Anda di halaman 1dari 41

Referat

uveitis anterior & posterior

Oleh :
Ophelia s.
11-2009-144

Pendahuluan
Bola Mata terdiri atas dinding bola
mata dan isi bola mata, dimana
dinding bola mata terdiri atas sclera
dan kornea sedangkan isi bola mata
terdiri atas lensa, uvea, badan kaca
dan retina. Uvea merupakan lapisan
dinding kedua dari bola mata setelah
sclera dan tenon. Uvea merupakan
jaringan lunak, terdiri dari iris, badan
siliar dan koroid.

Uveitis adalah inflamasi traktus uvea (iris,


korpus siliaris, dan koroid) dengan berbagai
penyebabnya. Struktur yang berdekatan
dengan jaringan uvea yang mengalami
inflamasi biasanya juga ikut mengalami
inflamasi. Peradangan pada uvea dapat
hanya mengenai bagian depan jaringan
uvea atau iris yang disebut iritis. Bila
mengenai badan tengah disebut siklitis.
Iritis dengan siklitis disebut iridosiklitis atau
disebut juga dengan uveitis anterior dan
merupakan bentuk uveitis tersering. Dan
bila mengenai lapisan koroid disebut uveitis
posterior atau koroiditis.

definisi
Uveitis adalah inflamasi traktus uvea
(iris,korpus siliaris,dan koroid) dengan
berbagai penyebabnya. Struktur yang
berdekatan dengan jaringan uvea yang
mengalami inflamasi biasanya juga ikut
mengalami inflamasi.

EPIDEMIOLOGI

ANATOMI & FISIOLOGI

KLASIFIKASI
Secara anatomis, uveitis dibedakan atas uveitis
anterior, intermedia, posterior, dan panuveitis.
Uveitis anterior disebut juga iritis jika inflamasi
mengenai bagian iris dan iridosiklitis jika
inflamasi mengenai iris dan bagian anterior
badan siliaris. Uveitis intermedia jika peradangan
mengenai bagian posterior badan siliaris dan
bagian perifer retina. Uveitis posterior jika
peradangan mengenai uvea di belakang vitreous.
Panuveitis merupakan uveitis anterior,
intermedia, dan posterior yang terjadi secara
bersamaan. Urutan uveitis dari yang paling sering
terjadi adalah uveitis anterior, posterior,
panuveitis, dan intermedia.

KLASIFIKASI UVEITIS
ANTERIOR

DEFINISI
Uveitis anterior merupakan radang iris dan badan
siliar bagian depan atau pars plikata.
ETIOLOGI
1. Berdasarkan spesifitas penyebab:
Penyebab spesifik (infeksi)
Disebabkan oleh virus, bakteri, fungi,atau pun
parasit yang spesifik.
Penyebab non spesifik (non infeksi) atau reaksi
hipersensitivitas

Disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap


mikroorganisme atau antigen yang masuk
kedalam tubuh dan merangsang reaksi antigen
antibodi dengan predileksi pada traktus uvea.
2. Berdasarkan asalnya:
Eksogen
Pada umumnya disebabkan oleh karena trauma,
operasi intra okuler, ataupun iatrogenik.
Endogen
Dapat disebabkan oleh fokal infeksi di organ lain
ataupun reaksi autoimun.

3. Berdasarkan perjalanan penyakit:


Akut
Apabila serangan terjadi satu atau dua kali, dan
penderita sembuh sempurna diluar serangan
tersebut.
Residif
Apabila serangan terjadi lebih dari dua kali
disertai penyembuhan yang sempurna di antara
serangan-serangan tersebut.
Kronis
Apabila serangan terjadi berulang kali tanpa
pernah sembuh sempurna di antaranya.

4. Berdasarkan reaksi radang yang terjadi:


Non granulomatosa
Infiltrat yang terjadi terdiri dari sel plasma
dan limfosit.
Granulomatosa
Infiltrat yang terjadi terdiri dari sel
epiteloid dan makrofag.

