Anda di halaman 1dari 45

Toksikologi

Industri Cat
Nurazizah (1112101000053)
Alviral Muhamad (1112101000057)
Nova Elyanti (1112101000060)
Atthina Ayu Mustika (1112101000065)
Ika Nur Syafitriani (1112101000074)

Proses Pembuatan Cat

Proses Pembuatan Cat

(1)
Persiapan Bahan

Pigment
Binder atau
Pelarut
Additive
(
resin

(2)
Pencampuran
Menuang bahan-bahan yang sudah disiapkan
dengan urutan dan cara yang sesuai dengan
jenis cat yang akan dibuat ke dalam sebuah
tangki. Kemudian mencampurkan bahanbahan tersebut dengan putaran mixer
secara perlahan hingga semua bahan
tercampur merata di semua titik

(3)
Dispersi

Pemecahan menjadi lebih kecil dengan

kehalusan 5-20 mikro, atau sesuai


dengan yang dikehendaki

(5)
Analisis
Laboraturium atau
Quality Checker
Analisis

laboratorium menerima sampel


bahan baku yang masuk untuk diuji untuk
kesesuaian dengan spesifikasi pembelian.
Laboratorium kontrol kualitas untuk menguji
produk sebelum dikemas untuk berbagai
karakteristik fisik seperti tinggi per galon,
viskositas, warna, dan waktu pengeringan.

(6)
Pengisian dan
Packing
Diisi ke dalam kaleng yang kemudian
disegel, diberi label, dikemas, dan disimpan
atau dikirim

Limbah

Zat buang yang tidak dikehendaki dari suatu proses

produksi dan dapat menurunkan kualitas lingkungan

Industri pabrik atau domestik sampah rumah

tangga

Karakteristik : berukuran seperti partikel-partikel,

selalu berubah sesuai dengan kondisi lingkungan,


penyebaran berdampak luas, serta pengelolaan
limbah tidak dapat diselesaikan dalam jangka waktu
singkat (Abdurrahman 2008)

Tingkat bahaya limbah banyak atau sedikitnya

limbah, serta dari kandungan bahan pencemar yang


ada pada limbah

Macam-macam limbah berdasarkan sifatnya:


limbah
limbah
limbah
limbah
limbah
limbah

mudah meledak
mudah terbakar
reaktif
beracun
penyebab infeksi
korosif.

Pada Industri Cat


Limbah limbah padat dan limbah cair

bergantung pada jenis bahan baku dan zat-zat


tambahan yang digunakan

Limbah padat berbentuk padat dan kering,

tidak dapat berpindah

Limbah cair limbah yang terlarut dalam air,

selalu berpindah mengikuti wadah

Limbah padat
Kemasan bekas bahan baku : kantung yang berbahan

kertas, plastik, yang mudah terbakar namun tidak beracun


Lumpur atau sludge dari proses pengolahan air limbah di
IPAL pabrik yang bersifat racun dan berbahaya
Sampah domestik dari kegiatan kantor dan pabrik
Limbah cair
Pencucian, pembilasan, dan pembersihan tangki serta

peralatan proses produksi cat : air pencucian


Bahan baku tercecer dari proses produksi, laboratorium
serta bak-bak pencucian, air pendingin dan boiler atau
blow down

Penanganan limbah
Pengurangan limbah : seminimal mungkin dihasilkannya

sumber zat buang dari suatu proses

Penggunaan kembali limbah yang masih dapat

dimaksimalkan pada alur proses

Pemanfaatan limbah agar menjadi bentuk lain yang tidak

seperti limbah atau daur ulang dengan sedikit zat


tambahan

Pengolahan limbah yang masih dapat diolah atau

dipisahkan

Penanganan limbah
Perlu bantuan dari dinas kebersihan sekitar pabrik :

pengangkutan & pendaur-ulangan limbah padat yaitu


kemasan cat

Penanganan limbah B3 dari air limbah di IPAL

pengeringan dan perubahan bentuk menjadi padatan


atau Flinkote Padat

Pada limbah cair pengumpulan di tangki-tangki

pengumpul pengaturan pH, pengendapan kapur


atau garam besi pada tangki pengumpul pengentalan
zat cair penyaringan penyaring pasir maupun

