Anda di halaman 1dari 19

Glomerulonefritis

Theresia Yoshiana
11.2011.214

Definisi GNA
Glomerulonefritis akut (GNA) adalah suatu reaksi

imunologis pada ginjal terhadap bakteri atau virus


tertentu.Yang sering terjadi ialah akibat infeksi kuman
streptococcus.
Glomerulonefritis merupakan suatu istilah yang dipakai
untuk menjelaskan berbagai ragam penyakit ginjal yang
mengalami proliferasi dan inflamasi glomerulus yang
disebabkan oleh suatu mekanisme imunologis. Sedangkan
istilah akut (glomerulonefritis akut) mencerminkan
adanya korelasi klinik selain menunjukkan adanya
gambaran etiologi, patogenesis, perjalanan penyakit.

Etiologi GNA
Sebagian besar (75%) glomerulonefritis akut paska streptokokus timbul

setelah infeksi saluran pernapasan bagian atas, yang disebabkan oleh


kuman Streptokokus beta hemolitikus grup A tipe 1, 3, 4, 12, 18, 25, 49.
Sedang tipe 2, 49, 55, 56, 57 dan 60 menyebabkan infeksi kulit 8-14 hari
setelah infeksi streptokokus, timbul gejala-gejala klinis.
Infeksi kuman streptokokus beta hemolitikus ini mempunyai resiko
terjadinya glomerulonefritis akut paska streptokokus berkisar 10-15%.
Penyebab lain diantaranya:
1. Bakteri : streptokokus grup C, meningococcocus, Sterptoccocus
Viridans, Gonococcus, Leptospira, Mycoplasma Pneumoniae,
Staphylococcus albus, Salmonella typhi dll
2. Virus : hepatitis B, varicella, vaccinia, echovirus, parvovirus,
influenza, parotitis epidemika dl
3. Parasit : malaria dan toksoplasma

Epidemiologi
Dapat terjadi pada semua kelompok umur,
Tersering pada golongan umur 5-15 tahun,
Jarang terjadi pada bayi.
Dapat terjadi pada laki laki dan perempuan dengan

perbandingan nya adalah 2:1.


Diduga ada faktor resiko yang berhubungan dengan umur
dan jenis kelamin.

Gejala Klinis
Gambaran klinis dapat bermacam-macam
Kerusakan pada kapiler gromelurus mengakibatkan hematuria

dan albuminuria. Kadang-kadang disertai edema ringan yang


terbatas di sekitar mata atau di seluruh tubuh. Umumnya edema
berat terdapat pada oliguria dan bila ada gagal jantung.
Edema yang terjadi berhubungan dengan penurunan laju filtrasi
glomerulus (LFG/GFR) yang mengakibatkan ekskresi air,
natrium, zat-zat nitrogen mungkin berkurang, sehingga terjadi
edema dan azotemia.
Peningkatan aldosteron dapat juga berperan pada retensi air
dan natrium. Dipagi hari sering terjadi edema pada wajah
terutama edema periorbita, meskipun edema paling nyata dibagian
anggota gerak bawah tubuh ketika menjelang siang.

Gejala Klinis
Suhu badan dapat tinggi sekali pada hari pertama. Kadang-kadang

gejala panas tetap ada, walaupun tidak ada gejala infeksi lain yang
mendahuluinya.
Gejala gastrointestinal seperti muntah, tidak nafsu makan, konstipasi
dan diare tidak jarang menyertai penderita GNA.
Hipertensi terdapat pada 60-70% dengan GNA pada hari pertama, pada
akhir minggu pertama menjadi normal kembali.
Hipertensi selalu terjadi meskipun peningkatan tekanan darah mungkin
hanya sedang. Hipertensi terjadi akibat ekspansi volume cairan
ekstrasel (ECF) atau akibat vasospasme masih belum diketahui
dengan jelas.
Bila terdapat kerusakan jaringan ginjal, maka tekanan darah akan tetap
tinggi selama beberapa minggu dan menjadi permanen bila keadaan
penyakitnya menjadi kronis.

