Anda di halaman 1dari 41

FITOKIMIA

Ekstraksi Dan Pengujian

pengertian
Fitokimia berasal dari kata
phytochemical . Phyto berarti
tumbuhan atautanaman dan
chemical sama dengan zat kimia
berarti zat kimia yang terdapatpada
tanaman.
Sampai saatini sudah sekitar
30.000 jenis fitokimia yang
ditemukan dan sekitar 10.000
terkandung dalam makanan.

Fitokimia adalah ilmu yang


mempelajari berbagai senyawa
organikyangdibentuk dan disimpan
oleh tumbuhan, yaitu tentang
struktur kimia,
biosintetis,perubahan dan
metabolisme,sertapenyebaran
secara alami dan fungsi biologis
darisenyawa organik.

klasifikasi
fitokimia diklasifikasikan menurut struktur
kimianya
1. Fitokimia karotenoid
Fitokimia karotenoid banyak terdapat pada
sayur-sayuran berwarnakuning-jingga
seperti wortel,labu kuning, sayuran berwarna
hijau seperti brokolidan buah-buahan
berwarna merah dankuning jingga seperti
pepaya, mangga,tomat, nenas semangka.
zatkarotenoid dapat mencegah kanker,
sebagai anti oksidan dan dapat
meningkatkan system imun tubuh.

2. Fitokimia fitosterol
Fitokimia fitosterol banyak ditemukan
pada biji-bijian dan hanya sekitar5%
dari fitosterol yang dapat diserap
oleh usus dari makanan kiat.
Penelitianmengungkapkan fitosterol
dapat menurunkan kolesterol dan
anti kanker.

3. Fitokimia saponin
Fitokimia saponin banyak terdapat
pada kacang-kacangan dan daundaunan.
Penelitian mengungkapkan bahwa
saponin dapat sebagai anti kanker,
anti mikroba, meningkatkan system
imunitas, dan dapat menurunkan
kolesterol.

4. Fitokimia glukosinolat
Fitokimia glukosinolat banyak terdapat pada
sayur-sayuran seperti kol danbrokoli.
Jika sayuran dimasak dapat menurunkan kadar
glukosinolat sebesar 30-60%. T
ermasuk dalam glukosinolat ini meliputi fitokimia
lain sepertiisothiosianat,thiosianat dan indol.
Penelitian menunjukkan bahwa
glukosinolatdapat bersifat anti mikroba, anti
kanker dan menurunkan kolesterol.

5. Fitokimia polifenol
Fitokimia polifenol banyak terdapat pada buahbuahan sayur-sayuran hijauseperti salada dan
pada gandum dll.
Penelitian pada hewan dan
manusiamenunjukkan polifenol dapat
mengatur kadar gula darah, sebagai anti
kanker, antioksidan, anti mikroba, anti
inflamasi.
Termasuk polifenol adalah asam fenol dan
flavonoid

6. Fitokimia inhibitor protease


Fitokimia inhibitor protease merupakan
fitokimia yang banyak terdapat pada
biji-bijian dan sereal seperti padipadian, gandum dsb, yang dapat
membantu kerja enzim dalam system
pencernaan manusia.
Dapat sebagai anti oksidan , mencegah
kanker dan mengatur kadar gula darah.

7. Fitokimia monoterpen
Fitokimia monoterpen banyak terdapat pada
pada tanaman beraroma seperti mentol
(peppermint), biji jintan, seledri, peterseli,
rempah-rempah dan sari jeruk.
Berkhasiat mencegah kanker dan anti oksidan.
8. Fitokimia fitoestrogen
Fitokimia fitoestrogen banyak terdapat pada
kedelai dan produk kedelei seperti tempe, tahu
dan susu kedelei. Memiliki aktifitas seperti
hormon estrogen.
Senyawa aktif fitoestrogen terdiri dari
isoflavonoid dan lignan.

