Anda di halaman 1dari 60

INTERVENSI

PROGRAM GIZI
Lucy Widasari

INTERVENSI
PROGRAM GIZI di
Rumah Sakit

Gambaran Hospital Malnutrition di RS


Disiplin

Negara

Jumlah
ps

Prevalen
ce

Penyakit
dalam

Brazil

4000

48%

Bedah torak

USA

2448

39%

Multidisiplin

Amerika
Latin

9348

50%

850

20%

P.Dlm
Bedah

& UK

Multidisiplin

Denmark

750

22%

Multidisiplin

German

1885

27.4%

Multidisiplin

Argentina

1000

47 %

Bedah
Norway
331
37%
(Sumber:Prognostic impact of disease-related
Multidisiplin
Switzerland
malnutrition.
Clinical
Nutrition and995
Metabolism31.3%

INTERVENSI
PROGRAM GIZI di
Masyarakat

PERENCANAAN GIZI
Perencanaan gizi merupakan komponen
utama dari proses perencanaan yang
terdiri dari kesatuan langkah yang
terorganisasi.
Langkah-langkah

Diagnosa
Masalah

Formulasi
Seleksi Implementas
tujuan
Model
i
spesifik
Intervensi

Evaluasi

DIAGNOSA MASALAH
Terdiri dari :

Memerlukan
informasi atau
masalah
data yang bersifat
subyektif ataupun
bersifat
objektif
2. Menetukan masalah utama
untuk dilakukan
Dalam identifikasipenilaian.
masalah perlu
diidentifikasi urutan prioritas
masalah
1. Identifikasi

KURANG GIZI

Dampak

Penyebab
langsung

Penyebab
Tidak langsung

Makan
Tidak Seimbang

Penyakit Infeksi

Tidak Cukup

Pola Asuh Anak

Persediaan Pangan

Tidak Memadai

Sanitasi danAir
Bersih/Pelayanan
Kesehatan Dasar
Tidak Memadai

,
Kurang Pendidikan
Pengetahuan
dan Keterampilan

Pokok Masalah
di Masyarakat

Kurang pemberdayaan wanita


dan keluarga ,kurang pemanfaatan
sumberdaya masyarakat

,
Pengangguran , inflasikurang
pangan dan kemiskinan

Akar Masalah
9(
nasional )

Soekirman
, Politik,
19 Agustys Krisis
2004 Ekonomi
Perkembangan Ilmu Gizi
dan Sosial
Batu Malang

Hal-hal yang harus


diperhatikan dalam
mendiagnosa masalah gizi:
Siapa yang mengalami kurang gizi?
Apa tipe kurang gizi itu?
Berapa luas kasus kurang gizi itu?
Dimana lokasi golongan sasaran?
Apakah yang menyebabkan kasus
gizi kurang?

FORMULASI TUJUAN KHUSUS


Gambaran suatu keadaan di masa yang akan
datang, yang akan diwujudkan melalui
berbagai kegiatan yang direncanakan yaitu
tujuan umum, tujuan khusus, tujuan
pelaksanaan.
Adapun
syarat-syarat tujuan adalah :

Spesifik
Measurable
Attainable
Realistic
Timely

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam


formulasi tujuan spesifik masalah gizi :

Apakah tujuan usaha perbaikan


gizi nasional dan yang mana tujuan
spesifik yang mengarah langsung
ke intervensi gizi?
Apakah tujuan-tujuannya dapat
terukur secara kuantitatif?
Berapa lamakah dampak program
gizi akan timbul?

SELEKSI MODEL INTERVENSI


Berdasarkan tujuan yang akan dicapai,
disusunlah alternatif intervensi yang akan
dilaksanakan. Oleh karena itu, perlu untuk
dipilih interfensi yang paling sesuai
dengan
tujuan yang akan dicapai
Syarat-syarat dalam memilih seleksi model
intervensi :
a. Relevan
b. kelayakan

e. Mudah dalam pencapai


target
f. Keektifan biaya yang
dikeluarkan

c. Terintegrasi dengan program yang


g. Mudah dimonitor dan
telah ada
dievaluasi
d. Efektif
h. Berkelanjutan

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam


seleksi model intervensi :
Tipe intervensi apa yang paling efektif
dapat memecahkan masalah?
Bagaimana rencana intervensi disusun
untuk kondisi suatu daerah?
Barapa biaya intervensi Gizi?
Bagaimana intervensi dapat saling
menunjang dengan intervensi lain?
Dapatkah intervensi gizi yang spesifik
menjadi
bagian
luar dari
kegiatan
pembangunan?
kebijakan
program
Dapatkah
pembangunan
berorientasi
terhadap
perbaikan konsumsi pangan golongan
sasaran yang membutuhkan?