Gejala Klinis
Urinalisis menunjukkan adanya
proteinuria (+1 sampai +4), kadang-kadang tampak adanya proteinuria masif

dengan gejala sindroma nefrotik.


hematuria makroskopik ditemukan hampir pada 50% penderita,
kelainan sedimen urine dengan eritrosit disformik, leukosituria, granular,
eritrosit (++), albumin (+), silinder lekosit (+) dan lain-lain.
Kadang-kadang kadar ureum dan kreatinin serum meningkat dengan tanda
gagal ginjal seperti hiperkalemia, asidosis, hiperfosfatemia dan hipokalsemia.
Penurunan C3 sangat mencolok pada pasien glomerulonefritis akut

pascastreptokokus dengan kadar antara 20-40 mg/dl (harga normal 50-140


mg.dl). Penurunan C3 tidak berhubungan dengann parahnya penyakit
dan kesembuhan.
Kadar komplomen akan mencapai kadar normal kembali dalam waktu
6-8 minggu. Pengamatan itu memastikan diagnosa, karena pada
glomerulonefritis yang lain yang juga menunjukkan penurunan kadar C3,
ternyata berlangsung lebih lama.

Gejala Klinis
Komplomen hemolitik total serum (total hemolytic comploment) dan C3

rendah pada hampir semua pasien dalam minggu pertama, tetapi C4 normal
atau hanya menurun sedikit, sedangkan kadar properdin menurun pada 50%
pasien. Keadaan tersebut menunjukkan aktivasi jalur alternatif komplomen.
Adanya infeksi streptokokus harus dicari dengan melakukan biakan
tenggorok dan kulit. Biakan mungkin negatif apabila telah diberi
antimikroba.
Beberapa uji serologis terhadap antigen sterptokokus dapat dipakai untuk
membuktikan adanya infeksi, antara lain antistreptozim, ASTO,
antihialuronidase, dan anti Dnase B.
Titer anti streptolisin O mungkin meningkat pada 75-80% pasien dengan

GNAPS dengan faringitis, meskipun beberapa starin sterptokokus tidak


memproduksi sterptolisin O
Titer ASTO meningkat pada hanya 50% kasus, tetapi antihialuronidase atau
antibodi yang lain terhadap antigen sterptokokus biasanya positif.
Kenaikan titer 2-3 kali berarti adanya infeksi. 1,3,7

Gejala Klinis Histopatologi


Makroskopis ginjal tampak agak membesar, pucat dan

terdapat titik-titik perdarahan pada korteks.


Mikroskopis tampak hampir semua glomerulus terkena,
sehingga dapat disebut glomerulonefritis difusa.
Tampak proliferasi sel endotel glomerulus yang keras
sehingga lumen kapiler dan ruang simpai Bowman menutup,
infiltrasi sel epitel kapsul, infiltrasi sel PMN dan monosit.
Pada pemeriksaan mikroskop elektron akan tampak
membrana basalis menebal tidak teratur. Terdapat gumpalan
humps di subepitelium yang mungkin dibentuk oleh
globulin-gama, komplemen dan antigen Streptococcus.

Patofisiologi
Terbentuk kompleks antigen-antibodi didalam darah dan kemudian

terperangkap dalam membran basalis komplomen akan terfiksasi


mengakibatkan lesi dan peradangan yang menarik leukosit
polimorfonuklear (PMN) dan trombosit menuju tempat lesi
Fagositosis dan pelepasan enzim lisosom juga merusak endothel dan
membran basalis glomerulus (IGBM) Sebagai respon, timbul
proliferasi sel-sel endotel yang diikuti sel-sel mesangium dan
selanjutnya sel-sel epitel Semakin meningkatnya kebocoran kapiler
gromelurus menyebabkan protein dan sel darah merah dapat keluar ke
dalam urine yang sedang dibentuk oleh ginjal, mengakibatkan proteinuria
dan hematuria.
Menurut penelitian yang dilakukan penyebab infeksi pada glomerulus
akibat dari reaksi hipersensivitas tipe III. Kompleks imun mengendap di
membran basalis glomerulus Aktivasi komplomen yang
menyebabkan destruksi pada membran basalis glomerulus.