9. Fitokimia sulfida
Fitokimia sulfida banyak terdapat pada bawang
putih, bawang bombai, bawang merah dan bawang
daun. Senyawa fitokimia aktif pada bawang
putihadalah dialil sulfida (allicin).
Menurut peneliti sulfida bekerja sebagai
antikanker, anti oksidan, anti mikroba,
meningkatkan daya tahan, anti radang,mengatur
tekanan darah dan menurunkan kolesterol.

10. Fitokimia asam fitat
Fitokimia asam fitat terdapat pada kacang polong,
gandum. Berfungsi sebagai anti oksidan yang dapat
mengikat zat karsinogen dan mengatur kadar gula
darah.

Golongan senyawa fitokimia


1. Alkaloid, alkaloid adalah sebuah golongan
senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan
heterosiklik dan terdapat di tetumbuhan.
2. Flavonoid, flavonoid merupakan salah satu
golongan fenol alam terbesar yang terdapat
dalam semua tumbuhan berpembuluh.
Semua flavonoid, menurut strukturnya
merupakan turunan senyawa induk flavon
yang mempunyai sejumlah sifat yang sama.

3. Kuinon, senyawa dalam jaringan yang


mengalami okisdasi dari bentuk kuinol
menjadi kuinon.
4. Tanin dan Polifenol, Tanin adalah
polifenol tanaman yang berfungsi
mengikat dan mengendapkan protein..
Polifenol alami merupakan metabolit
sekunder tanaman tertentu, termasuk
dalam atau menyusun golongan tanin.

5. Saponin, saponin adalah suatu glikosida yang


ada pada banyak macam tanaman. Fungsi
dalam tumbuh-tumbuhan tidak diketahui,
mungkin sebagai bentuk penyimpanan
karbohidrat, atau merupakan waste product
dari metabolisme tumbuh-tumbuhan.
6. TriTerpenoid, TriTerpenoid adalah senyawa
yang kerangka karbonnya berasal dari enam
satuan isoprena dan secara biosintesis
dirumuskan dari hidrokarbon yang
kebanyakan berupa alcohol, aldehida atau
asam karbohidrat.
7. Monoterpenoid dan Seskuiterpenoid

Ekstraksi
Penapisan fitokimia dilakukan menurut
metode Cuiley (1984). Penapisan fitokimia
dilakukan untuk mengetahui komponen kimia
pada tumbuhan tersebut secara kualitatif.
Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi harus
mempunyai kepolaran yang berbeda.
Hal ini disebabkan kandungan kimia dari
suatu tumbuhan hanya dapat terlarut pada
pelarut yang sama kepolarannya, sehingga
suatu golongan senyawa dapat dipisahkan
dari senyawa lainnya (Sumarnie et al, 2005).

Simplisia dapat digunakan secara langsung atau


diolah menjadi suatu bentuk sediaan herbal.
Untuk memudahkan dalam proses produksi
sediaan herbal dilakukan suatu proses ekstraksi.
Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan
dari campurannya dengan menggunakan
pelarut.
Melalui ekstraksi, zat-zat aktif yang ada dalam
simplisia akan terlepas.

istilah
Ekstraktan/menstrum:
pelarut/campuran pelarut yang
digunakan dalam proses ekstraksi
Rafinat: sisa/residu dari proses
ekstraksi

Dalam proses ekstraksi, ada beberapa


hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Jumlah simplisia yang akan diesktrak
2. Derajat kehalusan simplisia : Semakin
halus, luas kontak permukaan akan
semakin besar sehingga proses
ekstraksi akan lebih optimal.
3. Jenis pelarut yang digunakan

Jenis pelarut berkaitan dengan


polaritas dari pelarut tersebut.
Hal yang perlu diperhatikan dalam
proses ekstraksi adalah senyawa
yang memiliki kepolaran yang sama
akan lebih mudah tertarik/ terlarut
dengan pelarut yang memiliki tingkat
kepolaran yang sama.

tiga golongan pelarut yaitu:


1. Pelarut polar
Memiliki tingkat kepolaran yang tinggi,
cocok untuk mengekstrak senyawasenyawa yang polar dari tanaman.
Pelarut polar cenderung universal
digunakan karena biasanya walaupun
polar, tetap dapat menyari senyawasenyawa dengan tingkat kepolaran lebih
rendah. Salah satu contoh pelarut polar
adalah: air, metanol, etanol, asam
asetat.

