Anda di halaman 1dari 17

Loncat Hidrolik

Oleh
ABD. GAFUR P2301214008

UNIVERSITAS HASANUDDIN
PROGRAM PASCASARJANA
PRODI TEKNIK SIPIL KEAIRAN

Pengertian Loncat Air


Loncat air merupakan salah satu contoh
aliran tidak seragam (tidak beraturan).
Loncat air terjadi apabila suatu aliran
superkritis berubah menjadi aliran subkritis;
dan pada perubahan itu terjadi pembuangan
energi
Konsep hitungan loncat air sering dipakai
pada hitungan bangunan peredam energi di
sebelah hilir bangunan pelimpah, pintu air,
dll.

Tipe Loncat
Air
Menurut USBR (Biro Reklamasi Amerika Serikat), berdasarkan
nilai angka Froude (Fr), loncat air pada saluran datar /
horisontal dapat dibedakan menjadi 5 tipe; Fr yang dimaksud
di sini adalah Fr1 ( sebelum loncat air)
Pada Angka Froude, Fr1 =
1 - 1.7, loncat air yang
terjadi
hanya
berupa
deretan
gelombang
berombak di permukaan
air (loncatan berombak
atau
undular
jump);
pembuangan energi yang
terjadi hanya berkisar 5 %.

Untuk angka Froude yang


lebih besar , yaitu Fr1 = 1.7 2.5, gulungan ombak mulai
pecah, dan akan timbul
loncatan air yang lemah
(weak jump); pembuangan
energi yang terjadi berkisar
5 % - 15 %.
Pada angka Froude,
Fr1 = 2.5 - 4.5 akan terjadi
loncatan
berosilasi
(oscillating
jump),
yang
berupa loncat air dengan
gelombang dibelakangnya;
pembuangan energi yang
terjadi berkisar 15 % - 45 %.

Loncatan yang terbaik dalam


peredaman
energi
adalah
loncat air dengan Angka
Froude, Fr1 = 4.5 - 9.0, yang
disebut sebagai loncatan tetap
(steady jump); pada loncatan
ini tidak terjadi gelombang air di
hilir; pembuangan energi yang
terjadi berkisar 45 % - 70 %.

Untuk nilai Angka Froude,


Fr1 > 9, maka akan terjadi
loncatan kuat (strong jump)
yang
menimbulkan
gelombang air di hilirnya;
pembuangan energi yang
terjadi berkisar 70 % - 85 %.

Persamaan Loncat Air


1

2
E E1 E2

Es1

U2
1
2g

Pusaran
atas

Es2
Pusaran bawah

h1
LJ

Loncat air pada saluran datar

U 22
2g

h2

Untuk mendapatkan rumus loncat air yang sederhana


ditinjau saluran datar dengan tampang empat
persegi.

Dalam penjabaran rumus loncat air dipakai konsep


konservasi momentum dengan anggapan sudut
kemiringan dasar saluran = 0 dan gaya gesek
sepanjang pengaliran (daerah panjang loncat air)
diabaikan.

Gaya spesifik antara tampang 1 dengan tampang 2


adalah sama, yaituQF121 = F2.
Q22
z1 A1
z2 A2
g A1
g A2

Pada saluran dengan dinding vertikal, berlaku


q Q/ B ; A Bh
persamaan :

1 Q1
2 Q2

g . B1.h1 g . B2 .h2
2

2 Q2
g B2

h2 B2
2

h1 B1

h2 h1

h2 h1 h2 h1
h2 h1

2 q2
h1 h2 h1 h2
g
h1 dan h2 disebut sebagai kedalaman konjugasi (conjugate
depth), dengan h1 = initial depth, dan h2 = sequent depth.
Penjabaran lebih lanjut dari persamaan di atas :

2
2

q
(h1 ) h2 (h12 ) h2
0
g
2

h2

1
h2 h1 (
2

h12

h14 8 h1 q 2 / g
2 h1

8 q2
1 3
1)
h1 g

1
h2 h1 (
2

8 q2
1
1)
3
g h1

Dari konsep energi spesifik diketahui bahwa pada saat hkr, berlaku
persamaan :

U2
D

2g
2
dengan D = kedalam hidraulik ( = A / B )
Untuk saluran tampang segi empat, D = hkr ;

q2

hkr
2
g hkr

q2

hkr3
g

Dan didapat persamaan :

U=q/h

; =

q2

hkr3
g

1
2 hkr 3
h2 h1 ( 1 (
) 1)
2
h1

Mengingat bahwa pada fenomena loncat air, pengaruh gaya


gravitasi sangat penting, persamaan tersebut di atas seringkali
dinyatakan dalam fungsi Angka Froude (Fr).

U1
Fr1
g h1

2
q
Fr12
g h13

Untuk = 1, didapat persamaan :

1
2
h2 h1 ( 1 8 Fr1 1)
2

Kehilangan Energi Loncat Air


Kehilangan energi akibat loncat air adalah sama dengan
perbedaan energi sebelum dan sesudah terjadinya loncat air.

E S E S 1 ES 2

U1
ES h1
2g

U2
h2
2g

q2 1
1

ES h1 h2
2
2
g 2 h1
2 h2

q 2 h2 h1

ES h1 h2
2
2
g 2 h1 h2
2

( h1 h2 ) ( h2 h1 ) q 2
ES h1 h2
2
2
g
2 h1 h2
Untuk

2 q2
2 q 2
h1 h2 h1 h2
h1 h2 h1 h2
g
g

persamaan di atas dapat dituliskan :

ES h1 h2

h2 h2 h1 h1 h2 h1 h2
2
2
2
2 h1 h2

4 h12 h2 4 h1 h22 h13 h1 h22 h12 h2 h23


ES
4 h1 h2
ES h1 h2

2
2

h
h

h
1
2
2
1
4 h1 h2

h23 3 h1 h22 3 h12 h2 h23


ES
4 h1 h2

ES

( h2 h1 )

4 h1 h2

Panjang Loncat Air


Panjang loncat air didefinisikan sebagai jarak dari suatu titik
tepat sebelum (hulu) loncatan air (pusaran) sampai dengan
suatu titik tepat di belakang (hilir) pusaran.
Panjang loncat air secara teoritis sukar ditentukan, dan
biasanya diperoleh secara empirik.
No

Peneliti

Rumus

Keterangan

Woyeiski
(1931)

Lj
h
C 0.05 2
h2 h1
h1

C=8

Smetana
(1933)

L j C ( h2 h1 )

C=6

Silvester
(1964)

L j 9.75( Fr1 1)1.01

USBR
Rajaratnam

L j A ( h2 h1 )

Berdasarkan
Angka Froude

Grafik :
Panjang loncat air,
(Lj/h2)
vs.
Angka Froude, Fr1

SEKIAN DAN TERIMA KASIH