Anda di halaman 1dari 72

PENERAPAN KONSEP

PENGEMBANGAN AGROPOLITAN
Peluang dan Tantangan dalam Perencanaan
Pengembangan Wilayah di Indonesia

Oleh :
Dr Ernan Rustiadi

Disampaikan pada
Kuliah Umum di Universitas Pakuan,
15 November 2006
Latar Belakang

Dalam konteks spasial, proses pembangunan yang telah


dilaksanakan selama ini telah menimbulkan
permasalahan tingkat kesejahteraan antar wilayah yang
tidak berimbang.
Perkembangan kota sebagai pusat pertumbuhan ternyata
seringkali tidak memberikan efek penetesan ke bawah
(trickle down effect) dan spread effect, justru sering
menimbulkan efek pengurasan sumberdaya dari wilayah
sekitarnya (backwash effect).
Berakibat rusaknya sumber daya alam & lingkungan hidup
serta meluasnya kemiskinan di perdesaan, dan terjadi
urbanisasi berlebih (over urbanization)
Penyebab Mesin Pertumbuhan
Masa Lalu
Ketimpangan Desa-
Kota (Urban Side) World
Utara Market

Selatan

Urban Rural
Modern Enclave

Urban
Denah Posisi Wilayah Informal Mayoritas Masyarakat
Perdesaan Yang Miskin
Perdesaan dalam
Sistem Makro
Ekonomi Spasial
yang Menciptakan
Perangkap Structural
Dualistic
Dependency (Anwar, Wilayah Perkotaan Wilayah Perdesaan
Penyebab
Ketimpangan Desa- • Produk olahan
makin murah dan
Kota (Interaction beragam
Side)
• Berkembangnya
ECONOMY OF teknologi produksi
SCALE dan pola konsumsi
INVESTASI masyarakat
PEMBANGUNA KOTA perkotaan
N PUSAT- menyebabkan
PUSAT kebutuhan bahan
Infrastruktur ECONOMY OF
PERTUMBUHA baku bergeser ke
N Modal SCOPE barang jadi atau
setengah jadi
Industri
• Rasio bahan
Teknologi
Term Of Trade baku/nilai tambah
Produk Mentah dalam aktivitas
Semakin Rendah produksi semakin
kecil

INVESTASI Suplai produk


PEMBANGUNAN mentah semakin
PERDESAAN DES meningkat
MELALUI A kuantitas dan
INTENSIFIKASI kualitasnya
Penyebab
Ketimpangan Desa- Aksesibilitas terbatas, bentuk
Kota (Rural Side) permukiman menyebar, kepadatan
Kawasan rendah, pengorganisasian/institusi
Perdesaan lemah

Infrastruktur pelayanan terbatas


karena tidak efisien

Komunikasi, Informasi dan Transportasi terbatas, sehingga :


• Aktivitas ekonomi terpecah/tersegmentasi ke dalam skala-
skala kecil
• Kuantitas dan kualitas produk beragam
• Resiko terhadap fluktuasi harga dan perubahan musim tinggi
(karena skala kecil)

Pasar Kompetitif Tidak Terbentuk

Struktur pasar spatial monopoli (untuk hasil produksi) dan


spatial monopsoni (untuk sarana pertanian) yang dikuasai
tengkulak
Ekonomi internasional
A harga/input komoditas pertanian rendah dan tidak stabil, investasi di

Siklus
perdesaan sangat terbatas

Pemerintahan nasional
pembangunan B Ketidakcukupan infrastruktur dan layanan dasar/pendukung, dan
lemahnya organisasi mas yarakat

wilayah dan C D

keterkaitan desa-
Masyarakat
Terbatasnya
Perdesaan
investasi produsksi

kota tidak

produsen yang terbatas


Pertumbuhan produksi
1 2 3

berkualitas
Kreativitas Permintaan input
Tidak adanya
lapangan kerja dan lokal yang
keterkaitan hilir
ketrampilan rendah terbatas

(Douglass, 1998) 4
Pendapatan RT
stagnan/ cenderung
turun

E Kota
5 6
Frekuensi belanja Layanan penjualan
di kota kecil yang input produsen
jarang terbatas

7 8
Permintaan tak

Pertumbuhan perkotaan
Ekspor regional
efektif untuk
rendah
layanan konsumen

yang rendah
F G H
Keterbatasan
Kerusakan Diversifikasi
peningkatan
sumberdaya sistem tidak
pendapatan/
dan degradasi berkembang
persistensi
lingkungan kebocoran
kemiskinan
wilayah
Ekonomi Internasional
A harga komoditas di pasar internasional yang stabil dan menguntungkan:

Siklus pembangunan
lokalisasi dan Diversifikasi investasi asing

Pemerintahan Nasional

wilayah dan B Kondisi infrastruktur dan layanan dasar/pendukung yang cukup dan memadai;
Dukungan organisasi dan sistem insentif dari pemerintah daerah

keterkaitan desa- C D
Masyarakat
kota berkualitas Perdesaan
Investasi Dasar/
Sektor Unggulan

(Virtous Cycle

Pertumbuhan perdesaan
1 2 3

menurut Douglass,
Kesempatan Permintaan input
kerja prime dan Pemrosesan dan
dan sarana
non primer pengolahan
produksi

1998) 4
Peningkatan
pendapatan
Rumah Tangga

E Kota
5 6
Pertumbuhan pusa- Pertumbuhan pasar
pusat untuk belanja input dan pelayanan
konsumen produsen

