Anda di halaman 1dari 29

ABLASI RETINA

GINA NOVITA SARI


1320221126

Definisi

Adalah kelainan mata dimana lapisan sensori


retina terlepas dari lapisan epitel pigmen
retina.

Anatomi Retina

Retina adalah selembar tipis jaringan saraf


yang semitransparan, dan multilapis yang
melapisi bagian dalam dua per tiga posterior
dinding bola mata.
Retina membentang ke depan hampir sama
jauhnya dengan korpus siliare, dan berakhir di
tepi ora serata.


Bagian posterior mata (fundus), terdapat
beberapa area khusus retina :
1. Macula lutea : lateral dari blind spot
2. Fovea centralis : cekungan kecil di posterior
retina, di tengah macula lutea, + 1,5 mm,
hanya mengandung sel kerucut saja.
3. Optic disc : Tempat masuk N. II ke bola mata.
Disebut juga blind spot sebab tanpa
photoreceptor.

Retina menerima darah dari dua sumber,


yaitu arteri retina sentralis yang merupakan
cabang dari arteri oftalmika dan
khoriokapilari yang berada tepat di luar
membrana Bruch.

Arteri retina sentralis memvaskularisasi dua


per tiga sebelah dalam dari lapisan retina
(membran limitans interna sampai lapisan inti
dalam), sedangkan sepertiga bagian luar dari
lapisan retina (lapisan plexiform luar sampai
epitel pigmen retina) mendapat nutrisi dari
pembuluh darah di koroid

Klasifikasi

Terdapat tiga klasifikasi pada ablasi retina,


antara lain yaitu:
1. Ablasi retina regmatogenosa
2. Ablasi retina eksudatif
3. Ablasi retina traksi (tarikan)

1. Ablasi Retina
Regmatogenosa

Merupakan bentuk ablasi tersering


Ablasio jenis ini terjadi akibat adanya rhegma
atau robekan pada lapisan retina sensorik (full
thickness) sehingga cairan vitreus masuk ke
dalam ruang subretina.

Etiologi : Faktor risiko lebih tinggi didapatkan


pada kelompok orang-orang dengan miopia
berat, afakia, usia lanjut, dan trauma.

Klasifikasi : Ablasio retina regmatogenosa dapat


diklasifikasikan berdasarkan patogenesis,
morfologi dan lokasi.

Berdasarkan
Patogenesisnya

dibagi menjadi;
(1) Tears, disebabkan oleh traksi vitreoretina
dan memiliki predileksi di superior dan lebih
sering di temporal daripada nasal.
(2) Holes, disebabkan oleh atrofi kronik dari
lapisan sensori retina, dengan predileksi di
daerah temporal dan lebih sering di superior
daripada inferior, dan lebih berbahaya dari
tears.

Berdasarkan Morfologi

dibagi menjadi;
(1) U-tears, terdapat flap yang menempel pada
retina di bagian dasarnya,
(2) incomplete U-tears, dapat berbentuk L atau
J,
(3) operculated tears, seluruh flap robek dari
retina,
(4) dialyses: robekan sirkumferensial sepanjang
ora serata,
(5) giant tears.

Berdasarkan Lokasi

dibagi menjadi;
(1) oral, berlokasi pada vitreous base,
(2) post oral, berlokasi di antara batas posterior
dari vitreous base dan equator,
(3) equatorial,
(4) post equatorial: di belakang equator
(5) macular, di fovea.

Patogenesis

Terdapat kelemahan di retina perifer akibat proses degenerasi

Terdapat robekan pada retina

Terlepasnya retina sensori

Terdapat interaksi dari viteroretina

Badan vitreus akan menjadi kolaps ke inferior dan ruang


retrohialoid terisi oleh cairan synchitic

Proses ini dinamakan acute rhegmatogenous PVD with


collapse (acute PVD).

