Anda di halaman 1dari 83

PELAKSANAAN PEKERJAAN

PERKERASAN KAKU
(RIGID PAVEMENT)
Pelatihan & Uji Kompetensi
Pelaksana Jalan & Jembatan, Teknisi Lab dan
Surveyor
Kerjasama BSK Pusbin KPK & PT. Hutama
Karya
Tanggal 30-31 Januari 2012 di Jakarta

Tingkat kekakuan sangat tinggi dibandingkan


dengan perkerasan aspal, yaitu 10 kali lipat.
(Ebeton semen = 40.000 MPa; Ebeton aspal = 4.000 MPa).

Plat beton dengan flexural strength 45 kg/cm2


(kira-kira ekivalen dengan beton mutu K-400)
setebal 25 cm dapat menampung sekitar 8 juta
ESAL (cukup tinggi !).

Tebal keseluruhan perkerasan jauh lebih tipis


dari tebal keseluruhan perkerasan fleksibel/aspal
( 50 %).
2

Life-cycle-cost lebih murah dari pada perkerasan

aspal.

Tidak terlalu peka terhadap kelalaian pemeliharaan.


Tidak terlalu peka terhadap kelalaian pemanfaatan

(overloading).

Semen adalah material produksi dalam negeri

sehingga tidak tergantung dari import.

Keseluruhan tebal perkerasan jauh lebih kecil dari

pada perkerasan aspal sehingga dari segi


lingkungan / environment lebih menguntungkan.

Keuntungan keuntungan
Ketahanan thd pelapukan / oksidasi :
Konstruksi semen relatif lebih sedikit
mengandung bahan-bahan organik (C) dari
pada aspal. Jadi perkerasan beton semen
lebih tahan terhadap oksidasi
(penuaan/ageing) dari pada perkerasan
aspal.
Kebutuhan pemeliharaan :
Pemeliharaan perkerasan kaku lebih
murah/jarang dari pada perkerasan fleksibel.
Biaya konstruksi : Pada saat sekarang,

Permukaan perkerasan beton semen mempunyai riding

comfort yang lebih jelek dari pada perkerasan aspal,


yang akan sangat terasa melelahkan untuk perjalanan
jauh.

Warna permukaan yang keputih-putihan menyilaukan

di siang hari, dan marka jalan (putih/kuning) tidak


kelihatan secara kontras.

Perbaikan kerusakan seringkali merupakan perbaikan

keseluruhan konstruksi perkerasan sehingga akan


sangat mengganggu lalu lintas.

KERUGIAN KERUGIAN :

Pelapisan ulang / overlay tidak


mudah dilakukan.
Ketidaksempurnaan hasil pekerjaan
akibat kurang telitinya pelaksanaan
pekerjaan di lapangan tidak mudah
diperbaiki.
Perbaikan permukaan yang sudah
halus (polished) hanya bisa dilakukan
dengan grinding machine atau
pelapisan ulang dengan campuran
aspal, yang kedua-duanya memerlukan

Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) adalah struktur yang terdiri dari plat
beton semen yang bersambungan (tidak menerus) dengan atau tanpa
tulangan, atau plat beton menerus dengan tulangan, yang terletak di
atas lapis pondasi bawah, tanpa atau dengan aspal sebagai lapis
permukaan.
Perkerasan kaku dikelompokkan menjadi:
Perkerasan Beton Semen, yaitu perkerasan kaku dengan beton
sebagai lapisan aus.
Terdapat 4 (empat) jenis perkerasan beton semen:
Perkerasan beton semen dengan sambungan tanpa tulangan
(jointed unreinforced/plain concrete pavement);
Perkerasan beton semen dengan sambungan dengan tulangan
(jointed reinforced concrete pavement);
Perkerasan beton semen menerus (tanpa sambungan) dengan
tulangan (continuously reinforced concrete pavement);
Perkerasan beton semen pratekan (prestressed concrete pavement).
Perkerasan Komposit, yaitu perkerasan kaku dengan plat beton
sebagai lapis pondasi dan aspal beton (AC) sebagai lapis permukaan
(struktural).