2. Pelarut semipolar
Pelarut semipolar memiliki tingkat kepolaran
yang lebih rendah dibandingkan dengan
pelarut polar.
Pelarut ini baik untuk mendapatkan senyawasenyawa semipolar dari tumbuhan. Contoh
pelarut ini adalah: aseton, etil asetat, kloroform
3. Pelarut nonpolar
Pelarut nonpolar, hampir sama sekali tidak
polar. Pelarut ini baik untuk mengekstrak
senyawa-senyawa yang sama sekali tidak larut
dalam pelarut polar.
Senyawa ini baik untuk mengekstrak berbagai
jenis minyak. Contoh: heksana, eter

Syarat-syarat pelarut yang


ideal
Tidak toksik dan ramah lingkungan
Mampu mengekstrak semua senyawa
dalam simplisia
Mudah untuk dihilangkan dari ekstrak
Tidak bereaksi dengan senyawasenyawa dalam simplisia yang
diekstrak
Murah/ ekonomis

a.Lama waktu ekstraksi : Lama ekstraksi akan


menentukan banyaknya senyawa-senyawa yang
terambil.
Ada waktu saat pelarut/ ekstraktan jenuh.
Sehingga tidak pasti, semakin lama ekstraksi
semakin bertambah banyak ekstrak yang
didapatkan.

b. Metode ekstraksi, termasuk suhu yang digunakan
Terdapat banyak metode ekstraksi. Namun secara
ringkas dapat dibagi berdasarkan penggunaan
panas sehingga ada metode ekstraksi dengan cara
panas, serta tanpa panas.
Metode panas digunakan jika senyawa-senyawa
yang terkandung sudah dipastikan tahan panas

Metode ekstraksi yang


membutuhkan panas :
Dekok :Ekstraksi dilakukan dengan
solven air pada suhu 90-95C selama
30 menit.
Infus : Hampir sama dengan dekok,
namun dilakukan selama 15 menit.
Refluks : Dilakukan dengan
menggunakan alat destilasi, dengan
merendam simplisia dengan
pelarut/solven dan memanaskannya
hingga suhu tertentu. Pelarut yang
menguap sebagian akan mengembung
kembali kemudian masuk ke dalam

Soxhletasi : Mirip dengan refluks, namun


menggunakan alat khusus yaitu esktraktor Soxhlet.
Suhu yang digunakan lebih rendah dibandingkan
dengan refluks. Metode ini lebih hemat dalam hal
pelarut yang digunakan.
Coque : Penyarian dengan cara menggodok
simplisia menggunakan api langsung. Hasil
godokan setelah mendidih dimanfaatkan sebagai
obat secara keseluruhan (termasuk ampas) atau
hanya digunakan hasil godokannya saja tanpa
menggunakan ampasnya.
Seduhan : Dilakukan dengan menggunakan air
mendidih, simplisia direndam dengan
menggunakan air panas selama waktu tertentu (510 menit) seperti halnya membuat teh seduhan.

Metode ekstraksi dingin dilakukan ketika


senyawa yang terdapat dalam simplisia tidak
tahan terhadap panas atau belum diketahui
tahan atau tidaknya, antara lain:
Maserasi : Ekstraksi dilakukan dengan cara
merendam simplisia selama beberapa waktu,
umumnya 24 jam dalam suatu wadah tertentu
dengan menggunakan satu atau campuran
pelarut.
Perkolasi : Perkolasi merupakan ekstraksi cara
dingin dengan mengalirkan pelarut secara
kontinu pada simplisia selama waktu tertentu.

