Anda di halaman 1dari 80

ANALISIS SECARA VOLUMETRI

Oleh
Armon Fernando, Msi., Apt

ANALISIS SECARA VOLUMETRI :


Analisis kuantitatif dengan cara menentukan
volume larutan yang telah diketahui konsentrasinya
yang bereaksi secara kuantitatif dengan zat dalam
larutan sampel
LARUTAN STANDAR/BAKU
sudah diketahui konsentrasinya
mengandung jumlah ekivalen tertentu
biasanya ditambahkan dengan buret sehingga
volumenya diketahui

TITIK EKIVALEN/TITIK AKHIR TEORITIS


Jumlah larutan standar ekivalen dengan zat
dalam larutan sampel
INDIKATOR
Zat yang ditambahkan untuk membantu mengetahui
titik ekivalen
Berubah warna pada saat titik akhir titrasi
TITIK AKHIR TITRASI
Saat terjadinya perubahan warna
Tidak selalu sama dengan titiuk ekivalen

Macam-macam analisis secara volumetri


1. Berdasarkan kombinasi ion
berdasarkan netralisasi
Contoh : asidi-alkalimetri
berdasarkan terbentuknya endapan
Contoh : argentometri
berdasarkan terbentuknya senyawa kompleks
Contoh : kompleksometri

2. Berdasarkan pertukaran elektron / redoks


Contoh : permanganometri, bikromatometri, iodatometri , dll

SYARAT-SYARAT ANALISIS VOLUMETRI


reaksi antara larutan standar dan sampel
- Harus berlangsung cepat
- Berlangsung stoikhiometri
tidak terjadi reaksi samping
tidak diganggu oleh reaksi lain yang mungkin terjadi
terdapat indikator yang sesuai

MACAM-MACAM LARUTAN STANDAR


Larutan standar primer :
Normalitasnya dapat diketahui dari hasil penimbangan
dan pelarutan dengan volume tertentu
Syarat standar primer
Mudah didapat, murniatau mudah dimurnikan, kering, tahan
selama
penyimpanan
Tidak higroskopis
Jumlah pengotor tidak lebih dari 0,02%
Mempunyai BE yang besar
Bereaksi stoikhiometri dengan sampelnya
Contoh : asam oksalat, boraks, NaCl, seng sulfat, dll.

Larutan standar sekunder :


Normalitasnya baru diketahui setelah dilakukan pembakuan dengan
standar primer
Contoh : kalium permanganat, HCl, NaOH, EDTA, dll

Cara standarisasi
Menggunakan larutan baku primer yang sesuai
Penimbangan zat standar cukup besar sehingga mengurangi
kesalahan
Volume larutan standar yang digunakan cukup besar
Titrasi langsung, hindari titrasi kembali/balik/tidak langsung
Hindari pembakuan ganda (baku sekunder dibaku dengan baku
sekunder yang lain)

DERAJAT KEMURNIAN
Commercial grade = technical grade = teknis
Mengandung beberapa pengotor, untuk industri
Pharmacopeia grade
Sudah dimurnikan, tetapi masih mengandung
pengotor yang tidak harus diuji
Chemically pure grade (CP) = Analytical reagent (AR) = pure
Lebih murni dari pharmacopeia grade

DERAJAT KEMURNIAN
Proanalysis (p.a) = Guaranted Reagent (GR)
Sudah dimurnikan, ada batasan maksimum kadar pengotor,
untuk analisis kuantitatif
Primary standard grade
Kemurnian hampir 100%
Supra pure
Kemurnian paling tinggi, digunakan untuk
alat khusus

penelitian/

PERNYATAAN KONSENTRASI
1. Prosentase (%)
% b/b : gram zat terlarut dalam 100 gram larutan
Contoh : NaCl 1% (b/b) adalah larutan yang terdiri dari
1 gram NaCl + 99 gram air
% b/v : gram zat terlarut dalam 100 mL larutan
Contoh : KI 10% (b/v) adalah larutan yang dibuat dari
10 gram KI yang dilarutkan dengan akuades
sampai dengan volume 100 mL
% v/v : mL zat terlarut dalam 100 mL larutan

PERNYATAAN KONSENTRASI
2. Molaritas (M)
Jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan
Contoh : 40 gram NaOH (Mr = 40) dilarutkan sampai
volume 1 liter.
3. Normalitas (N)
Jumlah mol ekivalen (molek) zat terlarut dalam 1 liter larutan
Contoh : 1 N larutan AgNO3 berarti setiap liter larutan
mengandung 1 molek AgNO3

BERAT EKIVALEN (BE)


tergantung pada reaksi yang dialami zat tersebut sehingga untuk mengetahui BE
perlu mengetahui proses apa yang dialami zat tersebut
Contoh : FeSO4 (Fe2+)
pada reaksi netralisasi BE = BM
(1 molek = mol)
pada reaksi redoks
(1 molek = 1 mol)

BE = BM

BERAT EKIVALEN DALAM PROSES NETRALISASI (Reaksi asam-basa)


ASAM ATAU BASA
Asam-asam berbasa n , misal HnA atau basa berasam n, misal L(OH)n
BM
n = jumlah atom H atau ion OH
BE = n