Gejala Klinis

Gejala utama yang ditimbulkan adalah fotopsia,


fotopsia muncul dalam kurun waktu 24-48 jam
setelah terjadinya robekan retina. Pasien akan
merasa dapat melihat lebih jelas pada malam hari.
Biasanya fotopsia terdapat di bagian temporal
perifer dari lapangan penglihatan.
Keluhan lain yang khas adalah, floater, adanya
bayangan gelap pada vitreous akibat retina yang
robek, darah dan sel epitel pigmen retina yang
masuk ke badan vitreus.


Kekeruhan vitreus ini terbagi atas 3 tipe, yaitu;
(1) Weiss ring, floater yang soliter terdiri dari
annulus yang terlepas dari vitreus.
(2) Cobwebs, disebabkan oleh kondensasi serat
kolagen di korteks vitreus yang kolaps.
(3) Pancaran seketika berupa titik hitam atau
merah yang biasanya mengindikasikan
perdarahan vitreus akibat robekan pembuluh
darah retina.


Black curtain, defek lapang penglihatan
dirasakan oleh pasien mulai dari perifer yang
lama-lama hingga ke sentral. Keluhan ini
dapat saja tidak muncul di pagi hari karena
cairan subretina diabsorbsi secara spontan
pada saat malam hari.

Selanjutnya melalui pemeriksaan oftalmologis


dapat ditemukan adanya Marcus Gunn pupil,
tekanan intraokular yang menurun, iritis
ringan, adanya gambaran tobacco dust atau
Schaffer sign, robekan retina pada funduskopi.

Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat


retina yang terangkat berwarna pucat dengan
pembuluh darah di atasnya dan terlihat
adanya robekan retina berwarna merah.

Tatalaksana

Prinsip penatalaksanaan dari ablasio retina adalah


untuk melepaskan traksi vitreoretina serta dapat
menutup robekan retina yang ada.

Penutupan robekan dilakukan dengan melakukan


adhesi korioretinal di sekitar robekan melalui
diatermi, krioterapi, atau fotokoagulasi laser.

Pembedahan yang sering dilakukan adalah scleral


buckling, pneumatic retinopexy dan vitrectomy.

2. Ablasi retina
traksional
Definisi
Lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan
jaringan parut pada badan kaca

Etiologi
Penyebab utama dari ablasio retina tipe traksi yaitu
retinopati diabetes proliferative, retinopathy of
prematurity, proliferative sickle cell retinopathy.

Gejala Klinis
Fotopsia dan floater sering kali tidak ditemukan.
Sedangkan defek lapang pandang biasanya timbul
lambat.

Patogenesis

Terjadi pembentukan jaringan parut yang dapat berisi


fibroblas, sel glia, atau sel epitel pigmen retina.

Awalnya terjadi penarikan retina sensorik menjauhi


lapisan epitel di sepanjang daerah vascular yang
kemudian dapat menyebar ke bagian retina midperifer
dan makula.

Ablasi retina

Penglihatan turun

Tatalaksana

Vitrektomi dengan melepaskan tarikan


jaringan parut atau fibrosis di dalam badan
kaca.

3. Ablasi Retina
Eksudatif

Terjadi akibat tertimbunnya eksudat di bawah


retina dan mengangkat retina.
Penimbunan cairan subretina sebagai akibat
keluarnya cairan dari pembuluh darah retina
dan koroid (ekstravasasi).

Biasanya disebabkan penyakit epitel pigmen


retina, koroid.

Gejala Klinis

Fotopsia tidak ditemukan. Floater dapat


ditemukan pada vitritis. Defek lapang pandang
terjadi cepat.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan etiologi
yang mendasarinya. Pada kondisi yang
disebabkan oleh inflamasi seperti pada penyakit
Harada dan skleritis posterior maka pemberian
kortikosteroid sistemik diperlukan. Jika disebabkan
oleh keganasan, maka terapi radiasi dapat
dilakukan.

Diagnosis banding Ablasio


Retina

a. Retinoskisis degeneratif
b. Ablasio koroid (choroidal detachment)
c. Sindrom efusi uvea