JENIS-JENIS
PERKERASAN KAKU
- Perkerasan beton
semen dengan
sambungan tanpa
tulangan
(Jointed
unreinforced/plain
concrete pavement);
- Perkerasan beton
semen dengan
sambungan dengan
tulangan (Jointed
reinforced concrete
pavement);
- Perkerasan beton
semen menerus (tanpa
sambungan) dengan
tulangan
(Continuously
reinforced concrete
pavement);
9

PENULANGAN
PERKERASAN
KAKU

10

Konstruksi beton semen dengan lapis permukaan aspal


beton, yang memperhitungkan lapis aspal beton sebagai
bagian yang ikut memikul beban, disebut Perkerasan
Komposit.
Dalam literatur yang ada, konstruksi seperti itu tebalnya
dihitung sebagai berikut:
Tentukan terlebih dahulu tebal plat beton yang
dibutuhkan dengan menganggap perkerasan seluruhnya
terdiri dari beton semen.
Tebal plat beton dikurangi sebesar 10 mm untuk
setiap 25 mm tebal aspal beton.
Ketentuan tebal minimum plat beton adalah 150
mm, dan untuk mencegah retak refleksi (akibat celah
sambungan dan retak pada plat/ slab beton) disarankan
tebal minimum aspal beton 100 mm (4 inches).

11

PERKERASAN

FLEKSIBEL sbg Multi Layer System :


- Lapis Permukaan;
- Lapis Pondasi;
- Lapis Pondasi Bawah.
PERKERASAN KAKU sbg Single Layer System :
-Plat Beton Mutu Tinggi sebagai Base;
-Subbase (Lean Concrete atau Batu Pecah), tidak diperhitungkan
berfungsi
struktural.
KEMAMPUAN

PENYEBARAN BEBAN DAN KAPASITAS BEBAN

Dengan Modulus Elastisitas (E) plat beton yang sangat besar,


maka kemampuan penyebaran beban plat beton jauh lebih besar
dari pada perkerasan aspal. Dengan demikian tebal seluruh
konstruksi perkerasan kaku jauh lebih tipis dari pada seluruh
tebal perkerasan fleksibel.
12

Ada 2 parameter yang cukup populer, yaitu :


Compressive Strength (K), yaitu kuat tekan silinder beton
15 cm x 30 cm.
Flexural Strength (fx), yaitu kekuatan menahan momen
lentur.
Hubungan antara K dengan fx adalah hubungan koridor, bukan
linier.
K (kg/cm2)
120 - 175
155 - 230
225 - 335
280 - 400
fx (kg/cm2)
25
30
40
45
(Hubungan antara K dengan fx sangat tergantung kualitas/mutu
beton)

Digunakan beton semen mutu tinggi,(fx = 40 45 kg/cm2),


karena
- Harus tahan terhadap aus,
- Harus tahan terhadap pelapukan karena cuaca,
Durability
- Tidak boleh sering mengalami pemeliharaan.
Jadi bukan untuk mengurangi tebal plat beton.
Strength

13

KERUSAKAN STRUKTURAL
PERKERASAN BETON
SEMEN

Retak memanjang

Retak sudut (Corner break)

Retak melintang
Pecah

14

ASTM C 39 / AASHTO T 22 for Compressive Strength.

Peralatan untuk Pengujian Kuat Tekan Beton


15

PENENTUAN KUAT LENTUR BETON (fx)


ASTM C 78 / AASHTO T 97 for flexural
strength using third-point loading.
ASTM C 293 / AASHTO T 177 for flexural
strength using center-point loading.

