Anda di halaman 1dari 34

REFERAT

SNAKE BITE
Muhamad Andanu Yunus
Nim : 030.10.185
Pembimbing :
dr.Toni A, SpB

LATAR BELAKANG
Kasus Snake Bite atau kasus gigitan ular merupakan salah satu
kasus gawat darurat yang terkait lingkungan, pekerjaan dan
musim dan cukup banyak terjadi di berbagai belahan dunia
khususnya di daerah pedesaan.
Insidens gigitan ular ini terutama yang menyebabkan kematian
masih cukup tinggi di dunia. Pada tahun 1998 angka kematian
diperkirakan sekitar 125.000 dari 5 juta kasus per tahun termasuk
100.000 kematian dari 2 juta kasus di Asia dengan jumlah
kecacatan menetap yang tidak terhitung, karena masih sulitnya
ketersediaan dan akses Serum Anti Bisa Ular (SABU).
Di Indonesia sendiri dilaporkan sekitar 20 kasus kematian dari
ribuan kasus gigitan ular per tahun. 1

Luka
cidera yang disebabkan oleh mulut
dan gigi hewan atau manusia.
Gigitan dan cakaran hewan yang
sampai merusak kulit kadang kala
dapat mengakibatkan infeksi

Luka gigitan menyebabkan


Kerusakan jaringan secara umum,
Perdarahan serius bila pembuluh darah besar
terluka
Infeksi oleh bakteri atau patogen lainnya,
seperti rabies
Dapat mengandung racun seperti pada gigitan
ular
Awal dari peradangan

Ular yang menggigit mangsanya dapat mengeluarkan bisa.


Bisa ular adalah kumpulan dari terutama protein yang
mempunyai efek fisiologik yang luas atau bervariasi. Yang
mempengaruhi sistem multiorgan, terutama neurologik,
kardiovaskuler sistem pernapasan.4
Ciri Ular

TidakBerbisa

Berbisa

Bentuk Kepala

Bulat

Elips

Gigi Taring

Gigi kecil

2 Gigi TaringBesar

BekasGigitan

LengkungSeperti U

Terdiridari 2 Titik

Warna

Warna-Warni

Gelap

Ular Berbisa Kuat di


Indonesia
Famili
Elapidae(kobra,

Lokasi
Seluruh dunia, kecuali Eropa

Pantai perairan Asia- Pasifik

Laut)
Viperidae:
Viperonae
Crotalidae

Neurotoksik dan nekrosis (ular


cobra)

mamba, coral
snake)
Hydrophidae(Ular

Bisa

Myotoksik

Seluruh dunia kecuali


Amerika dan Asia- Pasifik
Asia dan Amerika

Vaskulotoksik

Zinc
metalloprotein
ase
haemorrhagin
s
Procoagulant
Phospholipase
A2
(lecithinasee)
Komposisi Bisa Ular

Acetylcholines
terase

Hyaluronidase

Enzim
proteolitik
bungarotoxin
and
cobrotoxin

Jenis Bisa Ular

Bisa ular yang


bersifat racun
terhadap darah
(hematotoksik)
Bisa ular yang
bersifat racun
terhadap saraf
(neurotoksik)

Patofisiologi
Gigitan
ular
berbisa

Bisa ular
Merusak sel
endotel dan
eritrosit
Permeabiltas
meningkat
- Edema
perifer
- Edema paru
- Perdarahan
- hipotensi

Blok reseptor
Ach

- Ptosis
- Disfagia
- Paresis
- Kejang
- koma

Aktivasi faktor
V,IX,X
Mengubah
fibrinogen fibrin
- Aktivasi
kaskade
koagulasi
- Consumptive
coagulopathy
- Unstable clot
formation
DIC

Menurut Schwartz (Depkes,2001) gigitan ular dapat di klasifikasikan sebagai berikut:

12

Derajat

Venerasi

Luka gigit

Nyeri

Udem/ Eritem

Tanda sistemik

+/-

<3cm/12>

+/-

3-12 cm/12 jam

II

+++

>12-25 cm/12 jam

+
Neurotoksik,
Mual, pusing, syok

III

++

+++

>25 cm/12 jam

++
Syok, petekia, ekimosis

IV

+++

+++

>ekstrimitas

++
Gangguan faal ginjal,
Koma, perdarahan

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah : Hb, Leukosit, trombosit,


kreatinin, ureum, elektrolit, waktu perdarahan,
waktu pembekuan, waktu protobin, fibrinogen,
APTT, D-dimer, uji faal hepar, golongan darah
dan uji cocok silang
Pemeriksaan urin : hematuria, glikosuria,
proteinuria (mioglobulinuria)
EKG
Foto dada

Empat pertanyaan awal


yang bermanfaat untuk
Diagnosis
1. pada bagian tubuh mana anda
terkena gigitan ular?
Dokter dapat melihat secara cepat
bukti bahwa pasien telah digigit ular
(misalnya, adanya bekas taring) serta
asal dan perluasan tanda envenomasi
lokal.