IMPLEMENTASI
Implementasi adalah pelaksanaan dari
suatu program yang sesuai dengan
perencanaan yang telah digariskan.
Dimana implementasi ini berkaitan dengan
lembaga-lembaga yang harus menangani
Hal-hal
yang harus diperhatikan
dan
melaksanakanya
. dalam
Implementasi program Gizi :
Siapakah lembaga organisasi atau
individu yang bertanggung jawab
terhadap intervensi?/
Bagaimana hubungan antar dan
interorganisasi atau lembaga?
Dalam bentuk dan mekanisme apa
alokasi pembiayaan?
Kapan waktu yang terbaik untuk
pelaksanaan intervensi?

Pelaksanaan Surveilans Gizi


No

Jenis Kegiatan
Sasaran
Pemantauan pertumbuhan di
posyandu
Balita
Gizi Buruk

Pemantauan status gizi


Balita
Gangguan Pertumbuhan
Anak Usia Sekolah
Anak SD
Rumah
Pemantauan konsumsi gizi Tangga
Orang
Pengukuran IMT
dewasa
perkotaan
Pemantauan konsumsi
Desa,
garam beryodium
Kabupaten

Survey GAKY

1
2
3
4
5
6

Kecamatan

Frekuensi
Setiap
bulan
Rutin
1x/tahun
5 tahun
sekali
3 tahun
sekali
3 tahun
sekali
6 bulan
sekali
5 tahun
sekali

Berbagai sektor pembangunan diluar


kesehatan yang bekerjasama dengan program
kesehatan/puskesmas, seperti upaya pada sektor
Pertanian : % penduduk yg menikmati pangan yg
difortifikasi
Agama : Pendidikan persiapan perkawinan sehat
ditinjau dari usia, kesehatan & budaya
Pendidikan : meningatnya materi KIE, meningkatnya
pengetahuan masyarakat thd PHBS
Sosial : %penduduk miskin yg tercakup program
kesehatan, % puskesmas yg memberikan pelayanan
kesehatan dasar bagi penduduk miskin
Pekerjaan umum : pembangunan infrastruktur
pedesaan termasuk penyediaan air bersih & sanitasi
lingkungan, % cakupan akses thd air bersih, %
sanitasi yg layak

EVALUASI
Evaluasi merupakan salah satu proses
pengamatan hasil dariprogram kegiatan yang
telah dilaksanakan, apakah sesuai dengan
yang diharapkan atau tidak. Evaluasi harus
mencakup hasil yang baik bagi program atau
sebaliknya hal yang buruk bagi program
Jenis- jenis evaluasi ditinjau dari segi
dinamik terdiri dari dua macam cara:
Evaluasi secara terus- menerus
atau kontinu untuk kepentingan
administratif.
Evaluasi secara periodik yang lebih
terarah khusus untuk perbaikan
perencanaan.

Hal-hal yang harus diperhatikan


dalam Evaluasi program Gizi :
Apakah manfaat dari evaluasi?
Untuk siapa?
Apa kebutuhan spesifik dari pemakai?
Cara pengumpulan, pengolahan, dan analisis
data?
Sampai sejauh mana intervensi dapat
berhasil?
Apa pengaruhnya secara fisik dan tingkah
laku golongan sasaran?
Apa penyebab kegagalan?

