Anda di halaman 1dari 64

Kornea

Keratitis adalah infeksi pada kornea


yang biasanya diklasifikasikan
menurut lapisan kornea yang terkena
yaitu keratitis superfisialis apabila
mengenal lapisan epitel
ataubowmandan keratitis profunda
atau interstisialis (atau disebut juga
keratitis parenkimatosa) yang
mengenai lapisan stroma (Ilyas,
2006).

Penyebab keratitis bermacam-macam.


Bakteri, virus dan jamur dapat menyebabkan
keratitis. Penyebab paling sering adalah virus
herpes simplex tipe 1. Selain itu penyebab
lain adalah kekeringan pada mata, pajanan
terhadap cahaya yang sangat terang, benda
asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau
mata yang terlalu sensitif terhadap kosmetik
mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain,
kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa
kontak yang kurang baik (Mansjoer, 2001).

Tanda patognomik dari keratitis ialah terdapatnya infiltrat


di kornea. Infiltrat dapat ada di seluruh lapisan kornea, dan
menetapkan diagnosis dan pengobatan keratitis. Pada
peradangan yang dalam, penyembuhan berakhir dengan
pembentukan jaringan parut (sikatrik), yang dapat berupa
nebula, makula, dan leukoma. Adapun gejala umum adalah
:
Keluar air mata yang berlebihan
Nyeri
Penurunan tajam penglihatan
Radang pada kelopak mata (bengkak, merah)
Mata merah
Sensitif terhadap cahaya

Keratitis biasanya diklasifikasikan


berdasarkan lapisan kornea yang
terkena : yaitu keratitis superfisialis
apabila mengenai lapisan epitel dan
bowman dan keratitis profunda
apabila mengenai lapisan stroma.
Bentuk-bentuk klinik keratitis
superfisialis antara lain adalah

Keratitis punctata superfisialis


Berupa bintik-bintik putih pada permukaan
kornea yang dapat disebabkan oleh sindromdry
eye, blefaritis, keratopati logaftalmus,
keracunan obat topical, sinar ultraviolet, trauma
kimia ringan dan pemakaian lensa kontak.
Keratitis flikten
Benjolan putih yang yang bermula di limbus
tetapi mempunyai kecenderungan untuk
menyerang kornea.

Keratitis sika
Suatu bentuk keratitis yang disebabkan
oleh kurangnya sekresi kelenjar
lakrimale atau sel goblet yang berada
di konjungtiva.
Keratitis lepra
Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan
oleh gangguan trofik saraf, disebut juga
keratitis neuroparalitik.

Keratitis nummularis
Bercak putih berbentuk bulat pada
permukaan kornea biasanya multiple
dan banyak didapatkan pada petani.
Bentuk-bentuk klinik keratitis profunda
antara lain adalah :
Keratitis interstisialis luetik atau
keratitis sifilis congenital
Keratitis sklerotikans.

Patofisiologi
Karena kornea avaskuler, maka
pertahanan pada waktu peradangan tidak
segera datang, seperti pada jaringan lain
yang mengandung banyak vaskularisasi.
Maka badan kornea,wandering celldan
sel-sel lain yang terdapat dalam stroma
kornea, segera bekerja sebagai makrofag,
baru kemudian disusul dengan dilatasi
pembuluh darah yang terdapat dilimbus
dan tampak sebagai injeksi perikornea.

Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari


sel-sel mononuclear, sel plasma,
leukosit polimorfonuklear (PMN),
yang mengakibatkan timbulnya
infiltrat, yang tampak sebagai bercak
berwarna kelabu, keruh dengan
batas-batas tak jelas dan permukaan
tidak licin, kemudian dapat terjadi
kerusakan epitel dan timbulah ulkus
kornea

Kornea mempunyai banyak serabut


saraf maka kebanyakan lesi pada
kornea baik superfisial maupun
profunda dapat menimbulkan rasa
sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga
diperberat dengan adanaya gesekan
palpebra (terutama palbebra
superior) pada kornea dan menetap
sampai sembuh.

Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang


meradang dapat menimbulkan fotofobia,
sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf
kornea merupakan fenomena reflek yang
berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada
pembuluh iris. Fotofobia, yang berat pada keba
nyakan penyakit kornea, minimal pada keratitis
herpes karena hipestesi terjadi pada penyakit ini,
yang juga merupakan tanda diagnostik berharga.
Meskipun berair mata dan fotofobia umumnya me
nyertai penyakit kornea, umumnya tidak ada tahi
mata kecuali pada ulkus bakteri purulen

Karena kornea berfungsi sebagai


jendela bagi mata dan membiaskan
berkas cahaya, lesi kornea umumnya
agak mengaburkan penglihatan,
terutama kalau letaknya di pusat