Patofisiologi
Hipotesis lain yang sering disebut adalah neuraminidase

yang dihasilkan oleh Streptokokus merubah IgG


menjadi autoantigenic terbentuk autoantibodi
terhadap IgG yang telah berubah terbentuk kompleks
imun dalam sirkulasi darah yang mengendap di ginjal.
Streptokinase yang merupakan sekret protein, diduga juga
berperan pada terjadinya GNAPS. Sreptokinase
mempunyai kemampuan merubah plasminogen menjadi
plasmin. Plasmin ini diduga dapat mengaktifkan sistem
komplemen sehingga terjadi cascade dari sistem
komplemen.

Patofisiologi
Hipotesis proses imunologis sebagai penyebab:
Terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang melekat pada

membrana basalis glomerulus dan kemudian merusaknya.


Proses auto-imun kuman Streptococcus yang nefritogen
dalam tubuh menimbulkan badan autoimun yang merusak
glomerulus.
Streptococcus nefritogen dan membran basalis glomerulus
mempunyai komponen antigen yang sama sehingga dibentuk
zat anti yang langsung merusak membrana basalis ginjal

Diagnosis Banding
Nefritis IgA

Periode laten antara infeksi dengan onset nefritis adalah 1-2 hari,
atau ini mungkin berhubungan dengan infeksi saluran pernafasan
atas.
MPGN (tipe I dan II)
Merupakan penyakit kronik, tetapi pada awalnya dapat
bermanifestasi sama sperti gambaran nefritis akut dengan
hipokomplementemia.
Lupus nefritis
Gambaran yang mencolok adalah gross hematuria
Glomerulonefritis kronis
Dapat bermanifestasi klinis seperti glomerulonefritis akut

Penatalaksanaan
Istirahat mutlak selama 3-4 minggu.
Pemberian penisilin pada fase akut. Pemberian antibiotika ini tidak

mempengaruhi beratnya glomerulonefritis, melainkan mengurangi


menyebarnya infeksi Streptococcus yang mungkin masih ada.
Pemberian penisilin ini dianjurkan hanya untuk 10 hari.
Pada fase akut diberikan makanan rendah protein (1
g/kgbb/hari) dan rendah garam (1 g/hari). Makanan lunak
diberikan pada penderita dengan suhu tinggi dan makanan biasa bila
suhu telah normal kembali.
Bila ada anuria atau muntah, maka diberikan IVFD dengan
larutan glukosa 10%. Pada penderita tanpa komplikasi pemberian
cairan disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan bila ada komplikasi
seperti gagal jantung, edema, hipertensi dan oliguria, maka jumlah
cairan yang diberikan harus dibatasi.

Penatalaksanaan
Pengobatan terhadap hipertensi:
Pemberian cairan dikurangi,
pemberian sedativa untuk menenangkan penderita sehingga

dapat cukup beristirahat.


Pada hipertensi dengan gejala serebral diberikan reserpin
dan hidralazin. Mula-mula diberikan reserpin sebanyak 0,07
mg/kgbb secara intramuskular. Bila terjadi diuresis 5-10 jam
kemudian, maka selanjutnya reserpin diberikan peroral
dengan dosis rumat, 0,03 mg/kgbb/hari.
Bila anuria berlangsung lama (5-7 hari), maka ureum

harus dikeluarkan dari dalam darah dengan beberapa cara


misalnya dialisis pertonium, hemodialisis.