Langkah
intervensi
1. Mengidentifikasi
permasalahan penting yang
berkaitan dengan gizi
2. Menetapkan tujuan umum
(goal)
3. Mendefinisikan tujuan khusus
(objektif)
4. Menetapkan target

5. Menyusun program

Langkah
intervensi
6. Mengimplementasikan
program
7. Mengevaluasi program

1. Mengenali problem terkait gizi


yang penting
Permasalahan kesehatan masyarakat
apa yang penting di wilayah anda?
Mengukur kesehatan dan kualitas hidup,
morbiditas dan mortalitas, insidens dan
prevalens
Kelompok spesifik yang terkena : usia,
kelompok sos-ek, wilayah geografik,
kelompok etnik
Tinjauan berbasis evidens thd
keterkaitan gizi dan permasalahan

2. Menetapkan tujuan umum


Menginformasikan dan mengarahkan
kebijakan pemerintah pada level tertinggi
Mrp pernyataan luas yg digunakan untuk
mendapatkan dukungan fiskal dan
kekuatan politis bagi pencapaian tujuan
umum
Harus jelas, ringkas dan terintegrasi
kedalam keseluruhan kebijakan
pemerintah ttg kesehatan dan persoalan
yg relevan lainnya

Contoh
Meningkatkan kualitas gizi ibu
hamil dengan cara meningkatkan
kesadaran, pengetahuan dan
mengubah perilaku ibu hamil dan
keluarganya, sehingga mengurangi
prevalensi anemia gizi ibu hamil dan
peningkatan BB selama kehamilan
dapat bertambah secara normal.

3. Menetapkan tujuan khusus


Berupa apa? Dari pernyataan yang
tertuang dalam tujuan umum
1. Melanjutkan dan meningkatkan
program suplementasi besi ibu hamil.

2. Melakukan binaan terhadap


keluarga ibu hamil melalui
pemberdayaan keluarga, khususnya :

a. Bidang gizi dan kesehatan keluarga


Memotivasi ibu hamil untuk melaksanakan pemeriksaan antenatal dan
melanjutkan program pemberian suplementasi besi bagi ibu hamil

b. Bidang pendidikan
Meningkatkan pengetahuan tentang bahan makanan yang mengandung
zat gizi, terutama makanan yang mengandung zat besi.
c. Bidang ekonomi keluarga
Meningkatkan ekonomi keluarga dengan memanfaatkan pekarangan
dengan tanaman gizi atau memelihara ternak ayam, bebek, dsbnya
Memberi ketrampilan untuk usaha kepada orang tua balita yang dibina,
misalnya cara membuat asinan mangga, cara membuat telur asin
Memberi bantuan modal usaha dan mengajarkan manajemen usaha
sederhana.

d. Bidang lingkungan
Membentuk norma PHBS ( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ) terutama
penggunaan air bersih untuk rumah tangga, MCK ( Mandi Cuci Kakus ),
pembuangan sampah dan limbah air.

4. Menetapkan target
Target harus spesifik agar mudah
dievaluasi

5. Menyusun program
Mengidentifikasi faktor penentu kurangnya
pengetahuan/sikap/perilaku?
Mengkaji secara spesifik faktor penentu diatas
contoh : perilakupredisposisi (pemicu?)
reinforcing (penguatnya?) dan enabling
(pendorongnya?)
Mengkaji risiko-manfaat atau kemungkinan dampak
Mengkaji kebutuhan/kendala dalam masyarakat
Mengidentifikasi model teori yg tepat
Mengidentifikasi dan mengkaji pilihan;memutuskan
apa yang akan dilakukan
Memilih indikator untuk evaluasi

6. Mengimplementasikan
program
Pertimbangkan segala sesuatu yg harus
dipersiapakan untuk melaksanakan
program
Singkirkan semua kendalaagar
pelaksanaan program dapat efektif
Mengumpulkan seluruh pihak
terkait/berbagai pihak yg berkepentingan
untuk menyepakati segala sesuatunya
Menyusun biaya
Membuat time table

Faktor2 yang harus dipertimbangkan


sebelum penerapan suatu program dimulai

Pertimbangkan lingkungan sosial serta


politik dan perubahannya
Mendefinisikan dan merevisi tugas dan
aktivitas yg spesifik
Menentukan sumber daya dan
melaporkan hal-hal yg merugikan
Mengkoordinasikan penerapan
Mempelajari pengalaman orang lain
Mempertimbangkan efikasi dan
efektivitas

7. Evaluasi
Tujuan khusus evaluasi program adalah
memberikan informasi yg dapat digunakan
untuk menilai tercapai tidaknya tujuan
umum
Jika tidak tercapai evaluasi input-proses
(formatif/kinerja)-output (luaran)-outcome
(dampak)
Contoh :
Apakah program tidak terlaksana? Penyebab?
Apakah target/cakupan tidak terpenuhi?
Penyebab?