Diagnosa
Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea. Sering
dapat diungkapkan adanya riwayat traumakenyataannya,
benda asing dan abrasi merupakan dua lesi yang umum
pada kornea. Adanya riwayat penyakit kornea juga
bermanfaat. Keratitis akibat infeksi herpes simpleks sering
kambuh, namun karena erosi kambuh sangat sakit dan
keratitis herpetik tidak, penyakit-penyakit ini dapat
dibedakan dari gejalanya. Hendaknya pula ditanyakan
pemakaian obat lokal oleh pasien, karena mungkin telah
memakai kortikosteroid, yang dapat merupakan predisposisi
bagi penyakit bakteri, fungi, atau oleh virus, terutama
keratitis herpes simpleks. Juga mungkin terjadi imunosupresi
akibat penyakit-penyakit sistemik, seperti diabetes, AIDS,
dan penyakit ganas, selain oleh terapi imunosupresi khusus

Dokter memeriksa di bawah cahaya yang memadai.


Pemeriksaan sering lebih mudah dengan
meneteskan anestesi lokal. Pemulusan fluorescein
dapat memperjelas lesi epitel superfisialis yang
tidak mungkin tidak telihat bila tidak dipulas.
Pemakaian biomikroskop (slitlamp) penting untuk
pemeriksaan kornea dengan benar; jika tidak
tersedia, dapat dipakai kaca pembesar dan
pencahayaan terang. Harus diperhatikan perjalanan
pantulan cahaya saat menggerakkan cahaya di atas
kornea. Daerah kasar yang menandakan defek pada
epitel terlihat dengan cara ini

Mayoritas kasus keratitis bakteri pada


komunitas diselesaikan dengan terapi
empiris dan dikelola tanpa hapusan atau
kultur.Hapusan dan kultur sering membantu
dalam kasus dengan riwayat penyakit yang
tidak jelas. Hipopion yang terjadi di mata
dengan keratitis bakteri biasanya steril, dan
pungsi akuos atau vitreous tidak perlu
dilakukan kecuali ada kecurigaan yang
tinggi oleh mikroba endophthalmitis.

Kultur adalah cara untuk mengidentifikasi


organisme kausatif dan satu-satunya cara untuk
menentukan kepekaan terhadap antibiotik. Kultur
sangat membantu sebagai panduan modifikasi
terapi pada pasien dengan respon klinis yang
tidak bagus dan untuk mengurangi toksisitas
dengan mengelakkan obat-obatan yang tidak
perlu. Dalam perawatan mata secara empiris
tanpa kultur dimana respon klinisnya tidak bagus,
kultur dapat membantu meskipun keterlambatan
dalam pemulihan patogen dapat terjadi.

Sampel kornea diperoleh dengan memakai agen


anestesi topikal dan menggunakan instrumen steril
untuk mendapatkan atau mengorek sampel dari daerah
yang terinfeksi pada kornea. Kapas steril juga dapat
digunakan untuk mendapatkan sampel. Ini paling
mudah dilakukan dengan perbesaranSlit Lamp.
Biopsi kornea dapat diindikasikan jika terjadi respon
yang minimal terhadap pengobatan atau jika kultur
telah negatif lebih dari satu kali dengan gambaran
klinis yang sangat mendukung suatu proses infeksi. Hal
ini juga dapat diindikasikan jika infiltrat terletak di
pertengahan atau dalam stroma dengan jaringan
atasnya tidak terlibat.

Pada pasien kooperatif, biopsi kornea dapat


dilakukan dengan bantuanSlit Lampatau
mikroskop operasi. Setelah anestesi topikal,
gunakan sebuah pisau untuk mengambil
sepotong kecil jaringan stroma, yang cukup
besar untuk memungkinkan pembelahan
sehingga satu porsi dapat dikirim untuk
kultur dan yang lainnya untuk histopatologi.
Spesimen biopsi harus disampaikanke
laboratorium secara tepat waktu.

Keratitis bakteri adalah gangguan


penglihatan yang mengancam. Ciriciri khusus keratitis bakteri adalah
perjalanannya yang cepat. Destruksi
corneal lengkap bisa terjadi dalam 24
48 jam oleh beberapa agen bakteri
yang virulen. Ulkus kornea,
pembentukan abses stroma, edema
kornea dan inflamasi segmen
anterior adalah karakteristik dari

Patogen Keratitis bakteri


Grup bakteri yang paling banyak
menyebabkan keratitis bakteri
adalah Streptococcus, Pseudomonas,
Enterobacteriaceae (meliputi
Klebsiella, Enterobacter, Serratia,
and Proteus) dan golongan
Staphylococcus. Lebih dari 20 kasus
keratitis jamur (terutama candidiasis)
terjadi komplikasi koinfeksi bakteri.