Timbal

Timbal (Pb)
Logam golongan IV A dalam tabel periodik unsur

kimia

Nomor atom 82
Logam berat alami di kerak bumi
Dapatberasal dari kegiatan manusia yg jumlahnya

dapat mencapai 300 kali lebih banyak daripada Pb


alami

Senyawa timbal kadang digunakan dalam


cat sebagai :
Pigmen
memberi warna dan kecerahan yang diinginkan
meningkatkan daya tutup
melindungi lapisan bawah dari dampak buruk cahaya ultraviolet
meningkatkan ketahanan cat terhadap cuaca
Pengering
katalis pengering
pada cat minyak dapat mempercepat polimerisasi film dan

membuat cat kering lebih cepat dan rata

Agen antikorosi
digunakan pada cat dasar logam
mencegah karat atau korosi

Sifat Fisik dan Sifat Kimia


Logam lunak berwarna abu-abu kebiruan mengkilat serta

mudah dimurnikan dari pertambangan

Titik leleh timbal : 327,43 oC (621,4oF)


Titik didih : 1740oC (3164oF)
Berat molekul : 207,21 g/mol
Memiliki gravitasi atau berat jenis cairan 11,34
Berat atom : 207,20

Potensi Bahaya
Keselamatan dan Kesehatan
Janin manusia paling rentan terhadap bahaya timbal
Secara biologis, anak lebih rentan terhadap timbal daripada orang dewasa,

karena berbagai alasan :

Otak anak sedang tumbuh, berkembang dan terdiferensiasi dengan sangat pesat.

Timbal menghambat proses tersebut

Paparan timbal di usia dini dapat memprogram ulang gen, menyebabkan perubahan

ekspresi gen yang terkait dengan peningkatan risiko terkena penyakit di


kemudian hari

Tingkat penyerapan timbal lewat pencernaan lebih tinggi pada anak : anak

menyerap lebih dari 50% timbal yang tertelan, sementara pada orang dewasa
hanya 10%

Wanita hamil dapat menyerap lebih banyak timbal lewat pencernaan daripada

orang dewasa lain. Anak yang kurang gizi juga dapat menyerap lebih banyak timbal
melalui saluran pencernaan.

Rute Pajanan
Ingesti
Kulit
Kontak mata
Parenteral
Inhalasi

ADME
Absorbsi
Terutama melalui saluran nafas 85%, saluran
pencernaan 14% dan kulit 1%
dipengaruhi oleh tiga proses yaitu: deposisi,
pembersihan mukosiliar dan pembersihan alveolar

Distribusi
Timbal yang diabsorpsi diangkut oleh darah ke
organ tubuh diikat oleh eritrosit
Sebagian Pb plasma berada dalam bentuk yang
dapat
berdifusi
dan
diperkirakan
dalam
keseimbangan dengan pool Pb tubuh lainnya

Metabolisme
Tubuh dapat menyerap timbal kira-kira 40%
dari asap timbal oksida yang dihirup dan di
absorpsi disaluran pernafasan
Dalam aliran darah sebagian besar timbal
diserap dalam bentuk ikatan dengan eritrosit
Timbal dapat mengganggu enzim oksidase dan
akibatnya menghambat sistem metabolisme sel:
menghambat sintesis Hb dalam sumsum tulang

Ekskresi
Melalui beberapa cara, yang terpenting adalah
melalui ginjal dan saluran cerna
Ekskresi timbal melalui urine sebanyak 75-80%,
melalui feces 15% dan lainnya melalui empedu,
keringat, kuku dan rambut

Responnya
No.

Kadar Pb
(g/dl)

Dampak Kesehatan
Anak

Dewasa

Penurunan tingkat kecerdasan


1.

