Anda di halaman 1dari 99

Aditya Yanuarani

02-079
Pembimbing :
Dr. Tumpal Siagian SpS

Ensefalitis adalah infeksi parenkim otak oleh

berbagai macam mikroorganisme.


Proses peradangannya jarang terbatas pada
jaringan otak saja tetapi hampir selalu
mengenai selaput otak meningoensefalitis.

PENDAHULUAN
Manifestasi utama

meningoensefalitis
viral kejang,
gangguan kesadaran
(acute organic brain
syndrome),
hemiparesis, paralisis
bulbaris
(meningoencephalomy
elitis), gejala-gejala
serebelar dan nyeri
serta kaku kuduk.

Disebabkan berbagai etiologi


Di USA HSV
Di Asia Japanese
Insidensi di USA 20.000 kasus/tahun
Insidensi Japanese encephalitis 35.000-

50.000/tahun (internasional)
1-10 kasus/ 100.000 orang (lokal)
Epidemi arbovirus

Meningitis adalah

radang umum pada


araknoid dan
piamater,
disebabkan oleh
bakteri, virus,
riketsia, atau
protozoa, yang
dapat terjadi secara
akut dan kronis.

GAMBARAN KLINIS

Klasifikasi
Meningitis serosa
Meningitis purulenta.

Meningitis Tuberkulosis Generalisata


Akut, subakut, atau kronis demam,

mudah kesal, marah-marah, obstipasi,


muntah-muntah.
Ditemukan kaku kuduk dan tanda-tanda
perangsangan meningen lainnya.
Demam atau suhu dapat rendah
Nadi sangat labil, lebih sering dijumpai
bradikardia.

Manifestasi
Klinis
Hiperestesi umum, Abdomen tampak

mencekung.
Gangguan saraf otak disebabkan tekanan
eksudat pada saraf-saraf ini.
Afasia motoris atau sensoris, kejang fokal,
monoparesis, hemiparesis, gangguan
sensibilitas.
Khas: apatis, refleks pupil yang lambat dan
refleks-refleks tendo yang lemah.

Penatalaksanaan
2 HRZE 7 RH
2 bulan pertama
INH

:
Rifampisin
:
Pirazinamid :
Streptomisin :

1 x 400 mg/hari, oral


1 x 600 mg/hari, oral
15 - 30 mg/kg/hari, oral
15 mg/kg/hari, oral

Atau
Etambutol

: 15 20 mg/kg/hari, oral

7 12 bulan berikutnya
INH
: 1 x 400 mg/hari, oral
Rifampisin
: 1 x 600 mg/hari, oral

Steroid
Kesadaran menurun
Defisit neurologist fokal
Deksametason 10 mg bolus intravena,

kemudian 4 kali 5 mg intravena selama 2


minggu selanjutnya turunkan perlahan
selama 1 bulan.

Meningitis Purulenta
Manifestasi Klinis
Demam tinggi, nyeri
kepala, kaku kuduk,
kesadaran menurun.
Pemeriksaan darah:
leukositosis dengan
pergerakan ke kiri pada
hitung jenis.

LCS :
Keruh, nanah yang merupakan campuran

leukosit yang hidup dan mati, jaringan


yang mati dan bakteri.
Pemeriksaan radiologis:
Foto kepala: periksa mastoid, sinus
paranasal, gigi geligi
Foto dada

Penatalaksanaan
Pneumokok, meningokok:

Ampisilin 12-18 gr IV dosis terbagi per hari,


selama minimal 10 hari atau hingga
sembuh.
Haemophylus influenzae:

Kombinasi ampisilin dan kloramfenikol

Enterobacteriaceae:

Sefotaksim 1-2 gr IV tiap 8 jam


resisten kombinasi trimetoprim 80 mg
dan sulfametoksazol 400 mg per infuse 2
kali 1 ampul per hari, selama minimal 10
hari.
Staphylococcus aureus yang resisiten

terhadap penisilin>
Sefotaksim atau seftriakson 6-12 gr IV.