GARAM
Valensi asam dan basa sama : NaCl, NH4Br, KI, AgCl, CaCO3, BaSO4, AlPO4
BE =

BM
valensi asam atau basa

Valensi asam dan basa tidak sama : Na2CO3 , Al2(SO4 )3


BE =

BM
hasil kali valensi asam dan basa

BERAT EKIVALEN DALAM SISTEM REDOKS


1 molek adalah banyaknya mol zat yang dapat melepas/mengikat satu elektron
BM= jumlah elektron
ne
BE = ne
Contoh :
MnO4- + 8 H+ + 5 e Mn2+ + 4H2O
MnO4- + 4 H+ + 3 e MnO2 + 2H2O

BM
BE =
5
BE =

BM
3

PENGGUNAAN SISTEM EKIVALEN


pembuatan larutan baku untuk titrimetri
Contoh : membuat larutan baku asam oksalat H2C2O4.2H2O (Mr = 126) 0,1 N
sebanyak 100 mL
BE =

BM
=
2

126
2

= 63

100
0,1 N 100 mL = 0,1 x
x 63 = 0,6300 gram
1000

mempermudah perhitungan karena pada titrimetri titrasi berakhir


pada titik ekivalen (banyaknya molek zat pentitrasi dan molek
zat yang dititrasi sama)

Yang perlu diperhatikan dalam analisis volumetri


menimbang
memindahkan secara kuantitatif
membilas, mengisi dan menggunakan buret
membilas dan menggunakan pipet volume
titrasi
mengamati titik akhir titrasi

Soal:
Hitung molaritas suatu larutan H2SO4 yang
mempunyai densitas 1,30 g/ml dan mengandung
32,6% bobot SO3. BM SO3=80,06
Jawab: 1 liter larutan mengandung
g/ml x 1000ml/L x 0,326 = 424 g SO3

1,30

(424g) / (80,06 g/mol)


M=

1 liter

= 5,3 mol/L

Karena 1 mol SO3 menghasilkan dalam air maka


ada 5,3 mol/L H2SO4 dalam larutan itu

Soal
Berapa gram Na2SO4 (142,1 g/mol) diperlukan
untuk membuat larutan sebanyak 250 mL
dengan konsentrasi 0,683 M

Soal:

Hitung berapa gram Na2CO3 murni diperlukan untuk


membuat 250 ml larutan 0,150 N.
Natrium
karbonat itu dititrasi dengan HCl menurut persamaan
CO32- + 2H+ H2CO3
Jawab: tiap Na2CO3 bereaksi dengan 2H+ , oleh itu berat
ekuivalennya setengah BMnya, 106/2 = 53 g/ek jadi,
banyaknya Na2CO3 yang diperlukan:
ek =
g/BE
g = (0,15 ek/L) x (0,25 L) x (53 g/ek)
= 1,99 g

Persen Berat gram zat terlarut dalam 100 g larutan


%=

g zat terlarut
g zat terlarut + g pelarut

HCl pekat (BM 36,5) mempunyai


densitas 1,19 g/ml dan mengandung
37% berat HCl. Berapa ml asam
pekat ini harus diambil dan
diencerkan menjadi 1 liter untuk
membuat larutan 0,100 M

Berapa M HCl pekat?


M = mol/L = g/(BM x V)
gram HCl = (1,19 g/ml) x (1000ml/L) x
0,37
= 440 g/L
M = 440 g / {(36,5 g/mol) x 1 L }=
12,055 M

x 100%

g = M x V x BM
= (0,100
mol/L) x (1 L) x (36,5 g/mol) = 3,65
gram
dalam 1 ml HCl pekat
terdapat
1,19 g/ml HCl x 0,37 =
0,44 g/ml

ml =
V1 =

3,65 g
0,44 g/ml
M2 x V2
M1

= 8,3 ml
=

0,1 x 1
12,055

= 0,0083 L = 8,3 ml

Jenis - jenis titrasi

Titrasi asam - basa


titrasi redoks
titrasi pembentukkan kompleks
titrasi pengendapan

Titrasi Asam - Basa


Titran merupakan asam atau basa kuat
titrasi asam kuat - basa kuat
titrasi basa kuat - asam kuat
titrasi asam lemah - basa kuat
titrasi basa lemah - asam kuat

Indikator: zat yang ditambahkan ke dalam


larutan analit untuk mengetahui titik akhir
titrasi

Penentuan titik akhir titrasi

Perhatikan
perubahan
warna

Kurva Titrasi Asam Kuat - Basa Kuat

pH

12
11
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1

Fenolftalein
Titik ekuivalen

Biru bromtimol
Merah metil

10

20

30

40

50

60

70

ml NaOH

Titrasi asam kuat - basa kuat


misalkan 50ml HCl 0,1 M
dititrasi dengan NaOH 0,1M
HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) +
H2O(l) atau
H+(aq) + OH-(aq) H2O(l)
sebelum penambahan NaOH
HCl adalah asam kuat dan
terdisosiasi lengkap, jadi [H+] =
0,1
pH = - log [H+] = 1

