Anda di halaman 1dari 41

Neuro-Psychopharmacology

Hipnotik Sedatif (H-S)


Hipnotik: timbulkan ngantuk dan perlama tidur.
Sedatif: kurangi cemas, timbulkan tenang.
Keduanya tekan fungsi SSP, perlihatkan dose-response
relationship: sedasi hipnosis anestesi koma.
Kelompok: barbiturat, benzodiazepine, zat baru
(zolpidem, ramelton, buspirone, dll).
Barbiturat: pentobarbital, secobarbital, phenobarbital,
glutethimide, meprobamate, choral hydrate.
Benzodiazepine: diazepam, chlodiazepoxide,
flurazepam, desmethyl diazepam, oxazepam,
lorazepam, nitrazepam, triazolam, alprazolam.

Farmakokinetik H-S

Lipofilik: mudah diserap, distribusi luas, mudah liwati BBB dan


plasenta, metabolisme di hati hasilkan metabolit hidrofilik yg
diekskresikan di ginjal. Clorazepate dihidrolisa di lambung.
Benzodiazepine: dimetabolisme oleh CYP3A4 hasilkan metabolit
aktif, kemudian dikonjugasi; lorazepam langsung dikonjugasi. Waktu
paroh beda, yg panjang timbulkan efek kumulatif dan residual effect,
triazolam paling pendek.
Barbiturat: eliminasi hepar kecuali phenobarbital; waktu paroh
panjang, dosis berulang timbul efek kumulatif; metabolisme
phenobarbital dan meprobamate terpacu bila digunakan kronik.
Hipnotik baru: waktu paroh pendek; metabolisme oleh CYP3A4,
dipercepat oleh rifampicin dan diperlambat oleh cimetidine/
ketoconazole.
Usia lanjut perlambat eliminasi H-S.

Farmakodinamik H-S
Ikat reseptor GABAA, reseptor itu lebih sensitif thd
neurotransmitter GABA, kanal klorida di dinding neuron
banyak dan lama terbuka, hiperpolarisasi neuron,
hantaran rangsang terhambat, eksitasi neuron ditekan,
timbulkan sedasi, hipnosis, anestesia, antikonvulsi,
relaksasi otot, depresi pernafasan dan kardiovaskuler.
Sedasi: pd dosis rendah, tenang dan tak cemas, kognitif
dan psikomotor tertekan, disinhibisi perangai euforia,
hilang kendali, judgement terganggu, dan amnesia.
Hipnosis: pd dosis lebih tinggi, mudah tertidur, std 2
NREM panjang, REM pendek, std 4 NREM pendek..H-S
tua timbulkan REM rebound bila dibangunkan; H-S baru
timbulkan rebound insomnia bila dosis dinaikkan.

Anestesia: dosis tinggi bbrp H-S timbulkan anestesia


umum std III. H-S yg sangat tinggi kelarutan dlm lemak
dapat digunakan sbg obat anastesi tambahan krn mulai
dan lama kerjanya cepat (thiopental, methohexital,
diazepam, lorazepam, midazolam). Anestesi dgn
barbiturat berakhir krn redistribusi dari SSP;
diazepam/metabolitnya punya masa kerja panjang,
timbulkan depresi nafas pasca anestesi, ttp dapat diatasi
dgn flumazenil.
Relaksasi otot: meprobamate dan benzodiazepine
hambat refleks polisinaptik dan transmisi internuncial di
SSP, dosis besar tekan transmisi neuromuskuler perifer,
timbulkan relaksasi otot skelet.