Suatu keadaan demam akut

disertai kerusakan pada jaringan


parenkim SSP yang menyebabkan
perubahan tingkat kesadaran,
gejala neurologis fokal dan kejang

KLASIFIKASI
1. Infeksi:

Ensefalitis virus :

Akut
kronis

Ensefalitis non virus


2. Non-infeksi

PATOFISIOLOGI
Vektor, reaktivasi, Inokulasi

Multiplikasi (RES)

Hematogen/limfogen

Otak (ensefalitis)
(inokulasi langsung, Ag Ab)

Otak

MANIFESTASI KLINIS
Bervariasi tergantung dari etiologi
Gejala dan tanda gangguan neurologis

mencerminkan lokasi infeksi dan peradangan

ENSEFALITIS VIRAL HERPES SIMPLEKS


HSV-2 neonatus
HSV-1 dewasa
Timbul karena reaktivasi virus

yang laten di ganglion


trigeminal
Predileksi temporal dan
orbita frontal

Progresif sakit kepala,

demam, muntah, kejang


sampai koma
LP pleositosis limfositer
dengan eritrosit, tekanan
meningkat, kadar protein dan
titer antibodi terhadap HSV-1
meningkat

EEG periodic high voltage


MRI dan CT-scan edema
Terapi : acyclovir

Gambaran nekrosis hemoragik pada HSV ensefalitis

Japanese Ensefalitis
Anamnesis riwayat kontak

dengan nyamuk di daerah endemi


Gejala prodromal,Perubahan
status mental, Kejang
Pemeriksaan neurologi
gerakan involunter abnormal,
hipertoni, hiper refleks.
MRI dan CT-scan lesi bilateral
di thalamus dan perdarahan

ENSEFALITIS SUPURATIVA AKUT


Etiologi bakteri (Staphylococcus
aureus, streptokok, E. coli, M. tuberculosa

, parasit, jamur.
Faktor predisposisi infeksi
paru, otitis media, mastoiditis,
sinusitis, cedera kepala
tembus, akibat operasi bedah
saraf
dan T. pallidum)

Seperti gambaran masa

intrakranial.
Trias klasik sakit kepala,
demam, defisit neurologis
CT-scan hipodens fokal yang
dikelilingi cincin
Terapi kombinasi antibiotik
parenteral dosis tinggi dan
drainase.

TOXOPLASMOSIS
Etiologi toxoplasma

gondii
Paling sering dijumpai
pada pasien AIDS
Gambaran klinis sakit
kepala, demam,
disorientasi, lethargi,
kejang, palsy saraf
kranial, ataksia,
hemiparesis

INFEKSI CYTOMEGALOVIRUS
CMV virus DNA grup herpes virus sel

edema dan mengandung badan inklusi


intranuklear.
Pasien AIDS jika CD 4 di bawah 50 sel/ mm
kubik.
Gejala sakit kepala mendadak, demam,
somnolen, defisit neurologis fokal dan kejang.

Diagnosis LCS didapati

pliositosis ringan,
peningkatan protein total dan
IgG.
MRI hidrosefalus dan
peningkatan intensitas di
struktur periventrikuler atau
meningeal.
Pemakaian ganciclovir
tunggal atau kombinasi
meningkatkan angka survival
selama beberapa minggu.

PROGRESSIVE MULTIFOCAL
ENCEPHALOPATHY (PML)
Gangguan progresif

demielinisasi area multifokal.


Defisit penglihatan (45%),
gangguan mental (38%), dan
perubahan kepribadian. Kelemahan
motorik muncul pada 75% kasus.
Diagnostik MRI, CT SCAN, dan
pemeriksaan LCS.

SUBACUTE SCLEROSING
PANENCEPHALITIS (SSPE)
Jarang dijumpai

virus measles.
Gejala klinis mirip
ensefalitis pada
umumnya.
EEG Pola
periodik yang
khas.

LCS peningkatan Ab antimeasles.


MRI dan CT SCAN lesi multifokal di

substantia alba dan atrofi.