16

SLUMP BETON

Nilai slump Beton untuk mengukur kelecakan beton


(workability / kemudahan pengerjaan beton)
Untuk perkerasan beton semen dipersyaratkan:
Nilai Slump = 2,5 5,0 cm, tergantung dari jenis peralatan
penghampar (concrete paver/finisher) yang digunakan.
Fixed form finisher : digunakan beton dengan Slump = 4,0
5,0 cm
(acuan tetap)
Slip form paver : digunakan beton dengan Slump = 2,0
2,5 cm
(acuan bergerak)
17

Trackline of slipform paving machine (ACPA)

18

AASHTO T 119, Slump of Hydraulic Cement Concrete

Berkaitan dng
workability
pekerjaan
beton

19

Daya dukung Tanah Dasar dinyatakan dengan


Modulus Reaksi Tanah Dasar (k), yang ditentukan
dengan Plate Bearing Test, bukan dengan CBR.
Hubungan antara CBR dengan k adalah sbb.:
CBR (%)
32,0
k (pci)
340
k (kg/cm3)

2,0 4,0 8,0 12,0 16,0 20,0 24,0 28,0


70 120 170 200 230

240

260

290

1,5 3,3 4,8

7,0

7,5

8,0

6,0

6,6

9,3

Daya dukung Tanah Dasar tidak terlalu berpengaruh


pada tebal perkerasan kaku. Yang penting adalah
keseragamannya. (Road Note 29 dan TN 45 CCAA).
Berdasarkan Spesifikasi Umum, persyaratan teknis
Tanah Dasar untuk Perkerasan Beton Semen sama
dengan untuk Perkerasan Aspal.
20

Efek dari ketidakseragaman kekuatan tanah dasar


terhadap plat beton rigid pavement
21

Berupa satu lapis beton semen mutu tinggi setara


dengan beton K-350..

Sering disebut Lapis Pondasi (Base) karena di atasnya


dimungkinkan ada lapisan aspal yang disebut Lapis
Permukaan(Surface Course).

Merupakan konstruksi utama dari perkerasan kaku.

Kontak langsung dengan roda lalu lintas, karenanya


harus rata, tidak mudah aus dan tidak licin.

Tidak lekat (bonding) dengan Sub Base.

22

Berfungsi sebagai lantai kerja (working platform).


Tidak diperhitungkan memikul beban lalu lintas (bersifat
non-struktural).

Berfungsi sebagai drainage layer dan filter material di


bawah perkerasan untuk mencegah pumping.

Sebagai alternatif desain, banyak digunakan Lean


Concrete sebagai Sub Base (air dari permukaan diblok
oleh Lean Concrete sehingga tidak sampai ke Tanah
Dasar).

Tidak boleh ada ikatan (bonding) dengan plat beton di


atasnya.

Dapat menyeragamkan dan meningkatkan nilai k


(Modulus Reaksi Tanah Dasar).
23

Fungsi sambungan:
- Pada sambungan melintang:
Mengakomodasi gerakan susut.
- Pada sambungan memanjang:
Mengakomodasi gerakan lenting dari pelat beton
akibat panas-dingin pada siang-malam hari.

Sambungan dibuat dengan saw cut, crack inducer,


pada akhir pentahapan pelaksanaan.
Pada setiap celah sambungan, harus diisi dengan joint
sealant.
Sambungan diupayakan sesuai dengan pola retak
alami plat beton.
24

POLA RETAK ALAMI


PLAT BETON

25

SKEMATIS SAMBUNGAN DAN TULANGAN


SAMBUNGAN

TULANGAN PLAT

TIE BAR

DOWEL

26

SAMBUNGAN MELINTANG, ada 2 jenis:


- Sambungan Susut (Contraction Joint), dibuat dengan cara
melakukan saw cutting (penggergajian) sedalam tebal plat.
- Sambungan Pelaksanaan (Construction Joint), dibuat
dengan cara memasang bekisting melintang dan dowel
antara plat yang dicor
sebelumnya dengan plat yang dicor
berikutnya.

SAMBUNGAN MEMANJANG
Untuk plat yang dicor per lajur:
- dibuat dengan cara memasang bekisting memanjang dan tie
bars.