7 8
Peningkatan jasa

Pertumbuhan perkotaan
pelayanan kesehatan Perluasan pasar
kesejahteraan dan ekspor regional
rekreasi

F G H

Pemulihan Diversifikasi Perluasan basis


sumberdaya ekonomi/ peningkatan
dasar/lingkungan/ peningkatan pendapatan dan
ekologi produktifitas kesejahteraan
Definisi Perdesaan
UU No. 24 tahun 1992: kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian
termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi
kawasan sebagai tempat pemukiman perdesaan, pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
Kawasan yang secara fisik dan spasial dicirikan dengan pemanfaatan
ruang yang didominasi lansekap alamiah, aktivitas pertanian, baik
sebagai satu sistem agribisnis maupun tidak, kerapatan aktifitas yang
rendah serta memiliki sistem tata nilai masyarakat desa (Draft Rev
UUPR 24/92-RTM PT & ASPI)
BPS (Sensus 2000): Kepadatan penduduk, % petani, keberadaan dan akses
untuk mencapai fasilitas perkotaan

Desa: kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang


berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat yang diakui dan
dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan R.I (UU 32 Thn
2004)
Masalah
Pendefinisian
Perdesaan
Definisi ini kurang memberikan tempat dan dorongan
pentingnya kegiatan pengolahan (industri) dan jasa
produksi.
Industri dan jasa adalah salah satu kunci utama
perekembangan desa.
Definisi pertanian dalam arti sempit (on-farm) dapat dan
telah menjadi “jebakan” bagi potensi perdesaan untuk
berkembang secara optimal.
Faktor pemanfaatan ruang (land use) dan kepadatan
penduduk/aktifitas harus menjadi kunci definisi kawasan
di dalam sistem penataan ruang.
Definisi Perdesaan
Kawasan yang dicirikan dengan pemanfaatan
ruang utama aktifitas pertanian dan
pengelolaan sumberdaya alam dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat
pemukiman perdesaan, pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, kegiatan
budidaya pertanian, pengolahan/industri
pertanian dan non pertanian, distribusi dan
pasar pertanian dan non pertanian yang
memiliki kerapatan/kepadatan yang
rendah.
Beberapa Definisi Perdesaan
 Sparsely settled places away from the influence of large cities and towns. Such
areas are distinct from more intensively settled urban and suburban areas, and
also from unsettled lands such as outback or wilderness. People in rural areas live
in villages, on farms and in other isolated houses, as in pre-industrial societies
(Wilkipedia, 2006)

 Norway: 3 tipe kriteria:


1. Jumlah penduduk,
2. Rasio penduduk terhadap lahan terbuka
3. Tipe aktifitas ekonomi : pertanian, perikanan, produksi pangan dan
ekploitasi bahan mentah

 Perdesaan di USA (lebih dari sekedar pertanian).


– 76% of all counties, 83% of the nation's land, and 25% of the nation's
population).
– Hanya 6.3% penduduk desa bekerja di sektor pertanian (Mills, 1995).
– 50% petani memiliki pekerjaan off-farm.
– Usahatani terhitung sebanyak 7.6% dari seluruh pekerjaan di perdesaan
(Mills, 1995).
– Lebih dari 90% pekerja perdesaaan mempunyai aktifitas pekerjaan
nonfarm (Mills, 1995).
Definisi Perdesaan
Perbedaan Perdesaan dan Perkotaan di USA
Karakteristik Perdesaan Perkotaan
Interaksi Komunitas Sesuai mandat Sukarela
Aturan Dianggap berasal Dicapai
Sangsi pelanggaran Sebagian Menyeluruh
Orientasi Kelompok Individu
Kepemimpinan Tradisional Rasional

Sumber : Markley & Macke. 2003


Negara Sumber Kriteria Karakteristik Desa

INDONESIA UU 32/2004 • Kawasan otonomi


• Memiliki adat tertentu yang diakui

UU 24/1999 • Kegiatan utama pertanian

CANADA du Plessis. etKriteria Statistik Kanada terus berkembang dan ada 6 definisi yang akan
al. menghasilkan kriteria dan hasil pembatasan perdesaan yang berbeda.
(Statistics • Kawasan sensus perdesaan: kriteria utama: jumlah penduduk & kepadatan
Canada) penduduk, yaitu jumlah penduduk >=1000, kepadatan >=400/ km2
• Perdesaan dan kota kecil: penduduk tinggal di luar zone commuting. Jika
kawasan urban berpenduduk kurang dari 10000 termasuk rural town.
• OECD: komunitas perdesaan memiliki kepadatan <150 jiwa/km2. Terdapat 3
tipe perdesaan:
• OECD: Kawasan dominasi perdesaan (>50% merupakan komunitas perdesaan),
• Wilayah non metropolitan: wilayah di luar kota dengan penduduk > 50000
penduduk. Dibagi atas 3 wilayah berdasarkan permukiman, dan 4 kelompok
berdasakan kedekatan ke wilayah Utara
• Wilayah rute layanan pos perdesaan: kawasan tanpa tukang pos. Masyarakat
pergi ke kantor pos untuk menerima dan mengirim surat. Angka 0 pada dijit ke-2
menunjukkan wilayah perdesaan.
Tahun Jumlah Penduduk Persentase Jumlah Penduduk
Sebaran
Perkotaan Perdesaan Total Perkotaan Perdesaa Total
Penduduk (%) n (%)
Perkotaan 1971 20,765,27 98,467,227 119,232,49 17.42 82.58 100
dan 2 9
Perdesaan 1985 43,029,52 121,017,46 164,046,98 26.23 73.77 100
6 2 8
(BPS)
1990 55,433,79 123,813,99 179,247,78 30.93 69.07 100
0 3 3
2000 82,861,03 113,721,54 196,582,57 42.15 57.85 100
7 2 9
35.00 2004 93,860,04 123,212,30 217,072,34 Struktur
43.24 56.76 100
30.00 4 2 6 Pengeluaran
25.00 penduduk
% penduduk