Antikonvulsi: brbg H-S hambat timbul dan penjalaran


aktifitas listrik epileptiform di SSP, bbrp diantaranya kerja
selektif tanpa depresi SSP (diazepam, clonazepam,
lorazepam, nitrazepam). Phenobarbital dan metharbital
efektif utk kejang tonik-klonik umum.
Depresi nafas: dosis hipnotik timbulkan deprasi nafar spt
tidur, bisa berat bila ada penyakit paru; dose-related,
dosis toksik timbulkan kematian krn depresi pusat nafas
di med. oblongata.
Depresi KV: dosis hipnotik tak ada efek pd orang sehat,
ttp timbul bila ada hipovolemia, gagal jantung, gg KV
lain. Dosis toksik timbulkan depresi, lewat efek sentral
dan perifer.
Depresi nafas dan Kv lebih sering bila H-S intravena.

Toleransi dan Ketergantungan

Penurunan respon sering terjadi setelah penggunaan H-S berulang.


Dosis perlu dinaikkan utk raih efek semula. Toleransi silang dgn
etanol. Toleransi dapat kinetik atau dinamik.

Semua H-S timbulkan sikap kompulsif utk hilangkan cemas,


timbulkan euforia serta disinhibisi, dan permudah tidur.

Salah guna (abuse) timbulkan ketergantungan psikis dan fisik,


dimulai dgn neurosis, kemudian lanjut dengan toleransi dan
keterganungan fisiologik.

Ketergantungan fisiologik ditandai oleh status fisiologik yg berubah,


H-S selalu dibutuhkan agar tak timbul gejala putus obat. Gejalanya:
gelisah/cemas, insomia, CNS mudah tereksitasi dan dapat konvulsi.
H-S dgn t1/2 panjang, timbulkan gejala putus obat yang lamban.

Tatalaksana Cemas
Cemas timbulkan berbagai respon psikis, tingkah-laku,
dan fisiologik. Respons psikis cakup peningkatan
kewaspadaan, tegang motorik, hiperaktifitas otonomik.
Cemas sering menyertai penyakit organik spt infark
jantung, angina pektoris, atau ulcus pepticum; atau
karena sebab situasional lain seperti prabedah,
musibah, atau peristiwa yang mencekam.
Walau situasional, cemas perlu dikendalikan dgn
pemberian H-S jangka pendek.
Cemas yg berlebihan dan tak beralasan (anxiety
disorder, panic disorder, agoraphobia) perlukan obat dan
psikoterapi.

Benzodiazepine obat cemas utama, pilihan


ditentukan oleh awal dan lama kerja, indeks
terapi, interaksi obat, efek samping minimal.
Alprazolam khusus diindikasikan utk panic
disorder dan agoraphobia.
ES: ketergantungan, depresi SPP, amnesia.
Berikan dosis penuh malam hari, dosis siang
separohnya agar ES minimal, pengobatan
sesingkat mungkin. Hindari bersama obat lain
penekan SSP.

Tatalaksana Gangguan Tidur

Sering sertai penyakit lain atau penyakit psikiatrik. Insomnia primer


jarang.
Perhatikan makanan, olah raga, hindari stimulan sebelum tidur,
suasana lingkungan yg nyaman, keteraturan waktu tidur.
H-S digunakan singkat, rebound insomnia bila obat dihentikan
mendadak. Bila tak sembuh dalam 7-10 hari, cari penyakit organik
atau psikiatrik sbg penyebab.
Barbiturat dan benzodiazepine kurangi REM dan gelombang lambat
tidur, ttp pola ini tak terganggu dgn hipnotik baru. Yg dipilih adalah
yg cepat awal kerjanya, efeknya cukup lama, keesokannya tak
hangover (ngantuk, euforia, atau depresi psikomotor); dalam hal ini
benzodiazepine kerja singkat dan hipnotik baru lebih disukai, walau
hipnotik tua masih banyak digunakan. Dosis hipnosis
benzodiazepine dapat timbulkan amnesia.