Untuk plat yang dicor 2 lajur sekaligus:


- dibuat dengan cara saw cutting untuk bagian atas, dan
memasang
crack inducer (batang kayu berpenampang
segi tiga) di bagian
bawah plat beton.
27

Sebagai penyambung plat beton yang sudah putus


(akibat retak).
Tulangan sambungan melintang susut (contraction
joint), dan tulangan sambungan melintang
pelaksanaan (construction joint) disebut Dowel (Ruji).
Tulangan sambungan memanjang disebut Tie Bar
(Batang Pengikat).

28

PEMASANGAN
DOWEL

Pinning dowel cages (ACPA)


(Pemasangan dowel cara manual)

Dowel bar insertion equipment (ACPA)


(Pemasangan dowel cara mekanis)

29

PEMASANGAN TIE BAR SECARA


MEKANIS

Tie Bar Insertor


Wirtgen SP500
30

SAMBUNGAN MELINTANG
Sebagai load transfer
devices.
Sebagai sliding devices.
Berukuran besar dan polos.
Satu ujung lekat dengan
beton, satu ujung lainnya
bebas.
Ditempatkan di tengahtengah tebal plat dan sejajar
sumbu jalan baik arah
vertikal maupun horizontal.
Mengurangi potensi faulting
(gerakan slab vertikal),
pumping dan corner break
pada perkerasan beton
semen dengan sambungan.

SAMBUNGAN MEMANJANG
Sebagai rotation devices
(engsel).
Berukuran kecil dan berulir
(deformed bar).
Kedua ujung lekat dengan
beton.
Ditempatkan di tengah-tengah
tebal plat dan tegaklurus
sumbu jalan.
Tidak overlap dengan tulangan
sambungan melintang.
Mencegah faulting, gerakan
slab mendatar, dan membantu
transfer beban

31

UKURAN, PANJANG DAN JARAK


DOWEL DAN TIE BAR
Dowel

Tie Bar

1/8 tebal plat

tergantung tebal plat

Diameter
minimum *)

32 mm (1 in.)

13 16 mm tergantung
tebal plat

Panjang tipikal
disarankan

455 mm (18 in.)

tergantung tebal plat

Jarak

305 mm (12 in.)

tergantung tebal plat

Diameter yang
disarankan

*) Penggunaan dowel diameter 25 mm untuk lalu lintas berat dapat


mengakibatkan kehancuran beton di sekitar dowel (dowel socketing)
32

STRING LINES

33

b) Appropriate amount

PENGECORAN /
PENGHAMPARAN
BETON
a) Too much

c) A belt placer/spreader ensures a


consistent amount of concrete in front of
the paver. (ACPA)
34

PEMADATAN BETON

A roller screed (i.e., single-tube finisher) is


one type of equipment that can be used to
strike off the concrete in fixed-form
placements. Others include vibratory
screeds, form riders, and bridge deck
finishers. (ACPA)
An array of vibrators under a slipform paver
(ACPA)
35

Prinsip kerja
CONCRETE PAVER

Paving direction

Side form

Komponen-komponen mesin penghampar tipikal


(Slip form)
36

JOINT SEALANT
Pada setiap celah sambungan, harus diisi dengan joint
sealant yang bersifat thermoplastic, baik pengecoran
panas maupun dingin, a.l. rubber asphalt, coal tars atau
rubber tars. Bisa juga menggunakan material yang
disisipkan dalam keadaan precompressed, a.l.
Compriband.
Pelaksanaan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin,
supaya celah tidak terisi kotoran / bahan lain.

SAW CUTTING
Perlu diperhatikan:
Harus tepat lokasi (diberi tanda sebelumnya pada
bekisting)
Harus tepat kedalaman (1/4 tebal plat)
Harus tepat waktu (antara jam ke-4 sampai jam
ke-24).

