Anda di halaman 1dari 31

ASPEK MEDIKOLEGAL PELAYANAN

KEGAWATDARURATAN

BAGIAN KEDOKTERAN FORENSIK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
DIPONEGORO
SEMARANG

Dosen Penguji : dr. Santosa, SpF


Residen Pembimbing : dr. Ricka
Brillianti
Disusun oleh :
Yohanes Edwin Jonatan
Timotius Richard
Steffany Caroline
Tyagita Khrisna Ayuningtias
Ridho
Fajar Alfa Muflihan

PENDAHULUAN
Etik ilmu tentang
moralitas.
Etik normatif dan etik
analitik.
Bioetik : praktik
kedokteran dan penelitian
biomedis.

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN
Kejadian gawat darurat
mengancam nyawa
apabila tidak ditolong.
KODEKI pasal 13 :
pertolongan darurat
sebagai tugas
kemanusiaan.
Mengambil keputusan
dengan cepat

BAB I PENDAHULUAN

PENDAHULUAN
Rumusan Masalah

Bagaimanakah aspek
medikolegal dalam dunia
kedokteran yang
dihubungkan dalam
pelayanan
kegawatdaruratan ?

Unit Gawat Darurat


Unit Gawat Darurat, harus memiliki
staf dan sumber daya yang cukup
untuk mendukung berjalannya Unit
gawat darurat yang memadai.
Karena keadaan gawat ini tidak
direncanakan dan terjadi secara tiba
tiba, pengalaman dan kemampuan
klinisi, perawat, pekerja tambahan
harus tersedia dalam 24 jam perhari
untuk memberi pelayanan kepada
yang membutuhkan.

The American College of Emergency Physicians


(ACEP)
Kegawatdaruratan medik harus tersedia kepada seluruh
masyarakat
Akses untuk mendapatkan penanganan kegawatdaruratan
medik dan penanganan perawat harus tersedia
Evaluasi, Pengaturan dan terapi pasien harus layak dan
terpercaya
Sumber daya harus tersedia pada unit gawat darurat untuk
mengakomodasi setiap pasien dari waktu pasien tiba,
dilakukan evaluasi, diagnosis, terapi sampai pasien pulang
Unit gawat darurat harus mempunyai peraturan dan rancana
untuk menyediakan keperluan yang efektif seperti
administrasi, staf, fasilitas, perlengkapan, obat obatan, dan
pekerja tambahan selain dokter dan perawat.
Klinisi gawat darurat, perawat gawat darurat dan pekerja
tambahan adalah komponen inti dari kedokteran gawat
darurat

Tanggung Jawab dan Ekspektasi Publik

Unit gawat darurat harus memiliki staf yang


terkualifikasi
Unit gawat darurat harus memiliki dokter dan
perawat 24 jam perhari, 7 hari seminggu.
Pasien dalam keadaan darurat harus mendapatkan
evaluasi dan stabilisasi dari pelayanan kesehatan.
Orang yang bertanggung jawab atas pasien tersebut
harus bertanggung jawab atas biaya dari perawatan
pasien tersebut.
Unit gawat darurat harus ikut serta dalam program
penyuluhan tentang pelayanan kesehatan gawat
darurat.
Unit gawat darurat harus memiliki protokol rumah
sakit (triage) dan bantuan bagi pasien yang
membutuhkan termasuk bantuan pr rumah sakit.

Elemen yang Diperlukan


Administrasi
Tenaga kerja (staf)
Fasilitas
Perlengkapan dan
Persediaan
Farmakologi / Obat Terapi
Tenaga Pembantu

Tanggung Jawab

Pra-Rumah Sakit
Fasilitas UGD
Perawatan pasien
Transfer

Hubungan Dokter Pasien

Menghormati otonomi
Non-maleficence
Beneficence
Keadilan

Triase UGD

triere = menyeleksi
Hijau
Kuning
Merah
Hitam

Peraturan perundang-undangan yang


berkaitan dengan pelayanan gawat
darurat
Undang-Undang Republik Indonesia No. 44
Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Undang-Undang Republik Indonesia No. 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 028/menkes/per/I/2011
tentang Klinik
Undang-Undang Republik Indonesia No. 29
Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
Undang-Undang Republik Indonesia No. 23
Tahun 1992 tentang Kesehatan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 159b/1998 tentang Rumah
Sakit