GLOBAL MOVEMENT OF
SUN (SCALING UP
NUTRITION)

31

SUN MOVEMENT
SUN Movement merupakan respon negaranegara di dunia terhadap kondisi status gizi
di sebagian besar negara berkembang dan akibat
kemajuan yang tidak merata dalam pencapaian
MDGs khususnya pada Tujuan I C yaitu
menurunkan
hingga
setengahnya
proporsi
penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun
waktu 1990-2015.
Gerakan ini diinisiasi oleh PBB dibawah koordinasi
Sekretaris Jenderal PBB, merupakan upaya
global dari berbagai negara dalam rangka
memperkuat komitmen dan rencana aksi
percepatan perbaikan gizi.
32

SUN MOVEMENT (2)


SUN Movement bukanlah inisiatif
baru maupun pendanaan baru,
tetapi
merupakan
peningkatan
efektivitas dari berbagai inisiatif dan
program/kegiatan
yang
sudah
ada
melalui dukungan dari kepepimpinan
nasional,
penetapan
prioritas,
dan
harmonisasi program.

Dilakukan
melalui
upaya
KOORDINASI
dan
dukungan
teknis, advokasi tingkat tinggi,
serta kemitraan.

33

SUN MOVEMENT (3)


Menyatukan komponen pemerintah,

masyarakat madani, donor, PBB, swasta


dan peneliti/akademisi dalam upaya
perbaikan gizi secara kolektif.

43 member
countries

SUN MOVEMENT (4)


SUN mendukung upaya suatu negara untuk
melakukan
percepatan
perbaikan
gizi
dan
mengadvokasi adanya harmonisasi dan penyelarasan
keuangan.
SUN menyatukan berbagai stakeholder.
SUN mempromosikan intervensi gizi langsung
(spesifik) dan tidak langsung (sensitif) di
berbagai sektor seperti pertanian, air bersih dan
sanitasi, pendidikan, sosial, dan berbagai program
pembangunan lainnya.
SUN memastikan adanya komponen pemberdayaan
perempuan dalam berbagai kebijakan dan kegiatan
SUN.
35

FOKUS SUN MOVEMENT


Penanganan gizi sejak 1.000
hari (dari 270 hari masa
kehamilan hingga anak usia 2
tahun (730 hari))
Mendukung perbaikan gizi
dan menjaring keikutsertaan
yang lebih luas dari berbagai
stakeholder,
baik
dalam
tanggungjawab
pelaksanaan

36

PERPRES NO 42/2013
tentang
GARAKAN NASIONAL
PERCEPATAN
PERBAIKAN GIZI
37

INDONESIA SEBAGAI BAGIAN SUN


MOVEMENT
Indonesia telah menjadi bagian dari SUN Movement
melalui surat keikutsertaan dari Menteri Kesehatan
kepada Sekjen PBB pada bulan Desember 2011.
Saat ini jumlah negara yang bergabung dalam
Gerakan SUN sebanyak 43 negara, termasuk
Indonesia.
Sekjen PBB telah menunjuk Deputi Bidang SDM dan
Kebudayaan Bappenas menjadi anggota Lead Group
Sebagai anggota Lead Group Global SUN
SUN Movement.
Movement, Indonesia berkewajiban
melaporkan perkembangan Gerakan 1000 HPK
kepada Sekretariat SUN Movement di PBB,
yang dilakukan melalui teleconference secara
berkala dan pelaksanaan annual meeting di
Kantor PBB New York.
38

GERAKAN NASIONAL
PERCEPATAN PERBAIKAN GIZI
Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi
merupakan kebijakan pemerintah dengan tujuan
untuk percepatan perbaikan gizi masyarakat
prioritas pada 1000 hari pertama kehidupan.
Ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres)
No. 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional
Percepatan Perbaikan Gizi.
Gerakan ini merupakan upaya terpadu yang
Pemerintah dan Pemerintah Daerah,
melibatkan:
LSM,
Organisasi profesi,
Akademisi,
Media massa,
Dunia usaha,