Terapi diberikan isoprinosine (100 mg/kg
BB/hari) tunggal atau kombinasi dengan
interferon secara intrathecal atau
intraventrikuler.

PROGRESSIVE RUBELLA
PANENCEPHALITIS
Jarang dijumpai.
Biasanya

mengenai pria
rubela kongenital.
Laten (8-19 thn)
gangguan
neurologi yang
progresif.

DIAGNOSIS
Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Pungsi Lumbal (kultur LCS)
CT scan, MRI
Pemeriksaan anti bodi pada fase akut dan
konvalesen
PCR Herpes simleks ensefalitis

PENATALAKSANAAN
Dirawat di rumah sakit.
Pungsi lumbal harus dilakukan
Kultur LCS
Pemberian antivirus spesifik
Tanda vital dimonitor secara berkelanjutan

dan disupport.

Manajemen dasar dan terapi suportif termasuk

pemantauan TIK, restriksi cairan, menghindari


pemakaian larutan intravena hipotonis, dan
penatalaksanaan terhadap demam.
Pemberian antikonvulsan diberikan pada
kejang dan pemberian antikonvulsan profilaksis
dipertimbangkan pada ensefalitis berat.
Perlu diperhatikan resiko terjadinya pneumonia
aspirasi, ulkus decubitus, kontraktur, deep
venous thrombosis daan komplikasinya, serta
infeksi dari IV line dan kateter.

IDENTITA
S
Nama
Umur
Alamat

B
Barat
Pekerjaan
Agama
Tanggal masuk

: Tn S
: 35 Tahun
: Komplek BPPT Blok I 11
meruya utara. Jakarta
: Kuli bangunan
: Islam
: 22/9/08

ANAMNESIS
(Alloanamnesis dengan Istri pasien)
Keluhan Utama
: Kejang
Keluhan Tambahan : Demam

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


7 hari SMRS pasien batuk, pilek, demam.

Demam tidak terlalu tinggi. Lalu pasien


meminum obat flu. (oskadon) selama 2 hari. 2
hari kemudian batuk pilek sembih, tetapi masih
demam. Tidak ada perbedaan panas siang dan
malam.
3 hari SMRS demam pasien mendadak tinggi.
Menggigil -. Lalu pasien meminum obat penurun
panas (dumin). Pasien tidak ke dokter. Panas
turun sesaat dan pasien tampak berkeringat.
Tetapi kemudian pasien panas kembali.

2 hari SMRS pasien masih demam tinggi.

Demam disertai kejang. Keang di seluruh


tubuh. Badan tampak kaku dan mata melotot.
Kejang belangsung 10 menit. Setelah kejang
pasien tidak sadarkan diri. Mual +, muntah +
2 x. Lalu pasien di bawa ke RS Siloam, lalu di
scan kepala, EKG dan rontgen dada. Di RS
siloam pasien kembali kejang. Lalu oleh
dokter diberi valium dan dilantin. Karena
alasan financial, pasien dirujuk ke RSUFKUKI.

RIWAYAT PENYAKIT
DAHULU
Riwayat jatuh disangkal, Riwayat minum

obat-obatan disangkal. Riwayat. Riwayat


penyakit jantung disangkal, darah tinggi
disangkal, kencing manis disangkal,
riwayat batuk lama disangkal, kontak
dengan penderita batuk lama atau minum
obat dalam jangka waktu lama disangkal.

Makan, minum , kebiasaan :


Pasien mempunyai kebiasaan merokok

kadang sampai 1 bungkus sehari. Dan minum


kopi. Sehari mencapai 3-4 gelas.
Kedudukan dalam keluarga :
Suami

PEMERIKSAAN FISIK

Status generalis
Keadaan umum
Kesadaran
GCS
Tekanan darah
Nadi
Suhu
RR

: tampak sakit berat


: Sopor
: E1V1M5
: 130/100 mmhg
: 80 X/menit
: 36,2C
: 22 X/menit

Umur klinis
Bentuk badan

KGB

: 40-an
: astenikus
: kurang
: sawo matang
: tidak sianosis
: tidak teraba

membesar
Turgor

: baik

Gizi
Kulit
Kuku

Status regional
Kepala
: normocephali
Wajah
: tidak ada kelainan, efloresensi (+)
Mata: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Hidung
: bentuk biasa, lapang +/+, sekret -/ Mulut
: tidak ada kelainan
Telinga
: lapang +/+, sekret -/ Leher
: jejas (-), efloresensi (+)
Toraks
: pergerakan dinding dada simetris kanan = kiri,

retraksi , efloresensi (+)