Banyak jenis ulkus kornea bakteri mirip satu


sama lain dan hanya bervariasi dalam
beratnya penyakit. Ini terutama berlaku
untuk ulkus yang disebabkan bakteri opor
tunistik (mis.,Streptococcus alfahemolyticus, Staphylococcus aureus,
Staphylococcus epidermidis, Nocardia,danM
fortuitum-chelonei),yang menimbulkan ulkus
kornea indolen yang cenderung menyebar
perlahan dan superficial

Awal dari keratitis bakteri adalah adanya gangguan


dari epitel kornea yang intak dan atau masuknya
mikroorganisme abnormal ke stroma kornea, dimana
akan terjadi proliferasi dan menyebabkan ulkus. Faktor
virulensi dapat menyebabkan invasi mikroba atau
molekul efektor sekunder yang membantu proses
infeksi. Beberapa bakteri memperlihatkan sifat adhesi
pada struktur fimbriasi dan struktur non fimbriasi yang
membantu penempelan ke sel kornea. Selama stadium
inisiasi, epitel dan stroma pada area yang terluka dan
infeksi dapat terjadi nekrosis. Sel inflamasi akut
(terutama neutrofil) mengelilingi ulkus awal dan
menyebabkan nekrosis lamella stroma.

Difusi produk-produk inflamasi


(meliputi cytokines) di bilik posterior,
menyalurkan sel-sel inflamasi ke bilik
anterior dan menyebabkan adanya
hypopyon. Toksin bakteri yang lain
dan enzim (meliputi elastase dan
alkalin protease) dapat diproduksi
selama infeksi kornea yang nantinya
dapat menyebabkan destruksi
substansi kornea.

Temuan Klinis
a. Keratitis Pneumokokus
Ulkus kornea pneumokokus biasanya muncul 24-48 jam
setelah inokulasi pada kornea yang lecet. Infeksi ini secara
khas menimbulkan sebuah ulkus berbatas tegas warna kelabu
yang cenderung menyebar secara tak teratur dari tempat
infeksi ke sentral kornea. Batas yang maju menampakkan
ulserasi aktif dan infiltrasi sementara batas yang ditinggalkan
mulai sembuh. (Efek merambat ini menimbulkan istilah ulkus
serpiginosa akut.) Lapis superfisial kornea adalah yang
pertama terlibat, kemudian parenkim bagian dalam. Kornea
sekitar ulkus sering bening. Biasanya ada hipopion. Kerokan
dari tepian depan ulkus kornea pneumokokus mengandung
diplokokus berbentuk-lancet gram-positif

KeratitisPseudomonas
Ulkus kornea pseudomonas berawal sebagai infiltrat ke
labu atau kuning di tempat epitel kornea yang retak.
Nyeri yang sangat biasanya menyertainya. Lesi ini
cenderung cepat menyebar ke segala arah karena
pengaruh enzim protcolitik yang dihasilkan organisme
ini. Meskipun pada awalnya superfisial, ulkus ini dapat
mengenai seluruh kornea. Umumnya terdapat hipopion
besar yang cenderung membesar dengan berkembang
nya ulkus. Infiltrat dan eksudat mungkin berwarna hijau
kebiruan. Ini akibat pigmen yang dihasilkan organisme
dan patognomonik untuk infeksiP aeruginosa.

Pseudomonasadalah penyebab umum ulkus


kornea bakteri. Kasus ulkus
korneaPseudomonasdapat terjadi pada abrasi
kornea minor atau penggunaan lensa kontak
lunak, terutama yang dipakai agak lama. Ulkus
kornea yang disebabkan organisme ini bervariasi
dari yang sangat jinak sampai yang
menghancurkan. Organisme itu ditemukan
melekat pada permukaan lensa kontak lunak.
Beberapa kasus dilaporkan setelah penggunaan
larutan florescein atau obat tetes mata yang
terkontaminasi

KeratitisStreptokokus
Khas sebagai ulkus yang menjalar dari
tepi ke arah tengah kornea
(serpinginous). Ulkus bewarna kuning
keabu-abuan berbentuk cakram dengan
tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat
menjalar ke dalam dan menyebabkan
perforasi kornea, karena eksotoksin yang
dihasilkan oleh streptokok pneumonia.

Terapi
Terapi antibiotika
Tetes mata antibiotik mampu mencapai tingkat
jaringan yang tinggi dan merupakan metode yang
banyak dipakai dalam pengobatan banyak kasus.
Salep pada mata berguna sewaktu tidur pada kasus
yang kurang berat dan juga berguna sebagai terapi
tambahan. Antibiotik subkonjungtiva dapat
membantu pada keadaan ada penyebaran segera
ke sclera atau perforasi atau dalam kasus di mana
kepatuhan terhadap rejimen pengobatan
diragukan.

