Anda di halaman 1dari 38

EFEK S A M P IN G O B AT A N TIP S IK O TIK

Oleh :
Fathinah Anis Balweel / 07120100089
Natasha Dianasari Devana / 07120100090
Moderator :
dr. Maria P, SpKJ.
November 2014

ABSTRAK
Antipsikotik antagonis dopamin dan

menyekat reseptor dopamine dalam


berbagai jaras di otak.
Efek samping reaksi yang tidak
diinginkan terhadap penggunaan obat.
Penting
untuk
mengenali
obat
antipsikotik ini terlebih dahulu, karena
selain manfaatnya, antipsikotik juga
mempunyai
kerugian
yang
menyertainya.

TU JU AN
Mengetahui

efek samping yang


ditimbulkan oleh antipsikotik baik
antipsikosis atipikal maupun atipikal.
Menambah pengetahuan terhadap
penggunaannya dan berupaya untuk
mencegah sekaligus menangani efek
samping tersebut

TIN JAU AN PU STAKA

D EFIN ISI
menurut WHO1 obat yang
bekerja pada atau mempengaruhi fungsi
psikis, kelakuan atau pengalaman
Antipsikotik juga sering didefinisikan sebagai
sekelompok (bermacam-macam) obat yang
menghambat reseptor dopamine tipe 2 (D2
reseptor). 1
Indikasi utama terapi skizofrenia dan
gangguan psikotik lainnya. 1
Antipsikotik memiliki beberapa sinonim antara
lain neuroleptik dan transquilizer mayor
Psikotropik

KLASIFIKASI
Obat antipsikotik yang ada di

pasaran saat ini, dapat di


kelompokkan dalam dua kelompok
besar yaitu :
Antipsikotik Generasi Pertama (APG I) /

antipsikotik tipikal
Antipsikotik Generasi Kedua (APG II) /
antipsikotik atipikal

1. Obat antipsikotik tipikal :


Phenothiazine
Rantai Alphatic

: Chlorpromazine,
Levomepromazine
Rantai Piperazine :
Perphenazine,
Trifluoperazine,
Fluphenazine
Rantai Piperidine : Thioridazine

Butyrophenone
: Haloperidol
Diphenyl-butyl-piperidine :Pimozide

2. Obat antipsikotik atipikal :


Phenothiazine
: Sulpiride
Butyrophenone
: Clozapine,
Olanzapine,
Quetiapine
Diphenyl-butyl-piperidine :
Risperidone

FARM AKO KIN ETIK


Obat anti psikotik dapat diserap pada pemberian
peroral, dan dapat memasuki sistem saraf pusat
dan jaringan tubuh yang lain karena obat anti
psikotik adalah lipid - soluble.
Obat- obatan ini juga mengalami
metabolism yang signifikan.

first-pass

Obat-obatan ini memerlukan metabolisme oleh hati


sebelum eliminasi dan mempunyai waktu paruh
yang lama dalam plasma sehingga memungkinkan
once-daily dosing.

FARM AKO D IN AM IK

SED IAAN AN TIPSIKO SIS D AN D O SIS AN JURAN

EFEK SAM PIN G AN TIPSIKO SIS


Dikelompokkan menjadi:
Efek samping neurologis
Efek samping nonneurologis.

Obat antipsikosis dengan potensi rendah


menyebabkan efek samping yang paling
non-neurologis sedangkan obat potensi
tinggi menyebabkan efek samping yang
paling neurologis.

EFEK SAM PIN G N EU RO LO G IS

Sering terjadi pada APG I atau antipsikosis tipikal


Parkinsonisme
25 % pasien dengan obat antipsikotik, pada 5-90 hari awal terapi
Gejala : kekakuan otot, rigiditas gigi gergaji, gaya berjalan menyeret,
postur membungkuk, air liur menetes, tremor fokal perioral (sindrom
kelinci)
Tanda fisik reflek ketukan glabela positif (ketuk dahi antara alis mata)
Sering terjadi pada wanita dibanding pria, 2:1
Sering terjadi pada penggunaan : semua obat antipsikotik kecuali
chlorpromazine dan thioridazine
Penatalaksanaan
diphenhydramine

beri

obat

antikolinergik,

amantadine

atau

Terapi antipsikotik dapat diteruskan, bila gejala parkinsonisme berat


stop obat tetap beri antikolinergik hingga gejala pulih seutuhnya

Distonia akut

Dalam beberapa jam/hari pertama terapi.