Proses Ekstraksi
Proses saat ekstraksi menentukan hasil
ekstrak. Beberapa proses ekstraksi
menghendaki kondisi yang terlindung dari
cahaya, ini terutama pada proses ekstraksi
bahan-bahan yang mengandung kumarin dan
kuinon.
Ekstraksi bisa dilakukan secara bets per bets
atau secara kontinu. Pada ekstraksi skala
industri, umumnya dilakukan secara kontinu.
Ekstraksi bisa dilakukan secara statik (tanpa
pengadukan) atau dengan proses dinamik
(dengan pengadukan).

Jenis-jenis Ekstrak
Terdapat beberapa jenis ekstrak baik ditinjau
dari segi pelarut yang digunakan ataupun
hasil akhir dari ekstrak tersebut.
Ekstrak air
Tinktur
Ekstrak cair.
Ekstrak encer.
Ekstrak kental
Ekstrak kering (extract sicca)
Ekstrak minyak
Oleoresin

TEKNIK EKSTRAKSI
1. Maserasi
Maserasi adalah cara ekstraksi yang paling sederhana.
Bahan simplisia yang dihaluskan umumnya terpotongterpotong atau berupa serbuk kasar kemudian
disatukan dengan bahan pengekstraksi.
Selanjutnya rendaman tersebut disimpan terlindung
cahaya langsung (mencegah reaksi yang dikatalis
cahaya atau perubahan warna) dan dikocok berulangulang . Waktu lamanya maserasi berbeda-beda, 4-10
hari.
Secara teoritis pada suatu maserasi tidak
memungkinkan terjadinya ekstraksi absolut. Semakin
besar perbandingan simplisia terhadap cairan
pengekstraksi, akan semakin banyak hasil yang
diperoleh (Voight, 1995).

2. Perkolasi
Perkolasi dilakukan dalam wadah berbenruk silindris
atau kerucut (perkulator) yang memiliki jalan masuk
dan keluar.
Bahan pengekstaksi yang dialirkan secara kontinyu
dari atas, akan mengalir turun secara lambat
melintasi simplisia yang umumnya berupa serbuk
kasar.
Melalui penyegaran bahan pelarut secara kontinyu,
akan terjadi proses maserasi bertahap banyak.
Jika pada maserasi sederhana tidak terjadi ekstraksi
sempurna dari simplisia oleh karena akan terjadi
keseimbangan kosentrasi antara larutan dalam sel
dengan cairan disekelilingnya, maka pada perkolasi
melalui simplisia bahan pelarut segar perbedaan
kosentrasi tadi selalu dipertahnkan.

3. Sokletasi

Sokletasi dilakukan dengan cara bahan yang akan


diekstraksi diletakkan dalam kantung ekstraksi (kertas,
karton, dan sebagainya) dibagian dalam alat ekstraksi
dari gelas yang bekerja kontinyu (perkulator).
Wadah gelas yang mengandung kantung ndiletakkan
diantar labu penyulingan dengan pendingin aliran balik
dan dihubungkan dengan labu melalui pipa.
Labu tersebut berisi bahan pelarut yang menguap dan
mencapai kedalam pendingin aliran balik melalui pipet
yang berkodensasi didalamnya. Menetes keatas bahan
yang diekstraksi dan menarik keluar bahan yang
diekstraksi.
Larutan berkumpul didalam wadah gelas dan setelah
mencapai tinggi maksimalnya, secara otomatis
dipindahkan kedalam labu. Dengan demikian zat yang
terekstraksi terakumulasi melaui penguapan bahan
pelarut murni berikutnya