Antibiotik topikal spektrum luas empiris digunakan


pada pengobatan awal dari keratitis bakteri. Untuk
keratitis yang parah (melibatan stroma atau dengan
defek yang lebih besar dari 2 mm dengan nanah yang
luas), diberikan dosisloadingsetiap 5 sampai 15 menit
untuk jam pertama, diikuti oleh aplikasi setiap 15 menit
sampai 1 jam pada jam berikutnya. Pada keratitis yang
kurang parah, rejimen terapi dengan dosis yang kurang
frekuen terbukti efektif. AgenCycloplegicdapat
digunakan untuk mengurangi pembentukan sinekhia
dan untuk mengurangi nyeri pada kasus yang lebih
parah pada keratitis bakteri dan ketika adanya
peradangan bilik anterior mata.

Terapisingle-drugdengan menggunakan fluoroquinolone


(misalnya ciprofloksasin, ofloksasin) menunjukkan
efektiftivitas yang sama seperti terapi kombinasi. Tetapi
beberapa patogen (misalnya Streptococcus, anaerob)
dilaporkan mempunyai kerentanan bervariasi terhadap
golongan fluoroquinolone dan prevalensi resistensi
terhadap golongan fluoroquinolones tampaknya semakin
meningkat. Gatifloksasin dan moksifloksasin (generasi
keempat fluoroquinolone) telah dilaporkan memiliki
cakupan yang lebih baik terhadap bakteri gram-positif
dari fluoroquinolone generasi sebelumnya pada ujiinvitro. Namun, fluoroquinolone generasi keempat belum
disetujui FDA untuk pengobatan keratitis bakteri.

Terapi kombinasi antibiotika digunakan dalam


kasus infeksi berat dan mata yang tidak responsif
terhadap pengobatan. Pengobatan dengan lebih
dari satu agen mungkin diperlukan untuk kasuskasus penyebab mikobakteri non-tuberkulos.
Antibiotik sistemik jarang dibutuhkan, tetapi
dapat diipertimbangkan pada kasus-kasus yang
parah di mana proses infeksi telah meluas ke
jaringan sekitarnya (misalnya, sclera) atau ketika
adanya ancaman perforasi dari kornea. Terapi
sistemik juga diperlukan dalam kasus-kasus
keratitis gonokokal.

Terapi kortikosteroid
Terapi topikal kortikosteroid memiliki peran bermanfaat dalam
mengobati beberapa kasus menular keratitis. Keuntungan
potensial adalah penekanan peradangan dan pengurangan
pembentukan jaringan parut pada kornea, yang dapat
menyebabkan kehilangan penglihatan. Antara kerugiannya pula
termasuk timbulnya aktivitas infeksi baru, imunosupresi lokal,
penghambatan sintesis kolagen dan peningkatan tekanan
intraokular. Meskipun berisiko, banyak ahli percaya bahwa
penggunaan kortikosteroid topikal dalam pengobatan keratitis
bakteri dapat mengurangi morbiditas. Terapi kortikosteroid pada
pasien yang sedang diobati dengan kortikosteroid topikal pada
saat adanya curiganya keratitis bakteri hendaklah diberhentikan
dahulu sampai infeksi telah dikendalikan.

Prinsip pada terapi kortikosteroid topikal adalah


menggunakan dosis minimal kortikosteroid yang
bisa memberikan efek kontrol peradangan.
Keberhasilan pengobatan membutuhkan
perkiraan yang optimal, regulasi dosis secara
teratur, penggunaan obat antibiotika yang
memadai secara bersamaan, dan follow-up.
Kepatuhan dari pasien sangat penting, dan
tekanan intraokular harus sering dipantau.
Pasien harus diperiksa dalam 1 sampai 2 hari
setelah terapi kortikosteroid topikal dimulai.

Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakuti dari keratitis bakteri ini
adalah penipisan kornea, dan akhirnya perforasi kornea
yang dapat mengakibatkan endophthalmitis dan hilangnya
penglihatan.
2.4.6 Prognosis
Prognosis visual tergantung pada beberapa faktor, seperti
diuraikan di bawah ini, dan dapat mengakibatkan
penurunan visus derajat ringan sampai berat.
- Virulensi organisme yang bertanggung jawab atas
keratitis
- Luas dan lokasi ulkus kornea
- Hasil vaskularisasi dan / atau deposisi kolagen

Keratitis virus
Keratitis Herpes Simplek
Keratitis herpes simpleks merupakan salah satu
infeksi kornea yang paling sering ditemukan dalam
praktek. Disebabkan oleh virus herpes simpleks,
ditandai dengan adanya infiltrasi sel radang &
edema pada lapisan kornea manapun. Pada mata,
virus herpes simplek dapat diisolasi dari kerokan
epitel kornea penderita keratitis herpes simpleks.
Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan
cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut,
alat kelamin yang mengandung virus