Berdasarkan patologi dapat dibedakan 2 jenis


uveitis anterior, yaitu granulomatosa dan non
granulomatosa.
UVEITIS NON
GRANULOMATO
SA

Terdapat reaksi radang


dengan terlihatnya
infiltrasi sel-sel limfosit
dan sel plasma dalam
jumlah cukup banyak dan
sedikit sel mononuclear.
Pada kasus berat dapat
terbentuk bekuan fibrin
besar atau hipopion
didalam COA

umumnya tidak
dapat ditemukan
organisme
patogen

berespon baik
terhadap terapi
kortokosteroid diduga
peradangan ini
semacam fenomena
hipersensitivitas.
Uveitis ini timbul
terutama dibagian
anterior traktus
yakni iris dan
korpus siliaris.

UVEITIS
GRANULOMATOS
A
umumnya
mengikuti invasi
mikroba aktif ke
jaringan oleh
organisme
penyebab (misal
Mycobacterium
tuberculosis /
Toxoplasma
gondii).
Uveitis
granulomatosa
lebih sering
mengenai pada
uvea posterior.

Terdapat kelompok
nodular sel-sel epithelial
dan sel-sel raksasa yang
dikelilingi limfosit di
daerah yang terkena.
Deposit radang pada
permukaan posterior
kornea terutama terdiri
atas makrofag dan sel
epiteloid.

PERBEDAAN UVEITIS GRANULOMATOSA DAN NON


GRANULOMATOSA
NON
GRANULOMATOSA

GRANULOMATOSA

ONSET

AKUT

TERSEMBUNYI

SAKIT

NYATA

TIDAK ADA/RINGAN

FOTOFOBIA

NYATA

RINGAN

SEDANG

NYATA

NYATA

RINGAN

PRESIPITAT KERATIK

PUTIH HALUS

KELABU BESAR

PUPIL

KECIL & TIDAK


TERATUR

KECIL & TIDAK


TERATUR (bervariasi)

PENGLIHATAN KABUR
MERAH
SIRKUMKORNEAL

SYNECHIA
POSTERIOR

KADANG-KADANG

KADANG-KADANG

NODUL IRIS

KADANG-KADANG

KADANG-KADANG

TEMPAT

UVEA ANTERIOR

UVEA POSTERIOR

PERJALANAN

AKUT (KURANG DR 6
MGGU)

MENAHUN

REKURENS

SERING

KADANG-KADANG

TANDA & GEJALA UVEITIS ANTERIOR AKUT


Traumatic
Trauma merupakan salah satu penyebab
Anterior Uveitis Uveitis Anterior, biasanya terdapat riwayat
trauma tumpul mata atau adneksa mata.
Idiopathic
Istilah idiopatik dipergunakan pada Uveitis Anterior
Anterior Uveitis dengan etiologi yang tidak diketahui apakah
merupakan kelainan sistemik /traumatic.
HLA-B27
Associated
Uveitis

HLA-B27 mengacu pada spesifik genotype atau


chromosome.

Behcets
Diseases/syndr
ome

Sebagian besar menyerang laki-laki dewasa muda,


Terdapat trias penyakit Behcets, yaitu akut Uveitis
Anterior dan ulkus pada mulut dan genital.

Lens
penyebab yang disebabkan oleh keadaan lensa,
Associated
yaitu : phaco-anaphylactic andhopthalmitis dan
Anterior Uveitis phacogenic (phacotoksik) uveitis; phacolitic
glaukoma; dan UGH syndrome ( Uveitis, Glaukoma
dan Hifema).
Masquerade
syndrome

Merupakan keadaan yang mengancam, seperti


lymphoma, leukemia, retinoblastoma, dan malignant

TANDA & GEJALA UVEITIS ANTERIOR KRONIK


Juvenile
Rheumatoid
Arthritis

Anterior Uveitis terjadi pada penderita JRA


yang mengenai beberapa persendian. Karena
kebanyakan dari pasien JRA adalah positif
dengan test ANA (Anti Nuklear Antibody), yang
merupakan pemeriksaan adjuvant. JRA lebih
banyak mengenai anak perempuan dibanding
anak lelaki. Merupakan suatu anjuran pada
semua anak yang menderita JRA untuk
diperiksa kemungkinan terdapatnya Uveitis
Anterior.

