Anda di halaman 1dari 20

OLEH :

KELOMPOK 6
M.Huseini AS
Rahmayanty
Selestina
Yuniar F.M

Diabetes Insipidus
adalah suatu kelainan
dimana terdapat
kekurangan hormon
antidiuretik yang
menyebabkan rasa
haus yang berlebihan
(polidipsi) dan
pengeluaran sejumlah
besar air kemih yang
sangat encer (poliuri).

Tumor otak.
Hipotalamus mengalami kelainan fungsi dan
menghasilkan terlalu sedikit hormone
antidiuretik.
Cedera otak ( terutama patah tulang di dasar
tengkorak ).
Kerusakan hipotalamus atau kelenjar hipofisa
akibat pembedahan.
Kegagalan tubulus renalis untuk berespon
terhadap ADH.
Penyakit ginjal kronik
Kelainan pada kelenjar hipofisis pada saat lahir.
Hipokalemia dan hiperkalsemia.
Obat obatan, seperti : litium, demoksiklin,
asetoheksemid, tolazamid.
gangguan diet.

Peningkatan osmolalitas cairan ekstraselular/


penurunan volume intravaskuler

merangsang sekresi vasopresin

meningkatkan permebialitas epitel duktus

pengaktifan adenolisin

Peningkatan osmolalitas plasma peningkatanAMP siklik

merangsang pusat haus

Secara patogenesis diabetes insipidus di bagi atas dua , yaitu,.


diabetes insipidus sentralis dan diabetes insipidus nefrogenik.
Diabetes Insipidus Sentral.
Diabetes Insipidus Sentral ( DIS ) disebabkan oleh
kegagalan pelepasan ADH yang secara fisiologis dapat
merupakan kegagalan sintesis / penyimpanan. Secara
Anatomis kelainan ini akibat kerusakan nukleus
supraoptik,
paraventrikular, dan filiformis hipotalamus.
Diabetes Insipidus Nefrogenik.
Istilah Diabetes Insipidus Nefrogenik ( DIN ) dipakai pada
diabetes insipidus yang tidak responsif terhadap ADH
eksogen. Secara fisiologis DIN dapat disebabkan oleh :
Kegagalan pembentukan dan pemeliharaan gradient osmotic
dalam medulla renalis.
Kegagalan utilisasi gradient pada keadaan dimana ADH berada
jumlah yang cukup dan berfungsi normal.

Keluhan dan gejala utama pada


diabetes insipidus adalah :
Polidipsia : Rasa haus yang luar
biasa, minum 4-40 liter/hari dengan
gejala khas ingin minum air dingin.
Poliuria : pengeluaran urine harian
dalam jumlah yang sangat banyak
dengan urine yang sangat encer.

Kolaps pada masa bayi.


Syok.
Dehidrasi.
Hipertermia.
Muntah.
Konstipasi.
Hipotensi.

1. Uji Nikotin.
Pasien diminta untuk merokok dan menghisap dalamdalam sebayak tiga batang dalam waktu 15-20 menit.
Teruskan pengukuran volume, berat jenis dan
osmolalitas setiap sampel urin.
2. Fluid deprivation menurut Martin Goldberg.
Sebelum pengujian dimulai, pasien diminta untuk
mengosongkan kandung kemihnya, kemudian
ditimbang berat badannya, diperiksa volume dan
berat jenisnya osmolalitasnya urin pertama. Pada saat
ini diambil sampel plasma untuk diukur
osmolalitasnya.
Pasien diminta untuk buang air kecil sesering
mungkin.
Pasien ditimbang setiap jam. Bila diuresis lebih dari
300 ml/jam atau setiap tiga jam bila diuresis kurang
dari 300 ml.

LANJUTAN,,,,,,,,

3.

4.
5.
6.

Setiap sampel urin sebaiknya diperiksa


osmolalitasnya dalam keadaan segar atau kalau
hal ini tidak mungkin dilakukan semua sampel
harus disimpan dalam botol yang tertutup rapat
serta disimpan dalam lemari es.
Pengujian dihentikan setelah 16 jam atau berat
badan menurun 3-4 % tergantung mana yang
terjadi terlebih dahulu.
Jumlah dan BJ urine.
Hickey Hare Atau Carter-Robbins Test dengan
pemberian infus larutan garam hipertonis.
Masukan air.

1. Terapi Simtomatik : Yang


paling dikenal adalah
pitresin tanat dalam minyak,
2. Desmopressin ( DDAVP ),
diberikan intranasal, 2-4 kali
pemberian / hari telah dapat
mengendalikan diabetes
insipidus.

LANJUTAN

3. suntikan hormon antidiuretik


diberikan kepada penderita yang
akan menjalani pembedahan atau
penderita yang tidak sadarkan diri.
4. Obat-obatan Adjuvant yang bisa
dipakai :
Klofibrat.
Diuretik TiaZid.
Klorpropamid.
Karbamazepin.

Diabetes Insipidus sendiri jarang


mengancam kehidupan, tetapi
dapat mengisyaratkan suatu
kondisi primer yang serius. Dapat
bersifat sementara menyusul
suatu trauma atau intervensi
bedah pada daerah hipotalamus
atau hipofisis.