UJI KUALITATIF FITOKIMIA


1. Alkaloid,

Sejumlah sampel dalam mortir, dibasakan dengan ammonia


sebanyak 1 mL, kemudian ditambahkan kloroform dan
digerus kuat. Cairan kloroform disaring, filtrat ditempatkan
dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan HCl 2N,
campuran dikocok, lalu dibiarkan hingga terjadi pemisahan.
Dalam tabung reaksi terpisah :
Filtrat 1 : sebanyak 1 tetes larutan pereaksi Dragendorff
diteteskan ke dalam filtrat, adanya alkaloid ditunjukan
dengan terbentuknya endapan atau kekeruhan berwarna
hingga coklat.
Filtrat 2: sebanyak 1 tetes larutan pereaksi Mayer
diteteskan ke dalam filtrat, adanya alkaloid ditunjukan
dengan terbentuknya endapan atau kekeruhan berwarna
putih.
Filtrat 3 : sebagai blangko atau kontrol negatif.

2. Flavonoid
Sejumlah sampel digerus dalam mortar
dengan sedikit air, pindahkan dalam
tabung reaksi, tambahkan sedikit logam
magnesium dan 5 tetes HCl 2N, seluruh
campuran dipanaskan selama 5-10
menit.
Setelah disaring panas-panas dan filtrat
dibiarkan dingin, kepada filtrat
ditambahkan amil alkohol, lalu dikocok
kuat-kuat, reaksi positif dengan
terbentuknya warna merah pada lapisan
amil alkohol.

3. Kuinon.
Sampel ditambahkan dengan air,
dididihkan selama 5 menit kemudian
disaring dengan kapas.
Pada filtrat ditambahkan larutan
NaOH 1N.
Terjadinya warna merah
menunjukkan bahwa dalam bahan uji
mengandung senyawa golongan
kuinon.

4. Tanin dan Polifenol.


Sebanyak 1 gram sampel ditambahkan
100 mL air panas, dididihkan selama 5
menit kemudian disaring.
Filtrat sebanyak 5 mL dimasukkan ke
dalam tabung reaksi, ditambahkan
pereaksi besi (III) klorida, timbul warna
hiijau biru kehitamanbila ada
polifenoldan ditambahkan gelatin
akan timbul endapan putih bila ada
tanin.

5. Saponin.
Sampel ditambahkan dengan air,
didihkan selama 5 menit kemudian
kocok dengan kuat. Reaksi positif
ditunjukan dengan adanya busa 1
cm, tidak hilang selama 30 detik dan
busa tidak hilang dengan
penambahan HCl

6. TriTerpenoid.
Serbuk ditambahkaneter, kemudian
fase eter diuapkan dalam cawan
penguap hingga kering, pada residu
ditetesi pereaksi LiebermanBurchard.
Terbentuknya warna ungu
menunjukkan kandungan triterpenoid
sedangkan bila terbentuk warna
hijau biru menunjukan adanya
senyawa steroid.

7. Skrining Senyawa Monoterpenoid dan


Seskuiterpenoid,
Serbuk simplisia digerus dengan eter,
kemudian dipipet sambil disaring. Filtrat
ditempatkan dalam cawan penguap,
kemudian dibiarkan menguap hingga kering.
hasil pengeringan filtrat ditambahkan
larutan vanillin 10% dalam asam sulfat
pekat.
Terjadinya warna-warna menunjukkan
adanya senyawa mono dan seskuiterpenoid

Kromatografi
Berbagai metode kromatografi memberikan cara
pemisahan paling kuat dilaboratorium. Metode
kromatografi, karena pemanfaatannya yang
leluasa, dipakai secara luas untuk pemisahan
analitik dan preparatif
Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan
terutama dilakukan dengan menggunakan salah
satu dari empat teknik kromatografi atau
gabungan teknik tersebut.
Keempat teknik kromatografi itu adalah :
Kromatografi Kertas (KKt), Kromatografi Lapis
Tipis (KLT), Kromatografi Gas Cair (KGC) dan
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).

TERIMA KASIH
Sampai jumpa di pelatihan
selanjutnya tentang KLT