20.00 perkotaan dan


15.00 perdesaan
10.00
5.00

0.00
< 60 60-80 80-100 100-150 150-200 200-300 300-500 > 500

Kelas Pengeluaran perkapita (Rp


Perkotaan 000/bulan)
Perdesaan
Perbandingan Penduduk Tinggal di
Perdesaan & Perkotaan

90.00
4 .0 0
80.00
70.00 3 .0 0
60.00 2 .0 0

Laju perubahan
Persentase

50.00
1 .0 0
40.00
30.00 0 .0 0
20.00 -1 .0 0
10.00
-2 .0 0
0.00 1 9 7 1 -1 9 8 5 1 9 8 5 -1 9 9 0 1 9 9 0 -2 0 0 0 2 00 0 -2 0 0 4
1971 1985 1990 2000 2004 Perkotaan (%) P erk o t aa
P erio de
Tahun Perdesaan (%) P erdesaa

Perbandingan Penduduk Tinggal di Laju Perubahan Pertumbuhan Penduduk


Perdesaan dan Perkotaan Di Perdesaan dan Perkotaan
Perbandingan Penduduk antar Pulau
Pulau 1990 1995 2000 2003

K D K D K D K D

  Sumatera 26,5 73,5 29,4 70,6 34,3 65,7 34,0 66,0

  Jawa dan Bali 30,7 69,3 38,0 62,0 47,6 52,4 49,4 50,6

  Kalimantan 27,6 72,4 31,1 68,9 35,8 64,2 36,1 63,9

  Sulawesi 22,9 77,1 26,3 73,7 27,7 72,3 28,0 72,0

  Lainnya 21,9 78,1 25,1 74,9 26,5 73,5 24,9 75,1

  KBI 33,3 66,7 38,4 61,6 44,9 55,1 45,0 55,0

  KTI 22,1 77,9 25,0 75,0 29,5 70,5 29,5 70,5

  Indonesia 32,0 68,0 36,8 63,2 42,9 57,1 42,8 57,2

Inonesia adalah Negara “Perdesaan”


Status Pendidikan Penduduk Perdesaan dan
Perkotaan
Provinsi Tdk/belum pernah SMU diploma/universitas Yg masih sekolah

K P K P K P K P

Sumatera 2,24 6,06 7,02 3,53 3,43 0,39 24,88 20,64

Jawa dan Bali 5,83 13,94 5,06 2,60 3,71 0,49 20,82 16,13

Kalimantan 3,44 7,89 5,72 2,58 2,71 0,38 22,43 18,97

Sulawesi 2,51 8,75 6,19 2,44 4,64 0,38 23,88 17,25

Lainnya 4,92 14,24 7,41 2,45 2,94 0,24 26,29 49,75

KBI 3,81 9,21 6,16 3,16 3,55 0,43 23,10 18,83

KTI 3,63 10,46 6,49 2,48 3,48 0,33 24,32 29,35

Indonesia 4,7 11,32 5,34 2,64 2,83 0,35 21,28 71,22


Status Lapangan Usaha Penduduk di
Perkotaan dan Perdesaan 2002 dan 2003

Propinsi 2000 2003


Primer Sekunder Tertier Primer Sekunder Tertier
K D K D K D K D K D K D
Sumatera 12,2 81,3 17,7 5,6 70,2 13,2 19,3 79,0 17,8 5,4 63,1 15,6
Jawa dan Bali 9,8 39,0 21,3 12,8 54,6 19,6 13,8 51,1 27,6 12,4 59,1 22,2
Kalimantan 12,5 72,6 19,9 9,8 67,6 17,7 16,1 74,5 18,1 8,4 65,7 17,0
Sulawesi 16,3 1,4 15,4 6,8 68,2 19,5 14,8 73,9 14,4 6,2 70,8 19,9
Lainnya 23,9 90,3 11,6 4,1 64,5 5,8 23,1 82,2 12,8 4,6 64,1 13,3
KBI 10,7 57,9 16,3 7,7 60,6 16,8 19,0 76,9 18,3 6,7 62,9 16,4
KTI 13,3 38,0 13,0 6,4 52,2 13,4 18,2 77,0 14,9 6,3 66,9 16,7
Indonesia 11,4 65,7 25,0 11,6 90,1 22,7 15,1 69,3 25,6 9,1 59,3 14,6

Kawasan Perdesaan tidak akan tumbuh berkembangn jika tidak


diiringi dengan pertumbuhan sektor sekunder dan tersiernya
secara memadai.
Di dalam rentang agribisnis, produktifitas sektor primer (on-farm)
Pembangunan Infrastruktur Perdesaan

 Keterkaitan antara infrastruktur dg


perkembangan ekonomi. Tanpa infrastruktur
pembangunan ekonomi berjalan efektif
 Tapi, tidak ada jaminan bahwa infrastruktur
canggih akan berdampak pada pertumbuhan
ekonomi tinggi.
 Infrastruktur memungkinkan bisnis perdesaan
mudah mengakses input dan pasar outputnya
dengan meminimumkan biaya pelaksanaan bisnis,
dan memfasilitasi proses produksinya.
 Infrastruktur mendorong pengembangan
penduduk miskin (pro-poor) dengan mengurangi
resiko & biaya transaksi produksi dan distribusi
produk yang akan meningkatkan produktifitas
usaha.