Paru-paru : bunyi nafas dasar vesikuler, ronki +/+,
wheezing -/ Jantung
: bunyi jantung I& II murni, gallop -, murmur
Abdomen : datar, lemas, BU +5 x/mnt
Hepar
: tidak teraba
Lien : tidak teraba
Vesica urinaria
: tidak ada kelainan
Genitalia externa : tidak di lakukan
Extremitas : tidak ada kelainan
Sendi
: tidak ada kelainan
Otot- otot : tidak ada kelainan

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
Kesadaran : GCS E1V1M5 = 7
Rangsang meningeal
Kaku kuduk
Brudzinki I
Brudzinki II
laseque
kernig

:
:
:
:
:

+
-/>70o/>70o
-/-

II. Gangguan Saraf Cranial


N I
N.II

: Tidak dilakukan
: Funduskopi tidak

dilakukan
N.III, IV,VI
: Pupil: bulat, isokor,
3mm/3mm
reflex cahaya langsung +/+
reflex cahaya tidak langsung +/+
Dolls eye phenomen -/pergerakan bola mata sulit dinilai

N.V

: reflex kornea +/+, reflex


maseter N.VII
: angkat alis, kerut dahi sulit
dinilai
menyeringai : sulkus nasolabialis
kanan=kiri
N.VIII
: Tidak dilakukan
N.IX, X : Refleks okulokardiak
Refleks sinus karotikus N. X
I
: sulit dinilai
N.XII
: Sulit dinilai

Motorik
Derajat kekuatan otot

: Sulit

dinilai
Tonus otot
: normotoni
Trofi otot
: eutrofi
Gerakan spontan abnormal
: -

IV. Koordinasi
Statis
Dinamis

: Sulit dinilai
: Sulit dilakukan

Reflex Fisiologis
Biseps
Triseps
KPR
APR

: -- / -: --/-: --/-: --/--

Patologis
Babbinski

: -/: -/-

Chaddock
Oppenheim
Gordon
Schaeffer

: -/: -/: -/-

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium:

H2TL, Darah lengkap, GDS,


Ureum creatinin, AGD, Elektrolit, Widal
Foto thoraks (22/9/08) di RS Siloam kesan :
Bronkpneumonia
CT Brain (22/9/08) di RS Siloam.
Kesan : edema cerebri
EKG (22/9/08) di RS Siloam kesan :
Supraventrikular Takikardi

Hasil laboratorium darah, 22 September

2008
RS SILOAM

Leukosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit

:
:
:
:

15.000/ul
14,5 g/dl
42,7 %
169.000/ul

Elektrolit
Na
K

: 128
: 4,9

AGD
pH
pCO2
pO2
Bikarbonat
BE
TCO2
Sat O2

: 7,27
: 29,0
: 76,7
: 13,3
: -11,5
: 14,2
: 93 %

UKI
(08.00)

Ureum
: 58 mg/dl
Kadar Kreatinini darah : 1,85 mg/dl
GDS : 87 mg dl

AGD (08.00)

pH
: 7,208
pCO2 : 41,8
Sat O2
: 99%
Kons 02
: 21,3
BE
: -11,1
BB
: 36,8
HCO3: 16,2
TCO2 : 17,5

Darah lengkap (09.00)


LED
Hb
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
Retikulosit
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

5 mm/jam
15,0 g/dl
22,9 ribu/u
4,93 juta/ul
43 %
103 ribu/ul
87 fl
30,4 pg
35 %
7%
0%
0%
7%
82 %
10 %
1 %