Antikejang (Anticonvulsant)

Utk obati epilepsi, kejang panas, atau kejang infeksi, dll.Utk kejang
toksik dan metabolik koreksi sebabnya. Utk epilepsi sesuaikan obat
dengan klasifikasi empirik kejang ( umum atau parsial, tonik atau
atonik, sederhana atau kompleks, klonik atau myoklonik atau
spastik).
Terbagi atas 3 kelompok: rantai heterosiklik (barbiturat, fenitoin,
oxazolidinedione, succinimides, acetylurea), age-sensitive channel
(carbamazepine, valproic acid, benzodiazepine), dan obat baru
(felbamate, gabapentin, locasamide, pregabalin, lamotrigin,
levetiracetam, oxcarbazepine, pregabalin, tiagabine, topiramate,
vigabatrin, dan zonisamide.
Walau obat baru lebih fokus kerjanya pada neurotransmitter atau
konduksi ionik, kerja semua obat adalah paliatf, belum kuratif atau
preventif.

Mekanisme Kerja
Dinding Sel
Karbamazepin
Lamotrigin
Paraldehid
Fenitoin
Topiramat
Zonisamide
Etosuksimid

Neurotransmitter
Benzodiazepine
Gabapentine
Fenobarbital
Fenitoin
Topiramat
Valproat
Vigabatrin

Prinsip Pengobatan Kejang


Epilepsi
Tujuan adalah kendalikan kejang, tanpa ganggu fungsi
mental, motorik, atau tingkah laku.
Bila mungkin dgn 1 obat saja dalam dosis optimal.
Kombinasi diperlukan pd bbrp jenis kejang (tonic-clonic
atau absence)
Indeks terapi sempit, titrasi dosis utk capai efek terapi
maksimal dan efek samping minimal. Bila mungkin,
lakukan pemantauan kadar terapi.
Pilih obat/dosis yang dapat diberikan 1 atau 2 kali sehari.
ES yg dose-related: sedasi, nystagmus, ataxia,
gangguan psikis ( confusion, lupa,depresi), gangguan
emosi, perubahan tingkah laku.

Pilihan obat
Kejang tonic-clonic (grand mal): karbamazepin,
valproate, lamotrigine, fenitoin, vigabatrin.
Generelized absence (petit mal): valproate,
clonazepam, etosuksimid, lamotrigine,
Kejang partial: karbamazepin, lamotrigine,
valproate, fenitoin, vigabatrin.
Kejang myoclonic: clonazepam, valproate,
lamotrigine.
Grand mal dan petit mal: valproate,
karbamazepin + etosuksimid, clonazepam.

Terapi Status Epilepticus


Status epilepticus adalah kejang
berlanjut/berulang disertai dgn penurunan
kesadaran. Perlu pengobatan segera utk cegah
kerusakan otak. Dirawat di unit intensif bila ada
gangguan nafas.
Benzodiazepine adalah obat pilihan pertama,
diazepam atau clonazepam. Fenitoin
diindikasikan bila ada aritmia; fanobarbital
digunakan, perhatikan depresi nafas atau
hipotensi; thiopental IV, dgn atau tanpa pelemas
otot rangka, digunakan oleh anestesis, bila dgn
obat sebelumnya tak respon

Obat Antiparkinson
Penyakit Parkinsonis ditandai oleh hipokinesia,
rigidity, dan tremor; disebabkan penurunan
fungsi dopamine di corpus striatum. Dinamakan
Parkinsonism bila gejala yg sama timbul krn
akibat penyakit lain.
Penyakit idiopatik ditandai oleh degenerasi
substantia nigra yg sebabnya tak jelas, mungkin
krn degenerasi atau zat toksik.
Parkinsonism sekunder setelah ensefalitis,
peny.Wilson, keracunan, minum obat.

Mekanisme Kerja
Peran dopamin di corpus striatum berkurang krn
sintesisnya terganggu atau antagonis efeknya
pada reseptor pasca sinap. Corpus striatum
berperan dalam modulasi gerakan otot rangka
melalui sistem motorik pyramidal. Fungsi
striatum dihambat oleh dopamin dan dirangsang
oleh asetilkolin.
Obat antiparkinson bekerja tingkatkan aktifitas
dopamin pd peny.Parkinson, sedangkan
parkinsonism lebih respon thd antikolinergik.