Komplikasi
1. Oliguria sampai anuria yang dapat berlangsung 2-3 hari. Terjadi

sebagai akibat berkurangnya filtrasi glomerulus. Gambaran seperti


insufisiensi ginjal akut dengan uremia, hiperkalemia, hiperfosfatemia dan
hidremia.
2. Ensefalopati hipertensi yang merupakan gejala serebrum karena
hipertensi. Terdapat gejala berupa gangguan penglihatan, pusing, muntah
dan kejang-kejang. Ini disebabkan spasme pembuluh darah lokal
dengan anoksia dan edema otak.
3. Gangguan sirkulasi berupa dispne, ortopne, terdapatnya ronki basah,
pembesaran jantung dan meningginya tekanan darah yang bukan saja
disebabkan spasme pembuluh darah, melainkan juga disebabkan oleh
bertambahnya volume plasma. Jantung dapat membesar dan terjadi gagal
jantung akibat hipertensi yang menetap dan kelainan di miokardium.
4. Anemia yang timbul karena adanya hipervolemia di samping sintesis
eritropoetik yang menurun.

Prognosis
Sebagian besar pasien akan sembuh, tetapi 5% di antaranya

mengalami perjalanan penyakit yang memburuk dengan cepat


pembentukan kresen pada epitel glomerulus.
Diuresis akan menjadi normal kembali pada hari ke 7-10 setelah
awal penyakit, dengan menghilangnya edema dan secara bertahap
tekanan darah menjadi normal kembali.
Fungsi ginjal (ureum, kreatinin) membaik dalam 1 minggu dan
menjadi normal dalam waktu 3-4 minggu.
Komplemen serum menjadi normal dalam waktu 6-8 minggu.
Kelainan sedimen urin akan tetap terlihat selama berbulan-bulan
bahkan bertahun-tahun pada sebagian besar pasien.
Prognosis untuk menjadi sembuh sempurna pada anak sangat baik.
Sebaliknya prognosis glomerulonefritis akut pascastreptokok pada
dewasa kurang baik.

Kesimpulan
Glomerunefritis merupakan penyakit perdangan ginjal bilateral.

Glomerulonefritis akut paling lazim terjadi pada anak-anak 3 sampai 7


tahun meskipun orang dewasa muda dan remaja dapat juga terserang ,
perbandingan penyakit ini pada pria dan wnita 2:1.
GNA ialah suatu reaksi imunologis pada ginjal terhadap bakteri atau
virus tertentu.Yang sering terjadi ialah akibat infeksi. Timbulnya GNA
didahului oleh infeksi ekstra renal, terutama di traktus respirotorius
bagian kulit oleh kuman streptokokus beta hemolitikus golongan A tipe
12, 4, 16, 25 dan 49. dari tipe tersebut diatas tipe 12 dan 25 lebih bersifat
nefritogen disbanding yang lain. Mengapa tipe tersebut lebih nefritogen
dari pada yang lain tidak di ketahui.
Gejala-gejala umum yang berkaitan dengan permulaan penyakit adalh
rasa lelah, anoreksia dan kadang demam,sakit kepala, mual, muntah.
Gambaran yang paling sering ditemukan adalah :hematuria,
oliguria,edema,hipertensi.

Kesimpulan
Tujuan utama dalam penatalaksanaan glomerulonefritis adalah

untuk Meminimalkan kerusakan pada glomerulus,


Meminimalkan metabolisme pada ginjal, Meningkatkan fungsi
ginjal.
Tidak ada pengobatan khusus yang mempengaruhi penyembuhan
kelainan glomerulus. Pemberian penisilin untuk memberantas
semua sisa infeksi, tirah baring selama stadium akut, diet bebas
bila terjadi edema atau gejala gagal jantung dan antihipertensi
kalau perlu, sementara kortikosteroid tidak mempunyai efek pada
glomerulofritis akut pasca infeksi strepkokus.
Prognosis penyakit pada anak-anak baik sedangkan prognosisnya
pada orang dewasa tidak begitu baik.

Anda mungkin juga menyukai