39

HAL-HAL YANG DIATUR DALAM PERPRES


NOMOR 42 TAHUN 2013

Strategi, sasaran, dan kegiatan;


Struktur organisasi;
Pelaksanaan
Gerakan
Nasional
Percepatan Perbaikan Gizi dalam
rangka 1000 HPK di tingkat daerah;
serta
Pemantauan, evaluasi, pelaporan,
dan pendanaan.
40

GUGUS TUGAS
Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan
Gizi dikoordinasikan oleh Gugus Tugas yang
terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis.
Ketua Gugus Tugas sekaligus Ketua Tim
Pengarah adalah Menteri Koordinator Bidang
Kesejahteraan Rakyat
Wakil Ketua I yaitu Menteri Dalam Negeri, dan
Wakil Ketua II adalah Menteri Kesehatan,
Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas
menjabat sebagai Sekretaris Tim Pengarah
sekaligus Ketua Tim Teknis.
41

GUGUS TUGAS (2)


I. Tingkat Nasional
Anggota Gugus Tugas terdiri dari Menteri dari Kementerian
terkait.
Gugus Tugas berkedudukan di bawah dan bertanggung
jawab kepada Presiden, dan dalam melaksanakan tugastugasnya Gugus Tugas dibantu oleh Kelompok Kerja yang
terdiri atas unsur pemerintah, masyarakat, akademisi, praktisi,
dan pelaku usaha.
II. Tingkat Daerah
Anggota Gugus Tugas daerah terdiri dari unsur yang ada di
daerah, mengacu pada Peraturan Presiden No. 42 tahun 2013.
Pemerintah
Daerah
Provinsi,
Kabupaten
dan
Kota
mengintegrasikan Gugus Tugas 1000 HPK ke dalam struktur
koordinatif fungsional yang ada di daerah, misalnya Badan
Ketahanan Pangan dan Gizi.
Gugus Tugas di tingkat daerah menyusun rencana dan program
kerja dengan mengacu pada kebijakan nasional 1000 HPK yang
42

HAL-HAL YANG TELAH


DILAKUKAN
1

Penyusunan
Dokumen
1. Kerangka Kebijakan
Gerakan Nasional
Percepatan Perbaikan
Gizi Dalam Rangka 1000
Hari Pertama Kehidupan
(Gerakan 1000 HPK)

2.
Pedoman
Perencanaan
Program
Gerakan
1000 HPK

3.
Rencana
Aksi
Nasional Pangan dan
Gizi

2 Soft

Launching

Soft launching Gerakan 1000


HPK oleh Menko Kesra tanggal
19 Sept. 2012

Advokasi dan
Sosialisasi

Pelaksanaan kegiatan advokasi


dan sosialisasi melalui berbagai
forum dan workshop baik di
tingkat pusat maupun daerah.
43

HAL-HAL YANG TELAH


DILAKUKAN (2)
4

Pencanangan Gerakan Nasional Percepatan


Perbaikan Gizi
Pencanangan resmi Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan

Gizi
oleh Presiden RI pada tanggal 31 Oktober 2013 di Padang, Sumatera
Barat bersamaan dengan puncak acara peringatan Hari Pangan Sedunia.
Tema acara adalah Optimalisasi Sumberdaya Lokal Melalui
Diversifikasi Pangan Menuju Kemandirian Pangan dan Perbaikan
Gizi Masyarakat.
Dalam
arahan Presiden RI disebutkan bahwa
diperlukan:
(1) reorientasi fokus penanganan masalah
gizi pada intervensi langsung yang
bersifat spesifik di sektor kesehatan dan gizi
dan intervensi yang bersifat sensitif di
sektor terkait lainnya (di luar kesehatan);
serta
(2) komitmen kuat dari berbagai pihak, baik
dari pemerintah dan pemerintah daerah,
lembaga
sosial
kemasyarakatan
dan
keagamaan, akademisi, organisasi profesi,
media massa, dunia usaha dan mitra

