Anda di halaman 1dari 18

Nervus Kranialis

N.II = N. Opticus

Fungsi: untuk penglihatan

Pemeriksaan meliputi:
Ketajaman penglihatan (visual acuity)

Tes kartu Snellen

Tes hitung jari

Tes gerakan jari

Tes cahaya

Lapangan pandang
Tes

konfrontasi

Tes kampimetri/perimetri

Fundus oculi (funduscopy)

Pemeriksaan dilakukan dengan bantuan oftalmoskop.

Yang diperiksa adalah keadaan retina dan diskus optikus


atau papila nervi optici.

Penilaian:

Gambaran fundus oculi normal: Retina berwarna merahoranye

Pembuluh darah: vena lebih tebal dari arteri dan


berpangkal pada pusat papil dan memancarkan cabangcabangnya keseluruh retina dengan perbandingan a:v =
2:3

Papil N.II: berwarna kuning kemerahan, bentuk bulat,


batas tegas dengan sekelilingnya, mempunyai
cekungan fisiologis (cupping).

Kelainan Papil :

Papil Edema

Papil Atrofi

Tes Warna (color vision testing)

Tes ini untuk mengetahui adanya buta warna dengan


menggunakan Ishihara.

Gangguan pengenalan warna ini sering ditemukan pada


kasus neuritis optika, lesi N.II atau lesi khiasma opticum.

NERVUS III,IV,VI
(Okulomotoris, Trokhlearis, Abdusen)

Nervus Okulomotorius ( N. III )

Area nuclear nervus III terletak di substansia grisea periakuedukuts mesensefali , ventral
dari akueduktus , setinggi kolikulus superior, terdapat 2 komponen utama :

1. nucleus edinger westphal otonomik aksesorius , ( mempersarafai otot otot intraocular ), m.


sfingter pupilae & m. siliaris

2. enam otot otot ekstraokular ( m. rektus superior , inferior, dan medialis serta m. obliquus
inferior )

Serabut radicular motoric yang keluar dari area nuclear ini berjalan ke arah ventral bersama
dengan serabut parasimpatis; beberapa di antara serabut tersebut menyilang garis tengah dan
sebagian lagi tidak menyilang. Kombinasi serabut motoric dan parasimpatis melewati nucleus ruber
dan akhirnya keluar dari batang otak di fosa interpedunkularis bersama nervus okulomotorius.
Nervus okulomotorius pertama berjalan ke arah posterior di antara a. serebelarissuperior dan a.
serebralis posterior, tersusun dekat tepi tentorial, kemudian menembus dura meter, berjalan
melewati sinus kavernosus dan memasuki rongga orbita melalui fisura orbitalis superior. Bagian
parasimpatis saraf membentuk cabang dan berjalan ke ganglion siliare, tempat berakhirnya
serabut praganglionik dan sel sel ganglion membentuk serabut postganglionic pendek untuk
mempersarafi otot otot intraokular.
serabut motoric somatic nervus okulomotorius terbagi menjadi dua cabang, cabang superior
mempersarafi m. levator palpebrae dan m. rektus superior, dan cabang inferior mempersarafi m.
rekti medialis dan inferior serta m. obliquus inferior

Pemeriksaan
nervus
okulomotorius
biasanya
dilakukan
bersama-sama
dengan
pemeriksaan
nervus troklearis dan nervus abdusen, pemeriksaan
tersebut terdiri atas:

Celah kelopak mata : Pasien disuruh memandang lurus ke depan, kemudian


dinilai kedudukan kelopak mata terhadap pupil dan iris Pada keadaan istirahat dan
mata terbuka lebar dilihat apakah simetris atau sama.

Ptosis : Keadaan dimana kelopak mata atas jatuh/menurun karena kelumpuhan


M. Levator Palpebra superiornya. Dapat diperiksa dengan menyuruh penderita
membuka matanya lebar-lebar atau mengangkat kelopak mata atasnya secara
volunter.

Keadaan bola mata : Penderita disuruh melihat ke depan, kemudian


dilperhatikan celah mata dan keadaan bola mata dilihat dari samping. Pada
exophtalmus mata lebih menonjol dan celah mata tampak melebar, sedangkan
enophtalmus mata masuk ke dalam, celah mata tampak menyempit.

Sikap bola mata : Bola mata yang lumpuh memperlihatkan sikap yang tidak
wajar. Sikap bola mata yang menyimpang ke arah hidung disebut strabismus
konvergens sedangkan sikap bola mata yang menyimpang ke arah temporal
disebut strabismus divergens.