Anterior Uveitis
Associated with
Primary
Posterior
Uveitis

Penyakit sistemik, seperti sarcoidosis, toksoplamosis,


sipilis, tuberculosis,herpes zoster, cytomegalovirus,
dan AIDS mungkin saja terlibat

Fuchs
Heterochromati
c Iridocyclitis

Merupakan suatu penyakit kronik, biasanya


asimptomatik, terdapat 2% pasien Uveitis Anterior

MANIFESTASI KLINIK
Keluhan subyektif yang menyertai uveitis
anterior adalah :
1.nyeri, terutama di bulbus okuli,
2. sakitnya spontan atau pada penekanan di
daerah badan siliar,
3. sakit kepala di kening yang menjalar ke
temporal,
4. fotofobia, bervariasi dan dapat demikian
hebat pada uveitis anterior akut, lakrimasi
yang terjadi biasanya sebanding dengan
derajat fotofobia,
5. gangguan visus dan bersifat unilateral.

RIWAYAT
1. Riwayat yang berhubungan dengan uveitis
adalah usia, kelamin, suku bangsa penting untuk
di catat karena dapat memberikan petunjuk ke
arah diagnosis uveitis tertentu.
2. Riwayat pribadi tentang penderita, yang utama
adalah adanya hewan peliharaan (anjing,
kucing), serta kebiasaan memakan daging atau
sayuran yang tidak dimasak termasuk
hamburger mentah.
3. Hubungan seks diluar nikah untuk menduga
kemungkinan terinfeksi oleh STD atau AIDS.
4. Penggunaan obat-obatan untuk penyakit
tertentu atau narkoba (intravenous drug
induced),

5. Serta kemungkinan tertular penyakit


infeksi menular (seperti TBC) dan
terdapatnya penyakit sistemik yang
pernah diderita.
6. Riwayat tentang mata didapatkan
apakah pernah terserang uveitis
sebelumnya atau pernah mengalami
trauma tembus mata atau
pembedahan.

PEMERIKSAAN FISIK
Didapatkan visus umumnya normal atau berkurang
sedikit., konjungtiva bulbi, injeksi konjungtiva dan injeksi
siliar, serta kornea keruh karena udem dan keratik
presipitat.
Keratik presipitat merupakan kumpulan sel-sel yang
menempel pada endotel kornea, biasanya di bagian
bawah.
Pada uveitis non granulomatosa, keratik presipitat
berukuran kecil dan sedang berwarna putih. Pada uveitis
granulomatosa, keratik presipitat besar-besar dan
lonjong dan dapat menyatu membentuk bangunan yang
lebih besar, sehingga dapat mencapai diameter 1mm.
Adanya keratik presipitat dijumpai pada keratouveitis
karena herpes simpleks dan sangat spesifik pada
Heterokromik Fuch

Uveitis anterior granulomatosa dengan


sejumlah nodul busacca pada permukaan iris
dan beberapa muttan fat keratik presipitat
pada aspek inferior.

Tabel 1 Berat ringannya flare


Cells
0

Tidak ada

1+

Flare tipis atau lemah 5-10 /lapang pandang

2+

Flare tingkat sedang (Iris dan lensa secara 10-20/lapang


pandang detail masih tampak)

3+

Kekeruhan lebih berat (Iris dan lensa 20-50/lapang pandang


diselimuti kekeruhan

4+

Flare sngat berat (penggumpalan fibrin pada >50/lapang


pandang humur aquos)

CIRI-CIRI
Pada kamera okuli anterior terdapat flare,
terlihat sebagai peningkatan kekeruhan dalam
humor akuos dalam COA, dapat terlihat dengan
menggunakan slitlamp atau lampu kecil dengan
intensitas kuat dengan arah sinar yang kecil
sehingga menimbulkan fenomena Tyndal.
Pada uveitis non granulomatosa, reaksi flare
sangat menonjol tapi reaksi sel biasanya terdiri
dari sel-sel kecil dan jarang sel besar seperti
monosit atau sel raksasa.
Sedangkan pada uveitis granulomatosa, sel
besar-besar dan reaksi flare biasanya sangat
ringan.