 Tetapi, pembangunan fasilitas tertentu,


misalnya jalan, meningkatkan kompetisi dan
mengurangi keunggulan kompetitif sebagian
produsen di suatu wilayah terpencil (paradoks).
Tipe infrastruktur
Hard Infrastructure Soft Infrastructure
• Listrik • Layanan lembaga keuangan dan
• Perumahan layanan terkait bisnis lainnya,
• Pasar misalnya: bank, jasa konsultan bisnis
• Perkantoran • Layanan terkait kesehatan dan
• Jalan dan rambu-rambunya sosial/ kesejahteraan masyarakat
• Sistem transportasi lainnya, misalnya lainnya
kereta api, jalur udara • Kelompok-kelompok informal
• Sanitasi dan pengelolaan sampah • Kelembagaan Pasar
• Sekolah • Layanan pos dan kurir
• Pertokoan dan layanan kota kecil lain • Pelatihan
• Fasilitas penyimpanan
• Jaringan gas alam
• Telekomunikasi
• Jaringan air bersih
Kebijakan pendukung Transformasi
Pertanian

Sumber: Downwards et al. (2004) dalam Andersen (2006)


Peran
infrastruktur
dalam
pembangunan
pertanian
(Andersen, 2006)
Peran infrastruktur dalam pembangunan pertanian di beberapa
negara
Peran infrastruktur dalam penurunan kemiskinan di beberapa
negara
Pembangunan Infrastruktur di
Indonesia
 Tambunan (2006) menyatakan terjadi
keterpurukan pembangunan infrastruktur di
Indonesia sejak krisis 1997/1998 karena fokus
pemerintah lebih pada:
1. upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ekonomi
makro,
2. mencegah pelarian modal,
3. menanggulangi hutang luar negeri dan
4. menstabilkan kondisi politik dan sosial.
Permasalahan Infrastruktur di
Indonesia menurut ISEI (2005) dalam
Tambunan (2006)
1. Menurunnya belanja infrastruktur karena
keterbatasan dana.

Persentase pengeluaran pemerintah untuk pembangunan infrastruktur


Partisipasi Swasta dalam Pembangunan Infrastruktur

Peran swasta meningkat sejak awal 90 sampai dengan


sebelum krisis ekonomi dan mengalami penurunan
drastis sejak terjadinya krisis ekonomi kembali seperti
awal 90-an.
2. Rendahnya kualitas infrastruktur

 Hal tersebut terkait dengan rendahnya belanja


infrastruktur. Berbagai contoh yang menunjukkan
rendahnya kualitas infrastruktur:
– Jalan : Pejalan raya 1,7 km per penduduk dan 50%
berkondisi buruk.
– Air bersih : 22% penduduk tidak mendapatkan akses air
bersih. Hanya 1,3% penduduk yang memiliki akses pada
pembuangan limbah.
– Listrik : 43% dari jumlah penduduk tidak mendapatkan
sambungan listrik.
– Telkom : Kepadatan sambungan tetap hanya 4%.
3. Rendahnya tingkat recovery infrastruktur 
terkait dg kinerja sektor riil.
4. Kesenjangan pembangunan infrastruktur antar
wilayah  contoh: desa-kota, KBI-KTI,
pertanian-non pertanian.
5. Kesenjangan aksesibilitas infrastruktur 
penduduk berpendapatan rendah
6. Inefisiensi penyediaan infrastruktur 
rendahnya kompetisi penyediaan
Infrastruktur pertanian: irigasi

 Dibandingkan dengan beberapa negara di ASIA lain %


irigasi terhadap total lahan pertanian di Indonesia
relatif terendah.
Konsep Agropolitan pada dasarnya ditujukan
untuk mengatasi masalah-masalah di atas

Menurut Pradhan (2003), model agropolitan ini


sebenarnya didasarkan pada pendekatan
perencanaan pembangunan perdesaan di Cina
yang diorganisasikan oleh Mao Tse Tsung pada
awal tahun 1960-an.
Definisi Agropolitan

Friedman dan Douglass dalam Rondinelli (1985) : agropolitan


adalah aktivitas pembangunan terkonsentrasi di wilayah
perdesaan dengan jumlah penduduk antara 50.000 sampai
150.000 orang. Otoritas perencanaan dan pengambilan
keputusan akan didesentralisasikan sehingga masyarakat yang
tinggal di perdesaan akan mempunyai tanggung jawab penuh
terhadap pekembangan dan pembangunan daerahnya sendiri.

Deptan (2002) : agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh


dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha
agribisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik,
menghela kegiatan kegiatan pembangunan pertanian
(agribisnis) di wilayah sekitarnya
Menurut website Deptan (http:\\www.deptan.go.id) :

AGROPOLITAN (Agro = pertanian : Politan = kota) adalah kota


pertanian yang tumbuh dan berkembang yang mampu memacu
berkembangnya sistem & usaha agribisnis sehingga dapat
melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan
pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya.