Urinalisa
Warna

: kuning keruh
Berat jenis
: 1,025
pH
: 6,0
Darah
:+3
Leukosit Esterase : negatif
Nitrit
: negatif
Protein urine
: +2
Bilirubin
: negatif
Aseton urin
: negatif
Reduksi
: hegatif
Urobilinogen
: normal
Leukosit
: 8-10/LPB
Eritrosit
: 30-40/LPB
Sel epitel
: +1
Bakteri
: +1
Kristal
: negatif

Bilirubin

total
Bilirubin direk
Protein total
Albumin
SGOT
SGPT
Gamma GT
Asam urat

:
:
:
:
:
:

: 0,8 mg/dl
0,5 mg/dl
6,6 g/dl
3,8 g/dl
504 U/L
: 113 U/L
43 U/L
14,2 mg/dl

Elektrolit
Na
Kalium
Klorida

: 141 mmol/L
: 3,7 mmol/L
: 106 mmol/L

Widal
S.

Typhose H
S Paratyphi A H
S. Paratyphi B H
S. Paratyphi CH
S. Typhose O
S. Paratyphi A O
S. Paratyphi B O

:
:
:
:
:

: + 1/320
+ 1/160
negatif
negatif
: +1/160
negatif
Negatif

DIAGNOSA

:
Diagnosis Klinis : penurunan kesadaran
Diagnosis etiologis
:
Meningoensefalitis
Diagnosis topis
: Meningen + Parenkim
otak

Penatalaksanaan
Rawat inap
IVFD

: I NaCl 0,9 %
I NaCl +6 gr notrofil

Medika mentosa
Kemicetin 4 x 1 gr
Ceftriaxone 2 x 1 gr
Dexamethasone 3 x 1 amp
Ranitidin 4 x 1 amp
PCT k/p
Valium inj k/p kejang
Dilantin 3 x 100 mg

FOLLOW UP

Tanggal 23 Maret 2007


S
O
Status generalis
Keadaan umum
Kesadaran
Tekanan darah
Nadi
Suhu
RR

Pemeriksaan neurologis
GCS E3V5M6 =11
Rangsang meningeal
Kaku kuduk
:+
Brudzinki I
:Brudzinki II
: -/laseque
kernig
: -/-

(PH 1)
: Sakit kepala (+) kejang (-)
:
:
:
:
:
:
:

tampak sakit berat


somnolen
110/70 mmhg
80 X/menit
38oC
26x/mnt

: >70o/>70o

Pemeriksaan neurologis
GCS E3V5M6 =11
Rangsang meningeal
Kaku kuduk
:+
Brudzinki I
Brudzinki II
laseque
kernig

:
:
:
:

-/>70o/>70o
-/-

Motorik
Derajat kekuatan otot : 5555

5555 3333
Gerakan spontan abnormal
:
Refleks fisiologis
:-/ Refleks Patologis
: -/ Sensibilitas
:
Otonom
:

Laboratorium tgl 23/9/08


Anti HCV total : negatif

2222
sulit dinilai
miksi baik dengan kateter

A:
Diagnosis Klinis

: Hemiparese Sinistra +
penurunan kesadaran
Diagnosis etiologis : Meningoensefalitis
Diagnosis topis
: Meningen + Korteks Cerebri

A:
Diagnosis Klinis

: Hemiparese Sinistra
+ penurunan kesadaran
Diagnosis etiologis
:
Meningoensefalitis
Diagnosis topis
: Meningen + parenkim
otak

TERAPI
:
IVFD : I NaCl 0,9 %

I NaCl +6 gr notrofil
Medika mentosa
:
Kemicetin 4 x 1 gr
Ceftriaxone 2 x 1 gr
Dexamethasone 3 x 1 amp
Ranitidin 4 x 1 amp
PCT k/p
Valium inj k/p kejang
Dilantin 3 x 100 mg

Visit dr Sadek
PCT Dirutinkan 3 x 1

Tanggal 24 Maret 2007 (PH 2)


