Anda di halaman 1dari 6

PERANG BANTEN

TERHADAP BELANDA
NADYA NAZNEEN
NABILAH ANUGRAH
RIFA AZIZI

Perlawanan rakyat Banten terhadap VOC


dibangkitkan oleh Abdul Fatah (Sultan Ageng
Tirtayasa) dan puteranya bernama Pangeran
Purbaya (Sultan Haji). Sultan Ageng Tirtayasa
dengan tegas menolak segala bentuk aturan
monopoli VOC dan berusaha mengusir VOC dari
Batavia. Pada tahun 1659, perlawanan rakyat
Banten mengalami kegagalan, yaitu ditandai
oleh keberhasilan Belanda dalam memaksa
Sultan Ageng Tirtayasa untuk menandatangani
perjanjian monopoli perdagangan.

Pada tahun 1683, VOC menerapkan politik adu domba

(devide et impera) antara Sultan Ageng Tirtayasa


dengan puteranya yang bernama Sultan Haji,
sehingga terjadilah perselisihan antara ayah dan anak,
yang pada akhirnya dapat mempersempit wilayah
serta memperlemah posisi Kerajaan Banten. Sultan
Haji yang dibantu oleh VOC dapat mengalahkan Sultan
Ageng Tirtayasa. Kemenangan Sultan Haji atas
bantuan VOC tersebut menghasilkan kompensasi
dalam penandatanganan perjanjian dengan kompeni.

Perjanjian tersebut menandakan perlawanan rakyat

Banten terhadap VOC dapat dipadamkan, bahkan


Banten dapat dikuasai oleh VOC. Pertikaian keluarga di
Kerajaan Banten menunjukkan bahwa mudahnya
rakyat Banten untuk diadu domba oleh VOC.

Pada tahun 1750, terjadi perlawanan rakyat


Banten terhadap Sultan Haji (yang menjadi raja
setelah menggantikan Sultan Ageng Tirtayasa),
atas tindakan Sultan Haji (rajanya) yang
sewenang-wenang terhadap rakyatnya sendiri.
Perlawanan rakyat Banten ini dapat dipadamkan
oleh Sultan Haji atas bantuan VOC. Sebagai
imbalan jasa, VOC diberi hak untuk memonopoli
perdagangan di seluruh wilayah Banten dan
Sumatera Selatan. emudian Sultan Haji mengirim
surat kepada ayahnya agar datang ke Istana, yang
curiga memenuhi undangan puteranya.

Tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng tiba di Istana

dan diterima dengan baik, tetapi kemudian ditangkap


dan dibawa ke Batavia. Tahun 1695 Sultan Ageng
Tirtayasa wafat. Setelah Sultan Ageng wafat, sisasisa tentara Banten tetap mengadakan perlawanan.

Setelah Kesultanan Banten dihapus oleh Belanda,

perjuangan melawan penjajah dilanjutkan oleh rakyat


Banten yang dipimpin oleh ulama dengan
menggelorakan semangat perang sabil. Keadaan ini
berlangsung sampai Negara Republik Indonesia
diproklamasikan kemerdekaannya