KAWASAN AGROPOLITAN, terdiri dari Kota Pertanian dan


Desa-Desa sentra produksi pertanian yang ada di sekitarnya,
dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administrasi
Pemerintahan, tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan
skala ekonomi yang ada. Dengan kata lain Kawasan
Agropolitan adalah Kawasan Agribisnis yang memiliki
fasilitas perkotaan.

PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN, adalah


pembangunan ekonomi berbasis pertanian di kawasan
agribisnis, yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan
mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong
berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya
Definisi Kawasan Agropolitan Menurut Peneliti
P4W IPB
Saefulhakim 2004 : secara terminologi agropolitan berasal
dari kata agro dan metropolis/metropolitan.
Agro berasal dari istilah bahasa latin yang bermakna “tanah
yang dikelola” atau “budidaya tanaman”, yang kemudian
digunakan untuk menunjuk kepada berbagai aktivitas
berbasis pertanian. Sementara metropolis mempunyai
pengertian sebagai sebuah titik pusat dari
beberapa/berbagai aktivitas.
Dengan demikian agropolis atau agro-metropolis adalah
lokasi pusat pelayanan sistem kawasan sentra-sentra
aktivitas ekonomi berbasis pertanian.
Karena itu pengembangan agropolitan sendiri berarti
pengembangan berbagai hal yang dapat memperkuat
fungsi/peran AGROPOLIS sebagai lokasi pusat pelayanan
sistem kawasan sentra-sentra aktivitas ekonomi berbasis
pertanian dimana tipologi pengembangan disesuaikan
Anwar (2005) : Agropolitan adalah tempat-tempat pusat
(central places) yang mempunyai struktur ber-hierarki,
dimana agropolis mengandung arti adanya kota-kota kecil
dan menengah disekitar wilayah perdesaan (Micro Urban-
village) yang dapat bertumbuh dan berkembang karena
berfungsinya koordinasi kepada sistem kegiatan-kegiatan
utama usaha agribisnis, serta mampu melayani,
mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan
pertanian di kawasan sekitarnya.
Kawasan agropolitan : sistem fungsional satu atau lebih
kota-kota pertanian pada wilayah produksi pertanian
tertentu, yang ditunjukkan oleh adanya sistem hierarki
keruangan (Spatial hierarchy) satuan-satuan permukiman
petani, yang terdiri dari pusat agropolitan dan pusat-pusat
produksi di sekitarnya.
Rustiadi (2004) : pembangunan agropolitan adalah suatu
model pembangunan yang mengandalkan desentralisasi,
mengandalkan pembangunan infrastruktur setara kota di
wilayah perdesaan, sehingga mendorong urbanisasi
(pengkotaan dalam arti positif) serta bisa menanggulangi
dampak negatif pembangunan (migrasi desa-kota yang
tak terkendali, polusi, kemacetan lalu lintas,
pengkumuhan kota, kehancuran masif sumber daya,
pemiskinan desa dll).
Definisi
AGROPOLITAN: adalah kawasan yang merupakan
sistem fungsional yang terdiri dari satu atau lebih
pusat-pusat pelayanan fasilitas perkotaan (urban
function center) pada wilayah produksi pertanian
tertentu, yang ditunjukkan oleh adanya sistem
keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan
satuan-satuan sistem permukiman dan sistem
agribisnis
Pusat pelayanan fasilitas perkotaan (urban
function center) adalah lokasi pusat pelayanan
sistem permukiman dan agribisnis yang dapat
berbentuk atau mengarah pembentukan kota tani
skala kecil/sedang (agropolis) yang berbasis pada
kegiatan jasa dan industri berbasis pertanian.
PENGEMBANGAN AGROPOLITAN: adalah suatu pendekatan
pembangunan kawasan perdesaan melalui upaya-upaya
penataan ruang kawasan perdesaan dan menumbuhkan
pusat-pusat pelayanan fasilitas perkotaan (urban
function center) yang dapat berupa atau mengarah
pada terbentuknya kota-kota kecil berbasis pertanian
(agropolis) sebagai bagian dari sistem perkotaan
dengan maksud meningkatkan pendapatan kawasan
perdesaan (regional income), mengindari kebocoran
pendapatan kawasan perdesaan (regional leakages),
menciptakan pembangunan yang berimbang (regional
balance) dan keterkaitan desa-kota (urban rural
linkages) yang sinergis dan pembangunan daerah.
AGROPOLITAN
 Agropolitan adalah salah satu wujud nyata
dari Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan
Kehutanan
 Lahir sebagai respon dari munculnya
ketimpangan desa-kota dan kebijakan
pembangunan yang bersifat urban bias
 Dari sisi kewilayahan, agropolitan
merupakan konsep pembangunan wilayah
berbasis pertanian yang mampu
memfasilitasi berkembangan kawasan
perdesaan dalam suatu hubungan desa –
kota yang saling memperkuat
PENGEMBANGAN
AGROPOLITAN DI
INDONESIA
 Sebagian besar pemahaman masih menangkap
bahwa agropolitan merupakan suatu proyek dari
pusat,
 Perlu komitmen daerah dalam mengembangkan
agropolitan sesuai dengan hakikat dan prinsip-
prinsip pengembangan agropolitan yang benar.
 Pada hekekatanya Pengembangan Agropolitan
merupakan GERAKAN MASYARAKAT untuk
membangun ekonomi berbasis pertanian di
kawasan agribisnis terpilih yang dirancang dan
dilaksanakan dengan pendekatan sistem, dengan
mensinergikan dan mengelola potensi untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu sudut kawasan sentra produksi
(MERAPI-MERBABU Kabupaten Magelang)
Gudang seleksi
dan pengepakan
Di Magelang
Fasum, STA Sewukan
Bawang daun Kobis & sledri