37

SAW CUT TEPAT WAKTU


Retak terjadi di tempat
yang
diinginkan/direncanakan
SAW CUT TERLAMBAT
Retak terjadi di tempat
sembarang / tidak
dikehendaki

38

39

BOND BREAKER

- Dipasang di atas subbase agar


tidak ada kelekatan / friction /
bonding antara subbase dengan
plat beton.
- Dibuat dari plastik tipis.
- Permukaan subbase harus rata,
tidak boleh di-groove atau dibrush.
- Pemasangan plastik harus
dihindari adanya air-trapped di
bawah plastik yang akan
menyebabkan irregular joint.
- Bila subbase dari bahan granular,
tidak perlu bond breaker, kecuali
kalau ada kekhawatiran terjadinya
dewatering campuran beton.

a) Retak tidak terjadi pada plat beton yang bebas


bergerak.
b) Pada kenyataannya, plat beton di atas tanah dasar
tertahan oleh lapis pondasi bawah (subbase) yang
menimbulkan tegangan tarik pada plat beton sehingga
retak.

40

GROOVING/BRUSHING
Fungsi: Membuat permukaan beton tidak licin
(macrotexturing) dengan cara membuat alur memanjang
/ melintang.
(Mencegah terjadinya aqua planing / hydro planing).
Alur arah memanjang:
- Friction arah melintang lebih baik (pada manuver
ke
samping),
- Friction ke arah memanjang kurang baik,
- Pelaksanaan lebih mudah dan cepat,
- Surface drainage sedikit terganggu,
- Sambungan pelaksanaan grooving / brushing sering
tidak rapi.
Alur arah melintang:
- Friction arah melintang lebih baik,
- Friction arah memanjang kurang baik,
- Surface drainage baik,
- Sambungan alur grooving / brushing bisa dihindari.

41

NOISE
Kebisingan pada kecepatan 80 km/jam:
- Surface Dressing
82,0 dB
- Grooved concrete 80,5 dB
- Brushed concrete 81,0 dB

PERAWATAN BETON (CURING)


Setelah finishing dengan grooving / brushing, permukaan
beton dilapis / disemprot bahan pengawet (curing compound)
sebanyak 0,22 0,27 liter/m2 (cara mekanis) atau 0,27
0,36 liter/m2 (cara manual).
Dianjurkan menggunakan curing compound yang berwarna
putih.
Cara lain, ialah dengan menutup seluruh permukaan yang
terbuka dengan burlap atau goni yang dibasahi sekurang42

Hidrasi semen adalah reaksi kimia yang sangat lambat.


Apabila permukaan beton dibiarkan mengering prematur,
maka reaksi kimia tadi terhenti, akibatnya kualitas beton
(durabilitas, dsb.) menurun.
Curing compound harus disemprotkan segera selama
permukaan beton belum mengering. Kalau tidak, tidak ada
gunanya sama sekali.

43

Early-Age Cracking : Akibat penguapan


berlebihan

Typical plastic shrinkage cracks

Map cracking (Crazing)

Deep plastic shrinkage cracks

44

Antara lain akibat dari :


- Perubahan suhu mendadak,
menimbulkan lenting.
- Agregat kering menyerap
lembab mengakibatkan
susut.
- Daya dukung tanah tidak
seragam.
- Beton belum kuat.

Random transverse crack


(Drying Shrinkage Cracking)

Random longitudinal crack

45

Fungsi:
- Non-struktural, memperbaiki permukaan beton semen
yang sudah aus.
- Struktural, menambah kekuatan perkerasan beton
semen yang sudah ada, atau perkerasan komposit.
Overlay non-struktural
- Pergunakan overlay tipis (1 2 cm).
- Kelekatan aspal harus tinggi,
- Ada resiko retak (reflection crack).
Overlay perkerasan lama (pengalaman di luar negeri)
Biasanya keputusan overlay AC diambil setelah
mempertimbangkan beberapa opsi perbaikan perkerasan
beton semen, sbb:
- Full depth repair di bagian perkerasan yang retak,
- Partial depth repairs at joints,
- Diamond grinding untuk memperbaiki kekasaran
permukaan,
- Stabilization of slabs by filling subgrade voids,
- Concrete overlay.
Apabila kerusakan sangat eksesif, maka satu-satunya opsi
selain AC overlay adalah rekonstruksi (removal).
46

Persyaratan utama permukaan yang akan di-overlay AC harus


rata, padat dan seragam (uniform).