Distonik disebabkan kontraksi dan spasme otot
perlahan dan terus menerus yang menyebabkan
gerakan involunteer.
Dapat mengenai : leher, rahang, lidah dan
keseluruhan tubuh.
Sering pada laki-laki muda dan penggunaan
antipsikotik potensi tinggi secara IM.
Penatalaksanaan
dipenhydramine IV

antikolinergik

IM

Akathisia akut

Perasaan subyektif adanya rasa tidak nyaman


pada otot yang menyebabkan pasien menjadi
teragitasi, bergerak dengan gelisah, bergantiganti duduk dan berdiri secara cepat. Gejala
motorik tidak dapat dikendalikan kemauan
pasien.
Pengobatan : turunkan dosis antipsikotik, beri
propanolol, benzodiazepine atau clonidine bila
diperlukan.

Tardive Dyskinesia

Efek lambat dari antipsikotik; muncul setelah 6


bulan terapi
Gerakan koreoatetoid yang abnormal , involunteer,
irregular pada otot-otot kepala, anggota gerak dan
batang tubuh.
Dapat berupa lidah tiba-tiba memuntir,
menjulurkan lidah, gerakan mengunyah,
mengerutkan bibir, wajah menyeringai, gerakan
mengenggam tangan.
Wanita lebih sering terkena, pasien dengan
pengobatan lebih dari 1 tahun rentan.

Pengobatan :
Pencegahan : gunakan medikasi

antipsikotik sesuai indikasi dalam dosis


efektif terendah
Diagnosis tardive dyskinesia dengan
cepat
Penatalaksanaan : turunkan dosis
antipsikotik, ganti antipsikotik generasi 2
atau atypical

Sindrom neuroleptik maligna

Komplikasi membahayakan. Terjadi setiap waktu.


Gejala motorik dan perilaku rigiditas otot, distonia,
akinesia, mutisme, obtundasi, agitasi
Gejala otonomik hiperpireksia, berkeringat,
peningkatan kecepatan denyut nadi dan tekanan darah
Temuan lab peningkatan hitung sel darah putih,
kreatinin fosfokinase, enzim hati, mioglobin plasma,
dan mioglobinuria
Gejala timbul 24-72 jam, berlangsung hingga 10-14
hari bila tidak diobati
Sering pada laki-laki dan usia muda

Pengobatan : penghentian segera

obat antipsikotik, monitor tanda vital,


elektrolit, keseimbangan cairan,
output ginjal, terapi simptomatik
terhadap demam
Berikan antiparkinsonisme atau
dantrolene untuk melemaskan otot.

Efek epileptogenik

Antipsikotik menyebabkan perlambatan dan


peningkatan sinkronisasi EEG dan menurunkan
ambang kejang.
Efek sedasi

Akibat penghambatan reseptor dopamin tipe 1.


Chlorpromazine paling kuat sedasi.
Peringatkan pasien tentang bahaya
mengemudi setelah minum antipsikotik.

Efek antikolinergik sentral

Gejala : agitasi berat, disorientasi


waktu dan tempat, halusinasi, kejang,
demam tinggi, dilatasi pupil, stupor,
koma
Pengobatan : menghentikan obat,
pengamatan medis yang ketat,
physostigmine 2mg melalui infus IV
lambat

Penatalaksanaan Efek Sam ping N eurogenik


Antagonis reseptor adrenergik-

Efektif pada fobia sosial, tremor postural akibat lithium


dan akathisia akut .
Akathisia akut dikenali sebagai salah satu gangguan
pergerakan akibat medikasi.
Propanolol meredakan akathisia akibat neuroleptik
Dosis awal lazim 10-20 mg sebanyak 2 atau 3 kali sehari
dan dosis maksimal 80-140 mg sebanyak 3 kali sehari.
Tidak efektif dalam terapi gangguan pergerakan akibat
neuroleptik
tertentu
seperti
distonia
akut
dan
parkinsonisme.

Antikolinergik dan Amantadine

terapi
gangguan
pergerakan
akibat
medikasi
khususnya
parkinsonisme, distonia akut dan tremor postural.
obat antikolinergik yang digunakan adalah yang bersifat anti
muskarinik / anti parkinsonisme.
Indikasi utama antikolinergik atau amantadine adalah
parkinsonisme yang dalam sindrom klinis penuh ditandai dengan
tremor, rigiditas, cogwhell, bradikinesia, sialorea, postur membungkuk
dan festinasi.
Parkinsonisme sering ditemukan pada orang usia lanjut dengan obat
anti psikotik dosis tinggi seperti haloperidol dan umumnya muncul
setelah 2 minggu penggunaan.
Amantadine efektif u/ terapi rigiditas dan tremor
Antikolinergik efektif u/ distonia akut.
Dosis harian rata-rata untuk amantadine adalah 100mg 2-3 kali sehari
antikolinergik dengan kerja paling baik digunakan trihexyphenidyl
dengan dosis harian rata-rata 2-5 mg sebanyak 3 kali sehari.
Pengobatan harus diberikan selama 4-8 minggu untuk melihat
keberhasilan obat.