Tomat buah spinac


Tujuan Pengembangan
Agropolitan

• Menciptakan pembangunan desa-kota secara


berimbang
• Meningkatkan keterkaitan desa-kota yang
sinergis (saling memperkuat)
• Mengembangkan ekonomi melalui upaya
konsentrasi/akumulasi nilai tambah di perdesaan
berbasis aktivitas pertanian
• Pengembangan lingkungan permukiman
perdesaan
• Diversifikasi dan perluasan basis peningkatan
pendapatan dan kesejahteraan
• Menciptakan daerah yang lebih mandiri dan
otonom
 Menahan arus perpindahan penduduk
perdesaan ke perkotaan secara berlebihan
(berkontribusi pada penyelesian masalah
perkotaan)
 Pengembangan kota kecil dan (calon) kota
menengah
 Pemulihan sumber daya alam dan
lingkungan hidup
Kriteria Agropolitan
Kawasasan Perencanaan
Agropolitan
• Memiliki daya dukung dan
potensi fisik kawasan yang
memadai (kesesuaian
lahan dan agroklimat)
untuk pengembangan
pertanian
• Luas kawasan dan jumlah
penduduk yang mencapai
economic of scale dan
economic of scope
(biasanya dalam radius 3-
10 km, mencakup •Berkembangnya aktivitas
beberapa desa hingga
sektor-sektor sekunder
gabungan bagian beberapa
(pengolahan), dan tersier
kecamatan)
(jasa dan financial)
• Memiliki komoditas dan
Kelembagaan

• Pengelola kawasan dengan otonomi yang cukup


• Adanya sistem penataan ruang kawasan yang terencana dan
terkendali
• Kelembagaan ekonomi komunitas lokal yang kuat
(organisasi/kelompok tani, pedagang, pengusaha lokal)
• Akses penguasaan masyarakat lokal terhadap sumber daya
ekonomi (terutama lahan) mencukupi
Kriteria Agropolis
(Kota Pertanian Pusat Pertumbuhan)

 Satu atau beberapa sentra prasarana dan sarana Permukiman dengan


aksesibilitas tertinggi secara internal (dengan seluruh bagian di kawasan
agropolitan) dan secara eksternal (dengan pusat-pusat perkotaan lainnya
lainnya) dengan standard memadai

 Pusat aktifitas pengolahan dan


atau pusat distribusi hasil
pertanian yang dicirikan
dengan pemusatan fasilitas-
fasilitas dan institusi sistem
agribisnis yang memadai dan
berpihak pada kepentingan
masyarakat lokal
Struktur Agropolitan
 Struktur/Hirarki permukiman
 Struktur Jaringan Agribisnis
 Struktur Jaringan Transportasi
• Struktur ruang yang solid yang
terbentuk melalui sistem
jaringan interaksi/transportasi
yang efektif
a. mobilitas sistem residential
b. mobilitas sistem agribisnis
• Adanya satu atau beberapa
(kelompok) desa sebagai pusat
pelayanan dengan
pertimbangan lokasi geografis
(central places, gravity dan
sebagainya) dengan sistem
akses jalan tingkat sekunder
(two lane, asphalt pavement)
agar dapat dilalui truk kecil
dengan sumbu terberat 8 ton
Strukur Pusat
Permukiman
A Agropolis (Pusat Pelayanan)
Aglomerasi 2-5 Desa
5000-10 000 jiwa
B Pusat Permukiman Desa
C Dusun/Kampung
D Rumah-rumah tersebar
Karakteristik Agropolitan
Keterangan
Administrasi >10 desa sd < beberapa bagian kecamatan

Penduduk 50000-200000 jiwa


Agropolis Sistem Permukiman: PKL plus, RDTR
Instalasi Pengolahan Air Bersih, IPAL, Prasarana
Telekomunikasi
Sistem Agribisnis:
Pasar Pertanian/sub terminal agribisnis (Cold storage),
Bank Cabang Pembantu, Balai Penyuluhan dan Informasi
Pertanian/agribisnis, Sentra agroindustri, Kantor
Pengelolan Agropolitan, Quality Control
Agropolis (PKL) Dusun/Kampung
Me
Ka nuju
Ke bupa Kot
Lo giata ten a
ka (P
l/W n us
ila at
ya
h)

Me
Ka nuju
(P bupa Kot
u
Lo sat ten a
ka Ke
l/W gi
ila at a
ya n
h)
Tipologi
Agropolitan
AGRIBISNIS
Ekosistem
1. Pantai
2. Dataran
rendah Komoditas Pengolahan Distribusi Penunjang Sistem Urban
Unggulan
3. Dataran Pertanian (on 1. Pasca Panen dan Pasar Agribisnis 1. Hirarki

Tinggi farm) non industri 1. Tengkulak 1. Lembaga permukiman


1. Tanaman Keuangan 2. Mono/poli
Pangan 2. Home 2. Contract
Industri Farming 2. Kios
sentric
2. Hortikutur
(sayur, buah, Saprotan 3. Infrastruktur
3. Industri
bunga) 4. Jumlah/kepad
Kecil/ dll
3. Perkebunan atan
4. Perikanan
Menengah
penduduk
Darat 4. Industri
urban
5. Peternakan Besar
6. Perikanan
dll
Laut