Temuan klinis
Kelainan mata akibat infeksi herpes simpleks dapat bersifat
primer dan kambuhan. lnfeksi primer herpes simplek primer pada
mata jarang ditemukan ditandai oleh adanya demam, malaise,
limfadenopati preaurikuler, konjungtivitis folikutans, bleparitis,
dan 2/3 kasus terjadi keratitis epitelial. Kira-kira 94-99% kasus
bersifat unilateral, walaupun pada 40% atau lebih dapat terjadi
bilateral khususnya pada pasien-pasien atopic (Vaughan, 2009).
Bentuk ini umumnya dapat sembuh sendiri, tanpa menimbulkan
kerusakan pada mata yang berarti. Terapi antivirus topikal dapat
dipakai unutk profilaksis agar kornea tidak terkena dan sebagai
terapi untuk penyakit kornea. Infeksi primer dapat terjadi pada
setiap umur, tetapi biasanya antara umur 6 bulan-5 tahun atau
16-25 tahun. Keratitis herpes simpleks didominir oleh kelompok
laki-laki pada umur 40 tahun ke atas (American academy, 2006).

Infeksi herpes simpleks laten terjadi setelah 2-3


minggu pasca infeksi primer. Dengan mekanisme yang
tidak jelas, virus menjadi inaktif dalam neuron sensorik
atau ganglion otonom. Dalam hal ini ganglion servikalis
superior, ganglion n.trigeminus, dan ganglion siliaris
berperan sebagai penyimpan virus. Namun akhir-akhir
ini dibuktikan bahwa jaringan kornea sendiri berperan
sebagai tempat berlindung virus herpes simpleks.
Beberapa kondisi yang berperan terjadinya infeksi
kambuhan antara lain: demam, infeksi saluran nafas
bagian atas, stres emosional, pemaparan sinar
matahari atau angin, haid, renjatan anafilaksis, dan
kondisi imunosupresi (Vaughan, 2009).

Walaupun diobati, kira-kira 25% pasien akan


kambuh pada tahun pertama, dan meningkat
menjadi 33% pada tahun kedua. Peneliti lain
bahkan melaporkan angka yang lebih besar yaitu
46,57% keratitis herpes simpleks kambuh dalam
kurun waktu 4 bulan setelah infeksi primer.
Penelitian di Yogyakarta mendapatkan angka
kekambuhan hanya 11,5% dalam kurun waktu 6
bulan pengamatan setelah penyembuhan.
Perbedaan angka-angka tersebut dimungkinkan
oleh perbedaan cara pengobatan

Gejala Klinis
Gejala utama umumnya iritasi, fotofobia, mata
berair. Bila kornea bagian pusat yang terkena
terjadi sedikit gangguan penglihatan. Karena
anestesi kornea umumnya timbul pada awal
infeksi, gejala mungkin minimal dan pasien
mungkin tidak datang berobat. Sering ada
riwayat lepuh lepuh, demam atau infeksi
herpes lain, namun ulserasi kornea kadang
kadang merupakan satu satunya gejala
infeksi herpes rekurens

Berat ringannya gejala-gejala iritasi tidak


sebanding dengan luasnya lesi epitel,
berhubung adanya hipestesi atau
insensibilitas kornea. Dalam hal ini harus
diwaspadai terhadap keratitis lain yang juga
disertai hipestesi kornea, misalnya pada:
herpes zoster oftalmikus,keratitis akibat
pemaparan dan mata kering, pengguna lensa
kontak, keratopati bulosa, dan keratitis kronik.
Gejala spesifik pada keratitis herpes simpleks
ringan adalah tidak adanya foto-fobia

Keratitis herpes simplek juga dapat dibedakan atas bentuk


superfisial, profunda, dan bersamaan dengan uveitis atau
kerato uveitis. Keratitis superfisial dapat berupa
pungtata, dendritik, dan geografik. Keratitis dendritika
merupakan proses kelanjutan dari keratitis pungtata yang
diakibatkan oleh perbanyakan virus dan menyebar sambil
menimbulka kematian sel serta membentuk defek dengan
gambaran bercabang. Lesi bentuk dendritik merupakan
gambaran yang khas pada kornea, memiliki percabangan
linear khas dengan tepian kabur, memiliki bulbus terminalis
pada ujungnya. Pemulasan fluoresein memudahkan melihat
dendrit, namun sayangnya keratitis herpes dapat juga
menyerupai banyak infeksi kornea yang lain dan harus
dimasukkan dalam diagnosis diferensial (Vaughan, 2009).