Antihistamin

Hambat reseptor histamin tipe 1 (H1) terapi


parkinsonisme dan distonia akut
Diphenhydramine intramuskular (IM) harus
disuntikkan dalam-dalam karena pemberian
superfisial dapat menyebabkan iritasi lokal.
Pemberian intravena (IV) jangka pendek 25-50 mg
merupakan terapi yang efektif untuk distonia
akut.
Terapi dengan 25-50 mg sebanyak 3-4 kali sehari
dapat digunakan untuk mengobati parkinsonisme
akibat neuroleptik, akinesia dan sindrom kelinci.

Dantrolene

pelemas otot skeletal bekerja langsung.


Indikasi terapi potensial efektif terhadap
sindrom neuroleptik maligna.
Penggunaan intravena (IV) dengan dosis 1mg
5mg/kgBB atau 1 mg/kgBB peroral empat kali
sehari.
Dianjurkan dosis rendah digunakan terlebih
dahulu karena dapat menyebabkan kelemahan
otot, mengantuk, pusing, melayang .

L-Dopa

terapi lini kedua atau ketiga pada


parkinsonisme.
L-Dopa efektif untuk terapi sindrom
kaki gelisah.
Dosis awal : 100 mg sebanyak 3 kali
sehari harus ditingkatkan hingga
pasien
mengalami
perbaikan
fungsional

EFEK SAM PIN G N O N N EU RO LO G IS

Efek samping pada jantung

Antipsikotik
potensial
rendah
lebih
kardiotoksik dibandingkan antipsikotik
potensi
tinggi.
Chlorpromazine
menyebabkan perpanjangan interval QT
dan PR, penumpulan gelombang T dan
depresi
segmen
T

kematian
mendadak.
Remoxipiride dinyatakan sebagai obat
yang aman dari gangguan jantung.

Hipotensi ortostatik (postural)

diperantarai penghambatan adrenergik


dan
paling
sering
terjadi
dengan
antipsikotik potensi rendah khusunya
chlorpromazine,
thioridazine,
chlorprothixene dan clozapine.
Kerap terjadi pada hari-hari pertama
terapi. pasien pingsan, terjatuh dan
mencederai dirinya sendiri.

Efek samping hematologis

Agranulositosis chlorpromazine dan


thioridazine.
Terjadi pada 3 bulan pertama terapi,
Indikasikan hitung darah lengkap bila
pasien mengeluhkan nyeri tenggorok atau
demam.
Purpura
trombositopenik,
anemia
hemolitik atau pansitopenia terkadang
dapat terjadi.

Efek samping antikolinergik perifer


Mulut dan hidung kering, pandangan

kabur,
konstipasi, retensi urin, dan midriasis, mual, muntah

Chlorpromazine,
thioridazine,
mesoridazine
dan
trifluoperazine adalah antikolinergik yang poten. Efek
antikolinergik bertambah bila digunakan dengan obat
trisiklik.
Penatalaksanaan : membilas mulut
konsumsi permen. Konstipasi laksatif
Ileus paralitik gunakan pilocarpine.

dengan

air,

Efek samping endokrin

penghambatan
reseptor
dopamine
pada saluran tuberoinfundibular
peningkatan
sekresi
prolaktin
perbesaran payudara, galaktorea,
impotensi pada laki-laki, dan amenore
serta penghambatan orgasme pada
wanita.

Efek samping seksual : impotensi,

anorgasmia, penurunan libido, ejakulasi


lambat terapi dengan bromocriptine.
Efek samping pada berat badan :

penambahan berat badan dapat


bermakna dalam beberapa kasus.

Efek samping dermatologis

dermatitis alergik, erupsi kulit dan fotosensitivitas dapat


terjadi khususnya pada penggunaan chlorpromazine.
Penatalaksanaan Tidak berada dibawah sinar
matahari >30-60 menit , gunakan tabir surya
Chlorpromazine sebabkan diskolorasi biru kelabu
pada kulit yang terpapar sinar matahari.
Efek samping pada mata :

Thioridazine pigmentasi irreversible pada retina bila


diberikan >800mg sehari.
Gejala awal kebingungan nokturnal dengan kesulitan
penglihatan malam.
Chlorpromazine pigmentasi kecoklatan yang tidak
terlalu terlihat dan tidak menganggu penglihatan.

Efek samping terhadap ikterus

terjadi pada bulan pertama gejala abdomen


nyeri, mual dan muntah, gejala mirip flu dan
peningkatan bilirubin serum, alkaline fosfatase
dan transaminase hati terjadi ikterus hentikan
medikasi.
Efek samping overdosis
gejala neurologis maupun

koma, delirium,
depresi pernafasan serta kejang.
Haloperidol dan remoxipiride aman dalam
overdosis.
Penatalaksanaan termasuk pemakaian arang
aktif dan bilas lambung.

TERIM A KASIH