2. kapan dan pada saat apa anda terkena gigitan ular?

Perkiraan tingkat keparahan envenomasi bergantung pada


berapa lama waktu berlalu sejak pasien terkena gigitan ular.
Apabila pasien tiba di rumah sakit segera setelah terkena
gigitan ular, bisa didapatkan sebagian kecil tanda dan gejala
walaupun sejumlah besar bisa ular telah diinjeksikan. Bila
pasien digigit ular saat sedang tidur, kemungkinan ular yang
menggigit adalah Kraits (ular berbisa), bila di daerah
persawahan, kemungkinan oleh ular kobra atau russel viper
(ular berbisa), bila terjadi saat memetik buah, pit viper hijau
(ular berbisa), bila terjadi saat berenang atau saat menyebrang
sungai, kobra (air tawar), ular laut (laut atau air payau).

3. perlakuan terhadap ular yang telah


menggigit anda?
Ular yang telah menggigit pasien seringkali
langsung dibunuh dan dijauhkan dari pasien.
Apabila ular yang telah menggigit berhasil
ditemukan, sebaiknya ular tersebut dibawa
bersama pasien saat datang ke rumah sakit,
untuk memudahkan identifikasi apakah ular
tersebut berbisa atau tidak. Apabila spesies
terbukti tidak berbahaya (atau bukan ular
samasekali) pasien dapat segera ditenangkan
dan dipulangkan dari rumah sakit.

4. apa yang anda rasakan saat ini?


Pertanyaan ini dapat membawa dokter pada
analisis sistem tubuh yang terlibat. Gejala gigitan
ular yang biasa terjadi di awal adalah muntah.
Pasien yang mengalami trombositopenia atau
mengalami gangguan pembekuan darah akan
mengalami perdarahan dari luka yang telah
terjadi lama. Pasien sebaiknya ditanyakan
produksi urin serta warna urin sejak terkena
gigitan ular. Pasien yang mengeluhkan kantuk,
kelopak mata yang serasa terjatuh, pandangan
kabur atau ganda, kemungkinan menandakan
telah beredarnya neurotoksin.

Pemeriksaan Fisik
Beberapa ciri ular berbisa adalah bentuk
kelapa segitiga, ukuran gigi taring kecil, dan
pada luka bekas gigitan tedapat bekas gigi
taring.

Bekas gigitanan ular. (A) Ular tidak berbisa


tanpa bekas taring, (B) Ular berbisa dengan
bekas taring6

PERTOLONGAN PERTAMA
Jangan mencoba menghisap bisa dengan mulut dan
memotong sisi gigitan. Memotong sisi yang tergigit dapat
merusak organ yang mendasarinya, meningkatkan resiko
infeksi, dan tidak membuang racun.
Jangan gunakan es atau kompres dingin pada sisi gigitan.
Es tidak mendeaktivasi bisa dan dapat menyebabkan
radang dingin.
Jangan menggunakan kejutan listrik. Kejutan listrik tidak
efektif dan dapat menyebabkan luka bakar atau masalah
elektrik pada jantung.
Jangan gunakan alkohol. Alkohol dapat menghilangkan
sakit, tapi juga membuat pembuluh darah lokal
berdilatasi, dimana dapat meningkatkan absorpsi bisa

Jangan menggunakan turniket atau verband


yang ketat. Hal ini tidak terbukti efektif,
dapat meningkatkan kerusakan jaringan, dan
dapat menyebabkan keharusan amputasi.
Korban harus segera dibawa ke rumah sakit
secepatnya, dengan cara yang aman dan
senyaman mungkin.

Perawatan di Rumah Sakit


Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan
faal atau air steril.
Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi
menggunakan perban katun elastis dengan
lebar 10 cm, panjang 45 cm, yang dibalutkan
kuat di sekeliling bagian tubuh yang tergigit,
mulai dari ujung jari kaki sampai bagian yang
terdekat dengan gigitan

Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi


yang meliputi penatalaksanaan jalan nafas;
penatalaksanaan fungsi pernafasan; penatalaksanaan
sirkulasi; penatalaksanaan resusitasi perlu
dilaksanakan bila kondisi klinis korban berupa
hipotensi berat dan shock, shock perdarahan,
kelumpuhan saraf pernafasan, kondisi yang tiba-tiba
memburuk akibat terlepasnya penekanan perban,
hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka, serta
kerusakan ginjal dan komplikasi nekrosis loka

Pemberian suntikan Antitetanus


Pemberian Antibiotik
Antibiotik profilaksis spektrum luas
masih direkomendasikan yaitu
cephalosporin generasi tiga dengan
spektrum luas gram negatif
(Ceftriaxone) akan menekan
pertumbuhan bakteri yang
mengakibatkan infeksi sekunder.