Setelah penambahan 10 ml NaOH


reaksi yang terjadi selama titrasi adalah
H+(aq) + OH-(aq) H2O(l)
(50 ml) x (0,1 mmol/ml) H= bereaksi dengan
(10 ml) x (0,1 mmol/ml) OHH+(aq)
+ OH-(aq)
5,00 mmol
1,00 mmol
1,00 mmol
1,00 mmol
4,00 mmol

H2O(l)

dalam kesetimbangan terdapat 4,00 mmol H= dalam 60 ml larutan. Jadi,


[H+] = 4,00 mmol / 60ml = 6,67 x 10-2 mmol/ml
pH = - log [H+] = 2 - log 6,67 = 1,18
hitung pH larutan setelah penambahan 20, 30, 40, 45 dan 49,9 ml NaOH

Setelah penambahan 50 ml NaOH


reaksi berlangsung sempurna, garam
yang dihasilkan yaitu NaCl tidak asam
dan dan tidak pula basa dalam larutan air
(tidak dihidrolisis), maka larutan itu
netral; [H+] = [OH-] = 1,0 x 10-7
pH = 7
Setelah penambahan 60 ml NaOH

Perhatikan: setelah titik ekuivalen


tercapai (besar pH = 7,00),
penambahan 0,05 ml titran akan
merubah pH menjadi 9,7 nilai tersebut
diperoleh dari
H+(aq)
+ OH-(aq)
H2O(l)
5,00 mmol
5,05 mmol
5,00 mmol
5,00 mmol
0
0,05 mmol
dalam kesetimbangan terdapat 0,05
mmol OH- dalam 100,05 ml larutan.
Jadi,
[OH-] = 0,05 mmol / 100,05 ml =
0,0005 mmol/ml
pOH = - log [OH-] = 3,30125
pH = 14 - pOH = 9,7

H+(aq) + OH-(aq) H2O(l)


5,00 mmol
6,00 mmol
5,00 mmol
5,00 mmol
0
1,00 mmol
dalam kesetimbangan terdapat 1,00
mmol OH- dalam 110 ml larutan. Jadi,
[OH-] = 1,00 mmol / 110ml = 9,1 x 10-3
mmol/ml
pOH = - log [OH-] = 3 - log 9,1 = 2,04
hitung pH larutan setelah
pH = 14 - pOH = 11,96
penambahan 51, 70, 80, 100
ml NaOH

Perubahan warna pada fenolftalien

Perubahan warna terjadi pada pH 8,3 - 10

Perubahan warna pada biru bromtimol

Perubahan warna terjadi pada pH 6 - 7,6

Perubahan warna pada merah metil

Perubahan warna terjadi pada pH 4,2 - 6,3

Kurva Titrasi Asam Lemah - Basa Kuat

pH

12
11
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1

Titik ekuivalen

10

20

30

40

50

60

70

ml NaOH

Titrasi asam lemah - basa kuat


misalkan 50ml suatu asam lemah HA
Ka =1,0 x 10-5 0,1 M dititrasi dengan
NaOH 0,1M
sebelum penambahan NaOH
HA adalah asam lemah dan terdisosiasi
dengan lemah
HB (aq) + H2O (l)
H3O+ (aq) + A- (aq)
Maka dianggap [H3O+] [A-] dan
[HA] = 0,1 - [H3O+] 0,1
[H3O+][A-]
[HA]
[H3O]2
0,1

= Ka

= 1,0 x 10-5

[H3O+] = 1,0 x 10-3


pH

= 3,00

Setelah penambahan 10 ml NaOH


reaksi yang terjadi selama titrasi adalah
HA + OH- H2O + A(50 ml) x (0,1 mmol/ml) HA bereaksi
dengan (10 ml) x (0,1 mmol/ml) OHHA
5,00 mmol
1,00 mmol
4,00 mmol

OH-

H2O

A-

1,00mmol
1,00mmol
0

1,0mmol 1,0mmol

dalam kesetimbangan terdapat 4,00 mmol


HA dan 1,0 mmol A- dalam 60 ml larutan.

[HA] =

[A-] =

4,00
60

- [H3O ]

1,00
+ [H3O+]
60

[H3O+][A-]
[HA]

4,00

60
1,00
60

= Ka

Setelah penambahan 50 ml NaOH


(pH pada titik ekuivalen)
terbentuk 5,00 mmol A-; [A-] =
5,00/100 = 0,05M
A- adalah basa dan reaksinya dengan
air adalah
A- + H2O
HA + OHdianggap [HA] [OH-]
maka
[HA][OH-]
= Kb = 1,0 x 10-9

[A- ]
[H3O+] (1,0/60)
(4,0/60)

= 1,0 x 10-5

[H3O+] = 4 x 10-5
pH

= 5 - log 4 = 4,40

[OH-]
0,05

= 1,0 x 10-9

[OH-] = 7,1 x 10-6


pOH = 5,15
pH = 8,85

Setelah penambahan 60 ml NaOH


setelah tercapai titik ekuivalen, masih
terdapat 10 ml OH- 0,1M atau 1,0 mmol
sementara OH- yang dihasilkan dari reaksi
A- + H2O
HA + OHdapat diabaikan, sehingga

[OH ] =

1,0 mmol

110 ml

pOH = 2,04
pH = 11,96

= 9,1 x 10-3

Perhatikan: setelah titik ekuivalen


tercapai (besar pH = 8,85),
penambahan 0,10 ml titran akan
merubah pH menjadi 9,7 nilai
tersebut diperoleh dari
0,01 mmol
[OH ] =
-