0 - 10

Gangguan

pertumbuhan

pada

tulang
2.

3.

10 30

30 - 50

Gangguan metabolisme vitamin D

Gangguan sistolik tekanan darah


Gangguan protoporphyrin eritrosit

Gangguan sintesa haemoglobin

Gangguan sistem saraf pusat

Anemia

Anemia
Gangguan ginjal
Infertibilitas (pada pria)

Gangguan ginjal
4.

50 - 100

Gangguan otak dan sistem saraf Gangguan sintesa haemoglobin


pusat

5.

> 100

Kematian

Kematian

Organ Target
Timbal dapat merusak jaringan saraf, jaringan lunak

(hati dan ginjal), dan organ yang banyak mengandung


Ca, seperti tulang dan gigi

Selain itu timbal juga memengaruhi organ-organ

tubuh, antara lain sistem saraf, ginjal, sistem


reproduksi, sistem endokrin, dan jantung

Namun organ target yang utama diserang oleh

timbal adalah sistem saraf

Studi Invitro dan Invivo


Studi Invitro
Melihat pengaruh timbal terhadap kepadatan sel dan
kadar ekspolisakarida kultur cair Azetobacter
Dilakukan oleh Hindersah R dan Kamaluddin, N.N.
Masing-masing mikroba ditumbuhkan pada media cair
yang dikontaminasi Pb sebesar 0,1 mM, dan 1 mM dan
diinkubasi pada suhu kamar selama 96 jam
Hasil percobaan menunjukkan bahwa Azotobacter sp.
LKM6, Gram negatif basil, relatif lebih resisten Pb
daripada A. chroococcum,Gram negatif kokus

Studi Invivo
Israhnanto Isradji tahun 2010
dilakukan pada mencit dengan melihat pengaruh PbAsetat terhadap fertilitas mencit jantan, yang dimonitor
melalui jumlah kehamilan dan jumlah anak dalam satu kali
kelahiran
Perlakuan Pb-asetat pada mencit jantan menyebabkan
berkurangnya jumlah mencit betina yang hamil
Hal ini diakibatkan oleh keberadaan Pb dalam tubuh yang
menyebabkan timbulkan gangguan pada proses pembentukan
sperma dalam tubulus seminiferus, sehingga sperma fertil
yang dihasilkan berkurang

Formaldehid

Formaldehid
Nama lain Formol, Methylene aldehyde,

Paraforin, Morbicid, Oxomethane,


Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform,
Superlysoform, Formaldehyde, dan Formalith

Biasa digunakan :
bahan bahan baku industri lem dan pembuatan

plastik (resin fenol formaldehid)


pelarut pada industri cat
disinfektan
germisida dan fungisida pada tanaman sayuran
mengawetkan bangkai

Sifat fisik dan kimia


Sifat fisik :
Berbentuk gas pada
suhu ruang
Tidak berwarna
Mudah terbakar
Memiliki aroma tajam

Sifat kimia :
Rumus molekul CH2O
Berat molekul 30,03
Titik didih 97oC
Titik nyala 60oC
Berat jenis (air=1) 1,081
Mudah larut dalam air,
alkohol, eter, dan
aseton.

Potensi bahaya
bagi kesehatan dan keselamatan
Kronik :

Kerusakan paru-paru
Eksim
Kerusakan mata
Iritasi saluran cerna,
muntah, dan pusing

Formaldehid
merupakan larutan
yang mudah terbakar

Akut :

Iritasi saluran nafas yg


disertai nyeri
tenggorokan, batuk, napas
pendek, iritasi mata dan
mata berair
Luka bakar pada saluran
napas
Luka bakar pada kulit
Iritasi saluran cerna
berat disertai nyeri perut,
mual, muntah, diare, serta
luka bakar pada saluran
cerna.