Obat Antiparkinson
Dopaminergik
L-dopa+carbidopa/
Benserazide
Agonis reseptor;
Apomorfin
Bromocriptin
Lisuride
Pergolide
Pramipexole
Ropinirole
Amantadine
Selegiline

Antikolinergik
Benzatropin
Biperiden
Methixene
Orphenadine
Procyclidine
Trihexyphenidyl

Obat Penguat Fungsi


Dopaminergik
L-Dopa mudah masuk ke otak, dimetabolisme menjadi
dopamine. Efek samping timbul krn terbentuknya
dopamine di perifer; dapat hilang bila diberi bersama
dopa decarboxylase inhibitor, cegah terbentuknya
dopamin perifer, ttp tak masuk ke SSP.
Bromocriptine, lisuride, pergolide, apomorfin adalah
agonis di reseptor dopamine.
Amantadine rangsang penglepasan dan hambat uptake
dopamine sentral.
Selegiline, penghambat MAO tipe B, hambat
metabolisme dopamine di corpus striatum, tak tmbulkan
reaksi hipertensi.
Antikolinergik: hambat kerja ACH di reseptor SSP..

Tatalaksana Pengobatan
Dimulai dgn L-dopa plus penghambat dopa
dekarboksilase perifer. Mulai dosis kecil, naikkan
perlahan tiap 2-3 hari, dosis optimal beda tiap penderita.
Bbrp masalah timbul sewaktu pengobatan jangka
panjang:
Toleransi farmakodinamik. Bila dosis dinaikkan efek
samping bertambah.
Wearing-off phenomenon. Hipokinesia timbul sewaktu
kadar obat turun sebelum dosis berikut, krb kadar
dopamin turun. Atasi dgn penambahan frekuensi dosis
dan batasi asupan protein yg dapat hambat bsorpsi Ldopa.
On-off phenomenon. Rigiditas dan hipokinesia tiba2
muncul tak beraturan dan berlangsung beberapa jam.

Bila timbul toleransi atau on-off phenomenon, dosis Ldopa tak boleh dinaikkan. Tambahkan bromocriptine
1.25 mg malam hari, perlahan dinaikkan tiap minggu,
sampai mencapai 10-40 mg dalam dosis terbagi setiap
har, setelah makan. Dapat timbul ES hipotensi, nausea,
reaksi psikotik; hati2 pada usia lanjut.
Agonis reseptor dopamine lain (lisuride, pergolide)
adalah pengganti bromocriptin dgn efektifitas yg sama.
Ropinirole, agonis D2 dapat digunakan tersendiri atau
dgn L-dopa. ES sama spt bromocriptine.
Pramipexole, agonis D2 dan D3, digunakan bersama Ldopa.

Apomorfin, sbg agonis dopamin, dapat pada bbrp penderita dengan


fenomena wearing-of dan on-off. Berikan Iv atau sublingual, tekan
gejala nausea dan muntah dgn domperidone.
Selegiline, perpanjang kerja dopamin di tr. nigrostriatal; berguna utk
kurangi dosis efektif, ES perifer dan diskinesia, dan fenomena
wearing-off dan on-off L-dopa, ES: hipotensi, nausea, muntah,
agitasi, confusion; kekerapan nya turun bila dikombinasikan dgn Ldopa.
Amantadine dapat dicoba pd kasus ringan, tak efektif pd bila
penyakit memberat, timbulkan bbg ES berat.
Entecapone, penghambat COMT, hambat sebagian metabolisme
dopamine, dikombinasikan dgn L-dopa yg wearing-off dgn L-dopa.
Antikolinergik digunakan utk obat parkinsonism iatrogenik atau
pasca ensefalitis. Terutama perbaiki tremor dn rigiditas, efek
hipokinesia tak nyata. Obat terpilih utk acute occulogyric crisis.