S
: Panas
O

:
Status generalis
Keadaan umum
: tampak sakit berat
Kesadaran
: Apatis
Tekanan darah
: 110/70 mmhg
Nadi
: 80 X/menit
Suhu
: 37,6oC
RR
: 24x/mnt

Pemeriksaan neurologis
GCS E3V3M6 =12
Rangsang meningeal :
Kaku kuduk
:+
Motorik
Derajat kekuatan otot
: 5555 0000

4444 0000
Gerakan spontan abnormal
: Refleks fisiologis
: - /Refleks Patologis
:-/-

Laboratorium tgl
HbsAG

Therapy
Diit
IVFD

Medika mentosa

24/9/08
: negatif
:
: SV 8x 200
: I NaCl 0,9 %
I NaCl +6 gr notrofil
:

Kemicetin 4 x 1 gr
Ceftriaxone 2 x 1 gr
Dexamethasone 3 x 1 amp
Ranitidin 4 x 1 amp
PCT 3x1
Valium inj k/p kejang
Dilantin 3 x 100 mg
Metronidazole 2x2 tab

Visit dr Ayub Patinama SpS:


Periksa HIV
Lab tagl 24/9/08 :
Anti HIV imunologi
IgM anti toxoplasma

0,27)

: non reaktif
: negatif (<

Tanggal 25 Maret 2007 (PH 6)


S
: O

:
Status generalis
Keadaan umum
: tampak sakit berat
Kesadaran
: Somnolen
Tekanan darah
: 110/70 mmhg
Nadi
: 88 X/menit
Suhu
: 37,7oC
RR
: 24x/mnt

Pemeriksaan neurologis
GCS E3V1M6 =10
Rangsang meningeal
:
Kaku kuduk
:+
Motorik
Derajat kekuatan otot
: 5555 0000

4444 0000
Gerakan spontan abnormal : Refleks fisiologis
: KPR -/
APR -/Refleks Patologis
: -/-

A:
Diagnosis Klinis

: Hemiparese
Sinistra + penurunan kesadaran
Diagnosis etiologis
:
Meningoensefalitis
Diagnosis topis
: Meningen +
Korteks Cerebri

Terapi
Diit
IVFD

Medika mentosa

: SV 8x 200
: I NaCl 0,9 %
I NaCl +6 gr notrofil
:

Kemicetin 4 x 1 gr
Ceftriaxone 2 x 1 gr
Dexamethasone 3 x 1 amp
Ranitidin 4 x 1 amp
PCT 3x1
Valium inj k/p kejang
Dilantin 3 x 100 mg

Visit dr. Tumpal SpS


Lumbal pungsi informed consent

Tanggal 26 Maret 2007 (PH 6)


S
:O
:
Status generalis
Keadaan umum
: tampak sakit berat
Kesadaran
: Sopor
Tekanan darah
: 130/70 mmhg
Nadi
: 88 X/menit
Suhu
: 39,9oC
RR
: 28x/mnt

Pemeriksaan neurologis
GCS E2V2M4 =8
Rangsang meningeal :
Kaku kuduk
:+
Motorik
Tidak ada lateralisasi
Gerakan spontan abnormal
Refleks fisiologis
Refleks Patologis

: : KPR -/APR -/: -/-

Lab tgl 26/9/08

Hb
: 14,1
Leukosit
Ht
: 40,8
Trombosit
Ureum darah
Creatinin
Na
: 127
Kalium
Klorida

: 10.500
: 91000
: 85
: 1,83
: 4,4
: 101

A:
Diagnosis Klinis
Diagnosis etiologis
Diagnosis topis

: penurunan kesadaran
: Meningoensefalitis
: Meningen + parenkim otak

IVFD :
Diit
: SV 8x 200
IVFD : I NaCl 0,9 %

I NaCl +6 gr notrofil
Medika mentosa
:

Kemicetin 4 x 1 gr
Ceftriaxone 2 x 1 gr
Dexamethasone 4x1 amp
Ranitidin 4 x 1 amp
PCT 3x1
Valium inj k/p kejang
Dilantin 3 x 100 mg
Urispas 2x1
Visit dr Chyntia M Sahetapy