Agropolis sebagai Sentra Agribisnis kawasan (Pasar Pertanian/sub terminal


agribisnis (Cold storage), Bank Cabang Pembantu, Balai Penyuluhan dan Informasi
Pertanian/agribisnis, Sentra agroindustri, Kantor Pengelolan Agropolitan, Quality
Control, dll)

Struktur Hirarki/Jaringan Agribisnis di bawahnya ditentukan oleh karakteristik Tipologi


Agropolitan
Jaringan Transportasi
 Jalan Kolektor/Arteri
Agropolis – Kota sedang/besar
 Jalan Desa
Pusat-pusat desa - Agropolis
 Jalan Dusun
Dusun – Pusat Desa; Antar Dusun
 Farm Road
Lahan/ladang pusat
-pengumpulan/permukiman (jalan
diperkeras minimal untuk
kendaraan roda 2/3
 Gerakan agropolitan telah cukup populer
dan mendapat sambutan yang cukup luas di
berbagai daerah

Tahun 2002/2003: 8 Kabupaten


Tahun 2003/2004: 39 Kabupaten
Tahun 2004/2005: 61 Kabupaten
Tahun 2005/2006: 98 Kabupaten
Tahun 2006/2007: 120 Kabupaten/Kota

 Namun masih menyimpan sejumlah masalah


dan tantangan
 konsistensi dukungan dan komitemen
pemerintah pusat sangat dibutuhkan.
Proses Evaluasi Pelaksanaan Fasilitasi
Pengembangan Kawasan Agropolitan
(Budiharsono dkk, 2006)

INPUT PROSES OUTPUT OUTCOME IMPACT

Dana Barang Peningkatan Peningkatan


Barang Jasa hasil kesejahteraan
Jasa dll Peningkatan Pemerataan
Tenaga pelayanan pendapatan
dll Peningkatan Penurunan
ketrampilan kesenjangan
antara wilayah

MONITORING EVALUASI
Kegiatan-kegiatan Pemerintah dalam
Pengembangan Agropolitan (2002 sd
sekarang)

 sosialisasi program pengembangan kawasan,


 pembuatan master plan kawasan,
 penyusunan program kerja,
 pembangunan sarana dan prasarana,
 pemberdayaan masyarakat, dan
 pendidikan dan pelatihan.
 Pembuatan perda yang mendukung pengembangan
kawasan
 Kemitraan dengan dunia usaha, LSM, dan Perguruan
Tinggi
 Monitoring dan evaluasi pelaksanaan pengembangan
kawasan agropolitan
Isu-isu Strategis Dalam Pelaksanaan
Pengembangan Agropolitan
Non – Tata Ruang

ASPEK INPUT & PROSES


•Rendahnya Kapasitas SDM pertanian/perdesaan
•Rendahnya partisipasi masyarakat;
•Akses masyarakat terhadap sumber daya – sumber daya
utama
•Lemahnya dukungan permodalan (akses terhadap
sumberdaya finansial)
•Pemasaran produk (info harga, fluktuasi harga dan kontinuitas
pasar)
•Lemahnya pengembangan kelembagaan pengelola di level
lokal/komunitas (banyak infrastruktur yang tidak digunakan
setelah
proyek berakhir)
•Ketidakjelasan dan lemahnya organisasi pengelola kawasan
•Lemahnya kapasitas kelembagaan petani/produsen
•Sistem tata niaga (dikuasai tengkulak, tidak berpihak pada
ASPEK OUTPUT & OUCOME
•Belum berkembangnya aktivitas industri
pengolahan
•Peningkatan pendapatan masyarakat (belum
signifikan),
•Ketidaksesuaian Prasarana/sarana dikembangkan dg
kebutuhan masyarakat
Tata Ruang
• Rendahnya pemahaman dan adanya perbedaan
persepsi tentang konsep kawasan agropolitan
• Ketidakjelasan dan tidak efektifnya penataan ruang
kawasan perdesaan
• Lemahnya keterkaitan kawasan agropolitan dengan
sistem kota-kota menengah-besar yang ada
Rekomendasi Tindak Lanjut

Pedoman, Sosialisasi dan Capacity


Building
• Sosialisasi, penyusunan pedoman-pedoman, fasilitasi
komunikasi/dialog mengenai best practices pengelolaan
agropolitan
• Pengembangan arahan/pedoman-pedoman/standar sistem tata
ruang perdesaan (untuk pengendalian alih fungsi lahan,
mengatur standar prasarana dan sarana serta struktur tata
ruang yang sesuai dengan tingkat perkembangan kawasan, dan
sebagainya)
• Mengembangkan pengetahuan, pendidikan dan pelatihan, serta
mengkampanyekan pentingnya perencanaan perdesaan (rural
planning)
• Pengembangan pedoman/standar prasarana dan sarana fisik
permukiman dan produksi (pertanian dan non-pertanian)
perdesaan
• Pendidikan/capacity building pemerintahan desa/kecamatan di
Ekonomi, Struktur, Sarana dan Prasarana

• Pengembangan industri, jasa, dan institusi keuangan


pertanian dan perdesaan
• Pengadaan dan revitalisasi sarana dan prasarana
permukiman
• Pengadaan dan revitalisasi sarana dan prasarana
perdesaan dan pertanian
• Revitalisasi dan pengembangan kota-kota kecil-
menengah (Agropolis)
• Identifikasi (calon) kota kecil/menengah potensial
dan perlu dikembangkan
III. Action Plan