Ada juga bentuk lain yaitu bentuk ulserasi geografik


yaitu sebentuk penyakit dendritik menahun yang lesi
dendritiknya berbentuk lebih lebar hat ini terjadi akibat
bentukan ulkus bercabang yang melebar dan
bentuknya menjadi ovoid. Dengan demikian gambaran
ulkus menjadi seperti peta geografi dengan kaki
cabang mengelilingi ulkus. Tepian ulkus tidak kabur.
Sensasi kornea, seperti halnya penyakit dendritik,
menurun. Lesi epitel kornea lain yang dapat
ditimbulkan HSV adalah keratitis epitelial blotchy,
keratitis epitelial stelata, dan keratitis filamentosa.
Namun semua ini umumnya bersifat sementara dan
sering menjadi dendritik khas dalam satu dua hari

Patogenesa
Keratitis herpes simplek dibagi dalam 2 bentuk
yaitu epitelial dan stromal Kerusakan terjadi
pada pembiakan virus intraepitelial,
mengakibatkan kerusakan sel epitelial dan
membentuk tukak kornea superfisial. Pada yang
stromal terjadi reaksi imunologik tubuh terhadap
virus yang menyerang yaitu reaksi antigen
antibodi yang menarik sel radang kedalam
stroma. Sel radang ini mengeluarkan bahan
proteolitik untuk merusak virus tetapi juga akan
merusak jaringan stroma disekitarnya.

Hal ini penting diketahui karena manajemen


pengobatan pada yang epitelial ditujukan
terhadap virusnya sedang pada yang stromal
ditujukan untuk menyerang virus dan reaksi
radangnya. Perjalanan klinik keratitis dapat
berlangsung lama kaena stroma kornea kurang
vaskuler, sehingga menghambat migrasi limfosit
dan makrofag ke tempat lesi. Infeksi okuler HSV
pada hospes imunokompeten biasanya sembuh
sendiri, namun pada hospes yang secara
imunologik tidak kompeten, perjalanannya
mungkin menahun dan dapat merusak

Terapi
Bertujuan menghentikan replikasi virus didalam kornea,
sambil memperkecil efek merusak akibat respon
radang.
Debridement
Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah
debridement epitelial, karena virus berlokasi di dalam
epitel. Debridement juga mengurangi beban antigenik
virus pada stroma kornea. Epitel sehat melekat erat
pada kornea, namun epitel terinfeksi mudah dilepaskan.
Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas
khusus. Yodium atau eter topikal tidak banyak manfaat
dan dapat menimbulkan keratitis kimiawi

. Obat siklopegik seperti atropi 1 % atau


homatropin5% diteteskan kedalam sakus
konjugtiva, dan ditutup dengan sedikit tekanan.
Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti
penutupnya sampai defek korneanya sembuh
umumny adalah 72 jam. Pengobatan tambahan
dengan anti virus topikal mempercepat pemulihan
epitel. Terapi obat topikal tanpa debridement
epitel pada keratitis epitel memberi keuntungan
karena tidak perlu ditutup, namun ada
kemungkinan pasien menghadapi berbagai
keracunan obat

Terapi obat
Agen anti virus topikal yang di pakai pada keratitis herpes
adalah idoxuridine, trifluridine, vidarabine, dan acyclovir.
Trifluridine dan acyclovir jauh lebih efektif untuk penyakit
stroma dari pada yang lain. Idoxuridine dan trifluridine
sering kali menimbulkan reaksi toxik. Acyclovir oral ada
mamfaatnya untuk pengobatan penyakit herpes mata
berat, khususnya pada orang atopik yang rentan terhadap
penyakit herpes mata dan kulit agresif (eczema
herpeticum). Study multicenter terhadap efektivitas
acyclovir untuk pengobatan kerato uveitis herpes
simpleks dan pencegahan penyakit rekurens kini sedang
dilaksanakan (herpes eye disease study)

Replikasi virus dalam pasien imunokompeten,


khususnya bila terbatas pada epitel kornea,
umumnya sembuh sendiri dan pembentukan parut
minimal. Dalam hal ini penggunaan kortikosteroid
topikal tidak perlu, bahkan berpotensi sangat
merusak. Kortikosteroid topikal dapat juga
mempermudah perlunakan kornea, yang
meningkatkan risiko perforasi kornea. Jika memang
perlu memakai kortikosteroid topikal karena
hebatnya respon peradangan, penting sekali
ditambahkan obat anti virus secukupnya untuk
mengendalikan replikasi virus

Bedah
Keratolasti penetrans mungkin diindentifikasi
untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang
mempunyai parut kornea berat, namun hendaknya
dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes
non aktif. Pasca bedah, infeksi herpes rekurens
dapat timbul karena trauma bedah dan
kortikosteroid topikal yang diperlukan untuk
mencegah penolakan transplantasi kornea. Juga
sulit dibedakan penolakan transplantasi kornea
dari penyakit stroma rekurens (Vaughan, 2009).

