Anda di halaman 1dari 31

Jurnal reading

Surviving Sepsis Campaign


(Kampanye penanganan sepsis):
Guideline internasional manajemen
sepsis berat dan syok septik: 2012
Oleh
Nur Liani,S.Ked
I4010061
Pembimbing:
dr. Oky Susianto, Sp. An-KIC

April 2015

BAGIAN/SMF ILMU ANESTESI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN
BANJARMASIN

Definisi

Definisi

Tabel 1. Kriteria Dx Sepsis

infeksi, nyata atau suspek, dan beberapa


kondisi berikut:

Tabel 2. Sepsis berat

= sepsis yang menginduksi hipoperfusi jaringan


atau disfungsi organ (kondisi berikut diperkirakan
disebabkan oleh infeksi)

MANAJEMEN SEPSIS BERAT

Resusitasi awal dan infeksi


A. Resusitasi awal
B. Skrining sepsis dan evaluasi
perbaikan (baru)
C. Diagnosis
D. Terapi antimikroba
E. Kontrol perjalanan penyakit
F. Pencegahan infeksi (baru)

A. Resusitasi awal
1. Direkomendasikan menurut protokol,
resusitasi kuantitatif pada pasien dengan
sepsis yang menginduksi hipoperfusi jaringan

Protokol Ini mesti:

Dilakukan sesegera mungkin ketika ditemukan hipoperfusi


Jangan ditunda hingga pasien masuk ke ICU

6 jam pertama resusitasi perlu dicapai:

CVP 8-12 mmHg


MAP 65 mmHg
Output urin 0.5 mL/kg/jam
Saturasi oksigenasi vena cava superior (ScvO2)
70% atau saturasi oksigen vena campuran (SvO2)
65%

A. Resusitasi awal
2.

mengusulkan target resusitasi


untuk mencapai kadar laktat yg
normal pada pasien dengan
jumlah laktat yg meningkat sebagai
marker hipoperfusi jaringan

B. Skrining sepsis dan evaluasi


perbaikan (NEW)
1. Direkomendasikan skrining rutin
pasien dengan penyakit serius yang
berpotensi terinfeksi dan mengalami
sepsis berat perlu identifikasi dini
untuk sepsis dan terapi sepsis sedini
mungkin

B. Skrining sepsis dan evaluasi


perbaikan (NEW)
1. Usaha perbaikan penanganan pada
sepsis berat mesti dilakukan untuk
meningkatkan outcome pasien
Identifikasi dini sepsis dan penerapan
terapi berdasarkan evidence-based telah
diketahui meningkatkan outcome dan
menurunkan mortalitas yang terkait sepsis
Usaha-usaha perbaikan penanganan pada
sepsis berhubungan dengan meningkatnya
outcome pasien

B. Skrining sepsis dan evaluasi


perbaikan (NEW)
Pada versi 2012
Sekumpulan manajemen digugurkan:
2. kami mensugestikan selama resusitasi 6 jam
pertama pada sepsis berat atau syok septik,
bila ScvO2 atau SvO2 70% atau 65% berturutturut tidak tercapai dengan resusitasi cairan
menurut target CVP, dilanjutkan dengan
transfusi PRC untuk mencapai Ht 30% dan
/atau pemberian infus dobutamin (hingga
maksimal 20 ug/kg/menit)

Manajemen resusitasi dibagi menjadi 2


bagian dan dimodifikasi:

B. Skrining sepsis dan evaluasi


perbaikan (NEW)
DICAPAI DALAM 3 JAM:
1.
2.
3.
4.

Berkas SSC

Pengukuran kadar laktat


Dilakukan kultur darah sebelum pemberian AB
Pemberian AB spektrum luas
Pemberian cairan kristaloid 30 ml/kg untuk hipotensi atau
laktat 4 mmol/L

DICAPAI DALAM 6 JAM:

5. Pemberian vasopressor (utk hipotensi yang tidak respon dgn


pemberian resusitasi cairan inisial) untuk mempertahankan
MAP 65 mmHg
6. Pada keadaan adanya hipotensi arterial yg persisten walaupun
sudah diberikan resusitasi cairan yg adekuat (syok spetik) atau
laktat awal 4 mmol/L (36 mg/dL):

Ukur CVP*
Ukur ScvO2*

7. Dilakukan pengukuran laktat lagi bila inisial laktat meningkat*


* Target untuk resusitasi kuantitatif termasuk guideline CVP 8
mmHg, ScvO2 70% dan normalisasi laktat

C. Diagnosis
1. merekomendasikan dilakukannya kultur yg
tepat sebelum terapi antimikroba diberikan
bila kultur tersebut tidak menyebabkan
keterlambatan yang signfikan (> 45 menit)
dalam memulai pemberian antimikroba
2. mengusulkan pemeriksaan ,3 -d-glucan
(grade 2B), pemeriksaan antibodi mannan dan
anti-mannan (grade 2c), bila didapatkan
kandidiasis invasif sebagai DD infeksi
3. merekomendasikan pencitraan radiologi
sebagai salah satu upaya utk mencari sumber
infeksi

C. Diagnosis

C. Diagnosis

C. Diagnosis

D. Terapi Antimikroba
1. Pemberian antimikroba iv yang efektif dalam jam
pertama dikenalinya sepsis dan sepsis berat tanpa
syok septik merupakan tujuan terapi
2. a. merekomendasikan terapi anti-infeksi empiris
inisial:

Termasuk satu atau lebih obat yang memiliki aktivitas


melawan semua organisme patogen (bakteri dan/atau
jamur dan virus)
Yang dapat melakukan penetrasi dengan konsentrasi yg
adekuat ke jaringan hingga ke sumber sepsis
b. Regimen antimikroba mestinya:
dinilai setiap hari untuk adanya potensi meningkatnya
resistensi, mengurangi toksisitas dan mengurangi biaya

3. menyarankan penggunaan prokalsitonin dosis rendah


atau biomarker yang sama:
Untuk membantu klinisi dalam menghentikan pemberian
antibiotik empirik pada pasien pasien dengan sepsis,
tetapi tidak ditemukannya adanya bukti infeksi lanjutaqn

D. Terapi Antimikroba
4a. Terapi empirik seharusnya:
Meliputi aktivitas antimikroba melawan hampir
sebagian besar organisme patogen
mensugestikan kombinasi terapi empiris untuk kasus:
Pasien neutropenik dengan sepsis berat
Sulit ditangani, resisten obat pada bakteri patogen seperti
acinetobacter dan psuedomonas spp
Pada pasien tertentu dengan infeksi yg berat yang
berhubungan dengan kegagalan pernafasan dan syok
septik
Untuk bakteremia P.aeruginosa: kombinasi terapi dengan spketrum
luas beta lactam dan aminoglikosida atau fluorokuinolon
disarankan
Untuk bakteremia streptococcus pneumoniae: kombinasi yg lebih
kompleks seperti beta-laktam dan makrolida, ini disarankan pada
pasien dengan syok septik

D. Terapi Antimikroba
4b. Kami menyarankan terapi kombinasi,
ketika digunakan secara empirik pada pasien
dengan sepsis berat, tidak seharusnya
diberikan lebih lama dari 3 hingga 5 hari
De-eskalasi (peningkatan) pada terapi agen
tunggal yang paling tepat mesti dilakukan
sesegera mungkin ketika profil kecenderungan
diketahui
Pengecualian pada monoterapi aminoglikosida, yang
mesti dihindari, khususnya pada sepsis P.aeruginosa dan
pada kasus tertentu endokarditis, yang mana
menyebabkan pemberian kombinasi antibiotik semakin
lama

D. Terapi Antimikroba
5. menyarankan durasi terapi selama 7 hingga 10 hari bila
diindikasikan secara klinik
Pemberian yang lebih lama dapat terjadi pada pasien yang:
Respon klinik yang lambat
Fokus infeksi yang tidak dapat didrainase
Bakteremia dengan S.Aureus
Beberapa infeksi jamur dan virus
Defisiensi imunologi, termasuk neutropenia
6. menyarankan terapi antivirus diberikan sedini mungkin pada
pasien dengan sepsis berat atau syok sepsis dengan pasti infeksi
virus
7. merekomendasikan agen antimikroba tidak digunakan pada
pasien dengan status inflamasi yang berat dengan penyebab non
infeksi

E. Pengendalian Perjalanan
penyakit
1. merekomendasikan diagnosis anatomi
yang spesifik pada infeksi yang
memerlukan pertimbangan pengendalian
perjalanan penyakit untuk dicari dan
didiagnosis atau disingkirkan secepat
mungkin
Intervensi dilakukan untuk pengendalian
perjalanan penyakit dalam waktu 12 jam
pertama setelah diagnosis dibuat, bila
memungkinkan
infeksi jaringan lunak nekrotik, peritonitis,
kolangitis, infark intestinal)

E. Pengendalian Perjalanan
penyakit
2. menyarankan bila ditemukan adanya
peripankreas nekrosis sebagai sumber infeksi,
intervensi definitif paling baik ditunda hingga
demarkasi jaringan yang adekuat baik yang
tampak maupun yang tidak tampak
3. Ketika pengendalian perjalanan penyakit pada
pasien sepsis berat diperlukan, intervensi efektif
berhubungan dengan kontak fisiologis seminimal
mungkin (misalnya perkutaneus lebih diutamakan
dibandingkan drainase bedah suatu abses
4. Bila akses iv merupakan sumber yang potensial
untuk sepsis berat atau syok septik, ini mesti
dilepaskan sesegeranya setelah akses vaskular
lainnya didapatkan

F. Pencegahan Infeksi (Baru)


1a. menyarankan dekontaminasi oral selektif
(SOD) dan dekontaminasi digestif selektif
(SDD) mesti digunakan untuk metode dini
dan pengenalan dalam mengurangi insidensi
VAP (Ventilator-associated pneumonia):
sistem kontrol infeksi ini dapat digunakan di
fasilitas kesehatan dan area dimana
metodologi tersebut efektif digunakan
1b. Kami menyarankan CHG (oral chlorhexidine
gluconate ) digunakan sebagai dekontaminasi
orofaringeal untuk mengurangi risiko VAP
pada pasien ICU dengan sepsis berat

F. Pencegahan Infeksi (Baru)


Praktik pengendalian infeksi yang hatihati mesti dilakukan dalam merawat
pasien sepsis sebagaimana pertimbangan
dalam perawatan pada SSC yaitu:
Cuci tangan
Perawatan yang ahli, perawatan kateter
Penggunaan barrier
Manajemen saluran nafas
Elevasi kepala pada bed
Suction subglotik

Sokongan hemodinamik dan


terapi adjuvan

Terapi suportif sepsis berat

Terapi suportif sepsis berat

TD = CO x SVR
Normal bila :
1. TD = CO X SVR
2. TD = CO X SVR
3. TD = CO X SVR

SEKIAN & TERIMA KASIH