Beberapa pokok pikiran penting :

1. Pembangunan kawasan perdesaan melalui agropolitan menjadi


penting untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran,
rendahnya pendidikan, kesehatan dan menjaga ketersediaan
sumber-sumber pangan, sandang, papan, obat-obatan, energi,
berbagai material alam seperti serat, getah, atsiri,
mineral,logam, dan kayu serta fungsi tata air, siklus karbon-
oksigen, temperatur udara dan keindahan landscape.
2. Pembangunan kawasan perdesaan melalui agropolitan harus
diarahkan dalam upaya untuk memperkuat sistem kewilayahan
nasional, sehingga terjadi keterkaitan yang saling sinergis dan
berimbang antar komponen-komponen sistem (desa-kota)
3. Keterkaitan yang sinergis dan berimbang dapat dibangun
melalui hubungan struktur hirarkhi desa-kota yang berjenjang
sehingga pengembangan tata ruang kawasan agropolitan yang
mengakomodasi tumbuhnya kota-kota kecil menengah yang
dapat mamfasilitasi perkembangan kawasan produksi pertanian
Konsep Agropolitan pada dasarnya ditujukan untuk mengatasi
masalah-masalah di atas, karena itu keberhasilan pengembangan
suatu kawasan agropolitan dicirikan oleh 3 hal yaitu :
• Berkembangnya wilayah perdesaan berbasis aktivitas
ekonomi sektor pertanian (rural & agriculture development)
• Terciptanya keberimbangan pembangunan wilayah desa-kota
(balance inter-regional development)
• Berkembangnya struktur keterkaitan wilayah desa-kota yang
saling memperkuat (strengthening rural-urban linkage)
Dengan demikian beberapa kata kunci yang perlu diperhatikan
adalah :
• Pengembangan aktivitas pertanian (sosial, ekonomi,
kelembagaan, kebijakan)
• Pengembangan infrastruktur wilayah (jalan, listrik, pengairan
dsb)
• Penataan ruang kawasan yang mencakup pengembangan
pusat-pusat pelayanan (kota kecil menengah), agar tercipta
hirarki hubungan desa-kota yang interdependent tetapi saling
memiliki bargaining yang kuat
Berdasarkan uraian di atas usulan definisi kawasan
agropolitan adalah :

“Pembangunan wilayah perdesaan berbasis aktivitas


pertanian, melalui pengembangan infrastruktur wilayah
di dalam suatu penataan ruang struktur pusat-pusat
pelayanan (kota-kota kecil menengah) yang mampu
melayani, mendorong, menarik, dan menghela
berkembangnya kawasan-kawasan produksi pertanian
di sekitarnya, serta menciptakan struktur hirarkhi
hubungan desa-kota yang saling terkait dan berimbang

TANTANGAN
• Penetapan kawasan agropolitan perlu
mempertimbangkan kawasan lindung
• Agropolitan memerlukan pendekatan struktur ruang,
dimana penataan ruang memegang peranan penting
dalam menentukan tata guna lahan di kawasan
agropolitan
• Pada tingkat mikro, aglomerasi desa-desa menjadi
sebuah kawasan akan menimbulkan pergerakan
sehingga diperlukan ketersediaan prasarana
pendukung yang memadai
• Diperlukan pendekatan menyeluruh dimana
agropolitan hanya akan efektif apabila sistem hirarki
kota berjalan dengan baik
• Dukungan modal dan biaya hidup harian petani perlu
diperhatikan agar lebih mandiri dan tidak tergoda
untuk menjual langsung tanpa proses atau
STRATEGI
• Agropolitan memerlukan pendekatan struktur ruang, dimana
penataan ruang memegang peranan penting dalam
menentukan tata guna lahan di kawasan agropolitan
• Dari segi penataan ruang, diperlukan komitmen tegas untuk
menjadikan sebuah kawasan sebagai kawasan agropolitan
sehingga ada kesatuan visi dalam kegiatan harian kawasan
tersebut
• Simpul-simpul kegiatan ekonomi akan ditentukan oleh jaringan
jalan oleh karena itu perlu ditetapkan rencana jaringan jalan
berwawasan agropolitan dalam RTRW Kabupaten
• UU Penataan Ruang perlu menegaskan peran desa sebagai
sentra produksi dimana aksesibilitas minimum wajib dicapai
agar dapat memerankan fungsi sebagai simpul kegiatan
tingkat tiga (orde tiga)
• Potensi masalah koordinasi antara wilayah administratif perlu
diantisipasi dengan menuangkan rencana kawasan kedalam
rencana penataan ruang
• Agar pertumbuhan kota terjadi sesuai perencanaan, maka
 Program2 terkait, PPK (Program Pengembangan
Kecamatan), dll
 Dianggap proyek
 Manajemen Kawasan, bisa lintas kecamatan (tidak
berbasis administrasi)
 Badan Pengelola Kawasan
 Kasus BP Kapet, tabrakan kewenangan, resistensi
pemerintahan lokal (camat, dll)
 Untuk Pengemb Sektor Basis: pengolahan, perdagangan,
infrastrukur komunikasi & energi
 Konsentrasi aktifitas di atas cenderung mengikuti pola
sebaran penduduk dan akses transportasi
 Konsentrasi/aglomerasi di pusat-pusat lokal sudah mulai
menganggu.