Perforasi kornea akibat penyakit herpes stroma


atau superinfeksi bakteri atau fungi mungkin
memerlukan keratoplasti penetrans darurat.
Pelekat jaringan sianokrilat dapat dipakai secara
efektif untuk menutup perfosi kecil dan graft
petak lamelar berhasil baik pada kasus tertentu.
Keratoplasi lamelar memiliki keuntungan dibanding
keratoplasti penetrans karena lebih kecil
kemungkinan terjadi penolakan transparant. Lensa
kontak lunak untuk terapi atau tarsorafi mungkin
diperlukan untuk pemulihan defek epitel yang
terdapat padakeratitis herpes simplek

Pengendalian mekanisme pemicu yang mengaktifkan


kembali infeksi HSV
Infeksi HSV rekurens pada mata banyak dijumpai kira
kira sepertiga kasus dalam 2 tahun serangan
pertama. Sering dapat ditemukan mekanisme
pemicunya. Setelah denga teliti mewawancarai
pasien. Begitu ditemukan, pemicu itu dapat dihindari.
Aspirin dapat dipakai untuk mencegah demam,
pajanan berlebihan terhadap sinar matahari atau
sinar UV dapat dihindari. Keadaan keadaan yang
dapat menimbulkan strea psikis dapat dikurangi. Dan
aspirin dapat diminum sebelum menstruasi

Prognosis
Prognosis akhirnya baik karena tidak terjadi parut atau
vaskularisasi pada kornea. Bila tidak diobati, penyakit ini
berlangsung 1-3 tahun dengan meninggalkan gejala sisa.
2.3.7Keratitis Virus Varisela Zoster
Infeksi virus varicella zoster terjadi dalam 2 bentuk: primer
(varicella) dan rekuren (zoster). Manifestasi pada mata
jarang terjadi pada varicella namun sering pada zoster
ophthalmic. Pada varicella, lesi mata umumnya pada kelopak
dan tepian kelopak. Jarang ada keratitis (khas lesi stroma
perifer dengan vaskularisasi), dan lebih jarang lagi keratitis
epithelial dengan atau tanpa pseudodendrite. Pernah
dilaporkan keratitis disciformis, dengan uveitis yang lamanya
bervariasi

Berbeda dari lesi kornea varicella,


yang jarang dan jinak, zoster
ophthalmic relatif banyak dijumpa,
kerap kali disertai keratouveitis yang
bervariasi beratnya sesuai dengan
status kekebalan pasien. Komplikasi
kornea pada zoster ophthalmic dapat
diperkirakan timbul jika terdapat
erupsi kulit di daerah yang
dipersarafi cabang-cabang Nervus

Berbeda dari keratitis HSV rekuren, yang umumnya hanya


mengenai epithel, keratitis VZV mengenai stroma dan uvea
anterior pada awalnya. Lesi epitelnya keruh dan amorf, kecuali
kadang-kadang pada pseudodendrite linear yang sedikit mirip
dendrite pada keratitis HSV. Keluhan stroma disebabkan oleh
edema dan sedikit infiltrate sel yang pada awalnya hanya
subepitel. Keadaan ini dapat diikuti penyakit stroma dalam
dengan nekrosis dan vaskularisasi. Kadang-kadang timbul
keratitis disciformis dan mirip keratitis disciformis HSV.
Kehilangan sensasi kornea selalu merupakan ciri mencolok dan
sering berlangsung berbulan-bulan setelah lesi kornea tampak
sudah sembuh. Uveitis yang timbul cenderung menetap
beberapa minggu sampai bulan, namun akhirnya sembuh.
Skleritis dapat menjadi masalah berat pada penyakit VZV mata
(Vaughan, 2009).

Acyclovir intravena dan oral telah dipakai dengan hasil


baik untuk mengobati herpes zoster ophthalmic,
khususnya pada pasien yang kekebalannya terganggu.
Dosis oralnya adalah 800mg, 5 kali sehari untuk 10-14
hari. Terapi hendaknya dimulai 72 jam setelah
timbulnya kemerahan. Peranan antivirus topikal kurang
meyakinkan. Kortikosteroid topikal mungkin diperlukan
untuk mengobati keratitis berat, uveitis, dan glaukoma
sekunder. Penggunaan kortikosteroid sistemik masih
kontroversial. Terapi ini mungkin diindikasikan untuk
mengurangi insidensi dan hebatnya neuralgia paska
herpes. Namun demikian keadaan ini sembuh sendiri

Keratitis fungi
Keratitis jamur dapat menyebabkan
infeksi jamur yang serius pada
kornea dan berdasarkan sejumlah
laporan, jamur telah ditemukan
menyebabkan 6%-53% kasus
keratitis ulseratif. Lebih dari 70
spesies jamur telah dilaporkan
menyebabkan keratitis jamur

Etiologi
Secara ringkas dapat dibedakan :
Jamur berfilamen (filamentous fungi) : bersifat
multiseluler dengan cabang-cabang hifa.
a) Jamur bersepta :Furasium sp, Acremonium sp,
Aspergillus sp, Cladosporium sp, Penicillium sp,
Paecilomyces sp, Phialophora sp, Curvularia sp,
Altenaria sp.
b)Jamur tidak bersepta :Mucor sp, Rhizopus sp,
Absidia sp.
Jamur ragi (yeast)yaitu jamur uniseluler dengan
pseudohifa dan tunas :Candida albicans,
Cryptococcus sp, Rodotolura sp.