44

Beberapa Menu
Intervensi Spesifik dan
Sensitif

45

JENIS INTERVENSI DALAM GERAKAN 1000 H


INTERVENSI GIZI SPESIFIK
Upaya-upaya untuk

mencegah dan mengurangi


gangguan secara
langsung.
Kegiatan ini pada umumnya

dilakukan oleh sektor


kesehatan.
Kegiatannya antara lain

berupa imunisasi, PMT ibu


hamil dan balita, monitoring
pertumbuhan balita di
Posyandu.
Sasaran : khusus kelompok

1.000 HPK (Ibu Hamil, Ibu


Menyusui, dan Anak 0-23
bulan).
Kontribusi: 30%

INTERVENSI GIZI SENSITIF


Upaya-upaya untuk mencegah
dan mengurangi gangguan
secara tidak langsung.
Berbagai kegiatan
pembangunan pada umumnya
non-kesehatan.
Kegiatannya antara lain
penyediaan air bersih, kegiatan
penanggulangan kemiskinan,
dan kesetaraan gender.
Sasaran: masyarakat umum,
tidak khusus untuk 1000 HPK.
Kontribusi: 70%

46

INTERVENSI GIZI SPESIFIK


I.

Ibu Hamil
Suplementasi besi folat
PMT pada ibu hamil Kurang
Energi Kalori (KEK)
Penanggulangan
kecacingan
Suplemen kalsium
Pemberian kelambu dan
pengobatan bagi ibu hamil
yang positif malaria
II. Ibu Menyusui
Promosi menyusui
Komunikasi perubahan
perilaku untuk memperbaiki
pemberian makanan

III. Bayi 0-23 Bulan


Suplementasi zink
Zink untuk
manajemen diare
Suplemen vitamin A
Pemberian garam
iodium
Pencegahan kurang
gizi akut
Pemberian obat
cacing
Fortifikasi besi dan
kegiatan
suplementasi
Pemberian
47
kelambu

INTERVENSI GIZI SENSITIF


No

Kegiatan

Penyediaan air bersih dan sanitasi

Ketahanan pangan dan gizi

Keluarga Berencana

Jaminan Kesehatan Masyarakat

Perlindungan Sosial, termasuk PNPM

Fortifikasi Pangan

Pendidikan gizi masyarakat, termasuk PAUD

Intervensi untuk remaja perempuan, termasuk


pemberdayaan perempuan

Pengentasan Kemiskinan, termasuk BLT bersyarat/PKH


48

PERAN PEMANGKU KEPENTINGAN

GERAKAN
NASIONAL
1000 HPK

49

KERANGKA PIKIR PENYEBAB,


PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN
MASALAH GIZI PADA 1000 HPK
Penanganan masalah gizi merupakan upaya lintas sektor
untuk mengatasi penyebab langsung, tidak langsung, dan
akar masalah melalui upaya intervensi spesifik dan intervensi
sensitif

Penanganan masalah gizi merupakan upaya lintas sektor


untuk mengatasi penyebab langsung, tidak langsung, dan
50
akar masalah melalui upaya intervensi spesifik dan intervensi

Perencanaan Program Gizi Ibu Hamil


PROPOSAL PERENCANAAN
PROGRAM GIZI
Kecamatan Sukamaju Kabupaten
Sukareja
Propinsi Pulau Awa

Latar Belakang Informasi


1. Keadaan Geografis :
Lokasi 5 desa di kecamatan Sukamaju di daerah
pantai, dataran rendah dan perbukitan yang
kurang subur
Semua hasil perikanan dan pertanian yang
merupakan sumber pendapatan dikerjakan
secara tradisional
2. Keadaan Demografis :
Di Kecamatan Sukamaju angka buta huruf
sebesar 30 %
Air untuk keperluan rumah tangga berasal dari
sumur, tapi bila musim kemarau mencari sumber
air yang lain, misalnya belik atau sungai, karena
sumurnya tidak ada air.