100,1 ml

pOH = 4,0
pH = 10,0

= 9,99 x 10-5

Cara menghitung pH titrasi


untuk titrasi asam lemah - basa kuat
Spesi yang
terdapat pada
larutan

T=0
T<1

HA

asam
terionisasi
HA dan Abuffer

T=1

Garam
terhidrolisis

T>1

OH-

HA + OH

Persamaan
HA + H2O

H3O++ A-

[H3O ] = Ka.[HA]
+

Ka =

[H3O+][A-]
[HA]

A- + H2O

A- + H2O

Ka =

[H3O+][A-]

[HA]
[H3O ] = [A-]
+

pH = pKa + log

HA + OH

[OH-] = Kb.[A-]

[OH-] = kelebihan titran

Kb =

[A-]
[HA]

[HA][OH -]

[A-]
[HA] = [OH -]

Cara menghitung pH titrasi


untuk titrasi basa lemah - asam kuat
Spesi yang
terdapat pada
larutan

T=0
T<1

Basa
terionisasi
B dan HB+
buffer

T=1

HB+
Garam
terhidrolisis

T>1

H3O+

Persamaan
B + H2O

B + H3O+

HB+ + OH

[OH ] = Kb.[A ]
-

Kb =

Kb =

[HB+][OH -]
[B]

[HB] = [OH -]

[HB+][OH -]

pOH = pKb + log

[B]

HB+ + H2O

HB+ + H2O

H3O++ B

[H3O+] = Ka.[HB+]

[H3O+] = kelebihan titran

Ka =

[H3O+][B]
[HB+]

[H3O+] = [B]

[HB+]
[B]

Soal
Senyawa cisplatin Pt(NH3)2Cl2 sebagai agen chemotherapy
yang dapat dibuat sesuai reaksi berikut:
(NH4)2PtCl4 (s)+
2NH3 (aq) 2 NH4Cl(aq)+ Pt(NH3)2Cl2 (s) untuk membuat cisplatin,
anda mereaksikan sebanyak 15,5 gram padatan (NH4)2PtCl4
dengan 225 mL larutan NH3 0,75M
a. tentukan reaksi yang terjadi bila NH3 dilarutkan dalam air
b. tentukan pH larutan NH3 0,75M (Kb NH3=1,8 x 10-5)
c. tuliskan reaksi ionisasi (NH4)2PtCl4 dan Pt(NH3)2Cl2 bila larut
dalam air

d. antara larutan (NH4)2PtCl4 (373 g/mol) dan Pt(NH3)2Cl2 (300g/mol)


bila larut dalam air dengan molaritas yang sama, manakah yang
mempunyai daya hantar listrik paling besar
e. Berdasarkan data di atas tentukan pereaksi yang jumlahnya
berlebih, dan tentukan mana pereaksi pembatas
f. berapa banyak cisplatin yang dapat terbentuk sebanyak-banyaknya
g. sesudah pereaksi pembatas digunakan dan dihasilkan cisplatin
yang maksimum, apa dan berapa gram jumlah pereaksi yang tersisa
h. tentukan molaritas larutan NH4Cl yang terbentuk dari reaksi tersebut

ARGENTOMETRI

Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah


larut antara titran dengan analit.
Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana
ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam
yang tidak mudah larut AgCl.
Ag(NO3)(aq) + NaCl(aq) -> AgCl(s) + NaNO3(aq)

Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak
akan bereaksi dengan indicator.
Indikator yang dipakai biasanya adalah
i on kromat CrO42- dimana dengan indicator ini ion perak akan membentuk
endapan berwarna coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat
diamati.
tiosianida dan indicator adsorbsi

Berdasarkan jenis indicator dan teknik titrasi yang dipakai


maka titrasi argentometri dapat dibedakan atas Argentometri
dengan metode ;
Mohr
Volhard
Fajans
Ketajaman titik ekuivalen tergantung dari kelarutan endapan
yang terbentuk dari reaksi antara analit dan titrant.
Endapan dengan kelarutan yang kecil akan menghasilkan
kurva titrasi argentometri yang memiliki kecuraman yang
tinggi sehingga titik ekuivalen mudah ditentukan, akan tetapi
endapan dengan kelarutan rendah akan menghasilkan kurva
titrasi yang landai sehingga titik ekuivalen agak sulit
ditentukan.

Konstanta kesetimbangan reaksi


pengendapan untuk reaksi pengendapan
adalah ;
Ksp AgX = [Ag+] [X-]

Argentometri Metode Mohr


Konsentrasi ion klorida dalam suatu
larutan dapat ditentukan dengan cara
titrasi dengan larutan standart perak
nitrat.
Endapan putih perak klorida akan
terbentuk selama proses titrasi
berlangsung dan digunakan indicator
larutan kalium kromat encer.
Setelah semua ion klorida
mengendap maka kelebihan ion Ag+
pada saat titik akhir titrasi dicapai
akan bereaksi dengan indicator
membentuk endapan coklat
kemerahan Ag2CrO4 (lihat gambar).