A. PENGKAJIAN

Aktifitas / Istirahat
Integritas Ego.
Eliminasi.
Makanan / Cairan
Integumen.
Neurosensori.
Sirkulasi.

B. DIAGNOSA
KEPERAWATAN

1. Kurang volume cairan b/d ketidakmampuan


tubulus ginjal mengkonsentratkan urine
karena tidak terdapat ADH.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
anoreksia.
3. Hipertermi b/d intake yang tidak adekuat.
4. Kelelahan b/d peningkatan kebutuhan energi.
5. Risiko gangguan perfusi jaringan b/d intake
dan output yang tidak seimbang.
6. Gangguan tidur b/d proses penyakit.
7. Ansietas b/d keadaan progresif.
8. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi
mengenai proses penyakit, pengobatan dan
perawatan diri.

C. RENCANA TINDAKAN.
1. Kurang volume cairan b/d ketidakmampuan tubulus
ginjal mengkonsentratkan urine karena tidak terdapat
ADH.
Rencana Tindakan :
Berikan cairan yang cukup sesuai keinginan pasien untuk
mempertahankan masukan yang seimbang dan haluaran
per 24 jam.
Tambahkan masukan oral dengan cairan per IV sesuai
pesanan.
Timbang pasien setiap hari.
Kaji terhadap tanda dan gejala hipovelemia : takikardi,
turgor kulit buruk, nadi lemah, tekanan darah rendah,
kulit dingin, suhu tubuh meningkat, membrane mukosa
kering, perubahan dalam status mental.
Observasi terhadap efek samping : hipertensi, nyeri
dada, kram uterus, dan peningkatan peristaltic usus.
Pantau terhadap hidrasi berlebihan : sakit kepala,
perubahan tingkat kesadaran, kebingungan.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia.

LANJUTAN,,,

2.

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia.

Rencana Tindakan :
Observasi/timbang berat badan pasien tiap
hari.
Beri makanan porsi kecil tapi sering.
Catat intake output.
Identifikasi faktor yang menyebabkan muntah.
Libatkan keluarga untuk penyediaan makanan
yang sesuai dengan selera klien.
Kolaborasi dengan tim gizi untuk diet klien.

3.

Hipertermi b/d intake yang tidak adekuat.


Rencana Tindakan :

Anjurkan klien minum banyak.


Pantau suhu klien, beri kompres hangat.
Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang mudah menyerap keringat.
Pantau suhu lingkungan.

4.

Kelelahan b/d peningkatan kebutuhan energi.


Rencana Tindakan :

Kaji kemampuan klien untuk berpartisipasi pada aktivitas yang dibutuhkan.


Beri bantuan pada aktivitas sehari-hari.
Tingkatkan partisipasi klien sesuai kemampuan.
Rencanakan istirahat yang adekuat.
Perhatikan kemampuan tidur / istirahat.

5.

Risiko gangguan perfusi jaringan b/d intake dan output yang tidak
seimbang.
Rencana Tindakan :

Observasi tanda-tanda vital, observasi warna kulit / membran mukosa.


Kaji nadi perifer dan edema.

6.

Gangguan tidur b/d proses penyakit.


Rencana Tindakan :

Anjurkan klien untuk aktivitas sesuai kemampuan.


Ajarkan tekhnik distraksi.
Beri kesempatan klien untuk beristirahat.
Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman

7.

Ansietas b/d keadaan progresif.


Rencana Tindakan :

8.

Kaji tingkat ansietas klien.


Lakukan tindakan relaksasi pada klien.
Bantu klien untuk menerima realita situasi.
Jelaskan tentang penyakit yang diderita, prognosis dan prosedur
pengobatan.

Kurang pengetahuan b/d kurang informasi mengenai


proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.
Rencana Tindakan :

Jelaskan konsep dasar penyakit.


Ajarkan nama-nama obat, tujuan, waktu dan metode pemberian,
dosis, dan efek toksis serta efek samping.
Jelaskan perlunya untuk menghindari cairan yang dapat
menyebabkan efek diuretik : kopi, alkohol, the.
Tekankan pentingnya perawatan tindak lanjut rawat jalan yang
teratur.
Jelaskan perlunya untuk menghindari obat yang dijual babas.
Berikan informasi untuk mendapatkan gelang dan kartu waspada
medis.

EVALUASI.
Dx I :
Masukan dan haluaran seimbang.
Berat badan dalam batasan ideal pasien.
Kulit lembab dengan turgor yang baik.
Tanda-tanda vital normal.

Dx II :
Adanya peningkatan nafsu makan.
Klien tidak mengalami mual lagi.
Tidak ada muntah lagi.

Dx III :
Suhu klien kembali normal.

Dx IV :
Klien mampu menunjukkan fisik tubuh yang segar.
Mampu berpartisipasi dalam aktivitas sesuai dengan
kemampuan.
Dx V :
Tidak adanya edema.
Tanda-tanda vital dalam batas normal.
Kulit klien hangat.
Dx VI :
Istirahat klien terpenuhi.
Mampu melakukan tekhnik distraksi.
Dx VII :
Mampu mengalihkan ansietas dengan tekhnik relaksasi.
Klien tidak merasa cemas lagi.
Dx VIII :
Klien mengerti tentang proses penyakit, pengarahan obatobatan, gejala untuk dilaporkan.