3. Perilaku yang mempengaruhi derajat


kesehatan :
Pembuangan sampah dilakukan dengan cara dibakar
atau dibuang kelaut / sungai
BAB dilakukan dengan cara dibuang kelaut / sungai
4. Data fasilitas kesehatan di kecamatan
Sukamaju didapatkan :
1 Rumah sakit Negeri
1 Rumah sakit swasta
Puskesmas terdapat di kecamatan, keadaan jalan
rusak
5 Posyandu / 1 desa, terdapat 5 desa, sehingga
jumlah posyandu 25
5 kader / posyandu, terdapat 25 posyandu,
keseluruhan terdapat 125 kader, dimana 25 %
yaitu sebanyak 31 kader buta huruf

5. Program Posyandu tidak berjalan dengan baik :


Sebanyak 70 % anak balita tidak ditimbang secara rutin di
posyandu
6. Data kesehatan di kecamatan Sukamaju didapatkan :
Anemia wanita usia subur 40 %
Anemia wanita hamil 50 % dengan peningkatan berat badan
selama hamil sebesar 7 kg
Anak balita kurang gizi sebesar 40 %
7. Program yang sudah ada di wilayah kecamatan
Sukamaju adalah :
Pemberian suplementasi besi pada ibu hamil
Pembagian susu pada balita, tetapi diminum sekeluarga
Organisasi yang ada di wilayah kecamatan Sukamaju adalah :
Organisasi wanita
Kelompok Tani
Kelompok Nelayan

HASIL KEGIATAN

PERBANDINGAN SEBELUM DAN SETELAH


KEGIATAN DI KECAMATAN PATTTINGALLOANG
NO URAIAN

2010
SEBELUM
KEGIATAN

2011
SEBELUM
KEGIATAN

2012
SETELAH
KEGIATAN

JUMLAH PENDUDUK
MISKIN

TDK TAHU

TIDAK TAHU

10.503

JUMLAH PENDUDUK

24.316

24.362

24.387

JUMLAH KEPALA
KELUARGA

3.961

4.016

4.104

JUMLAH BAYI

310

318

323

JUMLAH BALITA

1309

1353

1346

JUMLAH BUMIL

TDK TAHU

TIDAK TAHU

457
(DIDATA)

JUMLAH BULIN

TDK TAHU

TIDAK TAHU

417
(DIDATA)

KEMATIAN IBU

HASIL SEMENTARA
N
O

INDIKATOR

TARGET (%)

1
2

KEMATIAN IBU
KEMATIAN BAYI DAN
BALITA
ANC : K1 - K4
DETEKSI BUMIL RISTI
PENCEGAHAAN ANEMI
BUMIL
PERSALINAN OLEH
NAKES

Tidak ada
Tidak ada

3
4
5
6

CAKUPAN IMUNISASI

K1 = 100, K4 = 100
Seluruh terdeteksi
Seluruh mendapat tablet
Fe
Semua diitolong oleh
nakes atau dukun
didampingi nakes,
gunakan jampersal
Cakupan TT lengkap

HASIL SEMENTARA
NO

INDIKATOR

TARGET (%)

CAKUPAN KN (KUNJUNGAN
NEONATAL)

Semua Kn lengkap

10

SKDN ( S/K) (K/D) (D/N)

Semua memiliki KMS,


seluruhnya ditimbang teratur,
seluruhnya naik timbangan
(tetap digaris hijau KMS)

11

GIZI BURUK (BGM)

Gizi kurang 5 %, teratasi, BGM


tdk ada.

12

FREKW KESAKITAN (DIARE,


ISPA DLL)

Semua penyakit teratasi

13

IMUNISASI BAYI

Cakupan 100 % (sesuai umur).

14

CAKUPAN KB PASCA
PERSALINAN

IUD 45 % , Susuk 10 %,
suntikan sekitar 30 % ,. Pil 25
%

HASIL SEMENTARA
NO

INDIKATOR

TARGET (%)

CAKUPAN KN (KUNJUNGAN
NEONATAL)

Semua Kn lengkap

10

SKDN ( S/K) (K/D) (D/N)

Semua memiliki KMS,


seluruhnya ditimbang teratur,
seluruhnya naik timbangan
(tetap digaris hijau KMS)

11

GIZI BURUK (BGM)

Gizi kurang 5 %, teratasi, BGM


tdk ada.

12

FREKW KESAKITAN (DIARE,


ISPA DLL)

Semua penyakit teratasi

13

IMUNISASI BAYI

Cakupan 100 % (sesuai umur).

14

CAKUPAN KB (IUD) PASCA


PERSALINAN

IUD 30 % , suntikan dan Pil


sekitar 40 % , masih 30 % tidak
ber KB

KASIH

TERIMA
NEXT