Tingkat keasaman (pH) larutan yang mengandung NaCl


berpengaruh pada titrasi.
Titrasi dengan metode Mohr dilakukan pada pH 8. Jika pH
terlalu asam (pH < 6), sebagian indikator K2CrO4
akan berbentuk HCrO4-, sehingga larutan AgNO3 lebih banyak
yang dibutuhkan untuk membentuk endapan Ag2CrO4.
Pada pH basa (pH> 8), sebagian Ag+ akan diendapkan menjadi
perak karbonat atau perak hidroksida, sehingga larutan
AgNO3 sebagai penitrasi lebih banyak yang dibutuhkan.

PENENTUAN KADAR NaCl DALAM GARAM DAPUR


Menetapkan kadar NaCl dalam garam dapur dengan cara
menstandardisasi larutan garam dapur dengan larutan standar AgNO3
menggunakan metode Mohr (Garam dapur telah dikeringkan di dalam
oven selama 1 jam dengan suhu 1100C)
Cara Kerja :
- Larutkan 1,00 gram garam dapur dengan aquades di dalam labu ukur 250
mL.
- Ambil 25,00 mL larutan garam dapur tersebut, tuangkan ke dalam
erlenmeyer 250 mL, tambahkan 1,0 mL larutan K2CrO4 2% sebagai
indikator.
- Titrasi dengan larutan standar AgNO3 sampai terbentuk warna merah
bata.
- Percobaan diulang 3 kali
- Hitung kadar NaCl dalam garam dapur.

Perhitungan

METODE VOLHARD
Prinsip :
Pada metode ini, sejumlah volume
larutan standar AgNO3 ditambahkan
secara berlebih ke dalam larutan
yang mengandung ion halida (X-).
Sisa larutan standar AgNO3 yang
tidak bereaksi dengan Cl- dititrasi
dengan larutan standar tiosianat
( KSCN atau NH4SCN ) menggunakan
indikator besi (III) (Fe3+).
Reaksinya sebagai berikut ;

Ag+(aq) + Cl-(aq) -> AgCl(s) (endapan putih)


Ag+(aq) + SCN-(aq) -> AgSCN(s) (endapan putih)
Fe3+(aq) + SCN(aq) -> Fe(SCN)2+ (kompleks berwarna merah)

PENENTUAN KADAR NaCl DALAM GARAM DAPUR


Menetapkan kadar NaCl dalam garam dapur dengan cara
menstandardisasi larutan garam dapur menggunakan Argentometri
metode Volhard.
Cara Kerja :
- Larutkan 1,00 gram sampel garam dapur (telah dikeringkan dalam
oven selama 1 jam, suhu 110oC) dengan aquades di dalam labu ukur
250 mL.
- Ambil 25,00 mL larutan tersebut dengan pipet volume tuangkan ke
dalam labu erlenmeyer 250 ml.
- Tambahkan 1 mL asam nitrat 4 M dan 5 mL larutan Fe(NH4)SO4 1N.
- Tambahkan larutan standar AgNO3 (dalam keadaan berlebih tetapi
harus diketahui volumenya dengan pasti) ke dalam larutan yang ada
dalam erlenmeyer.

- Tambahkan 15 mL nitro benzena, kemudian labu erlenmeyer ditutup dan


dikocok secara merata sehingga semua endapan AgCl dilapisi oleh
nitro benzena.
- Sisa AgNO3 yang bereaksi dengan ion klorida (Cl-) dititrasi dengan
larutan standar NH4SCN menggunakan indikator larutan Fe(NH4)SO4 1
N sebanyak 5 mL. Titik akhir titrasi dicapai pada saat pertama kali
terbentuk warna merah coklat.
- Percobaan dilakukan 3 kali
- Hitung kadar (%) NaCl dalam garam dapur dengan persamaan :

METODE FAJANS
Prinsip :
Pada titrasi Argentometri dengan metode Fajans ada dua tahap
untuk menerangkan titik akhir titrasi dengan indikator absorpsi
(fluorescein).
Selama titrasi berlansung (sebelum TE) ion halida (X-) dalam
keadaan berlebih dan diabsorbsi pada permukaan endapan AgX
sebagai permukaan primer.
Setelah titik ekivalen tercapai dan pada saat pertama ada kelebihan
AgNO3 yang ditambahkan Ag+ akan berada pada permukaan primer
yang bermuatan positif menggantikan kedudukan ion halida (X-).
Bila hal ini terjadi maka ion indikator (Ind-) yang bermuatan negatif
akan diabsorpsi oleh Ag+ (atau oleh permukaan absorpsi).

Reaksi

Jadi titik akhir titrasi tercapai bila warna


merah telah terbentuk

PENENTUAN KADAR NaCl DALAM GARAM DAPUR

Menentukan kadar NaCl dalam garam dapur dengan cara


menstandarisasi larutan garam dapur dengan larutan
standar AgNO3 secara Argentometri metode Fajans.
Cara kerja :
- Dilarutkan 1,00 gram garam dapur (yang telah
dikeringkan dalam oven selama 1 jam dengan suhu
1100C) ke dalam aquades di dalam labu ukur 250 mL.
- Diambil 25,00 mL larutan tersebut dengan pipet volume,
dituangkan kedalam labu erlenmeyer 250 mL,
ditambahkan 0,4 mL larutan dikhlorofluorescein dan 0,1
gram dekstrin.