Pada iris tampak suram, gambaran radier


tak nyata, karena pembuluh darah di iris
melebar, sehingga gambaran kripta tak
nyata.
Warna iris dapat berubah, kelabu menjadi
hijau, coklat menjadi warna Lumpur.
Terdapat nodul iris, ditandai sebagai
benjolan di iris, bila pada tepi pupil disebut
nodul koeppe, bila pada permukaan depan
iris disebut nodul busacca.
Adanya nodul-nodul tersebut merupakan
pertanda uveitis granulomatosa dan
terdapat adanya sinekia posterior

Tabel 2 Pembagian Uveitis Anterior


secara klinis
Ringan

Keluhan ringan
sampai sedang
VA 20/20 to 20/30
Kemerahan
sirkumkornel
superficial
Tidak ada KPs
(keratic presipitat)
1+ cells and flare
tekanan intraokuler
berkurang < 4 mmHg

Sedang

Berat

Keluhan sedang
sampai berat
VA from 20/30 to
20/100
Kemerahan
sirkumkornel dalam

Keluhan sedang
sampai berat
VA < 20/100

Tampak KPs

Tampak KPs

1-3+ cells and flare


Miotic, sluggish pupil

3-4+ cells and flare


pupil terfiksir

Sinekia posterior
ringan
Udem iris ringan

Sinekia
posterior(Fibrous)
Tidak tampak kripte
pada iris
tekanan intraokuler
meningkat

tekanan intraokuler
berkurang 3-6 mm

Kemerahan
sirkumkornel dalam

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tes imunitas humoral: sifilis (FTA-ABS),
toksoplasma.
Klamidia (Direct monoclonal fluorescent
antibody), antibodi antinuclear (LE, faktor
reumatoid), ACE (Sarkoidosis)
Human leukocyte antigen: B 5, B 27, A 29
Uji kulit (Deteksi alergen, diagnostik TBC,
Behcet)
Pemeriksaan sinar X peparu pada
Sarkoidosis,sakroiliaka pada uveitis
anterior dengan HLA B 27 (+)

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding uveitis anterior
adalah :
1.konjungtivitis,
2.keratitis atau keratokonjungtivitis
dan
3.Glukoma akut.

komplikasi
1.
2.
3.
4.
5.

Katarak,
Retinitis
Proliferans,
Ablasi retina,
Glukoma sekunder yang dapat terjadi
pada stadium dini dan stadium lanjut,
6. Pada uveitis anterior dengan visus yang
sangat turun, sangat mungkin disertai
penyulit edema macula kistoid

PENATALAKSANAAN
Terapi non spesifik
1. Penggunaan kaca
mata hitam
2. Kompres hangat
3. Midriatikum sikloplegik
4. Anti inflamasi
Golongan
kortikosteroid

1.

2.

Terapi Spesifik
Dewasa:
Lokal berupa tetes mata
kadang dikombinasi dengan
steroid subkonjungtiva
kadang juga dikombinasi
dengan steroid. Per oral
dengan Chloramphenicol 3x2
kapsul.
Anak:
Chloramphenicol 25 mg/Kgbb
sehari 3-4 kali. Walaupun
diberikan terapi spesifik,
tetapi terapi non spesifik
seperti disebutkan diatas
harus tetap diberikan, sebab
proses radang yang terjadi
adalah sama tanpa
memandang penyebabnya.

Terapi untuk Komplikasi


1. Sinekia posterior dan anterior
diberikan midriatikum
2. Glaukoma sekunder
Terapi konservatif : Timolol
0,25%-0,5% 1 tetes tiap 12 jam,
acetazolamide 250 mg tiap 6
jam.
Terapi bedah :
Dilakukan bila tanda-tanda
radang telah hilang, tetapi TIO
masih tetap tinggi. sudut
tertutup dilakukan Iridektomi
Perifer atau Laser Iridektomi,
bila telah terjadi perlekatan iris
dengan trabekula (Peripheral
Anterior Synechia atau PAS)
dilakukan Bedah filtrasi. Sudut
terbuka dilakukan bedah filtrasi.