Tack Coating diperlukan untuk permukaan yang akan di-overlay.

Penyiapan permukaan beton yang akan di-overlay AC


meliputi:
- Cracking and Seating, dimaksudkan untuk memperpendek
jarak retak dengan membuat retak-retak baru. Cracking dilakukan
untuk perkerasan beton tanpa tulangan, dengan
menggunakan special drop hammer sedangkan seating dengan
mesin gilas konvensional.
- Breaking and Seating, prosesnya mirip dengan cracking and
seating tetapi dilakukan terhadap perkerasan beton dengan
tulangan. Diperlukan effort yang lebih besar karena
dimaksudkan juga menghancurkan bonding antara beton dengan
tulangannya. Peralatan yang digunakan sama seperti untuk
cracking and seating.
- Rubblizing, adalah penghancuran perkerasan beton semen
secara total sehingga terbentuk pecahan-pecahan berukuran 25
75 cm, kemudian dipadatkan dengan mesin gilas khusus, misalnya
Z roller. Peralatan yang digunakan untuk rubblizing adalah
multiple-head breaker atau resonant breaker.
- Undersealing, untuk mengisi rongga yang terjadi di bawah
perkerasan beton semen. Dilakukan dengan memompakan aspal
cair melalui lobang bor pada pelat beton.
47

- Sawcut and Seal, dilakukan apabila perkerasan beton


lama masih baik secara struktural, dan dimaksudkan untuk
menghindari terjadinya kerusakan akibat reflection crack
pada joint.
Dalam hal ini cara-cara perbaikan seperti diuraikan di atas
tidak diperlukan.
Yang dilakukan adalah dengan menggergaji permukaan
aspal di atas joint (melintang maupun memanjang) kemudian
mengisinya dengan sealant (rubberized asphalt), yang harus
dilaksanakan sebelum jalan dibuka untuk lalu lintas.

48

49

Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) adalah


konstruksi perkerasan jalan beton semen
portland
Sebagai lapis pondasi maupun lapis aus
seluruhnya terdiri dari plat beton dengan
mutu tinggi
Lapisan dasar tanah harus dengan CBR
6%
Antara permukaan tanah dan plat beton,
dipasang lantai kerja dengan mutu yang
lebih rendah
Ukuran ketebalan plat beton dan lantai
kerja sesuai dengan gambar dan
spesifikasi
50

Umumnya tebal plat beton berkisar antara


25 cm 30 cm. Tebal lantai kerja 10 cm.
Mutu beton untuk plat beton minimal K350, mutu beton lantai kerja K-100
Untuk pekerjaan plat beton dan lantai
kerja selain telah ditentukan dalam
spesifikasi, semua harus mengikuti
Peraturan Beton Indonesia (PBI) tahun
1971 serta SNI-SNI yang berhubungan
dengan pekerjaan beton, seperti
pengujian kuat beton dan lain sebagainya

51

Badan jalan harus


diperiksa
kesesuaiannya
dengan bentuk
elevasi yang
diperlihatkan
dalam gambar
Badan jalan harus
dalam kondisi
halus dan padat
pada saat beton
ditempatkan/di
Cor
Bagian-bagian
acuan harus
disambung
menjadi satu
dengan kokoh
dan tidak boleh
bergerak
52

Acuan-acuan harus
bersih dan diminyaki
setiap hendak
dipergunakan
Pembongkaran acuan
dilakukan setelah
beton mengeras,
sekurang-kurangnya
12 jam setelah di cor
Beton dihampar dan
dipadatkan dengan
alat penggetar
Tidak boleh ada
segregasi dalam
beton
53

Pembesian termasuk
penempatan dowel
bar, tie bar dan
penulangan baja
pada pelaksanaan
perkerasan kaku.