Antidepresan

Diagnosis depresi ditegakkan dgn wawancara: perasaan tertekan


atau tak bergairah lebih 15 hari, tidur dan selera terganggu, tak
perhatian, persaan bersalah dan tak berharga, ingin bunuh diri.
Penyakit degeneratif berat sering disertai depresi. Antidepresan
diindikasikan untuk depresi berat.
Patofisiologi depresi didasarkan 2 hipotesis: 1) monoamine, yg
dihubungkan dengan defisiensi/ hipofungsi serotonin (5HT),
norepinefrin (NE), dan dopamine (DA) di korteks sistem limbik;
2)neurotrophic, dihubungkan dgn gangguan HPA axis (peningkatan
kortisol, ACTH, CRH, thyroxin; defisiensi hormon seks).
Digolongkan atas: 1)serotonin reuptake inhibitor (SSRIs); 2)
serotoninnorepinephrine reuptake inhibitor (SNRIs); 3) 5-HT2
antagonis; 4)Antidepresan tetrasiklik dan unisiklik; 5) monoamine
oxidase inhibitors (MAOIs)

SSRIs (citalopram, fluoxetine,


fluvoxamine, paroxetine, sertraline)
Kinetik: Fluoxetine diaktifkan jadi nor- fluoxetine
dgn t1/2 tiga kali lebih panjang;
fluoxetine/paroxetine inhibtor kuat CYP2D6;
fluvoxamine inhibitor kuat CYP3A4. Citalopram,
escitalopram, sertraline adalah inhibitor CYP
lemah.
Dinamik: hambat protein transporter yg
selenggarakan uptake 5HT, tingkatkan
ketersediaan 5HT di celah sinap, tingkatkan
produksi faktor neurotropik, reseptor
glukokortikoid, dan adrenoseptor

SNRI (Venfalaxine, duloxetine,


TCAs)
Kinetik: CYP2D6 ubah venfalaxine jadi metabolit aktif
desvenfalaxine, ikatan protein plasma paling rendah;
duloxetine tinggi ikatan protein, metabolisme ektensif
CYP2D6/CYP1A2, gagal hati tingkatkan kadar; TCAs
dimetabolisme ektensif di CYP2D6, t1/2 panjang,
polimorfisme genetik, interaksi dgn fluoxetine,
desipramine dan nortriptyline tak punya metabolit aktif.
Dinamik: ikat/hambat NET dan SERT, clomipramine dan
imipramine lebih hambat SERT, desipramine dan
nortryptiline lebih hambat NET, imipramine/venfalaxine/
duloxetine seimbang hambat NET/SERT; TCAs punya
khasiat antihistamin/-adrenergic blocking/antikolinergik

5-HT2 Antagonist (Tradozone,


Nefadozone)
Kinetik: metabolisme ekstensif di hati,
bioavailabilitas rendah, ikatan protein tinggi, t1/2
pendek, metabolit aktif, nefadozone metabolik
inhibitor CYP3A4.
Dinamik: hambat 5HT2, efek
antianxiety/antipsikotik/antidepresi; tradozone
hambat lemah NET dan SERT, metabolitnya
antagonis 5-HT2 kuat yg antidepresan, hambat
pula reseptor adrenergik dan H1.

Unisiklik dan Tetrasiklik


Kinetik: bupropion alami metabolisme ektensif dan lintas
pertama, metabolit aktif hydropropion berkasiat
antidepresan; amoxipine alami metabolisme ekstensif, 7hydroksyamoxapine D2 blocker kuat yg berkasiat
antipsikotik; mirtazapine dimetabolisme di bbrp CYP, t1/2
panjang, efek sedasi, berikan malam hari.
Dinamik: bupropion lepaskan NE di ujung simpatis;
mirtazapine hambat reseptoe presinaptik 2, tingkatkan
pengeluaran NE dan 5-HT3, sbg antagonis H1 punya
efek sedatif; amoxapine dan maprotiline mirip
desipramine, inhibitor NET dan SERT, berkasiat
antikolinergik, amoxapine hambat reseptor D2
pascasinap yg berkasiat antipsikotik.