Lingkup kewenangan

Tenaga kesehatan

Tindakan medis

Masalah Medikolegal Pada Penanganan Pasien Gawat Darurat

Hubungan hukum dalam


pelayanan gawat darurat

Pembiayaan pelayanan gawat


darurat

Dalam pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun diluar


rumah sakit tidak tertutup kemungkinan timbul konflik
Konflik tersebut dapat terjadi antara :
Tenaga kesehatan dengan pasien
Antara sesama tenaga kesehatan (baik satu profesi maupun
antar profesi)
Hal yang lebih khusus adalah dalam penanganan gawat darurat
fase pra-rumah sakit terlibat pula unsur-unsur masyarakat nontenaga kesehatan

Aspek Medikolegal
Kegawatdaruratan
Penundaan dalam
menangani pasien
Ketiadaan privasi dan
kepercayaan
Tidak adanya komunikasi
dokter pasien
Kegagalan dalam
memberikan terapi yang
tepat
Kesalahan dalam
menentukan prioritas

Aspek Medikolegal
Kegawatdaruratan
Semua pasien yang
datang ke UGD pasti
merasa bahwa mereka
harus mendapat
pertolongan sesegera
mungkin
Vs
Keputusan petugas UGD

Aspek Medikolegal
Kegawatdaruratan
Menunggu di UGD meningkatkan
nyeri dan penderitaan sehingga
memperburuk kondisi pasien
Kondisi psikososial seperti stress,
ketakutan, rasa tertolak dan merasa
diacuhkan
Vs
Pola kerja UGD yang mengusahakan
untuk menolong pasien sesegera
dan seefisien mungkin

Aspek Medikolegal
Kegawatdaruratan
Penanganan bagi pasien
prioritas yang
memerlukan
Tekanan pada petugas
UGD

Aspek Medikolegal
Kegawatdaruratan
Prinsip kesamaan
Prinsip kegunaan
Prinsip prioritas bagi
kondisi terburuk

Aspek Medikolegal
Kegawatdaruratan
KOMUNIKASI

Pelayanan yang
berhubungan tentang
persetujuan tindakan yang
dilakukan dalam pelayanan
gawat darurat

hubungan karena
terjadinya
kontrak
terapeutik

hubungan karena
adanya peraturanperundangan

melahirkan tanggung
jawab hukum, tanggung
jawab profesi dan
tanggung jawab etika
dari seorang dokter

Dokter / dokter
gigi

Melanggar

M
E
L
A
N
G
A
R
Pengadilan Etik pada
organisasi profesi (MKEK
dan MKEKG), dan
Pengadilan Disiplin Profesi
oleh (MKDKI)

dituntut dalam
pengadilan bidang
hukum, pengadilan
perdata, pengadilan
pidana dan pengadilan
administratif

Semua pasien dalam keadaan darurat


harus segera mendapatkan pertolongan
Namun pelaksanaan tindakan medik harus
sesuai dengan pasal 45 ayat (3) Undang
Undang Praktik Kedokteran.
Dan juga No 29 Tahun 2009 tentang
persetujuan tindakan medik.

pasien

keberatan

Pencabutan SIP

Pertanggung
jawaban terhadap
hukum

Rumah Sakit

IDI guna
menganalisis
berat tidaknya
kesalahan

Pertanggung jawaban di atur dalam

Undang Undang No 29
Tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran
Undang Undang
Persetujuan Tindakan
Medik Kedokteran No.
290/MenKes/PER/III/2008
pasal 17 ayat (1)

Kematian Pada Instalasi Gawat Darurat


Pasien meninggal
Di bawa ke IGD
Autopsi
Lapor ke pihak
berwajib
Tidak

Kasus yang tidak boleh diberikan surat keterangan


kematian adalah :
- Meninggal pada saat dibawa ke IGD
- Meninggal akibat berbagai kekerasan
- Meninggal akibat keracunan
- Meninggal dengan kaitan berbagai peristiwa
kecelakaan
Kematian yang boleh dibuatkan surat keterangan
kematiannya adalah yang cara kematiannya alamiah
karena penyakit dan tidak ada tanda-tanda kekerasan

Anda mungkin juga menyukai