Anda di halaman 1dari 21

INSOMNIA

Citra Perwita Sari


20090310040

Preceptor : dr. Vista Nurasti P, Sp.KJ

TIDUR
Tidur : kondisi klinis yang ditandai dengan 4
ktiteria yaitu
menurunnya aktifitas motorik
menurunnya respon terhadap stimulus
posisi tubuh yang khas ( telentang, mata
tertutup)
sangat mudah kembali

Tidur sehat :
tidur dengan kuantitas dan kualitas yang cukup
untuk menjaga kesigapan selama bangun

SIKLUS TIDUR

NREM ( Non Rapid Eyes Movement )


Fase 1 : peralihan dari sadar terlelap
Fase 2 : di tandai adanya sleep spindle
Fase 3 : peralihan
Fase 4 : tidur paling lelap

REM ( Rapid Eyes Movement )

DEFINISI INSOMNIA
Kesukaran dalam memulai tidur atau
mempertahankan keadaan tidur
(Sadock, 2010)
Kondisi tidur yang tidak memuaskan secara
kuantitas dan atau kualitas, yang
berlangsung dalam kurun waktu tertentu
(PPDGJ III)
Kesulitan memulai atau mempertahankan tidur,
atau tidur yang tidak dalam dan berlangsung
selama 1 bulan/ lebih (DSMIV)

Kebutuhan tidur bersifat individual.


Menurut Maslim (2001) terbagi :
short sleeper :waktu tidur < 6 jam /
hari
long sleeper : waktu tidur > 9 jam /
hari
Lama tidur :
Lama tidur ( jam )

Bayi

13 -16

Anak-anak

8 12

Dewasa

69

Lansia

5-8

Epidemiologi
hampir setiap manusia pernah
mengalami gangguan tidur
satu dari tiga orang
40% lansia mengalami gangguan tidur

KLASIFIKASI INSOMNIA
Penyeb
ab
primer
sekun
der

KLASIFIKASI INSOMNIA
Short
Transi
ent

Chroni
c

Ons
et

Klasifikasi Insomnia

DIF
(Difficulty
in initiating
sleep)

DMS
(Difficulty
in
maintainin
g sleep)

BENTU
K

EMW
(Early
Morning
Waking)

ETIOLOGI INSOMNIA
Faktor
intrinsik

Faktor
ekstrinsik

Faktor
iatrogenik

Penyebab
organik
Psikologi
s
( depresi,
cemas )

cahaya
kebisinga
n

Pengguna
an obatobatan
Makan
makanan
tertentu

PATOFISIOLOGI
INSOMNIA
terdapat lesi atau degenerasi di
thalamus
terdapat lesi di nuclei raphe ( produksi
serotonin )

Lesi di
nuclei
raphe

Serotonin

Peptida
pengindu
ksi tidur

Melatonin
hormon dari glandula pineal,
disekresikan pada malam hari ( gelap ),
berperan dalam proses tidur bangun
pemberian melatonin dapat
menginduksi tidur, dapat
mempertahankan tidur, atau keduanya.

Kriteria Diagnostik
PPDGJ III
F51 Gangguan Tidur Non-Organik
F51.0 Insomnia Non-Organik
F51.1 Hiperinsomnia Non-Organik

PENATALAKSANAAN
GANGGUAN TIDUR
1.
2.
3.
4.
5.

Mandi air hangat


Minum susu hangat
Penerangan kecil
Suhu kamar nyaman
Tidur tetap diwaktu yang sama

MEDICAL TREATMENT
Pemilihan Obat
Initial insomnia ( sulit masuk dalam proses
tidur ) : benzodiazepine
ex . Gangguan anxietas
Delayed insomnia ( proses tidur terlalu
cepat berakhir dan sulit masuk ke proses
tidur berikutnya) : heterosiklik anti
depresan ( trisiklik dan tetrasiklik )
ex. Gangguan depresi

Pemilihan obat
Broken Insomnia (siklus proses tidur
yang normal tidak utuh atau terpecah) :
benzodiazepine
ex. Stress psikosial

MEDICAL TREATMENT
PEMBERIAN DOSIS
pemberian tunggal dosis anjuran 15-30
menit sebelum tidur
dosis awal dinaikkan hingga dosis
efektif dan dipertahankan hingga 1-2
minggu, lalu tapering off

BENZODIAZEPINE
Diazepam
Alprazolam
lorazepam
Triazolam
efek : mengantuk, gangguan konsentrasi,
pada kehamilan dapat menyebabkan
kelainan palatum, pengehtian obat
mendadak dapat menyebabkan sindrom
putus obat

TRISIKLIK DAN
TETRASIKLIK
Trisiklik : amitriptylin ( 150 -300 mg),
imipramin (150-300 mg)
Tetrasiklik : Amoxapin (150-300 mg),
Maprotilin (100-225 mg)

TERIMA
KASIH