- Titrasi dengan larutan standar AgNO3


sampai pertama kali terbentuk warna
merah muda pada permukaan endapan
AgCl, berarti titik akhir titrasi tercapai.
- Percobaan diulang 3 kali
- Hitung kadar (%) NaCl dalam garam dapur.

Titrimetri
1.

2.

3.

50 mL larutan HCl memerlukan 29,71 mL larutan Ba(OH)2 0,01963 M


untuk mencapai titik akhir dengan indikator bromokresol hijau.
Hitung molaritas HCl.
suatu sampel bahan organik yang mengandung merkuri seberat
3,776 g diuraikan dengan HNO3. Setelah pengenceran, Hg2+
dititrasi dengan 21,30 mL larutan NH4SCN 0,1144 M. Hitung %Hg
(200,59 g/mol) di dalam sampel.
suatu sampel bijih besi seberat 0,8040 g dilarutkan dalam asam.
Besi kemudian direduksi menjadi Fe2+ dan dititrasi dengan 0,02242
M KMnO4 ternyata diperlukan 47,22 mL sampai tercapainya titik
akhir. Hitung a) %Fe (55,847 g/mol) dan b) %Fe3O4 (231,54 g/mol) di
dalam sampel. Reaksi analit dengan reagen adalah:
MnO4- + 5Fe2+ 8H+ Mn2+ + 5Fe3+ + 4H2O

TITRASI KOMPLEKSOMETRI
Senyawa/ ion kompleks dibentuk oleh reaksi suatu ion
logam (suatu kation) dengan suatu anion atau molekul
netral. Ion logam dalam kompleks itu disebut atom pusat
dan gugus yang terikat dengannya disebut ligan.
Banyaknya ikatan yang dibentuk oleh atom logam pusat
disebut bilangan koordinasi logam itu.
Contoh suatu ion kompleks Ag(CN)2-

Perak merupakan atom pusat dengan bilangan koordinasi


2 dan sianida adalah ligannya

Ion logam merupakan asam Lewis (akseptor pasangan elektron)


sedangkan ligan merupakan basa Lewis (donor pasangan elektron).
Amonia merupakan agen pengompleks sederhana dengan satu
pasang elektron yang belum berikatan.
Bila amonia membentuk kompleks dengan ion Ag, maka 2 molekul
amonia membentuk kompleks dengan satu ion Ag dalam dua
langkah kesetimbangan:

reaksi keseluruhannya:

Kf adalah konstanta pembentukan atau konstanta


stabilitas, kebalikannya adalah Konstanta instabilitas (Kins)
atau konstanta disosiasi (Kd)

Salah satu senyawa komplek yang biasa digunakan sebagai penitrasi


dan larutan standar adalah ethylene diamine tetra acetic acid (EDTA).

EDTA merupakan asam lemah dengan empat proton.


Bentuk asam dari EDTA dituliskan sebagai H4Y dan reaksi
netralisasinya adalah sebagai berikut :

Sebagai penitrasi/pengomplek logam, biasanya yang


digunakan yaitu garam Na2EDTA (Na2H2Y), karena EDTA
dalam bentuk H4Y dan NaH3Y tidak larut dalam air.
EDTA dapat mengomplekkan hampir semua ion logam
dengan perbandingan mol 1 : 1 berapapun bilangan
oksidasi logam tersebut.
Kestabilan senyawa komplek dengan EDTA, berbeda antara
satu logam dengan logam yang lain.
Reaksi pembentukan komplek logam (M) dengan EDTA (Y)
adalah :

Konstanta pembentukan/kestabilan senyawa komplek


dinyatakan sebagai berikut ini :

Besarnya harga konstanta pembentukan komplek


menyatakan tingkat kestabilan suatu senyawa komplek.
Makin besar harga konstante pembentukan senyawa
komplek, maka senyawa komplek tersebut makin stabil dan
sebaliknya makin kecil harga konstanta kestabilan senyawa
komplek, maka senyawa komplek tersebut makin tidak
(kurang) stabil.

Karena selama titrasi terjadi reaksi pelepasan ion H+ maka


larutan yang akan dititrasi perlu ditambah larutan bufer.

Kurva Titrasi

menunjukkan
pH minimum
dimana ion
logam dapat
dititrasi dengan
EDTA

titrasi dilakukan dengan menambahkan agen pengelat


kepada sampel.
Kurva menggambarkan kurva titrasi untuk 100 mL 0,1M
Ca2+ yang dititrasi dengan 0,1M Na2EDTA pada pH 7 dan
pH 10.

Indikator
Untuk menentukan titik akhir titrasi ini digunakan indikator,
diantaranya Calmagite, Arsenazo, Eriochrome Black T (EBT).
Eriochrome black T
Molekulnya biasa diwakili dengan H3In, pada gambar struktur di atas
merupakan ion H2In-.
setelah gugus asam sulfonat terdisosiasi dalam air
kelemahan indikator ini, tak stabil dalam larutan, sehingga larutan
tidak dapat disimpan lama.