Rute Pajanan
Dapat diawali dengan :
Ingesti (mengkonsumsi makanan/minuman)
Inhalasi (terhirup)
Kontak dengan kulit
Kontak dengan mata

ADME
Absorpsi
Formaldehid adalah molekul kecil, reaktif, dan

larut air, dengan berat molekul sebesar 30.03,


dimana dapat diabsorbsi dalam jaringan saluran
pernapasan (pajanan inhalasi) dan saluran
pencernaan
Formaldehid juga dapat diserap cepat setelah
terjadi pajanan oral
Absorbsi melalui kulit tampaknya cukup lambat
(hanya sekitar 0.5% dosis yang diberikan); dimana
sebagian besar hilang melalui penguapan ataupun
diserap ke dalam Kulit

Distribusi

pada tikus, 14Cformaldehid yang terhirup (8 ppm dalam 6


jam) meningkatkan konsentrasi radioaktivitas dalam darah
tikus setelah beberapa hari terpapar (waktu paruh 55
jam)

Metabolisme
Setelah masuk ke dalam tubuh, formaldehid akan
dimetabolisme oleh enzim formaldehyde dehydrogenase
pada hepar
Di tubuh manusia, formaldehid diubah secara cepat
menjadi asam format, oleh karena itu kadarnya tidak
terdeteksi didalam darah
Sedangkan asam format dimetabolisme lebih lambat,

Ekskresi
Metabolisme membentuk format berperan di

dalam setiap jaringan tubuh sebagai akibat


formasi endogen formaldehid

Sedangkan formaldehid eksogen masuk jalur

tersebut dan di ekskresi dalam bentuk CO2

Hubungan Efek Dosis


dan Responnya
American Conference of Govermental and

industrial Hygienist (ACGIH) : ambang batas


formaldehid yang masih dapat ditolerir oleh
tubuh manusia adalah sebesar 0,4 ppm.

International Programme on Chemical safety

(IPCS) ambang batas formaldehid : 0,1


mg/liter atau 0,2 mg/hr dalam air minum dan
1,5 mg 14 mg perhari dalam makanan.

Pajanan

Konsentrasi

Terhirup

0,25 0,45

Efek
Iritasi hidung dan tenggorokan

ppm
0,4 0,8 ppm Batuk dan bersin, dada terasa sesak, dan napas

pendek
Iritasi pada paru-paru dan tenggorokan yang

4 ppm

dapat menyebabkan bronkitis dan laringitis

Lebih dari 10 Gangguan bernapas

ppm
50 ppm

Mata

0,05 2,0

Tertelan

ppm
1 ons

Kerusakan serius pada paru-paru


Iritasi pada mata
Kematian

Formaldehid
(Evi, 2004)
Kadar ppm

Lama

Efek

0,85

terpajan
5 jam/hari

Rasa tidak nyaman di ruangan, iritasi pada hidung

1,6000
0,03 0,500

dan kerongkongan terasa kering


4 hari

Kecepatan mengedipkan mata menjadi 2x lebih

5 menit

cepat
Ingin meninggalkan ruangan karena merasa tidak
nyaman

0,042

5 jam/hari

4 hari

Iritasi sedang pada mata


Rasa tidak nyaman di ruangan, iritasi pada hidung
dan kerongkongan terasa kering

0,250

5 jam/hari

Rasa tidak nyaman di ruangan, iritasi pada hidung


dan kerongkongan terasa kering

Organ target
Kulit
Hati
Ginjal
Sistem
Mata
pernapasan
pencernaan

Studi invitro dan invivo


Pada penelitian yang dilakukan oleh Niendya, Arief, dkk (2011)

bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian formalin,


diazepam dan minuman beralkohol pada rasio bobot hepar-tubuh
mencit

Mencit

(Mus musculus) digunakan sebagai hewan uji untuk


mengetahui dampak dosis berlebih dari pemberian diazepam,
formalin, dan minuman beralkohol pada rasio bobot hepar-tubuh
mencit

Penelitian dilakukan selama 1 bulan dengan 6 hari masa aklimatisasi

dan 24 hari masa perlakuan

Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian diazepam, formalin

dan minuman beralkohol tidak berpengaruh pada rasio bobot hepartubuh yang digunakan untuk menggambarkan proses fisiologis tubuh
mencit terkait dengan proses metabolisme dalam menghasilkan
cadangan makanan

Daftar Pustaka
NIOSH. 1984. Manufacture of Paint and Allied Coating Products. U.S.: U.S.