3.
Katarak komplikata
Komplikasi ini sering
dijumpai pada uveitis
anterior kronis. Terapi
yang diperlukan adalah
pembedahan, yang
disesuaikan dengan
keadaan dan jenis
katarak serta
kemampuan ahli bedah.

PROGNOSIS
Kebanyakan kasus uveitis anterior
berespon baik jika dapat didiagnosis
secara awal dan diberi pengobatan.
uveitis anterior mungkin berulang,
terutama jika ada penyebab
sistemiknya. Karena baik para klinisi dan
pasien harus lebih waspada terhadap
tanda dan mengobati dengan segera.
Prognosis visual pada iritis kebanyak
akan pulih dengan baik, tanpa adanya
katarak, glaucoma atau posterior uveitis.

KLASIFIKASI UVEITIS POSTERIOR


Uveitis posterior adalah radang uvea
bagian posterior yang biasanya
disertai dengan keradangan jaringan
disekitarnya. Inflamasi ini terletak
dibagian uvea di belakang dengan
batas basis vitreus. Jika mengenai
retina disebut retinitis dan jika
mengenai vitreous disebut vitritis.

GEJALA
Gejala Uveitis Posterior antara lain :
1.Penurunan ketajaman penglihatan, dapat
terjadi pada semua jenis uveitis posterior.
2.Injeksi matakemerahan mata tidak terjadi
bila hanya segmen posterior yang terkena,
jadi gejala ini jarang pada toksoplasmosis
dan tidak ada pada histoplasmosis.
3.Rasa sakit pada mata terdapat pada pasien
dengan sindrom nekrosis retina akut, sifilis,
infeksi bakteri endogen, skleritis posterior,
dan pada kondisi-kondisi yang mengenai
nervus optikus.

TANDA PENTING
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hipopion
Pembentukan granuloma
Glaukoma yang terjadi sekunder
Vitritis
Morfologi dan lokasi lesi
Vaskulitis.
Hemoragik retina.
Parut lama.

PENATALAKSANAAN
Ada empat kelompok obat yang digunakan
dalam terapi uveitis, yaitu
1.Midriatikum,
2. Steroid,
3. Sitotoksik, dan
4. Siklosporin.
Sedangkan uveitis akibat infeksi harus
diterapi dengan antibakteri atau antivirus
yang sesuai. Midriatikum berfungsi untuk
memudahkan follow up keberhasilan
pengobatan.
Atropin tidak diberikan lebih dari 1-2 minggu

Indikasi operasi pada pasien dengan


uveitis mencakup rehabilitasi visual, biopsi
diagnostik, dan pengeluaran Opacities
media untuk memonitor segmen posterior.
Apabila timbul perubahan struktur pada
mata (katarak, glukoma sekunder) maka
terapi terbaik adalah dengan operasi.
Indikasi vitrektomi adalah peradangan
intraokular yang tidak sembuh pada
pengobatan, dugaan adanya keganasan
dan infeksi pada mata. Vitrektomi
merupakan salah satu pilihan untuk situasi
tersebut

KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi adalah :
1.Dapat mengenai daerah sekitar koroid,
misalnya retina, vitreus humour, badan
siliar, iris, nervus optikus, dan sklera.
2.Sinekia posterior.
3.Edema makula sistoid.
4.Vaskular dan optik atropi.
5.Traction retinal detachment.
6.Uveitis posterior dapat menyebabkan
katarak sisi posterior.

PROGNOSIS
Prognosis pasien tergantung pada lokasi
dan luasnya eksudasi dan atrofi daerah
lesi. Lesi yang kecil tetapi jika mengenai
daerah makula lutea akan berpengaruh
pada fungsi penglihatan. Sebaliknya lesi
yang meluas sepanjang fundus tidak
mempengaruhi penglihatan apabila tidak
mengenai area makula

TERIMA
KASIH