Sebagai contoh titrasi antara Mg2+ dengan EDTA sebagai


penitrasi,menggunakan indikator calmagite.
Reaksi antara ion Mg2+ dengan EDTA tanpa adanya penambahan
indikator adalah :

Jika sebelum titrasi ditambahkan indikator maka indikator akan


membentuk kompleks dengan Mg2+ (berwarna merah) kemudian
Mg2+ pada komplek akan bereaksi dengan EDTA yang ditambahkan.
Jika semua Mg2+ sudah bereaksi dengan EDTA maka warna merah
akan hilang selanjutnya kelebihan sedikit EDTA akan menyebabkan
terjadinya titik akhir titrasi yaitu terbentuknya warna biru.

Indikator eriochrome black T disiapkan dalam bentuk larutan 0,5%


(berat/volum) dalam etanol.
Perhatikan bahwa indikator harus dalam keadaan fresh.
Larutan 0,005M Mg-EDTA dibuat dengan mereaksikan 0,01 M EDTA dengan
0,01M MgCl2. Larutan Mg-EDTA pada pH10 dengan kehadiran eriochrome
black T akan menghasilkan warna ungu, penambahan setetes EDTA akan
menghasilkan warna biru dan penambahan setetes MgCl2 akan
menghasilkan warna merah.
Larutan bufer NH3-NH4Cl pH 10 dibuat dengan melarutkan 3,2g NH4Cl
dalam air, ditambah 29 mL NH3 pekat kemudian diencerkan hingga 50 mL.
Untuk membuat 0,01M larutan EDTA, timbang dengan tepat 2g
Na2H2Y.2H2O (setelah dikeringkan 80oC selama 2 jam dan dimasukkan
desikator 1/2 jam), kemudian larutkan dalam air menggunakan labu ukur
500mL. EDTA sukar larut dalam air. Simpan dalam botol polietilena.

STANDARDISASI
CaCl2.

LARUTAN

EDTA DENGAN

LARUTAN

Cara Kerja :
- Siapkan larutan standar CaCl2 0,1M dengan cara
melarutkan 0,25 gram CaCO3 dengan 25 mL aquades di
dalam beaker glass 250 mL, tambahkan 1 mL HCl pekat
melalui dinding gelas piala dan tutup dengan kaca arloji,
maka kaca arloji dicuci dengan aquades, cucian
masukkan kedalam beaker glass, kemudian tuangkan
secara kuantitatif kedalam labu ukur 250 mL dan
encerkan dengan aquades sampai tanda batas.
- Siapkan larutan EDTA 0,01 dengan cara melarutkan 3,8
gram Na2EDTA.2H2O (BM=372) dengan aquades dalam
labu ukur 1000 ml.

- Ambil 25,00 mL larutan standar CaCl2 diatas, tuangkan ke dalam


labu erlenmeyer 250 ml, tambah dengan 1,0 mL larutan bufer
pH = 10 dan 2-3 tetes indikator EBT maka larutan akan
berwarna merah.
- Titrasi dengan larutan EDTA yang telah disiapkan sampai terjadi
perubahan warna dari merah ke biru.
- Percobaan diulang 3 kali
- Hitung molaritas larutan EDTA

PENENTUAN TOTAL KESADAHAN DALAM AIR LAUT


Cara kerja :
- Ambil 2,00 mL sampel air laut, tuangkan kedalam labu erlenmeyer 250
mL, tambah dengan 25 mL aquades.
- Tambah dengan 1,0 mL larutan bufer pH 10 dan 2-3 tetes indikator EBT
maka larutan akan berwarna merah.
- Titrasi dengan larutan standar EDTA sampai terjadi perubahan warna
dari merah ke biru.
- Percobaan diulang 3 kali
- Hitung total kesadahan dalam air laut

TITRASI OKSIDASI-REDUKSI
Oksidasi adalah pelepasan satu atau lebih elektron dari suatu
atom, ion atau molekul.
Sedang reduksi adalah penangkapan satu atau lebih elektron oleh
suatu atom, ion atau molekul.
Tidak ada elektron bebas dalam sistem kimia, dan pelepasan
elektron oleh suatu zat kimia selalu disertai dengan penangkapan
elektron oleh bagian yang lain, dengan kata lain reaksi oksidasi
selalu diikuti reaksi reduksi.
Dalam reaksi oksidasi reduksi (redoks) terjadi perubahan valensi
dari zat-zat yang mengadakan reaksi.
Disini terjadi transfer elektron dari pasangan pereduksi ke
pasangan pengoksidasi

Indikator titrasi redok merupakan senyawa berwarna yang


akan berubah warna jika teroksidasi atau tereduksi.
Indikator akan bereaksi secara redoks dengan penitrasi
setelah semua larutan yang dititrasi habis bereaksi dengan
penitrasi, karena indikator ditambahkan dalam jumlah kecil.
Pemilihan indikator titrasi redoks yaitu indikator yang
mempunyai harga kisaran potensial yang berada disekitar
harga potensial titik ekivalen titrasi.
Indikator harus bereaksi secara cepat dengan penitrasi.
Bila indikator bereaksi lambat maka titik akhir titrasi akan
datang terlambat, sehingga akan lebih banyak volume
penitrasi yang diperlukan dari yang seharusnya.