Reaksi peradangan yang berat pada kornea yang timbul karena


infeksi jamur dalam bentuk mikotoksin, enzim-enzim proteolitik, dan
antigen jamur yang larut. Agen-agen ini dapat menyebabkan
nekrosis pada lamella kornea, peradangan akut , respon antigenik
dengan formasi cincin imun, hipopion, dan uveitis yang berat.
Ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur berfilamen dapat
menunjukkan infiltrasi abu-abu sampai putih dengan permukaan
kasar, dan bagian kornea yang tidak meradang tampak elevasi
keatas. Lesi satelit yang timbul terpisah dengan lesi utama dan
berhubungan dengan mikroabses stroma. Plak endotel dapat terlihat
paralel terhadap ulkus. Cincin imun dapat mengelilingi lesi utama,
yang merupakan reaksi antara antigen jamur dan respon antibodi
tubuh. Sebagai tambahan, hipopion dan sekret yang purulen dapat
juga timbul. Reaksi injeksi konjungtiva dan kamera okuli anterior
dapat cukup parah. Pada keratitis candida biasaya ditandai dengan
lesi berwarna putih kekuningan.

Untuk menegakkan diagnosis klinik dapat dipakai


pedoman berikut :
Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian
steroid topikal lama.
Lesi satelit.
Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang
ireguler dan tonjolan seperti hifa di bawah endotel
utuh.
Plak endotel.
Hypopyon, kadang-kadang rekuren.
Formasi cincin sekeliling ulkus.
Lesi kornea yang indolen

Diagnosa Laboratorik
Sangat membantu diagnosis pasti, walaupun bila negatif
belum menyingkirkan diagnosis keratomikosis. Yang utama
adalah melakukan pemeriksaan kerokan kornea (sebaiknya
dengan spatula Kimura) yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan
biomikroskop. Dapat dilakukan pewarnaan KOH, Gram, Giemsa
atau KOH + Tinta India, dengan angka keberhasilan masingmasing 20-30%, 50-60%, 60-75%dan 80%. Lebih baik lagi
melakukan biopsi jaringan kornea dan diwamai denganPeriodic
Acid SchiffatauMethenamine Silver,tapi sayang perlu biaya
yang besar. Akhir-akhir ini dikembangkanNomarski differential
interference contrast microscopeuntuk melihat morfologi
jamur dari kerokan kornea (metode Nomarski) yang dilaporkan
cukup memuaskan. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar
Sabouraud atau agar ekstrak maltosa

Terapi medikamentosa di Indonesia terhambat


oleh terbatasnya preparat komersial yang
tersedia, tampaknya diperlukan kreativitas
dalam improvisasi pengadaan obat, yang utama
dalam terapi keratomikosis adalah mengenai
jenis keratomikosis yang dihadapi bisa dibagi:
Belum diidentifikasi jenis jamur penyebabnya.
Jamur berfilamen.
Ragi(yeast).
Golongan Actinomyces yang sebenarnya bukan
jamur sejati.

Untuk golongan I : Topikal Amphotericin B 1,0


2,5 mg/ml, Thiomerosal (10 mg/ml), Natamycin
> 10 mg/ml, golongan Imidazole.
Untuk golongan II : Topikal Amphotericin B
0,15%, Miconazole 1%, Natamycin 5% (obat
terpilih), econazole 1% (obat terpilih).
Untuk golongan III : Econazole 1%, Amphoterisin
B 0,15 %, Natamycin 5%, Clotrimazole 1%,
fluoconazol 2 % (Jack, 2009).
Untuk golongan IV : Golongan Sulfa, berbagai
jenis Antibiotik.

Steroid topikal adalah kontra indikasi, terutama pada saat


terapi awal. Diberikan juga obat sikloplegik (atropin) guna
mencegah sinekia posterior untuk mengurangi uveitis anterior.
Tidak ada pedoman pasti untuk penentuan lamanya terapi;
kriteria penyembuhan antara lain adalah adanya
penumpulan(bluntingataurounding-up)dari lesi-lesi ireguler
pada tepi ulkus, menghilangnya lesi satelit dan berkurangnya
infiltrasi di stroma di sentral dan juga daerah sekitar tepi ulkus.
Perbaikan klinik biasanya tidak secepat ulkus bakteri atau
virus. Adanya defek epitel yang sulit menutup belum tentu
menyatakan bahwa terapi tidak berhasil, bahkan kadangkadang terjadi akibat pengobatan yang berlebihan. Jadi pada
terapi keratomikosis diperlukan kesabaran, ketekunan dan
ketelitian dari kita semua

Anda mungkin juga menyukai