Monoamine Oxidase Inhibitor


(MAOI)
Kinetik: tranylcypromine, phenelzine, selegiline beda
metabolismenya, first-pass effect tinggi, hambat MAO
usus; selegiline sediaan dermal/sublingual guna hindari
interaksi makanan/tyramine pressure effect, tingkatkan
bioavailabilitas.
Dinamik: hambat MAO, tingkatkan monoamine; MAO-A
ada di neuron adrenergik/dopaminergik di otak, usus,
plasenta, dan hati; MAO-B ada di neuron serotoninergik
dan histaminergik di otak, hati, dan trombosit;
tranylcypromine dan phenelzine hambat irreversible
kedua MAO; meclobemide hambat reversible MOA-A;
selegiline hambat irreversible MAO-B, dosis rendah
berkasiat antiparkinsonim, dosis tinggi MAOI.

Tatalaksana Depresi
Yg diobati adalah major depression disorder
(MDD), dengan tujuan atasi gejala; efek obat
baru optimal 2-3 bln, bila tak respon ganti atau
tambahkan obat lain; pertahankan pengobatan
6-2 bln agar tak kambuh; ulangi pengobatan bila
kambuh, pertahankan pengobatan bila sering
kambuh.
Utk depresi ringan/sedang gabungan psikoterapi
dan antidepresan lebih efektif dalam waktu
pendek.

Indikasi lain Antidepresan


Utk cemas kronik ( post-traumatic stress disorder,
obsessive-compulsive disorder (OCD), social anxiety
disorder (SAD), generalized anxiety disorder, panic
disorder. Benzodiazepine lebih cepat hilangkan gejala
akut; berikan antidepresan utk pengobatan jangka
panjang, karena utk lebih efektif dan tak timbulkan
toleransi/ ketergantungan. Clomipramine dan bbrp SSRIs
diindikasikan utk OCD, kombinasi dgn psikoterapi; bbrp
SSRI dan venfalaxine diindikasikan utk SAD.
Untuk nyeri kronik/neuropatik berikan TCAs atau SNRIs.
Utk premenstrual dysphoric disorder berikan SSRIs.
Utk henti merokok berikan bupropion.
Utk bulimea berikan fluoxetine.

Antipsikotik
Psikosis adalah sekumpulan gejala mental: delusi
(keyakinan salah), halusinasi audio-visual, pikiran kacau.
Skizofrenia ditandai oleh pikiran kacau.
Obat antipsikotik dikembangkan atas dasar peran bbrp
neurotransmitter (serotonin, dopamine, glutamate) pada
patofisiologi skizofrenia. Clozapine dan quietapine
adalah inverse agonist reseptor 5-HT2A, timbulkan
blokade, berkasiat antipsikotik. Klorpromazine hambat
reseptor D2 pascasinaptik berkasiat antipsikotik; agonis
D2 (levodopa, bromocriptine, apomorfin) perberat/dapat
timbulkan gejala psikosis. Sedang dkembangkan
antipsikotik yg bekerja sbg agonis pd reseptor glutamate.