Pemberian analgesik untuk


menghilangkan nyeri.
Jika diperlukan dapat diberikan
analgetik kuat seperti golongan
opioid : petidin dengan dosis dewasa
50-100 mg, anak-anak 1-1,5 kg/kgBB
atau morfin dengan dosis dewasa 510 mg dan anak-anak 0,03-0,05
mg/kg

Pemberian serum antibisa ular


(SABU)
Observasi

Serum Anti Bisa Ular (SABU)


Terapi anti bisa ular pertama kali diperkenalkan
oleh Albert Calmette dari Institut Pasteur di
Saigon pada 1890.8 Terdapat dua jenis antiracun
ular yaitu :
1.terbuat dari serum kuda setelah kuda diinjeksi
dengan dosis racun ular subletal.
2.Oleh FDA tahun 2000 yaitu fragmen
imunoglobulin monovalen dari domba yang
dimurnikan untuk menghindari protein antigenik.

Indikasi pemberian SABU


Adanya abnormalitas hemostatis
Secara klinis adanya perdarahan spontan,
koagulopati (dilihat dari faal hemostasis),
Tanda neurotoksis (ptosis, paralisis otot pernapasan)
Abnormalitas cardiovascular (hipotensi, syok,
aritmia, EKG abnormal)
Acute Kidney Injury (oliguria/anuria, peningkatan
serum ureum dan atau creatinin)
Hemoglobin/myoglobin-uria (ditandai dengan urin
yang berwarna coklat gelap dan adanya tanda
rhabdomyolisis yaitu nyeri otot dan hiperkalemia)

Cara pemberian SABU :


Intravena pelan (tidak lebih dari 2 ml/menit). Cara ini
memberikan keuntungan karena jika muncul reaksi alergi
dapat segera dihentikan atau ditangani.
Infus intravena dengan pengenceran Antibisa ular dengan
cairan isotonik 5-10 ml/kg dan habis dalam waktu 1 jam
Intramuskular, namun cara ini memiliki kelemahan karena
bioavailibiltasnya rendah dan sulit untuk mencapai kadar
yang diinginkan dalam darah, serta resiko hematom pada
tempat injeksi pada pasien dengan abnormalitas
hemostasis.Dipertimbangkan pemberian secara
intramuskular jika jarak ke tempat layanan kesehatan
yang lebih memadai sangat jauh atau akses intravena
sulit

Derajat Pemberian SABU


Derajat

Venerasi

Luka gigit

Nyeri

Udem/eritema

Tanda Sistemik

+/-

<3cm/12 jam

+/-

<3cm/12 jam

II

+++

>12cm-25cm/12jam

+. Neurotoksik, mual, pusing,


syok

III

++

+++

>25cm/12jam

++,syok, petekie,ekimosis

IV

+++

+++

Padasatuekstremitass

++, gangguanfaalginjal,

ecaramenyeluruh

koma, perdarahan

Dosis Pemberian SABU


Derajat parrish

SABU (serum antibisa ular)

0-1

Tidak perlu

5-20 cc

3-4

40-100 cc

Apabila Terjadi Alergi


SABU ?
Diberikan epinefrin intramuskular
pada sepertiga atas paha 0,5 mg
untuk dewasa atau 0,01 mg/kg untuk
anak-anak dan dapat diulang 5-10
menit.

Daftar Pustaka
Gold, Barry S.,Richard C. Dart.Robert Barish. 2002. Review Article : Current
Concept Bites Of Venomous Snakes. N Engl J Med, Vol. 347, No. 5August 1, 2002
WHO. 2005. Guidelines for The Clinical Management of Snake Bite in The South
East Asia Region.
SMF Bedah RSUD DR. R.M. Djoelham Binjai. 2000. Gigitan Hewan. Available from :
www.scribd.com/doc/81272637/Gigitan-Hewan
SuzanneC.Smeltzer,Brenda G.Bare.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC
Dr. dr A. Yuda Handaya, SpB, FInaCS, FMAS. Snake bite (Gigitan Ular). Available
from: http://dokteryudabedah.com/snake-bite-gigitan-ular/
Sentra Informasi Keracunan Nasional Badan POM, 2012. Penatalaksanaan
Keracunan Akibat Gigitan Ular Berbisa. Available from : www.pom.id
Prihatini, Trisnaningsih, Muchdor, U.N. Rachman. 2007. Penyebaran gumpalan
dalam pembuluh darah (disseminated intravascular coagulation) akibat racun
gigitan ular. IndonesianJournal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol.
14, No. 1, November 2007.

Pertanyaan
1. Lia : hal apa yang paling ditakutkan
dari gejala snake bite? Komplikasi
yang paling menakutkan?
2. Sabrina :Observasi berapa lama ? Apa
aja? adakah golden periodenya?
3. Marpid : langkah apa yang dilakukan
jika tidak diketahui jenis ular?
4. Agre: Apa yang diharapkan dari hasil
pem.penunjang ?

Mengapa snake bite termasuk


kedalam kasus bedah ?

Anda mungkin juga menyukai