54

Dowel bar bisa dipasang sebelum pengecoran


dgn menggunakan dowel basket, atau setelah
penghamparan beton menggunakan pemasang
dowel bar otomatis, pemasangan ini merupakan
masalah kritis untuk mendapatkan joint load
transfer, pemasangan yg miring, terlalu dangkal
atau berkarat dapat menyebabkan kerusakan
patah, retak pada sambungan.
55

Dowel bar harus bebas


dari karat, dan
diproteksi dgn
memakai epoxy
coating atau stainless
stell cladding
Dowel harus dilumasi
dengan gemuk atau oli
untuk mencegah
pelekatan dgn beton
Bila terlalu banyak
gemuk maka akan
terjadi rongga yang
bisa dimasuki air.

56

Tulangan baja harus


ditempatkan sesuai
gambar dan setelah
pemadatan beton
tebal selimut beton
adalah 60 10 mm
dari permukaan
akhir plat.
Permukaan
perkerasan beton
yang akan
digunakan sebagai
permukaan jalan
harus diberi alur
(groove)
Toleransi kerataan
pada alinyemen
horizontal dalam 4m
panjang mendatar
permukaan slab
beton 10 mm
57

Penggergajian
dilakukan
menggunakan
piringan yg
berputar baik
dgn intan
ataupun
abrasive
blades.

Penggergajian
dgn intan akan
menghasilkan
panas yg tinggi
sehingga
piringan harus
diberi air
supaya tidak
lumer.
58

Abrasive blade umumnya menggunakan serat yyg


diperkuat dgn silicone carbide atau carborundum,
jenis ini tidak memerlukan air pendingin, tetapi
kemampuannya lebih rendah dibanding dgn intan.
Peralatan gergaji meliputi, gergaji kecil 6-13 kW
digunakan untuk penggergajian secara kering,
gergaji medium 15-28 kW digunakan penggergajian
secara basah, gergaji besar 50-55 kW digunakan
biasanya untuk arah memanjang, span saws 50-150
kW untuk gergaji yg menghasilkan produksi tinggi.
59

Sambungansambungan
harus dibuat
sesuai tipe,
ukuran dan
pada lokasi
seperti yang
ditentukan
dalam gambar

Semua
sambungan
harus dilindungi
agar tidak
kemasukan
material yang
tidak
dikehendaki
dan kemudian
ditutup dengan
bahan pengisi
60

Pengujian Kepadatan dengan Metode Sand Cone

61

62

Lean concrete sudah dipasang di atas subgrade yang sudah siap


63

Beton dituangkan dengan dumptruck


64

Pengecoran beton plat


65

Cat anti karat


Gemuk

Besi dowel sedang disiapkan, tapi salah karena dowel dilas di kedua sisi.
66

Penyiapan benda uji untuk Flexural


Strength Test dan Compression Test
67

Pelaksanaan Slump Test.


68

Alat penghampar beton mekanis


(dengan fixed form)

69

Alat penghampar beton mekanis (dengan slip form)

70

71

Texturing / Curing Machine Gomaco Type T/C-400B

72

73

Pembuatan grooving (texturing) secara manual


74

Penyemprotan curing compound secara manual


75

Hasil texturing secara manual


76

Curing
menggunakan
yangsecara
selalu manual
dibasahi air.
Penyemprotan
curingburlap
compound
77

Saw cutting harus dilakukan antara jam ke-4 dan jam ke-24.
78

Pengecoran material rubberized


asphalt untuk joint sealant

Cara pemanasan yang salah


79

Penyisipan pre-compressed asphalt


impregnated polyurethane

80

Plat beton rigid pavement yang sudah jadi masih dalam masa curing
81

Core Drill sebagai salah satu metode pengujian Quality Control.


82

Paving the way to Heaven


83