Gerakan bola mata konjugat :


Yaitu kemampuan kedua bola mata untuk bergerak dan
melihat ke satu arah secara bersamaan. Gerakan bola mata
konjugat diatur oleh: sentrum kortikal (area 8 lobus
frontalis) deviation conjugae cortikalis sentrum pontinal
(sebelah medial nucleus N.VI) deviation conjugae
pontinal. Kelainannya Disebut juga deviation conjugae yaitu
gerakan kedua bola mata involunter ke satu jurusan/arah
terus-menerus dan tidak dapat dikembalikan baik secara
sadar maupun refleks.

Deviasi konjugat kiri

Complete left ptosis (looking straight ahead).

Left inferior oblique


paralysis (looking up
and right).

Left superior rectus


paralysis (looking up
and left).

Nervus Trigeminus

N. Trigeminus terdiri dari:

Saraf motorik, yang


mempersarafi otot
pengunyah yaitu M. Masseter,
M. Temporalis, M.
Pterigoideus.

Saraf sensorik, yang


mempersarafi wajah dalam 3
cabang yaitu N. ophtalmicus,
N. Maxillaris, N.Mandibularis.
oV1 ( saraf optalmik ) adalah saraf sensorik

Fungsi : input dari kornea, rongga hidung


bagian atas, kulit kepala bagian frontal, dahi,
bagian atas alis, konjungtiva kelenjar air mata

oV2 ( saraf maksilari ) adalah saraf sensorik


Fungsi : input dari dagu, gigi atas, bibir gigi
atas, mukosa rongga hidung, palatum, faring

oV3 ( saraf mandibular ) adalah saraf sensorik


dan saraf motorik
Fungsi : a. Sensorik : input dari lidah, gigi
bawah, kulit bagian dagu
b. Motorik : Mengunyah

Pemeriksaan:

1. Fungsi motorik N. Trigeminus


2. Fungsi sensorik N.Trigeminus
3. Reflek Trigeminal
Fungsi Motorik N. Trigeminus
Ps/ menggigit giginya sekuat-kuatnya, palpasi
m.maseter & temporalis
Ps/ membuka mulutnya,perhatikan deviasi
rahang bawah ( m.pterigoideus lateralis)
Kayu tong spatel digigit bergantian, bandingkan
bekas gigitan( M.Pterigoideus Medialis)

14

Interpretasi
Interpretasi
Normal:
Kontraksi m.masseter & m.temporalis simetris
Rahang bawah berada ditengah tengah
Kekuatan gigitan kayu tong spatel, sama dalam pada gigitan kanan dan kiri
Kelainan :
Kontraksi m.masseter & m.temporalis kanan dan kiri (-) / melemah.
Deviasi rahang bawah saat membuka mulut ke sisi m.pterigoideus lateralis
yg lumpuh.
Bekas gigitan pada sisi m.pterigoideus medialis yang lumpuh lebih dangka

15

FK UMJ - RSUD CIANJUR

Interpretasi :
Normal : gangguan sensibilitas(-)
Kelainan :
Analgesi : tidak merasakan
rangsang nyeri
Termanestesi : tidak merasakan
rangsangan suhu
Anestesi : tidak merasakan
rangsangan raba

16
4/27/15

Rangsang
sensorik

Reflek trigeminal

17
untuk melihat lintasan mana
yang rusak (aferen N.V atau
eferen N.VII). Pada parese N.V
perifer dimana mata tidak dapat
dipejamkan, maka pemeriksaan
refleks kornea langsung pada sisi
lesi adalah negatif, tetapi refleks
kornea konsensuil pada sisi itu
positif.

langsung
Refleks
kornea

Tidak
langsung
(konsensuil
)

hasilnya ini dibandingkan dengan


hasil pemeriksaan mata sebelahnya.

Jaw jerk refleks


Penderita diminta membuka mulutnya sedikit
(jangan terlalu lebar), kemudian letakkan
Jari telunjuk kiri pemeriksa di atas dagu penderita
secara horizontal. Selanjutnya telunjuk tadi
diketuk dengan pale refleks. Respon normal akan
negatif (tidak ada penutupan mulut) atau
positif lemah (adanya penutupan mulut ringan).
Kegunaannya adalah untuk melihat adanya lesi
UMN (serabut kortikobulbaris) dimana
setelah pengetukkan terlihat penutupan mulut
terjadi secara dan kuat (hiperrefleks/meningkat)

18