KLasifikasi dan Kinetik Antipsikotik


Fenotiazin: tdd senyawaan alifatik (klorpromazin),
piperidin (thioridazin), piperazin (trifluoperazine,
perphenazine, fluphenazine), butirofenon
(haloperidol).Merupakan antagonis reseptor D2
pascasinaptik
Antipsikotik atipikal: loxapine, clozapine, olanzapine,
quetiapine, risperidone). Terutama sbg antagonis
reseptor 5-HT2A, efek lemah sbg antagonis D2.
Sulpiride, atipikal lain, hambat D2 dan D3, hambat lemah
5-HT7, dan tingkatkan prolactin.
Kinetik: kelarutan dalam lemak dan first-pass effect
tinggi, bioavailabilitas oral rendah kecuali haloperidol,
ikatan protein tinggi, lama kerja lampaui t1/2,
metabolisme di CYPs

Indikasi Antipsikotik
Indikasi utama adalah skizofrenia. Indikasi lain: psychotic
bipolar disorder, psychotic depression, dan resistant
depression.
Bentuk katatonik skizofrenia diatasi dgn benzodiazepine,
setelah itu komponen psikotik diobati dengan antipsikotik.
Antipsikotik juga diindikasikan utk schizo-affective
disorder, yg merupakan continuum dari bipolar psychotic
disorder, fase mania obati dgn lithium.
Chlorpromazine diindikasikan sbg antiemetik,
promethazine sbg antihistamin dan sedatif, droperidol
dan fentanil utk neuroleptanesthesia.
Pilihan obat ditentukan oleh efek samping dan efektifitas
empirik obat pada masing2 penderita, serta harga.

Efek Samping
Perilaku: sediaan atipikal timbulkan akinesia
(pseudodepression), atasi dgn dosis kecil siang hari atau
obati dgn antiparkinson.
Neurologik: sediaan atipikal timbulkan sindrom
parkinson, akathisia (restlessness), reaksi distonik akut
(spastic torticollis); parkinson obati dgn antikolinergik
sentralakathisia dan distonik obati dgn difenhidramin,
antihistamine sedatif dgn kasiat antikolinergik. Tardive
dyskinesia (choreoathetoid movement) ES lambat
sediaan tipikal, ganti dgn sediaan atipikal.
Metabolik-endokrin: clozapine/olanzapine tambah BB,
hiperglikemia, hiperprolaktinemia.
Toksik/allergi: clozapine timbulkan agranulositosis pd 12% pengguna. CPZ timbulkan hipotensi ortostatik.

Antimania
Bipolar disorder, dahulu manic-depressive
disorder, penyakit psikotik yg berbeda dari
skizofrenia. Litium adalah obat pertama utk
komponen mania dari bipolar disorder.
Antikonvulsan (karbamazepin, valproic acid,
lamotrgine, gabapentin, oxcabazepine,
topiramate), berkasiat mood-stabilizing, luas
digunakan pengobatan mania akut dan
mencegah kekambuhan.
Chlorpromazine, olanzapine, quetiapine,
risperidone diindikasikan utk obati fase manik
bipolar disorder.

Lithium
Kinetik: kation monovalent molekul kecil,
peroral, hidofilik, tak terikat protein,
eliminasi ginjal, t1/2 20 jam, kadat target
plasma 0.6-1.4 mEq/L.
Dinamik: belum jelas diketahui
mekanisme mood-stabilizing oleh lithium
dan antikonvulsan. Diketahui Li hambat
transportasi lintas membran ion Na dan
aktifitas berbagai enzim di SSP.

Tatalaksana Pengobatan Bipolar


Affective Disorder

Lithium karbonat luas digunakan obati fase mania. Belakangan,


lithium banyak digantikan obat baru(valproate, aripiprazole,
olanzapine, quetiapine, risperidone, ziprasidone), karena efek
lithium lambat dan sering perlu obat tambahan, benzodiazepine
atau antipsikotik, pada mania berat. Setelah mania terkontrol,
hentikan antipsikotik, teruskan benzodiazepine dan lithium.

Fase depresif sering diobati bersama antidepresan. TCA dan


bupropion dosis tinggi dikaitkan dengan mania, SSRI kurang
timbulkan mania tapi juga kurang efektif. Lamotrigine, quetiapine,
olanzapine+fluoxetine dapat digunakan utk bipolar depression.

Bila obat baru tak efektif, lithium tetap sbg pilihan dan profilaksis.