Department of Helath and Human Services. National Institute for


Occupational Safety and Health
Anonim. 2011. Mengetahui Formulasi dan Proses Produksi Cat, [online]
http://www.edupaint.com/cat/pengetahuan-dasar/463-read-110615mengetahui-formulasi-dan-proses-produksi-cat.html diakses pada tanggal 27
Maret 2014.
Azhar, Rofa Yulia. 2012. Proses Pembuatan Cat dan Bahaya yang
Ditimbulkannya, [online] http://www.rofayuliaazhar.com/2012/06/artikelproses-pembuatan-cat-dan-bahaya.html diakses pada tanggal 27 Maret
2014.
Susyanto, Heri. 2009. Tentang Cat, [online]
www.oocities.org/heri_susyanto/Resin.htm diakses pada tanggal 27 Maret
2014.
Abdurrahman, D. (2008). Biologi Kelompok Pertanian dan Kesehatan untuk
kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan. Bandung: Grafindo Media Pratama.
Hernadewita. (2007). Penanganan Limbah Industri Cat Ditinjau Dari Sisi
Clean Technology Dalam Manajemen Industri. Jurnal Teknik Mesin, Vol 4 No 2.
Badan POM RI. 2011. Formaldehid. Jakarta: Badan POM RI
Naria, Evi. 2004. Risiko pemajanan formaldehid sebagai bahan pengawet
tekstil di lingkungan kerja. Medan : FKM USU.

Niendya, Arief, dkk. 2011. Rasio Bobot Hepar-Tubuh Mencit (Mus musculus L.)

setelah Pemberian Diazepam, Formalin, dan Minuman Beralkohol. Buletin


Anatomi dan Fisiologi. UNDIP
Sari, Fitri Arlia. 2013. Efek Toksikologi Formaldehid.
https://www.scribd.com/doc/119141991/efek-toksikologi-Formaldehid#download,
diakses pada 10 Desember 2014
R, Hindersah dan N.N, Kamaluddin. 2013. Pengaruh Timbal Terhadap Kepadatan
Sel dan Kadar Ekspolisakarida Kultur Cair Azetobacter. Bionatura Jurnal Ilmu Ilmu
Hayati dan Fisik ISSN 1411-0903. Vol. 15 No. 3, November 2013
Ismawati, Yuyun.,dkk. 2013. Laporan Nasional Timbal dalam Cat Enamel Rumah
Tangga di Indonesia. Bali Fokus dan IPEN: Jakarta
Isradji, Israhnanto. 2010. Pengaruh Pemberian Pb-Asetat Terhadap Fertilitas Mencit
Jantan, dimonitor Melalui Jumlah Kebuntingan dan Jumlah Anak Sekelahiran.
Fakultas Kedokteran. Universitas Islam Sultan Agung. Semarang. Vol. 2 No. 2
Material Safety Data Sheet. Lead MSDS. Chemical and Laboratory Equipment.
Diakses tanggal 17 Oktober 2014. Pukul 01.30 WIB. Tersedia
www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927204
Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat.Jakarta: Rineka Cipta
Shilu Tong, Yasmin E. Von Schirnding, Taippawan Propamontol. 2000. Bulletin of
The World Health Organization Environmental Lead Exposure, a Public Health
Problem of Global Dimension
Widowati, Wahyu dkk. 2008. Efek Toksik Logam Pencegahan dan Penanggulangan
Pencemaran. Yogyakarta: Penerbit ANDI Yogyakarta