Anda di halaman 1dari 14

TUBERCULOSIS PARU

( TBC )
OLEH KELOMPOK A :
PRISKA RATHU
SANTI DWI A.
NURI IDHA FAQRIYAH
REDY SETYONO
NUR AMALIA APRI A.
INNEKE OKTAMELIA
LIDYA OVIANTI

Batasan
Infeksi paru yang disebabkan kuman
mycobacterium tuberculosis
Pathogenesis
Proses penularan inhalasi droplet nuclei
yang berisi kuman mycobacterium
tuberculosis.

Tuberculosis paru pasca primer


dapat terjadi melalui salah satu
dari mekanisme :
Perkembangan langsung penyakit primer
Reaktivasi penyakit primer yang tenang
Penyebaran hematogen ke paru
Reinfeksi eksogen

Lesi tuberculosis dapat dalam bentuk empat


lesi dasar :

Lesi eksudatif

Lesi proliferative

Kaviti

Tuberkuloma

Lokasi proses tuberculosis paru


pasca primer adalah
Apical atau segmen posterior lobus superior
atau segmen superior lobus inferior dan
jarng dijumpai di tempat lain.
Pada penderita diabetes mellitus sering
dijumpai tuberculosis pada paru lobus
inferior ( lower lung field )

Penyebaran / perluasan proses


tuberculosis
Ke parenkim paru sekitar
Ke pleura : menyebabkan pleuritis atau
efusi pleura atau empiema
Ke saluran nafas : menimbulkan endibrokial
tuberculosis
Melalui pembuluh darah atau limfe :
menimbulkan penyebaran hematogen dan
limfogen

Gejala klinis
Keluhan :
Umum (sistemik ): panas badan ( summer ) nafsu
makan menurun, berkeringat malam ,mual
muntah.
Local paru : batuk, batuk darah, nyeri dada/nyeri
pleuritik,sesak nafas bila lesi luas.
Pemeriksaan fisik :
Pemeriksaan fisik tidak spesifik. Bila kelainan paru
minimal atau sedang, pemeriksaan fisik mungkin
normal. Bisa dijumpai tanda tanda konsolidasi,
deviasi trakea/mediastinum ke sisi paru dengan
kerusakan terberat,efusi pleura ( redup,suara
nafas menurun )

Pemeriksaan fisik :
Pemeriksaan fisik tidak spesifik. Bila kelainan
paru minimal atau sedang, pemeriksaan fisik
mungkin normal. Bisa dijumpai tanda tanda
konsolidasi, deviasi trakea/mediastinum ke
sisi paru dengan kerusakan terberat,efusi
pleura ( redup,suara nafas menurun )
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Sputum
Radioligis

Diagnosis Banding

pneumonia
abses paru
kanker paru
bronkiektasis
pneumonia aspirasi

Penatalaksanaan

memperbaiki keadaan umum seperti nutrisi,


keseimbangan cairan

strategi penatalaksanaanmenurut DOTS WHO


meliputi
komitmen pemerintah dalam mengontrol
deteksi kasus dengan pemeriksaan hapusan BTA
sputum
kemoterapi standar jangka pendek ( 6_8bln)
kesinambungan ketersediasn obat anti tuberculosis
system pencatatan dan pelaporan standart

Rekomendasi Terapi
Isoniazid (H)
Rifampicin (R)
Pyrazinamide (Z)
Streptomycin (S)
Ethambutol (E)
Thioacetazone (T)

Rekomendasi regimen terapi


Kategori

Penderita TB

Alternatif regimen terapi TB

Terapi

Fase inisial

Fase Lanjutan

TB

(setiap hari atau 3x/minggu)

(setiap hari atau 3x/minggu)

2 RHZE (RHZS)

4 RH

kasus baru BTA positif

kasus baru BTA negative dengan lesi paru

6 HE

luas

II

III

IV

konkomintan HIV berat atau

TB extrapulmoner berat

Sputum hapusan positif :

Kambuh

Gagal terapi

Putus berobat

Kasus baru BTA negative selain kategori 1

TB ekstrapulmoner tidak berat

Kasus kronis

2 RHZES + ! RHZE

5 R3H3E3

2 RHZE*

4 RH
6 HE

Merujuk panduan WHO menggunakan second line drug

Obat anti tuberculosis esensial


Obat esensial

Rekomendasi dosis ( dose range ) mg/kgBB


Setiap hari

Seminggu 3 kali

Isoniazid (H)

5 (4-6)

10(8-12)

Rifampicin (R)

10(8-12)

10(18-12)

Pyrazinamide (Z)

25(20-30)

35(30-40)

Streptomycin (S)

15(12-18)

15(12-18)

Ethambutol (E)

15(15-20)

30(20-35)

Thioacetazone (T)

2,5

Not applicable

Prognosis

Tergantung pada luas proses, saat mulai


pengobatan, kepatuhan penderita
mengikuti aturan penggunaan dan cara
pengobatan yang digunakan.