Beberapa indikator titrasi oksidasi reduksi

Analisis volumetri yang berdasarkan reaksi redoks


diantaranya adalah :
bromatometri,
yodometri,
yodimetri,
yodatometri,
permanganometri dan
serimetri.

Y odometri dan Yodimetri

Yodida merupakan oksidator yang relatif lemah. Oksidasi


potensial sistem yodium yodida ini dapat dituliskan
sebagai reaksi berikut ini :
Yodimetri merupakan titrasi langsung dengan baku
yodium terhadap senyawa dengan potensial oksidasi
yang lebih rendah,
yodometri merupakan titrasi tidak langsung, metode ini
diterapkan terhadap senyawa dengan potensial oksidasi
yang lebih besar dari sistem yodium yodida. Yodium yang
bebas dititrasi dengan natrium tiosulfat.

Lanjutan

Satu tetes larutan yodium 0,1 N dalam 100 ml air memberikan


warna kuning pucat.
Untuk menaikkan kepekaan titik akhir dapat digunakan
indikator kanji.
Yodium dilihat dengan kadar yodium 2 x 10-4 M dan yodida 4
x 10-4 M.
Penyusun utama kanji adalah amilosa dan amilopektin.
Amilosa dengan yodium membentuk warna biru, sedangkan
amilopektin membentuk warna merah.
Sebagai indikator dapat pula digunakan karbon tetraklorida.
Adanya yodium dalam lapisan organik menimbulkan warna
ungu.

Yodatometri

Kalium yodat merupakan oksidator yang kuat.


Dalam kondisi tertentu kalium yodat dapat bereaksi secara
kuantitatif dengan yodida atau yodium.
Dalam larutan yang tidak terlalu asam, reaksi yodat dengan
garam yodium, seperti kalium yodida, akan berhenti jika yodat
telah tereduksi menjadi yodium.

I2 yang terbentuk dapat dititrasi dengan natrium tiosulfat baku.


Jika konsentrasi asamnya tinggi yaitu lebih dari 4 N, yodium
yang terbentuk pada reaksi diatas akan dioksidasi oleh yodat
menjadi ion yodium, I+.

Lanjutan..

Konsentrasi ion klorida yang tinggi menyebabkan terbentuknya


yodium monoklorida yang stabil terhadap hidrolisis karena
adanya asam klorida.

Pada reaksi ini untuk mengamati titik akhir reaksi dapat


digunakan kloroform atau karbon tetraklorida.
Pada awal titrasi timbul yodium sehingga larutan kloroform
berwarna ungu.
Pada titrasi selanjutnya yodium yang terbentuk akan dioksidasi
lagi menjadi I- dan warna lapisan kloroform menjadi hilang.

Permanganometri

Permanganometri adalah penetapan kadar zat berdasar atas


reaksi oksidasi reduksi dengan KMnO4. Dalam suasana asam
reaksi dpat dituliskan sebagai berikut:
Dengan demikian berat ekivalennya seperlima dari berat
molekulnya atau 31,606.
Asam sulfat merupakan asam yang paling cocok karena tidak
bereaksi dengan permanganat.
Sedangkan dengan asam klorida terjadi reaksi sebagai berkut:

Analisis Vitamin C

Lebih kurang 400 mg sampel yang ditimbang


saksama dilarutkan dalam campuran yang
terdiri dari 50 ml air bebas CO2 dan 10 ml
asam sulfat encer. Titrasi segera dengan
yodium 0,1 N menggunakan indikator kanji 1
ml hingga terjadi warna biru mantap selama 1
menit.

TERIMA KASIH
ARMON FERNANDO, M.Si., Apt.

Jawab
a. NH3 (aq)+ H2O NH4OH(aq)
b. Kb = [NH4+][OH -]
1,8 .10-5 =

[NH3]
[x]2

NH4+(aq) + OH-(aq)
[NH4+] = [OH-] = x
[NH3] = 0,75 - x 0,75

0,75

x = 3,6 .10-3
[OH-] = x = pOH = - log 3,6.10-3
pOH = 2,435 pH = 14 - 2,435 = 11,565

c. (NH4)2PtCl4 (aq) NH4+ (aq) + PtCl42- (aq)


Pt(NH3)2Cl2 4 (aq) Pt(NH3)22+ (aq) + 2Cl- (aq)

d. keduanya merupakan elektrolit kuat

(NH4)2PtCl4 (s) + 2NH3 (aq) 2 NH4Cl(aq)+ Pt(NH3)2Cl2 (s)


e. mol (NH4)2PtCl4 = 15,5 g/ 373 = 0,0416 mol
mol NH3 = 0,225 L x 0,75 mol/L = 0,16875 mol
1 mol (NH4)2PtCl4 2 mol NH3
0,0416 mol(NH4)2PtCl4 0,0832 mol NH3
pereaksi pembatas adalah (NH4)2PtCl4

f. cisplatin yang terbentuk


0,0416 mol x 300 g/mol = 12,48 g

g. sisa NH3
0,16875 mol - 0,0832 mol = 0,08555 mol = 0,08555 mol x 17g/mol =
1,454 g NH3

h. jumlah mol NH4Cl


= 2 x 0,0416 mol = 0,0832 mol
molaritas = 0,0832 mol / 0,225 L = 0,36978 M

Anda mungkin juga menyukai