Anda di halaman 1dari 17

GEL

KELOMPOK I
FARMASI B

Gel (Gelones)
Gel merupakan sediaan semipadat yang
jernih, tembus cahaya dan mengandung zat
aktif, merupakan dispersi koloid mempunyai
kekuatan yang disebabkan oleh jaringan
yang saling berikatan pada fase terdispersi.
Gel diberikan untuk penggunaan topikal atau
dimasukkan kedalam lubang tubuh.
Penyimpanan sediaan gel dalam wadah
tertutup baik, dalam botol mulut lebar
terlindung dari cahaya, ditempat sejuk.

Gel terbagi dua, yaitu :

Keuntungan
kemampuan penyebarannya baik pada
kulit
efek dingin, yang dijelaskan melalui
penguapan lambat dari kulit
tidak ada penghambatan fungsi
rambut secara fisiologis
kemudahan pencuciannya dengan air
yang baik
pelepasan obatnya baik

Kekurangan :
Untuk hidrogel : harus menggunakan zat aktif yang larut
di dalam air sehingga diperlukan penggunaan peningkat
kelarutan seperti surfaktan agar gel tetap jernih pada
berbagai perubahan temperatur, tetapi gel tersebut
sangat mudah dicuci atau hilang ketika berkeringat,
kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan
iritasi dan harga lebih mahal.
Penggunaan emolien golongan ester harus diminimalkan
atau dihilangkan untuk mencapai kejernihan yang tinggi.
Untuk hidroalkoholik : gel dengan kandungan alkohol yang
tinggi dapat menyebabkan pedih pada wajah dan mata,
penampilan yang buruk pada kulit bila terkena pemaparan
cahaya matahari, alkohol akan menguap dengan cepat
dan meninggalkan film yang berpori atau pecah-pecah
sehingga tidak semua area tertutupi atau kontak dengan
zat aktif.

Eksepien sediaan gel


Gelling agent
Polietilen (gelling oil)
Koloid padat terdispersi
Surfaktan
Wax
Polivinil alkohol
Pengawet
Chelating agent

Gelling Agent
Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan
struktur yaitu gum arab, turunan selulosa, dan
karbomer. Kebanyakan dari sistem tersebut
berfungsi dalam media air, selain itu ada yang
membentuk gel dalam cairan nonpolar. Beberapa
partikel padat koloidal dapat berperilaku sebagai
pembentuk gel karena terjadinya flokulasi
partikel. Konsentrasi yang tinggi dari beberapa
surfaktan nonionik dapat digunakan untuk
menghasilkan gel yang jernih di dalam sistem
yang mengandung sampai 15% minyak mineral.

P
o
l
I
e
t
I
l
e
n

G
E
L
L
I
N
G
o
I
l

Digunakan dalam gel hidrofobik


menghasilkan gel yang lembut,
mudah
tersebar,
dan
membentuk lapisan/film yang
tahan air pada permukaan
kulit. Untuk membentuk gel,
polimer harus didispersikan
dalam minyak pada suhu tinggi
(di
atas
800C)
kemudian
langsung didinginkan dengan
cepat untuk mengendapkan
kristal
yang
merupakan
pembentukan matriks.

Koloid padat terdispersi

Mikrokristalin selulosa dapat


berfungsi sebagai gellant
dengan cara pembentukan
jaringan karena gaya tarikmenarik antar partikel seperti
ikatan hidrogen.

Surfaktan
Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh
kombinasi antara minyak mineral, air, dan
konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari
surfaktan anionik. Kombinasi tersebut
membentuk mikroemulsi. Bentuk komersial
yang paling banyak untuk jenis gel ini
adalah produk pembersih rambut.

Wax
Banyak wax yang digunakan sebagai
gellants untuk media nonpolar seperti
beeswax, carnauba wax, setil ester wax.

Chelating agent
Bertujuan untuk mencegah basis
dan zat yang sensitif terhadap
logam berat. Contohnya EDTA

Polivinil alkohol

Untuk membuat gel yang dapat


mengering secara cepat. Film
yang terbentuk sangat kuat dan
plastis
sehingga
memberikan
kontak yang baik antara obat dan
kulit. Tersedia dalam beberapa
grade
yang
berbeda
dalam
viskositas dan angka penyabunan.

Pengawet
Meskipun beberapa basis
gel resisten terhadap
serangan mikroba, tetapi
semua gel mengandung
banyak air sehingga
membutuhkan pengawet
sebagai antimikroba.
Dalam pemilihan
pengawet harus
memperhatikan
inkompatibilitasnya
dengan gelling agent.

Hal yang harus diperhatikan :


Penampilan gel : transparan atau berbentuk
suspensi partikel koloid yang terdispersi,
dimana dengan jumlah pelarut yang cukup
banyak membentuk gel koloid yang
mempunyai struktur tiga dimensi.
Inkompatibilitas dapat terjadi dengan
mencampur obat yang bersifat kationik
pada kombinasi zat aktif, pengawet atau
surfaktan dengan pembentuk gel yang
bersifat anionik (terjadi inaktivasi atau
pengendapan zat kationik tersebut).

Cont..
Gelling agents yang dipilih harus bersifat inert,
aman dan tidak bereaksi dengan komponen lain
dalam formulasi.
Penggunaan
polisakarida
memerlukan
penambahan pengawet sebab polisakarida
bersifat rentan terhadap mikroba.
Viskositas sediaan gel yang tepat, sehingga
saat disimpan bersifat solid tapi sifat soliditas
tersebut mudah diubah dengan pengocokan
sehingga mudah dioleskan saat penggunaan
topikal

Cont..
Pemilihan komponen dalam formula yang tidak
banyak menimbulkan perubahan viskositas saat
disimpan di bawah temperatur yang tidak
terkontrol.
Konsentrasi polimer sebagai gelling agents harus
tepat sebab saat penyimpanan dapat terjadi
penurunan konsentrasi polimer yang dapat
menimbulkan syneresis (air mengambang diatas
permukaan gel)
Pelarut yang digunakan tidak bersifat melarutkan
gel, sebab bila daya adhesi antar pelarut dan gel
lebih besar dari daya kohesi antar gel maka sistem
gel akan rusak.

T
h
a
n
k
s

F
o
R

A
t
t
e
n
t
i
o
n