Lp besok
Px BTA LCS

RESUME
7 hari SMRS pasien batuk +pilek+ demam+. 3 hari

SMRS demam pasien mendadak tinggi.Pasien meminum


obat penurun panas. 2 hari SMRS pasien masih
demam tinggi. Kejang +. Kejang di seluruh tubuh.
Badan tampak kaku dan mata melotot. 10 menit.
Setelah kejang pasien tidak sadarkan diri. Mual +,
muntah + 2 x. di bawa ke RS Siloam, scan kepala, EKG
& rontgen dada. Os kembali kejang. Lalu oleh dokter
diberi valium dan dilantin. Karena alasan financial,
pasien dirujuk ke RSUFKUKI. Pasien mempunyai
kebiasaan merokok kadang sampai 1 bungkus sehari.
Dan minum kopi. Sehari mencapai 3-4 gelas.

Status generalis
KU
Kesadaran
TD
Nadi
RR

Pemeriksaan jasmani
Statius generalis
GCS
(22/9/08) : E1V1M5
(23/9/08) : E3V5M6
(24/9/08) : E3V3M6
(25/9/08) : E3V1M6
(26/9/08) : E2V2M4

7 (sopor)
14 (Composmentis)
12 (Apatis)
10 (somnolen)
8 (sopor)

Derajat kekuatan motorik

(23/9/08)
5555 2222
5555 3333
(24/9/08)
5555 0000
4444 0000

Pemeriksaan neurologis
Rangsang meningeal

: Kaku kuduk +

Laboratorium
22/9/08

Leukosit
Leukosit

: 15.000/ul
: 22.900/ul

Trombosit : 169.000
Trombosit : 103.000
26/9/08
Leukosit : 10.500
Trombosit : 91.000

22/9/08
Ureum

: 58 mg/dl
Kreatinin : 87 mg/dl

22/9/08
AGD

pH : 7,208
HCO3
: 16,2
TC)2 : 17,5
Urine
Leukosit : 8-10/LPB
Eritrosit
: 30-40/LPB
Kimia darah
SGOT
: 504 U/L
SGPT : 113 U/L

22/9/08
Widal

S Typhosa H
: +1/320
S Paratyphi A H : +1/160
S Typhosa O
: +1/160

24/9/08
HIV

: non reaktif
IgM anti toxiplasma
: negatif (0,27)

Laboratorium
Leukosit

: 15.000/ul

AGD
pH

: 7,27

pCO2
pO2
Bikarbonat
BE

: 29,0
: 76,7
: 13,3
: -11,5

TCO2
Sat

O2

: 14,2
: 93 %

Asidosis metabolik terkompensasi

Prognosis
Ad vitam : dubia ad malam
Ad sanationum : dubia ad bonam
Ad functionum : dubia ad malam

Analisa kasus
Meningoensefalitis demam, kejang, dan
kesadaran menurun .
pemeriksaan neurologis didapatkan rangsang
meningeal, kaku kuduk(+)

NaCl merupakan cairan kristaloid yang

tidak mengandung glukosa oleh karena


hiperglikemia dapat menyebabkan edema
serebri.
Pemberian Valium mengantisipasi kejang
tidak berulang dan mengatasi kegelisahan
pada pasien.
Pemberian ceftriaxone 2 x 1 gr untuk
mencegah adanya infeksi yang disebabkan
oleh kuman gram + maupun

Pemberian dexamethason Menghambat

reaksi inflamasi, Mencegah komplikasi infeksi,


Menurunkan edema serebri, Mencegah
perlekatan. Mencegah arteritis/infark otak
Ranitidin di gunakan untuk mencegah strees
ulcer yang dapat menyebabkan perdarahan.
Pemberian Notrofil sebagai neuroprotektan
terhadap kerusakan otak sekunder.

Saran :

dilakukan px Lumbal pungsi untuk


mengtahui kuman yang terdapat pada LCS
Pasien sebaiknya di rawat di ruang ICU
untuk penanganan yang lebih intensif