasukan kedalam cairan yang
densitas relatifnya lebih tinggi.
Proses keseluruhan diulangi dengan
densitas relatif yang lebih tinggi

Pada akhir uji endap apung,


diperoleh satu seri fraksi yang
dikeringkan, mulai dari yang terapung
pada densitas yang rendah, sampai
yang tenggelam pada fraksi yang
paling tinggi.
Setiap fraksi yang sudah dikeringkan
ditimbang dan berat keseluruhannya
dihitung dan dibandingkan dengan
berat percontoh sebelum diuji. Dari
perhitungan akan didapat berat
material yang hilang
Selanjutnya setiap fraksi disiapkan
untuk analisis kadar abu
Data persen berat dan kadar abu
ditabulasi dan digambarkan kedalam
kurva ketercucian

Peralatan Uji endap apung

Cairan yang dipakai untuk uji endap apung


disebut sebagai media.
Media yang umumnya dipakai adalah :
1. Perchlorethylene ( Densitas relatif : 1,61)
2. White spirit ( Densitas relatif : 0,77 )
3. Bromoform ( Densitas relatif : 2,79 )
4. Tetrabromoethane ( densitas relatif 2,96)
Alat untuk mengukur densitas cairan adalah
hydrometer

TABULASI DATA KETERCUCIAN

Kolom 1 : fraksi densitas relatif


Kolom 2 : persen berat setiap fraksi densitas relatif . Didapat dengan mebagi berat
setiap fraksi dengan jumlahberat keseluruhan fraksi tersebut.
Kolom 3 : kadar abu pada setiap fraksi densitas relatif
Kolom 4 : % berat abu di fraksi terapung pada densitas pemisah tertentu terhadap
berat conto total, (kolom 2 x kolom 3)/ 100
Kolom 5 : kumulatif persen berat abu. Diperoleh dengan menjumlahkan nilai pada
kolom 4 secara kumulatif.
Kolom 6 : nilai kumulatif persen berat terapung. Didapat dengan menjumlahkan nilai
pada kolom 2 secara kumulatif.
Kolom 7 : persen kadar abu dari kumulatif fraksi terapung, Diperoleh dengan
(kolom 5 / kolom 6) x 100
Kolom 8 : persen berat abu didalam fraski terendap pada densitas pemisah
tertentu, diperoleh dengan (jumlah kolom 4) kolom 5
Kolom 9 : kumulatif persen berat terendapkan = 100 kolom 6
Kolom 10 : persen kadar abu dari kumulatif fraksi yang terendapkan,
(kolom 8 / kolom 9) x 100
Kolom 11 : densitas relatif
Kolom 12 : persen berat conto yang densitas relatifnya terletak antara
+0,1 dan -0,1 dari densitas pemisahan, (kolom 6 r.d. 1.5 kolom 6 r.d.1.3).
Kolom 13 : kumulatif terapung dikurangi dengan setengah persen berat fraksi
terapungnya ( kolom 13 = kolom 6 kolom 2/2)

Mengggambar Kurva Hasil Washability Test dan Interpretasinya :


a. Elementary curve : kurva untuk menentukan maksimum kadar abu yang
mungkin ada dalam suatu sorting, caranya yaitu dengan mengalurkan
kolom 13 pada sumbu tegak dan kolom 3 sebagai sumbu mendatar (kurva
a).
b. Cummulative float curve : kurva untuk menentukan persentase teoritis
batubara bersih yang akan diperoleh (perolehan batubara = coal yield),
cara penggambarannya yaitu dengan mengalurkan kolom 6 pada sumbu
tegak di sebelah kiri dan kolom 7 pada sumbu mendatar (kurva b).
c. Avarage ash in refuse curve : kurva untuk menentukan berapa besar
kadar abu dalam sink pada suatu jumlah float tertentu, caranya yaitu
dengan mengalurkan kolom 9 sebagai sumbu tegak di sebelah kanan dan
kolom 10 pada sumbu mendatar (kurva c)
d. Specific gravity curve : kurva untuk menentukan coal yield suatu
pemisahan sempurna pada SG pemisah, caranya adalah mengalurkan kolom
6 sebagai sumbu tegak sebelah kiri dan densitas relatif kolom 1 pada
sumbu mendatar (kurva d),.
e. Specific gravity distribution 0,1 curve : kurva untuk menentukan sukar
atau mudahnya pemisahan batubara kotor pada suatu SG yang disebabkan
karena perbedaan 0,1 dari SG yang ditentukan, caranya yaitu dgn
mengalurkan kolom 12 pada sumbu tegak sebelah kiri dan kolom 11 pada
sumbu mendatar (kurva e).

e
c
d

Persen near density material


Derajat
Kesukaran
05
Mudah
6 10
Moderat
10 20
Sukar
> 20
Sangat Sukar